Dinner

Seperti biasanya, tempat makan malam favorit keluarga Gavino tak jauh-jauh dari restoran Dinning Art. Dengan menu western serta terkenal dengan pelayanannya yang selalu memuaskan membuat restoran tersebut tak pernah sepi pengunjung . Tristan sudah memesan tempat dua jam sebelumnya, VIP room berukuran 8x5 meter dengan kapasitas 6 orang di dalamnya.

Tristan berangkat ke restoran tersebut diantarkan oleh supir, sedangkan Jeremy bertolak langsung dari kantornya. Janji temu pukul delapan malam, Tristan dan Jeremy datang lebih awal sekitar sepuluh menit sebelum jam yang di janjikan. Keduanya tiba di Dinning Art hampir bersamaan, lalu masuk ke resto menuju VIP room yang sudah di booking sebelumnya.

20.05 Jovan dan Nathalie pun tiba, sedikit terlambat lima menit kemudian di susul Nico di belakangnya. Dilihat sekilas Jovan dan Nathalie, tampak seperti sepasang kekasih.

Setelah masuk ke dalam resto, mereka kemudian di arahkan oleh waiters ke VIP room. Disitulah Nathalie bertemu kembali dengan Jeremy, dua insan ini sudah tidak canggung lagi. Semua terlihat baik-baik saja, bahkan tanpa ragu gadis itu melempar senyum kearah Jeremy dan di balas senyum simpul oleh lelaki tersebut.

Jovan dan Tristan pun saling berjabat tangan, berkenalan satu sama lain di ikuti oleh Nico. Nathalie tak banyak bicara karena sebelumnya memang sudah mengenal kakak kandung dari mantan kekasihnya tersebut. Gadis itu hanya tersenyum dan menjadi pendengar kala empat lelaki di sekitarnya itu berbincang.

Sebelum akhirnya menu utama di sajikan, mereka menikmati appetizer terlebih dahulu. Jeremy dan Jovan tak terlihat tegang atau canggung, bahkan terlihat lebih akrab. Bukan karena mereka pernah “sama-sama” dengan Nathalie, sama sekali bukan karena itu. Tetapi obrolan mereka mengalir begitu saja.

Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel milik Jovan berdering. Lelaki itu merogoh ponsel yang ada di saku celana sebelah kanan lalu menatap layar ponsel beberapa saat sebelum akhirnya Jovan pamit untuk menerima telepon tersebut.

“Saya terima telepon sebentar ya?” Pinta Jovan sembari beranjak dari duduknya, tangannya pun mengusap pundak Nathalie seakan memberikan kode ijin keluar ruangan untuk menerima telepon.

klek...

Jovan membuka pintu kemudian keluar dan menerima telepon tersebut.

“Hallo, ma....” jawab Jovan tanpa memperhatikan sekitar. Dari arah depan lelaki itu berpapasan dengan Helena yang hendak masuk kedalam room. Keduanya sama-sama saling tidak memperhatikan.

“Hai Nath!!” Pekik Helena tersenyum lebar saat bertemu dengan teman lamanya. Obrolan dua perempuan ini begitu asik kala menceritakan masa lalu mereka ketika masih kuliah.

Sekitar sepuluh menit berlalu, terdengar kembali pintu terbuka. Mungkin waiters yang datang membawa hidangan utama.

klek...

Tetapi bukan waiters yang masuk kedalam room, melainkan Jovan. Semua mata tertuju pada sosok lelaki tersebut juga Helena yang spontan berdiri dari tempat duduknya.

“Jovan....”

“Helena....” Keduanya bertatapan cukup lama.