The Orphic

“Cell, bantuin kakak gue dong.” Pinta Hansel pada sahabatnya.

“Kenapa emang?” Tanya Marcell sembari meneguk satu kaleng Coca-Cola.

“Itu laptop, gak tau deh. Lo naik aja sana, kakak gue ada di kamar.” Jawab Hansel.

Marcell beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Hansel yang masih sibuk dengan game. Lelaki itu menaiki tangga menuju lantai dua. Tanpa bertanya, Marcell sudah tau dimana letak kamar Hana karena bersebelahan dengan milik Hansel.

tok tok tok...

“Masuk aja Cell!” Ucap Hana dari dalam kamar setengah berteriak.

cklek...

Marcell mengintip dari balik pintu dan Hana menoleh kearahnya lalu tersenyum. Lelaki itu kemudian masuk dan menutup kembali pintunya.

Marcell menghampiri Hana yang tengah duduk di sofa. Di hadapannya terdapat beberapa berkas, note, pulpen, juga laptop yang tiba-tiba error pada saat ia gunakan untuk bekerja. Lelaki itu tersenyum tipis dan duduk di sebelah Hana.

“Cell, ini kenapa deh? Anjir gue lagi tanggung banget kerjaan.” Kata Hana sembari mengunyah camilan yang ada di hadapannya. Sedangkan Marcell sibuk mengutak atik laptop milik Hana. Wanita itu duduk di sebelah Marcell sembari merebahkan tubuhnya di sofa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Hana memperhatikan Marcell beberapa saat sebelum akhirnya dia mencari ponselnya.

“Hp gue dimana ya?” Tanya Hana. Wanita itu mencari di sekeliling sofa, tempat ia duduk tetapi tidak menemukannya.

“Itu hp kak Hana bukan?” Tanya Marcell sembari menunjuk ponsel yang terletak di sebelah kanan laptopnya.

“A-iya.” Jawabnya singkat lalu Hana membungkuk untuk mengambil ponselnya. Melihat pergerakan wanita itu, Marcell sedikit memundurkan tubuhnya, tetapi kedua tangannya masih bertumpu pada meja. Setelah mengambil ponselnya, Hana kembali duduk di sebelah Marcell dan secara tidak sengaja payudaranya menggesek tangan lelaki itu.

Deg!

Jantung Marcell tiba-tiba berdetak lebih cepat. Marcell dan Hana saling menatap hingga beberapa detik. Dua bola mata lelaki itu tertuju pada tubuh Hana yang hanya mengenakan kaos tipis berwarna putih dan terlihat tidak mengenakan bra. Marcell menelan ludahnya sendiri serta beberapa kali melirik kearah dua gundukan payudara Hana yang terlihat jelas. Dua insan itu terdiam hingga beberapa menit dan terasa canggung. Berniat ingin mencairkan suasana, Hana-pun lebih dulu berbicara pada Marcell.

“Mau minum apa Cell? Gue ambilin.”

“E-apa aja kak.” Jawab Marcell singkat.

Hana lalu berdiri dan berjalan ke arah lemari pendingin yang berada di sudut kamar. Marcell mulai tidak fokus pada laptop setelah Hana berjalan melewatinya tepat di depannya. Aroma wangi tubuh wanita itu serta pakaian yang dikenakan benar-benar membuatnya berusaha keras menahan nafsunya. Pandangan matanya lekat pada tubuh sexy kakak perempuan Hansel itu.

“Oh, sorry cuma ada beer sama Coca-Cola di kulkas gue. Lo mau minum apa?” Tanya Hana sembari berkacak pinggang lalu menoleh ke arah Marcell.

Beer boleh deh kak.”

Hana mengambil dua kaleng beer dan membawanya untuk Marcell. Wanita itu berjalan sembari sibuk memainkan ponselnya hingga pada saat hampir sampai, ia tidak melihat kabel charger laptop yang menggantung di atas lantai. Tanpa sengaja kaki Hana tersangkut pada kabel itu, ia sontak kaget dan tubuhnya hampir jatuh. Tetapi dengan sigap Marcell menahan tubuh Hana lalu menariknya ke atas pangkuannya. Kedua tangan lelaki itu melingkar di pinggang Hana, manik matanya saling bertemu dan bertatapan hingga beberapa menit.

Hana bak terbius pada sorot mata Marcell. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, deru nafasnya kian berat.

Are you oke?” Tanya Marcell lirih.

Hana masih terpaku pada dua bola mata lelaki itu. Marcell yang sedari tadi sudah berusaha menahan nafsunya-pun pada akhirnya tumbang. Ia mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara keduanya. Mengecup singkat bibir Hana, lalu menatap matanya. Wanita itu tetap tenang, bahkan Hana masih diam di atas pangkuan Marcell.

Satu kecupan singkat tanpa perlawanan dari Hana seperti lampu hijau bagi Marcell. Lelaki itu kembali mencium bibirnya sembari meremas payudara Hana perlahan.

“Mmph...” Lenguhnya pelan. Hana sangat mudah terbawa suasana hingga tanpa sadar ia melingkarkan kedua tangannya pada perpotongan leher Marcell sembari menikmati setiap decapan di bibirnya.

Awalnya ciuman itu sangat lembut namun perlahan menjadi sangat menuntut. Jemari Marcell terus meremas benda kenyal yang membuatnya candu. Tiba-tiba Hana melepaskan pagutan keduanya lalu menatap lekat manik mata Marcell.

“Kak..”

“Ha?”

“Laptopnya mati.”

“Hah? Serius? Gimana dong kerjaan gue?!” Ucap Hana sembari memutar tubuhnya kearah depan tanpa beranjak dari pangkuan Marcell. Lelaki itu meremas celananya sendiri ketika merasakan miliknya di putar secara paksa oleh bokong Hana.

“Aduh, Cell! Gimana ini?!” Ucap Hana masih dengan posisi membelakangi Marcell, gerakan tubuhnya membuat gesekan di bawah sana semakin terasa. Marcell menghembuskan nafasnya kasar, nafsunya sudah tidak bisa ia tahan.

“K-Kak, kabel chargernya kan lepas.”

“Hah? Lepas?”

“I-iya..” — “Kak, bisa gak?”

“Hm?” Hana menoleh kebelakang tanpa berpindah posisi.

“Bisa gak kakak duduk di sebelah, atau gue aja yang geser.” Ucap Marcell. Raut wajahnya sudah memerah, milik Marcell di bawah sana sudah tegang dan keras. Hana tau pasti penis lelaki itu sudah menegang dan dengan sengaja ia menggesek miliknya di atas kepunyaan Marcell yang masih terbungkus celana pendeknya.

“Emang gue gaboleh ya duduk di pangkuan lo?” Tanya Hana. Lelaki itu memandangi wajah Hana lalu tersenyum miring. Binal juga nih kakak Hansel —batin Marcell.

“Cell, lo pakai parfum apa? Wanginya gue suka.” Lanjut Hana sembari mendekat pada ceruk leher Marcell dan mengendusnya pelan membuat lelaki itu semakin tidak kuat dan ingin berbuat lebih pada Hana.

Tanpa aba-aba tangan Marcell masuk ke dalam celana short milik wanita itu. Jemarinya menyapa milik Hana yang lembab dan basah.

“Punya lo udah basah babe.” Ucap Marcell lirih tepat di telinga Hana, membuatnya bergidik merinding dan semakin horny.

“Nghhh...” Lenguh Hana ketika jemari lelaki itu meraba klitorisnya perlahan dan terus menggodanya. Secara reflek tangan kirinya meremas payudaranya sendiri sedangkan tangan kanannya melingkar di leher Marcell.

Marcell terus memainkan klitorisnya, menggesek dengan jari tengahnya hingga membuat Hana semakin larut dalam permainan Marcell. Ia mendongakkan kepalanya dan terus mendesah.

“Ssshh.. Hhaahhh...” Hembusan nafas Hana mulai berat. Persetan dengan siapa ia bermain, jemari Marcell sangat lincah dan membuatnya candu.—batin Hana.

You like it, babe?” Ucap Marcell lagi dan lagi berbisik lirih di telinga Hana. Wanita itu mengangguk, resah. Tanpa aba-aba Marcell memasukkan dua jarinya ke dalam liang vagina Hana yang sudah sangat basah.

“A-ahh...” Desahnya. Tangan kirinya yang semula meremas payudaranya sendiri, kini bertumpu pada meja di sebelahnya. Tangan kanannya meremas kaos yang di kenakan Marcell. Lelaki itu terus memainkan vagina milik Hana, ia keluar masukkan dua jarinya dengan tempo sedang. Dan sesekali memutar klitorisnya menggunakan ibu jarinya.

Babe.. Becek banget loh..” Ucap lelaki itu terus menggodanya.

“A-ah.. Cell, cepetin!” Racau Hana kala dua jari lelaki itu beberapa kali menyentuh g-spot miliknya. Marcell menuruti perkataan Hana, ia lalu mempercepat tempo kocokan di bawah sana membuat wanita itu semakin mendesah kencang.

“Nghhh... Ahh....”

“Kya gini?” Tanya Marcell di tengah-tengah kegiatannya.

“Cell, di situhhh.. Enak.. Ahh..” Jawab Hana mengangguk lalu menatap wajah lelaki itu. Keduanya saling menatap, Marcell tersenyum miring ketika memandang raut wajah Hana yang sedang menikmati permainannya.

“Di sini? Enak?”

“Owh, fuck! Fasterrr pleasehhh...” Pinta Hana sembari mendongakkan kepalanya.

You wanna cum? Huh?” Tanya Marcell sembari mempercepat kocokan di bawah sana. Ia merasakan liang vagina milik wanita itu mulai mengetat dan berkedut. Tanda ingin menjemput pelepasannya.

Yes, pleasehhh..” Jawab Hana, tangannya semakin erat meremas kaos Marcell. Tak lama tubuh wanita itu menggelinjang saat mencapai orgasmnya.

“Aaahhhh....” Desahnya kecang, kakinya bergetar hebat.

Perlahan tangan kiri Marcell merapatkan kedua kaki Hana, hingga mengapit dua jari Marcell yang masih mengoyak liang milik wanita itu. Membuat Hana semakin kencang mengeluarkan desahannya.

“Aaahhhh... Cell, stophhh!

Lelaki itu lalu memelankan kocokannya. Cairan milik Hana terasa membasahi dua jari Marcell yang masih bermain-main dengan milik Hana.

Marcell merasa puas dengan memandangi wajah Hana yang sangat berantakan akibat ulahnya. Wanita itu menetralkan nafasnya sembari menatap lekat wajah Marcell yang tengah tersenyum ke arahnya.

“Cell,—”

Tiba-tiba seseorang mengagetkan keduanya.

cklek...

“Kak Hana!?” Pekik seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu.

“Kak Marcell?! Kalian!?”

Suara Halsey memecah suasana. Hana sontak kaget dan beranjak dari pangkuan Marcell sembari membenahi celananya.

“Halsey, kakak bisa jelasin.” Ucap Hana berjalan mendekati adik perempuannya.

“Kak! Kak Hana tau gak? Akutuh suka sama kak Marcell! Kenapa kakak kya gitu sama kak Mar—”

“Denger kakak dulu Halsey!” Pekik Hana setengah berteriak. Marcell di buat bingung dengan situasi saat ini. Ia hanya menatap Hana dan Halsey secara bergantian tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.

“Kalau kak Hana berani kya gitu sama kak Marcell, aku juga bisa!”

“Oke! Terserah! Selesaikan masalahmu sama Marcell! Mau pakai kamar kakak? Oke, kakak keluar sekarang!” Ucap Hana dengan nada tinggi. Ia lalu berjalan mengambil ponsel serta kunci mobil yang terletak di meja sembari menatap tajam dua bola mata Marcell. Seperti hendak mengatakan sesuatu.

Wanita itu kemudian pergi meninggalkan kamarnya dan menutup pintu dengan kencang.

Brakkk...!!


What do you think? Give me a feedback, please.

Nathalie sudah berada di ambang pintu namun terasa berat untuk satu langkah lagi memasuki ruangan Jovan. Menurutnya sudah tidak ada lagi hal yang perlu di bicarakan perihal hubungan mereka. Namun ia tak bisa menolak saat Jovan meminta bertemu di jam kerja, ia tetap sekretaris yang bekerja untuk Jovan.

klek...

Suara pintu terbuka dan seorang lelaki berperawakan tinggi sedang berdiri di depan jendela kaca sedang menunggu dirinya. Nathalie kemudian berjalan perlahan mendekat pada sosok Jovan. Lelaki itu menoleh ke arah Nathalie lalu tersenyum tetapi wanita itu justru hanya diam dengan muka datar.

“Duduk Nath.” Perintah Jovan pada sekretarisnya. Wanita itu-pun duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Nath, aku ngerasa kamu ada yang beda.” Ucap Jovan. Namun Nathalie hanya diam saja, ia memalingkan muka dari pandangan Jovan.

“Kenapa Nath?” Tanya lelaki itu sekali lagi. Tangannya hendak memegang telapak tangan wanita itu namun di tepis perlahan.

“Jov, aku cuma gak mau terlihat bergantung sama kamu. Kalau kamu mau balikan sama Helena, gapapa. Tapi kita harus jaga jarak. Aku sama Helena saling kenal, gak mungkin aku tiap hari berangkat-pulang kerja bareng atau makan siang bareng. Apalagi aku cuma sekretaris Jov, aku cuma bawahan kamu.” Cecar Nathalie tanpa jeda. Dia merasa sedikit kecewa pada Jovan, tetapi sebisa mungkin Nathalie berusaha untuk tidak lebih jatuh lagi dengan situasi saat ini. Ia terus menyadarkan dirinya untuk memahami keadaan bahwa memang tak sejalan dengan harapan.

Lelaki yang berada di sebelahnya-pun terdiam beberapa saat.

“Nath, cepat atau lambat kamu bakalan tau tentang aku sama Helena. Tapi—”

“Jovan, aku udah tau semuanya. Kamu mau balik sama Helena, it's oke. Aku tau kalian sebenernya belum selesai.” Timpal Nathalie dengan nada yang sedikit meninggi.

“Nath,—”

“Jov, aku mau bilang terima kasih banyak udah bantuin aku, hibur aku, nemenin aku saat down. Kalau gak ada kamu, aku gak tau lagi mesti gimana.”

“Oya, terima kasih juga buat mama kamu. Beliau udah baik banget sama aku. Baju yang mama kasih masih aku simpan.” Ucap Nathalie. Dadanya sedikit sesak dan ia menahan air mata yang hampir tumpah. Wanita itu tak mau munafik, rasa kehilangan itu pasti ada.

“Nath, kamu kenapa sih ngomong kya gitu? Kya mau pergi aja.” Kata Jovan sembari mengenggam lengan wanita itu sangat kuat. Batinnya sangat berkecamuk saat ini. Ia masih menyayangi Nathalie, juga merasa nyaman dengannya tetapi wanita dari masa lalunya kembali hadir dan membuatnya goyah.

“Jov, aku balik kerja lagi ya? Masih banyak yang belum kelar.” Ucap Nathalie sembari melepaskan dari genggaman tangan Jovan. Tetapi lelaki itu dengan cepat menarik tubuh Nathalie dan masuk ke dalam pelukannya. Jovan mendekap erat tubuh Nathalie lalu mengusap dengan lembut.

“Nath, maafin aku ya?” Bisiknya lirih di telinga Nathalie. Wanita itu menganggukkan kepala, dagunya terasa bergerak di atas pundak Jovan. Tak lama Nathalie melepaskan pelukannya lalu meninggalkan ruangan lelaki itu.

Jovan terus memandangi wanita yang masih singgah di hatinya hingga menghilang dari balik pintu. Ia meremat telapak tangannya sendiri lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa. Lelaki itu menatap langit-langit dalam ruangan. Pikirannya menerawang jauh tak berbatas.

nut.. nut... Cklek...

Jeremy awalnya iseng menekan pin pada pintu Smartlock asal. Dan ternyata pin-nya masih sama, Nathalie tidak merubahnya. Lelaki itu masuk ke unit apartemen membawa satu paper bag berukuran sedang. Di dalamnya terdapat beberapa makanan untuk Nathalie. Ia menaruh paper bag tersebut di atas meja makan kemudian mencari sosok wanita yang tak terlihat batang hidungnya.

Ia mencari di sekeliling ruangan namun tak menemukannya. Jeremy lalu masuk ke kamar Nathalie yang tidak di kunci. Perlahan ia melangkahkan kaki menuntun pada ruang yang tampak kosong. Baru beberapa detik setelah sampai di kamar Nathalie, lelaki itu di kagetkan oleh sosok yang keluar dari kamar nandi. Masih lengkap menggunakan handuk yang membalut rambutnya juga bathrobe.

“O-Jer?”

Sorry Nath.”

“Udah lama?” Tanya Nathalie sembari membuka lemari pakaiannya.

“Belum Nath, aku tunggu di luar ya? Sekalian siapin makan.”

“Iya.” Jawab wanita itu singkat.

Jeremy kemudian keluar dari kamar dan menyiapkan makanan yang ia bawa sembari menunggu Nathalie selesai berpakaian. Tak lama wanita itu datang dan menghampiri Jeremy di ruang makan.

Keduanya kini sedang menikmati makan dengan sangat tenang, tidak ada obrolan di dalamnya. Hanya terlihat beberapa kali Jeremy mencuri pandang ke arah wanita itu lalu di balas dengan senyuman saja.

Setelah menyelesaikan aktivitas makan mereka, lalu Nathalie beranjak dari duduknya. Ia hendak membereskan sisa makanan juga alat makan yang berada di atas meja namun di tahan oleh Jeremy.

“Nath, kamu duduk aja. Aku yang beresin ini.” Kata Jeremy.

“Jer, itu kerjaanku. Udah tinggalin aja, nanti aku yang beresin.” Pinta Nathalie pada lelaki itu. Ia berjalan ke arah wastafel untuk mengambil alih yang di lakukan Jeremy namun tetap di tahan olehnya. Lelaki itu memegang tangan Nathalie hingga keduanya bertatapan sangat lama. Dua manik mata mereka saling bertemu dan sama-sama mengisyaratkan sesuatu di antara keduanya. Jeremy tersenyum tipis sembari mengecup singkat pipi wanita yang berada di sebelahnya. Membuat jantung Nathalie berdetak kencang, rasa yang lama ia rindukan kini kembali datang dan menyapa.

“Kamu duduk aja ya Nath, tunggu aku di ruang tengah.”

Wanita itu mengangguk tanda setuju lalu ia berjalan ke ruang tengah meninggalkan Jeremy yang sibuk membereskan alat makan. Beberapa menit kemudian lelaki itu menyusul Nathalie, wanita itu sedang melihat televisi yang ia putar secara acak. Jeremy duduk di sebelah Nathalie kemudian menatap lekat wajahnya tampak sendu.

“Nath, aku mau ngomong sesuatu.” Kata Jeremy lirih. Tangannya merapikan beberapa helai rambut lalu menyelipkan di belakang telinga wanita itu.

“Hm? Ngomong aja Jer..” Jawabnya pelan.

Lelaki itu menghembuskan nafasnya pelan lalu mulai berbicara pada Nathalie.

“Nath, Helena bilang mau balikan sama Jovan.”

“Iya, aku udah tau dari Adel.” Jawabnya singkat.

“Kamu sama Jovan gimana?” Tanya Jeremy pada wanita itu. Ia menatap lekat wajah Nathalie yang terlihat sendu.

“Gak gimana-gimana.” Jawab Nathalie sembari memalingkan tatapannya dari Jeremy, ia kembali fokus pada layar televisi.

“Nath..” Tiba-tiba lelaki itu mengenggam erat tangan Nathalie.

“Jer, udah lah. Aku gapapa, aku bisa se—” Tanpa aba-aba Jeremy mencium bibir Nathalie. Perlahan dengan lembut, tidak ada penolakan dari wanita itu. Nathalie terbawa suasana yang di ciptakan oleh Jeremy hingga menikmati setiap decapan. Menit kemudian Nathalie mendorong tubuh Jeremy dan melepaskan pagutan keduanya.

“Nath, aku kangen...” Ucap Jeremy lirih sembari mengusap pipi wanita itu. Lalu Jeremy menarik tangan Nathalie, di bawanya masuk ke dalam pelukan.

Satu pelukan penuh dengan kerinduan itu terasa hangat. Jeremy mungkin tengah berpikir bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan Nathalie lagi. Sedangkan Nathalie terus mengumpulkan serpihan kenangan yang hampir ia lupakan. Setelah puas dengan saling menyalurkan kehangatan, Jeremy-pun berpamitan untuk pulang.

“Nath, aku pulang ya? Abis ini mau ker RS.” Ucapnya sembari mengusap lembut pucuk kepala Nathalie.

“Iya Jer. Mudah-mudahan mama cepat pulih ya.”

“Iya Nath, makasih.” Balas Jeremy kemudian meninggalkan unit apartemen milik Nathalie.

Sebelum Adel akhirnya mengirimkan pesan pada Nico, ia sudah menunggu di area parkir bar selama satu jam. Gadis itu menerima pesan dari teman satu kantornya bahwa kekasihnya sedang berada di bar. Saat itu memang Nico bersama Jovan, teman sekaligus bos-nya. Tetapi lelaki itu tak meminta ijin terlebih dahulu pada Adel. Hingga membuat kekasihnya marah. Terlebih siklus Adel menjelang red days membuat emosi wanita itu sering tidak terkontrol.

Setelah menerima pesan dari kekasihnya, Nico meminta ijin pada bos-nya untuk menemui Adel yang sudah menunggu di area parkir. Sorot matanya langsung tertuju pada mobil sedan berwarna merah yang terparkir di pojok belakang. Area parkir lumayan penuh karena hari itu Sabtu malam.

Nico sedikit berlari kecil kearah mobil merah itu lalu mengetuk kaca pintu disebelah kemudi. Adel menurunkan kaca pintu dan menyuruh lelaki itu segera masuk. Wajah wanita berparas cantik itu nampak cemberut melihat kekasihnya benar-benar sedang minum di bar tanpa ijin darinya.

Babe, i'm so sorry... Gue cuma di suruh nemenin Jovan minum. Mana bisa gue tolak ajakan si bos .” Jelas Nico yang duduk di sebelah kursi kemudi, menghadap kearah Adel dan memegang tangan wanita itu. Berharap kekasihnya tidak marah akibat ulahnya. Namun Adel hanya membisu, di tepiskan tangan lelaki itu lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ck....” Decaknya sambil memalingkan tatapannya kedepan. Ia tak mau menatap wajah Nico yang memelas dan mulai merayunya. Benar saja, tak lama Nico memohon kepada Adel untuk memaafkan kesalahannya kali ini. Nico menjelaskan bahwa Ia benar-benar lupa memberi tahu kekasihnya terlebih dahulu.

Sedangkan Adel adalah wanita lemah, yang tak tahan dengan rayuan kekasihnya. Kalimat-kalimat yang di ucapkan lelaki itu bak sebuah magnet, sehingga membuatnya runtuh. Adel menatap kedua bola mata kekasihnya begitu lekat, lelaki itu membalas tatapannya penuh arti. Ia tahu pasti rayuannya selalu berhasil.

Tiba-tiba tangannya menarik kerah baju Nico dan memberi ciuman kasar penuh nafsu. Lelaki itu membalas ciuman menjadi lumatan yang sangat nikmat. Nico tau pasti kekasihnya sedang heat karena menjelang menstruasi. Nafsunya tak bisa di kontrol, bahkan kadang tak tahu tempat. Beberapa kali mereka melakukannya di dalam mobil.

Adel melepaskan ciuman mereka, lalu dengan buru-buru melepas kancing baju serta celana dalamnya. Terlalu mudah baginya hampir membuka bagian tubuhnya agar lebih terekspos di depan Nico, pasalnya ia hanya memakai mini dress diatas lutut dengan aksen kancing di bagian dada. Sehingga sangat mudah memamerkan kedua payudaranya yang montok.

Nico hanya memandangi tingkah kekasihnya yang sedang horny. Ia tersenyum simpul, sangat lucu dan membuatnya bergairah. Setelah Adel melepas celana dalamnya, ia lalu bergegas membuka resleting celana lelaki itu. Nico agak canggung karena area parkir yang lumayan penuh malam itu.

“Adel.. bentar.”

We are in a parking lot. Huh?” Lanjut Nico.

I know.” Ucap gadis itu, tampak tak peduli dengan situasi.

Nico lalu mengatur seat-nya agar mundur kebelakang. Memastikan ia bisa bergerak lebih leluasa. Di tariknya tubuh Adel, wanita itu paham bagaimana tahap selanjutnya. Ia duduk dipangkuan Nico lalu dengan gusar kembali mencium dan melumat bibir kekasihnya. Lelaki itu ikut terbawa suasana dan mulai menikmati ritme yang di ciptakan oleh wanitanya. Tangan kiri Nico ia gunakan untuk memainkan payudara milik Adel, sedangkan tangan kanannya bergerilya kebawah sana untuk memastikan lubang kenikmatan itu sudah basah atau belum.

“Del, punya lo belum terlalu basah. Nanti sakit kalau di paksa.”

“Cepet bikin aku basah Nic!” Pintanya.

Tak perlu berpikir lama, Nico lalu melepaskan kedua jemarinya masuk kedalam lubang vagina kekasihnya.

“Aaahhhh....” Lenguh Adel. Tangannya meremas lengan kekasihnya sangat kuat. Ia merasa sedikit sakit karena vaginanya belum terlalu basah.

“Del, lubang lo sempit banget, gue suka.” Bisik lelaki itu tepat di telinga Adel sehingga membuat libidonya naik dengan cepat. Dua jemari di bawah sana sedang asik mengobrak-abrik lubang kenikmatan kesukaan Nico. Mengocoknya dengan tempo sedang. Bibirnya menciumi leher Adel dan menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.

“Ngghhh.... Ahhhh... ” Desah Adel, membuat kekasihnya semakin bersemangat untuk membuatnya cepat mencapai pelepasannya. Nico mempercepat tempo kocokannya, tangan kirinya meremas payudara gadisnya. Memilin putingnya yang sudah menegang. Lalu ia menyesap dan melumat payudara sintal itu seperti bayi yang sedang menyusu. Tubuh wanita itu menggeliat menahan rasa nikmat di bawah sana.

“Nic, cu-cukup... Ahhhh... Cepat masukin punyamu aja .”

“Aku udah gak tahan Nic, buruan!” Lanjut Adel.

Nico hanya menurut saja, apapun yang di katakan kekasihnya, saat itu juga ia menurutinya. Adel lalu berjongkok, mengarahkan penis besar milik Nico yang sedari tadi sudah menegang dan mengeras. Tangannya menggenggam penis kekasihnya dan menaik turunkan tangannya beberapa kali.

“Ahhh.... Del, enak banget. Cepat masukin.” Ucap Nico yang mulai tak tahan dengan tingkah kekasihnya yang sangat menggoda. Penis besar itu diarahkannya tepat didepan lubang vaginanya yang sudah basah, lalu berbarengan mendorong tubuhnya kebawah agar penisnya masuk dengan sempurna.

“AAAHHHH.....” Lenguhan panjang itu lepas dari bibir Adel. Kedua tangannya bertumpu pada dada bidang Nico, dan pinggulnya ia gerakkan naik turun dengan tempo sedang.

“Uhhh.... Yess! Ahhhh... Enak banget sayang, punyamu selalu sempit.” Rancu Nico di sela-sela permainan panasnya. Lubang surgawi milik kekasihnya itu selalu terasa sempit, menjepit penis besar miliknya, hingga terasa penuh.

Adel terus menaik turunkan pinggulnya, sesekali memutar penisnya dan menghentakkannya kebawah hingga menyentuh titik g-spot nya. Nico meringis kesakitan tiap penisnya di putar dengan gerakan pinggul gadis itu, tetapi ia hanya pasrah.

“Aaahhh... Nggghhh....” desah Adel semakin keras. Dengan cepat bibir Adel di bungkam dengan lumatan agar suara desahannya mengecil. Tangan kiri Nico memegang pinggul kekasihnya dan membantu mendorong gerakan maju mundur. Sedangkan tangan kanannya memilin-milin puting Adel yang memerah dan tegang.

Tiba-tiba Adel melepaskan pagutan keduanya. Ia mendongakkan kepalanya dan tubuhnya sedikit melengkung.

“Ngghhh.... Nic .. ma-u keluaarr .. ahhh.. ahhhh...” Adel terus mendesah tak karuan, ia hendak mencapai klimaksnya.

Wait babe.. Uhhgg .. Aaahhh.. barengan yaa...”

Nico mempercepat gerakan pinggulnya, bibirnya terus melumat payudara kekasihnya dan memainkan putingnya dengan lidah. Tubuh Adel mulai bergetar sebentar lagi mencapai klimaksnya.

“Nic.. aaahhhh .. babe aku keluar .. aaahhhh ...” Tubuh wanita itu menggelinjang dan kakinya bergetar. Tubuhnya ambruk kedalam pelukan kekasihnya. Nico merangkul tubuh Adel, masih membiarkan penisnya tertanam di bawah sana. Jarinya mengusap rambut dan peluh yang menetes di pelipis wanitanya. Tangan satunya mengusap punggung Adel dengan lembut.

“Enak sayang?”

Adel hanya menjawab dengan anggukan saja. Tubuhnya lemas akibat permainan panasnya dengan Nico.

Lelaki itu lalu mengatur duduknya, ia meraih tissue yang terletak diatas dashboard.

“Sini aku bantu bersihin.” Ucapnya lembut, menatap kedua bola mata kekasihnya. Adel menurut saja, pertautan di bawah sana akhirnya dilepaskan perlahan. Sperma mengalir membasahi paha keduanya. Nico dengan tulus membantu membersihkan cairan itu.

“Pakai celana dalamnya. Baju lo di benerin, ayo pulang. Gue yang nyetir.” Ucap Nico yang masih mengusap punggung kekasihnya.

Adel lalu memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman. Matanya yang sayu menandakan bahwa ia mulai mengantuk. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, Nico sengaja tidak mengajaknya bicara . Ia tahu pasti kekasihnya sebentar lagi akan tertidur. Tangannya mengusap-usap pucuk kepala Adel, dan benar saja, gadis itu perlahan memejamkan mata dan tertidur.

Sinar matahari pagi kala itu menembus kisi-kisi ruang peraduan milik Nathalie menyentuh hangat hingga membangunkan wanita yang masih terbaring di balut selimut tebal berwarna putih.

Nathalie mengusap kedua matanya sebelum ia tersadar mendengar suara dari luar kamarnya. Wanita itupun beranjak dari tempat ternyaman kemudian mencari arah suara itu berasal. Matanya terpaku pada sosok lelaki yang menggunakan apron dan sedang sibuk berkegiatan di dapurnya.

“Jer...”

“Udah bangun?” Tanya Jeremy menoleh kebelakang kemudian tersenyum manis ke arah Nathalie.

“Kok kamu disini? Gak di rumah sakit?” Nathalie cukup heran dengan sosok Jeremy yang berada di hadapannya saat ini. Ia pikir lelaki itu akan pulang setelah dirinya tertidur seperti yang di janjikan. Namun ternyata Jeremy berada di apartemen dari semalam, terlihat setelan jas yang di kenakan masih sama.

“Gapapa Nath, nanti selesai ini aku ke rumah sakit.” Jelas Jeremy.

“Kamu bikin apa? Aku bantuin ya..” Ujarnya sembari berjalan melangkah mendekati Jeremy. Lelaki itu menoleh kebelakang mendekat ke arah Nathalie kemudian menarik perlahan lengan wanita itu, membawanya ke tempat duduk di belakangnya.

“Gak usah, bentar lagi selesai kok. Kamu duduk aja disini.” Pinta lelaki itu sembari mengusap lengan Nathalie.

“Ya udah aku tunggu disini.” Jawab Nathalie seraya memandangi tiap gerak gerik Jeremy yang kembali beraktivitas membuatkan bubur untuk wanita itu. Setelah matang, Jeremy menyiapkan bubur itu untuk Nathalie. Menghidangkan di meja makam juga menuangkan segelas air putih untuk wanita itu.

“Jer, kalau kamu mau ke rumah sakit sekarang gapapa kok. Kasihan mama..” Ucap wanita itu sembari menatap wajah Jeremy tanpa berkedip sedetikpun.

“Loh, aku juga laper tau Nath. Kamu tega nyuruh aku pergi padahal aku belum sarapan, ini kan yang buat aku Nath..” Cecar Jeremy dengan nada yang sedikit menggoda wanita itu, lalu duduk bersebelahan dengan Nathalie.

Nathalie hanya diam, pandangan matanya masih lekat pada sosok lelaki yang ia rindukan.

“Ya udah makan dulu, kalau udah kamu ke rumah sakit aja.”

Keduanya lalu menikmati sarapan pada pagi itu. Suasana kembali terasa hangat, Nathalie menikmati semangkuk bubur yang di buat oleh Jeremy sembari mengingat kembali berjuta kenangan yang telah ia lalui bersama lelaki yang berada di sampingnya.

Jovan mengemudikan mobilnya cepat, ia merasa melanggar janji pada Helena. Mungkin wanita itu sudah menunggunya lama. Ya, Jovan tiba di hotel Lafayette pukul 22:15 sedangkan wanita itu berharap Jovan datang lebih awal. Esok hari ia akan berada di fashion show.

Bel berdenting nyaring, ada seseorang di luar sana. Sudah bisa di pastikan Jovan yang berdiri di balik pintu. Tubuh lelahnya pun beranjak dari tempat paling nyaman, berjalan pelan ke arah pintu untuk membukanya. Wanita itu masih menggunakan mini dress berwarna hitam, pakaian yang hendak ia gunakan untuk dinner bersama Jovan.

klek....

Seorang lelaki bertubuh tinggi sudah berdiri di hadapannya. Dengan sorot mata yang tak bisa di gambarkan kala itu. Aroma wangi parfum khasnya yang tak berubah dari tiga tahun yang lalu. Indera penciuman Helena merespon aroma yang yang menyatu pada tubuh lelaki yang kini berdiri di hadapannya sembari menatap lekat manik matanya.

“Aku boleh masuk?” Ucap Jovan, suara lirihnya membuyarkan wanita itu kala ia sedang berusaha membangun sedikit demi sedikit kenangan yang menyapanya lewat aroma tubuh Jovan.

“A-iya. Masuk aja Van..” Lanjut Helena. Wanita itu mundur dua langkah memberikan jalan untuk Jovan.

Setelah menutup pintu kamarnya, Helena berjalan lebih dulu lalu di ikuti Jovan yang mengekor di belakangnya. Wanita itu berhenti sejenak, ia pandangi meja yang sedikit berantakan. Beberapa kaleng beer kosong yang belum ia buang serta sepatu high heels yang berserakan di lantai. Sebelum Jovan tiba di sana, Helena meminta managernya untuk membelikan beer untuknya. Hatinya kesal karena Jovan tak bisa di hubungi, padahal sebelumnya sudah berjanji hendak makan malam dengan dirinya. Sepatu yang berserakan itu-pun akibat ulahnya sendiri, ia lempar ke sembarang arah karena tersulut emosinya.

“Van, sorry berantakan.” Ucap wanita itu sedikit panik. Ia hendak membereskan benda-benda yang berserakan di sana, namun di tahan oleh Jovan. Lengannya di tarik pelan kemudian tubuhnya di sejajarkan di depan lelaki itu. Dua bola mata keduanya saling mengunci satu sama lain.

“Kamu marah?” Tanya Jovan lirih.

Helena hanya diam, ia masih menikmati binar-binar bola mata sayu dan tampak mengintimidasi.

“Hel, kamu diem juga aku tau. Kalau kamu lagi marah pasti kya gini, semua di buang-buang.” Ucap Jovan pada wanita itu. Tentu saja Jovan tau pasti kebiasaan Helena seperti apa.

“Aku tuh sebenarnya kesel sama kamu Van! Aku udah siap-siap dari jam 8 tapi kamu gak balas chat-ku. Sekarang udah malem banget, aku udah males mau ngapa-ngapain.” Cecar wanita itu sembari duduk di sofa, langkahnya sedikit gontai.

“Hel, aku jelasin.” Ucap Jovan sembari menghampiri Helena kemudian duduk di sebelahnya.

“Tadi aku dari tempat Nathalie. Mama Jeremy kecelakaan.”

“Hah? Serius Van?! Jeremy gak ngabarin aku.”

“Iya, mama Jeremy kecelakaan dan Nathalie ada disana. Mungkin Jeremy masih kaget, jadi belum sempat ngabarin kamu.” Jelas Jovan. Akhirnya wanita itu-pun mengerti, dan menerima penjelasan Jovan. Helena-pun terdiam sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa.

“Kamu udah makan Hel?”

“Belum.” Jawab Helena singkat.

“Mau aku pesenin makan?”

“Enggak. Aku gak nafsu makan Van.” Ucap Helena sembari mengambil sekaleng beer yang ada di hadapannya. Jovan dengan cepat menahan tangan wanita itu.

“Kamu kenapa Hel? Masih marah sama aku?” Tanya Jovan sekali lagi pada wanita yang terlihat sedikit mabuk. Helena mendengus, ia hembuskan nafasnya kasar kemudian meletakkan kaleng beer tersebut di atas meja.

“Van! Aku tuh kangen sama kamu!”

“Kamu ngerti gak sih?!” Pekik Helena dengan nada tinggi, emosinya sedikit tersulut karena ia merasa Jovan sama sekali tidak peka terhadapnya. Lelaki itu hanya diam sembari menatap lekat dua bola mata Helena. Detik berikutnya Jovan mendekat dan mencium bibir Helena. Ciuman yang di ciptakan oleh begitu lembut, Helena-pun tak menolak bahkan menikmatinya. Semakin lama, ciuman tersebut menjadi lumatkan yang menuntut. Wanita itu merasakan aliran darahnya semakin cepat dan detak jantungnya kian memburu. Bibir Jovan seperti candu baginya.

Perlahan tangan Jovan menurunkan strap dress sembari melumat dan memperdalam ciumannya. Decapan dua bibir yang menyatu terdengar semakin jelas. Libido Helena-pun naik saat tangan-tangan kekar milik Jovan meremas dengan lembut payudara tanpa balutan bra yang menyembul dan mulai menegang.

Tangan Helena melingkar pada perpotongan leher Jovan dan semakin mempererat keduanya.

“A-ahh...” Desahan itu-pun lolos dari bibir Helena, saat Jovan menjilati telinga juga lehernya. Suara desahan wanita itu membuat Jovan semakin terbawa suasana. Tangannya mulai menjamah tiap lekuk tubuh Helena, jemarinya mulai meraba di sela paha hingga menyapa bagian bawah milik Helena yang sudah basah. Bibirnya tak mau diam, melumat payudaranya dan memainkan putingnya yang sudah tegang.

Perlahan jemari Jovan menelusup masuk meraba milik Helena, menggesekkan jari tengahnya pada bibir vagina wanita itu dan sesekali menyentuh klitorisnya. Membuat Helena mendesah sedikit kencang.

“Aa-ahh... Van!” Desah Helena sembari menahan tangan Jovan yang berada di bawah sana. Lelaki itu-pun menghentikan aktivitasnya, keduanya saling menatap lekat dua bola mata yang tampak sayu.

“Hel, bisa gak kita kya dulu lagi?” Tanya Jovan sembari memegang erat tangan Helena.

“Bisa.” Jawab Helena singkat.

“Terus Jeremy gimana?”

“Nanti aku coba bilang ke Ayah dulu, aku jelasin semua. Baru aku bilang ke mama Jeremy pelan-pelan.” Jelas Helena pada lelaki yang membuatnya sedikit berantakan.

Mendengar jawaban itu, Jovan menjadi semakin gusar, ia melucuti dress yang di kenakan Helena dan juga miliknya. Lelaki itu meraih kembali tengkuk Helena lalu melumatnya kasar. Tangannya melebarkan kedua paha wanita itu dan mengusap bibir vaginanya yang sudah sangat basah. Tanpa aba-aba dua jari Jovan melesat masuk ke dalam lubang surgawi milik Helena.

“Aahh...” Desah wanita itu ketika merasakan dua jari Jovan sedang memainkan miliknya. Lelaki itu mengeluar masukkan jarinya dengan tempo sedang. Tangan Helena mencengkeram kuat punggung Jovan sembari mendongakkan kepalanya.

“V-Van... Ahh...” Lenguh wanita itu ketika ia merasakan dua jari milik Jovan berkali-kali menyentuh g-spot miliknya. Ibu jarinya memainkan klitoris dengan sedikit kasar membuat kaki Helena bergetar dan liangnya pun berkedut. Jovan tau pasti wanitanya hendak menjeput pelepasannya lalu mempercepat tempo kocokan di bawah sana hingga tubuh Helena-pun menggelinjang dan kakinya bergetar.

“Ahh... Van!” Desah Helena ketika mencapai puncak orgasm-nya. Jovan tersenyum tipis lalu mengecup singkat bibir Helena. Lelaki itu-pun menggendong Helena dan membawanya ke atas ranjang besar lalu menindih tubuhnya. Keduanya saling bertatapan cukup lama.

“Van..”

“Hm?”

“Aku mau kamu.” Ucap Helena sembari menetralkan nafasnya.

Jovan lalu melebarkan kedua paha wanita itu, mengusapnya kembali kemudian ia turun ke bawah dan mensejajarkan wajahnya dengan milik Helena.

Jovan melumat milik wanita itu, menyusuri dengan lidah, menjilati juga memainkan klitorisnya hingga membuat Helena terus mendesah kencang.

“Van! Stophhh!

Lelaki itu-pun berhenti dari aktivitasnya lalu menatap lekat dua manik mata wanita yang ia rindukan. Jovan kemudian naik ke atas dan menindih tubuh Helena. Ia mengecup bibir wanita itu sebelum melesatkan batang miliknya yang sudah tegang sedari tadi.

“A-ahh...” Desahnya ketika Jovan menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Kedua tangan Helena merangkul tubuh Jovan dan mencengkeram kuat saat lelaki itu menghentakkan keras pinggulnya. Desahan keduanya saling bersahutan memenuhi ruangan. Jovan menatap raut wajah Helena yang penuh dengan peluh tetapi terlihat sangat cantik, tak ada yang berubah dari wanita itu.

“V-van..”

“Hm? You wanna cum, babe?” Tanya Jovan ketika ia merasakan milik Helena mulai berkedut dan mengetat. Kepunyaan Jovan juga terasa sesak disana. Sebentar lagi lelaki itu-pun akan menjemput pelepasannya.

Helena mengangguk lalu memeluk tubuh Jovan semakin erat. Bibirnya terus mengeluarkan desahan-desahan keras hingga keduanya mencari puncak orgasm-nya secara bersamaan.

Jovan memeluk erat tubuh Helena, lalu mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.

“Van, kamu gak pulang kan?” Tanya Helena di sela pelukannya.

“Hm? Kamu mau aku tidur di sini?” Jovan mencoba memperjelas ucapan wanita itu.

“Iya, aku masih pengen peluk kamu Van, aku masih pengen kya gini terus.” Pinta Helena pada Jovan.

“Iya aku tidur di sini, temenin kamu.” Kata Jovan sembari mengecup pucuk kepala Helena.

Keduanya-pun berpelukan erat, saling memberi kehangatan hingga menjemput mimpi.

“Jov, bisa ngobrol bentar?”

Jovan tak memberikan jawaban apapun, ia lalu keluar dari kamar Nathalie kemudian di susul Jeremy berjalan di belakangnya, menutup pintu perlahan sebelum akhirnya mengikuti Jovan ke ruang tengah.

Obrolan dua lelaki ini mungkin pertama kalinya terlihat serius. Jovan duduk di sofa dengan posisi melipat dua tangannya di depan dada, sedangkan Jeremy duduk berhadapan dengan Jovan dan berusaha tenang, tak mau terpancing dengan situasi saat itu. Raut wajahnya pun terlihat tak ada secuil amarah disana.

“Nathalie udah baikan kok, tadi udah minum obat dan sekarang udah tidur. Lo gak perlu khawatir.” Jelas Jeremy menetralkan suasana.

“Tadi Nathalie kenapa bisa di rumah sakit?”

“Dia tadi liat mama kecelakaan, Nathalie ikut ke rumah sakit. Dia donorin darahnya buat mama juga atas kemauan Nathalie sendiri.”

“Gue taunya waktu udah sampai rumah sakit.” Lanjut Jeremy menjelaskan secara detail kejadian saat itu. Ia tak mau menjadi salah paham antara keduanya.

Mereka lalu terdiam untuk beberapa saat dan saling membuang pandangan.

“Lo masih sayang sama Nathalie Jer?”

“Kya nya gue gak perlu jawab juga harusnya lo tau Jov.” Jawab Jeremy dengan nanda santai.

Jovan kembali terdiam.

“Lo sama Helena gimana?” Tanya Jeremy.

“Kalau emang masalah lo sama Helena belom kelar, kelarin dulu aja. Tapi kalau lo beneran sayang sama Nathalie, tolong jagain dia, jangan pernah nyakitin bahkan ninggalin Nathalie.” Lanjut Jeremy.

“Gak tau Jer, gue ngerasa bingung sekarang.” Ucap Jovan sembari memegangi kepala dengan kedua tangannya.

“Gue udah nyaman sama Nathalie, sayang sama dia. Tapi waktu gue ngerasa Nathalie jaga jarak, disitu Helena dateng.”

“Gimana perasaan lo saat hubungan lo sama seseorang gak pernah ada kata putus, lost contact gitu. Dan tiba-tiba dia dateng lagi di hadapan lo.” Ucap Jovan.

Jeremy hanya diam, begitu juga Jovan. Beberapa kali Jovan terlihat melirik arloji yang menempel di tangan kirinya.

“Lo ada janji?” Tanya Jeremy tiba-tiba.

“Iya, sama Helena.” Jawab Jovan singkat dan jelas.

“Ya udah, lo temuin Helena. Gue temenin Nathalie disini.” Ujarnya. Jovan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi. Jeremy pun beranjak dari sana lalu berjalan masuk ke kamar Nathalie.

Nathalie duduk sendirian, wajahnya pucat, tubuhnya lemas juga pakaian yang ia kenakan pun masih basah. Ponsel di tangannya habis daya, dan tak bisa menghubungi siapapun termasuk memesan taksi online untuk pulang. Ia sandarkan kepala pada tembok di belakangnya, di pejamkan matanya barang sebentar saja. Tubuhnya lelah, ia ingin tidur, bahkan pandangan matanya pun sudah kabur. Sekitar lima belas menit berlalu, Jeremy tiba di rumah sakit dan bertemu Nathalie.

Lelaki itu berlari kecil menghampiri Nathalie yang sedang duduk sendirian dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Blouse berwarna broken white basah yang terlihat sedikit lusuh serta terdapat beberapa bercak darah disana nampak begitu memprihatinkan bagi yang melihatnya, begitupun Jeremy. Lelaki itu kemudian duduk di sebelahnya.

“Nath, terimakasih banyak ya.. Kalau gak ada kamu, gak tau lagi deh nasib mama gimana.” Ucap Jeremy ketika tau Nathalie yang mendonorkan darahnya. Jeremy mengusap lengan gadis itu dan hanya di jawab dengan senyum tipis.

“Kamu sampai basah-basahan kya gini? Ayo pulang, aku anterin.” Pinta Jeremy sembari mendekap tubuh gadis itu dan membantunya berdiri.

Selama di perjalanan gadis itu hanya diam dan Jeremy pun menjadi tampak canggung. Sesungguhnya Nathalie diam karena ia merasakan pandangannya seperti berputar dan tubuhnya lemas. Setibanya di apartemen, lelaki itu mengantarkannya hingga unit milik Nathalie. Setelah memasuki unit tersebut, baru beberapa langkah tiba-tiba gadis itu menarik lengan Jeremy.

“Jer... Aku pusing banget, kya muter gitu..”

Jeremy dengan raut wajah yang sedikit panik lalu menggendong gadis itu ke kamarnya, lalu merebahkan tubuh Nathalie di atas ranjang. Lelaki itu kemudian membantu Nathalie mengganti pakaiannya yang basah, mengusap rambutnya juga pipinya. Keduanya seakan mengingat kembali beribu-ribu kenangan yang pernah di lalui. Ruangan itu, saksi dimana dua insan ini mencurahkan segala kerinduan, canda tawa yang menghiasi tiap cerita cinta mereka.

“Nath, kamu tidur ya.. Aku tungguin. Nanti aku pulang kalau kamu udah tidur.” Pinta Jeremy. Gadis itupun mengangguk dan memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman. Jeremy berkali-kali mengusap tangan Nathalie untuk menyalurkan kenyamanan dan kehangatan. Dua puluh menit setelah gadis itu menjemput mimpi, Jeremy masih menemani Nathalie. Ia belum juga beranjak dari sana, lelaki itu tak puas memandangi wajah cantik Nathalie yang selalu ia rindukan. Tangannya mengusap lembut pipi gadis itu sambil berbisik lirih.

“Nath, aku kangen...”

Tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkan Jeremy.

klek.....

Dua lelaki saling bertatapan.

“Lo udah lama disini?”

Awan hitam membumbung menutup sebagian langit biru. Siang menjelang sore yang awalnya cerah dan terik pun meredup perlahan. Air langit tiba-tiba turun membasahi bumi, aroma khas pun tercium menyengat.

Hujan? Gue gak bawa payung, neduh dulu kali ya?” Batin Nathalie kala itu.

Terlihat beberapa orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Aspal kering dan panas pun berubah menjadi basah dan licin. Banyak para pengendara motor tanpa menggunakan jas hujan memacu kendaraan lebih cepat agar terhindar dari hujan.

Nathalie membangun angan diatas lamunan siang itu. Diantara bulir-bulir air langit yang mengucur menyejukkan ibu kota. Beberapa menit gadis itu larut dalam khayalan namun terpecah oleh suara benturan yang begitu keras.

Bruukkk......

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengalami kecelakaan tunggal. Menabrak pembatas jalan dan terguling akibat menghindari penyeberang jalan. Teriakan histeris dari berbagai arah saksi insiden siang itupun membuat suasana sendu berubah mencekam.

Beberapa orang disana berlarian menghampiri mobil tersebut, ada juga yang membantu mengatur jalan agar tidak menimbulkan kemacetan. Secara reflek Nathalie menuntun langkah kakinya mendekat ke tempat terjadinya kecelakaan. Ia tak peduli hujan yang lambat laun membasahi tubuhnya, Nathalie ingin tau siapa wanita di balik kemudi itu.

Deg!

Jantung gadis itu seperti lepas dari tempatnya, tempo detaknya pun kian cepat kala ia mengenali sosok di dalam sana. Ia menyaksikan sesosok wanita tak sadarkan diri. Di pelipis juga beberapa bagian tubuhnya mengalir darah segar. Nathalie berteriak histeris seraya menutup separuh wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia berusaha masuk ke dalam kerumunan, namun beberapa orang menahannya.

“Pak, saya kenal ibu ini! Pak! Tolong selamatkan beliau!” Pekik Nathalie menahan air mata yang hampir tumpah.

“Mbak! Kamu gak boleh dekat-dekat!” Ucap salah satu orang disana. Namun Nathalie tetap nekat.

“Pak, saya kenal keluarganya! Tolong pak...!” Air mata yang tertahan pun akhirnya tumpah, dadanya terasa sesak. Nathalie jelas mengenalnya, wanita paruh baya yang kala itu secara terang-terangan menentang hubungan dengan anak laki-lakinya.

Tak lama mobil ambulan tiba disana dan membawa wanita paruh baya tersebut ke rumah sakit. Karena Nathalie mengenalinya, ia di ijinkan ikut dengan ambulan.

Nathalie terus memandangi raut wajah pucat wanita yang terbaring lemah itu. Air matanya masih saja menetes membasahi pipinya, tangan wanita itu ia genggam erat. Dalam hatinya mengucapkan doa sebanyak-banyaknya.


Rumah Sakit

Nathalie duduk di ruang tunggu dengan perasaan cemas dan kalut. Telapak tangannya dingin juga pakaiannya basah. Berkali-kali menghubungi Jeremy lewat telepon tetapi tak di jawab. Ia pun berinisiatif mengirimkan pesan pada lelaki itu, memberi tau bahwa ibunya berada di rumah sakit karena kecelakaan.

Gadis itu menatap layar ponselnya, terlihat ikon daya pada sudut kanan atas menunjukkan isi baterai tersisa 4%.

Aduh lowbatt.” Gumamnya dalam hati. Tak berapa lama ia di hampiri seorang dokter. Ibu Jeremy akan segera di operasi namun membutuhkan pendonor dengan golongan darah dan resus yang sesuai dengannya. Kebetulan persediaan darah di rumah sakit tersebut sedang kosong, sehingga pihak keluarga harus mencari sendiri. Tanpa pikir panjang Nathalie menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya karena kebetulan sama. Saat ini yang terbesit dalam otaknya adalah keselamatan wanita tersebut. Ia tak mempedulikan rasa sakit yang dulu pernah di goreskan kala hubungannya di tentang bahkan seperti tak punya harga diri. Ia buang jauh rasa sakit itu, pun kini Nathalie mengubur dalam-dalam rasa dendam.

Special Halloween


Suasana makan malam terasa lebih hangat ketika Jordan ikut bergabung dengan keluarga Nada. Meskipun kali pertama tetapi kedua orang tua Nada sudah sangat akrab dengan Jordan. Lelaki yang berhasil mencuri hati Nada ini memang sangat humble, dengan senyum yang selalu lekat di wajahnya membuat Jordan terlihat seribu kali lebih tampan dari biasanya.

Di tengah aktivitas menikmati santapan malam itu sesekali Jordan mencuri-curi pandang ke arah gadis yang ada di hadapannya dan di balas dengan kode-kode nakal oleh Nada. Gadis itu meraba kaki jenjang Jordan menggunakan ujung kakinya, mulai dari betis lalu naik ke lutut hingga bagian paha Jordan hingga membuat lelaki itu merasa resah. Ia tak menyangka Nada yang terlihat seperti gadis polos pada umumnya ternyata cukup liar menggodanya di tengah makan malam bersama keluarga gadis itu.

Tak berapa lama setelah menyelesaikan makan malam, orang tua Nada menyiapkan keperluan untuk barbeque di halaman rumahnya. Jordan sudah mengenakan kostum polar bear dengan syal berwarna merah yang melingkar di lehernya terlihat sangat lucu. Awalnya Jordan ikut membantu menyiapkan bahan-bahan untuk hidangan barbeque namun ketika lelaki itu terlihat kesusahan karena kostum yang di ia kenakan, papa Nada menyuruhnya duduk di dalam saja agar menemani Nada dan Nando melihat tayangan di televisi.

Nando fokus dengan menyaksikan film cartoon kesukaannya sembari menyantap camilan yang ia dekap sedari tadi. Jordan duduk diatas sofa dan masih mengenakan kostum polar bear yang sedikit membuatnya gerah. Lalu apa yang sedang di lakukan Nada? Gadis itu mondar mandir di depan Jordan mencari perhatian lelaki yang sedari tadi mengamatinya. Nada memang sengaja memancing Jordan, ia hanya mengenakan tanktop warna hitam dan mini skirt dengan warna senada. Lekuk tubuh gadis itu sangat sexy dan menggoda, tetapi Jordan yang secara terang-terangan di pancing birahinya oleh Nada mencoba tenang meskipun kejantanannya sedang tidak baik-baik saja.

Tak lama, Nando meminta kakak perempuannya untuk mematikan lampu utama agar lampion-lampion berbentuk labu itu lebih terlihat menyala. Nada pun menuruti permintaan adiknya, ia mematikan lampu utama dan terlihat ruang tengah menjadi gelap. Hanya beberapa sudut ruangan saja yang terlihat sedikit terang.

Sudah sangat gerah dengan tingkah Nada juga suasana gelap sangat mendukung untuk melakukan aksi nakalnya, Jordan menarik tangan gadis itu hingga tubuhnya ambruk diatas pangkuannya. Bokong Nada menempel tepat diatas kepunyaan Jordan yang sudah menegang dan keras. Gadis itu merasakan tonjolan penis Jordan di balik kostum polar bear yang mengganjal di sela bokongnya.

Bukan Nada namanya jika tidak usil, gadis itu sengaja menggesekkan miliknya dengan kepunyaan Jordan hingga membuat lelaki itu sedikit mengerang.

“Eghh... Nad, nanti di liat Nando.”

Gadis itu seakan tuli, ia tak peduli dengan ucapan Jordan malah semakin gencar memutar pinggulnya dan menukik, menekan kepunyaan Jordan membuat sang empu meringis kesakitan.

“Na-d... Sakit tau...”

Nada hanya terkekeh. Tak mau kalah dengan gadis yang ada di pangkuannya, Jordan menarik tubuh Nada agar lebih menempel padanya dan memudahkan tangan lelaki itu bergerilya untuk membalas kekasihnya. Tangan nakal di balik kostum berwarna putih itu meremas payudara Nada dari belakang, sedangkan tangan satunya menjamah bagian bawahnya.

Babe... Do you like a dare?” Bisik Nada lirih.

“Ha? What is this?

Nada mengambil gunting di dalam laci kemudian merobek kostum polar bear pada bagian bawah.

“Nad! Ini aku sewa loh, kenapa di rusak?”

“Ssssttt....” Sembari menempelkan jari telunjuknya pada bibir Jordan. Nada berubah menjadi sangat binal malam itu, ia melepaskan celana dalamnya hingga lutut dan siap memacu adrenalin di ruang tengah yang cukup terbuka itu. Nada meloloskan kepunyaan Jordan yang sudah mengacung, mengusap perlahan lalu mengarahkan pada miliknya.

“A-ahh...” Desahan lirih yang tertahan itupun lolos dari bibir Nada. Pinggulnya naik turun sangat lincah dengan tempo sedang dan sesekali ia hentakkan bokongnya hingga penis besar milik Jordan itu terasa mentok. Dua tangan lelaki itu memegangi pinggul Nada, membantu menggerakkan sesuai tempo.

Nada merasakan nikmat luar biasa ketika penis kekasihnya ini berkali-kali menabrak titik g-spot miliknya. Desahan-desahan lirih terdengar samar tertutupi oleh suara televisi. Jordan sesekali melirik ke samping, dalam hatinya sangat was-was. Ia takut jika mama atau papa Nada masuk ke ruang tengah lalu menyaksikan dirinya dan gadis itu tengah bermain gila secara terang-terangan. Baru saja setengah jalan dua sejoli ini mengejar kenikmatan, tiba-tiba terdengar suara sang mama sayup-sayup memanggil Nando.

“Nando.. Ini udah matang...”

“Ya maaaaa....”

Seketika Nada menghentikan aktivitasnya. Nafasnya terengah-engah, kakinya pun bergetar ketika ia hendak menjemput pelepasannya tetapi malah suara sang mama membuyarkan konsentrasinya.

Nando lalu beranjak dari duduknya dan hendak menyusul orang tuanya yang berada di halaman untuk menyantap barbeque. Sebelum akhirnya keluar dari ruang tengah, Nando berhenti dan memperhatikan kakak perempuannya yang duduk diatas pangkuan polar bearnya.

“Kak, kenapa polar bear Nando di dudukin?”

“Ka-kakak pinjam bentar ya dek...” Suara Nada sedikit terbata karena sedang menetralkan nafas juga menjawab pertanyaan yang di lontarkan adik laki-laki nya itu.

Nando hanya mengangguk saja lalu pergi meninggalkan kakak perempuannya dan Jordan disana. Melihat Nando sudah hilang dadi pandangan matanya, dua sejoli ini kembali melanjutkan aktivitas gilanya.

Come on, babe...” Bisik Jordan lirih di telinga Nada. Gadis itupun menggerakkan kembali pinggulnya, naik turun dengan tempo yang cepat. Ia kembali memburu rasa nikmat yang sempat hampir sampai pada titik puncaknya. Penis milik Jordan menembus liang surgawi milik Nada, hingga berkali-kali menyentuh g-spot di dalam sana.

Babe... A-ahh... I wanna cum ahh...”

Let's go...” Dua tangan Jordan membantu menggerakkan pinggul kekasihnya yang sudah mulai kelelahan, namun sebentar lagi mencapai puncak orgasmenya. Desahan gadis itu semakin lama terdengar jelas berasal dari ruang tengah. Pada hentakan ke tiga, Jordan dan Nada mencapai titik klimaksnya berbarengan dengan suara sang mama yang terdengar sayup-sayup memanggil namanya.

“Nad... Keluar dulu, ajak Jordan.” Suara wanita paruh baya itu terdengar dari kejauhan.

“I-iya maaaa, bentar.” Jawab gadis itu seraya merapikan kembali bajunya. Jordan mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan milik Nada juga miliknya dan membantu kekasihnya mengenakan celana dalamnya.

“Nad, kamu nakal banget sih? Kostumnya rusak nih...”

“Hehe... Maaf babe... Abisnya kamu gemes banget aku gak tahan...”

“Dasar!” Balas Jordan sembari mencubit pipi Nada. Gadis itu lalu berdiri dan menggandeng tangan Jordan untuk keluar menyusul pesta barbeque di depan rumahnya. Baru beberapa langkah, Jordan sadar bahwa kostum yang ia kenakan berlubang tepat di bagian bawahnya.

“Nad, aku keatas dulu ya? Ganti baju. Gak mungkin aku pakai kostum berlubang disini...” Ujarnya sambil menunjuk bagian yang berlubang.

Nada terkekeh melihat kekasihnya mengenakan kostum polar bear yang sangat berantakan karena ulahnya. Gadis itupun segera keluar menuju halaman rumah meninggalkan Jordan yang tengah berganti pakaian. Tanpa di sadari keduanya, ada seseorang di balik jendela yang sedari tadi memperhatikan aktivitas mereka. Siapa dia???


END

Hi... Give me a feedback guys!