Lepas
Nathalie sudah berada di ambang pintu namun terasa berat untuk satu langkah lagi memasuki ruangan Jovan. Menurutnya sudah tidak ada lagi hal yang perlu di bicarakan perihal hubungan mereka. Namun ia tak bisa menolak saat Jovan meminta bertemu di jam kerja, ia tetap sekretaris yang bekerja untuk Jovan.
klek...
Suara pintu terbuka dan seorang lelaki berperawakan tinggi sedang berdiri di depan jendela kaca sedang menunggu dirinya. Nathalie kemudian berjalan perlahan mendekat pada sosok Jovan. Lelaki itu menoleh ke arah Nathalie lalu tersenyum tetapi wanita itu justru hanya diam dengan muka datar.
“Duduk Nath.” Perintah Jovan pada sekretarisnya. Wanita itu-pun duduk di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Nath, aku ngerasa kamu ada yang beda.” Ucap Jovan. Namun Nathalie hanya diam saja, ia memalingkan muka dari pandangan Jovan.
“Kenapa Nath?” Tanya lelaki itu sekali lagi. Tangannya hendak memegang telapak tangan wanita itu namun di tepis perlahan.
“Jov, aku cuma gak mau terlihat bergantung sama kamu. Kalau kamu mau balikan sama Helena, gapapa. Tapi kita harus jaga jarak. Aku sama Helena saling kenal, gak mungkin aku tiap hari berangkat-pulang kerja bareng atau makan siang bareng. Apalagi aku cuma sekretaris Jov, aku cuma bawahan kamu.” Cecar Nathalie tanpa jeda. Dia merasa sedikit kecewa pada Jovan, tetapi sebisa mungkin Nathalie berusaha untuk tidak lebih jatuh lagi dengan situasi saat ini. Ia terus menyadarkan dirinya untuk memahami keadaan bahwa memang tak sejalan dengan harapan.
Lelaki yang berada di sebelahnya-pun terdiam beberapa saat.
“Nath, cepat atau lambat kamu bakalan tau tentang aku sama Helena. Tapi—”
“Jovan, aku udah tau semuanya. Kamu mau balik sama Helena, it's oke. Aku tau kalian sebenernya belum selesai.” Timpal Nathalie dengan nada yang sedikit meninggi.
“Nath,—”
“Jov, aku mau bilang terima kasih banyak udah bantuin aku, hibur aku, nemenin aku saat down. Kalau gak ada kamu, aku gak tau lagi mesti gimana.”
“Oya, terima kasih juga buat mama kamu. Beliau udah baik banget sama aku. Baju yang mama kasih masih aku simpan.” Ucap Nathalie. Dadanya sedikit sesak dan ia menahan air mata yang hampir tumpah. Wanita itu tak mau munafik, rasa kehilangan itu pasti ada.
“Nath, kamu kenapa sih ngomong kya gitu? Kya mau pergi aja.” Kata Jovan sembari mengenggam lengan wanita itu sangat kuat. Batinnya sangat berkecamuk saat ini. Ia masih menyayangi Nathalie, juga merasa nyaman dengannya tetapi wanita dari masa lalunya kembali hadir dan membuatnya goyah.
“Jov, aku balik kerja lagi ya? Masih banyak yang belum kelar.” Ucap Nathalie sembari melepaskan dari genggaman tangan Jovan. Tetapi lelaki itu dengan cepat menarik tubuh Nathalie dan masuk ke dalam pelukannya. Jovan mendekap erat tubuh Nathalie lalu mengusap dengan lembut.
“Nath, maafin aku ya?” Bisiknya lirih di telinga Nathalie. Wanita itu menganggukkan kepala, dagunya terasa bergerak di atas pundak Jovan. Tak lama Nathalie melepaskan pelukannya lalu meninggalkan ruangan lelaki itu.
Jovan terus memandangi wanita yang masih singgah di hatinya hingga menghilang dari balik pintu. Ia meremat telapak tangannya sendiri lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa. Lelaki itu menatap langit-langit dalam ruangan. Pikirannya menerawang jauh tak berbatas.