A Hug

Helena menatap layar ponselnya lalu berpikir sejenak Jeremy kenapa? Need a hug??? Awas aja kalau lupa sama perjanjian di awal—batinnya sebelum mengemudikan mobilnya.

Pukul 00:20 dalam perjalanan pulang, sudah biasa di lakukan Helena. Bekerja seharian membuatnya lelah dan butuh sekedar refreshing sejenak meskipun hanya sekedar nongkrong di cafe untuk ngopi dan bercengkrama dengan teman seprofesinya.

Lima belas menit berlalu dan tiba di apartemen milik Jeremy. Setelah memarkirkan mobilnya di basement lalu bergegas naik ke lantai 10 melalui lift. Jemarinya dengan lincah menekan pin pada pintu smartlock sudah di luar kepala.

Ruang tamu tampak gelap dan tak ada tanda-tanda Jeremy disana, pun ruang tengah dan dapur hanya di terangi lampu temaram. Dua bola matanya menelisik tiap sudut ruangan namun masih tak di temukan sosok lelaki yang di cari.

Ia lalu memutuskan untuk masuk ke kamar tamu. Ya, sejak Helena tinggal di apartemen Jeremy, ia menggunakan kamar tamu. Jelas tidak mungkin mereka berdua tidur dalam satu ruang yang sama.

klek...

Suara pintu tertutup, Helena melangkah pelan kearah tempat tidurnya kemudian ia melepas outer dan melemparnya ke atas ranjang besar lalu merebahkan tubuhnya.

“Capek banget....” Ucapnya lirih, kemudian di susul dengan dering singkat pada ponselnya menandakan ada pesan yang masuk.

Ke kamar gue sekarang bisa?

Pesan tersebut ternyata dari Jeremy.

Baru mau rebahan loh gue.. Si Jeremy kenapa deh...—batin Helena. Ia pun bangun dari tidurnya, dan pergi menemui Jeremy di kamarnya. Tidak ada pikiran aneh atau buruk pada Helena saat itu, menurutnya Jeremy hanya stress karena pekerjaan dan butuh satu pelukan yang menenangkan dari seseorang.

tok tok tok...

cklek...

Helena masih mengenakan celana jeans ripped serta atasan tanktop crop, ia sama sekali belum mengganti pakaiannya bahkan belum mandi. Rambutnya terurai agak berantakan dan wajah cukup lelah tergambar nyata pada raut Helena. Gadis itu memasuki kamar Jeremy dan berdiri di depan pintu, ia mendapati lelaki tersebut sedang menatap kearahnya. Dua bola mata masing-masing saling beradu lalu seutas senyum simpul mengembang di bibir Jeremy. Helena masih terpaku dan cukup bingung dengan situasinya. Apa yang di pikirkan Jeremy? Bisiknya dalam hati.

Anehnya Jeremy merentangkan dua tangannya kearah Helena. Apa maksudnya Je??? Batin Helena campur aduk, ia pun menghampiri lelaki yang mengenakan piyama berwarna abu muda itu. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Jeremy menarik tangan gadis itu agar masuk dalam pelukannya.

“Lo kesambet apa Je?”

“Pengen peluk lo aja, gaboleh?”

“Lo aneh Je...”

Jeremy malah semakin erat menangkup tubuh Helena dan mengusap punggungnya perlahan.

“Emang temenan gaboleh peluk?”

“B-boleh tapi ya gak di dalem kamar juga kali...” Ucap Helena dengan dagu yang menempel pada pundak Jeremy.

“Kenapa? Kamu takut?” Timpal Jeremy dengan senyuman yang begitu sulit diartikan.

Helena kemudian melepaskan pelukan tersebut, menatap dua bola lelaki yang berada di hadapannya. Hingga membuat jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Aneh.

“Je, gini... Emm.. Gimana jelasinnya ya?”

” Jujur setelah lost contact sama dia, gue gak pernah pacaran lagi. Gak ada skinship sama cowok lain, dan baru banget ini sama lo... Gue takut gak bisa rem, udah ya.. Gue balik kamar.”

Helena pun berdiri hendak meninggalkan lelaki itu namun gerakannya kalah cepat dengan Jeremy yang menarik tangan gadis itu hingga ambruk kepelukannya, lagi.

“Lo takut sama gue Hel? Gue gak akan ngapa-ngapain...”

“Temenin gue bentar aja, gue pengen cerita..”

Helena kali kedua melepaskan pelukan tersebut.

“Je, gue tiduran bentar boleh? Capek, pinggang gue sakit...”

“Ya udah, sana...”

Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang besar milik Jeremy, lelaki itu kemudian menyusulnya. Menyandarkan tubuhnya pada headboard. Tiba-tiba saja keduanya terdiam, sudah jelas Helena sangat lelah matanya pun sayu. Mungkin jika ia memejamkan mata barang sebentar saja, tak perlu lama Helena pasti segera masuk keruang mimpinya.

Jeremy menengadahkan kepalanya menatap langit-langit di ruang kamarnya, lampu temaram seakan merubah suasana hangat.

“Hel...”

“Hmm...”

“Besok Tristan mau balik Indo.”

“Bagus dong, lo ada temennya..”

“Bukan itu maksud gue, tapi dia ada rencana mau undang makan malam orang yang jadi rival gue.”

“Maksud lo?” Tanya Helena heran, lalu menoleh kearah lelaki yang berada di sebelahnya.

“Yang lagi deket sama Nathalie..”

“Terus lo gak nyaman gitu?”

“Kalau liat Nathalie yang ada sakit hati gue...”

Keduanya lalu terdiam. Satu menit berlalu kemudian Helena menawarkan sesuatu.

“Mau gue temenin? Biar gue juga bisa say hello sama Nathalie juga.. Lama banget gak ketemu dia..”

“Lo gak keberatan?” Tanya Jeremy memastikan apa yang di tawarkan Helena kepadanya.

“Enggak, tapi gue nyusul. Gak bisa bareng lo...”

“Gapapa, besok gue kabarin tempat sama jamnya.”

“OK.” Ucap Helena mengakhiri percakapan malam itu. Ia lalu membalikkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Jeremy dan menarik selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya.

“Lo mau tidur sini Hel?”

“Mm.. Udah pewe gue..” Ujarnya.

“Dasar...” Timpal Jeremy dengan tangan yang mengusap rambut Helena beberapa kali. Gadis itu diam saja, tak merespon apapun. Tubuhnya sudah sangat lelah dengan aktivitasnya dari siang sampai malam tadi.