Heal you

Gemericik air hujan yang turun malam itu menemani kegundahan hati Gladys. Bagaimana tidak, pertemuan dengan mantan kekasihnya membuat kenangan yang dulu terbesit kembali di benaknya. Perempuan berambut panjang ini sedang berada di teras balkon lantai dua tepat di depan ruang kamarnya. Ia menikmati dinginnya hujan ditemani beberapa kaleng beer yang sudah kosong juga empat puntung rokok yang tercecer di dalam asbak.

Tak lama, lamunannya kabur begitu saja ketika mendengar suara mobil Damian memasuki garasi. Senyum seringai terlihat jelas pada wajah Gladys, tentu saja ia berhasil menaklukkan lelaki itu entah untuk yang keberapa kali. Sudah tak terhitung.

Damian sudah sangat biasa keluar masuk tempat tinggal Gladys hingga sangat hafal dengan pin smartlock di rumah tersebut. Lelaki itupun segera masuk setelah memarkirkan mobil dan menutup pintu garasi. Ia melangkahkan kakinya penuh keyakinan menuju kamar utama pada rumah tersebut.

Ruang kamar memang tampak kosong, namun pintu slide yang terbuka sudah jelas Gladys berada di balkon untuk sekedar minum dan menghabiskan beberapa batang rokok demi menunggu lelaki yang selalu membuatnya gila.

Lelaki itu menyibak tirai putih yang melambai akibat terpaan angin malam. Garis wajahnya terlihat jelas begitu dingin, Damian memang jarang tersenyum, bahkan dengan Gladys pun selalu terlihat serius dan tegang.

Gladys memandangi tubuh tegap lelaki yang kini sedang berjalan kearahnya sembari menghembuskan kepulan asap rokok dari bibir serta hidungnya. Lelaki itu mencengkeram rahang Gladys dan menatapnya dua bola matanya tajam.

Babe... Are you jealous?

Damian tak menjawab malah mencium kasar bibir Gladys juga menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

“Aww ... Dam!”

Senyum seringai tersirat jelas di bibir lelaki itu kemudian melanjutkan kembali ciuman panasnya. Gladys masih duduk diatas kursi sedangkan Damian membungkuk untuk memperdalam ciumannya. Tangannya tak tinggal diam, melucuti lingerie hitam milik Gladys hingga dua gundukan dada sintal miliknya menyembul sangat menggoda.

Setelah selesai dengan ciuman panasnya, Damian menarik lengan perempuan itu sedikit kasar. Membawanya sedikit kebelakang, Damian lalu melepaskan ikat pinggang, celana jeans juga celana dalamnya. Ia turunkan hingga batas lutut agar miliknya terbebas setelah beberapa menit yang lalu terasa sesak di dalam sana.

“Dys, masukin ke mulut lo..” Sembari mengocok perlahan miliknya sendiri seakan sudah siap ingin di manjakan oleh bibir Gladys. Perempuan yang hanya tinggal mengenakan celana dalam itu kemudian turun kebawah mensejajarkan wajahnya di depan senjata milik Damian dengan posisi berlutut di hadapan lelaki tersebut.

Dengan sangat lincah Gladys menggoda Damian dengan mengulum bagian ujungnya saja sembari mengelus, menaik turunkan tangannya perlahan sebelum akhirnya melahap habis penis lelaki itu hingga pangkal. Milik Damian yang besar dan panjang itu cukup membuat bibirnya lelah dan kewalahan.

Tangan Damian mengumpulkan rambut yang menutupi wajah Gladys lalu menjadikan layaknya tuas pengatur, kapan harus mempercepat dan memperlambat tempo. Sesekali perempuan itu menggodanya dengan menjilati twin ball milik Damian. Memutar dengan lidah serta mengulumnya hingga membuat lelaki itu mengerang.

“Eghh... Enak banget Dys, bibir lo emang gak ada duanya.” Ucapnya seraya mendongakkan kepala dan memejamkan matanya, merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh bibir Gladys.

Setelah puas dengan oral sex Damian kembali mencumbu perempuan di hadapannya itu. Ia kembali melumat bibir Gladys dengan sedikit kasar, tangannya meremas dan memutar puting milik Gladys hingga menciptakan suara desahan khas yang sedikit nyaring. Merasa takut suara Gladys terdengar oleh tetangga, lalu Damian berniat membawanya masuk ke dalam kamar. Ia melepaskan celana yang di kenalannya lalu menggendong perempuan itu bak seekor koala. Gladys melingkarkan dua tangannya pada perpotongan leher Damian, lalu dua kakinya melingkar di pinggang lelaki tersebut. Saat berjalan memasuki ruang kamarnya, tak di sia-siakan oleh Gladys untuk kembali menggoda Damian dengan menjilati telinga juga leher lelaki itu hingga membuat gairahnya semakin memuncak.

Damian melemparkan tubuh Gladys keatas ranjang besar kemudian ia ikut merangkak naik. Ia mengambil scarf yang tergeletak diatas nakas, lalu mengikat kencang kedua tangan perempuan itu diatas kepalanya. Damian mengecup bibir Gladys sebelum akhirnya turun kebawah dan melebarkan dua paha milik Gladys.

“Ahh....” Desahan Gladys pun lepas kala lidah Damian memainkan klitorisnya. Tanpa aba-aba dua jarinya melesat masuk kedalam lubang kenikmatan milik Gladys. Ia keluar masukkan jarinya dengan tempo sedang sembari memainkan klitorisnya dengan lidah. Tubuh perempuan itu menggelinjang resah, ingin rasanya meremas sesuatu di sebelahnya namun tak bisa. Dua tangannya masih terikat dengan scarf.

“Dam! I wanna cum! Please!” Ucap Gladys sedikit gusar kala lelaki itu mempercepat tempo kocokan di bawah sana. Bibirnya masih di posisi yang sama, mencium dan menjilati klitoris perempuan itu hingga menjemput pelepasannya yang pertama.

“Aahhh... Fuck Dam!!” Pekik Gladys. Suaranya menggema, memenuhi ruang kamarnya.

Belum juga bernafas dengan teratur, Gladys harus menyanggupi semua keinginan Damian. Lelaki itu lalu menindih tubuh perempuan itu dan melesatkan penisnya yang sudah menegang sedari tadi.

“Aahh.. D-dam lo gila! Gak kasih nafas dikit buat gue..” Rancau Gladys ketika Damian tak memberikan waktu untuk sedikit beristirahat. Lelaki itu hanya tersenyum tipis. Ia memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang lalu mengangkat kaki Gladys, menyatukan kedua kalinya dan meletakkan pada perpotongan bahu sebelah kanannya hingga lubang vagina Gladys terasa lebih menjepit miliknya.

Perempuan itupun terus mengeluarkan desahan penuh kenikmatan. Damian benar-benar kasar malam ini, mungkin masih tersulut api cemburu terhadap mantan kekasih Gladys hingga menjadikan perempuan yang berada di bawahnya ini menjadi pelampiasan rasa kalut dirinya.

Tangan kiri Damian mencekik leher Gladys sangat kuat dan tangan kanannya mencengkeram payudara perempuan itu. Awalnya suara desahan yang keluar, kini suaranya seakan tercekat. Gladys sangat tak berdaya dengan tangan terikat, leher tercekik dan bagian bawahnya di hujani tombak besar milik Damian.

Permainan kasar namun nikmat ini pun tak lama akan mengantarkan pada pelepasannya yang kedua. Kakinya mulai bergerak resah dan tubuhnya bergetar.

“D-dam.. Cummhh...”

Lelaki itu kemudian mempercepat temponya. Gerakan pinggulnya semakin cepat dan sesekali ia hentakkan membuat Gladys memejamkan matanya tanda nikmat. Pada hentakkan ke tiga akhirnya Gladys mencapai pelepasannya yang ke dua. Tubuhnya kini lemas, nafasnya memburu tak beraturan. Namun Damian belum mencapai titik puncaknya, berarti permainan belum selesai.

“Dam, sialan lo nyiksa gue banget. But, i like it!

“Dasar jalang! Nungging buruan, gue mau tembak di dalem.” Ujarnya lalu mengambil ikat pinggang yang tercecer di lantai. Gladys mengikuti apa yang di perintahkan Damian. Kini posisinya menungging, memamerkan bokong sintalnya. Tanpa aba-aba sebelumnya Damian menampar bokong Gladys menggunakan ikat pinggang di tangannya.

“AAHHHH....”

Gladys merintih kesakitan, namun ia suka di perlakuan Damian seperti ini. Lelaki itu kemudian naik ke atas ranjang, tangannya meraih leher Gladys lalu berbisik ke telinganya.

“Lo masih mau deket-deket sama Erick?”

N-no Dam, my body is only yours... I only l-love you...”

Good girl....” Balas Damian seraya mengecup bibir perempuan itu singkat sebelum akhirnya melesatkan penisnya dari belakang.

“Ahh.. Shit!...” Rancau Gladys ketika lubangnya kembali dihujani penis Damian yang terasa kian membesar dan penuh. Lelaki itu menggoyangkan pinggulnya dengan cepat sesekali menampar bokong Gladys dengan tangannya juga menghentakkan penisnya berkali-kali hingga terasa menabrak titik g-spot miliknya.

“Aahh... Fuck Dam! F-fasterrhhh...”

You wanna cum again?

Yesshh.. Aahh....”

Sekali hentakkan, dua insan ini sama-sama mencapai titik puncaknya. Sperma dan cairan milik Gladys bertaut di dalam sana terasa penuh hingga mengalir di sela pahanya. Damian lalu melepas miliknya dari dalam Gladys. Senyum seringai pun tersirat jelas pada bibir Damian. Bagaimana tidak, ia berhasil membuat Gladys tiga kali orgasme serta puas bermain kasar untuk melampiaskan amarahnya. Damian selalu menang.