Birthday Gift

Ulang tahun Elissa kali ini memang tak seperti tahun kemarin. Tahun lalu ia merayakan peringatan hari lahirnya bersama keluarga besar, sedangkan sekarang ia hanya merayakan dengan sang pujaan hati saja. Keluarga Elissa bertolak ke Singapore untuk waktu yang lama karena sedang mengelola bisnis keluarga.

Pukul 23:45 Jodie belum tiba di apartemen padahal lima belas menit lagi peringatan hari lahirnya akan segera usai. Elissa mengerucutkan bibirnya sambil mengaduk kopi dalam cangkir, sebal. Dua telinganya seakan tuli oleh airpods yang terpasang mengalunkan lagu R&B kesukaannya. Ia lirik ponsel yang berada di sebelah kanan cangkir berisi kopi favoritnya. Tetapi tak ada tanda-tanda Jodie akan segera datang ke apartemen padahal sudah hampir lewat tengah malam.

Elissa menyeruput kopi seraya membalikkan tubuhnya dan tap! jantungnya seakan lepas. Kopi yang hendak ia minum tanpa sengaja tumpah membasahi tanktop crop juga tenggorokan sedikit tersedak karena tiba-tiba Jodie berada di belakangnya entah sejak kapan. Lelaki itu berdiri dengan melipat dua tangannya di depan dada sambil bersandar pada mini bar.

“Ah!! Jodie panass..!!” Pekik Elissa sembari tangannya mengibas tumpahan kopi pada tanktopnya.

Jodie kemudian melangkah pelan menghampiri kekasihnya, ia ambil cangkir kopi yang berada di tangan kiri gadis itu lalu meletakkan di kitchen counter tepat di belakang Elissa. Juga melepas airpods yang menempel di telinganya.

Gadis itu masih panik dengan tumpahan kopi panas yang membasahi tanktop juga kulitnya.

“Sini, dilepas aja biar gak panas..” Perintah Jodie, dua tangannya pun meraih ujung tanktop dan menariknya keatas. Elissa menurut saja padahal ia sama sekali tak mengenakan bra. Tentu saja dua gundukan payudara miliknya menyembul dan cukup menggoda lelaki yang berdiri di hadapannya itu.

Wait babe... Aku ambil baju dulu di dalam.” Ujarnya sambil menutupi payudaranya dengan dua tangan.

Senyum seringai Jodie tersirat jelas pada bibirnya menandakan Elissa masuk dalam permainannya. Kemudian menarik lengan kekasihnya dan menahan tubuh Elissa agar tak bergerak kemanapun.

“Coba liat, perih ya? Sampai merah gini..” Ucap Jodie sambil menatap dua gundukan sintal yang sudah menjadi mainannya sehari-hari.

“Diem bentar, aku tiupin ya...”

“Jo-jodie....”

Hembusan nafas yang keluar dari bibir Jodie menembus ruam pada kulitnya begitu sejuk. Lelaki itu dengan sengaja meniupnya berkali-kali hingga membuat Elissa bergidik, merinding seketika.

Putingnya pun perlahan mencuat akibat deru nafas Jodie lama kelamaan kian berat. Elissa dengan spontan menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya. Sepertinya hembusan nafas Jodie membuatnya terangsang.

Jodie sadar akan hal itu lalu tersenyum miring, sesegera mungkin mencuri kesempatan yang ada. Lelaki itu mendaratkan kecupan berkali-kali keatas permukaan kulit Elissa yang memerah, lalu perlahan turun dan berhenti pada puting kekasihnya. Tak ada sepatah katapun dari Jodie maupun Elissa, lalu dengan sangat pelan dan lembut Jodie melumat dan menjilat puting kekasihnya membuat libido Elissa naik. Bahkan mungkin yang di bawah sana sudah basah.

“Mmphh.. Jo...” Lenguhan pertamanya lolos dari bibir ranum milik Elissa, tubuhnya merespon rangsangan yang diciptakan oleh kekasihnya.

Jodie hanya melirik sebentar lalu melanjutkan aktivitasnya. Melumat payudara sebelah kiri, menjilat dengan sensual dan yang sebelah kanan, jari-jarinya sibuk memilin puting susu milik Elissa hingga desahan pun lolos, lagi.

“Nghh... A-ahh...”

Tangan Elissa dengan sengaja meremas rambut lelaki di hadapannya ketika masih sibuk dengan dua payudaranya juga tangan Jodie yang mulai nakal meraba permukaan vagina miliknya yang masih terbalut celana dalam. Bagaimana Jodie bisa menahan nafsunya ketika melihat Elissa sedari tadi hanya menggunakan tanktop crop tanpa bra dan celana dalam saja sebelum akhirnya ia berhasil menjamah tubuh kekasihnya.

Babe... Hhhh... Emang mau di dapur?” Tanya Elissa dengan nafas yang mulai tak beraturan.

Why not?” Timpal Jodie dengan tatapan sangat mengintimidasi.

“T-tapi kond0m yang kamu beli ada di kamar.”

“Gak usah pakai kond0m sayang, aku mau langsung aja..” Ujarnya sambil mengecup bibir Elissa.

Jodie kemudian melepaskan celana dalam milik kekasihnya lalu melempar ke sembarang arah hingga menampilkan tubuh Elissa tanpa sehelai benang pun.

Don't move, I'll make you fly babe...” Suara parau Jodie juga hembusan nafas yang mulai berat membuat Elissa kembali bergidik. Lelaki di hadapannya itu lalu berjongkok di sela dua kaki Elissa. Ia meraih kaki kiri gadisnya lalu mengangkat dan diletakkan diatas pundaknya.

Tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu, lelaki berperawakan tinggi tersebut gencar melakukan aksinya. Jarinya melebarkan bibir vagina milik Elissa kemudian menggesek dengan jari tengahnya hingga mengenai klitoris kekasihnya membuat sang empu mendesah karena nikmat.

“Aah... J-Jodie...”

Menit berikutnya jari tengah Jodie melesat masuk kedalam lubang milik Elissa disusul dengan jari telunjuknya, sangat mudah karena lubang vagina gadis itu sudah sangat basah. Ia gerakkan perlahan dan ia mainkan klitoris Elissa dengan lidahnya.

“Mmphh... Aahh... Jodie... Disituuhh...” Desahan Elissa membuat sang kekasih semakin gencar memainkan titik sensitif pada gadis itu. Sensasi lidah Jodie selalu bisa membuatnya terbang melayang juga jemarinya sangat mahir mengobrak-abrik lubangnya hingga mencapai titik klimaksnya.

“Ahh... M-mau cumhh.. Babe...”

Come on, babe...” Ucapnya di sela memainkan klitoris Elissa. Jari-jari panjang milik lelaki itu tepat berkali-kali menyentuh titik g-spot Elissa hingga cairan putih mengucur tanda pelepasannya yang pertama.

Jodie yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya bergegas melucuti bagian bawahnya saja. Ia sudah tak sabar ingin menikmati lubang surgawi milik kekasihnya. Penis besar dan panjang miliknya sudah siap kembali mengobrak-abrik kepunyaan Elissa.

Lelaki itu meraih tengkuk kekasihnya, ia lumat dengan ganas bibir ranum Elissa. Tangannya pun meremas kuat payudara dan memilin putingnya yang sudah mencuat kencang. Jodie memang tak pernah gagal membangkitkan nafsu birahi Elissa bahkan lelaki itu mampu membuatnya klimaks berkali-kali.

Setelah puas melumat bibir kekasihnya, kini Jodie membalikkan tubuh Elissa yang bertumpu pada kitchen counter.

Doggy style, oke?” Ucap Jodie sambil menepuk keras bokong sintal milik kekasihnya.

“AHHH... Please babe...”

Tak perlu lama, Jodie melesatkan penisnya kedalam lubang milik Elissa hingga penuh. Penis besar dan berotot itu terasa sesak, karena lubang vagina gadis itu sangat sempit hingga kenikmatan yang dirasakan Jodie pun memuncak hingga ubun-ubunnya.

“Ughh... Sempit banget El, i like it!” Ucapnya di sela-sela menghujam lubang milik Elissa. Tangan kirinya mencengkeram surai panjang kekasihnya lalu tangan kanannya sibuk memainkan klitorisnya hingga membuat lutut Elissa bergetar seakan tak kuat menopang tubuhnya sendiri.

“Nghhh... Aahhh... Cepetin Jo!”

Why? You want to cum again??

Yes babe...”

Jodie lalu melepaskan rambut Elissa, membiarkannya terurai. Kemudian ia menarik tubuh gadis itu kebelakang hingga sedikit tegak. Dengan sangat nakal Jodie mencium juga menjilati leher gadis itu membuat tubuh Elissa bergetar, hendak mencapai pelepasannya yang ke dua.

“Baru sebentar aja udah mau cum lagi babe? Lemah...”

“Gimana nanti kalau seminggu full?” Ledek Jodie dengan senyum seringai khasnya. Lelaki itu selalu menang dalam permainannya bersama Elissa.

“Ouwh... Fuck babe, fasterrhhh...”

“Barengan sayang, aku mau tembak dalam...”

Jodie terus menghujani lubang milik Elissa dengan cepat, sesekali di hentakkan kuat-kuat membuat gadis itu mendesah keras karena nikmatnya hentakan penis Jodie selalu tepat menghantam titik g-spotnya.

“Aahhhh...”

“Eghhh...”

Desahan keduanya. Pada hentakan ke tiga, secara bersamaan keduanya mencapai klimaks. Cairan milik Elissa juga sperma Jodie menyembur dan menyatu di dalam sana hingga mengucur keluar dari sela paha gadis itu karena terlalu banyak hingga lubangnya pun tak sanggup menampung cairan tersebut.

“Ah.. Jo, kakiku lemas...” Keluh Elissa sembari mengalungkan kedua tangannya pada leher sang kekasih.

“Lemah.. Tapi sombong mau service seminggu full..” Ujarnya sambil mendaratkan ciuman singkat pada bibir Elissa.

“Canda babe...” Balas gadis itu dengan wajah yang memelas juga rambut yang berantakan.

“Ingkar janji itu namanya...” Timpal Jodie terkekeh sambil mengangkat tubuh kekasihnya. Ia gendong ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar menuju kamar mandi.

Jodie lalu menyalakan air pada shower mengatur tuasnya agar air yang mengalir menjadi hangat.

“Abis mandi langsung tidur ya, jangan drakor-an mulu...”

“Kenapa emang?” Tanya Elissa sambil menaikkan alisnya.

There's still one more week...”

SHIT!