Repair
“Cell, bantuin kakak gue dong.” Pinta Hansel pada sahabatnya.
“Kenapa emang?” Tanya Marcell sembari meneguk satu kaleng Coca-Cola.
“Itu laptop, gak tau deh. Lo naik aja sana, kakak gue ada di kamar.” Jawab Hansel.
Marcell beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Hansel yang masih sibuk dengan game. Lelaki itu menaiki tangga menuju lantai dua. Tanpa bertanya, Marcell sudah tau dimana letak kamar Hana karena bersebelahan dengan milik Hansel.
tok tok tok...
“Masuk aja Cell!” Ucap Hana dari dalam kamar setengah berteriak.
cklek...
Marcell mengintip dari balik pintu dan Hana menoleh kearahnya lalu tersenyum. Lelaki itu kemudian masuk dan menutup kembali pintunya.
Marcell menghampiri Hana yang tengah duduk di sofa. Di hadapannya terdapat beberapa berkas, note, pulpen, juga laptop yang tiba-tiba error pada saat ia gunakan untuk bekerja. Lelaki itu tersenyum tipis dan duduk di sebelah Hana.
“Cell, ini kenapa deh? Anjir gue lagi tanggung banget kerjaan.” Kata Hana sembari mengunyah camilan yang ada di hadapannya. Sedangkan Marcell sibuk mengutak atik laptop milik Hana. Wanita itu duduk di sebelah Marcell sembari merebahkan tubuhnya di sofa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Hana memperhatikan Marcell beberapa saat sebelum akhirnya dia mencari ponselnya.
“Hp gue dimana ya?” Tanya Hana. Wanita itu mencari di sekeliling sofa, tempat ia duduk tetapi tidak menemukannya.
“Itu hp kak Hana bukan?” Tanya Marcell sembari menunjuk ponsel yang terletak di sebelah kanan laptopnya.
“A-iya.” Jawabnya singkat lalu Hana membungkuk untuk mengambil ponselnya. Melihat pergerakan wanita itu, Marcell sedikit memundurkan tubuhnya, tetapi kedua tangannya masih bertumpu pada meja. Setelah mengambil ponselnya, Hana kembali duduk di sebelah Marcell dan secara tidak sengaja payudaranya menggesek tangan lelaki itu.
Deg!
Jantung Marcell tiba-tiba berdetak lebih cepat. Marcell dan Hana saling menatap hingga beberapa detik. Dua bola mata lelaki itu tertuju pada tubuh Hana yang hanya mengenakan kaos tipis berwarna putih dan terlihat tidak mengenakan bra. Marcell menelan ludahnya sendiri serta beberapa kali melirik kearah dua gundukan payudara Hana yang terlihat jelas. Dua insan itu terdiam hingga beberapa menit dan terasa canggung. Berniat ingin mencairkan suasana, Hana-pun lebih dulu berbicara pada Marcell.
“Mau minum apa Cell? Gue ambilin.”
“E-apa aja kak.” Jawab Marcell singkat.
Hana lalu berdiri dan berjalan ke arah lemari pendingin yang berada di sudut kamar. Marcell mulai tidak fokus pada laptop setelah Hana berjalan melewatinya tepat di depannya. Aroma wangi tubuh wanita itu serta pakaian yang dikenakan benar-benar membuatnya berusaha keras menahan nafsunya. Pandangan matanya lekat pada tubuh sexy kakak perempuan Hansel itu.
“Oh, sorry cuma ada beer sama Coca-Cola di kulkas gue. Lo mau minum apa?” Tanya Hana sembari berkacak pinggang lalu menoleh ke arah Marcell.
“Beer boleh deh kak.”
Hana mengambil dua kaleng beer dan membawanya untuk Marcell. Wanita itu berjalan sembari sibuk memainkan ponselnya hingga pada saat hampir sampai, ia tidak melihat kabel charger laptop yang menggantung di atas lantai. Tanpa sengaja kaki Hana tersangkut pada kabel itu, ia sontak kaget dan tubuhnya hampir jatuh. Tetapi dengan sigap Marcell menahan tubuh Hana lalu menariknya ke atas pangkuannya. Kedua tangan lelaki itu melingkar di pinggang Hana, manik matanya saling bertemu dan bertatapan hingga beberapa menit.
Hana bak terbius pada sorot mata Marcell. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, deru nafasnya kian berat.
“Are you oke?” Tanya Marcell lirih.
Hana masih terpaku pada dua bola mata lelaki itu. Marcell yang sedari tadi sudah berusaha menahan nafsunya-pun pada akhirnya tumbang. Ia mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara keduanya. Mengecup singkat bibir Hana, lalu menatap matanya. Wanita itu tetap tenang, bahkan Hana masih diam di atas pangkuan Marcell.
Satu kecupan singkat tanpa perlawanan dari Hana seperti lampu hijau bagi Marcell. Lelaki itu kembali mencium bibirnya sembari meremas payudara Hana perlahan.
“Mmph...” Lenguhnya pelan. Hana sangat mudah terbawa suasana hingga tanpa sadar ia melingkarkan kedua tangannya pada perpotongan leher Marcell sembari menikmati setiap decapan di bibirnya.
Awalnya ciuman itu sangat lembut namun perlahan menjadi sangat menuntut. Jemari Marcell terus meremas benda kenyal yang membuatnya candu. Tiba-tiba Hana melepaskan pagutan keduanya lalu menatap lekat manik mata Marcell.
“Kak..”
“Ha?”
“Laptopnya mati.”
“Hah? Serius? Gimana dong kerjaan gue?!” Ucap Hana sembari memutar tubuhnya kearah depan tanpa beranjak dari pangkuan Marcell. Lelaki itu meremas celananya sendiri ketika merasakan miliknya di putar secara paksa oleh bokong Hana.
“Aduh, Cell! Gimana ini?!” Ucap Hana masih dengan posisi membelakangi Marcell, gerakan tubuhnya membuat gesekan di bawah sana semakin terasa. Marcell menghembuskan nafasnya kasar, nafsunya sudah tidak bisa ia tahan.
“K-Kak, kabel chargernya kan lepas.”
“Hah? Lepas?”
“I-iya..” — “Kak, bisa gak?”
“Hm?” Hana menoleh kebelakang tanpa berpindah posisi.
“Bisa gak kakak duduk di sebelah, atau gue aja yang geser.” Ucap Marcell. Raut wajahnya sudah memerah, milik Marcell di bawah sana sudah tegang dan keras. Hana tau pasti penis lelaki itu sudah menegang dan dengan sengaja ia menggesek miliknya di atas kepunyaan Marcell yang masih terbungkus celana pendeknya.
“Emang gue gaboleh ya duduk di pangkuan lo?” Tanya Hana. Lelaki itu memandangi wajah Hana lalu tersenyum miring. Binal juga nih kakak Hansel —batin Marcell.
“Cell, lo pakai parfum apa? Wanginya gue suka.” Lanjut Hana sembari mendekat pada ceruk leher Marcell dan mengendusnya pelan membuat lelaki itu semakin tidak kuat dan ingin berbuat lebih pada Hana.
Tanpa aba-aba tangan Marcell masuk ke dalam celana short milik wanita itu. Jemarinya menyapa milik Hana yang lembab dan basah.
“Punya lo udah basah babe.” Ucap Marcell lirih tepat di telinga Hana, membuatnya bergidik merinding dan semakin horny.
“Nghhh...” Lenguh Hana ketika jemari lelaki itu meraba klitorisnya perlahan dan terus menggodanya. Secara reflek tangan kirinya meremas payudaranya sendiri sedangkan tangan kanannya melingkar di leher Marcell.
Marcell terus memainkan klitorisnya, menggesek dengan jari tengahnya hingga membuat Hana semakin larut dalam permainan Marcell. Ia mendongakkan kepalanya dan terus mendesah.
“Ssshh.. Hhaahhh...” Hembusan nafas Hana mulai berat. Persetan dengan siapa ia bermain, jemari Marcell sangat lincah dan membuatnya candu.—batin Hana.
“You like it, babe?” Ucap Marcell lagi dan lagi berbisik lirih di telinga Hana. Wanita itu mengangguk, resah. Tanpa aba-aba Marcell memasukkan dua jarinya ke dalam liang vagina Hana yang sudah sangat basah.
“A-ahh...” Desahnya. Tangan kirinya yang semula meremas payudaranya sendiri, kini bertumpu pada meja di sebelahnya. Tangan kanannya meremas kaos yang di kenakan Marcell. Lelaki itu terus memainkan vagina milik Hana, ia keluar masukkan dua jarinya dengan tempo sedang. Dan sesekali memutar klitorisnya menggunakan ibu jarinya.
“Babe.. Becek banget loh..” Ucap lelaki itu terus menggodanya.
“A-ah.. Cell, cepetin!” Racau Hana kala dua jari lelaki itu beberapa kali menyentuh g-spot miliknya. Marcell menuruti perkataan Hana, ia lalu mempercepat tempo kocokan di bawah sana membuat wanita itu semakin mendesah kencang.
“Nghhh... Ahh....”
“Kya gini?” Tanya Marcell di tengah-tengah kegiatannya.
“Cell, di situhhh.. Enak.. Ahh..” Jawab Hana mengangguk lalu menatap wajah lelaki itu. Keduanya saling menatap, Marcell tersenyum miring ketika memandang raut wajah Hana yang sedang menikmati permainannya.
“Di sini? Enak?”
“Owh, fuck! Fasterrr pleasehhh...” Pinta Hana sembari mendongakkan kepalanya.
“You wanna cum? Huh?” Tanya Marcell sembari mempercepat kocokan di bawah sana. Ia merasakan liang vagina milik wanita itu mulai mengetat dan berkedut. Tanda ingin menjemput pelepasannya.
“Yes, pleasehhh..” Jawab Hana, tangannya semakin erat meremas kaos Marcell. Tak lama tubuh wanita itu menggelinjang saat mencapai orgasmnya.
“Aaahhhh....” Desahnya kecang, kakinya bergetar hebat.
Perlahan tangan kiri Marcell merapatkan kedua kaki Hana, hingga mengapit dua jari Marcell yang masih mengoyak liang milik wanita itu. Membuat Hana semakin kencang mengeluarkan desahannya.
“Aaahhhh... Cell, stophhh!“
Lelaki itu lalu memelankan kocokannya. Cairan milik Hana terasa membasahi dua jari Marcell yang masih bermain-main dengan milik Hana.
Marcell merasa puas dengan memandangi wajah Hana yang sangat berantakan akibat ulahnya. Wanita itu menetralkan nafasnya sembari menatap lekat wajah Marcell yang tengah tersenyum ke arahnya.
“Cell,—”
Tiba-tiba seseorang mengagetkan keduanya.
cklek...
“Kak Hana!?” Pekik seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu.
“Kak Marcell?! Kalian!?”
Suara Halsey memecah suasana. Hana sontak kaget dan beranjak dari pangkuan Marcell sembari membenahi celananya.
“Halsey, kakak bisa jelasin.” Ucap Hana berjalan mendekati adik perempuannya.
“Kak! Kak Hana tau gak? Akutuh suka sama kak Marcell! Kenapa kakak kya gitu sama kak Mar—”
“Denger kakak dulu Halsey!” Pekik Hana setengah berteriak. Marcell di buat bingung dengan situasi saat ini. Ia hanya menatap Hana dan Halsey secara bergantian tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.
“Kalau kak Hana berani kya gitu sama kak Marcell, aku juga bisa!”
“Oke! Terserah! Selesaikan masalahmu sama Marcell! Mau pakai kamar kakak? Oke, kakak keluar sekarang!” Ucap Hana dengan nada tinggi. Ia lalu berjalan mengambil ponsel serta kunci mobil yang terletak di meja sembari menatap tajam dua bola mata Marcell. Seperti hendak mengatakan sesuatu.
Wanita itu kemudian pergi meninggalkan kamarnya dan menutup pintu dengan kencang.
Brakkk...!!
What do you think? Give me a feedback, please. ❤