Why?
Setelah Nathalie memasuki mobil Jovan lalu keduanya segera melaju meninggalkan area kantor untuk pulang. Menjelang senja jalanan ibukota macet seperti biasanya. Dua insan ini tampak diam, masih sama seperti pagi tadi.
Selama dua puluh menit perjalanan mereka tanpa suara. Nathalie sibuk dengan ponselnya, sedangkan Jovan fokus pada kemudinya sampai pada akhirnya tiba di depan apartemen Jovan. Mobilnya melaju perlahan dan berbelok ke kiri memasuki basement. Nathalie baru saja sadar bahwa ia tidak di turunkan di depan gedung apartemennya melainkan Jovan membawanya ke apartemen milik lelaki tersebut.
“Jov... Ini kan—”
“Hm.. Kalau gak liat jalan, sibuk sama hp ya gini akibatnya.”
“Ayo turun dulu.” Lanjut Jovan yang turun dari mobil lalu berjalan meninggalkan Nathalie yang masih linglung dibuat oleh lelaki itu.
Akhirnya Nathalie turun dari mobil dan mengikuti Jovan sedikit terburu-buru karena merasa tertinggal. Di dalam lift pun mereka masih saja tak bicara sampai langkah mereka mengantarkan pada unit apartemen milik lelaki tersebut.
“J-jov—”
“Mandi dulu, baju ganti masih ada beberapa di lemari.”
“Tapi—”
“Gak ada kata tapi, gak ada penolakan atau aku marah.” Ucapnya dengan sorot mata tegas kearah gadis itu.
Nathalie pun menuruti apa yang di perintah oleh lelaki tersebut. Ia masih bingung dengan sikap Jovan kali ini namun ia berusaha netral dan tak mau melihat Jovan marah.
Lima belas menit setelahnya, gadis itu keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap. Mengenakan hotpants dan kaos oversize berwarna putih bergambar Chicago mirror bean pada bagian belakang. Tanpa saling bicara lalu Jovan bergantian menggunakan kamar mandi di kamarnya. Lelaki itu hanya menaikkan alisnya sewaktu berjalan melewati Nathalie, namun gadis tersebut tidak tau Jovan sedang memberi kode apa.
ting tong....
Bel berbunyi nyaring, Nathalie sedikit berlari kearah pintu lalu membukanya. Seorang lelaki mengantarkan pesanan makanan. Nathalie kemudian menyiapkan makanan tersebut di meja makan, tak lama Jovan keluar dari arah kamar. Ia hanya mengenakan boxer dan kaos oblong berwarna putih, hampir sama dengan yang di pakai Nathalie. Keduanya terlihat seperti sengaja berpakaian couple.
“Makan dulu yuk, aku laper banget..” Ajak Jovan sambil menarik satu kursi di samping Nathalie. Gadis itupun duduk di kursi tersebut seraya memandangi Jovan yang terkesan aneh.
“Jovan, ini mak—”
“Makan dulu, nanti ngobrolnya.”
Teguran Jovan pun membuat gadis itu sontak terdiam. Nathalie menuruti semua yang di katakan Jovan, ia sama sekali tak bisa menolaknya. Keduanya lalu menikmati makan malam dalam keadaan hening. Dalam hati gadis itu sesungguhnya resah, ia tak tau apa yang akan Jovan lakukan setelah ini. Tetapi ia terus berpikir semua akan baik-baik saja, Jovan tidak akan berbuat hal aneh kepadanya.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, meletakkan piring serta gelas kedalam wastafel dan mencuci tangannya lalu Jovan menggandeng tangan Nathalie dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Membawanya pada sofa yang berada di depan ranjang.
Jovan memandang wajah Nathalie tanpa berkedip barang sedetik pun, lalu menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinganya. Senyum tipisnya menghiasi bibir manis Jovan. Nathalie pun reflek menengok kearah Jovan dan memandang lekat wajah lelaki yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
“Nath... Kenapa seharian kamu diam aja? Gak cuma aku yang ngerasa tetapi Nico sampai bilang gitu juga ke aku..”
“Why?“
“Helena?” Tanya Jovan sekali lagi.
Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan dan sedikit berat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jovan.
“Dari yang aku tangkap, kya nya kamu belum selesai sama Helena..”
“Aku gak tau ini benar atau salah, tapi yang aku liat dari raut wajahmu kemarin itu keliatan banget kalau ada sesuatu diantara kalian.”
Mendengar kalimat yang di lontarkan gadis itu, Jovan dengan spontan menggenggam erat tangan Nathalie. Yang di katakan tak ada yang salah. Hanya saja Jovan tidak bisa menutupinya dengan sempurna sampai Nathalie pun bisa merasakannya.
“Nath.. Helena emang mantan pacar ku. Kami gak pernah ada kata putus sampai akhirnya lost contact. Wajar kan kalau aku kaget waktu ngeliat dia lagi??”
“Mm.. It's oke Jovan.. Gak masalah buat aku. Misal kamu masih sayang sama Helena, kejar dia...”
“Nath...”
“Jovan, i'm fine.. I'm strong.. Tanpa siapapun aku bisa sendiri.” Ucapnya seraya melempar senyum simpul pada Jovan. Lelaki yang berada di hadapannya seperti membeku. Lalu menarik tangan Nathalie dan membawanya masuk kedalam pelukannya. Jovan mengusap perlahan punggung gadis itu, memberikan kehangatan padanya. Detik kemudian Nathalie melepaskan pelukan tersebut.
“Nath, kamu gak mau nikah sama aku?”
Gadis itu hanya tersenyum. Wajahnya sendu.
“Kalau kita gak yakin kenapa harus di paksa Jov...”
“Tapi aku sayang sama kamu Nath...”
“Tapi sekarang hatimu udah terbagi Jovan...”
Kalimat yang di ucapkan Nathalie tersebut membuat Jovan terdiam. Lelaki itu masih mencari-cari jawaban atas pertanyaannya sendiri, apa benar sekarang hatinya goyah setelah bertemu dengan Helena???
Menit berikutnya tangan Jovan menarik perlahan tengkuk gadis itu lalu menciumnya. Nathalie tak menolak, ia pun membalas ciuman tersebut. Sangat hangat. Nathalie menikmatinya, dan mungkin berpikir bahwa ini adalah ciuman terakhir dari Jovan untuknya.