Meet You
“Hel... Helena..” Panggil Nathalie seraya menggoyangkan telapak tangan Helena. Temannya itu sempat tak merespon, ia masih terpaku menatap lelaki bertubuh tinggi yang masih berdiri di depan pintu.
“Hm?”
“Lo kenal Jovan?”
“E.. Iya Nath...” Jawab Helena singkat.
Tiga lelaki yang berada disana pun ikut diam. Entah kenapa suasana berubah menjadi sangat canggung. Nathalie menelan ludah ketika melihat raut wajah Jovan berubah saat memandang Helena.
“Hel, bisa keluar sebentar?”
Tak peduli dengan orang-orang yang berada di dalam sana, Helena kemudian keluar mengikuti langkah Jovan. Ia tak tau kemana lelaki tersebut pergi, Helena terus mengekor dibelakangnya. Sampai pada sudut resto yang berada di luar ruangan, terdapat beberapa kursi disana. Entah sadar atau tidak, Jovan meraih telapak tangan Helena dan menggenggam erat hingga mengarahkan gadis itu pada kursi yang kosong. Keduanya kemudian duduk bersebelahan saling menatap lekat manik mata, tajam. Masing-masing insan ini berkutat dengan ingatan masa lalu, mengorek kembali kenangan yang tidak akan pernah bisa di lupakan satu sama lain. Hingga beberapa menit mereka hanya diam tanpa ada sepatah katapun, lidahnya sama-sama terasa kelu. Hanya deru nafas berat yang keluar dari bibir keduanya.
“Hel.. Apakabar?” Kalimat tersebut membuyarkan lamunan Helena.
“Kamu liat aku baik-baik aja kan?” Jawab Helena dengan senyum yang sangat sulit di artikan. Hati dan pikirannya sudah tidak sinkron, kacau. Gadis itu masih tak mengerti dengan apa yang ia rasakan sekarang. Batinnya benar-benar sedang bergejolak.
“Hel, aku gak pernah berpikir bisa ketemu kamu lagi disaat sekarang ini...”
“Kamu nyesel ketemu aku lagi?” Timpal gadis itu, air matanya sudah mengambang di pelupuk dan hampir menetes.
“Hei... Siapa bilang aku nyesel?” Ucapnya sambil menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga gadis itu.
“Aku boleh peluk kamu?” Pinta Jovan dan di jawab dengan anggukan oleh Helena. Detik kemudian gadis itu masuk kedalam pelukan Jovan yang begitu hangat, pelukan yang selama ini ia rindukan. Pelukan yang dulu tak pernah lepas disaat mengawali pagi mereka juga pada saat hendak menjemput mimpi.
Kali ini bukanlah mimpi, sungguh nyata. Di depannya adalah Jovan, lelaki yang tak pernah sedetikpun hilang dari palung hati Helena.
Beberapa saat setelah keduanya berbincang, Jovan kemudian mengajak Helena untuk kembali kedalam.
“Hel, masuk yuk.. Gak enak sama yang lain.”
Gadis itu meng-iya-kan ajakan Jovan, lalu mereka berjalan beriringan untuk kembali ke dalam.