One night
“Hel, Jovan siapa lo?” Tanya Jeremy ketika membuka pintu unit apartemennya. Helena mengekor di belakang Jeremy lalu ikut masuk ke dalam.
“Dia orang yang gue ceritain kemarin.” Jawabnya sambil melempar handbag keatas sofa.
“Jangan bilang Jovan itu rival lo?!” Lanjut Helena sembari mengambil satu kaleng beer di dalam lemari pendingin lalu meminum tanpa jeda hingga hampir habis.
“Ikut gue Hel...” Perintah Jeremy pada gadis itu kemudian mengikutinya dari belakang menghabiskan sisa beer yang berada di tangan kanannya. Langkah tegas seorang Jeremy ternyata menuju ruang kamarnya, lelaki tersebut membuka pintu kamar lalu mempersilahkan Helena masuk kesana.
Helena pun masuk tanpa ada perasaan yang curiga. Ia merasa Jeremy masih baik-baik saja, bahkan setelah mereka berempat bertemu. Kalau di pikir, sebenarnya kejadian di tempat makan tadi memang mengejutkan. Bagi Helena pertemuan dengan Jovan bukanlah kesengajaan, tetapi mungkin berbeda dengan Jeremy. Lelaki yang bernama Jovan ini adalah mantan kekasih Helena, calon istrinya juga sekaligus rival saat hubungannya dengan Nathalie sedang merenggang. Kalau pun bisa, ingin rasanya Jeremy mengembalikan pada posisi semula.
klek....
Suara pintu terkunci. Helena sadar akan hal itu lalu menatap raut wajah Jeremy, aneh.
“Kenapa sih lo Je?” Gadis itu masih saja merasa ada yang aneh dari Jeremy, lalu ia berjalan pelan dan duduk di tepi ranjang. Tak lama di ikuti Jeremy berjalan kearah gadis itu dan berdiri di hadapannya.
“Kalau Jovan rival gue, kenapa Hel?” Tanya Jovan dengan memajukan wajahnya kearah gadis itu tepat mengikis jarak diantara mereka. Helena sontak kaget dan memejamkan matanya. Detik kemudian tangan Jeremy meraih tengkuk Helena dan berbisik di ujung telinga.
“Gue gak mau kalah dari Jovan, harus satu sama biar impas...” Suara parau itu membuat Helena bergidik, merinding. Mungkin saat ini dalam tubuh Jeremy sudah menumpuk beribu-ribu nafsu yang ia tahan semenjak hubungan dengan kekasihnya merenggang. Kalaupun malam ini dia kalap, bukan sepenuhnya salah Jeremy. Kenapa perempuan yang menjalin hubungan dengannya tak jauh-jauh dari lelaki yang bernama Jovan.
Helena Yocelyn. Ya, model berperawakan tinggi semampai, bentuk tubuhnya tak perlu di ragukan lagi. Kemolekan gadis ini tak henti wara-wiri di sosial media, majalah serta membintangi banyak iklan di televisi. Helena bisa dikatakan 99% sempurna, dada juga bokong sintal adalah nilai plus pada dirinya, selain mempunyai paras yang ayu. Jovan mungkin adalah lelaki beruntung jika bisa memacari Helena saat itu, namun hubungan tak semulus di angan.
Malam ini Jeremy seperti kerasukan setan, entah dari apa yang ia pikirkan hingga nafsunya menggelayut tak tertahan. Ia sungguh-sungguh ingin mencicipi rasa nikmat pada tubuh Helena. Bahkan sempat terbesit dalam pikiran Jeremy, mungkin selama hubungannya dengan Nathalie merenggang tak menutup kemungkinan gadis itu bermain gila dibelakangnya.
“Je, lo gila ya?!” Ucap gadis itu seraya mendorong tubuh Jeremy agar menjadikan jarak lebih jauh. Namun lelaki itu malah semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Helena sebelah kiri. Ia menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi paras cantiknya kemudian berbisik.
“Relax, Ok?“
Tanpa permisi, Jeremy meraih tengkuk gadis yang berada di hadapannya secara perlahan lalu melumat bibirnya dengan lembut. Beberapa detik setelahnya Helena baru sadar bahwa Jeremy mungkin sedang memancingnya. Gadis itu lalu mendorong tubuh Jeremy untuk yang kedua kali.
“Stop Je...”
“Why?” Tanya Jeremy dengan menatap lekat dua manik mata milik gadis itu.
“Gak bisa Je... Lo gak inget sama janji kita?”
“Janji yang mana? Gak ada perjanjian all about having sex, coba ada gak? Jelasin ke gue...”
“Je, emang kita gak pernah bahas itu, but we are friends and will never having sex...” Cecar gadis itu seraya berdiri hendak meninggalkan Jeremy. Namun tubuhnya tak akan kuat jika melawan pergerakan dari tangan lelaki yang sedang berusaha menahannya. Detik kemudian tubuh ramping Helena di banting keatas ranjang sedikit gusar. Jeremy lalu naik kertasnya dan menindih tubuh gadis itu.
“Sebentar aja, slowly.. Ok?”
“I won't force, just want to play with your pussy...” Lanjut Jeremy dengan senyum seringai di wajahnya.
“Je, please... No!”
“Hel, kalau tiga tahun lo gak pernah berhubungan dengan siapapun, oke gue percaya sama lo..”
“Lo emang super sibuk tapi, lo pasti ngerasa capek, otak lo tegang dan lo butuh sesuatu yang bikin relax. Gue yakin lo tadi abis ketemu Jovan pasti kepikiran kan? Gue bantu ya?” Tawar Jeremy penuh dengan rayu. Setelah sebelumnya ia berpikir ingin menghabisi Helena malam ini, tiba-tiba di urungkan niat itu. Jeremy mungkin hanya butuh afeksi saja. Sedikit bermain dengan Helena mungkin akan sama-sama menyalurkan hasrat yang tak terbendung.
Helena pun seakan mereda, awalnya ia tegas untuk menolak tetapi ia merasa sedikit tenang saat jemari lelaki ini mengusap lembut lengan serta pinggangnya.
Jeremy memulai dengan mengecup beberapa kali bibir ranum milik Helena, sang empu hanya mengikuti alurnya saja. Kali ini pertahanan Helena mulai runtuh, ia tak munafik. Sesungguhnya gadis itupun butuh afeksi, ia butuh sentuhan dari seorang lelaki yang bisa dipercaya. Ia pun tak pernah menyangka lelaki itu adalah Jeremy.
Setelah beberapa kali mendaratkan kecupan pada bibir Helena, jemarinya lincah menjamah serta meraba hampir seluruh bagian atas tubuh gadis itu. Helena sesekali memejamkan mata, tubuhnya sedikit mulai resah. Jeremy kembali melumat bibir Helena dengan lembut awalnya, tetapi kelamaan berubah menjadi ciuman yang lebih menuntut. Gadis itu dengan spontan melingkarkan dua tangganya pada perpotongan leher Jeremy. Ia mulai menikmati permainan yang di ciptakan oleh lelaki itu.
Masih dalam lumatan yang semakin lama kian memanas, Helena terus menahan desahan yang hampir lolos itu. Jari-jari milik Jeremy yang awalnya hanya mengusap pada bagian luar saja tiba-tiba merogoh dan masuk kedalam baju yang di kenakan oleh Helena. Dengan cepat tangan lelaki itu menemukan dua gundukan payudara sintal milik gadis itu. Perlahan meraba bagian belakang dan melepas kaitan bra dalam sekali hentak. Jemarinya pun mendapatkan dua gundukan yang sudah mulai menegang, putingnya pun sudah mencuat, kencang. Tangan kiri Jeremy menahan dua tangan Helena tepat diatas kepala gadis itu lalu tangan kanannya menangkup payudara gadis itu dan memainkannya, ia remas dengan sangat pelan sambil memijit putingnya, sesekali ia menggesekkan ibu jarinya pada puting susu yang sudah tegang itu. Membuat tubuh Helena menggeliat, resah.
“Mmphh...” Lenguhan pertama Helena pun lolos dari bibirnya. Membuat Jeremy semakin gencar ingin memuaskan gadis itu.
Setelah puas bermain dengan payudara Helena, jemarinya nakal meraba bagian bawah milik gadis itu. Ia membuka rok dengan belahan tinggi sampai bagian paha, lalu melebarkan dua paha Helena untuk mendapatkan celah agar bisa mengakses liang surgawi milik Helena.
Di dalam sana sudah sangat lembab dan basah. Jemari lelaki itu mengusap bibir vaginanya dari luar, terasa cairan yang keluar sudah membasahi celana dalam milik Helena.
“You like it, Hel?”
“Go ahead” Balas gadis itu dengan deru nafas yang mulai berat.
Jeremy lalu melepaskan rok serta celana dalam dan membuangnya ke sembarang arah. Ia lebarkan kedua pahanya, lalu mencium dan menjilati permukaan kulit Helena mulai dari paha hingga menuju ke selangkangannya. Tangan satunya menggesek permukaan bibir vaginanya yang sudah basah. Tentu saja barang nikmat yang dirasakan Helena, tak terasa desahan pun lolos lagi dari bibirnya.
“A-ah.. Je ...”
Bibir Jeremy pun bergerak kebagian paling intim pada tubuh Helena, vagina gadis itu tampak bersih dan berwarna merah muda membuat lelaki ini tak sabar ingin mencicipi dengan bibirnya. Perlahan ia kecup klitorisnya lalu ia jilat dengan lembut. Sensasi dingin pada lidah Jeremy serta hangatnya hembusan nafas lelaki itu membuat Helena bergidik juga tubuhnya menggeliat semakin resah.
Jari telunjuknya menggesek lembut bibir vagina milik gadis itu sebelum akhirnya masuk secara perlahan di dalam sana, sangat mudah karena lubangnya sudah sangat basah. Klitorisnya di mainkan dengan sedikit kasar oleh bibir Jeremy. Ia jilat dan putar dengan lidahnya membuat Helena melenguh nikmat.
“A-ahh.. Je, disituhhh ..” Lenguhan gadis itu seakan meminta Jeremy untuk segera di puaskan.
Tak perlu lama, lelaki itu menggerakkan jari telunjuknya keluar masuk dengan tempo pelan sembari lidah yang terus bermain-main dengan klitorisnya. Setelah terasa becek lalu jari tengahnya pun ikut masuk kedalam lubang milik Helena. Ia gerakkan pelan lalu menambah tempo menjadi sedikit lebih cepat.
Helena sudah dibuatnya melayang, tubuhnya mulai bergerak resah, tangannya meremat dengan kasar bantal yang ia gunakan untuk menyanggah kepalanya, kakinya pun bergetar. Lubang vaginanya mulai berkedut dan mengetat, ia hampir sampai pada titik puncak orgasmenya.
“J-je.. A-hh... M-mau cumhh...”
“Keluarin Hel.. Go...”
Jeremy pun menambah lagi temponya, menjadi lebih cepat. Lidahnya terus bergerak memutar klitorisnya hingga akhirnya Helena menjemput pelepasannya.
“Ah-ahhh... Je... Ahh...”
Cairan putih kental itu mengucur dari sela paha Helena. Jeremy lalu mengeluarkan dua jarinya dari dalam sana. Ia bergerak keatas dan mengecup bibir Helena singkat.
“Je...”
“Hm?”
“Thank you...” Ucapnya dengan nafas yang tak beraturan.
Jeremy hanya tersenyum dan mengangguk untuk menjawab Helena, ia berjalan dan bergegas ke kamar mandi.
“Je, gue mau pakai kamar mandinya..” Pekik Helena sambil melihat Jeremy yang tenggelam di balik pintu kamar mandi.
“Bentar, gue pakai dulu. Bentar doang...” Jawab Jeremy setengah berteriak dan melanjutkan aktifitas didalam sana.
Jeremy sengaja ingin melakukannya sendiri tanpa bantuan Helena. Ia mungkin akan merasa bersalah pada dirinya sendiri atau bahkan pada Helena. Setidaknya permainan kecil bersama Helena malam itu sudah melampiaskan rasa rindunya pada Nathalie.