The Orphic

Kala tertidur pulas sejak 20 menit yang lalu, ketika mobil yang mereka tumpangi tiba di basement. Jovan menatap Kala yang masih tertidur di kursi penumpang, ia mengulas senyum tipis sembari mengusap perut sang istri yang mulai membuncit.

Mobil masih menyala meskipun sudah terparkir hampir 10 menit. Jovan menunggu sembari menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya. Lantas tak berapa lama wanita di sebelahnya mengerjapkan mata beberapa kali sembari mengusap paha Jovan.

Kala masih setengah sadar, ia mengedarkan pandangan ke beberapa titik yang menurutnya tidak asing. Wanita itu melepas seat belt sembari menatap Jovan yang sedari tadi setia menunggu di sebelahnya.

“Kita di basement, udah lama? Kenapa nggak bangunin aku?” Ucap Kala dengan tatapan sayu, rasa kantuk masih menggelayuti alam sadarnya.

Jovan hanya tersenyum sembari merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.

“Kamu tidurnya nyenyak banget. Capek ya?”

“Enggak. Dah yuk turun.” Jawab Kala singkat.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Kala lagi.

“Sepuluh lebih limabelas.” Tuturnya.

Kala bergegas mengambil tas yang berada di kursi belakang setelah keluar dari mobil. Kemudian sepasang suami-istri itu berjalan menuju unit apartemen dengan saling menautkan telapak tangan.

Akhir pekan kali ini terasa cukup melelahkan bagi Kala. Seharian dirinya dan Jovan menjelajahi setiap pusat perbelanjaan guna mencari baju formal yang hendak ia kenakan untuk ke kantor esok hari. Setelah menyambangi beberapa pusat perbelanjaan dan mendapatkan apa yang di butuhkan, lantas Kala dan Jovan mengobati rasa lelah mereka dengan menonton sebuah film di salah satu bioskop.

Jovan dapat melihat dengan jelas garis wajah sang istri nampak begitu lelah, namun senyum manis itu selalu mengembang. Bahkan wanita itu tidak pernah memperlihatkan atau mengeluh dengan lelah yang di rasakan.

Setelah meletakkan barang belanjaan di dalam walk in closet, Jovan bergegas mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.

Hal-hal kecil yang di lakukan Jovan dengan sengaja atau tidak, selalu sukses membuat Kala salah tingkah. Seperti malam itu, sebelum langkah kaki Jovan bergerak ke arah kamar mandi, lelaki itu dengan usil mengecup bibir sang istri. Kala sempat terhenyak kaget, namun ia hanya tersenyum disertai kekehan.

“Aku mandi dulu, sayang.” Ucapnya singkat, dan di balas anggukan oleh Kala.

Kala memandangi suaminya hingga masuk ke dalam bilik kaca kamar mandi, lantas ia pun berpikir untuk segera mandi karena aktivitas seharian membuat tubuhnya terasa lengket. Wanita itu memutuskan untuk mandi di kamar mandi tamu karena ia tidak mau menunggu Jovan terlalu lama.

Lima belas menit setelah Kala selesai membersihkan diri, ia baru sadar jika tidak ada bathrobe di sana. Hanya terdapat satu handuk berukuran sedang berwarna putih yang terletak di dekat wastafel. Wanita itu pun mengenakannya karena ia sama sekali tidak membawa pakaian dalam.

Ketika Kala berjalan keluar dari kamar tamu untuk kembali ke kamar utama, tiba-tiba terlintas di pikiran wanita itu untuk membuat kopi. Wanita itu kemudian berbalik arah menuju dapur, ia seduh kopi panas ke dalam sebuah cangkir berwarna putih serta mengaduknya pelan guna mencampur kopi dengan air panas.

Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang mengamati gerak gerik sejak beberapa menit yang lalu. Lelaki berperawakan tinggi itu mengedarkan pandangannya pada wanita cantik yang masih berdiri di depan kitchen bar, dengan tubuh yang di lilit handuk minim.

Sejak beberapa menit berlalu, Jovan masih enggan berpaling dari Kala. Tanpa ia sadari Jovan menelan ludahnya sendiri secara gusar. Tubuh indah sang istri yang hanya di balut handuk minim pun berhasil membuat libidonya naik tanpa aba-aba.

Angan-angan lelaki itu membumbung tinggi sebab melihat kemolekan tubuh sang istri hanya berlapis handuk minim, pun tubuh Kala masih terlihat menggoda meskipun tengah mengandung. Kehamilan Kala sama sekali tidak mempengaruhi bentuk tubuhnya. Masih tetap cantik dan jauh lebih menggoda.

Jovan bergerak lambat sembari mengayunkan kakinya menghampiri Kala. Ia rangkul tubuh wanita itu dari belakang dan mendaratkan kecupan hangat pada tengkuk sang istri. Ketika merasakan gerakan tangan dan bibir Jovan semakin bergerak agresif, lantas Kala menghentikan aktivitasnya. Kedua tangannya bertumpu pada “kitchen bar* di depannya guna menopang berat tubuhnya. ia terus menggigit bibir bawahnya lantaran si tuan terus menggodanya dengan meremas bokong miliknya.

Jovan menggeram pelan ketika ia mulai meraba payudara milik sang istri dari balik handuk yang masih melilit tubuhnya. Lelaki itu merasakan benda kenyal favoritnya sudah menegang, kemudian Jovan dengan sengaja melepaskan handuk yang masih menempel di tubuh Kala dengan sekali tarik. Handuk itu terlepas dan jatuh di lantai.

Hampir dua bulan Jovan mati-matian menahan hasratnya karena pada saat itu Kala mengalami mual dan muntah hampir setiap hari. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat hingga membuat Jovan sangat prihatin dan tidak tega jika meminta hal lebih pada sang istri.

Malam itu Jovan sudah mendapatkan persetujuan dari Kala sejak dua hari lalu, ia sangat bersemangat karena mood mereka sama-sama baik. Tanpa ada paksaan serta suasana yang tenang dan hangat, menurutnya sangat mendukung untuk melakukannya hubungan seks dengan Kala.

Tangan lelaki itu mengusap lembut perut Kala yang mulai membesar, perut yang sering ia usap-usap serta ia ajak bicara setiap hari, membuat Jovan seringkali memikirkan wajah calon si buah hati. Apakah mirip dengan Kala atau dirinya.

Jovan mengakui bahwa dirinya lah yang sangat gemas dengan bentuk tubuh wanitanya setelah hamil dan ia merasa Kala lebih menggoda saat itu.

Setelah puas mencumbu Kala, menjarah tiap inchi leher jenjang milik Kala, detik berikutnya Jovan membalikkan tubuh Kala hingga keduanya kini saling berhadapan. Awalnya Jovan dan Kala itu saling bertatap muka, seakan-akan saling berinteraksi lewat pandangan mata.

Secepat kilat dan tanpa mengalihkan pandangannya, Jovan mendaratkan ciuman lembut dan yang hangat pada bibir Kala. Ciuman yang awalnya terasa sangat lembut dan ringan, kelamaan menjadi terburu oleh nafsu, lumatan serta lidah yang berbelit terasa lebih agresif.

Lelaki itu seakan tergesa-gesa melumat serta menjarah rongga mulut milik Kala, menyesap dan melumat penuh nafsu. Seakan-akan lelaki itu hendak membalas atas nafsu birahi yang tertahan hampir dua bulan. Seolah-olah Jovan tidak memberikan kesempatan Kala untuk bernafas dengan benar ketika gerakan pertautan bibir keduanya terasa terburu.

Lantas Jovan mengangkat dan mendudukkan tubuh Kala di atas kitchen bar, bibir lelaki itu berpindah menjarah tiap inchi leher wanitanya. Mengecup basah dan mengendus permukaan kulit mulus sang istri yang tampak polos karena satu-satunya penutup tubuhnya sudah lebih dulu di tanggalkan oleh si tuan.

Kala melenguh dan mendesah pelan ketika bibir Jovan berhenti pada puncak dada miliknya yang sudah menegang. Dua tangan wanita itu ia gunakan untuk menopang berat tubuhnya, kepala Kala mendongak saat Jovan meraup dengan rakus dua payudaranya secara bergantian.

Denyar panas yang menjalar pada tubuh Kala bak sengatan aliran listrik yang mengalir ke seluruh tubuhnya, sontak bibirnya meloloskan desahan yang sukses membuat Jovan semakin kelimpungan. Lelaki itu semakin agresif menjamah dua payudara ranum milik Kala. Bibir serta tangannya mempunyai tugas masing-masing untuk meluluhlantakkan pertahanan si puan. Wanita itu yakin, pusat tubuhnya bisa di pastikan sudah sangat basah dan menginginkan lebih; oleh sentuhan bahkan segala bentuk jamahan yang biasa Jovan berikan.

Malam itu Kala sendiri seakan terbakar oleh nafsu birahi, sama dengan Jovan yang kini tengah menggebu-gebu. Tubuh Kala terlalu peka dengan segala rangsangan yang di ciptakan Jovan —pun membuatnya seolah-olah meminta di jarah lebih dalam lagi.

Tangan satu milik Kala berhasil menopang berat tubuhnya pada saat tangan satunya ia gunakan untuk meremas rambut si tuan. Ia meloloskan desahan sarat akan resah serta racau asal ketika aliran darahnya mengalir dengan cepat dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Jovan memegangi kedua lutut Kala guna membuka kakinya. Lelaki itu kini tengah berdiri di hadapan si puan, menatap lekat raut wajah Kala yang tampak sayu dan pasrah. Seolah-olah memohon agar Jovan melanjutkan cumbuan yang berhasil membuatnya melayang.

Tangan Jovan semula mengusap lembut paha Kala, kini bergerak pelan kearah pusat tubuh milik wanita itu. Dua mata Jovan lekat mengunci pandangannya pada Kala, namun tangannya bergerak lembut menyapa milik si puan yang sudah basah.

Kala mendesis pelan, bibirnya menganga lantaran jemari lelaki itu menyentuh tepat pada klitorisnya. Jovan tersenyum miring bersamaan dengan yang Kala yang meremas lengan Jovan kuat-kuat. Lelaki itu lantas menyambar bibir ranum milik Kala yang tidak ingin ia lewatkan sedikitpun. Jovan melumat serta menggigit kecil bibir milik Kala, gemas. Lenguh serta desah tertahan terdengar lirih, seiring geraman si tuan.

Di tengah-tengah keduanya saling melumat bibir satu sama lain, tiba-tiba Kala mendorong tubuh Jovan agar menjauh darinya. Sorot matanya sayu menatap wajah Jovan, kemudian melontarkan satu pertanyaan; “Apa kita tetap di sini?”

Nope. Nanti badan kamu sakit, sayang. Pindah kamar ya?” Ucap Jovan sembari mengecup singkat bibir Kala.

Lelaki itu kemudian mengangkat tubuh Kala dan menggendongnya. Kala sontak melingkarkan kedua tangannya pada leher Jovan. Wanita itu tidak diam saja, ia sibuk menggoda Jovan dengan mengecup lehernya, telinga, menjilat, serta mengigit kecil telinga Jovan membuat lelaki itu menggeram dan refleks meremas bokong wanitanya.

“Sayang...” Ucap Jovan lirih dengan suara rendah yang menusuk gendang telinga si puan, membuat bulu halus di tubuhnya merinding seketika.

Kala terkekeh geli lalu mengecup singkat pipi Jovan.

Setibanya di kamar mereka, lelaki itu merebahkan tubuh Kala perlahan. Jovan mengungkung tubuh Kala yang berada di bawahnya, memandangi wajah Kala lamat-lamat karena ruang kamar tersebut minim pencahayaan.

“Kal, kamu tau? Aku nggak bisa gambarin dimana letak titik itu tapi tiap liat kamu habis mandi, ganti baju, liat perut kamu makin gede, rasanya kamu tuh makin sexy aja.” Ucap Jovan terang-terangan, ia merasa lega karena bisa mengungkapkan apa yang ada di pikirannya beberapa hari ini. Jovan sempat ingin memuji Kala dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan, namun sempat di tahan lantaran takut menyinggung perasaan Kala.

Kala terkekeh, raut wajahnya di penuhi rona merah sembari menepuk dada bidang si tuan.

“Bentar lagi aku kayak badut, Jov.” Ucapnya polos. Namun kalimat itu langsung di tampik oleh Jovan.

“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak suka kalau kamu bilang gitu.”

“Kamu lagi bawa anak aku di dalem perut ini, sembilan bulan dan itu bukan waktu yang singkat. Aku tau kamu pasti capek, dan aku nggak bisa gantiin kamu.”

“You're beautiful, baby. Di mataku, kamu tetap cantik, selalu cantik. Jangan pernah bilang kamu mirip badut, nggak ada mirip-miripnya.” Ucap Jovan sembari mengusap perut Kala. Lantas ia mengucapkan satu kalimat penutup sebelum kembali melancarkan aksinya.

“Nak, tau nggak? Mami tuh cantik banget loh, baik, sabar, pokoknya mami tuh paling top sedunia. Kamu baik-baik ya di dalem, nggak boleh nyakitin mami, harus sayang mami. Oke?”

“Papi sama mami sayang kamu.” Ucap Jovan sebelum akhirnya ia turun ke bawah mensejajarkan wajahnya dengan perut Kala yang mulai membesar, mengecupnya hingga beberapa detik.

Rentetan kalimat yang di lontarkan Jovan benar-benar sukses membuat dirinya melayang ke awan. Pujian yang keluar dari bibir Jovan berhasil membuat Kala yakin sepenuhnya bahwa ia adalah wanita satu-satunya yang di puja lelaki itu.

Kala tersenyum, tangannya menyisir rambut Jovan menggunakan jemarinya. Detik berikutnya lelaki itu mengungkung tubuh Kala yang terbaring di bawahnya, kemudian mendaratkan kembali bibirnya di atas bibir Kala, melumatnya dengan penuh nafsu guna merangsang si puan.

Tidak perlu lama Jovan pun berhasil, bahkan membuat Kala menjadi lebih agresif di banding sebelumya.

Kala mendorong tubuh Jovan kesamping hingga lelaki itu menjatuhkan dirinya tepat di sebelah Kala. Dengan gerakan pelan, wanita itu bergeser dan menaiki tubuh Jovan. Kini Kala berada di atas tubuh si tuan sembari mengulum senyum jail pada lelaki itu.

Jovan hanya tersenyum sembari menahan kekehan, dua tangannya dengan cepat memegangi pinggul Kala, ia usap perlahan seolah-olah menyalurkan rasa hangat ke tubuh Kala.

“You're on top?”

Pertanyaan Jovan hanya di jawab dengan anggukan serta senyuman manja.

“Excuse me, I will take off my pants.”

Kala beranjak beberapa detik saja, setelah Jovan menanggalkan celana boxer yang ia kenakan, kemudian wanita itu kembali memposisikan dirinya di atas Jovan

Tangan mungilnya berhasil meraih kejantanan Jovan yang sudah menegang sempurna. Tanpa basa basi, Kala mengangkat pinggulnya serta mengarahkan batang penis itu pada miliknya dan memasukkannya perlahan hingga penuh.

Satu tangan Jovan bertaut pada telapak tangan Kala, wanita itu menggunakan tangan kokoh milik Jovan untuk bertumpu. Sedangkan tangan kiri Jovan memegangi pinggul Kala.

“Aahhh...”

Kala memejamkan kelopak matanya, desahan yang keluar dari bibirnya terdengar sangat nyaring hingga ke penjuru ruangan.

Setelah masuk dengan sempurna, Jovan mengusap perlahan pinggul Kala. Usapan lembut itu sengaja Jovan lakukan karena pada saat kejantanannya memasuki milik Kala, sontak wanita itu meremas kuat-kuat telapak tangan Jovan. Seakan-akan Kala tengah di regang oleh benda tumpul yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya.

“Are you oke?” Suara rendah Jovan lirih mengusik indera pendengaran si puan.

Kala pun bergeming setelah beberapa detik dirinya tidak menggerakkan tubuhnya.

Perlahan wanita itu menggerakkan tubuhnya, memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang. Kedua tangannya pun ia gunakan untuk menopang berat tubuhnya berlandaskan dada bidang milik Jovan.

Dua netra sejoli itu saling bertatapan dan mengunci pandangannya satu sama lain. Jovan tanpa mengedipkan matanya barang sedetikpun, seolah-olah tidak mau melewatkan paras ayu si puan yang tampak sayu ketika mengejar kenikmatan yang ia dambakan. Bibirnya menganga sebab segala desah serta rancu ia serukan keras-keras, membakar gejolak hasrat birahi.

Kelamaan gerakan pinggul Kala semakin cepat, cengkeraman semakin erat serta desahnya semakin kuat. Wanita itu benar-benar sedang mengejar puncak ternikmat surgawi tanpa mempedulikan Jovan yang dari awal meminta.

“Pelan, sayang...”

Jovan berujar ketika Kala bergerak semakin cepat, dinding vagina milik Kala mulai berkedut dan mengetat seolah-olah tengah mencengkeram kuat batang penis milik Jovan. Namun wanita itu tidak mempedulikan ucapan Jovan, ia terus mengejar kenikmatan yang sebentar lagi sampai pada puncaknya.

“Aku mau keluar.” Sambar Kala penuh penekanan. Sampai pada akhirnya tangan Jovan bergerak mengusap punggung wanita itu dan mendorongnya pelan agar condong ke depan, mengarahkan pada dirinya.

Lantas Jovan melumat puncak payudara Kala, menyesap serta memainkan putingnya menggunakan lidah. Lelaki itu menggeram ketika bibir serta lidahnya melumat tanpa ampun payudara si puan, hingga rangsangan yang di berikan Jovan mempercepat Kala menjemput pelepasannya.

“Ahhh... Jov! Ahhh...”

Desahan wanita itupun terdengar nyaring, bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk di pelukan Jovan. Lelaki itu mengusap punggung Kala, memberikan ketenangan dan kenyamanan pada wanita itu.

Deru nafas yang memburu, serta detak jantung yang tidak beraturan sangat terasa ketika tubuh keduanya menyatu.

“Enakan, sayang?”

Kala hanya menjawab dengan anggukan.

“Kayaknya tadi aku yang minta duluan, tapi kamu yang nafsu.”

Kala masih tidak bergeming dan masih nyaman dengan posisinya meskipun menurut Jovan, posisi Kala sekarang tidak nyaman apalagi perutnya sedikit tertekan berat tubuhnya.

Lelaki itu menggeser dan memiringkan tubuh Kala, lalu melepas penyatuan organ intim mereka.

Jovan mengecup beberapa kali kening, pipi, serta bibir Kala secara bergantian sebelum akhirnya lelaki itu berpindah posisi di belakang Kala.

Spooning; menurut Jovan mungkin posisi itu akan jauh lebih nyaman untuk Kala, ketika dirinya hendak menuntaskan hasrat.

Kecupan-kecupan basah yang di bubuhkan pada ceruk leher Kala membuat wanita itu melenguh sembari meremas bantal yang ia gunakan untuk tumpuan.

“Sayang, aku belum keluar. Aku lanjutin ya?”

Kala mengangguk pasrah.

“Gini aja posisinya, biar kamu nyaman.”

Kala mengangguk pasrah untuk kedua kalinya tanda setuju dengan ucapan Jovan. Kali ini wanita itu hanya akan menurut dengan apa yang akan di lakukan Jovan, sebab lelaki itu kini menjadi si pemegang kendali.

Perlahan Jovan melesakkan batang penisnya ke dalam liang surgawi milik kala, satu tangannya memegangi kaki Kala guna mempermudah saat dirinya melakukan penetrasi.

Gerakan pinggul Jovan terasa pelan namun dalam, lelaki itu tidak tergesa karena ia tidak ingin menyakiti Kala maupun bayi yang berada di perutnya.

Tangan Kala meremas kuat-kuat bantal yang berada di samping tubuhnya, dua netranya terpejam namun bibirnya tanpa henti meloloskan lenguh serta desah ketika kejantanan milik Jovan menusuk titik sensitif miliknya. Perlahan namun begitu dalam, bahkan hentakan sesekali ia loloskan hingga membuat dinding vagina milik Kala berkedut kembali.

“Jov, ahhh... Aku...”

“Keluarin, sayang.. Ayo keluarin bareng.”

“Aku kencengin dikit ya?”

Kala hanya mengangguk pasrah, tangannya masih meremas kuat bantal sebagai pelampiasan rasa nikmat yang menjalar di tubuhnya.

Jovan menggerakkan pinggulnya lebih cepat, ia sudah tidak tahan ingin segera mendapatkan pelepasannya. Detik berikutnya sampai pada tiga kali hentakan, Jovan mendapat pelepasannya.

“Ouh... Shit! Argghhh...”

“Aahhh... Jov...”

Dalam beberapa detik setelahnya Kala pun menjemput pelepasannya yang ke dua. Tubuhnya bergetar hebat, cengkeramannya semakin kuat. Lantas Jovan dengan cepat mengecup pipi serta bibir wanita itu, menyalurkan rasa nyaman dan tenang pada Kala.

Nafas keduanya sama-sama memburu, detak jantung Jovan dan Kala pun sangat tidak beraturan. Masih dengan posisi yang sama, Jovan memeluk tubuh Kala dari belakang sembari tangannya mengeratkan pada tubuh wanita itu; Jovan membubuhkan beberapa kali kecupan pada tengkuk si puan.

“Sayang, aku siapin air hangat buat kita mandi?”

Kala menganggukkan kepalanya sembari memegangi tangan Jovan yang melingkar di perutnya.

“Mandinya barengan aja, mau?”

Kala mengangguk lagi, namun tangannya enggan lepas dari milik Jovan seakan tidak rela jika dirinya di tinggal pergi meski hanya menyiapkan air hangat untuk mandi.

“Can i go for a bit?”

Kala diam saja, mengangguk pun tidak. Kedua matanya terpejam, tangannya masih erat menggenggam tangan Jovan.

“Why? I'll take you to the bathtub. Don't worry, baby.”

Seketika Kala pun merenggangkan tangannya seakan mengijinkan Jovan untuk pergi menyiapkan air hangat di dalam bathtub. Jovan pun beranjak dari sana, mengecup kening Kala sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi.

“I love you, baby” Bisik Jovan tepat di telinga Kala, wanita itu tersenyum simpul meski masih enggan untuk membuka matanya.

Lelaki bernama Jovano Caesar itu tengah tersulut emosinya, ketika mendapati Kala sedang duduk berdua dengan Dovi di cafe 127. Keduanya tengah berbagi tawa, berbagi cerita yang refleks di tuturkan melalui ucap kata demi kata.

Jovan melangkah tegas menghampiri dua anak manusia yang tengah bercengkerama. Sorot matanya tajam bak memergoki si puan sedang berselingkuh. Kala menyadari bahwa kekasihnya tengah berjalan menghampirinya, dengan senang hati wanita itu menyambutnya; meloloskan senyum cerah sembari melambaikan tangan ke arah sang pujaan.

“Sayang!”

Kala bersuara setengah memekik dengan semburat penuh suka cita ketika melihat kedatangan kekasihnya. Lantas Dovi yang duduk di hadapan Kala pun membalikkan badannya ke arah belakang dan mengumbar senyum di barengi kekehan kecil guna menyambut kawannya.

“Anjir, di panggil sayang dong...” Sahut Dovi tanpa basa basi, namun Jovan hanya membalas dengan senyum sinis pada Dovi. Api cemburu yang sudah menguasai akal tidak pernah tau waktu dan tempat, semakin di tahan semakin bergejolak. Seumur-umur baru kali ini lelaki bertubuh tinggi gagah itu tergila-gila dengan seorang wanita sampai ke akar-akarnya.

Ketika menjalin cinta dengan mendiang Helena, tidak separah saat ini. Lima tahun lalu, hubungan mereka jauh dari kata cemburu yang membabi buta. Bahkan Jovan saat mempercayai Helena sebagaimana mestinya, pekerjaannya sebagai model memang harus di lakoni dengan profesional jika melibatkan lawan jenis. Jovan tidak pernah sekalipun protes, justru sangat mendukung karir Helena pada saat itu.

Namun kali ini Jovan seperti kalah telak, bangun tidur tanpa Kala disisinya bak seperti bayi yang kehilangan ibunya. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya dulu.

“Betah banget? Temen papa udah pulang, ayo balik ke kantor.” Jovan menyapa dan berujar paksa pada sang kekasih sembari melayangkan ciuman singkat di pipi Kala, di hadapan Dovi; dengan maksud pamer, secara tersirat memberi tau pada lelaki yang duduk berhadapan dengannya bahwa Kala adalah miliknya.

“Jadian nggak bilang-bilang, Jov? Ucap Dovi menutupi segala rasa kecewa dan gelisah yang bertaut di dirinya.

“Baru pacaran. Ntar kalau mau nikah, baru gue kasih tau lo lewat undangan.” Jawab Jovan di iringi kekehan, sedangkan Dovi melayangkan senyum kecut penuh paksaan.

Rasanya Dovi ingin sekali geram, lelaki itu tak kalah panas akibat di bakar api cemburu oleh sejoli yang tengah asik saling mencinta. Kenyataan bahwa Dovi kalah sebelum berperang sudah sangat jelas dari pertama kali dirinya mengenal Kala, untuk murka pun ia tidak berhak.

“Bro, gue cabut ya..” “Cewek gue mukanya udah capek banget nih.”

Terlihat terang-terangan di depan Dovi ketika Jovan ingin menunjukkan bahwa ia kini tengah menikmati kemesraan sebagai sepasang kekasih, dan sangat bahagia dapat memiliki Kala. Bermaksud pamit pun dengan luwes tangannya memeluk Kala, lalu mengusap lengan wanita itu. Menatap netra Kala sembari mengulas senyum, seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua. Jovan kini terlampau percaya diri ketika mengumbar kemesraan di depan kawannya.

Jika melihat raut wajah Dovi saat itu, garis kerut di beberapa bagian sangatlah nampak. Ketika dirinya melihat sepasang kekasih itu terang-terangan tengah menyuguhkan sorot kebahagiaan di depan matanya.

“Dovi, aku balik yaa..” Ucap Kala, ia pun beranjak dari duduknya dan menggenggam tangan Jovan untuk pergi meninggalkan cafe. Dovi tersenyum pasrah dan mengangguk guna membalas ucapan Kala.

Jovan dan Kala bergegas meninggalkan cafe 127. Telapak tangannya bertaut erat di sela jemari sang kekasih. Kala merasakan dua telapak tangan yang saling bertaut itu semakin erat, langkah kaki Jovan pun terasa semakin terburu. Wanita itu merasa sedikit kewalahan mensejajarkan langkah Jovan ketika dirinya mengenakan sepatu heels.

“Kamu tadi ngobrol apa aja sama Dovi?” Tanya Jovan tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan ke samping, bahkan lelaki itu terus menatap ke depan dan berjalan cepat.

“Cuma tanya kabar, terus aku bilang kalau kita mau menikah tahun ini.” Jawab Kala penuh penekanan tetapi Jovan hanya diam, sebelum akhirnya ia melontarkan kalimat sarat akan rasa cemburu.

“Kamu sadar nggak kalau Dovi itu sebenarnya naksir kamu, dia suka sama kamu.”

Kala diam, wanita itu paham jika Jovan tengah terbawa emosi. Kala bukanlah tipe wanita yang hobi adu mulut, ia lebih nyaman untuk diam dan introspeksi diri. Dirinya paling malas jika harus di suguhkan dengan pertengkaran yang menurutnya dapat di selesaikan dengan kepala dingin, menurut Kala hanya membuang-buang waktu.

Selama mereka berpacaran, Jovan dan Kala tidak pernah bertengkar. Jovan memperlakukan Kala bak seorang ratu, sangat paham dan mengerti apapun yang Kala mau tanpa harus menjelaskan secara detail.

Jovan tidak bergeming, tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga langkah kakinya mengantarkan pada sebuah lift yang akan membawa mereka ke lantai empat. Dimana ruang CEO, ruang sekretaris dan ruang meeting berada dalam satu lantai.

Garis wajah si tuan terlihat kaku, sedari tadi menelan ludahnya, gusar. Terlihat dari jakun yang bergerak naik turun beberapa kali. Jovan melihat dirinya melalui pantulan dinding lift berlapis logam, kemudian melepaskan dasi yang ia kenakan serta beberapa kancing kemeja yang sengaja ia lepas. Sedangkan Kala masih betah diam, ia pun menatap si tuan melalui pantulan dinding lift hingga kedua netranya saling bertemu.

Ting...

Pintu lift terbuka ketika tiba di lantai empat, mengantarkan dua sejoli yang masih betah diam namun tangan mereka masih enggan untuk saling melepaskan.

Kala berjalan di sisi kiri sang kekasih, dirinya sempat melihat ke arah ruang meeting yang terlihat berpenghuni. Ruang itu memang sedang di gunakan oleh orang-orang dari divisi pemasaran.

Klek...

Suara decitan pintu terdengar ketika Jovan menutup dan mengunci pintu di ruangannya. Lantas Jovan melemparkan dasi ke sembarang arah di atas sofa ketika dirinya berjalan dan duduk kembali di belakang meja kerjanya, berkutat dengan beberapa berkas yang menumpuk di hadapannya.

Kala menatap sesaat raut wajah Jovan yang sedikit kaku, ia pun duduk di sofa dan merapikan berkas-berkas yang masih tercecer di meja.

Wanita itu menyandarkan punggungnya pada sofa dan menghela nafas panjang ketika situasi pada saat itu membuat dirinya menjadi canggung. Ia sempat merutuki dirinya sendiri karena terlalu ceroboh saat bertindak. Kurang dari satu jam yang lalu Kala merasa bosan ketika ia berada di ruang sekretaris sendirian, ia harus menunggu Jovan yang masih berbincang dengan rekan kerja papanya mengenai proyek.

Pada saat itu juga, Kala memutuskan untuk pergi ke cafe 127 untuk melepaskan penat meskipun hanya sesaat. Namun Kala tidak pernah menyangka jika keberadaannya di cafe milik Dovi itu justru menyulut aliran amarah dan api cemburu.

“Jovan..”

“Sayang, kamu marah sama aku?” Tanya Kala pada si tuan yang masih berkutat dengan pekerjaan.

“Hmm..”

“Kamu marah sama aku? Jawab, Jovan.” Tanya-nya lagi, kali ini penuh penekanan.

“Kalau aku bilang, iya. Gimana menurut kamu? Salah?” Balas lelaki itu sembari melemparkan tatapan sinis pada Kala.

“Jovan benar-benar sedang marah.” —batin Kala.

“Sayang, kenapa kamu tiba-tiba posesif gini? Aku nggak pernah liat kamu kayak gini sebelumnya.” Tutur Kala dengan nada lirih, ia ingin tau bagaimana keadaan hati Jovan saat itu juga tanpa harus menyinggung perasannya.

“Kala, kalau aku boleh jujur, aku nggak mau kejadian buruk beberapa tahun lalu terulang lagi. Apapun alasannya, aku nggak mau liat kamu dekat sama laki-laki lain.”

“Kalau kamu bilang aku egois, iya kali ini aku egois. Aku posesif? Iya, barusan kamu liat aku jadi laki-laki posesif, kan? Kalau kamu tanya kenapa? Karena aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayang, yang aku cinta untuk ketiga kalinya.”

“And soon we will be married, baby.”

Kalimat yang baru saja di lontarkan oleh bibir Jovan sukses membuat Kala membeku, ia seperti sedang di cecar beberapa pernyataan bahwa laki-laki yang kini tengah menatap matanya dengan seduktif itu sangat mencintai dirinya hingga tidak ingin kehilangan.

Kala sontak menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Di sela itu Kala sedang berpikir bahwa ia merasa layaknya wanita yang jahat.

Netra si tuan menangkap sosok sang kekasih yang tengah frustasi dan serba salah. Beberapa menit yang lalu ia baru saja berkata pada Kala dengan nada yang meninggi karena merasa kesal, lantas Jovan menyesal. Lelaki itu beranjak dari duduknya dan berpindah untuk duduk di sebelah Kala; di sofa. Jovan memegangi kedua tangan Kala, perlahan ia singkirkan agar dirinya dapat memandang wajah cantik sangat kekasih dengan leluasa.

“Baby, i'm sorry.. Aku tadi ngomongnya kasar ya? Hm?”

“I'm so sorry, baby..”

Berkali-kali Jovan mengucapkan kata maaf, kalimat yang terucap lirih itu tepat di depan wajah Kala hingga membuat wanita itu membeku untuk beberapa saat.

“Sayang, kenapa kamu minta maaf terus? Hmm...?”

“Jovan, maaf ya kalau kamu jadi ngerasa nggak nyaman. Aku tadi ke cafe nggak ada maksud apa-apa, jujur aku sempat bosan waktu kamu ngobrol lama sama teman papa. Jadi aku ke cafe.” Tutur Kala pada jovan yang masih menatap lekat kedua netranya.

Jovan mengusap wajah Kala pelan, mengecup keningnya lalu mencium bibir wanita itu dengan perlahan. Kala pun menyambutnya dengan senang hati, ia membalas ciuman itu lebih dalam hingga saling membelit lidah, bertukar saliva satu sama lain. Ciuman yang awalnya sangat pelan, kelamaan sarat akan tuntutan lebih dan lebih. Jovan semakin gusar ketika dirinya sudah di kuasai nafsu, sedangkan Kala masih tenang dan mengikuti permainan yang di ciptakan Jovan.

Tangan lelaki itu mulai bergerilya, meremas perlahan buah dada milik sang kekasih dari luar baju yang di kenakan tanpa melepas pertautan bibir mereka. Kemudian Jovan melepaskan satu per satu kancing blouse yang di kenakan Kala dengan sedikit tergesa sembari mencium tiap inchi permukaan kulit si puan. Mulai dari telinga, leher, serta dada wanita itu hingga jari-jari Jovan berhasil melepaskan kaitan bra dalam satu kali percobaan.

“J-Jov, kita masih di kantor.” Ucap Kala lirih, tangannya mencengkeram lengan Jovan dan sedikit mendorong tubuh lelaki itu.

“No problem, baby. Aku kunci pintunya dari dalem buat jaga-jaga, tapi kayaknya nggak bakalan ada orang yang kesini.” Ucapnya, meyakinkan Kala.

Lelaki itupun melanjutkan aktivitasnya, ia melucuti pakaian yang di kenakan Kala sembari memagut kembali bibir ranum wanitanya. Melumat dengan rakus dan tergesa, hingga suara decap pertautan bibir mereka terdengar jelas.

Kala menahan desah yang hampir keluar dari bibirnya, ketika jemari Jovan meremas dan memutar puncak payudara miliknya. Kecupan-kecupan basah yang di bubuhkan pada tiap inchi permukaan tubuh Kala serta merta menyalurkan getaran yang hangat pada tubuh keduanya. Perlahan Jovan merebahkan tubuh Kala pada sofa, tangannya mengusap-usap paha wanita itu dengan seduktif. Rok berbahan kain yang panjangnya di bawah lutut dengan belahan di bagian belakang, sukses di naikkan oleh tangan Jovan hingga batas pinggang dengan sekali tarikan.

Kecupan basah serta hisapan dari bibir Jovan meninggalkan bekas di kulit Kala, pun bercak ruam kemerahan sebagai tanda kepemilikan. Kelamaan kecupan hangat itu mendarat pada puncak payudara Kala. Lelaki yang masih utuh mengenakan setelan lengkap itu melahap dan mengulum dengan rakus dua payudara kekasihnya secara bergantian.

Jovan sukses membuat Kala meloloskan desah serta rancu ketika bibir lelaki itu mengulum puncak payudaranya dan sesekali memainkan puncaknya menggunakan lidah. Tangan satunya ia gunakan untuk meremas dan menstimulasi rangsangan pada tubuh Kala.

Lelaki itu sangat tidak peduli dengan situasi bahkan tempat yang hendak ia gunakan untuk bercinta. Di dalam ruangannya, berlandaskan sofa yang sempat ia geser hingga menempel pada dinding kaca agar tidak tersorot CCTV. Jovan berhasil memancing hasrat si puan hingga takluk tanpa perlawanan.

Kala menyerahkan sejadi-jadinya tubuh yang hampir telanjang untuk di kuasai Jovan malam itu. Libidonya sudah benar-benar naik, wajahnya sayu seakan meminta untuk di jamah lebih oleh Jovan.

Semua perlakuan Jovan, sentuhan, kecupan, lumatan, sukses membuat Kala menjadi ketagihan bak sebuah candu. Begitupun sebaliknya, aroma tubuh kala, segala rancu dan desah yang di loloskan melalui bibirnya pada saat bercinta adalah candu bagi Jovan.

“Jov.. Kamu yakin, ini aman?” Ucap Kala di tengah-tengah hembus nafas yang kian memburu.

“Aman, sayang. You can moan, but don't scream. Oke?” Ucap Jovan pada kala sembari mendaratkan ciuman singkat pada kening dan bibir Kala.

Wanita itu mengangguk pasrah, di atas sofa dengan tubuh yang setengah telanjang. Jovan lantas menanggalkan satu persatu pakaian yang di kenakan, melempar sembarang kain-kain itu di atas lantai yang dingin. Kemudian Jovan menyingkirkan dua kain penutup aset milik Kala, rok kerjanya dan celana dalam hingga wanita itu kini benar-benar terlihat telanjang.

Udara yang dingin terasa menyapa tubuh keduanya, tanpa sehelai kain yang menutupi dan hanya peluh kian membasahi tubuh mereka.

Jovan mensejajarkan wajahnya pada aset milik Kala yang menjadi bagian favoritnya, jemari lelaki itu menyapa liang surgawi yang sudah sangat basah serta klitorisnya yang berkedut seakan meminta untuk segera di manjakan oleh lidah Jovan.

Tanpa aba-aba, Jovan mendaratkan lidahnya pada permukaan vagina Kala, menyesap serta menjilatnya penuh nafsu hingga membuat wanita itu merintih sembari meremas surai si tuan.

Lidahnya yang hangat berhasil hantarkan denyar panas dalam tubuh, membuat aliran darah semakin cepat mengalir dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Kala memejamkan kelopak matanya sembari melengkungkan tubuhnya beberapa kali, sebab lidah Jovan menggoda klitorisnya dan dua jarinya berhasil masuk pada liang kenikmatan milik kekasihnya.

Jari-jari Jovan menggesek perlahan liang milik si puan yang sudah sangat basah dan bibir serta lidahnya sibuk memainkan klitoris guna mempercepat rangsangan titik puncak pelepasan.

“Ouh.. Jovan..” “Aahhh..”

Desahan wanita itu akhirnya lolos di balik bibir mungilnya yang ranum. Sedangkan Jovan terus merangsang tubuh Kala agar sesegera mungkin mendapatkan pelepasannya.

Kedua kaki wanita itu mulai bergerak resah ketika lidah dan bibir Jovan bergerak semakin brutal.

Jovan menggeram gemas mana kala iya merasakan dinding vagina milik sang kekasih mulai mengetat dan berkedut. Bibir Kala tak henti-hentinya mengeluarkan lenguh serta desah di penuhi resah ketika gelombang pelepasan hampir didapatkannya.

“Jov—, aku mau cum.” Ucap Kala dengan suara yang terbata.

“Come on, baby. Cum in my mouth.” Balas Jovan di tengah aktivitasnya, menggerakkan dua jarinya dan mempercepat tempo agar sang kekasih berhasil mencapai orgasmenya.

Tubuh Kala melengkung, desahannya tanpa terputus dan kedua kakinya mulai bergerak resah. Menit berikutnya, cairan pelepasan itu membasahi jemari dan bibir Jovan. Lantas lelaki itu menyesap semua cairan yang keluar dari liang kenikmatan milik Kala, pun yang masih menempel di jarinya. Membersihkan sisa-sisa cairan pelepasannya menggunakan lidahnya hingga membuat si puan terus melenguh dan mendesah karena nikmat.

Jovan bergerak dan berdiri seraya menghampiri Kala yang tengah menstabilkan nafasnya, keringat membasahi tubuh keduanya. Ruang yang dingin pun berubah menjadi hawa panas yang bergejolak birahi, menguasai akal sehat dua sejoli yang tengah mencinta.

Kala menelan ludahnya sedikit gusar ketika melihat kejantanan Jovan yang sudah ereksi sempurna. Kepemilikan Jovan yang besar dan kokoh itu sudah siap memporak-porandakan dirinya. Wanita itu cukup pasrah dengan permainan yang di ciptakan Jovan, ia lebih memilih mengikuti semua alur ketika sang kekasih menjadi pemegang kendali.

Jovan membubuhkan kembali kecupan-kecupan mesra pada tubuh Kala. Ia memposisikan tubuh wanitanya menjadi menyamping, satu kakinya di letakkan pada bahunya yang kokoh. Kemudian Jovan menggesekkan batang kejantanannya pada permukaan liang kenikmatan milik Kala.

Kala melenguh sembari meremas sandaran sofa yang ia gunakan untuk bertumpu, kelopak matanya tertutup rapat. Wanita itu bersiap-siap untuk serangan yang tak terduga oleh si tuan.

“Are you ready, baby?” Tanya Jovan sembari mengusap kaki Kala dan mengecupnya beberapa kali. Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan, tangannya masih meremat kencang pada sofa hingga batang kejantanan lelaki itu perlahan memasuki dirinya.

Liang milik Kala bak di regang benda padat dan kokoh, dinding vagina wanita itu menjepit kuat serta hangat. Setelah masuk penuh pada kepunyaan sang kekasih, Jovan menggerakkan pinggulnya secara perlahan, dengan tempo yang pelan juga. Lelaki itu memberikan kesempatan Kala untuk mengatur nafas dan menyiapkan tubuhnya untuk di hajar secara tiba-tiba, di waktu dan kesempatan yang terbatas pula.

Terdengar rintihan sarat akan rasa nikmat atas pertautan tubuh mereka, lenguh dan desah yang mulai mengisi ruang sunyi serta bunyi decap mana kala dua tubuh yang bersatu melalui pergesekan organ intim keduanya. Semakin jelas terdengar, semakin nyaring dan semakin menimbulkan candu.

Tempo yang awalnya pelan-pelan, kelamaan menjadi cepat dan lebih cepat. Gesekan organ intim dua sejoli itu semakin gencar seiring hasrat yang memburu nikmat. Dua tangan Jovan mempunyai tugas masing-masing, tangan kirinya ia gunakan untuk mencengkeram dan menahan kaki wanitanya agar tetap pada posisinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas bokong sintal milik Kala, sesekali bergerilya di atas payudara si puan dan menggodanya dengan memutar serta mencubit kecil puncak payudaranya yang mencuat tegang.

Kala memekik dan mendesah kencang ketika batang penis Jovan menghentak dengan keras pada liang surgawi milik sang kekasih hingga menabrak titik sensitif di dalam sana.

“Ssstttt... Don't scream, baby. Moan my name but don't scream.” Ucap Jovan lirih, dengan hembusan nafas yang tersengal.

Berkali-kali Jovan menggeram, kini tangan kanannya ia gunakan untuk membungkam mulut Kala ketika dengan sengaja Jovan menghentak, menumbuk liang kenikmatan milik sang kekasih dengan sangat keras hingga mengenai titik sensitifnya. Semakin keras, semakin dalam serta semakin cepat gelombang kenikmatan itu muncul dan hampir sampai.

Kala mendesah tertahan, ketika mulutnya terbungkam oleh telapak tangan si tuan. netranya menatap lekat dua bola mata Jovan, saling mengunci pandangan di sertai senyum seringai. Terlukis jelas di bibir Jovan senyum penuh kemenangan, bahwa dirinya sukses dua kali membuat Kala kewalahan dan pasrah. Melihat wanitanya bermandikan peluh, raut wajah yang berantakan serta rintihan bak meminta ampun, Jovan merasakan kepuasan tersendiri.

Denyar panas yang menghantarkan gelombang pelepasan berikutnya mulai terasa pada tubuh Kala, dinding vagina yang mulai berkedut dan semakin ketat. Tubuh Kala yang mulai bergetar hebat serta mata yang terpejam membuat lelaki itu semakin mempercepat temponya. Semakin dalam dan keras.

“You wanna cum, baby? Huh??” Tanya Jovan sembari menatap dua bola mata Kala. Tangannya masih bertengger di atas mulut Kala, satu tangan wanita itu mencengkeram erat pergelangan tangan Jovan sembari mengangguk.

Kala ingin mendesah, ingin berteriak sekencang mungkin ketika miliknya di hajar habis-habisan oleh Jovan. Nikmat yang Kala rasakan bak di bawa terbang ke langit ketujuh.

“Kala, Tell me you love me. Come on, baby.” Jovan berujar sembari melepaskan cengkeraman pada mulut Kala. Kulit wajah pucat wanita itu terlihat berbekas kemerahan karena Jovan membungkam mulut kekasihnya sangat kuat.

“I love you, Jovan. I love you so much.”

“I am yours and you are mine.”

Dua penggal kalimat yang keluar dari bibir Kala —pun dengan susah payah. Rasanya ingin memejamkan mata ketika merasakan denyar panas yang menyapa tubuhnya, namun Kala rela menatap wajah Jovan yang sedari tadi memandangi dirinya.

“Aahh.. Jov—vannn..”

“Come on, baby.”

“Aahh...”

“Oughh.. Shit, baby. Ahh..”

Desah dan rancu keduanya mengantarkan pada pelepasan yang sangat mereka damba. Tubuh Kala bergetar hebat ketika sampai pada titik puncak kenikmatan, Jovan pun menggeram dan menekan dalam-dalam miliknya pada tubuh Kala pada saat menembakkan cairan spermanya hingga bercampur dan penuh. Cairan kenikmatan yang bercampur itu mengalir di sela paha Kala.

Jovan mengusap puncak kepala wanita itu, mengecup kening dan bibirnya kemudian melepaskan perlahan miliknya dan beranjak dari atas tubuh Kala.

“Thank you, Kala. For everything. I love you so much.”

Kala tersenyum pasrah, wajahnya terlihat sangat lelah, tubuhnya pun lemah.

Jovan memungut kembali helai kain yang tercecer di lantai, lalu mengambil beberapa lembar tidu guna membersihkan sisa cairan orgasme yang menempel pada paha Kala, juga miliknya.

“Pakai baju dulu, kita pulang sekarang.” Ucap Jovan sembari mengecup kening Kala. Wanita itu mengangguk, lalu mengenakan kembali pakaian kerjanya. Memang tampak lusuh, ada beberapa kancing baju yang terlepas hingga tidak bisa di pakai secara sempurna.

“Jovan..”

“Hmm?”

“Ini kancing bajunya sebagian lepas, bra aku jadi kelihatan.” Ucap Kala, matanya memandang Jovan namun kedua tangannya memberi tau letak kancing baju yang terlepas.

Jovan terkekeh menanggapi ucapan Kala, ia menyelesaikan berpakaiannya kemudian berjalan ke arah meja kerja. Lelaki itu mengambil jas yang berada di kursi, lalu memakaikannya pada tubuh Kala.

Jovan berjongkok di depan kekasihnya, lantas berucap; “Pakai ini ya? Biar badan kamu tertutup.”

“Ayo pulang.” Jovan beranjak, tangannya terulur di hadapan Kala dan di sambut oleh si puan. Keduanya saling bertatap dan melemparkan senyum.

Jovan dan Kala berjalan beriringan meninggalkan ruang CEO dalam keadaan yang sedikit berantakan, sofa dan bantalnya sudah tidak beraturan serta tidak pada tempatnya. Pun berkas yang masih berserakan di atas meja.

Dua tangan saling bertaut serta genggaman yang begitu erat. Langkah Kala terlihat tertatih dan kesulitan mensejajarkan langkah Jovan di sebabkan organ kewanitaan yang terasa sakit, hingga lelaki itu menyadarinya.

“Sakit, sayang?”

Jovan menghentikan langkahnya, lantas memandangi sang kekasih dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Iya, Jov. Kamu jalan pelan-pelan aja.”

“Iya, sayang. Masih kuat jalan?” Tanya-nya lagi. Kala hanya menjawab dengan anggukan dan wajah memelas.

“Oke, kita jalan pelan, kita pulang dan istirahat. Besok kamu nggak usah kerja dulu kalau masih sakit. Ya?”

Kala mengangguk beberapa kali tanda setuju, kemudian mereka berjalan pelan menuju lift.

Ting....

Pintu lift terbuka, sudah siap mengantarkan Jovan dan Kala pada lobi. Ruang berbentuk persegi itu tak berpenghuni, hanya ada dua sejoli yang tengah di mabuk cinta.

“Baby...”

Kala mendongak guna menatap wajah Jovan.

“Am i too rough? I'm so sorry.” Ujarnya sembari meremas telapak tangan Kala, lalu membawanya dan mencium punggung tangan si puan.

“No, this is my first experience and I love it.” Ucap Kala sembari tersenyum. Lelaki itu terkekeh lantas tangan satunya meraih tengkuk Kala dan mendaratkan ciuman mesra hingga beberapa detik.

Ting...

Jovan dan Kala sontak kaget ketika mendengar lift berbunyi tanda pintunya terbuka. Dan beberapa karyawan dari divisi pemasaran memergoki atasan mereka tengah bercumbu dengan sekretaris di dalam lift. Wajah Jovan dan Kala bersemu merah, menahan malu. Keduanya bergegas meninggalkan gedung di barengi kekehan dan senyum jahil dari para karyawannya.

Hari Sabtu kali ini ternyata banyak aktivitas yang di lakukan Jovan dan Kala. Wanita itu awalnya ingin istirahat di akhir pekan ternyata Jovan meminta dirinya untuk menemani ke makam Helena.

Kala tidak bisa menolak terlebih ia juga belum pernah sekalipun berkunjung ke makam Helena. Ketika Jovan mengajaknya, maka dengan senang hati wanita itu akan ikut serta. Setelah makan siang, dua sejoli itu menuju pemakaman di lanjutkan berkunjung ke rumah mama Jovan hingga malam hari.

Kala dengan keluarga Jovan sudah semakin dekat, bahkan beberapa kali pertemuan mereka selalu membahas tentang pernikahan. Sang mama awalnya tampak santai dan menyerahkan semua keputusan pada anak semata wayangnya, kini sedikit mendesak untuk buru-buru menikah.

Jovan sendiri sudah sangat siap dengan pernikahan tetapi ia masih menunggu kesiapan batin dan mental Kala. Lelaki itu tidak mau memaksakan keinginannya, semua harus di lakukan bersama, mencapai tujuan yang sama pula.


Jovan dan Kala tiba di apartemen sekitar pukul sepuluh malam, sedari tadi tangan Jovan tidak lepas dari pinggang si puan. Mulai turun dari mobil hingga menuju unit apartemen miliknya, tangan kokoh lelaki itu tidak bosan bertengger mesra di pinggang Kala.

Lantas keduanya berjalan menuju kamar utama, milik Jovan. Tak henti-hentinya lelaki itu menggoda Kala dengan kecupan-kecupan mesra pada lengan si puan setelah melepaskan outer dan menentengnya di tangan kanannya.

Kala hanya terkekeh melihat tingkah Jovan, namun lelaki itu terus menggodanya hingga mencium leher, pipi dan bibir Kala secara tiba-tiba.

“Jovan!! Kamu kenapa sih?” Ujarnya, kelamaan Kala pun kesal dengan tingkah Jovan yang kekanak-kanakan.

Jovan hanya terkekeh sembari mendudukkan dirinya pada tepi ranjang besar dan melepas beberapa kancing kemejanya hingga terlihat tubuh kekar miliknya. Langkah Kala terhenti, ia menatap lekat wajah sang kekasih yang sangat tampan. Dalam hati kecil wanita itu merapalkan puja dan puji syukur karena Tuhan telah mengirimkan seorang lelaki yang nyaris sempurna bagi dirinya.

“Jovan, kamu mandi dulu ya? Gantian.” Kala berujar sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Nggak bareng aja, Kal? Biar hemat waktu.” Balas Jovan sembari tersenyum nakal ke arah Kala.

Wanita itu tiba-tiba membuang muka karena malu, ia lalu berjalan menjauh dari Jovan dan meletakkan outer-nya di dalam laundry box yang berada di sisi kamar mandi.

Jovan tertawa kecil karena berhasil menggoda Kala, bahkan dengan waktu singkat ia dapat membuat wajah kekasihnya merona karena malu. Lantas lelaki itupun bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar mandi guna membersihkan diri.

Selagi menunggu Jovan untuk beberapa menit, wanita itu tidak tinggal diam. Iya merapikan beberapa potong baju yang tergeletak di atas ranjang, ia masukkan ke dalam lemari pakaian Jovan. Merapikan meja rias, menyimpan jam tangan milik Jovan pada laci khusus, menyiapkan satu setel piyama untuk di kenakan Jovan setelah mandi.

Lima belas menit setelahnya, Jovan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer. Handuk berwarna putih ia lingkarkan pada leher sembari menggosok rambutnya yang basah. Lelaki itu mengamati Kala yang sedang berdiri di depan cermin, melepas tali simpul yang melingkar di pinggangnya serta mencoba menurunkan resleting pada bagian belakang dress namun terlihat kesulitan.

Ketika melihat wanitanya merasa kesulitan, Jovan pun bergegas menghampirinya. Ia berjalan perlahan sembari tersenyum jail.

“Kalau nggak bisa itu bilang, sayang. Jangan diem aja.” Ucap Jovan sembari menurunkan resleting hingga batas pinggang. Melihat bagian belakang tubuh Kala yang terekspos sangat mulus, sangat wajar jika pemandangan apik itu bak mematik hawa nafsunya.

Tangan kiri Jovan menarik tubuh Kala agar menempel pada tubuhnya, tangan kanannya ia gunakan untuk menyibak rambut Kala hingga kesamping agar tidak menutupi punggungnya yang mulus. Bibir Jovan lantas bergerilya, memberikan kecupan-kecupan hangat dan mesra pada tengkuk, bahu serta punggung Kala. Sedangkan wanita yang masih sanggup berdiri tegak di depan cermin itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari meremas punggung tangan Jovan yang masih melingkar di perutnya.

Dengan satu kali hentakan, jemari Jovan berhasil melepaskan kaitan bra yang di kenakan Kala. Sontak wanita itu terhenyak, dan menatap Jovan dari pantulan cermin. Begitu juga Jovan, keduanya saling melemparkan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.

“Jov, aku belum mandi. Jangan deket-deket aku keringetan.” Ucap Kala sedikit gugup.

Selama mereka tinggal bersama di apartemen setelah keduanya resmi berpacaran tiga bulan lamanya, Jovan tidak pernah meminta lebih pada Kala. Meskipun mereka tidur dalam satu ranjang, dan sudah membahas lebih dalam tentang pernikahan. Jovan masih setenang air dalam menahan hawa nafsunya yang semakin hari semakin membuncah. Namun malam itu mungkin benteng yang di bangun tinggi-tinggi oleh Jovan akan runtuh seiring dengan hadiah kejutan untuk sang kekasih.

“Kamu keringetan aja wangi, Kal. Rasanya pengen cium-cium kamu terus.” “Ya udah mandi dulu, abis mandi aku mau kasih kamu sesuatu.”

Kala pun melepaskan diri dari pelukan Jovan, wajahnya terlihat penasaran dengan ucapan Jovan beberapa detik yang lalu. Wanita itupun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah melihat Kala masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower, Jovan bergegas mengambil satu box berwarna peach yang semula ia letakkan di atas lemari pakaian. Dua hari yang lalu Jovan membeli Bralette set berwarna putih dengan aksen renda warna peach serta satu cincin bertahtakan berlian yang ia simpan di dalam box berisi pakaian dalam. Kemudian Jovan meletakkan box tersebut di atas meja rias yang biasa di gunakan Kala.

Dua puluh menit setelahnya Kala keluar dari kamar mandi, ia masih mengenakan bathrobe berwarna putih juga rambut yang di balut dengan handuk. Lalu wanita itu duduk di depan meja rias menatap box berwarna peach itu kemudian menatap Jovan yang sedang bersandar pada headboard sembari memainkan ponselnya.

“Jovan..”

“Hmm..” Balasnya tanpa melihat ke arah Kala, lelaki itu masih fokus pada ponselnya.

“Jovan, liat aku.”

“Apa, sayang?” Jawabnya sembari menatap Kala yang sedang mengusap-usap rambutnya menggunakan handuk.

“Ini apa, Jov?” Tanya Kala lagi, jarinya menunjuk box di atas meja riasnya.

“Special gift for you, baby.” Jawab Jovan, ia menghidupkan mode pesawat di ponselnya lalu meletakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Lelaki itu lantas beranjak dan berdiri di belakang Kala, ia mengambil hair dryer dari laci guna mengeringkan rambut si puan.

“Buka aja, sayang.” Titahnya. Kala menatap Jovan melalui bias cermin di hadapannya lalu membuka kotak tersebut. Betapa terkejutnya setelah melihat isi kotak tersebut.

“Jovan, ini maksudnya apa?”

“Jangan bilang aku suruh pakai ini di depan kamu.” Ucap Kala. Bibirnya mengerucut, hatinya gundah seketika. Jovan tidak pernah memberikan hadiah yang tidak masuk akal sebelumnya. Menurut Kala, satu set pakaian dalam adalah hadiah yang menggelikan.

“Emang aku pengen kamu pakai itu sekarang, di depan aku.” Ucap Jovan sembari mengecup leher Kala.

“Jov—,”

“Itu di dalemnya masih ada satu box lagi, sayang. Coba kamu cari dulu.” Ujarnya, tangannya masih sibuk mengeringkan rambut Kala menggunakan hair dryer. Wanita itu merogoh isi box, di bawah sehelai celana dalam ia menemukan kotak yang sangat mungil.

Netra dua sejoli itu saling menatap melalui bias cermin di hadapannya, Jovan pun mengulas senyum manis pada sang kekasih. Sedangkan Kala membuka perlahan kotak kecil itu, dan ia semakin terhenyak melihat isinya.

“Oh, God..”

Suara yang keluar dari bibir Kala sangat lirih di iringi getar serta serak yang mencekat di tenggorokan. Matanya membelalak, satu tangannya menutup bibirnya yang menganga karena kaget dengan hadiah yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Kala pikir, cincin atau perhiasan dan semacamnya akan di berikan Jovan jelang pernikahan. Namun malam itu layaknya seorang wanita yang sedang di lamar oleh sang kekasih. Raut wajah bahagia Kala tidak dapat di sembunyikan.

“Jovan, ini cantik banget.”

“Secantik perempuan yang ada di depanku. Sini aku pakein.” Ucap Jovan, meletakkan hair dryer pada meja rias kemudian mengambil cincin bertahtakan berlian dan menyematkan pada jari manis sang kekasih.

“Sayang, aku mau bawa kamu ke altar secepatnya. Kamu mau kan, nikah sama aku?” Pertanyaan yang sarat akan penegasan itupun keluar dari bibir Jovan, tatapan matanya seakan mengunci sorot mata Kala. Wanita itu tak kuasa menahan tangis haru, dan menjawab pertanyaan Jovan dengan anggukan beberapa kali serta memeluk lelaki itu.

Jovan mengusap punggung Kala pelan, mengecup puncak kepala wanita itu hingga beberapa detik kemudian merenggangkan pelukannya.

“Sayang, sekarang pakai bralette set-nya ya? Aku mau liat.”

“Jovan, tapi—,”

“Nggak ada penolakan. Mau pakai sendiri atau aku bantu?”

“Aku pakai sendiri” Ucap Kala singkat dan jelas, lantas wanita itu berjalan menuju walk in closet guna memakai pakaian dalam yang di berikan Jovan. Warna peach yang di pilihkan Jovan sangat serasi jika melekat di tubuh putih Kala.

Ketika wanita itu keluar dari walk in closet ia dapati ruang kamar Jovan menjadi temaram, lampu yang semula menyala penuh kini tinggal empat lampu kecil remang yang berada di sudut ruang besar kamarnya.

Kala menelan ludah gusar, ketika mendapati Jovan tengah melihat dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh intimidasi. Lelaki itu sedang duduk bersandar pada headboard, dua tangannya ia lipat di depan dada. Kala masih terpaku dengan jarak sekitar dua meter dari ranjang besar milik Jovan. Otaknya sedang tidak bisa berpikir dengan baik, yang ada di dalam otaknya adalah bagaimana jika malam itu Jovan memakan dirinya sampai habis.

“Come here, baby.” Ucap Jovan sembari mengulurkan tangannya ke arah Kala.

Jantung Kala seakan-akan terlepas dari tempatnya saat itu. Akankah ia melakukannya kembali dengan Jovan setelah lima tahun yang lalu keperawanannya di rampas oleh sang mantan kekasih.

Kala berjalan pelan menuju ranjang besar di depannya, di iringi jantung yang berdetak semakin kencang. Kala meletakkan telapak tangannya di atas tangan Jovan guna menyambutnya dan lelaki itu menuntun Kala untuk duduk di atas pangkuannya.

“Hei.. You're so beautiful, baby.“I love you so much.”

Ucap Jovan dengan suara yang terdengar serak, lalu tangannya menarik tengkuk Kala guna mendaratkan ciuman mesra yang sarat akan gejolak nafsu.

Wanita itupun membalas ciuman hangat dan basah yang begitu intim, hingga kedua lidah saling berbelit dan bertukar saliva. Kala yang duduk di atas pangkuan Jovan merasakan kejantanan sang kekasih sudah keras di bawah sana.

Ciuman yang terasa semakin dalam kelamaan menjadi lumatan candu, hingga keduanya terbuai dengan gejolak birahi yang meletup-letup. Tangan Jovan dengan cepat menurunkan tali bralette dan melepaskan pengaitnya dengan satu kali percobaan hingga dada ranum milik Kala menyembul indah di depan matanya.

Dua tangan Kala melingkar pada perpotongan leher Jovan ketika lelaki itu meraup dengan rakus dua buah dada Kala secara bergantian. Puncak payudaranya sudah mencuat dan tegang seiring hisapan oleh bibir Jovan.

Bibir Kala meloloskan lenguh dan desah sarat akan rasa nikmat yang sudah lama ia dambakan, seiring dengan desis dan geram si tuan yang sedang sibuk menikmati dua buah dada ranum milik sang kekasih. Mengulumnya secara bergantian, memainkan dengan lidah serta memberi tanda kepemilikan di area payudara hingga menimbulkan bercak ruam keunguan.

Jovan dan Kala seakan lupa segalanya, keduanya sama-sama melupakan masa lalu dan meninggalkan rasa sakit yang sudah lama mereka pendam sendirian. Luka masing-masing seakan terobati dengan kasih sayang dan kepercayaan yang mereka bangun selama tiga bulan terakhir.

Yang ada di hadapan mereka kini adalah masa depan, yang keduanya cicip malam itu adalah sosok yang telah di miliki satu sama lain, tanpa bentang rintangan. Yang ada hanyalah api cinta mereka yang menyala, berkobar selayaknya nafsu birahi keduanya yang telah membakar akal sehat.

Kala meremas rambut Jovan ketika lelaki itu menggigit mesra puncak payudaranya. Ia merasakan celana dalam yang ia kenakan mungkin sudah basah akibat cumbu mesra yang kian menggebu.

Sudah puas menjamah buah dada si puan, lalu Jovan menggulingkan tubuh Kala hingga berada di bawahnya. Lelaki itu memastikan bahwa dirinya yang memegang kendali malam itu.

“Sayang, aku lanjut boleh ya?” Pinta Jovan dengan suara serak. Ia cium bibir Kala hingga beberapa detik, lalu menatap kedua mata wanita itu bak sebuah hipnotis. Tak perlu berpikir lama, akhirnya Kala mengangguk penuh keyakinan atas apa yang akan di lakukan Jovan selanjutnya. Malam itu Kala menyerahkan seutuhnya tubuh agar di nikmati oleh Jovan.

Jovan bertumpu menggunakan kedua lututnya, lalu melepaskan celana dalam yang menjadi penutup terakhir pada tubuh Kala. Lelaki itupun kembali mendaratkan ciuman basah di bibir Kala sembari meraba permukaan liang vaginanya yang terasa lembab dan sangat basah.

Kala meloloskan lenguh pasrah ketika jari tengah Jovan menyapa klitorisnya yang sudah membengkak.

“Mmm.. So wet, baby.” Ucap Jovan lirih berhasil memporak-porandakan akal sehat Kala, libidonya naik dengan cepat hanya dengan kalimat kotor yang di ucapkan Jovan.

Lantas Jovan mengecup tiap inchi tubuh Kala mulai dari kening, kedua mata, hidung, dan bibir. Kemudian beralih turun pada dua puncak buah dada, perut, serta paha. Dua tangan lelaki itu ia gunakan untuk membuka lebar paha Kala, mencium dan menjilat tiap permukaan kulit paha hingga berakhir pada titik sensitif milik wanita itu.

“Ouh.. Jov—vannn..”

Kala meremas apapun yang dapat ia raih guna melampiaskan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lidah hangat lelaki itu berhasil menjamah titik paling sensitif di tubuh Kala, memainkan klitorisnya dengan lidah dan sesekali menggigit kecil di sana membuat tubuh Kala menggelinjang karena nikmat.

Perlahan satu jari Jovan menembus liang surgawi milik Kala, menggerakkan secara perlahan membuat si puan mendesahkan nama Jovan berulang kali. Lidah Jovan masih bermain-main dengan klitorisnya, merangsang tubuh Kala agar lebih cepat sampai pada pelepasannya.

Karena di rasa liang milik Kala yang sudah sangat basah, Jovan mencoba memasukkan satu lagi jarinya dan menggerakkan dengan tempo sedikit lebih cepat. Kala menggeram resah ketika dua jari lelaki itu berhasil mengobrak-abrik liangnya, dengan tatapan yang begitu dalam Jovan mengamati wajah Kala dengan mata yang terpejam namun bibirnya mendesah gelisah serta meloloskan rancu serta lenguh yang memenuhi gendang telinganya.

Jovan merasa gemas dengan Kala, kemudian mendaratkan ciuman singkat guna menenangkan sang kekasih.

“Jovann.. Stophhh..” Pinta Kala sembari meremas lengan Jovan namun tidak di indahkan oleh si tuan.

“Sayang, kamu keluar dulu. Ini buat peregangan juga biar nggak sakit.” Jelas Jovan, ia kemudian meraup kembali payudara Kala guna memancing pelepasannya, dua jarinya masih bergerak di bawah sana dengan tempo yang lebih cepat dari sebelumnya.

“Jov.. Aku m-mau keluar..” Ucap Kala dengan nafas yang tersengal. Dua tangannya meremas sprei dan dua kelopak matanya masih terpejam.

“Let's go, baby.”

“Aahhh....” Kala meloloskan desah panjang ketika liang vaginanya mengejang seiring cairan pelepasannya luruh membasahi jari milik Jovan.

Deru nafas Kala tersengal bersamaan dengan peluh yang membasahi hampir seluruh tubuhnya. Kali kedua wanita itu melakukannya kembali setelah empat tahun tidak pernah berhubungan dengan lelaki. Kala merasakan seperti baru pertama kali, beberapa kali merasa ragu namun pada akhirnya yakin pada Jovan.

“Udah enak, sayang? Lanjut ya?”

“Jov, tapi aku—” Sergah wanita itu sembari memegangi kedua lengan Jovan agar tidak bergerak.

“Kamu kenapa?” Tanya Jovan sembari menatap kedua mata Kala.

“Aku pernah ngelakuin ini lima tahun lalu, aku udah nggak virgin.” Ucap Kala penuh penekanan, ia tidak mau Jovan kecewa karena masalah keperawanan.

“Emang kenapa kalau kamu udah nggak virgin? Aku cinta kamu, sayang sama kamu bukan di ukur dari kamu masih perawan apa enggak. Aku mau sama kamu karena kepribadian kamu, sayang..”

“Kalau kamu masih perawan itu bonus tapi kalau enggak, aku tetep cinta sama kamu, Kala. Tuhan ngasih aku calon istri yang baik, kuat, sabar dan nyaris sempurna buat aku.” “I love you, baby.”

“I love you more, Jovan..”

Jovan lantas mendaratkan ciuman basah di penuhi gejolak nafsu birahi, sembari melepaskan boxer yang masih menempel pada tubuhnya. Meloloskan kejantanannya yang sudah mengeras dan tegang, terlihat jelas urat yang menghias batang penisnya membuat Kala menelan ludahnya, gusar. Ia membayangkan seberapa sakit miliknya jika di tembus oleh penis besar berurat milik Jovan.

Jovan melebarkan kedua kaki Kala dan menggesekkan batang penisnya pada liang vaginanya sebelum akhirnya memasukkan kejantanannya ke dalam milik Kala.

“Aahhh... Jov—”

Tangan Kala mencengkeram erat lengan jovan, ketika batang penis lelaki itu menembus perlahan miliknya hingga penuh. Bulir air mata Kala pun tidak tertahan seiring peluh yang membasahi tubuhnya.

“It's oke, baby. Aku gerakin ya?” Ucap Jovan ketika merasakan liang milik Kala sudah berhasil menerima kejantanannya.

“Pelan Jov..”

“Iya, aku pelan sayang.” Ujarnya, Jovan mencium bibir Kala hingga beberapa detik sembari menggerakkan pinggulnya dengan tempo pelan. Lenguh serta desah yang tertahan di bibir Kala pun akhirnya lolos juga.

Lengan dan punggung Jovan menjadi sasaran dari jemari si puan yang mencengkeram juga mencakar kulit tubuh Jovan guna menyalurkan rasa sakit di balut nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Jovan pun mendesis dan menggeram karena nikmatnya liang vagina milik Kala yang sempit hingga terasa menjepit kejantanannya.

“Ouh.. So tight, baby.” Ucap Jovan di tengah rancu desah si puan.

Lelaki itu tidak membuang kesempatan untuk pemandangan apik di bawahnya, ketika pertama kalinya ia melakukan badan dengan Kala. Di saat wanita itu di bawah kendalinya, di basahi peluh hampir di seluruh tubuh, wajah merona dan kedua matanya terpejam, menikmati setiap hentakan perlahan namun keras hingga berhasil menembus titik paling sensitif milik si puan. Mendengarkan setiap lenguh, desah serta rancu yang keluar dari bibirnya membuat Jovan semakin candu untuk terus menyetubuhi sang kekasih.

“Jovan.. Ahhh...”

“You wanna cum, baby?” Tanya Jovan ketika liang vagina milik Kala mengetat, tubuh wanita itupun mulai mengejang tanda pelepasannya hampir sampai. Lantas Jovan menaikkan kedua kaki Kala agar bertumpu pada bahunya, dua tangan Jovan bertumpu pada kasur guna menahan berat tubuhnya dan lelaki itu dapat menghujam tanpa ampun milik Kala.

“Ayo sayang, aku juga mau keluar” “Ouh.. Fuck! Argghh..” Jovan menggeram seiring cairan spermanya menyembur memenuhi rahim Kala, pun wanita itu menyambut pelepasan hampir bersamaan dengan Jovan.

“Ahhhh... Jov—vannn...”

Desahannya nyaring terdengar ketika Kala menjemput pelepasannya, tubuh Kala menggelinjang hebat seiring tubuhnya melengkung dan remasan pada lengan Jovan.

Jovan tak henti-hentinya mengecup kening Kala, mengusap puncak kepala sang kekasih guna menyalurkan rasa sayang serta menenangkan wanita itu.

“Thank you, baby.” “I love you, Kala.”

Satu kecupan mesra mendarat di bibir Kala.

“I love you more, Jovan.” Balas Kala dengan mengulas senyum manis di tengah nafas yang tersengal, ia mengayunkan telapak tangannya guna menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya adalah salah satu alasan ia merasa bahagia malam itu. Kemudian Jovan mencium punggung tangan dan kening Kala.

“Sayang, nggak usah mandi ya? Aku bersihin dulu.” Ucap Jovan beranjak dari tempat tidur, mengambil beberapa lembar tisu yang berada di atas nakas kemudian membersihkan batang penisnya yang berlumuran cairan kenikmatan, pun milik Kala ia bersihkan dengan telaten.

Lelaki itu membuang tisu bekas pakai ke dalam tempat sampah dan kembali menuju ranjang besar miliknya. Ia merebahkan tubuhnya di sebelah Kala, memeluk wanita itu sembari menarik selimut tebal guna menutupi tubuh keduanya dari udara dingin yang keluar dari pendingin ruangan.

Kala melandaskan kepalanya di lengan kokoh Jovan dan memejamkan matanya, sedangkan lelaki itu memeluknya sembari mengecup puncak kepala si puan.

“Good night, baby. Have a nice dream.” Ucap Jovan sebelum keduanya sama-sama menjemput mimpi.

Seutas senyum terbit di bibir Kala saat membaca pesan terakhir dari Jovan. Ia segera berbenah diri kemudian menyusul Jovan yang berada di ruang tengah. Lelaki itu sudah duduk di atas sofa, kakinya bersila, satu bantal sofa yang di letakkan di atas pangkuannya serta tangan yang sibuk memindahkan chanel pada saluran televisi.

Kaus putih tipis yang membalut tubuh Jovan serta celana tidur yang di kenakan membuat wanita itu menelan ludahnya sendiri. Pemandangan yang ada di depan matanya membuat pikiran Kala di bubuhi sedikit khayalan yang sepenuhnya semu. “Kenapa kesan-nya gue lagi nemenin suami nonton tv sih? Astaga, halu gue.” —batin Kala. Wanita itu tersenyum kecut sebelum akhirnya duduk di sebelah Jovan.

“Kamu mau nonton apa? Pilih sendiri nih..” Jovan berujar ketika ia sendiri tidak tau chanel mana yang akan di lihat oleh Kala. Lelaki itu menyodorkan remote tv kemudian di terima oleh Kala sembari tersenyum simpul di bibir manisnya.

Pada saat Kala sibuk dengan remote-nya, Jovan beranjak dari sana. Lelaki itu berjalan kebelakang, ke arah dapur. Tanpa ada yang meminta, dengan sendirinya Jovan menyeduh teh panas ke dalam satu cangkir. Sudah sangat jelas itu bukan miliknya, melainkan untuk Kala. Setelah selesai menyeduhnya, Jovan berjalan menghampiri Kala yang mulai fokus dengan layar datar di hadapannya. Tangan kanannya membawa satu cangkir teh panas beralaskan piring mungil transparan.

Ketika langkah kaki Jovan hampir sampai, di saat yang bersamaan Kala berdiri dan membalikkan tubuhnya. Tanpa aba-aba tanpa ada kata serta jarak barang sejengkal-pun, lengan wanita itu menabrak cangkir di tangan Jovan.

Prang! Cangkir terlepas dari tangan. Teh panas yang ada di dalamnya tengah membasahi dada Jovan yang hanya di balut dengan kaus tipis.

“AH!” Pekik Kala. Dirinya tersentak pada saat melihat Jovan tepat di belakangnya juga cangkir yang melesat jatuh ke lantai hingga cairan panas itu tumpah dan potongan cangkir berserakan dimana-mana.

“Jovan! Maaf, maaf, panas banget ya?” Ucapnya sembari mengibaskan tangannya beberapa kali di depan dada lelaki itu.

“Bentar, aku ambilin baju ganti.” Ujarnya sembari berlari kecil ke arah kamar Jovan yang pintunya sedikit terbuka, tanpa mempedulikan kakinya yang berdarah akibat serpihan kaca.

“Kala!” Sahut Jovan dengan nada tinggi namun wanita itu sudah terlanjur masuk ke dalam kamarnya.

Ada satu ketakutan Jovan ketika orang selain dirinya masuk ke dalam ruang pribadinya. Bukan tanpa alasan, barang peninggalan Helena masih tersimpan di sana. Beberapa pakaian, baju tidur masih tergantung rapi di dalam lemari. Pintunya pun selalu di buka ketika ia menempatinya, agar dirinya dapat mengingat kembali sosok wanita yang kini telah tenang di surga. Dua testpack yang seharusnya menjadi kejutan paling membahagiakan nyata-nya sarat akan tangis dan luka,—pun ia simpan jadi satu di dalam lemari.

Rasa sesak dan sesal sampai saat ini masih terasa bak merajam palung hatinya. Seharusnya detik ini ia menjadi seorang ayah yang paling bahagia, sepatutnya detik ini juga ia menjadi seorang suami yang paling beruntung di dunia. Namun semua harapan sudah pupus di telan takdir yang memisahkan raga. Sakit memang, tetapi untuk pulih saja Jovan masih berusaha sekuat tenaga. Belum juga sembuh, hanya di penuhi penyesalan yang masih utuh.

Kala terperangah, sorot matanya tengah mengamati satu lemari yang memamerkan memori. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika melihat dua testpack berjajar rapi. Wanita itu memberanikan diri untuk melihatnya barang sekejap mata. Kala berdiri di depan benda itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lamunannya terpecah oleh suara Jovan yang lantang.

“Kal, keluar!” Seru Jovan sembari berjalan menuju ruang kamarnya.

Kala kelabakan ketika suara Jovan terdengar semakin dekat dan sosoknya tengah berdiri di ambang pintu. Untung saja, tangan kanannya sudah membawa satu kaus berwarna hitam yang ia ambil dari lemari di sebelahnya.

“Kamu ngapain? Lama banget.” Ucap Jovan ketus, raut wajahnya sedikit datar.

“Maaf Jov, aku nggak bermaksud. Tadi aku bingung ada dua lemari di situ.” Ucap Kala dengan seribu satu alasan demi menutupi rasa penasarannya pada testpack yang di lihatnya, namun ia tidak berani bertanya barang sepatah katapun karena itu privacy bagi Jovan.

“Kamu nggak sadar kakimu kena pecahan cangkir tadi?” Tanya Jovan mengalihkan perhatian sembari melihat ke arah bawah, sesaat setelah sorot matanya menggeledah ke dalam ruang kamarnya.

“Jov.. Itu,—”

“Kamu baru sadar?” Sahut Jovan.

“Pantesan perih, tapi aku beneran nggak tau kalau kena pecahannya.”

“Ya udah duduk dulu, nanti di obati.” Ujarnya. Lelaki itu memegangi lengan Kala saat wanita itu berjalan sedikit pincang akibat luka di telapak kakinya. Pada saat hampir sampai di sofa, Kala reflek berjongkok untuk membersihkan pecahan cangkir yang mengakibatkan kakinya berdarah, namun dengan cepat pula Jovan melarangnya.

“Kal, nggak usah di bersihkan. Nanti aku aja.” Ujarnya sembari menarik lengan wanita itu agar berdiri.

“Tapi Jov, nanti kamu kena juga.”

“Aku pakai sendal. Emang kamu tuh, asal lari aja nggak pakai sendal. Dah, duduk.” Sahut Jovan ketus.

Kala menuruti permintaan Jovan. Ia-pun duduk di sofa sembari meringis menahan perih. Di hadapan wanita itu, Jovan melepas kaus tipisnya yang basah kemudian menggantinya dengan kaus hitam yang di bawa oleh Kala. Tanpa ada rasa canggung serta malu, sedangkan Kala merasakan jantung yang berdetak lebih cepat ketika melihat Jovan shirtless barang sesaat.

“Tadinya teh itu buat kamu, Kal. Malah di tumpahin.” Ucap Jovan berdecak sedikit kesal.

“Sorry, aku nggak liat kamu di belakangku. Aku nggak sengaja Jov..” Ucap wanita itu lirih dengan rada bersalahnya.

“Bukan nggak sengaja tapi nggak hati-hati.”

Jovan kemudian mengambil kotak obat-obatan yang letaknya tak jauh dari sana. Mengambil satu botol cairan antiseptik dan kapas juga perban.

“Kal, coba sini kakinya naik.” Ucap Jovan sembari menepuk-nepuk pahanya. Memberi kode agar Kala meletakkan kakinya di atas paha Jovan, namun wanita itu justru mengernyitkan dahinya.

“Eh, nggak usah Jov. Aku bisa sendiri, sini aku aja yang obati.” Ujarnya, tangannya berusaha meraih cairan antiseptik dan kapas yang sedari tadi berada di tantan Jovan, tetapi di tolak mentah-mentah oleh sang tuan.

“Kamu nurut aja bisa nggak sih?! Bisa nggak jawab 'iya' gitu? Jangan dikit-dikit nggak usah, aku bisa sendiri.” Sahut Jovan ketus dan dengan suara meninggi. Lelaki itu menjadi perhatian pada Kala karena rasa tanggung jawabnya pada seorang sekretaris yang sudah membantu pekerjaannya, bukan semata-mata karena perasaan lebih terhadap Kala. Namun perhatian dan perlakuan lembut yang Jovan berikan, serta merta menjadi candu bagi Kala. Kelamaan rasa nyaman itu timbul, rasa sayang tiba-tiba muncul hingga menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Jika terus di biarkan seperti itu, Kala sendiri yang akan tersiksa batin. Pasalnya Jovan tidak pernah menaruh perasaan apapun terhadap Kala.

Kala terdiam atas perkataan Jovan kemudian menurutinya, ia menaikkan kaki kanannya di atas pangkuan Jovan. Lelaki itu kemudian menuangkan cairan antiseptik ke atas kapas dan membersihkan lukanya.

“Auw.. Perih Jov.” Ucap Kala sembari menggerakkan kakinya namun di tahan oleh Jovan.

“Diem kakinya, perih cuma bentar doang.” Balas Jovan memegangi pergelangan kaki sang puan, mengusapnya dengan kapas kemudian meniupnya pelan. Seluruh tubuh Kala di buatnya merinding ketika Jovan menghembuskan nafas hangat dari bibirnya.

“Jov, udah, udah.” Ucap Kala sembari menggerakkan kakinya.

“Bentar belum di perban.” Ujarnya, tangannya mencengkeram pergelangan kaki wanita itu yang aktif bergerak.

“Ini tuh ada luka sobeknya, Kal. Ya harus di perban.” Ucap lelaki itu. Tangannya terampil membuka perban yang masih terbungkus kemudian melingkarkan pada telapak kaki Kala. Di tengah kesunyian tiba-tiba saja Kala bertanya hal yang membuatnya penasaran sedari tadi.

“Jov, aku boleh tanya sesuatu?” Tanya-nya lirih, netranya menatap lekat wajah Jovan yang menunduk sibuk melilitkan perban.

“Kamu abis liat apa di kamarku?” “Kamu mau tanya sesuatu hal yang barusan kamu liat di kamar kan?” Sahut Jovan, lalu wanita itu terdiam.

“Kamu ingat Helena?” Lanjut Jovan, netranya melirik ke arah Kala. Wanita itu mengangguk, menandakan ia mengingat sosok kekasih Jovan empat tahun lalu.

“Baju-baju yang di gantung itu punya Helena, testpack punya Helena, baju tidur yang kamu pakai itu aku beli buat dia tapi nggak sempat di pakai.” Jelas Jovan dengan tatapan sendu pada Kala, raganya mungkin ada di hadapan wanita itu tetapi angannya entah kemana.

“Helena,—”

“Helena udah di surga, berdua sama calon anakku.” Ucapnya lirih, kedua netranya berkaca-kaca ketika menyebut nama Helena dan calon janin yang tak lagi bisa di rengkuh. Dada Jovan selalu sakit jika mengingatnya, selalu ada rasa bersalah dan penyesalan dalam dirinya.

Kala diam dan membisu beberapa saat sebelum akhirnya memegang telapak tangan Jovan, erat.

“Kapan?” Tanya Kala.

“Setahun yang lalu Tuhan mempertemukan aku sama Helena. Tapi tiga bulan setelahnya kami di pisahkan oleh maut. Bahkan nggak tanggung-tanggung Kal, calon anakku juga.”

“Duniaku runtuh Kal, hancur. Di saat aku mau membangun lagi hubungan yang dulu terpisah, Helena ngejar karir, aku ngejar jabatan dan perusahaan. Kami ketemu lagi pada saat sama-sama udah sukses, sampai aku ngerasa Helena itu jodohku, Tuhan ngasih jalan buat kembali sama Helena. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, kita bisa apa?”

“Kayak sekarang aku udah bosen sama hidup, gini-gini aja. Lempeng. Tiap hari kerja kerja dan kerja. Aku udah nggak mikirin perempuan, bahkan menikah. Buat apa coba? Toh Tuhan ngasih cobaan ke aku dengan berlipat-lipat rasa sakit. Harusnya aku udah jadi ayah sekarang, punya istri cantik dan jadi laki-laki paling bahagia. Tapi kenyataannya beda, sekarang pasrah aja. Aku udah nggak punya planing, percuma rasanya. Nggak guna.” Cecar Jovan dengan kalimat yang menyayat. Rasa sakit dan kecewa melebur menjadi satu hingga lelaki itu sudah tidak lagi punya pandangan hidup.

“Jov.. Aku peluk, boleh?” Tanya-nya meminta persetujuan pada lelaki di hadapannya yang terlihat lesu setelah bercerita tentang keluhnya. Jovan mengangguk dan Kala merangkul tubuh lelaki itu dengan erat, mengusap punggung lebar sang tuan.

“Jov.. Kamu berhak bahagia dengan apapun yang kamu temukan di depanmu. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, toh Helena udah tenang dan bahagia di surga. Sekarang giliran kamu menemukan kebahagiaan.” Ucap Kala lirih, ia berharap Jovan tidak terus-terusan terbelenggu dalam rasa bersalah terhadap takdir yang Tuhan berikan.

Thanks Kal, baru kali ini aku cerita banyak tentang sesuatu yang selama ini aku pendam. Bahkan Nico, Adel, aku nggak pernah cerita ke mereka.” Ujarnya sembari melepas pelukan. Lelaki itu menatap lamat wajah Kala yang ikut sendu ketika mendengarkan cerita pilu.

“Kalau ada apa-apa cerita aja Jov, jangan di pendam. Dari dulu kita temenan kan? Apapun selalu terbuka bahkan waktu Adel sebegitu obsessed ke kamu. Inget kan?” Ucap Kala, sedikit mengalihkan perhatian Jovan agar tidak terus menerus mengingat sosok Helena.

“Inget banget lah, tapi untungnya gue ngenalin Adel ke Nico. Nico nyelametin Adel dari kesakitan yang dia tanggung sendiri walaupun prosesnya lumayan lama.” Jawabnya gamblang, ingatannya kembali pada saat Adel menggilai dirinya namun tak terbalas.

“Ohh.. Pas waktu Adel mulai kenal Nico tuh aku udah resign. ya? Jadi mereka pacaran udah lama dong?” Tanya Kala lagi, dan ia berhasil mengalihkan ingatan Jovan.

“Tiga tahun lebih kayaknya.” Jawab Jovan. Kala mengangguk beberapa kali sembari menggerakkan kakinya beberapa kali.

“Udah nggak papa, besok kerja pakai sendal aja sampai sembuh.” Ucap Jovan melirik wanita itu. Kemudian membereskan obat-obatan ke dalam kotak.

“Tidur sana Kal, udah malem. Aku juga ngantuk.” Pinta Jovan, ia berdiri dan berjalan ke belakang untuk menaruh kotak obat.

“Iya.” Jawab Kala singkat, wanita itu berdiri dan mencoba menapakkan kakinya di lantai namun masih terasa perih. Ia berjalan sedikit pincang ke arah kamarnya kemudian Jovan berbicara asal.

“Bisa jalan sendiri kan? Nggak perlu aku gendong?”

“Eh, bisa Jov. Makasih ya udah di obatin.” Ucapnya ketika sampai di depan pintu kamar tamu. Dua netranya bertukar temu dengan milik Jovan yang berdiri tak jauh dari sana. Lelaki itu tersenyum dan mengangguk pelan, lalu berjalan menjauh dan masuk ke dalam kamarnya.

Setibanya di dalam kamar, Kala duduk di tepi ranjang sembari menatap kearah luar jendela yang menampilkan langit malam begitu indah. Tiba-tiba saja ia memikirkan Jovan dengan segala rasa sakit yang di pendam selama setahun terakhir dan belum juga sembuh.

Keinginannya tidak muluk, menjadi teman dan tempat berkeluh kesah di setiap kegalauan yang di rasakan Jovan mungkin sudah cukup bagi Kala. Bahkan ia berpikir untuk tidak bermain dengan perasaannya sendiri, yang ia takutkan adalah menjadi seperti Adel empat tahun yang lalu. Bukankah akan menyakitkan?

goodluck

Meeting yang berlangsung selama 2 jam lebih itu membuat Kala tidak fokus. Mood-nya tidak menentu, ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada tubuhnya. Berkali-kali wanita itu melirik ke arah Jovan namun lelaki itu masih fokus pada presentasi. Kala ingin sekali meninggalkan ruang meeting karena ia merasa posisi duduknya sudah tidak nyaman dan punggung mulai nyeri. Lima belas menit setelahnya meeting-pun berakhir tepat pada jam makan siang.

Satu per satu orang-orang yang berada di ruangan itu keluar. Sedangkan Kala masih duduk di tempatnya sembari memainkan ponsel. Hingga tersisa beberapa orang saja yang masih berada di dalam ruangan, tak lama Jovan menghampiri dirinya.

“Ayo balik ke ruanganku.” Pinta Jovan, tangannya menepuk bahu wanita itu, Kala mengangguk dan berdiri dari tempatnya. Wanita itu sedikit terhuyung, tubuhnya tiba-tiba saja melemas dan perutnya terasa nyeri. Kala sempat mengusap perutnya beberapa kali, ia berpikir mungkin sebentar lagi ia hendak datang bulan. Jovan berada di belakangnya tiba-tiba melepas jas dan melingkarkan pada pinggang Kala. Wanita itu sontak kaget, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jovan dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Kamu lagi dapet ya? Tembus Kal.” Ucap Jovan lirih.

“Hah? Serius??? Pantesan perutku nyeri, pinggang sakit. Aku pikir karena kelamaan duduk. Jov, tapi nanti jas kamu kotor.” Ujarnya. Kala hendak melepas jas yang melingkar di pinggangnya. Namun tangan Jovan lebih cepat menahannya.

“Gak papa. Pakai aja, dari pada di liatin banyak orang.” Ucap lelaki itu. Tanpa basa basi satu tangan Jovan melingkar pada pinggang sang puan. Entah dorongan dari mana, lelaki itu tiba-tiba peduli terhadap Kala.

“Hari pertama ya?” Tanya-nya lagi, kemudian di jawab dengan anggukan oleh Kala.

“Jov, aku gak bawa baju ganti, gak bawa pembalut. Kalau udah tembus gini, aku ijin pulang aja ya? Hasil meeting aku rekap besok pagi. Gimana?” Pinta Kala pada Jovan. Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Kala, ia terus berjalan lurus menuntun langkah ke duanya menuju ruang CEO. Setelah sampai di sana, Kala hanya bisa berdiri saja. Ia tidak berani duduk di sofa karena takut darah yang keluar akan mengotori jas dan sofa tersebut. Wanita itu hanya memandangi Jovan yang tengah mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya kemudian kembali menghampiri dirinya.

“Ayo pulang.” Ucap Jovan tiba-tiba. Wanita itu hanya mengikuti semua instruksi yang diberikan Jovan. Wajah Kala mulai pucat dan tubuhnya lemas, yang ia pikiran saat itu hanyalah merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping. Karena posisi tersebut lebih nyaman ketika ia sedang mengalami cramps period di hari pertama.

Jovan dan Kala pergi meninggalkan ruangan itu. Koridor di lantai empat cukup lengang, para penghuninya tengah makan siang hanya terlihat beberapa OB yang keluar-masuk ruang meeting guna membersihkan ruangan tersebut. Setelah memasuki lift Kala membungkukkan tubuhnya sembari memegangi perut yang terasa nyeri. Tangan Jovan tergerak mengusap punggung wanita itu tetapi Kala seakan tidak peduli, rasa nyeri pada perutnya membuatnya kesusahan untuk berdiri tegap.

Ting... Pintu lift terbuka setelah mengantarkan mereka ke lobi.

“Masih kuat jalan?” Tanya Jovan, wanita itu mengangguk sembari menatap Jovan dan tersenyum. Raut wajah Kala benar-benar terlihat pucat. Keduanya berjalan beriringan membelah orang-orang yang tengah bergerombol di lobi. Pada jam makan siang, lobi akan lebih ramai dari biasanya. Para karyawan keluar-masuk untuk keperluan makan siang dan ada juga beberapa yang duduk santai di lobi sebelum mereka kembali bekerja.

Beberapa orang yang belum hafal dengan wajah Kala, sedari tadi tengah memperhatikan wanita itu. Kala seketika menjadi pusat perhatian saat berjalan beriringan dengan Jovan dan menggunakan jas milik sang penguasa perusahaan yang di lingkaran pada pinggangnya. Namun Kala tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang tengah memperhatikannya. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan tidur.

Setibanya di mobil, Kala mencari posisi agar duduknya terasa nyaman kemudian memasang seat belt.Ia memejamkan kedua matanya sembari memegangi perut yang terasa sangat nyeri. Hari pertama menstruasi memang sangat menyiksa bagi Kala, bahkan hari ini ia tidak membawa pembalut dan celana dalam cadangan membuat dirinya kelabakan. Mau tidak mau ia harus pulang sebelum pekerjaannya selesai. Jovan menyalahkan mesin pada mobilnya dan bersiap meninggalkan area parkir. Namun sebelum menginjak pedal gas, ia sempat melirik Kala yang berada di sebelahnya. Melihat posisi duduknya terlihat kurang nyaman, tiba-tiba saja Jovan tergerak membenarkan posisinya. Lelaki itu menurunkan sandaran pada seat-nya, tangannya melingkar di atas perut Kala ketika menekan tombol power seat control untuk mengatur sandaran jok ke arah belakang. Sontak Kala kaget dan membuka matanya, wanita itu hampir saja jantungan karena Jovan tepat berada di atasnya ketika sedang mengatur sandarannya.

Sorry Kal.. Kaget ya?” Ucapnya sembari tersenyum pada wanita itu. Raut wajah Kala berubah menjadi merah padam, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Ngagetin aja..” Ucap Kala, lirih.

“Dah, merem lagi.” Balas Jovan singkat. Lelaki itu kemudian mengendarai mobilnya pelan. Baru saja meninggalkan area kantor sejarak 100 meter, mobilnya berhenti di depan sebuah apotek. Ketika Jovan turun dari mobil dan menutup pintu, Kala mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Jovan masuk ke sebuah apotek. Tak lama setelahnya lelaki itu masuk ke indomaret yang berada di sebelah apotek. Sama sekali tidak terpikir oleh Kala bahwa Jovan ke apotek untuk membeli menstrual pads dan ke indomaret membeli pembalut.

“Beli apa Jov? Kamu sakit?” Tanya Kala ketika Jovan kembali masuk ke dalam mobil sembari menenteng kantong plastik berwarna putih.

“Kamu yang sakit.” Jawab Jovan sembari meletakkan kantong plastik di pangkuan Kala. Wanita itu di buatnya tidak karuan karena perlakuan Jovan tidak seperti biasanya. Hari ini sikap Jovan berbanding terbalik dengan hari kemarin saat keduanya bertemu untuk yang pertama kali.

“Makasih Jovan..”

“Sama-sama.”

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang. Setelah beberapa saat baru saja Kala menyadari bahwa jalan yang mereka lewati berlawanan arah dengan jalan pulang ke rumah Adel. Wanita itu menoleh ke arah lelaki yang tengah fokus pada kemudinya. Jovan masih tetap tenang, seakan tidak mempedulikan Kala yang sedang menatapnya.

“Jov, ini bukan jalan ke arah rumah Adel kan?” Tanya-nya penasaran.

“Bukan.” Jawab Jovan singkat.

“Loh, kita mau kemana? Aku gak bisa lama-lama kayak gini Jovan..” Ucap Kala sedikit merengek dan panik.

“Sabar, bentar lagi sampai.” Jawab Jovan singkat. Tidak perlu lama, sekitar lima menit setelahnya ia sampai pada area apartemen yang cukup besar dan mewah. Mobil yang di kemudikan Jovan melaju pelan memasuki area basement dan memarkirkan tak jauh dari pintu masuk menuju lift.

“Ayo turun.” Ajak Jovan.

“Jov, kita dimana?”

“Apartemen yang kemarin aku ceritain ke kamu.” Jelas Jovan sembari membuka pintu mobil dan hendak turun.

“Tapi Jov—,”

“Turun dulu, nanti aku jelasin. Bisa jalan gak? Mau aku gendong apa pakai kursi roda?” Ucap Jovan sedikit ketus.

“Nggak dua-duanya!” Jawaban Kala tidak kalah ketus. Kalimat yang di lontarkan Jovan sempat menyulut emosinya. Kala reflek membanting pintu ketika ia turun dari mobil kemudian mengekor di belakang langkah Jovan.

Setibanya di unit apartemen milik Jovan, Kala hanya berdiri tanpa bergerak kemanapun. Ia merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera membersihkan diri. Wanita itu menatap Jovan yang berjalan ke arah kamar utama yang cukup besar dan tak berapa lama Jovan keluar dari sana sembari menenteng satu paperbag kemudian ia berikan pada Kala.

“Mandi dulu sana, pakai kamar tamu. Handuk udah ada di dalam.” Perintah Jovan.

“Makasih ya Jov.” Ucap Kala kemudian ia melenggang pergi menuju kamar tamu yang di tunjuk oleh Jovan. Lelaki itu masih berdiri sembari memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana. Ia menatap lamat sosok wanita yang tengah berjalan meninggalkannya. Jovan tersenyum tipis sebelum akhirnya ia duduk di sofa ruang tengah dan memainkan ponselnya.

Sekitar dua puluh menit setelahnya Kala keluar dari kamar tamu menggunakan pakaian yang di berikan Jovan. Baju tidur berbahan satin berwarna peach yang sangat cocok di kenakan oleh Kala. Raut wajah wanita itu sedikit malu ketika menghampiri Jovan di ruang tengah.

“Kenapa baju tidur Jov? Tapi makasih ada baju buat ganti.” Ucapnya, wanita itu duduk di sebelah Jovan.

“Ya kan abis ini kamu tidur kan? Udah pakai menstrual pads-nya?” Tanya lelaki itu sembari menatap lekat netra sang puan.

“Udah.” Jawab Kala singkat.

“Lima belas menit lagi ada orang kesini nganterin makan siang. Kamu belum makan kan? Aku mau balik kantor dulu, ada klien yang nungguin. Kamu istirahat aja, abis makan terus tidur. Nanti kabari aku kalau ada apa-apa.” Ucap Jovan panjang lebar hingga membuat wanita di sebelahnya terdiam. Kala hanya mengangguk beberapa kali sembari menatap wajah Jovan. Lelaki itu-pun berjalan ke arah pintu keluar, hendak pergi meninggalkan unit apartemen miliknya.

“Jovan..”

“Hmm..” Lelaki itu menoleh ke arah Kala yang berada di belakangnya.

“Makasih ya.” Ucap Kala sembari tersenyum pada Jovan. Lelaki itu hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan unit apartemennya.

Kala terlihat sedikit sibuk membereskan meja kerjanya agar terlihat rapi, setelah di rasa sudah sudah bersih dan rapi kemudian ia meraih blazer yang tergantung di sandaran kursi. Langkahnya tidak terburu-buru, sangat pelan bahkan ia sambil memainkan ponselnya. Pukul 5 sore, waktunya jam pulang kantor. Pertama kalinya ia pulang sendiri, hari itu juga Adel tiba-tiba saja ada kepentingan yang mendadak sehingga tidak bisa menjemput dirinya.

Kala bukannya memesan taksi online, ia malah berjalan berlawanan arah dengan tujuannya. Bukan tanpa alasan, wanita itu hendak mampir ke sebuah soft opening cafe yang tak jauh dari kantor. Tempatnya terlihat sangat aesthetic dan bagian belakang cafe yang belum sepenuhnya selesai di bangun itu akan menjadi apik setelah balai semi outdoor berdiri sempurna. Sore itu cafe tidak terlalu ramai pengunjung, Kala menjadi lebih leluasa memilih tempat duduk.

Seperti di tempat lain, di resto, atau cafe, Kala biasanya memilih tempat yang berdekatan dengan dinding kaca. Melihat hiruk pikuk jalanan adalah hal yang menarik baginya, bahkan bisa menjadi hiburan tersendiri. Dua menit ia duduk di bangku, dua tangannya bertumpu pada meja di depannya. Dua bola matanya menembus kisi-kisi hingga lamunan sendu tak tertuju.

“Pesan apa kak?” Suara pelan namun tegas itu membuyarkan lamunannya meskipun baru sebentar. Di tatapnya sosok lelaki yang berdiri di sebelahnya, “Dovi” sebuah nama yang tertulis pada name tag-nya.

“E.. Caramel latte ya mas.” Jawab Kala sedikit terbata. Ia melirik beberapa kali lelaki yang bernama Dovi itu hingga menghilang di depan matanya. Bukan tanpa sebab, aura Dovi bahkan tidak seperti seorang waiters. Sedikit penasaran namun melamun dan memikirkan banyak hal adalah sesuatu yang paling menyenangkan.

Tidak butuh waktu lama, caramel latte yang ia pesan akhirnya tiba di mejanya. Si pengantar tak lain adalah lelaki bernama Dovi. Senyumnya tipis, setipis bibirnya. Aroma wangi parfumnya sangat manis, semanis raut wajahnya. Benar-benar sangat sempurna.

“Makasih ya mas..” Ucap Kala sembari tersenyum.

“Iya Kak. Sendirian aja kak?” Lanjut Dovi.

“Iya..” Jawab singkat dan senyum merekah di bibir sang puan.

“Selamat menikmati, ya kak.” Ucap Dovi kemudian pergi meninggalkan Kala. Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Kala menyeruput pelan minuman manis kesukaannya itu, lalu menatap keluar. Langit sore berwarna jingga sangat elok di pandang mata. Wanita yang tengah duduk sendiri itu sedang menikmati indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa.

Lagi dan lagi, lamunan Kala kembali di buyarkan oleh mobil bernuansa hitam yang tiba-tiba parkir di depan cafe. Tidak asing di mata Kala, setelah keluar dari dalam mobil sosoknya memang sudah ia kenali. Lelaki itu berjalan dengan sangat gagah, tubuhnya tinggi dan tegap membuat dirinya enggan untuk memalingkan muka.

“Dov!”

“Woy.. Jovan. Wahh.. Bapak CEO nih.” Balas Dovi, keduanya kemudian tertawa bersamaan. Kala membelalakkan matanya, sedikit kaget karena Jovan mengenal Dovi. “Mereka teman?”—batin Kala. Wanita itu menyeruput lagi minuman yang tinggal setengahnya. Di tengah obrolannya dengan Dovi, tidak sengaja Jovan menoleh ke pojok belakang tepat pada saat Kala sedang menatap kearahnya. Jovan tiba-tiba terdiam, begitu juga Kala terlihat sedikit canggung.

Jantung Kala tiba-tiba saja berdetak lebih cepat saat melihat Jovan berjalan ke arahnya. Menarik satu kursi yang berada di hadapannya, kemudian duduk.

“Udah lama disini?” Tanya Jovan.

“Belum.” Jawab Kala singkat kemudian menyeruput lagi sisa dalam cangkir.

“Tau dari mana di dekat kantor ada cafe baru? Bukannya lawan arah kalau mau pulang ke rumah Adel?” Tanya Jovan, lagi. Wanita itu tidak habis pikir di luar kantor Jovan lebih banyak bicara dengannya. Bahkan ia tidak sedingin waktu sedang bekerja.

“Tadi OB yang ngasih tau. Penasaran, jadi mampir.” Jelas Kala.

“Ohh.. Adel jemput kesini?”

“Nggak. Dia ada kepentingan mendadak jadi nggak bisa jemput, aku pulang naik taksi.” Jelasnya.

“Udah habis?” Entah pertanyaan yang ke berapa, Kala hanya menjawab dengan anggukan saja.

“Ayo pulang, aku anterin.” Ucapnya datar.

“Eh, Jov.. Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.” Ujarnya. Namun Jovan terus memaksanya sampai Kala akhirnya mau menerima ajakan lelaki itu. Jovan berdiri, kemudian di susul Kala dan berjalan mendahului lelaki itu untuk keluar dari cafe. Jovan tidak langsung pergi begitu saja, ia mengambil blazer milik Kala yang menggantung di kursi kemudian menenteng di tangan kanannya.

Ketika melewati Dovi yang sedang asik berbincang dengan salah satu waiters, Kala sempat menyapa lewat senyum dan angukan kepala dan di balas dengan senyum simpul oleh sang pemilik cafe.

“Dov, gue cabut ya.” Pamit Jovan pada lelaki bermata sipit itu.

“Oke bro.. Cewek lo?” Tanya Dovi.

“Sekretaris gue.” Jawab Jovan singkat sembari melenggang pergi meninggalkan cafe itu.

Kosong

Hari pertamanya bekerja dengan Jovan terasa biasa saja. Tidak ada yang spesial, bahkan tidak menarik sama sekali. Dari pagi hingga siang benar-benar sangat datar. Kala hanya duduk, tidak ada pekerjaan yang berarti. Beberapa pengajuan proposal juga sudah di cek dan di tanda tangani. Waktu terasa berjalan sangat lamban.

Pesan singkat dari Jovan, cukup membuyarkan lamunannya. Wanita itu kini beranjak dari duduknya, merapikan rok serta blouse yang ia kenakan. Kala bercermin lewat pantulan layar ponsel sembari merapikan rambutnya. Kemudian ia pergi untuk menjemput makan siangnya yang berada di ruangan Jovan.

Kala membuka pintu setelah ia mengetuknya. Tatapan matanya tepat tertuju pada sosok lelaki yang tengah berada di belakang meja kerja dan sibuk memainkan ponselnya. Jovan hanya melirik sepintas, kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah sofa yang tak jauh dari sana. Di atas meja sudah ada satu kantong plastik yang berisi beberapa menu makanan untuk Jovan dan Kala.

Lelaki itu duduk dan membuka satu persatu box berwarna coklat, sedangkan Kala berada di sebelah Jovan namun dirinya hanya diam saja.

“Ini boleh aku bawa?” Ucap Kala hendak menenteng kantong plastik berwarna putih itu.

“Kemana?” Tanya Jovan dengan wajah datar.

“Ke ru—,”

“Makan aja di sini. Kamu nggak mau makan bareng aku?” Ucap Jovan tengah memenggal kalimat yang hendak di ucapkan oleh Kala. Wanita itu terhenyak kemudian kembali duduk, membuka box berisi makanan dan mulai melahapnya.

Ruang CEO yang cukup besar itu terasa sangat tenang. Dua insan saling menikmati santap siang tanpa ada obrolan sedikitpun. Sebenarnya Kala ingin mengajaknya bicara walaupun hanya sekedar basa basi namun melihat raut wajah Jovan yang datar dan kaku, ia mengurungkan niatnya. Diam adalah pilihan yang terbaik.

Lima belas menit berlalu dan dua insan itu masih betah diam. Kala sempat mencuri pandang pada Jovan beberapa kali, dan lelaki itu merasa bahwa kala sedang memperhatikannya.

“Kal..”

“Hmm.” Wanita itu menoleh ke arah Jovan, menatap wajah tampan di hadapannya dan berhenti mengunyah.

“Kamu tinggal dimana?” Tanya Jovan tiba-tiba.

“Oh, itu.. Aku tinggal di rumah Adel sementara. Baru cari kontrakan atau apartemen yang sewanya nggak terlalu mahal.” Jelas Kala, tangan wanita itu meraih satu botol air mineral yang berada di atas meja kemudian meneguknya perlahan.

“Udah dapet?” Tanya Jovan lagi.

“Belum. Kontrakan yang dulu pernah aku sewa, udah penuh. Kemarin sempet search apart juga tapi yang deket kantor lumayan mahal.” Jelas Kala, setelah berceloteh ia kembali menghabiskan makanannya.

Jovan terdiam. Tidak ada untaian kalimat pertanyaan lagi yang di ucapkan. Ia sibuk menghabiskan makanan yang tersisa satu sendok lagi.

Kala yang sudah selesai dengan aktivitas makan siangnya sejak beberapa menit yang lalu-pun hendak pergi dari sana. Ia sudah berdiri dan berpamitan para Jovan. Lelaki itu hanya mengangguk dengan wajah datar tanpa senyum sedikitpun. Kala-pun bergegas pergi, sesampainya di depan pintu tiba-tiba langkahnya terhenti sesaat setelah Jovan memanggil namanya.

“Kala...”

“Ya?” Kala membalikkan tubuhnya dan kedua netra bertemu.

“Kamu tinggal di apartemenku, mau? Dekat sama kantor, dari pada kosong dan nggak ada yang pakai.” Ucap Jovan tiba-tiba. Tidak ada angin dan hujan, lelaki itu dengan entengnya menawarkan satu unit apartemen mewah untuk di tempati Kala. Wanita itu membeku, mencerna apa yang di ucapkan Jovan. Ia tidak percaya lelaki itu dengan mudahnya menawarkan apartemennya.

“E-aku nggak akan sanggup bayar sewanya.” Jawab Kala sedikit gugup.

“Kamu tinggal pakai aja, nggak perlu bayar sewa. Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa. Tapi kamu bisa pikirkan lagi.” Ucap Jovan sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia duduk bersandar di kursi, mengambil ponsel di atas meja kemudian menatap Kala yang masih diam di depan pintu. Jovan kemudian sibuk dengan ponselnya bersamaan dengan langkah kaki Kala yang beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.

Hari pertamanya bekerja dengan Jovan terasa biasa saja. Tidak ada yang spesial, bahkan tidak menarik sama sekali. Dari pagi hingga siang benar-benar sangat datar. Kala hanya duduk, tidak ada pekerjaan yang berarti. Beberapa pengajuan proposal juga sudah di cek dan di tanda tangani. Waktu terasa berjalan sangat lamban.

Pesan singkat dari Jovan, cukup membuyarkan lamunannya. Wanita itu kini beranjak dari duduknya, merapikan rok serta blouse yang ia kenakan. Kala bercermin lewat pantulan layar ponsel sembari merapikan rambutnya. Kemudian ia pergi untuk menjemput makan siangnya yang berada di ruangan Jovan.

Kala membuka pintu setelah ia mengetuknya. Tatapan matanya tepat tertuju pada sosok lelaki yang tengah berada di belakang meja kerjanya dan sibuk memainkan ponselnya. Jovan hanya melirik sepintas, kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah sofa yang tak jauh dari sana. Di atas meja sudah ada satu kantong plastik yang berisi beberapa menu makanan untuk Jovan dan Kala.

Lelaki itu duduk dan membuka satu persatu box berwarna coklat, sedangkan Kala berada di sebelah Jovan namun dirinya hanya diam saja.

“Ini boleh aku bawa?” Ucap Kala hendak menenteng kantong plastik berwarna putih itu.

“Kemana?” Tanya Jovan dengan wajah datar.

“Ke ru—,”

“Makan aja di sini. Kamu nggak mau makan bareng aku?” Ucap Jovan tengah memenggal kalimat yang hendak di ucapkan oleh Kala. Wanita itu terhenyak kemudian kembali duduk, membuka box berisi makanan dan mulai melahapnya.

Ruang CEO yang cukup besar itu terasa sangat tenang. Dua insan saling menikmati santap siang tanpa ada obrolan sedikitpun. Sebenarnya Kala ingin mengajaknya bicara walaupun hanya sekedar basa basi namun melihat raut wajah Jovan yang datar dan kaku, ia mengurungkan niatnya. Diam adalah pilihan yang terbaik.

Lima belas menit berlalu dan dua insan itu masih betah diam. Kala sempat mencuri pandang pada Jovan beberapa kali, dan lelaki itu merasa bahwa kala sedang memperhatikannya.

“Kal..”

“Hmm.” Wanita itu menoleh ke arah Jovan, menatap wajah tampan di hadapannya dan berhenti mengunyah.

“Kamu tinggal dimana?” Tanya Jovan tiba-tiba.

“Oh, itu.. Aku tinggal di rumah Adel sementara. Baru cari kontrakan atau apartemen yang sewanya nggak terlalu mahal.” Jelas Kala, tangan wanita itu meraih satu botol air mineral yang berada di atas meja kemudian meneguknya perlahan.

“Udah dapet?” Tanya Jovan lagi.

“Belum. Kontrakan yang dulu pernah aku sewa, udah penuh. Kemarin sempet search apart juga tapi yang deket kantor lumayan mahal.” Jelas Kala, setelah berceloteh ia kembali menghabiskan makanannya.

Jovan terdiam. Tidak ada untaian kalimat pertanyaan lagi yang di ucapkan. Ia sibuk menghabiskan makanan yang tersisa satu sendok lagi.

Kala yang sudah selesai dengan aktivitas makan siangnya sejak beberapa menit yang lalu-pun hendak pergi dari sana. Ia sudah berdiri dan berpamitan para Jovan. Lelaki itu hanya mengangguk dengan wajah datar tanpa senyum sedikitpun. Kala bergegas pernah, sesampainya di depan pintu tiba-tiba langkahnya terhenti sesaat setelah Jovan memanggil namanya.

“Kala...”

“Ya?” Kala membalikkan tubuhnya dan kedua netra bertemu.

“Kamu tinggal di apartemenku, mau? Dekat sama kantor, dari pada nggak ada yang pakai.” Ucap Jovan tiba-tiba. Tidak ada angin dan hujan, lelaki itu dengan entengnya menawarkan satu unit apartemen mewah untuk di tempati Kala. Wanita itu membeku, mencerna apa yang di ucapkan Jovan. Ia tidak percaya lelaki itu dengan mudahnya menawarkan apartemennya.

“E-aku nggak akan sanggup bayar sewanya.” Jawab Kala sedikit gugup.

“Kamu tinggal pakai aja, nggak perlu bayar sewa. Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa. Tapi kamu bisa pikirkan lagi.” Ucap Jovan sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia duduk bersandar di kursi, mengambil ponsel di atas meja kemudian menatap Kala yang masih diam di depan pintu. Jovan kemudian sibuk dengan ponselnya bersamaan dengan langkah kaki Kala yang pergi meninggalkan ruangan itu.

Jovano Caesar; membiarkan singgah barang sebentar. Mendengar, memberikan penawar kemudian menahan agar tidak berpencar.

Nathalie Galenia; dengan seribu luka dan problematika, mencoba mereda dari segala perkara. Hingga pada akhirnya bermuara di suatu samudera.


Kumpulan pohon rindang, dedaunan berwarna hijau nan asri menjadi pemandangan indah pagi hari. Nathalie masih bermalas-malasan di atas ranjang besar sembari menikmati udara tanpa polusi. Wanita itu sudah sepenuhnya sadar namun netranya terpejam.

Aroma wangi kopi yang menjalar pada indera penciumannya membuat senyuman timbul dan merekah. Tetapi tempatnya beradu kasih lebih nyaman dari segalanya, sampai-sampai ia tak mau beranjak barang sedetikpun.

Suara langkah kaki samar dan hampir tak terdengar, aroma kopi yang semakin jelas menyeruak mengusik indera. Nathalie membuka matanya perlahan saat sentuhan lembut jemari lelaki itu mengusapnya.

“Bangun sayang, aku bikin kopi.” Nada rendah lelaki itu berdentum menggetarkan hatinya. Nathalie merubah posisinya bersamaan dengan satu kecupan singkat nan lembut pada keningnya.

Jovan tidak pernah gagal membuatnya jatuh cinta, membuat dirinya enggan berjarak barang semenit-pun. Senyumnya, aroma wangi tubuhnya, sentuhannya bahkan suara yang keluar dari bibirnya bak sebuah candu. Lelaki bertubuh tinggi dan gagah itu menjadi penawar luka, pengobat segala nestapa.

“Maaf ya, aku sengaja buka pintu di balkon biar kamu bangun pagi. View-nya bagus banget tau Nath. Nggak salah kan aku pilih villa-nya?” Ujarnya. Tangannya masih betah mengusap paha sang puan.

“Kenapa kamu pinter banget? Pinter ngebuat aku jadi nggak mau jauh-jauh dari kamu.” “Kamu ngajakin aku ke tempat dimana bisa healing dan disini aku benar-benar bisa buang semua beban dan masalah.” Tutur wanita itu, senyumnya terbit dan merekah. Melihat Nathalie bangun dari tidurnya dengan raut wajah yang berbinar saja sudah membuat Jovan merasa berhasil menciptakan satu titik kebahagiaan.

Nathalie merubah posisinya, hendak bersandar pada headboard tetapi tiba-tiba saja ia mengernyitkan dahi sembari memegangi pinggangnya.

“Sakit? Semalam aku terlalu keras ya? Coba sini..” Lelaki itu mengangkat tubuh Nathalie kemudian mendekapnya dalam pangkuan. Tangannya sibuk mengusap pinggang wanitanya yang merasa kesakitan.

Jemari milik Jovan benar-benar sangat ajaib, usapan, pijatan lembut itu perlahan menyembuhkan rasa sakit dan nyeri di pinggangnya. Tangan kanan lelaki itu sibuk mengusap paha sang puan beberapa kali kemudian mengecup basah pada lehernya. Nathalie terhenyak, dengan reflek yang sangat cepat ia menahan tangan itu kemudian berjinjit hendak keluar dari kungkungan sang pujaan. Namun gagal, Jovan lebih sigap menahan tubuh Nathalie agar tidak lepas dari tangannya. Dua pasang netra itu saling bertatapan sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

“Jovan, ih! Jangan ganggu.” Ucapnya sedikit panik. Wanita itu sangat peka terhadap rangsangan, ia tidak mau kecolongan sepagi ini.

“Aku nggak ganggu Nath, cuma mau usap-usap yang pegel tadi sebelah mana?” Jovan terkekeh melihat wajah Nathalie yang memerah.

“Tapi kamu usapnya sambil godain aku. Nggak mau! Turunin aku Jov!” Ujarnya, Nathalie masih berusaha melepaskan dekapan lelaki itu namun berkali-kali gagal.

“Sssttt... Diem dulu. Bentar, aku mau ngomong sesuatu.” Ucap Jovan membuat sang puan diam dan tidak melawan. Nathalie menatap lekat wajah lelaki yang telah berhasil menyembuhkan lukanya.

“Nath, sejauh ini kamu udah berhasil. Tapi mungkin kamu selalu merasa gagal. Itu salah Nath.. Kamu tau? Kamu udah kerja sama aku, punya penghasilan yang cukup. Kamu punya banyak teman dan lingkungan yang baik, kamu cantik. Kamu pernah gagal dalam percintaan tapi ada aku yang menyembuhkan lukamu. Putus cinta, gagal menikah itu bukan jadi satu alasan kamu terus-terusan terpuruk.”

“Sekarang aku tanya, masih ada yang kurang? Apa yang belum bisa kamu capai sampai titik ini?” Kalimat demi kalimat yang di ucapkan lelaki itu membuat Nathalie menjadi lemah. Ia mengingat kembali rentetan luka yang perlahan sembuh ketika Jovan mencoba masuk ke dalam hidupnya. Bibir wanita itu seakan membeku, lidahnya cukup kelu hingga sangat sulit untuk menjawab pertanyaan lelaki itu. Hanya sekumpulan bulir air mata yang sudah mengambang pada kelopak mata dan sebentar lagi akan tumpah membasahi wajah sendu-nya.

“Nath, dada kamu sesak ya? Sakit kalau ingat masalah itu? Nangis aja Nath.. Nangis aja sekarang, sepuasmu.” Ucap Jovan dan benar-benar membuat wanita itu menumpahkan semua air mata yang tertahan. Dengan sigap jari-jari Jovan mengusap pipinya, lalu dua tangannya menangkup wajah Nathalie. Mendaratkan satu ciuman yang lembut dan hangat di bibir ranum wanita itu, menyalurkan rasa nyaman dan tenang pada Nathalie.

“Nath, jangan khawatir, aku udah siapin ini.” Ucap Jovan sembari mengambil sesuatu dari kantong celana dan memberikannya pada Nathalie. Kotak kecil berwarna biru tua yang besarnya cukup di genggaman. Nathalie membukanya perlahan, bukannya tersenyum tetapi tangisnya semakin pecah. Satu cincin bertahtakan berlian bertengger indah di dalam kotak berwarna biru itu.

Jovan tak tinggal diam, ia merangkul tubuh wanita yang sejak tadi berada di pangkuannya, mengusap lembut punggungnya berkali-kali. Nathalie merasa sangat nyaman dan hangat ketika tubuhnya di rengkuh penuh kasih.

“Aku akan bawa kamu ke Altar secepatnya Nath.” Wanita itu kemudian bergerak keluar dari pelukan. Dua netra saling bertemu dan mengunci satu sama lain.

Will you marry me?” Ucap Jovan penuh harap, raut wajahnya terlihat lebih serius.

Nathalie seperti kehilangan suaranya, nafasnya tiba-tiba saja tercekat ketika hendak menjawab “iya”. Senyum dan tangis wanita itu bercampur menjadi satu. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan dua tangannya sembari mengangguk, tanda meng-iya-kan permintaan Jovan. Lelaki itu tersenyum puas, ia mengusap air mata yang sedari tadi bercucuran di wajah Nathalie. Kemudian tangannya merapikan rambut yang sedikit berantakan, menyelipkan beberapa helai di belakang telinga. Sekali lagi, ciuman lembut nan hangat itu mendarat tepat pada bibir Nathalie. Ciuman yang berangsur lama, menyalurkan kasih dan sayang.

Percayalah bahwa kebahagiaan itu ada. Ketika merasa sakit dan berada di titik terendah, seseorang akan datang membawa kebahagiaan membalut semua duka dan lara. Nathalie telah menemukan muara yang semestinya dan Jovan berhasil membawa hati yang di rengkuh penuh asa.


What If. Moment for Jovan and Nathalie. Written by @deorphic

Give me a feedback and all questions, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic