The Orphic

Tristan x Laura

Pukul 05:30 Tristan tiba di kediamannya. Ia memarkirkan mobilnya di garasi, lalu masuk melalui pintu depan terlihat rumah tampak begitu sepi.

Perjalanan luar kota yang sangat melelahkan ia tempuh pada malam hari. Bukan tanpa alasan, pesan singkat dari sang istri membuatnya buru-buru ingin segera pulang ke rumah. Maklum saja, dua insan ini adalah pasangan pengantin baru. Tentu saja hasratnya sanggat menggebu.

Sebelum tiba di kamarnya, Tristan menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Terlihat foto pernikahan mereka terpampang jelas menempel di dinding bersebelahan dengan tangga. Ia berhenti sejenak untuk mengamati foto tersebut lalu tersenyum. Tak lama Tristan kembali mengayunkan langkah menuju kamar.

Ia membuka pintu kamarnya sangat pelan, terlihat sosok Laura yang masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pendingin udara terasa menusuk hingga tulang, tentu saja Tristan butuh kehangatan dari istrinya.

Setelah meletakkan tas, handphone serta arloji di atas nakas, ia kemudian merangkak naik ke atas tempat tidur. Laura sama sekali tidak terusik, gadis itu hanya sedikit bergerak pun menyamankan kembali posisi tidurnya.

Tristan yang sudah tidak sabar, melihat kemolekan sang istri yang hanya menggunakan tanktop crop dan celana dalam saja membangkitkan nafsu lelaki tersebut. Ia memeluk tubuh Laura dari belakang, wajahnya menempel pada ceruk leher sang istri dan menghembuskan nafas yang sedikit berat.

Tak perlu lama, Laura menyadari ada sepasang tangan yang sedang melingkar di perutnya. Ia mengusapnya perlahan sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Sayang kamu udah pulang? Cepet banget, katanya lusa?”

I miss you babe... I will make you moan my name....” Ucapnya sambil menggigit manja telinga istrinya.

Laura tersenyum simpul lalu membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan sang suami. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil mengusap pipi Tristan, ia hanya memastikan yang di hadapannya kini benar-benar suami yang ia rindukan.

I miss you babe...” Ucap Laura seraya mendaratkan satu kecupan di bibir Tristan tanda ia benar-benar rindu kepadanya.

“Gimana rasanya ditinggal seminggu?” Tanya Tristan dengan nakal tangannya sudah menerobos masuk kedalam tanktop crop-nya dan menemukan dua gundukan payudara milik Laura.

I hate playing alone with a vibrator! I want more of your dick, babe...

Mata sayu sang istri adalah kode bahwa ia butuh sentuhan dari Tristan. Bayangkan saja satu minggu tanpa sentuhan suaminya membuat Laura kerap kali merasakan sakit kepala juga emosi yang naik turun.

“Ooh.. Okay! My dick is yours...

Tristan lalu mendaratkan ciuman berkali-kali di kening, mata, pipi kemudian terakhir di bibir ranum milik Laura. Ciuman yang penuh dengan kehangatan, lama kelamaan menjadi lebih menuntut. Nafsu yang kian membuncah.

Di sela-sela ciuman panas tersebut, jemari Tristan sudah menjamah di bawah sana. Menembus celana dalam yang di kenakan Laura lalu menyentuh bibir vagina yang sudah lembab dan basah.

“Udah basah aja sayang...”

Laura tersipu malu mendengar perkataan suaminya. Ia lalu meraih tengkuk lelaki tersebut dan kembali melanjutkan ciuman panas. Jemari Tristan sibuk mengobrak-abrik lubang vagina milik istrinya. Ia memasukkan dua jari sekaligus dan menggerakkan secara perlahan. Laura memejamkan kedua matanya tanda menikmati permainan di bawah sana. Pagutan keduanya pun terlepas, Laura mendongakkan kepalanya sembari meremas lengan Tristan. Sungguh nikmat, ini yang di rindukan oleh Laura saat tak bersama suaminya selama satu minggu.

Leher jenjang milik Laura tampak menggoda, tak di sia-siakan oleh Tristan. Ia ciumi juga membuat kissmark hingga merah kebiruan.

“Mmphh...” Lenguhan pun lolos dari bibir Laura, tubuhnya mulai menggeliat merasakan dua jari Tristan yang masih sibuk mengocok lubang kenikmatan miliknya.

“Nghh.. Aahh... Fasterr babe...”

“Aahh... Di situ sayang, enakhh.. Aahh...”

“Disini?” Tanya Tristan sambil menekan kuat jarinya kedalam sana.

“Aahh... Iya sa-yanghh.. Mau cum...”

Lubang vagina gadis itu mulai mengetat, menjepit dua jari milik Tristan tanda pelepasan yang pertama hendak sampai pada puncaknya. Tangan Laura meremat makin keras lengan suaminya sembari mendongakkan kepala dan mendesah kencang saat melepaskan cairan putih dari dalam lubangnya.

“Aaahhh...”

“Enak sayang? Huh?” Goda Tristan pada istrinya sembari mengecup bibirnya.

Laura pun mengatur nafasnya yang tak beraturan sambil membantu Tristan melepas baju juga celananya hingga benar-benar telanjang. Ia tau pasti Tristan pun juga ingin segera memasukkan penisnya ke dalam lubang surgawi.

“Kamu mau diatas atau di bawah?” Tawar Tristan sambil mengelus-elus bokong sintal milik Laura.

I want to WOT babe...

it's oke.. Anything you want.

Laura lalu naik keatas tubuh Tristan. Dengan sengaja gadis itu menggesekkan lubangnya pada penis Tristan yang sedari tadi sudah tegang dan mengeras membuat lelaki tersebut mengerang.

“Ughh.. Babe.. Come on!

Dengan senyum seringai di terlukis jelas di bibir Laura, gadis itu pun meraih penis Tristan, mengelusnya beberapa kali hingga keluar cairan pre-cum sebelum akhirnya melesatkan pada lubangnya sendiri.

“Nghhh.. Aaahh....” Desahan Laura pun lepas begitu saja. Dengan lincah gadis itu menggoyangkan pinggulnya dengan tempo sedang. Ia ingin menikmati penis besar milik suaminya yang selalu memuaskan nafsunya.

Dua tangan Tristan tak tinggal diam, ia raih payudara sintal milik gadis itu dan memainkannya. Sesekali melumat dan menyesap puting susu milik Laura secara bergantian antara kanan dan kiri. Jemarinya pun ikut memilin puting milik Laura yang mencuat kencang.

“Aaahh... Tris-tannhh... Gak ku-athhh...”

“Mau cum lagi sayang? Huh?”

Laura tak menjawab, hanya menganggukkan kepala saja. Matanya terpejam, pinggulnya mulai bergerak cepat tanda ia akan mencapai klimaks untuk ke dua kalinya.

Wait me babe... Ughhh...

Tristan lalu membantu Laura dengan memegangi pinggulnya dan menggoyangkan dengan tempo lebih cepat. Terasa vagina milik Laura mulai mengetat dan berkedut, berbarengan dengan penis Tristan yang membesar memenuhi lubang yang terasa makin sesak.

“Tristanhhh.. Ahhh.. Fuck!

Hentakan ketiga keduanya sama-sama mencapai pelepasannya.

“Aaaahhh....”

“Ouwhhh....”

Keduanya mendesah kencang bersamaan. Tubuh Laura pun tumbang diatas dada bidang milik suaminya. Ia memejamkan matanya dan mulai menetralkan nafasnya.

“Udah enakan sayang?” Tanya Tristan sambil mengusap pucuk kepala istrinya lalu mengecupnya lembut. Dan hanya di jawab dengan anggukan kepala saja.

“Mandi bareng yuk... Aku siapin air hangat di bathup dulu.”

Laura masih saja menjawab dengan anggukan kepala dan senyum simpul di bibirnya.

I love you Tristan...”

I love you too, babe...”

23.20

nut nut nut

cklek.....

Jeremy memasuki unit apartemennya dengan mnenteng satu paperbag berisi beberapa botol minuman. Kenapa ia ingin minum dengan Helena malam ini? Karena ia butuh teman untuk sekedar ngobrol, dan Jeremy bukan orang yang terbuka soal masalah pribadi.

“Lo bawa minuman sebanyak ini?”

“Hm?”

“Eh, sorry jadi panggil lo.. Kamu maksudnya...” Ujarnya nyengir.

“Mau lo, gue ya gapapa Hel, santai aja...”

“Sorry... Beneran gapapa? Kebiasaan sama temen2..”

“Iya gapapa, gak usah canggung. Lebih santai aja.. Gue mandi dulu ya Hel..”

“Mm...”

Jeremy lalu berjalan ke kamarnya dan membersihkan diri. Helena menunggu di ruang tengah sambil melihat tayangan Netflix. Malam itu Helena menyanggupi untuk menemani Jeremy minum, bukan tanpa alasan. Setelah percakapan dengan dua sahabatnya melalui pesan singkat yang menyinggung perihal mantan kekasihnya, membuat gadis itu mengingat kembali masa lalunya. Tentu saja minum adalah healing bagi dirinya.

Setelah selesai mandi Jeremy kembali ke ruang tengah, keduanya duduk di sofa yang sama.

“Kerjaan gimana Hel?” Tanya Jeremy sambil membuka botol minuman tersebut lalu menuangkan pada gelas di hadapannya.

“Kerjaan ya gini-gini aja Jer, lo gimana?”

“Sama. Kerja ya pagi-pagi ngantor, ketemu klien, meeting, gitu aja terus.” Jawab Jeremy seraya memberikan gelas yang berisi minuman kepada Helena.

Gadis itu lalu meneguk minuman di tangannya. Percakapan panjang lebar malam itu tak terasa memakan waktu yang lama. Mulai dari membicarakan tentang pekerjaan hingga masa kuliah dulu. Entah sudah berapa kali putaran hingga pandangan sudah mulai kabur, kepala pun terasa lebih ringan dari sebelumnya.

“Hel, masih kuat?”

“Menurut lo?” Dengan senyum seringai Helena kembali menuangkan minuman ke gelasnya, hampir penuh lalu meminumnya tanpa jeda. Jeremy melihat kelakuan gadis tersebut hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

“Jer, lo sama Nathalie gimana? Dia tau kalau lo di jodohin sama gue.”

“Gue belum bilang kalau sama lo..”

“Sampaikan maaf gue ke Nathalie ya? Lo jelasin kalau kita emang gak ada apa-apa..”

“Iya, nanti gue bilang ke Nath...”

Kini Jeremy yang tak sabar meminum dari gelas di tangannya lalu mengambil botol yang di hadapannya dan meminumnya secara langsung. Helena hanya terkekeh melihat kelakuan lelaki tersebut.

“Hel, gue boleh tanya sesuatu?”

“Mm... Apa?”

“Tapi mungkin ini masalah pribadi banget..”

“What??”

“Sekitar tiga tahun lalu, gue denger gossip tentang lo... You have an abortion?? Gue tau karir lo lagi naik waktu itu. why??? What do you think?

Helena menghela nafas panjang, memorinya di paksa untuk kembali lagi ke masa lalu. Gadis itu mengambil botol yang di tangan Jeremy lalu meminum langsung dari botol tersebut lebih gila, ternyata Helena sekuat itu?—batin Jeremy.

“Dosa banget gue Jer...” Helena memulainya, menceritakan sedikit kisah masa lalunya yang menyakitkan.

“Waktu itu gue dilema banget. Karir gue lagi naik, dan pacar gue belum dapat jabatan di perusahaan bokapnya.”

“Orang tuanya tau kalau pacaran sama gue, gak ada masalah apapun. Beberapa kali ketemu sama mereka dan nyokapnya baik banget.”

“Tapi bokapnya bilang kalau sejauh-jauhnya gaya pacaran kami, jangan sampai hamil di luar nikah. Kalau sampai kejadian, dia gak bakal dapet perusahaan bokapnya.”

“Dan gue gak mungkin tiba-tiba ilang kan?? Apalagi gue terikat kontrak juga waktu itu.”

“Sakit banget hati gue, sebelum akhirnya keputusan terakhir, berkali-kali gue mikir gimana baiknya selain aborsi? And then, there is no way out.. I did it...

Helena tertunduk dengan dua tangan memegang kepalanya. Air matanya pun tumpah begitu saja. Jika harus mengingat kembali masa itu, sungguh menyakitkan baginya.

“Hel...” Jeremy mencoba menenangkan gadis itu, ia mengusap punggungnya perlahan.

“Mau gue peluk?” Tawar Jeremy.

Thank you Jer....” Helena menegakkan kepalanya, dan menatap lelaki di sebelahnya lalu perlahan masuk ke dalam pelukannya.

“Kalau lo mau nangis, ya nangis aja...” Ujarnya sambil mengusap punggung Helena.

Gadis itu pun menangis sesenggukan. Awal percakapan via pesan singkat lalu pertemuan makan malam yang awalnya tegang dan canggung pun kini terasa lebih cair. Jeremy tak sedingin yang ia kira, pun sebaliknya Helena tak sekuat yang di pikirkannya. Bagaimanapun dan apapun masalahnya, perempuan tetap mempunyai sisi yang lemah.

“Hel... Lo putus sama dia? Udah lama?”

Jeremy penasaran hingga mengorek sedikit demi sedikit tentang masa lalu Helena. Bukan tanpa alasan, Jeremy sebelumnya berpikir bahwa masalah dengan Nathalie dan keluarganya cukup berat tetapi di luar itu ada orang lain yang mempunyai masalah mungkin lebih rumit dari yang ia hadapi saat ini.

“Sama-sama sibuk, gue ngejar karir dan dia ngejar jabatan di perusahaan bokapnya. Tiba-tiba lost contact...”

“Hel, gue kira masalah gue udah cukup berat ternyata lo punya masalah yang serumit itu...”

Helena menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.

“Jer, bentar gue mau ke toilet...”

Helena berdiri lalu berjalan sempoyongan karena efek alkohol dalam tubuhnya. Baru beberapa langkah, kakinya menyenggol lutut Jeremy yang masih duduk di sebelahnya kemudian terjatuh diatas tubuh Jeremy. Dua mata keduanya bertemu, nafas yang keluar dari bibirnya pun beradu. Tak kurang dari sejengkal jarak keduanya membuat jantung Helena tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya.

“He-helena...”

“O..oh sorry Jer...” Gadis itu kemudian bangun dengan susah payah karena dua kakinya agaknya tak cukup kuat menopang tubuhnya sendiri. Belum jauh juga langkah Helena tiba-tiba Jeremy di belakangnya dan menarik lengan gadis itu hingga berbalik dan membentur tubuh Jeremy.

“Kalau gak kuat jalan tuh bilang... Sini gue bantu.”

Malam ini Nathalie tak sendiri, ia memang butuh teman untuk sekedar ngobrol bahkan mungkin untuk menghibur dirinya. Adel tau pasti keadaan Nathalie saat ini, jelas sangat sulit untuk di ungkapan dengan kata-kata. Sebisa mungkin ia akan ada disaat Nathalie membutuhkannya.

Setelah selesai dengan makan malamnya dan acara televisi yang cukup membosankan kemudian dua sahabat ini berpindah ke kamar. Pukul 00:00 keduanya masih sibuk bercengkerama di atas tempat tidur sambil masing-masing memainkan ponselnya. Televisi di dalam kamar Nathalie pun masih menyala walaupun dalam keadaan ruangan yang gelap. Bukannya cepat tidur tetapi Adel malah membuka sesi curhat lebih tepatnya.

“Nath, jujur deh.. Gimana perasaan lo ke Jovan?” Tanya Adel sambil membalas pesan singkat dari Nico, sekali ia melirik ke arah Nathalie yang berada di sebelahnya.

“Perasaan gue sekarang? Gak tau Del....”

“Ihhh.. Gue tanya serius Nath...!”

Nathalie terkekeh, lalu menoleh ke arah Adel. Ia kemudian meletakkan ponselnya diatas nakas.

“Gue suka sama Jovan, di balik sikapnya yang kadang nakutin, dia bisa soft juga. Beberapa kali gue luluh sama dia...”

“Ooh......”

“Jeremy? Sekarang gimana perasaan lo ke dia?” Kali ini pertanyaan ke dua dari Adel.

“Gue jelas masih sayang sama dia, lima tahun Del.. Bukan waktu yang singkat. Dia juga sempat jadi calon ayah dari anak gue. Hm, tapi sayang.. Dia pergi lebih dulu...”

Pandangan mata Nathalie kembali menerawang jauh entah kemana. Setiap ia mengingat saat jatuh dari tangga, hatinya pun ikut runtuh.

“Nath, lo harus ikhlas... Udah yaa, tidur yok...”

“Mana bisa gue tidur, lo kalau mau duluan gapapa...”

“Oya, gue balik tanya boleh dong...” Ujarnya sembari tersenyum ke arah Adel.

“Apaan?” Sambung Adel terkekeh sambil mendorong lengan Nathalie.

“Lo sejak kapan pacaran sama Nico? Udah lama?”

“Baru jalan hampir dua tahun...”

“Wow... Lumayan lama juga, anyway temen kuliah atau—”

“Di kenalin sama Jovan... Nath, tidur yuk... Gue besok pagi-pagi ngantor...” Pinta Adel sedikit merengek sembari menggoyangkan tubuh Nathalie.

“Ya udah lo tidur duluan gapapa, ntar kalau gue ngantuk juga pasti tidur...”

Adel kemudian memposisikan tubuhnya lebih nyaman lagi, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dan memejamkan matanya.

Sedangkan Nathalie masih tetap terjaga hingga tigapuluh menit berlalu, ia raih ponsel di sebelahnya ketika ponselnya bergetar menandakan ada pesan yang masuk.

Panggilan telepon dari Jeremy sempat membuatnya ragu untuk menerimanya. Namun hati tak bisa di bohongi, sesungguhnya gadis itu sangat merindukan Jeremy. Ia bergerak pelan beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan menjauh dari kamarnya, Nathalie tak ingin membangunkan Adel yang tidur di sebelahnya.

Gadis itu berjalan tanpa menggunakan alas kaki, mengendap pelan sampai tak terdengar suara langkahnya lalu duduk di ruang tengah dan menerima panggilan tersebut.

Nathalie: Ha-Hallo....

Jeremy: Nath, belum tidur?

Nathalie: Belum Jer, ada apa?

Jeremy: Pengen ngobrol...

Nathalie: Ooh....

Jeremy: Nath....

Nathalie: Hmm....

Jeremy: Maafin aku ya?

Nathalie: Kenapa minta maaf?

Jeremy: Aku udah nyakitin kamu Nath... Aku gak pernah mikir resiko, aku cu-

Nathalie: Jeremy, please... Mungkin udah jalannya kya gini. Udah lah, gak perlu minta maaf.

Jeremy: Tapi Nath-

Nathalie: Jer, aku juga salah disini, dari awal gak jujur sama kamu. Aku kacau banget waktu itu sampai gak bisa mikir apa-apa.. Tapi sekarang aku harus ikhlas Jer, apapun itu.

Jeremy: Nath, jujur sampai sekarang aku masih sayang sama kamu. Lima tahun itu bukan waktu yang singkat, untuk kita saling mengisi, belajar untuk saling memahami. Kita ketawa bareng, sedih bareng, dan kya nya gak ada masalah yang gak bisa kita selesein. Tapi gak tau kenapa masalah yang sekarang gak ada titik temunya. Aku egois, gak mikirin kamu, gak mikirin gimana perasaan mu.-

Nathalie: Jer... I also have an mistake... I'm so sorry... Waktu kita break, aku juga egois. Aku sempat dekat sama Jovan tapi... Tapi Jovan, he's not you. Aku gak bisa ngelupain kamu walaupun sama Jovan.

Gadis itu beranjak dari duduknya, ia lirik jam dinding menunjukkan pukul 01:45 kemudian ia berjalan menuju pintu untuk dan keluar. Entah apa yang di pikirkan Nathalie, hatinya cukup kalut. Ia pun tak mengerti pembicaraan ini akan membawanya kemana, sangat sulit di ungkapan. Rasa bersalah yang bercampur dengan rasa sakit, ia merasa akan ada sesuatu yang hilang. Lagi...

Jeremy: Nath, kalau aku bilang gak apa-apa, atau baik-baik aja itu jelas bohong. Tapi... Mungkin yang terbaik adalah berhenti mengganggu kehidupanmu lagi. Udah cukup aku bikin kamu sakit. Aku gak mau egois, maafin kesalahan ku kemarin...

Nathalie pun keluar dari unit apartemen nya, lorong sudah sangat sepi dan tak ada satupun manusia yang terlihat. Beberapa langkah dari depan pintu, ia sandarkan tubuhnya pada dinding lalu menengadahkan kepalanya menatap langit sambil menahan air mata yang hampir saja menetes.

Nathalie: It's oke Jer....

Air mata Nathalie tak terbendung lagi, ia benar-benar kalah sekarang. Orang-orang yang di cintainya satu persatu pergi meninggalkannya sendiri. Belum juga sembuh raganya kini jiwa semakin rapuh dan pilu.

Jeremy: Maafin aku Nath, aku harap kamu baik-baik aja. Mungkin kita udah gak bisa sama-sama lagi tapi kalau kamu butuh sesuatu, apapun itu, tolong... Jangan pernah sungkan untuk bilang ke aku, hubungi aku...

Nathalie: Ya.....

Suaranya bergetar hampir ia tak bisa membalas percakapan dengan Jeremy. Ia memutus sambungan telepon tersebut lalu menangis sejadi-jadinya. Ia merasa hidupnya sia-sia, malam ini Nathalie benar-benar sendiri tanpa orang tua, juga sosok Jeremy. Bagian terberat dari sebuah perjalanan adalah perpisahan.

Nathalie tak menyadari bahwa Jovan sedang memperhatikannya.

Sekitar tigapuluh menit yang lalu Jovan berusaha menelepon Nathalie namun sedang berada di panggilan lain. Lelaki itu ingin tau dengan siapa Nathalie berbicara di telepon pada jam tengah malam. Kepalanya di penuhi rasa penasaran, Jovan nekat ingin menemui Nathalie namun belum sampai pada unit apartemen milik Nathalie, baru tiga langkah dari depan pintu lift ia melihat gadis itu menangis sesenggukan duduk bersimpuh dengan dua tangan yang menegangi kepalanya.

Langkah kakinya terhenti, ingin rasanya Jovan menghampiri Nathalie dan menenangkannya namun, ia masih ingat dengan pesan singkat dari Nathalie bahwa ia sedang ingin sendiri membuat Jovan mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa memandangi Nathalie dari jarak yang tak begitu jauh.

Sedangkan di sudut lain, seseorang tak sengaja melihat Jovan dari jarak tak terlampau jauh. Sosok tersebut memperhatikan Jovan yang sedang menatap Nathalie. Dengan batin yang sedikit kesal lalu ia meninggalkan tempat tersebut.


Biar bagaimanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan.

END

© @deorphic.

⚠️❗TW

Pesan yang di terima dari Nathalie lima menit yang lalu membuat hati Jeremy berkecamuk. Terlihat jelas foto hasil USG namun calon bayi yang seharusnya membuat Jeremy bahagia ternyata tak bertahan lama di rahim Nathalie.

Malam itu Jeremy sedang menemani Helena untuk fitting gaun pengantin pun goyah. Sebelumnya ia duduk bersandar di atas sofa dan sibuk dengan ponselnya, setelah mendapatkan pesan dari Nathalie ia pun tanpa basa basi bergerak cepat mengayunkan langkah kearah gadis itu kemudian berbisik lirih,

“Aku pergi dulu, penting. Nanti kamu pulang naik taksi ya?”

Helena sama sekali tak menjawab, dua bola matanya menatap sosok Jeremy yang pergi begitu saja dan menghilang dengan cepat di balik pintu.

Lalu lintas sepertinya kurang mendukung langkah Jeremy. Jalanan yang cukup ramai sehingga ia harus bekerja keras mencari celah agar bisa cepat sampai ke rumah sakit. Berkali-kali Jeremy melirik arloji yang menempel di tangan kirinya. Batinnya sangat resah.


Rumah Sakit

Tiga puluh menit berlalu setelah Nathalie mengirim pesan pada Jeremy, sosok yang masih mengisi hatinya pun tak kunjung datang. Mata dan jarinya sudah lelah sedari tadi memainkan ponsel hingga sedikit memanas. Tak lama ia letakkan ponselnya dan memandang kearah sofa yang di isi oleh Adel, terlihat cukup sibuk dengan laptop di hadapannya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

“Adel...”

“Ya Nath?”

Tak perlu lama, Adel beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan kearah Nathalie.

“Lo butuh apa?”

“Pengen jalan-jalan. Cari angin di rooftop yuk...”

“Mau pakai kursi roda?”

“Engga, gue bisa jalan..”

Adel pun membantu Nathalie turun dari tempat tidur, lalu menuntun pelan langkahnya. Ruang rawat inap Nathalie kebetulan di lantai atas sehingga memudahkan untuk mengakses rooftop lebih cepat.

“Nico dimana? Kok gak sama lo?” Tanya Nathalie sebelum akhirnya sampai di atas.

“Balik apartemen dulu, mau mandi katanya. Ntar balik sini lagi.”

“Ooh...”

Setelah mereka sampai di atas, angin yang bertiup sangat kencang. Rambut Nathalie yang terurai pun kian acak menutupi semburat wajah sayu.

“Del, dingin...” Ucapnya sambil mengusap lengan dengan kedua tangannya.

“Ya udah masuk aja yuk...”

“Tapi gue pengen disini dulu bentar, bisa tolong ambilin sweater gue?” Pinta Nathalie.

“Lo gapapa gue tinggal bentar?”

“Gue mau duduk disana..” Sambil menunjuk kearah kursi panjang yang tak jauh dari mereka berdiri.

“Ok.”

Tanpa pikir panjang Adel kembali ke kamar inap untuk mengambil baju hangat yang di minta oleh Nathalie. Langkahnya pun semakin cepat agar Nathalie tak menunggu lama.

Menit kemudian sebelum Adel masuk ke dalam ruang rawat inap, seorang laki-laki tampan berbadan tegap menghampirinya dengan nafas yang sedikit tersengal akibat berlari dari arah lift yang terletak agak jauh dari ruang tersebut.

“Dimana Nathalie???”

Dengan sedikit kasar Jeremy menarik lengan Adel hingga gadis itu memicingkan dua matanya akibat ulah Jeremy yang membuatnya kaget.

“Lo siapa?” Tanya Adel, sedikit ketus juga rasa curiganya terhadap lelaki yang saat ini berdiri dihadapannya itu mungkin Jeremy, pikirnya.

“Gue Jeremy. Dimana Nathalie?”

“Ada di rooftop..”

Jeremy pun mengambil langkah seribu tanpa menghiraukan gadis yang baru saja ia ajak bicara, langkahnya menuntun ke luar agar bisa secepatnya bertemu dengan Nathalie.

Sesampainya diatas, dua bola matanya menelisik seluruh area namun Nathalie tak ada disana. Kursi yang harusnya jadi tempat Nathalie menunggu pun kosong. Jeremy terus mencari di sekitar dan di temukannya sosok perempuan sedang memanjat pembatas diatas gedung. Entah apa yang di pikirkan Nathalie saat itu, mungkin mengakhiri hidupnya adalah jalan yang terbaik.

“Nath!!”

Suara lantang terdengar keras hingga gadis yang bersusah payah berusaha memanjat itupun menoleh kearah sumber suara. Jelas ia sangat mengenali suara tersebut, suara sosok lelaki yang sudah menemaninya selama lima tahun terakhir.

“Nath!! Turun..”

Gadis itu tak menjawab, ia malah menangis.

“Jeremy... Maaf...”

“Nath, kamu gak salah, kenapa minta maaf? Turun Nath, aku disini sekarang!!”

Jeremy perlahan melangkah dan mendekati Nathalie.

“Jer! Aku capek hidup, apa yang aku harapkan sekarang?? Kamu? Anak kita??? Satu-satunya harapanku untuk tetap kuat pun ninggalin aku!!! Semuanya udah selesai Jer!!!”

Nathalie memekik cukup keras, membuat lelaki itu panik. Ia melangkah perlahan mendekati Nathalie.

“Nath... Waktu memang gak akan bisa mengembalikan ke tempat semula, tapi please.. Gak kya gini caranya..”

Jeremy terus berjalan kearah Nathalie pelan-pelan sambil mengulurkan tangannya.

“Nath, kamu harus kuat.. Kalau kamu berpikir untuk mengakhiri hidup, anak kita gak akan tenang di surga. Dia sedih melihat mama-nya gak mampu bertahan...”

Kalimat terakhir yang terlontar dari bibir Jeremy cukup membuat Nathalie luluh. Ia terus menangis jika ingat calon bayinya tak bisa bertahan lebih lama. Ia merasa gagal menjadi seorang perempuan, gagal menjadi calon ibu. Dirinya benar-benar hancur dan rapuh.

Langkah Jeremy kian mendekat hingga berada di bawah Nathalie, tangannya meraih telapak tangan gadis itu dan akhirnya pertahanannya pun tumbang. Tubuh lemas itu ambruk ke pelukan Jeremy.

“Nathalie... Ikhlaskan yang udah pergi, kamu harus yakin anak kita tenang di surga...” Ucap Jeremy memeluk erat tubuh Nathalie yang terasa dingin. Ia mengusap lembut surai milik gadis itu dan mengecupnya berulang kali.

Pemandangan bak sebuah drama itupun di saksikan oleh Jovan dan Adel yang sudah berdiri di belakangnya beberapa menit yang lalu.

Sedikit tersulut karena melihat Jeremy memeluk Nathalie terlalu lama, Jovan mengepalkan tangan kanannya seakan-akan hendak melepaskan bogem mentah kearah Jeremy namun ia urungkan niatnya karena Nathalie berada di sana.

Adel yang paham akan situasi inipun segera menarik legan Jovan agar tak bergerak kemanapun. Kemudian menghampiri Jeremy dan Nathalie.

“Nath, bangun yuk.. Balik ke kamar, disini dingin banget.” Pinta Adel sambil mengangkat tubuh Nathalie perlahan di bantu oleh Jeremy. Gadis itu lalu mengikuti kemana Adel membawanya. Sedangkan Jeremy mengekor di belakang keduanya sebelum akhirnya berhenti di hadapan Jovan, lalu menepuk pundaknya dan berkata,

“Tolong jaga Nathalie...” Kemudian Jeremy pergi meninggalkan tempat tersebut.

“Nath, yok makan.. Katanya mau beli bakso..” Nico membuka pintu ruang kerja Nathalie, di hampiri gadis yang sedang sibuk di depan layar laptopnya.

“Hmm..”

“Yuk...” Nathalie pun beranjak dari duduknya sambil merapikan rok yang sedikit terangkat. Berjalan keluar ruangan di belakangnya ada Nico yang mengekor.

Sebelum dua sahabat ini masuk kedalam lift untuk turun ke lantai dasar, Nico yang lupa membawa dompet meminta Nathalie untuk mampir ke ruangannya terlebih dahulu.

Ia tekan tombol angka tiga untuk mengantarkan ke ruangan Nico namun sangat kebetulan lift tersebut sangat sibuk di bawah sana.

“Lewat tangga aja yuk Nic, lama..”

“Gapapa?” Tanya Nico memastikan.

“Mm.. Yuk..” Ajak Nathalie sembari menarik tangan Nico.

Lelaki itu berjalan terlebih dahulu kemudian di susul di belakangnya oleh Nathalie menuruni tangga. Baru sampai setengah jalan, gadis itu ingat dia lupa membawa ponselnya. oh, handphone gue!? ucapnya dalam hati.

“Nic, tunggu bentar handphone gue ketinggalan. Lo ambil dompet dulu, gue nyusul.” Ujarnya lalu setengah berlari menaiki tangga.

tuk tuk tuk...

“Nath, jangan la-”

“AHH!!”

bukk......

Tubuh kecil Nathalie terpelanting jatuh setelah kakinya terkilir saat menaiki tangga. Pantas saja, ia masih menggunakan sepatu heels yang biasa ia kenakalan pada saat bekerja sebelum hamil. Juga tak terpikir oleh Nathalie bahwa sepatu tersebut malah membawa petaka.

Nico panik dengan posisi Nathalie yang jatuh dari lima anak tangga diatasnya. Tubuh gadis itu ambruk, ia tidak pingsan bahkan ia bisa kembali bangkit dan duduk dengan kedua tangannya menopang tubuh yang cukup lemas itu.

“Nath, baru gue mau bilang jangan lari. Gimana sih!? Lo gak ati-ati banget!” Maki Nico karena ia seperti punya tanggung jawab atas Nathalie sebab Jovan yang tak sedang bersamanya saat itu.

“Bisa berdiri gak?”

“Nic...” Nathalie merintih sambil memegangi perut bawahnya. Rasa sakit yang luar biasa tak bisa ia tahan hingga raut wajahnya memerah.

“Nath, sakit banget?”

Gadis itu hanya mengangguk saja, dan sesekali memejamkan matanya.

“Ke rumah sakit ya? Bentar gue telepon Jovan dulu..”

Nathalie menarik lengan Nico saat lelaki tersebut hendak merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.

“Jangan telepon Jovan, ganggu dia meeting.. Adel aja bisa? Buat temenin gue?” Pinta Nathalie.

“Adel?”

Nathalie mengangguk.

“Oke, nanti gue telepon dia kalo udah di mobil.”

“Gue bantu berdiri yaa..”

Nico lalu merangkul tubuh Nathalie untuk membantunya berdiri, sangat pelan dan tangan gadis itu masih memegangi perut bawahnya yang terasa sakit. Dan dari sela paha gadis itu mengucur darah segar hingga membasahi rok juga kakinya.

“Nic, darah..”

“Nath, kita harus cepat ke rumah sakit. Lo pegangan, gue gendong biar cepet.” Pinta Nico, lalu menggendong Nathalie menuruni tangga dan menggunakan lift di lantai tiga.

Nico tak memperdulikan dompet yang tertinggal, ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari kantor dan sesegera mungkin sampai di rumah sakit.

Sesampainya di lobi, Nico berjalan cepat dan menghindari sedikit kerumunan disana karena pada saat jam makan siang, karyawan akan berlalu lalang keluar masuk kantor melewati lobi. Semua mata yang berada disana tertuju pada sosok Nico dan Nathalie. Di bantu satu security yang berada di depan pintu masuk untuk menyiapkan mobil milik Nico yang terparkir persis di depan gedung.

“Nath, tahan bentar ya.. Gue ngebut..”

Nico pun tancap gas secepat mungkin mengantarkan Nathalie ke rumah sakit HealthyCare, dimana ia memeriksakan kandungan pertama kali.

tut.. tut....

Adel: Hallo Nic.... Nico: Yangg.. Tolong ke kantor bentar ambil handphone sama tas Nathalie.. Adel: HAHH?? Ngapain?? Nico: Buruuu.. Bawa ke rumah sakit HealthyCare! Adel: Ya Tuhan!! Nathalie kenapa Nic? Nico: Nanti gue jelasin, buruan sekarang! Adel: OK!

Nico menutup sambungan telepon dan kembali fokus pada jalanan yang cukup ramai.


Tubuh Nathalie terkulai lemas dengan darah yang masih mengucur di bawah sana, melalui UGD gadis itu kemudian di tangani oleh dokter spesialis kandungan.

Nathalie hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia sangat menyayangkan kecerobohannya mengenakan heels membuat ia harus kehilangan calon buah hatinya.

Nathalie terus menangis, sakit dan hancur seakan bumi runtuh di hadapannya. Bagaimana tidak, hidupnya tak pernah jauh-jauh dari rasa sakit dan air mata. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sekitar delapan tahun silam, ia kehilangan Jeremy yang akan segera menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya. Belum sembuh benar luka hati pun ia harus kehilangan bakal calon bayi yang di kandungnya.

Pernah tersirat di pikiran Nathalie saat ia tau ada janin di dalam rahimnya, meskipun ia tak bisa memiliki Jeremy utuh. Setidaknya janin yang tumbuh di rahimnya adalah kenangan manis dan kebahagiaan selama bersama Jeremy. Akan terus menguatkan dirinya agar tetap bertahan walaupun ia sendirian.

“Dewa.. Keadaan Nathalie gimana?” Tanya Adel pada dr. Dewa yang notabene adalah temannya sendiri.

“Obat biusnya belum ilang. Biarin dia istirahat dulu.. Di dalem tadi dia histeris setelah tau kalau keguguran. Sedangkan dia harus Kuretase jadi gue suntik bius biar dia lebih tenang...”

“Ohh... Thank you ya Wa..”

“Siap, ntar kalau ada apa-apa, telepon gue ya?”

“Pasti...” Jawab Adel mengakhiri perbincangan mereka.

Adel dan Nico setia menunggu Nathalie di kamar pasien, sedangkan gadis itu masih dalam pengaruh obat bius.

“Nath, yok makan.. Katanya mau beli bakso..” Nico membuka pintu ruang kerja Nathalie, di hampiri gadis yang sedang sibuk di depan layar laptopnya.

“Hmm..”

“Yuk...” Nathalie pun beranjak dari duduknya sambil merapikan rok yang sedikit terangkat. Berjalan keluar ruangan di belakangnya ada Nico yang mengekor.

Sebelum dua sahabat ini masuk kedalam lift untuk turun ke lantai dasar, Nico yang lupa membawa dompet meminta Nathalie untuk mampir ke ruangannya terlebih dahulu.

Ia tekan tombol angka tiga untuk mengantarkan ke ruangan Nico namun sangat kebetulan lift tersebut sangat sibuk di bawah sana.

“Lewat tangga aja yuk Nic, lama..”

“Gapapa?” Tanya Nico memastikan.

“Mm.. Yuk..” Ajak Nathalie sembari menarik tangan Nico.

Lelaki itu berjalan terlebih dahulu kemudian di susul di belakangnya oleh Nathalie menuruni tangga. Baru sampai setengah jalan, gadis itu ingat dia lupa membawa ponselnya. oh, handphone gue!? ucapnya dalam hati.

“Nic, tunggu bentar handphone gue ketinggalan. Lo ambil dompet dulu, gue nyusul.” Ujarnya lalu setengah berlari menaiki tangga.

tuk tuk tuk...

“Nath, jangan la-”

“AHH!!”

bukk......

Tubuh kecil Nathalie terpelanting jatuh setelah kakinya terkilir saat menaiki tangga. Pantas saja, ia masih menggunakan sepatu heels yang biasa ia kenakalan pada saat bekerja sebelum hamil. Juga tak terpikir oleh Nathalie bahwa sepatu tersebut malah membawa petaka.

Nico panik dengan posisi Nathalie yang jatuh dari lima anak tangga diatasnya. Tubuh gadis itu ambruk, ia tidak pingsan bahkan ia bisa kembali bangkit dan duduk dengan kedua tangannya menopang tubuh yang cukup lemas itu.

“Nath, baru gue mau bilang jangan lari. Gimana sih!? Lo gak ati-ati banget!” Maki Nico karena ia seperti punya tanggung jawab atas Nathalie sebab Jovan yang tak sedang bersamanya saat itu.

“Bisa berdiri gak?”

“Nic...” Nathalie merintih sambil memegangi perut bawahnya. Rasa sakit yang luar biasa tak bisa ia tahan hingga raut wajahnya memerah.

“Nath, sakit banget?”

Gadis itu hanya mengangguk saja, dan sesekali memejamkan matanya.

“Ke rumah sakit ya? Bentar gue telepon Jovan dulu..”

Nathalie menarik lengan Nico saat lelaki tersebut hendak merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.

“Jangan telepon Jovan, ganggu dia meeting.. Adel aja bisa? Buat temenin gue?” Pinta Nathalie.

“Adel?”

Nathalie mengangguk.

“Oke, nanti gue telepon dia kalo udah di mobil.”

“Gue bantu berdiri yaa..”

Nico lalu merangkul tubuh Nathalie untuk membantunya berdiri, sangat pelan dan tangan gadis itu masih memegangi perut bawahnya yang terasa sakit. Dan dari sela paha gadis itu mengucur darah segar hingga membasahi rok juga kakinya.

“Nic, darah..”

“Nath, kita harus cepat ke rumah sakit. Lo pegangan, gue gendong biar cepet.” Pinta Nico, lalu menggendong Nathalie menuruni tangga dan menggunakan lift di lantai tiga.

Nico tak memperdulikan dompet yang tertinggal, ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari kantor dan sesegera mungkin sampai di rumah sakit.

Sesampainya di lobi, Nico berjalan cepat dan menghindari sedikit kerumunan disana karena pada saat jam makan siang, karyawan akan berlalu lalang keluar masuk kantor melewati lobi. Semua mata yang berada disana tertuju pada sosok Nico dan Nathalie. Di bantu satu security yang berada di depan pintu masuk untuk menyiapkan mobil milik Nico yang terparkir persis di depan gedung.

“Nath, tahan bentar ya.. Gue ngebut..”

Nico pun tancap gas secepat mungkin mengantarkan Nathalie ke rumah sakit HealthyCare, dimana ia memeriksakan kandungan pertama kali.

tut.. tut....

Adel: Hallo Nic.... Nico: Yangg.. Tolong ke kantor bentar ambil handphone sama tas Nathalie.. Adel: HAHH?? Ngapain?? Nico: Buruuu.. Bawa ke rumah sakit HealthyCare! Adel: Ya Tuhan!! Nathalie kenapa Nic? Nico: Nanti gue jelasin, buruan sekarang! Adel: OK!

Nico menutup sambungan telepon dan kembali fokus pada jalanan yang cukup ramai.


Tubuh Nathalie terkulai lemas dengan darah yang masih mengucur di bawah sana, melalui UGD gadis itu kemudian di tangani oleh dokter spesialis kandungan.

Nathalie hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia sangat menyayangkan kecerobohannya mengenakan heels membuat ia harus kehilangan calon buah hatinya.

Nathalie terus menangis, sakit dan hancur seakan bumi runtuh di hadapannya. Bagaimana tidak, hidupnya tak pernah jauh-jauh dari rasa sakit dan air mata. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sekitar delapan tahun silam, ia kehilangan Jeremy yang akan segera menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya. Belum sembuh benar luka hati pun ia harus kehilangan bakal calon bayi yang di kandungnya.

Pernah tersirat di pikiran Nathalie saat ia tau ada janin di dalam rahimnya, meskipun ia tak bisa memiliki Jeremy utuh. Setidaknya janin yang tumbuh di rahimnya adalah kenangan manis dan kebahagiaan selama bersama Jeremy. Akan terus menguatkan dirinya agar tetap bertahan walaupun ia sendirian.

“Dewa.. Keadaan Nathalie gimana?” Tanya Adel pada dr. Dewa yang notabene adalah temannya sendiri.

“Obat biusnya belum ilang. Biarin dia istirahat dulu.. Di dalem tadi dia histeris setelah tau kalau keguguran. Sedangkan dia harus Kuretase jadi gue suntik bius biar dia lebih tenang...”

“Ohh... Thank you ya Wa..”

“Siap, ntar kalau ada apa-apa, telepon gue ya?”

“Pasti...” Jawab Adel mengakhiri perbincangan mereka.

Adel dan Nico setia menunggu Nathalie di kamar pasien, sedangkan gadis itu masih dalam pengaruh obat bius.