The Orphic

Special Halloween


Jordan, Nada. Pertemuan dua insan ini berawal dari ketidak sengajaan. Sekitar dua bulan lalu ketika langit sore di penuhi awan kelabu, selepas Nada bertemu dengan seorang teman lama di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari taman kota. Disitulah ia di pertemukan dengan Jordan, seorang lelaki bertubuh tinggi dan tampan berusia 26 tahun yang sedang patah hati.

Awan kelabu terlihat jelas menutupi gurat sinar orange pada sore itu, tak ayal menumpahkan sejuta air langit dari atas sana. Nada dengan tatapan kosong menerawang diantara bulir-bulir air hujan yang membasahi bumi, tak menyadari seorang lelaki dengan senyum manis memecah lamunannya.

“Hai... Aku boleh duduk disini? Meja yang lain udah penuh...” Kalimat pertama yang mengantarkan pada perkenalan dua sejoli ini. Jordan, lelaki dengan perangai lembut juga santun serta senyum manis penghias wajah rupawan ternyata tak sesuai ekspektasi. Pemilik nama Jordan Bara Galio menyimpan luka hati sejak di tinggal sang kekasih yang memilih pergi.

Sama halnya dengan Nada Kirania Bara, gadis cantik berusia 24 tahun ini pun mempunyai luka yang tak jauh beda. Alih-alih menjalin hubungan jarak jauh dengan lelaki yang memacarinya selama tujuh tahun terakhir ini pun ternyata sia-sia. Jarak memang salah satu alasan kisah cintanya kandas. “Persetan dengan Long Distance Relationshit!” Ujarnya kala itu.

Kesamaan “Bara” pada nama mereka pun tak ada yang sangka. Banyak kecocokan diantara keduanya juga usia yang tidak terpaut jauh membuatnya sangat mudah untuk saling memahami dan mengisi. Nada yang pertama kali menaruh harapan besar terhadap Jordan, dan lelaki itupun tau pasti bagaimana perasaan Nada terhadapnya. Namun Jordan sangat menjaga hati Nada hingga ia tidak berani mengatakan yang sesungguhnya dengan apa yang ia rasakan saat ini. Jordan terus memendam gejolak rasa cintanya pada gadis itu, hingga tiba hari ini.

Ulang tahun adik laki-laki Nada yang bertepatan dengan perayaan Halloween seakan menjadi jalan keduanya untuk lebih intens terhadap satu hubungan ini. Setelah mendapat pesan dari Nada agar datang dan mengenakan kostum polar bear, Jordan tak ambil pusing dengan permintaan gadis itu. Ia mengunjungi rekannya untuk menyewa kostum yang dimaksud dan bergegas menuju kediaman Nada.

Suasana riuh namun hangat begitu terasa di ruang tengah. Dekorasi Halloween sangat kental didalamnya. Hiasan balon warna putih, orange serta hitam menghiasi sudut ruangan juga berbagai ornamen berbentuk labu menambah khas nuansa Halloween.

Jordan tiba di rumah Nada pukul 9 malam di sambut hangat oleh Nando serta papa-nya yang sedang bercengkrama di ruang tengah, sedangkan Nada tak terlihat disana. Lelaki itu menenteng paper bag besar berisi kostum serta kado untuk Nando yang ia beli dadakan sebelum sampai di rumah tersebut. Beberapa menit Jordan larut dalam perbincangan hangat dengan dua lelaki itu kemudian tersadar bahwa ia belum mengenakan kostum yang ia bawa. Jordan merogoh ponsel di saku celana dan mengirim pesan kepada Nada, ia butuh tempat untuk berganti pakaian dengan kostum polar bearnya. Nada yang tengah membantu mama-nya menyiapkan makan malam pun sangat cepat membalas pesan dari Jordan. Gadis itu memberi tau Jordan agar menggunakan kamarnya untuk berganti kostum.

Jordan dengan sangat sopan meminta ijin kepada papa Nada untuk naik ke lantai atas, sedangkan Nando tampak kegirangan mendengar teman kakaknya itu hendak memakai kostum polar bear yang ia tunggu.

“Asikkk... Kak Jordan jadi polar bear...” Pekik Nando sembari berjingkrak kegirangan.

Di lantai atas memang tampak sepi, terdapat tiga ruang kamar disana. Jordan dengan sangat mudah mengenali kamar Nada walaupun ini kali pertamanya ia berkunjung. Tulisan Nada's room pada papan yang menggantung di pintu kamarnya mempermudah menemukan kamar gadis tersebut.

klek....

Jordan memasuki ruang kamar Nada yang tampak sedikit gelap, hanya lampu tidur saja yang menyala tetapi ia masih bisa melihat detail dalam kamar tersebut. Terdapat beberapa ornamen Halloween juga disana, dan mungkin lampu sengaja di buat redup agar suasananya menyatu dengan tema Halloween.

Lelaki itu melihat satu kursi sofa yang terletak di dekat jendela, lalu ia duduk disana dan membongkar isi dalam paper bag. Jordan kemudian melepas hoodie serta celana jeans yang ia kenakan, kemudian meletakkannya diatas ranjang dan hanya menyisakan kaos oblong berwarna hitam dan boxer dengan warna senada.

Jordan sama sekali tidak mengetahui jika Nada sudah berada di ruangan yang sama dengannya. Entah sejak kapan gadis itu muncul bahkan suara derap kakinya pun tak terdengar.

“Kak Jordan...” Panggilnya lirih. Namun suara gadis itu justru mengagetkan Jordan hingga ia beranjak dari duduknya.

“Na- Nada.. Ngapain kamu disini? Aku baru mau ganti baju.. Keluar dulu Nad—” Kalimat yang di ucapkan Jordan terputus kala gadis itu tiba-tiba mengalungkan kedua tangannya pada perpotongan leher Jordan kemudian mencium bibir lelaki jangkung tersebut. Beberapa detik setelahnya Jordan baru saja tersadar bahwa tak seharusnya ia melakukan adegan ini terlebih di dalam kamar Nada. Pun keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa. Secepat kilat Jordan melepaskan pertautan bibir mereka lalu menangkup pipi gadis itu.

“Nad, kamu kenapa?”

Binar bola mata Nada seperti mengisyaratkan sesuatu. Keduanya saling tatap dan sama-sama menghembuskan nafas berat. Jantung gadis itupun berdetak lebih cepat dari biasanya. Nada ingin sekali mengatakan sesuatu pada lelaki di hadapannya. Dengan tekad yang ia miliki saat ini, Nada ingin Jordan mengetahui bahwa dirinya sudah menaruh hati pada lelaki itu sejak pertama kali bertemu.

“Kak... Aku tau mungkin ini membuat Kak Jo jadi gak nyaman tapi....”

“Hm? Why?

“Kak Jo... I'm wrong if i love you? I need you to heal, please...”

Mendengar kalimat yang di ucapkannya, lelaki itu lalu menenggelamkan wajah Nada kedalam dekapannya. Merangkul tubuh gadis itu dengan sangat erat, mengusap punggungnya lembut hingga menyalurkan kehangatan tiap detiknya.

Nothing is wrong Nad... Aku juga sayang kamu... We heal each other's pain, right?

Thank you kak!” Balasnya dengan senyuman yang mengembang tersirat jelas di bibir Nada.

“Jangan panggil kak, aku berasa tua banget.. Panggil Jo atau Jordan aja, oke?” Pinta lelaki itu sambil mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Nada.

I call you 'BABE', oke?

Jordan hanya terkekeh mendengar gadisnya berceloteh. Entah dorongan dari mana, malam itu ruang kamar Nada menjadi saksi bisu pertautan raga kedua insan yang sedang di mabuk cinta ini. Jordan seperti sudah memiliki gadis itu secara utuh, secepat kilat menghujani bibir ranum milik Nada dengan ciuman nakalnya. Namun Nada lebih agresif dari sebelumnya, ia melucuti kaos tipis yang menutupi tubuhnya hingga menampilkan dua gundukan payudara yang masih terbungkus bra berwarna hitam. Juga melepaskan kaos yang di kenakan oleh Jordan dan membuangnya ke sembarang arah.

Lelaki itu menatap lekat manik mata Nada yang berbinar indah kemudian mengikis jarak diantara keduanya. Perlahan Jordan menarik tengkuk gadis itu dan menciumnya perlahan, namun tidak dengan Nada. Ia malah lebih gusar bahkan mendorong tubuh Jordan kebelakang hingga kakinya menabrak sofa sebelum akhirnya lelaki itu duduk di sofa tersebut dengan posisi Nada diatasnya.

Ciuman terasa lebih menuntut ketika dengan nakal jemari Nada mengusap kasar milik Jordan yang masih terbungkus boxer hitamnya. Terasa penis lelaki itu sudah menegang dan keras.

Jordan tak mau kalah dengan permainan nakal malam itu, ia meremas payudara gadis itu dengan lembut.

ctak....

Pengait bra milik Nada akhirnya lepas hanya dalam satu kali percobaan. Jordan sangat mahir. Dua gundukan payudara sintal itu menyembul sangat menggoda lelaki di hadapannya itu. Ciuman di bibir pun berpindah ke telinga juga leher jenjang milik gadis itu sebelum akhirnya mendarat pada payudaranya.

Jordan melumat payudara Nada dengan sedikit gusar, ia mainkan dengan lidahnya. Memutar dan terus menggodanya hingga meloloskan desahan pertamanya karena tidak kuat dengan rangsangan yang di ciptakan oleh Jordan.

“Mmhh....” Desahnya. Nada menggigit bibir bawahnya seraya mendongakkan kepala karena nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Jari-jari nakal Jordan tak tinggal diam, beberapa detik yang lalu menjamah bagian bawah milik Nada yang sudah basah karena ulahnya. Ia mengusap lubang vagina gadis itu yang masih terbungkus celana dalam, terus menggeseknya hingga membuat kaki Nada sedikit bergetar.

Tak tahan dengan ulah Jordan, tiba-tiba gadis itu berdiri kemudian melucuti satu-satunya kain yang masih menutupi asetnya. Di susul Jordan yang ikut menanggalkan boxer yang ia kenakan. Lelaki itu kembali duduk diatas sofa sembari menarik tangan Nada agar duduk di pangkuannya dan posisinya kini saling berhadapan.

Dengan sengaja Nada menggesekkan miliknya pada penis milik Jordan yang sudah mengacung dan keras membuat empunya mengerang.

“Eghh.. Nad, kamu bisa nakal juga ya?”

Senyum seringai gadis itu tersungging di bibirnya kala berhasil menggoda lelaki kesayangannya. Jordan kembali bermain dengan payudara gadis itu, ia melumat putingnya dan sesekali memutarnya dengan lidah. Jemarinya pun bergerak di bawah sana, menggesek bibir vagina yang sudah basah serta menyapa klitorisnya membuat Nada melenguh merasakan nikmat permainan yang di ciptakan oleh lelaki itu.

Perlahan jari tengah milik Jordan melesat masuk kedalam lubangnya, ia gerakkan perlahan lalu di susul jari telunjuknya pun masuk dengan sangat mudah karena milik Nada sudah sangat basah. Ia gerakkan jarinya dengan tempo sedang. Jemari Jordan yang panjang beberapa kali menabrak titik g-spot miliknya hingga Nada merasa hendak mencapai pelepasannya. Kakinya bergetar, lubangnya pun mengetat dan berkedut.

You wanna cum, babe?

Nada hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian Jordan mempercepat tempo dibawah sana, gadis itu mendongakkan kepalanya dan kakinya bergetar. Suara desahannya pun nyaring ketika menjemput pelepasannya yang pertama.

“A-ahh... Babe....” Desahnya bersamaan dengan cairan yang membasahi lubangnya.

Are you oke?

Nada hanya mengangguk lagi. Seperti memburu nafsu, dengan sangat agresif gadis itu meraih kepunyaan Jordan lalu mengarahkan pada miliknya sendiri dan melesatkan penis besar itu kedalam lubangnya.

“A-aahhh...” Desahnya kembali terdengar nyaring. Tubuh Nada bergoyang mengikuti gerakkan pinggulnya, dua payudara juga bergerak bebas tepat di depan wajah Jordan. Dua tangan lelaki itu memegang pinggul Nada membantu menggerakkan temponya agar lebih cepat. Bibir serta lidahnya sibuk dengan payudaranya.

Nada menggerakkan pinggulnya lebih cepat seakan memburu kenikmatan yang lama tak dirasakannya.

“Aahhhh... Babe...”

“Barengan sayang...”

Jordan paham jika gadis itu hendak mencapai klimaksnya kembali. Ia merasakan lubang milik Nada yang mulai mengetat dan berkedut, serta miliknya pun membesar hingga terasa sesak. Keduanya sama-sama mempercepat tempo hingga menjemput pelepasannya secara bersamaan.

“A-aahhh....”

“Egghhh.... Nad... I love you

Love you too, babe...”

Keduanya pun berpelukan saling menyalurkan rasa hangat. Perlahan Nada beranjak dari atas Jordan, dengan sigap lelaki itu memboyong gadisnya menuju kamar mandi di kamarnya.

Setelah mereka selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian masing-masing. Dua sejoli ini baru ingat dengan kostum polar bear dan makan malam.

“Nad, ayo turun takut di cariin. Kita kelamaan di kamar.. “

“Oh iya..”

Baru beberapa langkah hendak keluar kamar ternyata, mama Nada naik ke lantai atas mencari dua sejoli ini.

“Nad.. Kamu di kamar?” Panggil sang mama.

“I-iya maa... Kak Jordan mau pakai kostum polar bear tapi kekecilan.” Untungnya Nada cukup cekatan menjawab pertanyaan sang mama.

“Oh ya? Ya udah turun dulu, ayo makan...” Ajak mama-nya tanpa ada kecurigaan sedikitpun. Jordan dan Nada berjalan lebih dulu menuruni tangga, di susul sang mama di belakangnya. Tiba-tiba saja wanita paruh baya itu menanyakan sesuatu pada Jordan.

“Nak Jordan, pakai kaosnya kebalik ya?”

Deg!

Jordan dan Nada serentak menghentikan langkahnya lalu saling bertatapan sebelum akhirnya bersamaan menoleh kebelakang.

“M-modelnya emang begini tante...”


To be continued

Give me a feedback guys!! ILY!

Gemericik air hujan yang turun malam itu menemani kegundahan hati Gladys. Bagaimana tidak, pertemuan dengan mantan kekasihnya membuat kenangan yang dulu terbesit kembali di benaknya. Perempuan berambut panjang ini sedang berada di teras balkon lantai dua tepat di depan ruang kamarnya. Ia menikmati dinginnya hujan ditemani beberapa kaleng beer yang sudah kosong juga empat puntung rokok yang tercecer di dalam asbak.

Tak lama, lamunannya kabur begitu saja ketika mendengar suara mobil Damian memasuki garasi. Senyum seringai terlihat jelas pada wajah Gladys, tentu saja ia berhasil menaklukkan lelaki itu entah untuk yang keberapa kali. Sudah tak terhitung.

Damian sudah sangat biasa keluar masuk tempat tinggal Gladys hingga sangat hafal dengan pin smartlock di rumah tersebut. Lelaki itupun segera masuk setelah memarkirkan mobil dan menutup pintu garasi. Ia melangkahkan kakinya penuh keyakinan menuju kamar utama pada rumah tersebut.

Ruang kamar memang tampak kosong, namun pintu slide yang terbuka sudah jelas Gladys berada di balkon untuk sekedar minum dan menghabiskan beberapa batang rokok demi menunggu lelaki yang selalu membuatnya gila.

Lelaki itu menyibak tirai putih yang melambai akibat terpaan angin malam. Garis wajahnya terlihat jelas begitu dingin, Damian memang jarang tersenyum, bahkan dengan Gladys pun selalu terlihat serius dan tegang.

Gladys memandangi tubuh tegap lelaki yang kini sedang berjalan kearahnya sembari menghembuskan kepulan asap rokok dari bibir serta hidungnya. Lelaki itu mencengkeram rahang Gladys dan menatapnya dua bola matanya tajam.

Babe... Are you jealous?

Damian tak menjawab malah mencium kasar bibir Gladys juga menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

“Aww ... Dam!”

Senyum seringai tersirat jelas di bibir lelaki itu kemudian melanjutkan kembali ciuman panasnya. Gladys masih duduk diatas kursi sedangkan Damian membungkuk untuk memperdalam ciumannya. Tangannya tak tinggal diam, melucuti lingerie hitam milik Gladys hingga dua gundukan dada sintal miliknya menyembul sangat menggoda.

Setelah selesai dengan ciuman panasnya, Damian menarik lengan perempuan itu sedikit kasar. Membawanya sedikit kebelakang, Damian lalu melepaskan ikat pinggang, celana jeans juga celana dalamnya. Ia turunkan hingga batas lutut agar miliknya terbebas setelah beberapa menit yang lalu terasa sesak di dalam sana.

“Dys, masukin ke mulut lo..” Sembari mengocok perlahan miliknya sendiri seakan sudah siap ingin di manjakan oleh bibir Gladys. Perempuan yang hanya tinggal mengenakan celana dalam itu kemudian turun kebawah mensejajarkan wajahnya di depan senjata milik Damian dengan posisi berlutut di hadapan lelaki tersebut.

Dengan sangat lincah Gladys menggoda Damian dengan mengulum bagian ujungnya saja sembari mengelus, menaik turunkan tangannya perlahan sebelum akhirnya melahap habis penis lelaki itu hingga pangkal. Milik Damian yang besar dan panjang itu cukup membuat bibirnya lelah dan kewalahan.

Tangan Damian mengumpulkan rambut yang menutupi wajah Gladys lalu menjadikan layaknya tuas pengatur, kapan harus mempercepat dan memperlambat tempo. Sesekali perempuan itu menggodanya dengan menjilati twin ball milik Damian. Memutar dengan lidah serta mengulumnya hingga membuat lelaki itu mengerang.

“Eghh... Enak banget Dys, bibir lo emang gak ada duanya.” Ucapnya seraya mendongakkan kepala dan memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh bibir Gladys.

Setelah puas dengan oral sex Damian kembali mencumbu perempuan di hadapannya itu. Ia kembali melumat bibir Gladys dengan sedikit kasar, tangannya meremas dan memutar puting milik Gladys hingga menciptakan suara desahan khas yang sedikit nyaring. Merasa takut suara Gladys terdengar oleh tetangga, lalu Damian berniat membawanya masuk ke dalam kamar. Ia melepaskan celana yang di kenalannya lalu menggendong perempuan itu bak seekor koala. Gladys melingkarkan dua tangannya pada perpotongan leher Damian, lalu dua kakinya melingkar di pinggang lelaki tersebut. Saat berjalan memasuki ruang kamarnya, tak di sia-siakan oleh Gladys untuk kembali menggoda Damian dengan menjilati telinga juga leher lelaki itu hingga membuat gairahnya semakin memuncak.

Damian melemparkan tubuh Gladys keatas ranjang besar kemudian ia ikut merangkak naik. Ia mengambil scarf yang tergeletak diatas nakas, lalu mengikat kencang kedua tangan perempuan itu diatas kepalanya. Damian mengecup bibir Gladys sebelum akhirnya turun kebawah dan melebarkan dua paha milik Gladys.

“Ahh....” Desahan Gladys pun lepas kala lidah Damian memainkan klitorisnya. Tanpa aba-aba dua jarinya melesat masuk kedalam lubang kenikmatan milik Gladys. Ia keluar masukkan jarinya dengan tempo sedang sembari memainkan klitorisnya dengan lidah. Tubuh perempuan itu menggelinjang resah, ingin rasanya meremas sesuatu di sebelahnya namun tak bisa. Dua tangannya masih terikat dengan scarf.

“Dam! I wanna cum! Please!” Ucap Gladys sedikit gusar kala lelaki itu mempercepat tempo kocokan di bawah sana. Bibirnya masih di posisi yang sama, mencium dan menjilati klitoris perempuan itu hingga menjemput pelepasannya yang pertama.

“Aahhh... Fuck Dam!!” Pekik Gladys. Suaranya menggema, memenuhi ruang kamarnya.

Belum juga bernafas dengan teratur, Gladys harus menyanggupi semua keinginan Damian. Lelaki itu lalu menindih tubuh perempuan itu dan melesatkan penisnya yang sudah menegang sedari tadi.

“Aahh.. D-dam lo gila! Gak kasih nafas dikit buat gue..” Rancau Gladys ketika Damian tak memberikan waktu untuk sedikit beristirahat. Lelaki itu hanya tersenyum tipis. Ia memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang lalu mengangkat kaki Gladys, menyatukan kedua kalinya dan meletakkan pada perpotongan bahu sebelah kanannya hingga lubang vagina Gladys terasa lebih menjepit miliknya.

Perempuan itupun terus mengeluarkan desahan penuh kenikmatan. Damian benar-benar kasar malam ini, mungkin masih tersulut api cemburu terhadap mantan kekasih Gladys hingga menjadikan perempuan yang berada di bawahnya ini menjadi pelampiasan rasa kalut dirinya.

Tangan kiri Damian mencekik leher Gladys sangat kuat dan tangan kanannya mencengkeram payudara perempuan itu. Awalnya suara desahan yang keluar, kini suaranya seakan tercekat. Gladys sangat tak berdaya dengan tangan terikat, leher tercekik dan bagian bawahnya di hujani tombak besar milik Damian.

Permainan kasar namun nikmat ini pun tak lama akan mengantarkan pada pelepasannya yang kedua. Kakinya mulai bergerak resah dan tubuhnya bergetar.

“D-dam.. Cummhh...”

Lelaki itu kemudian mempercepat temponya. Gerakan pinggulnya semakin cepat dan sesekali ia hentakkan membuat Gladys memejamkan matanya tanda nikmat. Pada hentakkan ke tiga akhirnya Gladys mencapai pelepasannya yang ke dua. Tubuhnya kini lemas, nafasnya memburu tak beraturan. Namun Damian belum mencapai titik puncaknya, berarti permainan belum selesai.

“Dam, sialan lo nyiksa gue banget. But, i like it!

“Dasar jalang! Nungging buruan, gue mau tembak di dalem.” Ujarnya lalu mengambil ikat pinggang yang tercecer di lantai. Gladys mengikuti apa yang di perintahkan Damian. Kini posisinya menungging, memamerkan bokong sintalnya. Tanpa aba-aba sebelumnya Damian menampar bokong Gladys menggunakan ikat pinggang di tangannya.

“AAHHHH....”

Gladys merintih kesakitan, namun ia suka di perlakuan Damian seperti ini. Lelaki itu kemudian naik ke atas ranjang, tangannya meraih leher Gladys lalu berbisik ke telinganya.

“Lo masih mau deket-deket sama Erick?”

N-no Dam, my body is only yours... I only l-love you...”

Good girl....” Balas Damian seraya mengecup bibir perempuan itu singkat sebelum akhirnya melesatkan penisnya dari belakang.

“Ahh.. Shit!...” Rancau Gladys ketika lubangnya kembali dihujani penis Damian yang terasa kian membesar dan penuh. Lelaki itu menggoyangkan pinggulnya dengan cepat sesekali menampar bokong Gladys dengan tangannya juga menghentakkan penisnya berkali-kali hingga terasa menabrak titik g-spot miliknya.

“Aahh... Fuck Dam! F-fasterrhhh...”

You wanna cum again?

Yesshh.. Aahh....”

Sekali hentakkan, dua insan ini sama-sama mencapai titik puncaknya. Sperma dan cairan milik Gladys bertaut di dalam sana terasa penuh hingga mengalir di sela pahanya. Damian lalu melepas miliknya dari dalam Gladys. Senyum seringai pun tersirat jelas pada bibir Damian. Bagaimana tidak, ia berhasil membuat Gladys tiga kali orgasme serta puas bermain kasar untuk melampiaskan amarahnya. Damian selalu menang.

Setelah Nathalie memasuki mobil Jovan lalu keduanya segera melaju meninggalkan area kantor untuk pulang. Menjelang senja jalanan ibukota macet seperti biasanya. Dua insan ini tampak diam, masih sama seperti pagi tadi.

Selama dua puluh menit perjalanan mereka tanpa suara. Nathalie sibuk dengan ponselnya, sedangkan Jovan fokus pada kemudinya sampai pada akhirnya tiba di depan apartemen Jovan. Mobilnya melaju perlahan dan berbelok ke kiri memasuki basement. Nathalie baru saja sadar bahwa ia tidak di turunkan di depan gedung apartemennya melainkan Jovan membawanya ke apartemen milik lelaki tersebut.

“Jov... Ini kan—”

“Hm.. Kalau gak liat jalan, sibuk sama hp ya gini akibatnya.”

“Ayo turun dulu.” Lanjut Jovan yang turun dari mobil lalu berjalan meninggalkan Nathalie yang masih linglung dibuat oleh lelaki itu.

Akhirnya Nathalie turun dari mobil dan mengikuti Jovan sedikit terburu-buru karena merasa tertinggal. Di dalam lift pun mereka masih saja tak bicara sampai langkah mereka mengantarkan pada unit apartemen milik lelaki tersebut.

“J-jov—”

“Mandi dulu, baju ganti masih ada beberapa di lemari.”

“Tapi—”

“Gak ada kata tapi, gak ada penolakan atau aku marah.” Ucapnya dengan sorot mata tegas kearah gadis itu.

Nathalie pun menuruti apa yang di perintah oleh lelaki tersebut. Ia masih bingung dengan sikap Jovan kali ini namun ia berusaha netral dan tak mau melihat Jovan marah.

Lima belas menit setelahnya, gadis itu keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap. Mengenakan hotpants dan kaos oversize berwarna putih bergambar Chicago mirror bean pada bagian belakang. Tanpa saling bicara lalu Jovan bergantian menggunakan kamar mandi di kamarnya. Lelaki itu hanya menaikkan alisnya sewaktu berjalan melewati Nathalie, namun gadis tersebut tidak tau Jovan sedang memberi kode apa.

ting tong....

Bel berbunyi nyaring, Nathalie sedikit berlari kearah pintu lalu membukanya. Seorang lelaki mengantarkan pesanan makanan. Nathalie kemudian menyiapkan makanan tersebut di meja makan, tak lama Jovan keluar dari arah kamar. Ia hanya mengenakan boxer dan kaos oblong berwarna putih, hampir sama dengan yang di pakai Nathalie. Keduanya terlihat seperti sengaja berpakaian couple.

“Makan dulu yuk, aku laper banget..” Ajak Jovan sambil menarik satu kursi di samping Nathalie. Gadis itupun duduk di kursi tersebut seraya memandangi Jovan yang terkesan aneh.

“Jovan, ini mak—”

“Makan dulu, nanti ngobrolnya.”

Teguran Jovan pun membuat gadis itu sontak terdiam. Nathalie menuruti semua yang di katakan Jovan, ia sama sekali tak bisa menolaknya. Keduanya lalu menikmati makan malam dalam keadaan hening. Dalam hati gadis itu sesungguhnya resah, ia tak tau apa yang akan Jovan lakukan setelah ini. Tetapi ia terus berpikir semua akan baik-baik saja, Jovan tidak akan berbuat hal aneh kepadanya.

Setelah menyelesaikan makan malam mereka, meletakkan piring serta gelas kedalam wastafel dan mencuci tangannya lalu Jovan menggandeng tangan Nathalie dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Membawanya pada sofa yang berada di depan ranjang.

Jovan memandang wajah Nathalie tanpa berkedip barang sedetik pun, lalu menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinganya. Senyum tipisnya menghiasi bibir manis Jovan. Nathalie pun reflek menengok kearah Jovan dan memandang lekat wajah lelaki yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

“Nath... Kenapa seharian kamu diam aja? Gak cuma aku yang ngerasa tetapi Nico sampai bilang gitu juga ke aku..”

Why?

“Helena?” Tanya Jovan sekali lagi.

Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan dan sedikit berat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jovan.

“Dari yang aku tangkap, kya nya kamu belum selesai sama Helena..”

“Aku gak tau ini benar atau salah, tapi yang aku liat dari raut wajahmu kemarin itu keliatan banget kalau ada sesuatu diantara kalian.”

Mendengar kalimat yang di lontarkan gadis itu, Jovan dengan spontan menggenggam erat tangan Nathalie. Yang di katakan tak ada yang salah. Hanya saja Jovan tidak bisa menutupinya dengan sempurna sampai Nathalie pun bisa merasakannya.

“Nath.. Helena emang mantan pacar ku. Kami gak pernah ada kata putus sampai akhirnya lost contact. Wajar kan kalau aku kaget waktu ngeliat dia lagi??”

“Mm.. It's oke Jovan.. Gak masalah buat aku. Misal kamu masih sayang sama Helena, kejar dia...”

“Nath...”

“Jovan, i'm fine.. I'm strong.. Tanpa siapapun aku bisa sendiri.” Ucapnya seraya melempar senyum simpul pada Jovan. Lelaki yang berada di hadapannya seperti membeku. Lalu menarik tangan Nathalie dan membawanya masuk kedalam pelukannya. Jovan mengusap perlahan punggung gadis itu, memberikan kehangatan padanya. Detik kemudian Nathalie melepaskan pelukan tersebut.

“Nath, kamu gak mau nikah sama aku?”

Gadis itu hanya tersenyum. Wajahnya sendu.

“Kalau kita gak yakin kenapa harus di paksa Jov...”

“Tapi aku sayang sama kamu Nath...”

“Tapi sekarang hatimu udah terbagi Jovan...”

Kalimat yang di ucapkan Nathalie tersebut membuat Jovan terdiam. Lelaki itu masih mencari-cari jawaban atas pertanyaannya sendiri, apa benar sekarang hatinya goyah setelah bertemu dengan Helena???

Menit berikutnya tangan Jovan menarik perlahan tengkuk gadis itu lalu menciumnya. Nathalie tak menolak, ia pun membalas ciuman tersebut. Sangat hangat. Nathalie menikmatinya, dan mungkin berpikir bahwa ini adalah ciuman terakhir dari Jovan untuknya.

Sorry.. Nunggu lama ya Jov?”

“Enggak..” Jawab lelaki itu singkat. Tangannya lalu memutar kemudi dan menginjak pedal gas perlahan kemudian meninggalkan area parkir.

Perjalanan mereka hanya ada kesunyian. Jovan maupun Nathalie sama-sama saling diam, tak seperti biasanya. Dulu hal apapun jadi bahan obrolan keduanya tetapi sekarang terasa canggung. Nathalie jelas banyak diam karena ia sedang memikirkan hal-hal yang berada di sekelilingnya. Entah dengan Jovan, sebenarnya tak ada yang berubah darinya. Masih perhatian seperti biasanya, tetapi diam selama perjalanan itu bukan hal yang biasa ia lakukan.

Jovan masih fokus pada ramainya jalanan ibu kota sedangkan Nathalie berusaha menahan seribu pertanyaan yang tertata rapi di otaknya. Dengan sedikit keraguan dan membeludaknya rasa penasaran pun akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk bertanya pada lelaki yang berada di belakang kemudi itu.

“Jovan...”

“Hm?” Seraya menengok kearah Nathalie hingga dua bola mata keduanya saling bertemu.

“E... Helena?”

“Maksud ku, kamu kenal Helena udah lama?” Nathalie melanjutkan kalimat yang belum selesai di ucapkan tadi. Pertanyaan itu seolah-olah ia tak mengetahui apapun perihal hubungan lelaki disebelahnya dengan Helena.

“Iya, kamu juga kenal Helena kan?” Tanya balik dari Jovan.

“Dia temen waktu kuliah..” Jawab Nathalie singkat. Kemudian dua insan ini kembali terdiam.

Jovan terlihat menghembuskan nafasnya, berat. Percakapan keduanya terhenti disitu saja. Nathalie sedikit melirik kearah Jovan, tatapannya tampak menerawang jauh entah kemana walaupun terlihat masih fokus pada kemudinya. Hingga beberapa menit berlalu tiba-tiba Jovan mengatakan sesuatu.

“Helena itu mantanku.”

Singkat, padat dan sangat jelas. Pernyataan lelaki tersebut bak sekumpulan hujan es yang tiba-tiba jatuh dari langit. Jovan akhirnya mengakuinya, ia tak menyembunyikan apapun dari Nathalie. Memang seperti inilah yang di inginkan, gadis itu lebih suka hal yang jujur dan terbuka meskipun menyakitkan. Ia sudah siap. Nathalie sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada di depan matanya. Dari awal memang hatinya tak pernah yakin dengan Jovan, lelaki tersebut adalah orang baru baginya bahkan Nathalie tak pernah tau tentang secuil kisah masa lalu Jovan.

“Hel, Jovan siapa lo?” Tanya Jeremy ketika membuka pintu unit apartemennya. Helena mengekor di belakang Jeremy lalu ikut masuk ke dalam.

“Dia orang yang gue ceritain kemarin.” Jawabnya sambil melempar handbag keatas sofa.

“Jangan bilang Jovan itu rival lo?!” Lanjut Helena sembari mengambil satu kaleng beer di dalam lemari pendingin lalu meminum tanpa jeda hingga hampir habis.

“Ikut gue Hel...” Perintah Jeremy pada gadis itu kemudian mengikutinya dari belakang menghabiskan sisa beer yang berada di tangan kanannya. Langkah tegas seorang Jeremy ternyata menuju ruang kamarnya, lelaki tersebut membuka pintu kamar lalu mempersilahkan Helena masuk kesana.

Helena pun masuk tanpa ada perasaan yang curiga. Ia merasa Jeremy masih baik-baik saja, bahkan setelah mereka berempat bertemu. Kalau di pikir, sebenarnya kejadian di tempat makan tadi memang mengejutkan. Bagi Helena pertemuan dengan Jovan bukanlah kesengajaan, tetapi mungkin berbeda dengan Jeremy. Lelaki yang bernama Jovan ini adalah mantan kekasih Helena, calon istrinya juga sekaligus rival saat hubungannya dengan Nathalie sedang merenggang. Kalau pun bisa, ingin rasanya Jeremy mengembalikan pada posisi semula.

klek....

Suara pintu terkunci. Helena sadar akan hal itu lalu menatap raut wajah Jeremy, aneh.

“Kenapa sih lo Je?” Gadis itu masih saja merasa ada yang aneh dari Jeremy, lalu ia berjalan pelan dan duduk di tepi ranjang. Tak lama di ikuti Jeremy berjalan kearah gadis itu dan berdiri di hadapannya.

“Kalau Jovan rival gue, kenapa Hel?” Tanya Jovan dengan memajukan wajahnya kearah gadis itu tepat mengikis jarak diantara mereka. Helena sontak kaget dan memejamkan matanya. Detik kemudian tangan Jeremy meraih tengkuk Helena dan berbisik di ujung telinga.

“Gue gak mau kalah dari Jovan, harus satu sama biar impas...” Suara parau itu membuat Helena bergidik, merinding. Mungkin saat ini dalam tubuh Jeremy sudah menumpuk beribu-ribu nafsu yang ia tahan semenjak hubungan dengan kekasihnya merenggang. Kalaupun malam ini dia kalap, bukan sepenuhnya salah Jeremy. Kenapa perempuan yang menjalin hubungan dengannya tak jauh-jauh dari lelaki yang bernama Jovan.

Helena Yocelyn. Ya, model berperawakan tinggi semampai, bentuk tubuhnya tak perlu di ragukan lagi. Kemolekan gadis ini tak henti wara-wiri di sosial media, majalah serta membintangi banyak iklan di televisi. Helena bisa dikatakan 99% sempurna, dada juga bokong sintal adalah nilai plus pada dirinya, selain mempunyai paras yang ayu. Jovan mungkin adalah lelaki beruntung jika bisa memacari Helena saat itu, namun hubungan tak semulus di angan.

Malam ini Jeremy seperti kerasukan setan, entah dari apa yang ia pikirkan hingga nafsunya menggelayut tak tertahan. Ia sungguh-sungguh ingin mencicipi rasa nikmat pada tubuh Helena. Bahkan sempat terbesit dalam pikiran Jeremy, mungkin selama hubungannya dengan Nathalie merenggang tak menutup kemungkinan gadis itu bermain gila dibelakangnya.

“Je, lo gila ya?!” Ucap gadis itu seraya mendorong tubuh Jeremy agar menjadikan jarak lebih jauh. Namun lelaki itu malah semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Helena sebelah kiri. Ia menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi paras cantiknya kemudian berbisik.

Relax, Ok?

Tanpa permisi, Jeremy meraih tengkuk gadis yang berada di hadapannya secara perlahan lalu melumat bibirnya dengan lembut. Beberapa detik setelahnya Helena baru sadar bahwa Jeremy mungkin sedang memancingnya. Gadis itu lalu mendorong tubuh Jeremy untuk yang kedua kali.

Stop Je...”

Why?” Tanya Jeremy dengan menatap lekat dua manik mata milik gadis itu.

“Gak bisa Je... Lo gak inget sama janji kita?”

“Janji yang mana? Gak ada perjanjian all about having sex, coba ada gak? Jelasin ke gue...”

“Je, emang kita gak pernah bahas itu, but we are friends and will never having sex...” Cecar gadis itu seraya berdiri hendak meninggalkan Jeremy. Namun tubuhnya tak akan kuat jika melawan pergerakan dari tangan lelaki yang sedang berusaha menahannya. Detik kemudian tubuh ramping Helena di banting keatas ranjang sedikit gusar. Jeremy lalu naik kertasnya dan menindih tubuh gadis itu.

“Sebentar aja, slowly.. Ok?”

I won't force, just want to play with your pussy...” Lanjut Jeremy dengan senyum seringai di wajahnya.

“Je, please... No!”

“Hel, kalau tiga tahun lo gak pernah berhubungan dengan siapapun, oke gue percaya sama lo..”

“Lo emang super sibuk tapi, lo pasti ngerasa capek, otak lo tegang dan lo butuh sesuatu yang bikin relax. Gue yakin lo tadi abis ketemu Jovan pasti kepikiran kan? Gue bantu ya?” Tawar Jeremy penuh dengan rayu. Setelah sebelumnya ia berpikir ingin menghabisi Helena malam ini, tiba-tiba di urungkan niat itu. Jeremy mungkin hanya butuh afeksi saja. Sedikit bermain dengan Helena mungkin akan sama-sama menyalurkan hasrat yang tak terbendung.

Helena pun seakan mereda, awalnya ia tegas untuk menolak tetapi ia merasa sedikit tenang saat jemari lelaki ini mengusap lembut lengan serta pinggangnya.

Jeremy memulai dengan mengecup beberapa kali bibir ranum milik Helena, sang empu hanya mengikuti alurnya saja. Kali ini pertahanan Helena mulai runtuh, ia tak munafik. Sesungguhnya gadis itupun butuh afeksi, ia butuh sentuhan dari seorang lelaki yang bisa dipercaya. Ia pun tak pernah menyangka lelaki itu adalah Jeremy.

Setelah beberapa kali mendaratkan kecupan pada bibir Helena, jemarinya lincah menjamah serta meraba hampir seluruh bagian atas tubuh gadis itu. Helena sesekali memejamkan mata, tubuhnya sedikit mulai resah. Jeremy kembali melumat bibir Helena dengan lembut awalnya, tetapi kelamaan berubah menjadi ciuman yang lebih menuntut. Gadis itu dengan spontan melingkarkan dua tangganya pada perpotongan leher Jeremy. Ia mulai menikmati permainan yang di ciptakan oleh lelaki itu.

Masih dalam lumatan yang semakin lama kian memanas, Helena terus menahan desahan yang hampir lolos itu. Jari-jari milik Jeremy yang awalnya hanya mengusap pada bagian luar saja tiba-tiba merogoh dan masuk kedalam baju yang di kenakan oleh Helena. Dengan cepat tangan lelaki itu menemukan dua gundukan payudara sintal milik gadis itu. Perlahan meraba bagian belakang dan melepas kaitan bra dalam sekali hentak. Jemarinya pun mendapatkan dua gundukan yang sudah mulai menegang, putingnya pun sudah mencuat, kencang. Tangan kiri Jeremy menahan dua tangan Helena tepat diatas kepala gadis itu lalu tangan kanannya menangkup payudara gadis itu dan memainkannya, ia remas dengan sangat pelan sambil memijit putingnya, sesekali ia menggesekkan ibu jarinya pada puting susu yang sudah tegang itu. Membuat tubuh Helena menggeliat, resah.

“Mmphh...” Lenguhan pertama Helena pun lolos dari bibirnya. Membuat Jeremy semakin gencar ingin memuaskan gadis itu.

Setelah puas bermain dengan payudara Helena, jemarinya nakal meraba bagian bawah milik gadis itu. Ia membuka rok dengan belahan tinggi sampai bagian paha, lalu melebarkan dua paha Helena untuk mendapatkan celah agar bisa mengakses liang surgawi milik Helena.

Di dalam sana sudah sangat lembab dan basah. Jemari lelaki itu mengusap bibir vaginanya dari luar, terasa cairan yang keluar sudah membasahi celana dalam milik Helena.

You like it, Hel?”

Go ahead” Balas gadis itu dengan deru nafas yang mulai berat.

Jeremy lalu melepaskan rok serta celana dalam dan membuangnya ke sembarang arah. Ia lebarkan kedua pahanya, lalu mencium dan menjilati permukaan kulit Helena mulai dari paha hingga menuju ke selangkangannya. Tangan satunya menggesek permukaan bibir vaginanya yang sudah basah. Tentu saja barang nikmat yang dirasakan Helena, tak terasa desahan pun lolos lagi dari bibirnya.

“A-ah.. Je ...”

Bibir Jeremy pun bergerak kebagian paling intim pada tubuh Helena, vagina gadis itu tampak bersih dan berwarna merah muda membuat lelaki ini tak sabar ingin mencicipi dengan bibirnya. Perlahan ia kecup klitorisnya lalu ia jilat dengan lembut. Sensasi dingin pada lidah Jeremy serta hangatnya hembusan nafas lelaki itu membuat Helena bergidik juga tubuhnya menggeliat semakin resah.

Jari telunjuknya menggesek lembut bibir vagina milik gadis itu sebelum akhirnya masuk secara perlahan di dalam sana, sangat mudah karena lubangnya sudah sangat basah. Klitorisnya di mainkan dengan sedikit kasar oleh bibir Jeremy. Ia jilat dan putar dengan lidahnya membuat Helena melenguh nikmat.

“A-ahh.. Je, disituhhh ..” Lenguhan gadis itu seakan meminta Jeremy untuk segera di puaskan.

Tak perlu lama, lelaki itu menggerakkan jari telunjuknya keluar masuk dengan tempo pelan sembari lidah yang terus bermain-main dengan klitorisnya. Setelah terasa becek lalu jari tengahnya pun ikut masuk kedalam lubang milik Helena. Ia gerakkan pelan lalu menambah tempo menjadi sedikit lebih cepat.

Helena sudah dibuatnya melayang, tubuhnya mulai bergerak resah, tangannya meremat dengan kasar bantal yang ia gunakan untuk menyanggah kepalanya, kakinya pun bergetar. Lubang vaginanya mulai berkedut dan mengetat, ia hampir sampai pada titik puncak orgasmenya.

“J-je.. A-hh... M-mau cumhh...”

“Keluarin Hel.. Go...”

Jeremy pun menambah lagi temponya, menjadi lebih cepat. Lidahnya terus bergerak memutar klitorisnya hingga akhirnya Helena menjemput pelepasannya.

“Ah-ahhh... Je... Ahh...”

Cairan putih kental itu mengucur dari sela paha Helena. Jeremy lalu mengeluarkan dua jarinya dari dalam sana. Ia bergerak keatas dan mengecup bibir Helena singkat.

“Je...”

“Hm?”

Thank you...” Ucapnya dengan nafas yang tak beraturan.

Jeremy hanya tersenyum dan mengangguk untuk menjawab Helena, ia berjalan dan bergegas ke kamar mandi.

“Je, gue mau pakai kamar mandinya..” Pekik Helena sambil melihat Jeremy yang tenggelam di balik pintu kamar mandi.

“Bentar, gue pakai dulu. Bentar doang...” Jawab Jeremy setengah berteriak dan melanjutkan aktifitas didalam sana.

Jeremy sengaja ingin melakukannya sendiri tanpa bantuan Helena. Ia mungkin akan merasa bersalah pada dirinya sendiri atau bahkan pada Helena. Setidaknya permainan kecil bersama Helena malam itu sudah melampiaskan rasa rindunya pada Nathalie.

“Nath...”

Suara itu membuyarkan lamunan Nathalie ketika beberapa menit yang lalu ia melihat Jovan dan Helena yang keluar dari ruangan secara bersamaan.

“Hm?”

“Di makan dulu...”

“Aa.. Iya Jer...”

Yang tersisa di dalam ruangan tersebut hanya tinggal Jeremy dan Nathalie saja. Nico meninggalkan makan malam tersebut setelah menerima pesan dari kekasihnya, sedangkan Tristan menerima telepon dari relasinya cukup lama. Sejak sepuluh menit yang lalu dan kakaknya belum juga kembali.

Dua insan ini seperti mendapat kesempatan untuk berbicara lebih intens walaupun yang di bahas hanyalah hal yang biasa saja.

“Nath, kamu masih sering minum kopi?”

“Aku gak bisa hidup tanpa kopi Jer...” Jawab Nathalie dengan senyum yang mengembang. Pertanyaan yang sepele tetapi cukup membuat mood gadis itu netral kembali.

“Jer, harusnya kamu yang kurang-kurangi minum kopi...” Timpal gadis itu.

“Loh sama, aku juga gak bisa hidup tanpa kopi...” Balas Jeremy, di sambut dengan gelak tawa keduanya serasa tak ada beban sedikitpun. Hingga suara gesekan pintu kembali membuyarkan mereka berdua. Jovan dan Helena kembali ke ruangan tersebut bersama-sama. Terlihat Jovan sedikit sibuk dengan ponselnya, jarinya lincah mengetik sesuatu disana. Seperti sedang mengirimkan pesan.

“Hel... Helena..” Panggil Nathalie seraya menggoyangkan telapak tangan Helena. Temannya itu sempat tak merespon, ia masih terpaku menatap lelaki bertubuh tinggi yang masih berdiri di depan pintu.

“Hm?”

“Lo kenal Jovan?”

“E.. Iya Nath...” Jawab Helena singkat.

Tiga lelaki yang berada disana pun ikut diam. Entah kenapa suasana berubah menjadi sangat canggung. Nathalie menelan ludah ketika melihat raut wajah Jovan berubah saat memandang Helena.

“Hel, bisa keluar sebentar?”

Tak peduli dengan orang-orang yang berada di dalam sana, Helena kemudian keluar mengikuti langkah Jovan. Ia tak tau kemana lelaki tersebut pergi, Helena terus mengekor dibelakangnya. Sampai pada sudut resto yang berada di luar ruangan, terdapat beberapa kursi disana. Entah sadar atau tidak, Jovan meraih telapak tangan Helena dan menggenggam erat hingga mengarahkan gadis itu pada kursi yang kosong. Keduanya kemudian duduk bersebelahan saling menatap lekat manik mata, tajam. Masing-masing insan ini berkutat dengan ingatan masa lalu, mengorek kembali kenangan yang tidak akan pernah bisa di lupakan satu sama lain. Hingga beberapa menit mereka hanya diam tanpa ada sepatah katapun, lidahnya sama-sama terasa kelu. Hanya deru nafas berat yang keluar dari bibir keduanya.

“Hel.. Apakabar?” Kalimat tersebut membuyarkan lamunan Helena.

“Kamu liat aku baik-baik aja kan?” Jawab Helena dengan senyum yang sangat sulit di artikan. Hati dan pikirannya sudah tidak sinkron, kacau. Gadis itu masih tak mengerti dengan apa yang ia rasakan sekarang. Batinnya benar-benar sedang bergejolak.

“Hel, aku gak pernah berpikir bisa ketemu kamu lagi disaat sekarang ini...”

“Kamu nyesel ketemu aku lagi?” Timpal gadis itu, air matanya sudah mengambang di pelupuk dan hampir menetes.

“Hei... Siapa bilang aku nyesel?” Ucapnya sambil menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga gadis itu.

“Aku boleh peluk kamu?” Pinta Jovan dan di jawab dengan anggukan oleh Helena. Detik kemudian gadis itu masuk kedalam pelukan Jovan yang begitu hangat, pelukan yang selama ini ia rindukan. Pelukan yang dulu tak pernah lepas disaat mengawali pagi mereka juga pada saat hendak menjemput mimpi.

Kali ini bukanlah mimpi, sungguh nyata. Di depannya adalah Jovan, lelaki yang tak pernah sedetikpun hilang dari palung hati Helena.

Beberapa saat setelah keduanya berbincang, Jovan kemudian mengajak Helena untuk kembali kedalam.

“Hel, masuk yuk.. Gak enak sama yang lain.”

Gadis itu meng-iya-kan ajakan Jovan, lalu mereka berjalan beriringan untuk kembali ke dalam.

Seperti biasanya, tempat makan malam favorit keluarga Gavino tak jauh-jauh dari restoran Dinning Art. Dengan menu western serta terkenal dengan pelayanannya yang selalu memuaskan membuat restoran tersebut tak pernah sepi pengunjung . Tristan sudah memesan tempat dua jam sebelumnya, VIP room berukuran 8x5 meter dengan kapasitas 6 orang di dalamnya.

Tristan berangkat ke restoran tersebut diantarkan oleh supir, sedangkan Jeremy bertolak langsung dari kantornya. Janji temu pukul delapan malam, Tristan dan Jeremy datang lebih awal sekitar sepuluh menit sebelum jam yang di janjikan. Keduanya tiba di Dinning Art hampir bersamaan, lalu masuk ke resto menuju VIP room yang sudah di booking sebelumnya.

20.05 Jovan dan Nathalie pun tiba, sedikit terlambat lima menit kemudian di susul Nico di belakangnya. Dilihat sekilas Jovan dan Nathalie, tampak seperti sepasang kekasih.

Setelah masuk ke dalam resto, mereka kemudian di arahkan oleh waiters ke VIP room. Disitulah Nathalie bertemu kembali dengan Jeremy, dua insan ini sudah tidak canggung lagi. Semua terlihat baik-baik saja, bahkan tanpa ragu gadis itu melempar senyum kearah Jeremy dan di balas senyum simpul oleh lelaki tersebut.

Jovan dan Tristan pun saling berjabat tangan, berkenalan satu sama lain di ikuti oleh Nico. Nathalie tak banyak bicara karena sebelumnya memang sudah mengenal kakak kandung dari mantan kekasihnya tersebut. Gadis itu hanya tersenyum dan menjadi pendengar kala empat lelaki di sekitarnya itu berbincang.

Sebelum akhirnya menu utama di sajikan, mereka menikmati appetizer terlebih dahulu. Jeremy dan Jovan tak terlihat tegang atau canggung, bahkan terlihat lebih akrab. Bukan karena mereka pernah “sama-sama” dengan Nathalie, sama sekali bukan karena itu. Tetapi obrolan mereka mengalir begitu saja.

Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel milik Jovan berdering. Lelaki itu merogoh ponsel yang ada di saku celana sebelah kanan lalu menatap layar ponsel beberapa saat sebelum akhirnya Jovan pamit untuk menerima telepon tersebut.

“Saya terima telepon sebentar ya?” Pinta Jovan sembari beranjak dari duduknya, tangannya pun mengusap pundak Nathalie seakan memberikan kode ijin keluar ruangan untuk menerima telepon.

klek...

Jovan membuka pintu kemudian keluar dan menerima telepon tersebut.

“Hallo, ma....” jawab Jovan tanpa memperhatikan sekitar. Dari arah depan lelaki itu berpapasan dengan Helena yang hendak masuk kedalam room. Keduanya sama-sama saling tidak memperhatikan.

“Hai Nath!!” Pekik Helena tersenyum lebar saat bertemu dengan teman lamanya. Obrolan dua perempuan ini begitu asik kala menceritakan masa lalu mereka ketika masih kuliah.

Sekitar sepuluh menit berlalu, terdengar kembali pintu terbuka. Mungkin waiters yang datang membawa hidangan utama.

klek...

Tetapi bukan waiters yang masuk kedalam room, melainkan Jovan. Semua mata tertuju pada sosok lelaki tersebut juga Helena yang spontan berdiri dari tempat duduknya.

“Jovan....”

“Helena....” Keduanya bertatapan cukup lama.

Helena menatap layar ponselnya lalu berpikir sejenak Jeremy kenapa? Need a hug??? Awas aja kalau lupa sama perjanjian di awal—batinnya sebelum mengemudikan mobilnya.

Pukul 00:20 dalam perjalanan pulang, sudah biasa di lakukan Helena. Bekerja seharian membuatnya lelah dan butuh sekedar refreshing sejenak meskipun hanya sekedar nongkrong di cafe untuk ngopi dan bercengkrama dengan teman seprofesinya.

Lima belas menit berlalu dan tiba di apartemen milik Jeremy. Setelah memarkirkan mobilnya di basement lalu bergegas naik ke lantai 10 melalui lift. Jemarinya dengan lincah menekan pin pada pintu smartlock sudah di luar kepala.

Ruang tamu tampak gelap dan tak ada tanda-tanda Jeremy disana, pun ruang tengah dan dapur hanya di terangi lampu temaram. Dua bola matanya menelisik tiap sudut ruangan namun masih tak di temukan sosok lelaki yang di cari.

Ia lalu memutuskan untuk masuk ke kamar tamu. Ya, sejak Helena tinggal di apartemen Jeremy, ia menggunakan kamar tamu. Jelas tidak mungkin mereka berdua tidur dalam satu ruang yang sama.

klek...

Suara pintu tertutup, Helena melangkah pelan kearah tempat tidurnya kemudian ia melepas outer dan melemparnya ke atas ranjang besar lalu merebahkan tubuhnya.

“Capek banget....” Ucapnya lirih, kemudian di susul dengan dering singkat pada ponselnya menandakan ada pesan yang masuk.

Ke kamar gue sekarang bisa?

Pesan tersebut ternyata dari Jeremy.

Baru mau rebahan loh gue.. Si Jeremy kenapa deh...—batin Helena. Ia pun bangun dari tidurnya, dan pergi menemui Jeremy di kamarnya. Tidak ada pikiran aneh atau buruk pada Helena saat itu, menurutnya Jeremy hanya stress karena pekerjaan dan butuh satu pelukan yang menenangkan dari seseorang.

tok tok tok...

cklek...

Helena masih mengenakan celana jeans ripped serta atasan tanktop crop, ia sama sekali belum mengganti pakaiannya bahkan belum mandi. Rambutnya terurai agak berantakan dan wajah cukup lelah tergambar nyata pada raut Helena. Gadis itu memasuki kamar Jeremy dan berdiri di depan pintu, ia mendapati lelaki tersebut sedang menatap kearahnya. Dua bola mata masing-masing saling beradu lalu seutas senyum simpul mengembang di bibir Jeremy. Helena masih terpaku dan cukup bingung dengan situasinya. Apa yang di pikirkan Jeremy? Bisiknya dalam hati.

Anehnya Jeremy merentangkan dua tangannya kearah Helena. Apa maksudnya Je??? Batin Helena campur aduk, ia pun menghampiri lelaki yang mengenakan piyama berwarna abu muda itu. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Jeremy menarik tangan gadis itu agar masuk dalam pelukannya.

“Lo kesambet apa Je?”

“Pengen peluk lo aja, gaboleh?”

“Lo aneh Je...”

Jeremy malah semakin erat menangkup tubuh Helena dan mengusap punggungnya perlahan.

“Emang temenan gaboleh peluk?”

“B-boleh tapi ya gak di dalem kamar juga kali...” Ucap Helena dengan dagu yang menempel pada pundak Jeremy.

“Kenapa? Kamu takut?” Timpal Jeremy dengan senyuman yang begitu sulit diartikan.

Helena kemudian melepaskan pelukan tersebut, menatap dua bola lelaki yang berada di hadapannya. Hingga membuat jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Aneh.

“Je, gini... Emm.. Gimana jelasinnya ya?”

” Jujur setelah lost contact sama dia, gue gak pernah pacaran lagi. Gak ada skinship sama cowok lain, dan baru banget ini sama lo... Gue takut gak bisa rem, udah ya.. Gue balik kamar.”

Helena pun berdiri hendak meninggalkan lelaki itu namun gerakannya kalah cepat dengan Jeremy yang menarik tangan gadis itu hingga ambruk kepelukannya, lagi.

“Lo takut sama gue Hel? Gue gak akan ngapa-ngapain...”

“Temenin gue bentar aja, gue pengen cerita..”

Helena kali kedua melepaskan pelukan tersebut.

“Je, gue tiduran bentar boleh? Capek, pinggang gue sakit...”

“Ya udah, sana...”

Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang besar milik Jeremy, lelaki itu kemudian menyusulnya. Menyandarkan tubuhnya pada headboard. Tiba-tiba saja keduanya terdiam, sudah jelas Helena sangat lelah matanya pun sayu. Mungkin jika ia memejamkan mata barang sebentar saja, tak perlu lama Helena pasti segera masuk keruang mimpinya.

Jeremy menengadahkan kepalanya menatap langit-langit di ruang kamarnya, lampu temaram seakan merubah suasana hangat.

“Hel...”

“Hmm...”

“Besok Tristan mau balik Indo.”

“Bagus dong, lo ada temennya..”

“Bukan itu maksud gue, tapi dia ada rencana mau undang makan malam orang yang jadi rival gue.”

“Maksud lo?” Tanya Helena heran, lalu menoleh kearah lelaki yang berada di sebelahnya.

“Yang lagi deket sama Nathalie..”

“Terus lo gak nyaman gitu?”

“Kalau liat Nathalie yang ada sakit hati gue...”

Keduanya lalu terdiam. Satu menit berlalu kemudian Helena menawarkan sesuatu.

“Mau gue temenin? Biar gue juga bisa say hello sama Nathalie juga.. Lama banget gak ketemu dia..”

“Lo gak keberatan?” Tanya Jeremy memastikan apa yang di tawarkan Helena kepadanya.

“Enggak, tapi gue nyusul. Gak bisa bareng lo...”

“Gapapa, besok gue kabarin tempat sama jamnya.”

“OK.” Ucap Helena mengakhiri percakapan malam itu. Ia lalu membalikkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Jeremy dan menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya.

“Lo mau tidur sini Hel?”

“Mm.. Udah pewe gue..” Ujarnya.

“Dasar...” Timpal Jeremy dengan tangan yang mengusap rambut Helena beberapa kali. Gadis itu diam saja, tak merespon apapun. Tubuhnya sudah sangat lelah dengan aktivitasnya dari siang sampai malam tadi.

Ulang tahun Elissa kali ini memang tak seperti tahun kemarin. Tahun lalu ia merayakan peringatan hari lahirnya bersama keluarga besar, sedangkan sekarang ia hanya merayakan dengan sang pujaan hati saja. Keluarga Elissa bertolak ke Singapore untuk waktu yang lama karena sedang mengelola bisnis keluarga.

Pukul 23:45 Jodie belum tiba di apartemen padahal lima belas menit lagi peringatan hari lahirnya akan segera usai. Elissa mengerucutkan bibirnya sambil mengaduk kopi dalam cangkir, sebal. Dua telinganya seakan tuli oleh airpods yang terpasang mengalunkan lagu R&B kesukaannya. Ia lirik ponsel yang berada di sebelah kanan cangkir berisi kopi favoritnya. Tetapi tak ada tanda-tanda Jodie akan segera datang ke apartemen padahal sudah hampir lewat tengah malam.

Elissa menyeruput kopi seraya membalikkan tubuhnya dan tap! jantungnya seakan lepas. Kopi yang hendak ia minum tanpa sengaja tumpah membasahi tanktop crop juga tenggorokan sedikit tersedak karena tiba-tiba Jodie berada di belakangnya entah sejak kapan. Lelaki itu berdiri dengan melipat dua tangannya di depan dada sambil bersandar pada mini bar.

“Ah!! Jodie panass..!!” Pekik Elissa sembari tangannya mengibas tumpahan kopi pada tanktopnya.

Jodie kemudian melangkah pelan menghampiri kekasihnya, ia ambil cangkir kopi yang berada di tangan kiri gadis itu lalu meletakkan di kitchen counter tepat di belakang Elissa. Juga melepas airpods yang menempel di telinganya.

Gadis itu masih panik dengan tumpahan kopi panas yang membasahi tanktop juga kulitnya.

“Sini, dilepas aja biar gak panas..” Perintah Jodie, dua tangannya pun meraih ujung tanktop dan menariknya keatas. Elissa menurut saja padahal ia sama sekali tak mengenakan bra. Tentu saja dua gundukan payudara miliknya menyembul dan cukup menggoda lelaki yang berdiri di hadapannya itu.

Wait babe... Aku ambil baju dulu di dalam.” Ujarnya sambil menutupi payudaranya dengan dua tangan.

Senyum seringai Jodie tersirat jelas pada bibirnya menandakan Elissa masuk dalam permainannya. Kemudian menarik lengan kekasihnya dan menahan tubuh Elissa agar tak bergerak kemanapun.

“Coba liat, perih ya? Sampai merah gini..” Ucap Jodie sambil menatap dua gundukan sintal yang sudah menjadi mainannya sehari-hari.

“Diem bentar, aku tiupin ya...”

“Jo-jodie....”

Hembusan nafas yang keluar dari bibir Jodie menembus ruam pada kulitnya begitu sejuk. Lelaki itu dengan sengaja meniupnya berkali-kali hingga membuat Elissa bergidik, merinding seketika.

Putingnya pun perlahan mencuat akibat deru nafas Jodie lama kelamaan kian berat. Elissa dengan spontan menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya. Sepertinya hembusan nafas Jodie membuatnya terangsang.

Jodie sadar akan hal itu lalu tersenyum miring, sesegera mungkin mencuri kesempatan yang ada. Lelaki itu mendaratkan kecupan berkali-kali keatas permukaan kulit Elissa yang memerah, lalu perlahan turun dan berhenti pada puting kekasihnya. Tak ada sepatah katapun dari Jodie maupun Elissa, lalu dengan sangat pelan dan lembut Jodie melumat dan menjilat puting kekasihnya membuat libido Elissa naik. Bahkan mungkin yang di bawah sana sudah basah.

“Mmphh.. Jo...” Lenguhan pertamanya lolos dari bibir ranum milik Elissa, tubuhnya merespon rangsangan yang diciptakan oleh kekasihnya.

Jodie hanya melirik sebentar lalu melanjutkan aktivitasnya. Melumat payudara sebelah kiri, menjilat dengan sensual dan yang sebelah kanan, jari-jarinya sibuk memilin puting susu milik Elissa hingga desahan pun lolos, lagi.

“Nghh... A-ahh...”

Tangan Elissa dengan sengaja meremas rambut lelaki di hadapannya ketika masih sibuk dengan dua payudaranya juga tangan Jodie yang mulai nakal meraba permukaan vagina miliknya yang masih terbalut celana dalam. Bagaimana Jodie bisa menahan nafsunya ketika melihat Elissa sedari tadi hanya menggunakan tanktop crop tanpa bra dan celana dalam saja sebelum akhirnya ia berhasil menjamah tubuh kekasihnya.

Babe... Hhhh... Emang mau di dapur?” Tanya Elissa dengan nafas yang mulai tak beraturan.

Why not?” Timpal Jodie dengan tatapan sangat mengintimidasi.

“T-tapi kond0m yang kamu beli ada di kamar.”

“Gak usah pakai kond0m sayang, aku mau langsung aja..” Ujarnya sambil mengecup bibir Elissa.

Jodie kemudian melepaskan celana dalam milik kekasihnya lalu melempar ke sembarang arah hingga menampilkan tubuh Elissa tanpa sehelai benang pun.

Don't move, I'll make you fly babe...” Suara parau Jodie juga hembusan nafas yang mulai berat membuat Elissa kembali bergidik. Lelaki di hadapannya itu lalu berjongkok di sela dua kaki Elissa. Ia meraih kaki kiri gadisnya lalu mengangkat dan diletakkan diatas pundaknya.

Tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu, lelaki berperawakan tinggi tersebut gencar melakukan aksinya. Jarinya melebarkan bibir vagina milik Elissa kemudian menggesek dengan jari tengahnya hingga mengenai klitoris kekasihnya membuat sang empu mendesah karena nikmat.

“Aah... J-Jodie...”

Menit berikutnya jari tengah Jodie melesat masuk kedalam lubang milik Elissa disusul dengan jari telunjuknya, sangat mudah karena lubang vagina gadis itu sudah sangat basah. Ia gerakkan perlahan dan ia mainkan klitoris Elissa dengan lidahnya.

“Mmphh... Aahh... Jodie... Disituuhh...” Desahan Elissa membuat sang kekasih semakin gencar memainkan titik sensitif pada gadis itu. Sensasi lidah Jodie selalu bisa membuatnya terbang melayang juga jemarinya sangat mahir mengobrak-abrik lubangnya hingga mencapai titik klimaksnya.

“Ahh... M-mau cumhh.. Babe...”

Come on, babe...” Ucapnya di sela memainkan klitoris Elissa. Jari-jari panjang milik lelaki itu tepat berkali-kali menyentuh titik g-spot Elissa hingga cairan putih mengucur tanda pelepasannya yang pertama.

Jodie yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya bergegas melucuti bagian bawahnya saja. Ia sudah tak sabar ingin menikmati lubang surgawi milik kekasihnya. Penis besar dan panjang miliknya sudah siap kembali mengobrak-abrik kepunyaan Elissa.

Lelaki itu meraih tengkuk kekasihnya, ia lumat dengan ganas bibir ranum Elissa. Tangannya pun meremas kuat payudara dan memilin putingnya yang sudah mencuat kencang. Jodie memang tak pernah gagal membangkitkan nafsu birahi Elissa bahkan lelaki itu mampu membuatnya klimaks berkali-kali.

Setelah puas melumat bibir kekasihnya, kini Jodie membalikkan tubuh Elissa yang bertumpu pada kitchen counter.

Doggy style, oke?” Ucap Jodie sambil menepuk keras bokong sintal milik kekasihnya.

“AHHH... Please babe...”

Tak perlu lama, Jodie melesatkan penisnya kedalam lubang milik Elissa hingga penuh. Penis besar dan berotot itu terasa sesak, karena lubang vagina gadis itu sangat sempit hingga kenikmatan yang dirasakan Jodie pun memuncak hingga ubun-ubunnya.

“Ughh... Sempit banget El, i like it!” Ucapnya di sela-sela menghujam lubang milik Elissa. Tangan kirinya mencengkeram surai panjang kekasihnya lalu tangan kanannya sibuk memainkan klitorisnya hingga membuat lutut Elissa bergetar seakan tak kuat menopang tubuhnya sendiri.

“Nghhh... Aahhh... Cepetin Jo!”

Why? You want to cum again??

Yes babe...”

Jodie lalu melepaskan rambut Elissa, membiarkannya terurai. Kemudian ia menarik tubuh gadis itu kebelakang hingga sedikit tegak. Dengan sangat nakal Jodie mencium juga menjilati leher gadis itu membuat tubuh Elissa bergetar, hendak mencapai pelepasannya yang ke dua.

“Baru sebentar aja udah mau cum lagi babe? Lemah...”

“Gimana nanti kalau seminggu full?” Ledek Jodie dengan senyum seringai khasnya. Lelaki itu selalu menang dalam permainannya bersama Elissa.

“Ouwh... Fuck babe, fasterrhhh...”

“Barengan sayang, aku mau tembak dalam...”

Jodie terus menghujani lubang milik Elissa dengan cepat, sesekali di hentakkan kuat-kuat membuat gadis itu mendesah keras karena nikmatnya hentakan penis Jodie selalu tepat menghantam titik g-spotnya.

“Aahhhh...”

“Eghhh...”

Desahan keduanya. Pada hentakan ke tiga, secara bersamaan keduanya mencapai klimaks. Cairan milik Elissa juga sperma Jodie menyembur dan menyatu di dalam sana hingga mengucur keluar dari sela paha gadis itu karena terlalu banyak hingga lubangnya pun tak sanggup menampung cairan tersebut.

“Ah.. Jo, kakiku lemas...” Keluh Elissa sembari mengalungkan kedua tangannya pada leher sang kekasih.

“Lemah.. Tapi sombong mau service seminggu full..” Ujarnya sambil mendaratkan ciuman singkat pada bibir Elissa.

“Canda babe...” Balas gadis itu dengan wajah yang memelas juga rambut yang berantakan.

“Ingkar janji itu namanya...” Timpal Jodie terkekeh sambil mengangkat tubuh kekasihnya. Ia gendong ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi.

Jodie lalu menyalakan air pada shower mengatur tuasnya agar air yang mengalir menjadi hangat.

“Abis mandi langsung tidur ya, jangan drakor-an mulu...”

“Kenapa emang?” Tanya Elissa sambil menaikkan alisnya.

There's still one more week...”

SHIT!