“Mana lagi yang belum masuk ke koper?” Tanya Jovan di sela aktivitasnya membantu Helena membereskan barang-barang milik wanita itu.
“Tinggal baju kotor aja sih Van, udah aku aja.” Jawab Helena.
“Aku aja sini, kamu masih capek kan? Duduk aja.” Perintah Jovan pada Helena. Kemudian wanita itu duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan koper besar. Pandangan Helena tak lepas dari sosok lelaki yang sedang membereskan barang-barangnya dan menata dengan rapi ke dalam koper.
“Kamu kenapa ngeliatin aku kaya gitu?” Tanya Jovan sembari tersenyum pada Helena.
“Kamu gak ada yang berubah Van. Masih sama kaya tiga tahun lalu.” Ujarnya.
Jovan menutup koper besar di hadapannya, tangannya bertumpu pada koper itu. Lalu memandang lekat wajah Helena dan tersenyum, satu ciuman singkat mendarat pada bibir wanita itu.
“Finish.” — “Tinggal check out kan?” Lanjut Jovan sembari menurunkan koper dari atas ranjang.
Helena mengangguk kemudian berdiri, membantu lelaki itu mendorong satu koper berukuran sedang di tangannya dan satu koper berukuran besar di bawa oleh Jovan.
Cause I wanna touch you baby
And I wanna feel you too
I wanna see the sun rise
On your sins just me and you
Light it up, on the run
Let's make love tonight
Make it up, fall in love
Try
Alunan lagu random yang tersambung pada Apple CarPlay di mobil tersebut membuat suasana hening seketika. Jovan fokus pada kemudi sedangkan Helena menatap keluar dari dalam kaca mobil. Keduanya diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir masing-masing.
But you'll never be alone
I'll be with you from dusk till dawn
I'll be with you from dusk till dawn
Baby, I'm right here
I'll hold you when things go wrong
I'll be with you from dusk till dawn
I'll be with you from dusk till dawn
Baby, I'm right here
Lirik berikutnya membuat Helena larut ke dalam alunan lagu, wanita itu membangun beribu kenangan yang pernah ia lalui bersama lelaki di sampingnya. Dusk Till Dawn adalah lagu favorite-nya dengan Jovan sejak tiga tahun lalu.
Kenangan manis dan pahit ketika mereka sama-sama berjuang untuk masa depan. Saat Helena sibuk meniti karir untuk mengumpulkan pundi uang serta cita-citanya menjadi seorang model. Dan Jovan harus kerja keras agar mendapatkan jabatan di perusahaan orang tuanya. Perjalanan kisah cinta mereka tak serta merta berjalan mulus layaknya sebuah drama.
Dua insan itu harus menelan pil pahit ketika mereka harus memutuskan satu pilihan terberat dalam hidupnya. Langit seakan runtuh saat itu namun karena ego keduanya, buah cintanya harus ia lepaskan dengan paksa. Jovan dan Helena sadar akan berlipat-lipat dosa yang mereka tanggung namun, jika di posisinya saat itu mungkin memang sudah jalan terbaik bagi mereka.
Helena menetralkan kembali pikirannya ketika mengenang saat pahit lalu melirik ke arah Jovan yang terlihat fokus pada jalanan ibu kota. Merasa ada mata yang memperhatikan, lelaki itu menoleh pelan ke arah bangku penumpang lalu tersenyum.
“Kamu inget lagu ini?” Tanya Jovan sembari meremas telapak tangan Helena yang bertumpu di atas paha. Wanita itu tersipu lalu menjawab dengan senyum anggukan kepala saja.
“Kamu kalau ngantuk tidur aja Hel, paling setengah jam lagi sampai.” Ucap Jovan ketika lelah tergambar jelas di wajah Helena. Wanita itu lalu mengatur seat-nya agar lebih rendah dan mencari posisi nyaman untuk tubuhnya. Helena akhirnya tertidur tak lama setelah pucuk kepalanya di usap lembut oleh Jovan. Bak sebuah hipnotis, tangan kekar milik lelaki itu mampu menyalurkan kenyamanan hingga menjemput mimpi.
Setelah tiba di apartemen milik Helena, keduanya naik ke lantai lima dengan membawa dua koper di tangan masing-masing. Dua koper itu ia letakkan di sebelah pintu lalu Helena berlari kecil ke arah tempat tidur dan melemparkan tubuhnya di atas ranjang besar.
“Akhirnyaaa... Capek banget.” Ucap Helena itu sembari membocorkan pandangan matanya pada sosok lelaki yang sedang berdiri di depan pintu sembari berkacak pinggang. Jovan tersenyum, lalu mendekati wanita itu dan duduk di tepi ranjang. Ia pandangi wajah Helena, mengusap pipi dan rambutnya.
“Capek? Tidur ya?” Kata Jovan.
“Mau peluk.” Ucap Helena sembari merentangkan kedua tangannya ke arah lelaki itu.
“Kenapa sekarang kamu jadi manja?” Jovan terkekeh melihat tingkah Helena tiba-tiba salting, menutup sebagian wajahnya menggunakan kedua tangannya. Lelaki itu akhirnya bergerak perlahan naik ke atas ranjang dan mendekap tubuh mungil Helena. Sontak wanita itu menengadahkan kepalanya, memandangi wajah Jovan dari bawah.
“Peluk kaya gini?” Tanya jovan. Wanita itu mengangguk lalu menempelkan wajahnya pada leher Jovan. Hembusan nafasnya menembus permukaan kulit lelaki itu, serta detak jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Helena mulai resah, tubuhnya terus bergerak pelan untuk mencari posisi yang nyaman. Namun seakan ia tak menemukannya. Tangannya menelusup masuk di sela lengan Jovan agar bisa memeluk tubuh kekar itu.
Lelaki itu bisa merasakan hembusan nafas Helena yang mulai tak beraturan. Suara nafasnya-pun kian berat serta gerakan tubuh Helena yang terlihat gelisah. Jovan tiba-tiba mengendus ceruk leher Helena dan mengecupnya singkat. Lalu tangan kirinya turun ke area pinggang dan mengusap bagian itu beberapa kali. Semua sentuhan yang di berikan Jovan seakan menyalurkan rasa hangat dan nyaman pada tubuhnya. Helena sadar, ia mendongak dan memandang wajah lelaki di hadapannya itu.
“Van..”
“Hm? Aku mau tanya sesuatu tapi takut salah.” Ujarnya.
“Apa Van?”
“You're about to period?” Tanya Jovan. Helena hanya menjawab dengan anggukan saja. Jovan tersenyum dan mengusap lagi pinggang wanita itu dengan lembut.
“Berarti aku gak salah.”
“Taunya?” Tanya Helena memastikan.
“Wangi khas badanmu tuh beda Hel kalau mau haid. Aku suka.” Jelas Jovan. Wanita itu terdiam, ia berpikir bahwa Jovan benar-benar tak ada yang berubah dari tiga tahun lalu. Bahkan hal yang bersifat pribadi-pun, ia ingat dan tak ada yang terlewat. Helena terus memandangi wajah Jovan, dua bola matanya bertemu seakan mengisyaratkan sesuatu. Dengan gerakan yang sangat pelan, tangannya meraih ceruk leher Helena dan mencium bibir wanita itu lembut.
Ciuman lembut yang di ciptakan lelaki itu seakan menyalurkan rasa hangat pada tubuh Helena. Aliran darahnya mengalir lebih cepat dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ciumannya-pun lama kelamaan berubah menjadi lumatan yang sangat menuntut, tanpa sadar tangan Helena meremas kaos hitam yang di kenakan Jovan. Ia merasakan tubuhnya mulai tegang dan semakin gelisah.
Jovan melumat bibir wanitanya semakin gusar sembari melucuti pakaian yang di kenakan Helena. Hanya dengan satu tangan, lelaki itu mampu melepaskan celana jeans milik Helena hingga menyisakan celana dalamnya saja. Tanktop satu lengan yang di kenakan Helena-pun sudah ia tanggalkan hingga bagian atas terekspos tanpa sehelai kain yang menutupi.
Jovan mulai mengabsen tiap jengkal tubuh Helena. Lelaki itu menggodanya dengan menjilati telinga dan sesekali menggigitnya. Deru nafas Jovan kala menyentuh bagian sensitifnya membuat wanita itu bergidik merinding. Jovan tak berhenti menjamah leher jenjang milik Helena, ia cium dan menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Wanita itu mendongakkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang hampir lolos.
Tangan kekar Jovan mencengkeram tangan kiri Helena, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas payudara sintal di hadapannya itu. Bibirnya-pun tak tinggal diam, melumat payudara satunya dengan rakus. Jovan sepertinya tidak akan melewatkan tubuh Helena barang sejengkal saja.
“A-ahh.. Vannhh...” Helena akhirnya meloloskan satu desahan yang membuat lelaki itu semakin gusar menikmati tubuhnya. Ia semakin rakus melahap dua gundukan payudara secara bergantian. Jarinya memainkan dan memilin puting milik Helena yang sudah mencuat tegang. Tubuh wanita itu bergerak semakin gelisah, tangannya mencengkeram rambut Jovan karena pergerakan yang di ciptakan benar-benar membuatnya gila.
Perlahan tangan Jovan bergerak ke bawah, menyapa milik Helena dari balik celana dalam yang masih di kenakan. Jovan mengusap pelan area yang sudah basah itu dan mulai melucuti satu helai kain yang mengganggu aktivitasnya di bawah sana.
Jari kekar milik Jovan mulai meraba liang vagina milik wanitanya yang sudah sangat basah. Menggesek klitorisnya hingga membuat Helena melenguh dan memasukkan jari tengahnya tanpa aba-aba. Wanita itu sontak memejamkan mata dan tangannya reflek meremas lengan Jovan. Lelaki itu menggerakkan jarinya pelan sebelum akhirnya memasukkan lagi jari manisnya ke dalam liang surgawi milik Helena.
“AHHH.. P-pelan Van...” Desahnya di sertai rintihan karena dua jari besar dan panjang milik Jovan mengoyak liangnya.
“Mm.. Ini pelan kok.” Ucap Jovan, lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir Helena dan mulai menggerakkan jarinya dengan tempo sedang. Wanita itu terus mengeluarkan desahan ketika jari panjang milik Jovan berhasil menabrak titik g-spotnya berkali-kali. Tangannya meremas lengan Jovan untuk menyalurkan rasa sakit dan nikmat secara bersamaan. Sedangkan lelaki itu memandangi wajah Helena yang sudah berantakan akibat ulahnya. Tak lama liang vagina milik wanita itu mulai berkedut, tanda ia hendak menjemput pelepasannya.
“You wanna cum?” Tanya Jovan sembari menatap dua bola mata Helena yang sayu. Wanita itu mengangguk pelan.
“Peluk aku.” Pinta Jovan seraya mendekatkan tubuhnya pada Helena dan wanita itupun melingkarkan tangan kirinya pada perpotongan leher Jovan. Dua jari di bawah sana mulai mengoyak lebih cepat hingga membuat tubuh Helena menggelinjang hebat, kakinya bergerak resah mengapit jari-jari Jovan yang masih tertanam di sana hingga cairan hangat itu keluar dan membasahi jemari lelaki itu.
“AAHHH...” Desahnya keras sembari mencengkeram lengan Jovan. Lelaki itu menempelkan wajahnya pada leher Helena dan mengecupnya berkali-kali guna menyalurkan rasa tenang pada wanita itu.
Jovan memandangi wajah Helena yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Lalu mengecup bibirnya singkat.
“I love you, babe...”
Kalimat yang di ucapkan Jovan membuat hati Helena berdesir kencang. Wanita itu menatap lekat wajah Jovan sembari menetralkan nafasnya.
“Lanjut?” Tanya Jovan meminta persetujuan pada wanita itu kemudian Helena mengangguk.
Jovan mulai melumat kembali bibir ranum milik Helena, sembari melebarkan kedua kaki wanita itu. Tanpa aba-aba ia melesatkan penis besarnya pada liang vagina Helena, sontak membuat wanita itu membelalakkan matanya dan mendesah kencang.
Batang penis milik Jovan terus menumbuk liang vagina Helena dengan tempo sedang, kaki wanita itu melingkar pada pinggang Jovan agar mempererat tautan di bawah sana. Desahan dan lenguhan keduanya bersahutan memenuhi ruang kamar. Jovan sesekali mengecup kening juga bibir Helena bergantian guna memberikan rasa tenang di sela penetrasi. Jovan dan Helena semakin menggila, lelaki itu mengubah posisi kaki Helena. Merapatkan kedua kakinya lalu menyandarkan pada pundaknya. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke bawah hingga lesatan penisnya semakin dalam dan semakin mengoyak lubang surgawi milik Helena.
“V-vannhh...” Lenguh wanita itu.
“Hm? You wanna cum again?” Tanya Jovan. Helena mengangguk lagi.
“Faster pleasehhh...” Pinta Helena memohon sembari melengkungkan tubuhnya, ia hampir menjemput pelepasannya lagi. Mendengar itu Jovan lalu mempercepat tempo di bawah sana. Ia semakin cepat menggerakkan pinggulnya sembari memeluknya dan mengusap pucuk kepala wanita itu. Ia hentakkan penisnya beberapa kali hingga menabrak titik g-spot milik Helena dan akhirnya mereka menjemput pelepasannya bersamaan.
Jovan terus memeluk erat tubuh mungil wanita itu, mengecup keningnya beberapa kali.
“I love you, Hel.. I love you...” Ucap Jovan dan kembali memeluk Helena.
“Kamu kenapa sih?” Ucap wanita itu sembari terkekeh.
“Kok gak di jawab?” Ujarnya. Jovan kembali mendaratkan ciuman lembut pada bibir Helena.
“I love you too” Jawabnya sembari tersenyum. Lelaki lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Helena. Keduanya kembali mempererat pelukan dan menyalurkan berjuta rasa hangat. Jovan berkali-kali mengusap lembut punggung wanitanya sedangkan Helena mengusap pipi Jovan perlahan.
“Hel, sekarang apa yang kamu cari? Apa yang pengen kamu raih? Masih ada yang kurang dari pencapaianmu?” Tanya lelaki itu tiba-tiba.
“Mmm.. Apa ya? Aku rasa gak ada Van. Aku udah dapat semua yang aku mau. Dari dulu juga karir ini yang aku pengen.” Jelas Helena. Ia masih tak tau apa maksud dari pertanyaan Jovan.
Lelaki itu mengusap pucuk kepala Helena dan menyelipkan beberapa rambutnya di belakang telinga.
“Kalau udah gak ada yang kamu cari lagi, mau gak nikah sama aku?” Ucap Jovan sembari menatap dua bola mata Helena dan menguncinya disana. Wanita itu malah terkekeh dan memukul lirih dada Jovan.
“Kamu ngomong apasih?” Ucap Helena di sela tawa kecilnya.
“Aku serius Hel. Kamu udah dapet semua yang kamu cari, mau apalagi? Tinggal nikah aja kan?” Kata Jovan dengan nada tegas. Lelaki itu kemudian mengubah posisi menjadi di atas Helena, mengunci tubuh wanita itu menggunakan ke dua tangannya. Kini doa bola mata mereka saling bertemu.
“Hei.. Kamu bilang kaya gini gak sama aku doang kan? Sama Nathalie juga?” Ucap Helena tersenyum dan jarinya meraba dada bidang Jovan, berusaha menggodanya.
“Iya, tapi aku di tolak.” Jawab Jovan singkat.
Helena tertawa kecil sembari menutupi bibirnya dengan satu tangan dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Jovan dengan sigap melayangkan tangannya mencengkeram kedua tangan Helena dan menguncinya di atas kepala.
“Kamu ngeledek ya?” Ucap Jovan sembari mengecup bibir wanita itu dan menggigit kecil di sana.
“Vann! Sakit!”
“Ya kamu ngeledek gitu. Udah tau aku lagi serius.”
“Iya, iya aku serius.” — “Van, gak usah buru-buru ya? Aku belum kelarin masalah perjodohan sama orang tuanya Jeremy. Aku harus ngomong langsung ke mama-nya dulu, biar semua clear. Terus aku juga masih ada beberapa kontrak yang belum selesai. Nanti kalau kita udah sama-sama santai baru bahas pernikahan. Gimana?” Tawar wanita itu sembari mengusap rambut Jovan berkali-kali guna menetralkan mood-nya.
“Ya udah, terserah kamu Hel. Aku bakalan nunggu kok.”
Helena tersenyum mendengar jawaban Jovan dan keduanya kembali berpelukan. Jovan tak henti mendaratkan kecupan-kecupan kecil di bibir Helena.
“Mandi yuk, terus tidur.” Ajak Jovan sembari menarik kedua lengan Helena dan mendudukkan di atas pangkuannya. Wanita itu mengangguk tanda setuju lalu membawa tubuh Helena ke kamar mandi. Menyiapkan air hangat dalam bathup kemudian keduanya berendam guna memulihkan kembali tenaga yang habis terkuras.