Got you

Special Halloween


Jordan, Nada. Pertemuan dua insan ini berawal dari ketidak sengajaan. Sekitar dua bulan lalu ketika langit sore di penuhi awan kelabu, selepas Nada bertemu dengan seorang teman lama di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari taman kota. Disitulah ia di pertemukan dengan Jordan, seorang lelaki bertubuh tinggi dan tampan berusia 26 tahun yang sedang patah hati.

Awan kelabu terlihat jelas menutupi gurat sinar orange pada sore itu, tak ayal menumpahkan sejuta air langit dari atas sana. Nada dengan tatapan kosong menerawang diantara bulir-bulir air hujan yang membasahi bumi, tak menyadari seorang lelaki dengan senyum manis memecah lamunannya.

“Hai... Aku boleh duduk disini? Meja yang lain udah penuh...” Kalimat pertama yang mengantarkan pada perkenalan dua sejoli ini. Jordan, lelaki dengan perangai lembut juga santun serta senyum manis penghias wajah rupawan ternyata tak sesuai ekspektasi. Pemilik nama Jordan Bara Galio menyimpan luka hati sejak di tinggal sang kekasih yang memilih pergi.

Sama halnya dengan Nada Kirania Bara, gadis cantik berusia 24 tahun ini pun mempunyai luka yang tak jauh beda. Alih-alih menjalin hubungan jarak jauh dengan lelaki yang memacarinya selama tujuh tahun terakhir ini pun ternyata sia-sia. Jarak memang salah satu alasan kisah cintanya kandas. “Persetan dengan Long Distance Relationshit!” Ujarnya kala itu.

Kesamaan “Bara” pada nama mereka pun tak ada yang sangka. Banyak kecocokan diantara keduanya juga usia yang tidak terpaut jauh membuatnya sangat mudah untuk saling memahami dan mengisi. Nada yang pertama kali menaruh harapan besar terhadap Jordan, dan lelaki itupun tau pasti bagaimana perasaan Nada terhadapnya. Namun Jordan sangat menjaga hati Nada hingga ia tidak berani mengatakan yang sesungguhnya dengan apa yang ia rasakan saat ini. Jordan terus memendam gejolak rasa cintanya pada gadis itu, hingga tiba hari ini.

Ulang tahun adik laki-laki Nada yang bertepatan dengan perayaan Halloween seakan menjadi jalan keduanya untuk lebih intens terhadap satu hubungan ini. Setelah mendapat pesan dari Nada agar datang dan mengenakan kostum polar bear, Jordan tak ambil pusing dengan permintaan gadis itu. Ia mengunjungi rekannya untuk menyewa kostum yang dimaksud dan bergegas menuju kediaman Nada.

Suasana riuh namun hangat begitu terasa di ruang tengah. Dekorasi Halloween sangat kental didalamnya. Hiasan balon warna putih, orange serta hitam menghiasi sudut ruangan juga berbagai ornamen berbentuk labu menambah khas nuansa Halloween.

Jordan tiba di rumah Nada pukul 9 malam di sambut hangat oleh Nando serta papa-nya yang sedang bercengkrama di ruang tengah, sedangkan Nada tak terlihat disana. Lelaki itu menenteng paper bag besar berisi kostum serta kado untuk Nando yang ia beli dadakan sebelum sampai di rumah tersebut. Beberapa menit Jordan larut dalam perbincangan hangat dengan dua lelaki itu kemudian tersadar bahwa ia belum mengenakan kostum yang ia bawa. Jordan merogoh ponsel di saku celana dan mengirim pesan kepada Nada, ia butuh tempat untuk berganti pakaian dengan kostum polar bearnya. Nada yang tengah membantu mama-nya menyiapkan makan malam pun sangat cepat membalas pesan dari Jordan. Gadis itu memberi tau Jordan agar menggunakan kamarnya untuk berganti kostum.

Jordan dengan sangat sopan meminta ijin kepada papa Nada untuk naik ke lantai atas, sedangkan Nando tampak kegirangan mendengar teman kakaknya itu hendak memakai kostum polar bear yang ia tunggu.

“Asikkk... Kak Jordan jadi polar bear...” Pekik Nando sembari berjingkrak kegirangan.

Di lantai atas memang tampak sepi, terdapat tiga ruang kamar disana. Jordan dengan sangat mudah mengenali kamar Nada walaupun ini kali pertamanya ia berkunjung. Tulisan Nada's room pada papan yang menggantung di pintu kamarnya mempermudah menemukan kamar gadis tersebut.

klek....

Jordan memasuki ruang kamar Nada yang tampak sedikit gelap, hanya lampu tidur saja yang menyala tetapi ia masih bisa melihat detail dalam kamar tersebut. Terdapat beberapa ornamen Halloween juga disana, dan mungkin lampu sengaja di buat redup agar suasananya menyatu dengan tema Halloween.

Lelaki itu melihat satu kursi sofa yang terletak di dekat jendela, lalu ia duduk disana dan membongkar isi dalam paper bag. Jordan kemudian melepas hoodie serta celana jeans yang ia kenakan, kemudian meletakkannya diatas ranjang dan hanya menyisakan kaos oblong berwarna hitam dan boxer dengan warna senada.

Jordan sama sekali tidak mengetahui jika Nada sudah berada di ruangan yang sama dengannya. Entah sejak kapan gadis itu muncul bahkan suara derap kakinya pun tak terdengar.

“Kak Jordan...” Panggilnya lirih. Namun suara gadis itu justru mengagetkan Jordan hingga ia beranjak dari duduknya.

“Na- Nada.. Ngapain kamu disini? Aku baru mau ganti baju.. Keluar dulu Nad—” Kalimat yang di ucapkan Jordan terputus kala gadis itu tiba-tiba mengalungkan kedua tangannya pada perpotongan leher Jordan kemudian mencium bibir lelaki jangkung tersebut. Beberapa detik setelahnya Jordan baru saja tersadar bahwa tak seharusnya ia melakukan adegan ini terlebih di dalam kamar Nada. Pun keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa. Secepat kilat Jordan melepaskan pertautan bibir mereka lalu menangkup pipi gadis itu.

“Nad, kamu kenapa?”

Binar bola mata Nada seperti mengisyaratkan sesuatu. Keduanya saling tatap dan sama-sama menghembuskan nafas berat. Jantung gadis itupun berdetak lebih cepat dari biasanya. Nada ingin sekali mengatakan sesuatu pada lelaki di hadapannya. Dengan tekad yang ia miliki saat ini, Nada ingin Jordan mengetahui bahwa dirinya sudah menaruh hati pada lelaki itu sejak pertama kali bertemu.

“Kak... Aku tau mungkin ini membuat Kak Jo jadi gak nyaman tapi....”

“Hm? Why?

“Kak Jo... I'm wrong if i love you? I need you to heal, please...”

Mendengar kalimat yang di ucapkannya, lelaki itu lalu menenggelamkan wajah Nada kedalam dekapannya. Merangkul tubuh gadis itu dengan sangat erat, mengusap punggungnya lembut hingga menyalurkan kehangatan tiap detiknya.

Nothing is wrong Nad... Aku juga sayang kamu... We heal each other's pain, right?

Thank you kak!” Balasnya dengan senyuman yang mengembang tersirat jelas di bibir Nada.

“Jangan panggil kak, aku berasa tua banget.. Panggil Jo atau Jordan aja, oke?” Pinta lelaki itu sambil mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Nada.

I call you 'BABE', oke?

Jordan hanya terkekeh mendengar gadisnya berceloteh. Entah dorongan dari mana, malam itu ruang kamar Nada menjadi saksi bisu pertautan raga kedua insan yang sedang di mabuk cinta ini. Jordan seperti sudah memiliki gadis itu secara utuh, secepat kilat menghujani bibir ranum milik Nada dengan ciuman nakalnya. Namun Nada lebih agresif dari sebelumnya, ia melucuti kaos tipis yang menutupi tubuhnya hingga menampilkan dua gundukan payudara yang masih terbungkus bra berwarna hitam. Juga melepaskan kaos yang di kenakan oleh Jordan dan membuangnya ke sembarang arah.

Lelaki itu menatap lekat manik mata Nada yang berbinar indah kemudian mengikis jarak diantara keduanya. Perlahan Jordan menarik tengkuk gadis itu dan menciumnya perlahan, namun tidak dengan Nada. Ia malah lebih gusar bahkan mendorong tubuh Jordan kebelakang hingga kakinya menabrak sofa sebelum akhirnya lelaki itu duduk di sofa tersebut dengan posisi Nada diatasnya.

Ciuman terasa lebih menuntut ketika dengan nakal jemari Nada mengusap kasar milik Jordan yang masih terbungkus boxer hitamnya. Terasa penis lelaki itu sudah menegang dan keras.

Jordan tak mau kalah dengan permainan nakal malam itu, ia meremas payudara gadis itu dengan lembut.

ctak....

Pengait bra milik Nada akhirnya lepas hanya dalam satu kali percobaan. Jordan sangat mahir. Dua gundukan payudara sintal itu menyembul sangat menggoda lelaki di hadapannya itu. Ciuman di bibir pun berpindah ke telinga juga leher jenjang milik gadis itu sebelum akhirnya mendarat pada payudaranya.

Jordan melumat payudara Nada dengan sedikit gusar, ia mainkan dengan lidahnya. Memutar dan terus menggodanya hingga meloloskan desahan pertamanya karena tidak kuat dengan rangsangan yang di ciptakan oleh Jordan.

“Mmhh....” Desahnya. Nada menggigit bibir bawahnya seraya mendongakkan kepala karena nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Jari-jari nakal Jordan tak tinggal diam, beberapa detik yang lalu menjamah bagian bawah milik Nada yang sudah basah karena ulahnya. Ia mengusap lubang vagina gadis itu yang masih terbungkus celana dalam, terus menggeseknya hingga membuat kaki Nada sedikit bergetar.

Tak tahan dengan ulah Jordan, tiba-tiba gadis itu berdiri kemudian melucuti satu-satunya kain yang masih menutupi asetnya. Di susul Jordan yang ikut menanggalkan boxer yang ia kenakan. Lelaki itu kembali duduk diatas sofa sembari menarik tangan Nada agar duduk di pangkuannya dan posisinya kini saling berhadapan.

Dengan sengaja Nada menggesekkan miliknya pada penis milik Jordan yang sudah mengacung dan keras membuat empunya mengerang.

“Eghh.. Nad, kamu bisa nakal juga ya?”

Senyum seringai gadis itu tersungging di bibirnya kala berhasil menggoda lelaki kesayangannya. Jordan kembali bermain dengan payudara gadis itu, ia melumat putingnya dan sesekali memutarnya dengan lidah. Jemarinya pun bergerak di bawah sana, menggesek bibir vagina yang sudah basah serta menyapa klitorisnya membuat Nada melenguh merasakan nikmat permainan yang di ciptakan oleh lelaki itu.

Perlahan jari tengah milik Jordan melesat masuk kedalam lubangnya, ia gerakkan perlahan lalu di susul jari telunjuknya pun masuk dengan sangat mudah karena milik Nada sudah sangat basah. Ia gerakkan jarinya dengan tempo sedang. Jemari Jordan yang panjang beberapa kali menabrak titik g-spot miliknya hingga Nada merasa hendak mencapai pelepasannya. Kakinya bergetar, lubangnya pun mengetat dan berkedut.

You wanna cum, babe?

Nada hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian Jordan mempercepat tempo dibawah sana, gadis itu mendongakkan kepalanya dan kakinya bergetar. Suara desahannya pun nyaring ketika menjemput pelepasannya yang pertama.

“A-ahh... Babe....” Desahnya bersamaan dengan cairan yang membasahi lubangnya.

Are you oke?

Nada hanya mengangguk lagi. Seperti memburu nafsu, dengan sangat agresif gadis itu meraih kepunyaan Jordan lalu mengarahkan pada miliknya sendiri dan melesatkan penis besar itu kedalam lubangnya.

“A-aahhh...” Desahnya kembali terdengar nyaring. Tubuh Nada bergoyang mengikuti gerakkan pinggulnya, dua payudara juga bergerak bebas tepat di depan wajah Jordan. Dua tangan lelaki itu memegang pinggul Nada membantu menggerakkan temponya agar lebih cepat. Bibir serta lidahnya sibuk dengan payudaranya.

Nada menggerakkan pinggulnya lebih cepat seakan memburu kenikmatan yang lama tak dirasakannya.

“Aahhhh... Babe...”

“Barengan sayang...”

Jordan paham jika gadis itu hendak mencapai klimaksnya kembali. Ia merasakan lubang milik Nada yang mulai mengetat dan berkedut, serta miliknya pun membesar hingga terasa sesak. Keduanya sama-sama mempercepat tempo hingga menjemput pelepasannya secara bersamaan.

“A-aahhh....”

“Egghhh.... Nad... I love you

Love you too, babe...”

Keduanya pun berpelukan saling menyalurkan rasa hangat. Perlahan Nada beranjak dari atas Jordan, dengan sigap lelaki itu memboyong gadisnya menuju kamar mandi di kamarnya.

Setelah mereka selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian masing-masing. Dua sejoli ini baru ingat dengan kostum polar bear dan makan malam.

“Nad, ayo turun takut di cariin. Kita kelamaan di kamar.. “

“Oh iya..”

Baru beberapa langkah hendak keluar kamar ternyata, mama Nada naik ke lantai atas mencari dua sejoli ini.

“Nad.. Kamu di kamar?” Panggil sang mama.

“I-iya maa... Kak Jordan mau pakai kostum polar bear tapi kekecilan.” Untungnya Nada cukup cekatan menjawab pertanyaan sang mama.

“Oh ya? Ya udah turun dulu, ayo makan...” Ajak mama-nya tanpa ada kecurigaan sedikitpun. Jordan dan Nada berjalan lebih dulu menuruni tangga, di susul sang mama di belakangnya. Tiba-tiba saja wanita paruh baya itu menanyakan sesuatu pada Jordan.

“Nak Jordan, pakai kaosnya kebalik ya?”

Deg!

Jordan dan Nada serentak menghentikan langkahnya lalu saling bertatapan sebelum akhirnya bersamaan menoleh kebelakang.

“M-modelnya emang begini tante...”


To be continued

Give me a feedback guys!! ILY!