The Orphic

Part. 3 Cool Blooded

Cuaca dingin di selimuti kabut siang itu menemani Clara di tengah perjalanannya menuju Kastil Bran. Jarak yang ia tempuh kurang lebih lima jam dari kediamannya. Selama satu tahun ia tinggal di Cluj-Napoca, belum pernah sekalipun Clara menginjakkan kakinya di sebuah Kastil yang terkenal dengan legenda vampir. Ia tak percaya mitos vampir, hingga kejadian semalam membuatnya penasaran dengan sosok tersebut.

Setibanya di Kastil Bran, Clara di pandu oleh seorang wanita untuk berkeliling di Kastil tersebut. Wanita itu menjelaskan tentang asal usul serta sejarah berdirinya Kastil Bran dan legenda vampir.

Penduduk Rumania percaya bahwa Strigoi, yaitu roh yang bangkit dari dalam kubur berkeliaran di daerah itu setelah petang menjelang. Roh ini bangkit dari kematian dan minum darah korbannya.

Berdasarkan cerita, Strigoi sebenarnya adalah manusia normal di siang hari. Setelah malam datang, jiwanya keluar dari tubuhnya yang sedang tidur untuk menteror orang-orang sekitarnya.

Setelah puas berkeliling dan menjelajahi isi dalam Kastil, Clara pun meninggalkan lokasi tersebut pada sore hari menjelang malam. Masih tertanam seribu tanya dalam otaknya, jika vampir adalah makhluk legenda lalu siapa Dave?

Sebelum akhirnya ia pulang, Clara menyempatkan berbelanja di sebuah supermarket, membeli bahan makanan untuk stok satu minggu ke depan. Memasuki musim dingin di tahun pertama ia menginjakkan kaki di Rumania, Clara harus menyesuaikan diri dengan iklim di sana. Cuaca yang sangat dingin benar-benar membuatnya menjadi sedikit pemalas. Ia malas untuk keluar rumah, bahkan jika harus bertandang ke cafe miliknya sendiri.


source: -Kumparan -Tourismnews.id

Part. 2 Cool Blooded

Clara melucuti long dress berwarna putih yang ia kenakan, serta bra dan celana dalam warna senada. Seperti biasa, ia biarkan berserakan di lantai bersebelahan dengan bathup yang berisi air hangat dan beberapa kelopak bunga mawar merah mengapung di atasnya. Harum semerbak tercium dari lilin aroma terapi membuat suasana menjadi sangat nyaman dan tenang.

Satu persatu kaki mungil Clara masuk ke dalam bathup, perlahan ia menenggelamkan tubuhnya hingga menyisakan kepala yang bersandar pada ujung bathup. Wanita itu memejamkan matanya, menikmati air hangat yang memberinya rasa tenang.

Dua tangan yang awalnya berpegangan pada sisi bathup perlahan ia turunkan ke bawah hingga tenggelam di dalam air. Beberapa menit setelah ia memejamkan mata, Clara melihat sosok lelaki lewat bayangan matanya.

Fiuhhhh....

Desir angin meniup tirai dalam kamar mandinya, kain berwarna putih itu melambai-lambai seakan terbang. Clara sama sekali tidak memperdulikan sekelilingnya dan enggan membuka mata meskipun ada sesosok lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri.

Tangan dingin itu menyapa tiap jengkal permukaan kulit Clara, membelai rambut serta wajahnya. Sosok lelaki misterius itu menatap dirinya dan tersenyum. “Ini mimpi apa bukan? Laki-laki itu siapa?”—batin Clara. Ketika wanita itu hendak membuka matanya, sesuatu di bawah sana menarik kakinya.

“Haahhhh....” Clara membelalakkan matanya ketika ia hampir tenggelam di dalam bathup. Dua bola matanya menelisik di setiap sudut kamar mandi, ia mencari sosok lelaki yang beberapa detik yang lalu berada di sampingnya.

“Tadi siapa? Masa gue ketiduran?”

Clara bermonolog. Ia bingung dengan situasi yang terjadi beberapa detik yang lalu. Sangat aneh, ia melihat sosok lelaki nyata di hadapannya. Tetapi setelah membuka mata, lelaki itu lenyap dari pandangan.

Wanita itu akhirnya beranjak dari tempatnya berendam. Ia mengambil bathrobe yang menggantung di sebelah pintu kamar mandi, lalu mengenakannya. Ia berjalan perlahan memasuki kamarnya dan...

“Hei..!!!” Pekik Clara, secepat kilat ia mengambil gunting di laci nakas yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Clara mengacungkan gunting ke arah lelaki misterius yang sedang duduk di sofa.

“Kamu siapa?? Maling ya?!” Ucap Clara setengah berteriak, tangannya gemetar, jantungnya berdegup sangat kencang.

Tiba-tiba lelaki misterius itu berjalan ke arahnya secepat kilat, mengambil gunting dari genggaman Clara kemudian kembali duduk. Tak sampai 2 detik, benar-benar sangat cepat.

Clara terperangah melihat kejadian beberapa detik yang lalu. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak dan berjalan perlahan menjauh. Baru beberapa langkah ia hendak keluar kamar, lelaki misterius itu tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.

“AAA—!!”

Clara berteriak kencang, namun dengan cepat lelaki itu menutup bibirnya dengan telapak tangan. Clara terpaku menatap lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya. Bola matanya berwarna merah, kulit putih pucat dan tubuh dingin sangat terasa ketika telapak tangan lelaki itu menyentuh kulitnya.

Detik berikutnya, lelaki itu membawa tubuh Clara berpindah tempat dengan sangat cepat. Ia kini tengah duduk di tepi ranjang besar.

“Clara, aku Dave.” Ucap lelaki misterius itu sembari mengulurkan tangan ke arahnya, namun tak mendapatkan balasan dari Clara.

“Kamu tau namaku dari mana?”

Dave tak menjawab, tangan kiri lelaki itu menunjuk laptop di atas meja yang menyala. “Hallo i'm Clara” tertulis jelas pada layarnya.

“Kamu masuk dari mana? Semua pintu terkunci.” Cecar Clara.

“Dari sana.” Dave menunjuk arah pintu yang tersambung dengan balkon di sisi belakang.

“Tiap malam pintu balkon gak pernah kamu tutup kan? Kamu gak takut ada hewan liar masuk?”

Clara berpikir keras, pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal terus memutari otaknya, hingga terdiam beberapa saat.

“Kamu siapa?” Tanya Clara sangat penasaran dengan lelaki itu.

“Aku Dave. Kamu lupa?”

“B-bukan itu maksud ku. Kamu manusia apa bukan? Gak mungkin kan kamu terbang terus masuk kesini?” Tanya Clara sembari mengernyitkan dahinya.

“Kalau aku terbang, dan bukan manusia apa kamu percaya?” Ucap Dave.

“Jangan bilang kamu vampir? Mitos, aku gak percaya.” Ucap Clara, ia tersenyum miring dan memalingkan muka. Tiba-tiba Dave mendekatinya dan mengeluarkan taring sembari menarik tengkuk Clara.

“AAAA...! STOP!! Dave!”

“Sekarang kamu percaya?”

“Dave! Please don't touch me.” Ucap Clara, ia berjalan mundur hingga menabrak meja dibelakangnya. Wanita itu sangat ketakutan, bahkan tak pernah terbesit sedikitpun ia akan bertemu sesosok vampir.

“Jangan takut Clara, kita bisa berteman kan?” Ucap Dave sembari berjalan ke arah wanita itu.

Stop Dave! Stop!” Clara mengangkat kedua tangannya di depan dada, bermaksud menahan Dave agar tak mendekatinya. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menatap wajah Clara yang terlihat sangat ketakutan.

“Jangan tak—”

“Dave! kamu bisa pergi gak?!”

“Oke, aku pergi. Aku pergi sekarang.” Ujarnya, Dave-pun berjalan ke arah balkon dan Clara berada di belakangnya, ia bersiap menutup pintu. Sebelum meninggalkan wanita itu, Dave menoleh kebelakang dan menatapnya.

“Clara, aku pastikan kamu aman.”

Dave melompat dari atas balkon dan menghilang dari tatapan Clara. Ia bergegas menutup pintu dan berlari ke arah tempat tidurnya. Wanita itu bersembunyi di bawah selimut tebal, mengurung dirinya di sana. Pikirannya sangat kacau dan takut.

“Oh, God.. Dave benar-benar vampir?” Gumamnya.

Malam itu Clara tidur tanpa mematikan lampu kamar. Baginya sangat sulit memejamkan mata jika cahaya lampu sangat terang, karena ia sudah terbiasa tidur dalam keadaan gelap. Namun tidak untuk malam itu, sampai pada akhirnya Clara tertidur setelah memasang airpods di telinganya dan memutar lagu.

For long au; Obsession

Nathalie bergegas keluar dari apartemen, menuju area parkir di depan gedung. Kekasihnya, Jeremy sudah menunggu disana. Mereka berdua hendak menonton film di bioskop, lebih tepatnya film kesukaan Nathalie.

Wanita cantik bertubuh sintal itu menghampiri kekasihnya yang berada di dalam mobil Audi hitam yang terparkir tak jauh darinya. Ia sedikit berlari kecil dengan tangan memegang dress nya bagian bawah karena mengembang tertiup angin. Nathalie lalu masuk kedalam mobil, mendapati sang kekasih masih asik memainkan game dalam ponselnya.

“Yuk Jer... Udahan main gamenya.” Rengeknya sambil menarik Hoodie milik Jeremy. Lelaki itu lalu meletakkan ponselnya lalu menatap wajah cantik kekasihnya dan tersenyum simpul.

“Bola yang tadi mana? Kamu bawa?”

Nathalie merogoh isi dalam tasnya dan mengeluarkan dua bola mungil itu lalu memberikannya pada Jeremy. Wanita di sebelahnya masih penasaran dengan dua bola kecil yang di hadiahkan kepadanya.

“Nath, lepas celana dalamnya.”

“Hah? Jangan aneh-aneh deh Jer, kita mau nonton film.” Pinta Nathalie, ia tak suka jika kekasihnya mulai iseng dengan alat atau sex toys untuk menggodanya.

“Katanya tadi kamu mau tau ini fungsinya apa?”

“Tapi kenapa harus lepas celana? Gak mau ah Jer!” Nathalie bersungut, ia benar-benar tak mau menuruti kemauan Jeremy. Wanita itu tau kelakuan nakal kekasihnya. Pasalnya ia akan menonton film yang sudah lama ditunggu dan tak mau ada yang menggangu.

“Kalau kamu gak mau lepas celana, mending cancel aja.” Ucap lelaki itu dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Jer! Ih ngeselin!”

Wanita itu akhirnya melepas celana dalamnya. Ia memandang wajah Jeremy yang tersenyum nakal kearahnya. Tangan lelaki itu lalu meraih tengkuk Nathalie, mendorong kearahnya dan mulai menciumi bibir kekasihnya. Nathalie sedikit berontak tetapi ia tak lebih kuat dari Jeremy. Detik selanjutnya, ia terbawa dan mulai menikmati ciuman lembut yang berubah menjadi lumatan yang sedikit kasar.

Jemari lelaki itu meraba dan meremas payudara Nathalie dari luar. “Mmpphh....” Desahnya pelan, lalu ia melepaskan pagutan keduanya. Jeremy menatap lekat kedua bola mata kekasihnya . Sedangkan wanita itu, mencoba mengatur nafas yang mulai tak beraturan. Tiba-tiba tangan Jeremy mulai meraba paha mulusnya, dan mulai masuk kedalam sana. Jantung Nathalie berdegup semakin kencang.

“Jer! Cukup!” Nathalie menahan tangan kekasihnya agar berhenti.

“Iya tau.. kita mau nonton kan? Coba sini aku cek udah basah apa belum?”

Tiba-tiba Jeremy memasukkan jarinya di sela paha Nathalie dan merasakan ada cairan keluar di bawah sana.

“Udah basah ya sayang? Sini aku pakaikan.”

Jeremy mengambil dua bola mungil itu, memasukkan kedalam mulutnya agar basah. Tangannya merenggangkan kedua paha Nathalie, dan memasangkan jiggle balls kedalam lubang vaginanya.

“Nggghhh .. aahhh ..” desahnya kala dua bola itu masuk dan tertanam disana. Tangan kanan Nathalie meremas lengan kekasihnya, sedangkan tangan kirinya mencengkeram dashboard di depannya. Ia tampak resah, dua bola itu mengganjal dan membuatnya tidak nyaman. Semakin ia banyak bergerak bola itu akan ikut bergerak dan sesekali mengenai titik g-spot, sehingga otomatis membuat lebih berpeluang mencapai orgasme.

“Jer, aku gak bisa begini. Filmnya dua jam, aku gak akan bisa...” Rengeknya. Terapi lelaki itu tak mempedulikannya. Ia malah terkekeh seperti mendapatkan mainan baru.

“Jangan banyak gerak ya sayang .. harus tahan sampai film selesai. Bahaya kalau kamu keluar pas lagi di tengah-tengah filmnya.”

“Tenang, aku pelan kok bawa mobilnya.” Lanjut Jeremy.

Ia lalu mengendarai mobilnya perlahan. Di dalam perjalanan, Nathalie hanya diam saja, ia terus meremas bajunya sendiri. Wanita itu merasa sangat tersiksa, namun ketika dua bola itu menyentuh titik g-spot-nya akan terasa nikmat. Ia gerakkan pinggulnya berharap bisa duduk lebih nyaman. Tetapi tidak, justru bola-bola itu terus menyentuh g-spot miliknya. Kaki Nathalie bergerak resah dan sesekali meremas lengan Jeremy.

Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah bioskop. Hari itu pengunjung tak terlalu ramai karena weekday. Biasanya mereka berdua menonton film pada hari Sabtu atau Minggu, tetapi karena Jeremy akan berangkat keluar kota, mereka memutuskan menonton film sebelum hari keberangkatannya.

Jeremy turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk kekasihnya. Ia pegang tangannya, membantu Nathalie turun dari mobil . Wanita itu semakin gelisah, ia meremas dress-nya dan menatap Jeremy dengan wajah memelas seakan memohon untuk menyudahi permainannya. Jeremy yang tau akan hal itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.

Lelaki tampan itu setia menggandeng tangan Nathalie, sebagai pelampiasan gadis itu sesekali meremas tangan Jeremy jika terasa dua bola mungil itu bergerak membuat kakinya bergetar. Ia merasa seperti tidak sanggup berjalan .

“Duduk sini dulu, aku beli popcorn sama minum ya..”

Nathalie hanya mengangguk, wajahnya sedikit memerah dan ia terus menggerakkan pinggulnya karena rasa yang tidak nyaman. Jeremy menenteng popcorn dan Coca-Cola di tangan, lalu kembali menghampiri tempat duduk kekasihnya.

“Sayang... Udahan ya? Aku gak tahan...” Nathalie benar-benar memohon agar melepaskan bola itu.

“Tahan sayang, yuk masuk. Aku bantu, jalannya pelan-pelan.”

Lelaki itu dengan sabar membantunya berjalan. Karena sedikit pengunjung, tiba-tiba muncul kelakuan iseng Jeremy. Tangannya menampar bokong wanitanya, sontak Nathalie kaget dan mendesah karena bola di dalamnya bergerak menabrak g-spot miliknya.

“AAHHH....” erangnya. Jeremy bergerak cepat memeluk tubuh kekasihnya dan mengusap punggungnya perlahan.

“Jer... Jangan siksa akuu...” Bisiknya pelan, kakinya bergetar dan mulai lemas. Sedangkan kekasihnya nampak tenang dan tertawa kecil melihat Nathalie sangat gelisah.

Setelah mendapatkan tempat duduk mereka, tak lama film dimulai. Nathalie tak bisa fokus melihat film itu, lelaki di sebelahnya terus memperhatikan gerak gerik kekasihnya. Film baru dimulai sekitar 40 menit, tiba-tiba Nathalie mengajaknya pulang. Ia benar-benar tidak kuat menahan setiap pergerakan dua bola kecil didalam lubang vaginanya.

Jeremy menuruti kemauan wanitanya, setelah sampai di dalam mobil. Lelaki itu berniat memulai kembali permainannya. Ia menurunkan sandaran pada seat di mobilnya, lalu menyuruh Nathalie membalikkan tubuhnya. Kedua tangan Nathalie bertumpu menahan tubuhnya.

“Sayang, tahan ya.. jangan teriak, kita masih di area parkir.” Jelasnya.

Tanpa aba-aba, Jeremy mengepalkan tangannya lalu menumbuk bagian belakang milik Nathalie.

“Ngghhh....” Lenguhnya, ia menahan desahan saat dua bola itu menyentuh g-spot miliknya. Jeremy terus mengulanginya secara perlahan.

“Aahhh....” Desahannya keluar begitu saja, sejujurnya Nathalie merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tangan kiri lelaki itu menerobos masuk kedalam baju kekasihnya, mendapati dua gundukan payudara yang sintal. Ia memainkan dan memutar-mutar putingnya yang sudah mengeras. Tangan kanannya masih bergerak menumbuk bagian belakang milik Nathalie .

“Aahhh Jer... Aku mau keluar...” Rancu wanita itu setelah merasakan hendak mencapai pelepasannya. Hentakan kedua benar-benar Nathalie mengeluarkan cairan kenikmatan dibawah sana .

“AAHHHH......” Desahnya panjang. Tubuh dan kakinya bergetar. Jeremy mengusap-usap punggung Nathalie dengan lembut, membiarkan gadisnya itu mengatur nafasnya perlahan-lahan .

“Enak sayang? Aku lepas ya?”

Nathalie hanya mengangguk pelan. Lelaki itu lalu merogoh lubang vagina milik kekasihnya, menarik dua bola mungil yang sedari tadi tertanam di bawah sana. Jeremy kemudian membantu membersihkan cairan yang mengalir membasahi kedua paha gadis itu dan membantunya memakaikan celana dalamnya.

Jeremy memeluk erat tubuh kekasihnya, mengecup kening Nathalie dan mengusap punggungnya.

“Sayang.. besok aku berangkat ya? Kamu gak usah nganterin aku ke bandara, penerbangannya pagi banget jam 7 .”

“Jangan lama-lama, nanti aku kangen....”

“Gak lama kok sayang... Jangan nakal yaa kalau aku tinggal...”

Wanita yang berada dalam pelukannya itu hanya menganggukkan kepala perlahan, seakan ia tak rela di tinggal kekasihnya. Ucapan Jeremy seakan penuh makna. Apakah itu sebuah firasat? Semoga tidak terjadi hal yang buruk pada hubungan mereka berdua. Lelaki itu sangat mencintai Nathalie.

Nathalie adalah dunia dan candu bagi Jeremy.

TW // 3some 🔞

“Hana!!” Pekik Marcell setengah berteriak ketika wanita itu membanting pintu kamarnya. Bukan tanpa sebab, Hana tak pernah tau jika Halsey menyukai Marcell. Dan kejadian sepuluh menit yang lalu cukup membuatnya malu.

Lelaki itu kemudian berlari mengejar Hana yang hampir pergi meninggalkan rumah. Kala itu Hana sedang menuruni tangga sembari berlari kecil dan Marcell lebih cepat darinya. Lelaki itu menarik lengan Hana untuk menahannya.

“Lo mau kemana?” Tanya Marcell pandangan matanya mengunci dua bola mata Hana.

“Lepasin gak?! Lo kelarin dulu deh sama Halsey.”

“Apa yang harus di kelarin? Gak ada, masuk dulu kita bicarakan baik-baik. Gak enak sama Hansel kalau dia sampai dengar.” Pinta Marcell, tangannya masih menggenggam lengan Hana erat. Wanita itu akhirnya mau menuruti permintaan Marcell. Keduanya menaiki tangga dan kembali ke kamar Hana.

Halsey masih berdiri di sana, bersandar di sisi sofa sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Ketika kakak perempuannya memasuki kamar bersama Marcell, wanita itu seperti hilang akal. Halsey berjalan menghampiri Marcell lalu menarik tangannya dan membawanya ke arah sofa. Ia mendorong tubuh lelaki itu hingga terjatuh di atas sofa dan mencium bibir Marcell dengan gusar.

Marcell tidak menolak, bahkan ke dua tangannya memegangi pinggang Halsey dan membalas ciuman dengan lumatan yang sedikit kasar. Apakah Marcell lupa jika ada Hana di sana? Tidak. Bahkan di sela ciuman panasnya dengan Halsey, ia sempat melirik ke arah wanita yang sedang berdiri sembari berkacak pinggang, menyaksikan dua anak manusia yang sedang bergulat dengan nafsu.

“Kak touch my body.” Pinta Halsey pada lelaki yang posisinya kini berada di hadapannya. Tanpa di minta, wanita itu melucuti pakaiannya sendiri hingga menyisakan bra dan celana dalamnya saja.

Melihat pergerakan adik perempuannya terlampau agresif, Hana kemudian menghampiri gadis itu.

“Heh! Sinting! Lo mau ngapain?!” Tanya Hana dengan nada tinggi.

“Kak, aku capek self service. Aku pengen kak Marcell bantuin aku.” Jelas Halsey, sontak membuat kakak perempuannya shock. Halsey yang sangat polos di matanya, pernah melakukan self service. Entah demi memuaskan nafsunya atau karena penasaran saja.

“Kak, please..” Halsey memohon setengah merengek pada kakaknya, namun tak ada jawaban. Hana masih bingung dengan situasi saat ini, apa yang akan ia lakukan setelahnya. Menyetujui permintaan Halsey atau menolaknya. Sedangkan ia sendiri menginginkan Marcell menjamah tubuhnya, aktivitas beberapa menit yang lalu belum juga di tuntaskan.

“Han, duduk sini.” Tiba-tiba Marcell menarik lengan Hana dan membawanya duduk di sebelahnya.

“Lo masih mau lagi? Ayo bertiga.” Tawar Marcell. Wanita itu menatap wajah Marcell seakan tidak percaya dengan tawarannya. Bahkan ia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Mungkin ini hal gila tetapi jika harus jujur, Hana sangat menyukai permainan Marcell. Hanya menggunakan jari-jarinya saja, Hana di buat terbang ke langit ke tujuh. Bagaimana jika menggunakan milik Marcell? Tak mendapatkan jawaban dari Hana, lelaki itu tiba-tiba melumat bibirnya pelan lalu menjadi sedikit kasar. Wanita itu-pun menyesuaikan ritme lumatan yang di ciptakan oleh Marcell hingga membuatnya relax. Marcell meremas dua gundukan payudara Hana yang menyembul lewat kaos tipis secara bergantian.

“Mmphh...” Lenguhnya pelan.

Halsey seperti kepanasan melihat kakak perempuannya dan Marcell sedang bercumbu di depan mata. Ia tak mau kalah, detik berikutnya Halsey melucuti bawahan yang di kenakan Marcell hingga meloloskan penis yang sudah mengeras dan tegang. Dengan sangat lihai tangan Halsey mengocok batang penis milik Marcell dengan tempo sedang kemudian memasukkan ke dalam mulut mungilnya. Wanita itu mengulum dan mengurut batang penisnya hingga mengeluarkan cairan pre-cum.

“Owh fuck!” Racau Marcell ketika ia menemukan kenikmatan di balik blowjob yang di berikan Halsey.

Setelah puas bermain dengan payudaranya, jemari Marcell kini bergerilya menjamah milik Hana di bawah sana.

“Udah basah, hmm i like your pussy.” Ucap Marcell dengan senyum khasnya membuat libidonya seketika naik.

I wanna try your dicky, babe..” Bisik lirih Hana ke telinga Marcell membuat lelaki itu semakin gusar memainkan milik Hana yang sudah sangat basah. Di bawah sana, Halsey masih sibuk mengulum dan memainkan penis besar milik Marcell. Sesekali mengulum dua bola kembar milik lelaki itu hingga membuatnya meracau lebih kencang.

“Oughh... Fuck! Stop!” Pekik Marcell. Halsey-pun menyudahi aktivitas di bawah sana dan menatap lelaki yang tengah bercumbu dengan kakak perempuannya. Marcell membalas tatapan Halsey, detik berikutnya ia menarik tubuh Halsey dan membawanya naik ke atas tubuhnya.

Marcell dengan gusar melumat bibir ranum milik Halsey sembari melepas kaitan bra-nya dalam satu kali hentakan. Hana tak mau kalah, wanita itu semakin agresif. Ia melucuti pakaiannya sendiri dan kini Hana menampilkan tubuh sexy-nya tanpa sehelai kain yang menutupi. Hana kemudian berada di bagian bawah lelaki itu, ia mengurut batang penis Marcell yang sudah sangat tegang lalu menggesek pada miliknya sendiri.

“A-ahh...” Desahnya ketika Hana berhasil melesatkan batang penis Marcell pada miliknya sendiri. Wanita itu mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan, ia memaju mundurkan dengan tempo sedang. Tangan kirinya bertumpu pada sofa, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas payudaranya sendiri. Sesekali ia memejamkan matanya dan kepalanya menengadah kala penis besar dan panjang milik Marcell menyentuh titik g-spot-nya.

“Owh fuck! I like it, Han.” Racau Marcell di tengah-tengah cumbuannya dengan Halsey.

Lelaki itu kini sedang bermain dengan gundukan payudara ranum milik Halsey, dua tangannya tak di biarkan menganggur. Ia gunakan untuk meremas dan memilin payudara wanita itu, lalu dengan rakus Marcell melahap payudara Halsey secara bergantian. Memutar puting wanita itu dengan lidah dan sesekali menggigitnya.

“Ahh...” Satu desahan lolos dari bibir mungil Halsey. Wanita itu mulai menikmati permainan yang di ciptakan oleh Marcell, lelaki yang sangat ia sukai.

“Halsey, lepas dulu ini.” Ucap Marcell sembari meraba bagian bawah milik Halsey. Wanita itu-pun menuruti perkataan Marcell, ia melepas celana dalamnya dan melempar ke sembarang arah. Lelaki itu kemudian membawa bagian bawah milik Halsey tepat di atas wajahnya. Dua tangan wanita itu berpegangan pada sofa dan kakinya ia lipat, bertumpu di mengapit kepala Marcell.

Lelaki itu mulai melumat bibir vagina Halsey, memainkan lidahnya sesekali menyesap klitorisnya membuat wanita itu melenguh karena nikmat.

“Nghh...” Lenguh Halsey, tangannya mencengkeram sofa di hadapannya.

Sedangkan Hana masih sibuk menggoyangkan pinggulnya dengan lincah, dan terus mendesah kencang. Tak lama ia mengubah posisinya menjadi berjongkok dan menaik turunkan pinggulnya. Menghujam batang penis Marcell dengan tempo yang lebih cepat.

Halsey terus mendesah dan menggoyangkan pinggulnya, resah. Ketika lidah Marcell bermain dengan klitorisnya sedangkan dua jarinya telah masuk dan mengoyak liang milik Halsey dengan tempo sedang. Dua jari lelaki itu sangat lihai mengoyak liangnya, sesekali mempercepat tempo kocokan di bawah sana hingga membuat sang empu mendesah kencang. Permainan lidah Marcell serta jari-jarinya yang sangat lihai membuat wanita itu hampir sampai pada pelepasannya.

“Aahhh.. Kak, a-aku mau cumhh... Awasshh..” Racau Halsey yang hendak menggeser tubuhnya agar cairan miliknya tidak mengenai wajah Marcell, namun di tahan oleh lelaki itu.

No, no, Halsey. I like it.” Ujarnya. Lalu tangan Marcell memegangi pinggul wanita itu agar tidak berpindah tempat. Halsey-pun tak beranjak dari sana, lututnya mulai bergetar kala menjemput pelepasannya.

“AHHH.. Kak...” Desah Halsey sembari meremas sofa di hadapannya. Kakinya bergetar hebat, tubuhnya menggelinjang saat mencapai titik orgasm-nya. Cairan milik Halsey mengalir dari liangnya dan dengan sigap Marcell menyesapnya, menjilati liang vagina yang sangat basah itu hingga benar-benar bersih.

“Arghhh... Fuck Han!” Pekik Marcell saat tiba-tiba pinggul Hana menukik tajam menghujam batang milik lelaki itu.

“Gue mau keluarrrhh.. Ahh...” Racau Hana. Mendengarnya, Marcell kemudian membantu Hana menggerakkan pinggulnya, ia memegangi pinggul wanita itu lalu menaik-turunkan dengan tempo yang cepat. Sedangkan Marcell sendiri juga menggoyangkan pinggulnya berlawanan dengan milik Hana hingga menimbulkan bunyi khas yang semakin keras dan keduanya hendak mencapai pada pelepasannya.

“H-han, gue mau keluarrr, lo cabuthh.”

No! gue dikit lagi. Ahhh...”

“Arghhhh...” Desahan keduanya saling bersahutan saat sama-sama mencapai pelepasannya. Marcell, terengah-engah sembari menatap heran wajah Hana yang dengan sengaja tidak mencabut batang penisnya saat menyemburkan sperma. Cairan miliknya sudah menyatu dengan milik Hana di bawah sana. Wanita itu akhirnya ambruk di atas tubuh Marcell dan lelaki itu mengusap punggung Hana dengan lembut.

It's oke Cell, bentar lagi gue haid.” Ucap Hana berbisik lirih di telinga Marcell sembari menetralkan nafasnya. Lelaki itu mengangguk pelan. Beberapa menit mereka saling berpelukan, Hana merasa nyaman dengan usapan Marcell hingga ia memejamkan matanya. Tak lama Hana tersadar akan sesuatu. Wanita itu melepaskan pelukan Marcell dan beranjak dari sana.

“Halsey?” Ucapnya, dua bola matanya menelisik seluruh ruang kamarnya namun tak menemukan adik perempuannya di sana.

“Dia udah keluar.” Jelas Marcell sembari memegangi tangan Hana.

“Han, Halsey gak marah kok. Lanjut Marcell, ia menarik tangan Hana dan membawa ke pelukannya lagi.

“Lo mau mandi sekarang apa nanti? Udah lengket banget loh Han.” Tanya Marcell sembari mengusap pucuk kepala wanita itu.

“Mau mandi sekarang, tapi kaki gue..”

“Iya, gue bantu. Gak mungkin gue ninggalin lo kaya gini.” Ucap Marcell sembari menggendong Hana ala bridal dan membawanya ke kamar mandi. Hana dan Marcell berdiri di bawah shower. Air hangat yang mengalir membuat tubuh keduanya lebih relax.

“Cell, lo kenapa mau sampai kaya gini ke gue dan Halsey? Pacar lo?” Tanya Hana tiba-tiba.

“Gue kagak punya pacar, fwb-an doang pas dia LDRan sama tuh cowok. Tapi sekarang udah jarang ketemu lagi, gara-gara cowoknya balik.” Jelas Marcell. Wanita itu hanya mengangguk saja, ia masih memejamkan matanya sembari menikmati air hangat yang mengucur membasahi wajahnya.

“Han, pacar lo?”

“Uhuk.. Uhuk.. Aaaah Cell!” Ucap Hana, tubuhnya mendunduk dan mencoba mengeluarkan air yang masuk ke hidungnya.

“Han, lo gapapa?” Tanya Marcell sembari mengusap tubuh wanita itu.

“Gapapa.” Jawab Hana singkat, ia mengusap wajahnya beberapa kali dan menjauh dari bawah shower.

“Pacar? Relationship? Yang ada relationshit! Gue sekarang gak percaya cowok setelah di tinggal selingkuh berkali-kali. Cowok yang gue percaya cuma bokap sama adek gue.” Lanjut Hana. Tatapan matanya mengunci dua bola mata Marcell yang berdiri di hadapannya.

Marcell berjalan perlahan mendekati Hana dan tiba-tiba memeluknya, mengusap punggung wanita itu. Hana cukup bingung dengan situasi saat ini, namun entah kenapa pelukan Marcell bisa membuatnya tenang.

“Ngapain lo peluk gue?” Ucapnya, wanita itu masih mematung di dalam pelukan Marcell.

“Ya gue pengen peluk lo aja. Gaboleh?” Timpal Marcell.

“Ck...” Decak Hana kemudian wanita itu melepaskan pelukannya. Menatap mata Marcell beberapa saat tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.

“Han, gue emang temen adek lo, dan kita juga jarang ketemu. Tapi kalau lo butuh sesuatu, butuh temen buat sharing, atau apapun itu. Lo bisa hubungi gue.”

“Terserah lo mau anggap gue apa, gue bisa usahain apapun buat lo.” Timpal Marcell.

Hana masih terpaku, dan mencoba memahami kalimat yang di ucapkan Marcell. Berkali-kali di sakiti oleh mantan kekasihnya, membuat Hana tidak mudah percaya dengan siapapun. Hana sangat sulit membuka hati, bahkan ia lebih sering menyendiri. Bagi Hana, ucapan Marcell seperti mengambang dan tidak pasti. Namun kali ini, Marcell berhasil membuat Hana lebih membuka diri.


—End or Tbc? give me a feedback, guys! drop on my cc: https://curiouscat.qa/deorphic

Part. 1 Cold Blooded

Cluj-Napoca

Cluj-Napoca (Hongaria: Kolozsvár ) [7] , sebagai ibu kota wilayah bersejarah Transylvania , adalah salah satu kota yang paling banyak dikunjungi di Rumania . Kota dengan 324.576 orang ini sangat menyenangkan, dan tentunya merupakan pengalaman yang luar biasa bagi mereka yang ingin melihat kehidupan perkotaan Transylvania yang terbaik. Seiring dengan santapan yang lezat, kegiatan budaya yang luar biasa, warisan sejarah yang indah dan suasana yang luar biasa, kota ini pasti tidak akan mengecewakan mereka yang menambahkannya ke dalam rencana perjalanan mereka. Apa lagi fakta bahwa Cluj (sebutan singkatnya) sangat mudah diakses dan dijelajahi


Hoia Baciu

Hutan Hoia (bahasa Rumania: Pădurea Hoia; bahasa Hongaria: Hója-erdő) adalah hutan yang terletak di sebelah barat kota Cluj-Napoca, dekat bagian terbuka Museum Etnografi Transylvania, Rumania.

Transylvania adalah daerah yang jadi tempat di mana salah satu makhluk paling menyeramkan sepanjang sejarah tinggal. Ya, Vampire yang tinggal di kastil Bran, namun yang jelas Hoia Baciu semakin menambah kesan seram kota Transylvania. Menurut legenda, Hutan Hoia konon adalah hutan berhantu dengan berbagai fenomena mistis yang sering ditemui.

Tempat ini sering dijuluki Segitiga Bermuda versi darat karena memiliki keanehan yang sama. Hoia Baciu dikenal sebagai tempat di mana ketika kita masuk, maka takkan bisa keluar lagi. Tak hanya disebut Segitiga Bermuda daratan, Hoia Baciu juga dikenal sebagai hutan di mana kita bisa menemukan lubang waktu. Orang-orang percaya jika di suatu tempat di pusat hutan, ada sebuah gerbang gaib yang bisa tembus ke waktu dan dimensi berbeda.


Clara Emiliana tinggal di sisi barat kota Cluj-Napoca setelah memutuskan untuk hidup terpisah dengan orang tuanya. Kini ia menempati sebuah rumah berukuran sedang di antara hutan Hoia Baciu dan lapangan berkuda Echitatie Calarie.

Rumah dengan dua lantai, di lengkapi satu kamar utama yang cukup besar dan luas. Melalui jendela bagian depan akan di suguhkan pemandangan lapangan berkuda nan hijau dan asri. Kemudian di bagian belakang, Clara dapat menikmati pemandangan hamparan hutan Hoia Baciu melalui balkon. Menurut mitos masih ada makhluk vampire yang menghuni hutan tersebut. Entah benar atau tidak, Clara sudah merasa sangat nyaman tinggal di rumah antik itu. Hingga tidak mempermasalahkan lokasi yang berjarak tak jauh dari hutan Hoia.

Musim dingin yang berlangsung di Cluj-Napoca selama 3,4 bulan, dari 23 November sampai 3 Maret, dengan suhu tertinggi harian rata-rata di bawah 8°C. Membuat Clara enggan bepergian, bahkan untuk menengok Cafe Marrakech miliknya. Bulan terdingin dalam setahun ini, ingin ia gunakan berlama-lama di rumah baru dan mencari inspirasi untuk tulisannya.


source: -Wikipedia, Wikitravel -Correcto (Ekel Suranta Sembiring)

TW // kissing

nut nut nut...

cklek...

Suara decitan pintu terdengar kala Jeremy membuka pintu apartemen milik Nathalie. Tak perlu menekan bel bahkan menunggu Nathalie membuka pintu untuknya, lelaki itu sudah sangat terbiasa dengan tempat yang ia kunjungi sekarang. Nathalie yang sedang duduk di ruang makan itu-pun tidak merasa keberatan atau marah melihat Jeremy keluar masuk apartemennya.

Lelaki berlesung pipi itu mengayunkan langkahnya menuju ruang makan dan melemparkan senyum khasnya pada Nathalie. Wanita yang sedang menunggu sosok lelaki yang kini di hadapannya itu membalas senyuman yang merekah di bibirnya.

“Maksud kamu apasih Jer, astaga. Kamu mau bikin aku jadi gendut?” Nathalie bersungut ketika melihat makanan yang lumayan banyak di meja makan. Dan sesungguhnya ia tak tau Jeremy memang hanya modus saja atau dia sengaja membelikan banyak makanan.

“Sekarang kan aku di sini Nath, aku bantu habisin. Kebetulan aku juga belum makan.” Jelas lelaki itu kemudian duduk berhadapan dengan Nathalie dan keduanya menyantap makan malam bersama. Suasana di ruangan tersebut sangat tenang. Jeremy sangat lahap menyantap hidangan di atas meja itu namun Nathalie hanya beberapa suap saja. Malam itu Nathalie memang sedang tidak berselera makan.

Setelah menyelesaikan aktivitas makan malam mereka, Nathalie membersihkan meja dan merapikan semua alat makan yang tadi di gunakan. Jeremy memandangi gerak gerik wanita itu tanpa berkedip barang sedetikpun. Di dalam pikirannya banyak sekali harapan di sana. Jauh di lubuk hatinya hanya ada sosok Nathalie Galenia.

Lelaki itu hanyut dalam lamunan dan angan, kenangan masa lalu saat keduanya masih merajut kasih. Saat canda, tawa dan luka mereka lalui bersama. Banyak impian yang ingin ia capai bersama Nathalie. Tapi kapan? Semua keputusan sepenuhnya ada di tangan wanita itu. Tak berapa lama, suara lembut sosok wanita yang di cintainya membuyarkan lamunannya.

“Jer...” Sapa lembut Nathalie sembari mengusap lengan Jeremy. Lelaki itu tersadar lalu menatap lekat wajah wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya.

“Hm?”

“Kamu masih mau di sini?” Tanya Nathalie, dan di jawab anggukan saja oleh lelaki itu.

“Nonton film aja yuk, di ruang tengah.” Ujarnya. Jeremy kemudian berdiri dan mengekor di belakang Nathalie menuju ruang tengah yang tak jauh dari ruang makan. Keduanya duduk bersebelahan di satu sofa yang sama lalu wanita itu menekan remote untuk menyalahkan televisi. Berkali-kali ia tekan, tetapi televisi yang menempel pada dinding itu tak menyala.

“Jer, gak mau nyala. Batrenya habis kali ya?”

“Coba aku nyalain dari tv-nya” Ujarnya, lalu Jeremy mencoba menyalakan televisi. Namun nihil, sama sekali tidak menyala.

“Ini tv kamu rusak apa gimana Nath? Gak mau nyala.” Ucap Jeremy, sembari menoleh ke arah wanita itu.

“Yah.. Gimana dong? Nonton tv di kamar gimana?” Tawar Nathalie, ia merasa tak enak hati jika menyuruh Jeremy pulang dengan paksa, padahal lelaki itu masih ingin tinggal di sana.

Nathalie dan Jeremy akhirnya memutuskan menonton tayangan netflix di kamar. Di depan ranjang besar milik wanita itu terdapat satu sofa berukuran sedang yang biasa ia gunakan untuk menonton televisi. Jeremy lebih dulu duduk di sofa tersebut dan menyalakan pendingin udara, sedangkan Nathalie mengambil satu selimut besar dari atas ranjang dan membawanya ke atas sofa.

“Buat apa selimut?” Tanya Jeremy sembari menatap lekat wajah Nathalie.

“Aku biasanya ketiduran kalau nonton film Jer.” Jawab Nathalie singkat.

“Jadi kebiasaan baru nih, nonton film sampai ketiduran.”

Nathalie hanya terkekeh lalu duduk di sebelah lelaki itu sembari merentangkan selimut hingga menutupi separuh tubuhnya. Jeremy ikut masuk ke dalam selimut tebal berwarna coklat muda dan mencari posisi yang nyaman untuk tubuhnya.

23:30

A star is born adalah film pertama yang terputar. Keduanya sangat fokus menyaksikan adegan yang di perankan oleh Bradley Cooper dan Lady Gaga tersebut. Tak banyak obrolan keduanya, Jeremy dan Nathalie sangat fokus hingga sama-sama tak menyadari wanita itu sudah berada di pelukan Jeremy. Momen malam itu seperti mengulang kembali saat mereka masih bersama, menghabiskan waktu untuk menonton Netflix hingga tengah malam. Hangat dan nyaman di dalam pelukan yang Nathalie rasakan bak sebuah obat penawar rasa sakit yang ia rasakan akhir-akhir ini. Ia memang butuh bersandar, ia butuh di topang oleh seseorang, dan lelaki itu sudah ada di dekatnya kini.

02:40

Jeremy dan Nathalie masih sama-sama terjaga. Tak sedikitpun rasa kantuk yang menyapa.

“Nath...”

“Hm?” Ucapnya tanpa menatap lelaki yang berada di sebelahnya.

“Nath, liat sini dulu.” Pinta Jeremy sekali lagi. Kemudian Nathalie menoleh ke arah Jeremy dan dua bola mata mereka saling mengunci satu sama lain.

“Nath, aku mau jujur sama kamu.” Ucap Jeremy sembari menggenggam tangan Nathalie.

“Ya udah ngomong aja Jer.”

“Nath, aku tuh kangen masa-masa kita dulu..”

Wanita itu terdiam, ia tak masih tak percaya Jeremy mengatakannya langsung. Sedangkan Nathalie masih ragu dengan dirinya sendiri.

“Nath, bisa gak kita kaya dulu lagi. Kamu tau kan, mama udah ngebebasin aku.” —– “Helena juga udah sama Jovan.”

“Tapi Jer...”

“Tapi apa?” Tanya Jeremy sembari menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga Nathalie.

“Tapi aku ngerasa gak pantes buat kamu Jer. Aku pernah bohong sama kamu, aku pernah khianatin kamu Jer.” Ucap wanita itu sembari menahan air mata yang hampir tumpah.

“Aku gak peduli.”

“Jer, aku pernah... S-sama Jov—,”

“Aku gak peduli Nath! Itu bagian dari masa lalu kamu. Aku mau kita ulang dari awal lagi.” Cecar Jeremy sembari menangkup kedua pipinya dan akhirnya Nathalie tak sanggup membendung air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya, kemudian Jeremy menarik tubuh Nathalie ke dalam pelukannya. Ia usap lembut punggung wanita itu, hingga tangisnya mereda. Ia pandangi wajah Nathalie yang tampak sayu, detik kemudian Jeremy mendaratkan ciuman yang lembut di bibir Nathalie.

Ciuman di tengah suasana rindu, ciuman yang menyalurkan rasa hangat hingga melupakan lelah pada jiwa mereka. Ciuman yang berubah menjadi lumatan penuh nafsu. Ya, karena keduanya sama-sama rindu hingga membuatnya menjadi candu.

3 am

“Jer, ini jam tiga pagi” Ucap Nathalie sembari melepaskan pelukan.

“Terus kenapa? Aku masih mau di sini, peluk kamu.” Timpal Jeremy.

“Kamu gak ngantuk?”

“Enggak, emang kamu ngantuk?” Tanya Jeremy dan wanita itu menggelengkan kepalanya. Tanpa aba-aba Jeremy kembali meraih tengkuk Nathalie dan melumat bibir manis wanitanya yang selalu membuatnya candu.

Setelah menyelesaikan pekerjaan hari ini, Helena menggunakan taksi online menuju kediaman Jeremy. Ia dan lelaki itu sudah sama-sama sepakat untuk mengakhiri perjodohan yang sebelumnya gencar. Wanita itu membawa satu bouquet bunga dan satu keranjang buah untuk mama Jeremy.

Setibanya di rumah Jeremy, wanita itu di sambut dengan baik oleh keluarga Jeremy. Semua berkumpul di ruang tengah, kecuali Tristan dan istrinya juga Jeremy yang tak nampak di sana. Jeremy memang masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan hingga membuat dirinya pulang terlambat. Perbincangan mengenai pembatalan perjodohan Jeremy dan Helena pun di bahas dengan baik-baik tanpa ada beban satu sama lain.

“Tante, saya mohon maaf tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Saya sama Jeremy udah sepakat, kami mau berpisah secara baik-baik. Selama ini saya sama Jeremy udah mencoba lebih dekat lagi tapi tidak bisa.” Jelas Helena pada wanita paruh baya yang duduk di hadapannya. Ia genggam tangan wanita itu sembari mengusapnya pelan. Mama Jeremy-pun membalas usapan di telapak tangan itu lalu tersenyum.

“Tidak apa-apa nak, sekarang terserah kalian. Mama cuma mau fokus sama kesehatan aja.”

“Mama yakin, apapun keputusan kalian itu yang terbaik.” Lanjut mama Jeremy. Ia benar-benar sudah ikhlas dengan keputusan anak laki-lakinya.

“Terima kasih tante.” Ucap Helena sembari tersenyum lega.

“Oya, ayah kamu tidak ikut?”

“Oh, ayah titip salam dan minta maaf tidak bisa ikut. Tadi pagi ke Singapore ada pekerjaan di sana.” Jelas Helena. Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian mengajak Helena makan malam sebelum meninggalkan rumah mereka.

Semua menu makan malam sudah di siapkan oleh asisten rumah tangga dan tertata rapi di meja makan. Helena ikut berbaur di dalamnya juga sesekali bersenda gurau.

Setelah makan malam usai dan sebelum Helena pamit untuk pulang, Jeremy tiba di rumah. Keduanya berpapasan di ruang tengah, dan sama-sama melemparkan senyum. Wanita itu menahan Jeremy kemudian mengajaknya berbicara sebentar di samping rumah.

“Je, gue mau ngomong sebentar.” Ujarnya lalu menarik tangan Jeremy dan membawanya ke samping rumah. Keduanya duduk di sebuah bangku sembari menatap langit yang di penuhi bintang.

“Je, gue udah mutusin buat lanjut sama Jovan, gue udah bilang sama ayah, sama nyokap lo juga. Gue berharap kita bisa tetep kaya gini Je, gak ada yang berubah. Dan gue harap lo bisa balikan sama Nathalie.” Ucap Helena bak kalimat perpisahan di antara keduanya.

“Lo baik-baik ya sama Jovan, jaga hubungan kalian. Kalau gue sama Nathalie masih gak yakin bisa balikan apa enggak. Semua keputusan ada di Nathalie.” Jelas Jeremy sembari menatap ke langit malam yang begitu gelap.

“Lo harus bisa dapetin Nathalie lagi Je. Kalau sekarang waktunya belum tepat, mungkin suatu saat nanti lo bisa balik sama Nathalie. Lo pasti bisa.” Ucap Helena sembari menepuk-nepuk punggung Jeremy pelan. Keduanya saling menatap dalam lalu tersenyum.

“Mau gue peluk? Pelukan terakhir gue Je.” Tawar Helena sembari merentangkan ke dua tangannya. Jeremy terkekeh lalu masuk ke dalam pelukan Helena. Mereka saling mengeratkan satu sama lain, saling mengusap penuh kehangatan.

“Yok balik ke dalem, gue mau pamit pulang.” Ucap Helena sembari berdiri dan berjalan memasuki rumah.

Di ruang tengah, mama Jeremy sedang duduk bersantai di sana.

“Tante, saya pulang ya? Terima kasih banyak udah di ajakin makan malam di sini.”

“Iya, kapanpun kamu boleh main ke rumah. Oya, biar di anterin Jeremy aja, kamu gak bawa mobil kan?” Tawar mmama Jeremy, namun segera di tolak olehnya.

“Terima kasih tante, tapi saya udah di jemput sama Jovan.” Jawab Helena sembari tersenyum. Wanita paruh baya itu-pun tersenyum dan mengangguk. Jeremy mengantarkan Helena hingga ujung pintu, menatap lamat wanita itu berjalan menjauh darinya. Di depan sana, seorang laki-laki yang berada di dalam mobil berwarna hitam sudah menunggu Helena. Wanita itu kemudian naik ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arah Jeremy yang sedang berdiri sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Jeremy dan Jovan saling menatap lalu tersenyum sebelum akhirnya Jovan melajukan mobilnya pelan meninggalkan rumah Jeremy.

“Mana lagi yang belum masuk ke koper?” Tanya Jovan di sela aktivitasnya membantu Helena membereskan barang-barang milik wanita itu.

“Tinggal baju kotor aja sih Van, udah aku aja.” Jawab Helena.

“Aku aja sini, kamu masih capek kan? Duduk aja.” Perintah Jovan pada Helena. Kemudian wanita itu duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan koper besar. Pandangan Helena tak lepas dari sosok lelaki yang sedang membereskan barang-barangnya dan menata dengan rapi ke dalam koper.

“Kamu kenapa ngeliatin aku kaya gitu?” Tanya Jovan sembari tersenyum pada Helena.

“Kamu gak ada yang berubah Van. Masih sama kaya tiga tahun lalu.” Ujarnya.

Jovan menutup koper besar di hadapannya, tangannya bertumpu pada koper itu. Lalu memandang lekat wajah Helena dan tersenyum, satu ciuman singkat mendarat pada bibir wanita itu.

Finish.” — “Tinggal check out kan?” Lanjut Jovan sembari menurunkan koper dari atas ranjang.

Helena mengangguk kemudian berdiri, membantu lelaki itu mendorong satu koper berukuran sedang di tangannya dan satu koper berukuran besar di bawa oleh Jovan.


Cause I wanna touch you baby And I wanna feel you too I wanna see the sun rise On your sins just me and you

Light it up, on the run Let's make love tonight Make it up, fall in love Try

Alunan lagu random yang tersambung pada Apple CarPlay di mobil tersebut membuat suasana hening seketika. Jovan fokus pada kemudi sedangkan Helena menatap keluar dari dalam kaca mobil. Keduanya diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir masing-masing.

But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I'm right here

I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I'm right here

Lirik berikutnya membuat Helena larut ke dalam alunan lagu, wanita itu membangun beribu kenangan yang pernah ia lalui bersama lelaki di sampingnya. Dusk Till Dawn adalah lagu favorite-nya dengan Jovan sejak tiga tahun lalu.

Kenangan manis dan pahit ketika mereka sama-sama berjuang untuk masa depan. Saat Helena sibuk meniti karir untuk mengumpulkan pundi uang serta cita-citanya menjadi seorang model. Dan Jovan harus kerja keras agar mendapatkan jabatan di perusahaan orang tuanya. Perjalanan kisah cinta mereka tak serta merta berjalan mulus layaknya sebuah drama.

Dua insan itu harus menelan pil pahit ketika mereka harus memutuskan satu pilihan terberat dalam hidupnya. Langit seakan runtuh saat itu namun karena ego keduanya, buah cintanya harus ia lepaskan dengan paksa. Jovan dan Helena sadar akan berlipat-lipat dosa yang mereka tanggung namun, jika di posisinya saat itu mungkin memang sudah jalan terbaik bagi mereka.

Helena menetralkan kembali pikirannya ketika mengenang saat pahit lalu melirik ke arah Jovan yang terlihat fokus pada jalanan ibu kota. Merasa ada mata yang memperhatikan, lelaki itu menoleh pelan ke arah bangku penumpang lalu tersenyum.

“Kamu inget lagu ini?” Tanya Jovan sembari meremas telapak tangan Helena yang bertumpu di atas paha. Wanita itu tersipu lalu menjawab dengan senyum anggukan kepala saja.

“Kamu kalau ngantuk tidur aja Hel, paling setengah jam lagi sampai.” Ucap Jovan ketika lelah tergambar jelas di wajah Helena. Wanita itu lalu mengatur seat-nya agar lebih rendah dan mencari posisi nyaman untuk tubuhnya. Helena akhirnya tertidur tak lama setelah pucuk kepalanya di usap lembut oleh Jovan. Bak sebuah hipnotis, tangan kekar milik lelaki itu mampu menyalurkan kenyamanan hingga menjemput mimpi.

Setelah tiba di apartemen milik Helena, keduanya naik ke lantai lima dengan membawa dua koper di tangan masing-masing. Dua koper itu ia letakkan di sebelah pintu lalu Helena berlari kecil ke arah tempat tidur dan melemparkan tubuhnya di atas ranjang besar.

“Akhirnyaaa... Capek banget.” Ucap Helena itu sembari membocorkan pandangan matanya pada sosok lelaki yang sedang berdiri di depan pintu sembari berkacak pinggang. Jovan tersenyum, lalu mendekati wanita itu dan duduk di tepi ranjang. Ia pandangi wajah Helena, mengusap pipi dan rambutnya.

“Capek? Tidur ya?” Kata Jovan.

“Mau peluk.” Ucap Helena sembari merentangkan kedua tangannya ke arah lelaki itu.

“Kenapa sekarang kamu jadi manja?” Jovan terkekeh melihat tingkah Helena tiba-tiba salting, menutup sebagian wajahnya menggunakan kedua tangannya. Lelaki itu akhirnya bergerak perlahan naik ke atas ranjang dan mendekap tubuh mungil Helena. Sontak wanita itu menengadahkan kepalanya, memandangi wajah Jovan dari bawah.

“Peluk kaya gini?” Tanya jovan. Wanita itu mengangguk lalu menempelkan wajahnya pada leher Jovan. Hembusan nafasnya menembus permukaan kulit lelaki itu, serta detak jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Helena mulai resah, tubuhnya terus bergerak pelan untuk mencari posisi yang nyaman. Namun seakan ia tak menemukannya. Tangannya menelusup masuk di sela lengan Jovan agar bisa memeluk tubuh kekar itu.

Lelaki itu bisa merasakan hembusan nafas Helena yang mulai tak beraturan. Suara nafasnya-pun kian berat serta gerakan tubuh Helena yang terlihat gelisah. Jovan tiba-tiba mengendus ceruk leher Helena dan mengecupnya singkat. Lalu tangan kirinya turun ke area pinggang dan mengusap bagian itu beberapa kali. Semua sentuhan yang di berikan Jovan seakan menyalurkan rasa hangat dan nyaman pada tubuhnya. Helena sadar, ia mendongak dan memandang wajah lelaki di hadapannya itu.

“Van..”

“Hm? Aku mau tanya sesuatu tapi takut salah.” Ujarnya.

“Apa Van?”

You're about to period?” Tanya Jovan. Helena hanya menjawab dengan anggukan saja. Jovan tersenyum dan mengusap lagi pinggang wanita itu dengan lembut.

“Berarti aku gak salah.”

“Taunya?” Tanya Helena memastikan.

“Wangi khas badanmu tuh beda Hel kalau mau haid. Aku suka.” Jelas Jovan. Wanita itu terdiam, ia berpikir bahwa Jovan benar-benar tak ada yang berubah dari tiga tahun lalu. Bahkan hal yang bersifat pribadi-pun, ia ingat dan tak ada yang terlewat. Helena terus memandangi wajah Jovan, dua bola matanya bertemu seakan mengisyaratkan sesuatu. Dengan gerakan yang sangat pelan, tangannya meraih ceruk leher Helena dan mencium bibir wanita itu lembut.

Ciuman lembut yang di ciptakan lelaki itu seakan menyalurkan rasa hangat pada tubuh Helena. Aliran darahnya mengalir lebih cepat dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ciumannya-pun lama kelamaan berubah menjadi lumatan yang sangat menuntut, tanpa sadar tangan Helena meremas kaos hitam yang di kenakan Jovan. Ia merasakan tubuhnya mulai tegang dan semakin gelisah.

Jovan melumat bibir wanitanya semakin gusar sembari melucuti pakaian yang di kenakan Helena. Hanya dengan satu tangan, lelaki itu mampu melepaskan celana jeans milik Helena hingga menyisakan celana dalamnya saja. Tanktop satu lengan yang di kenakan Helena-pun sudah ia tanggalkan hingga bagian atas terekspos tanpa sehelai kain yang menutupi.

Jovan mulai mengabsen tiap jengkal tubuh Helena. Lelaki itu menggodanya dengan menjilati telinga dan sesekali menggigitnya. Deru nafas Jovan kala menyentuh bagian sensitifnya membuat wanita itu bergidik merinding. Jovan tak berhenti menjamah leher jenjang milik Helena, ia cium dan menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Wanita itu mendongakkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang hampir lolos.

Tangan kekar Jovan mencengkeram tangan kiri Helena, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas payudara sintal di hadapannya itu. Bibirnya-pun tak tinggal diam, melumat payudara satunya dengan rakus. Jovan sepertinya tidak akan melewatkan tubuh Helena barang sejengkal saja.

“A-ahh.. Vannhh...” Helena akhirnya meloloskan satu desahan yang membuat lelaki itu semakin gusar menikmati tubuhnya. Ia semakin rakus melahap dua gundukan payudara secara bergantian. Jarinya memainkan dan memilin puting milik Helena yang sudah mencuat tegang. Tubuh wanita itu bergerak semakin gelisah, tangannya mencengkeram rambut Jovan karena pergerakan yang di ciptakan benar-benar membuatnya gila.

Perlahan tangan Jovan bergerak ke bawah, menyapa milik Helena dari balik celana dalam yang masih di kenakan. Jovan mengusap pelan area yang sudah basah itu dan mulai melucuti satu helai kain yang mengganggu aktivitasnya di bawah sana.

Jari kekar milik Jovan mulai meraba liang vagina milik wanitanya yang sudah sangat basah. Menggesek klitorisnya hingga membuat Helena melenguh dan memasukkan jari tengahnya tanpa aba-aba. Wanita itu sontak memejamkan mata dan tangannya reflek meremas lengan Jovan. Lelaki itu menggerakkan jarinya pelan sebelum akhirnya memasukkan lagi jari manisnya ke dalam liang surgawi milik Helena.

“AHHH.. P-pelan Van...” Desahnya di sertai rintihan karena dua jari besar dan panjang milik Jovan mengoyak liangnya.

“Mm.. Ini pelan kok.” Ucap Jovan, lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir Helena dan mulai menggerakkan jarinya dengan tempo sedang. Wanita itu terus mengeluarkan desahan ketika jari panjang milik Jovan berhasil menabrak titik g-spotnya berkali-kali. Tangannya meremas lengan Jovan untuk menyalurkan rasa sakit dan nikmat secara bersamaan. Sedangkan lelaki itu memandangi wajah Helena yang sudah berantakan akibat ulahnya. Tak lama liang vagina milik wanita itu mulai berkedut, tanda ia hendak menjemput pelepasannya.

You wanna cum?” Tanya Jovan sembari menatap dua bola mata Helena yang sayu. Wanita itu mengangguk pelan.

“Peluk aku.” Pinta Jovan seraya mendekatkan tubuhnya pada Helena dan wanita itupun melingkarkan tangan kirinya pada perpotongan leher Jovan. Dua jari di bawah sana mulai mengoyak lebih cepat hingga membuat tubuh Helena menggelinjang hebat, kakinya bergerak resah mengapit jari-jari Jovan yang masih tertanam di sana hingga cairan hangat itu keluar dan membasahi jemari lelaki itu.

“AAHHH...” Desahnya keras sembari mencengkeram lengan Jovan. Lelaki itu menempelkan wajahnya pada leher Helena dan mengecupnya berkali-kali guna menyalurkan rasa tenang pada wanita itu.

Jovan memandangi wajah Helena yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Lalu mengecup bibirnya singkat.

I love you, babe...”

Kalimat yang di ucapkan Jovan membuat hati Helena berdesir kencang. Wanita itu menatap lekat wajah Jovan sembari menetralkan nafasnya.

“Lanjut?” Tanya Jovan meminta persetujuan pada wanita itu kemudian Helena mengangguk.

Jovan mulai melumat kembali bibir ranum milik Helena, sembari melebarkan kedua kaki wanita itu. Tanpa aba-aba ia melesatkan penis besarnya pada liang vagina Helena, sontak membuat wanita itu membelalakkan matanya dan mendesah kencang.

Batang penis milik Jovan terus menumbuk liang vagina Helena dengan tempo sedang, kaki wanita itu melingkar pada pinggang Jovan agar mempererat tautan di bawah sana. Desahan dan lenguhan keduanya bersahutan memenuhi ruang kamar. Jovan sesekali mengecup kening juga bibir Helena bergantian guna memberikan rasa tenang di sela penetrasi. Jovan dan Helena semakin menggila, lelaki itu mengubah posisi kaki Helena. Merapatkan kedua kakinya lalu menyandarkan pada pundaknya. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke bawah hingga lesatan penisnya semakin dalam dan semakin mengoyak lubang surgawi milik Helena.

“V-vannhh...” Lenguh wanita itu.

“Hm? You wanna cum again?” Tanya Jovan. Helena mengangguk lagi.

Faster pleasehhh...” Pinta Helena memohon sembari melengkungkan tubuhnya, ia hampir menjemput pelepasannya lagi. Mendengar itu Jovan lalu mempercepat tempo di bawah sana. Ia semakin cepat menggerakkan pinggulnya sembari memeluknya dan mengusap pucuk kepala wanita itu. Ia hentakkan penisnya beberapa kali hingga menabrak titik g-spot milik Helena dan akhirnya mereka menjemput pelepasannya bersamaan.

Jovan terus memeluk erat tubuh mungil wanita itu, mengecup keningnya beberapa kali.

I love you, Hel.. I love you...” Ucap Jovan dan kembali memeluk Helena.

“Kamu kenapa sih?” Ucap wanita itu sembari terkekeh.

“Kok gak di jawab?” Ujarnya. Jovan kembali mendaratkan ciuman lembut pada bibir Helena.

I love you too” Jawabnya sembari tersenyum. Lelaki lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Helena. Keduanya kembali mempererat pelukan dan menyalurkan berjuta rasa hangat. Jovan berkali-kali mengusap lembut punggung wanitanya sedangkan Helena mengusap pipi Jovan perlahan.

“Hel, sekarang apa yang kamu cari? Apa yang pengen kamu raih? Masih ada yang kurang dari pencapaianmu?” Tanya lelaki itu tiba-tiba.

“Mmm.. Apa ya? Aku rasa gak ada Van. Aku udah dapat semua yang aku mau. Dari dulu juga karir ini yang aku pengen.” Jelas Helena. Ia masih tak tau apa maksud dari pertanyaan Jovan.

Lelaki itu mengusap pucuk kepala Helena dan menyelipkan beberapa rambutnya di belakang telinga.

“Kalau udah gak ada yang kamu cari lagi, mau gak nikah sama aku?” Ucap Jovan sembari menatap dua bola mata Helena dan menguncinya disana. Wanita itu malah terkekeh dan memukul lirih dada Jovan.

“Kamu ngomong apasih?” Ucap Helena di sela tawa kecilnya.

“Aku serius Hel. Kamu udah dapet semua yang kamu cari, mau apalagi? Tinggal nikah aja kan?” Kata Jovan dengan nada tegas. Lelaki itu kemudian mengubah posisi menjadi di atas Helena, mengunci tubuh wanita itu menggunakan ke dua tangannya. Kini doa bola mata mereka saling bertemu.

“Hei.. Kamu bilang kaya gini gak sama aku doang kan? Sama Nathalie juga?” Ucap Helena tersenyum dan jarinya meraba dada bidang Jovan, berusaha menggodanya.

“Iya, tapi aku di tolak.” Jawab Jovan singkat.

Helena tertawa kecil sembari menutupi bibirnya dengan satu tangan dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Jovan dengan sigap melayangkan tangannya mencengkeram kedua tangan Helena dan menguncinya di atas kepala.

“Kamu ngeledek ya?” Ucap Jovan sembari mengecup bibir wanita itu dan menggigit kecil di sana.

“Vann! Sakit!”

“Ya kamu ngeledek gitu. Udah tau aku lagi serius.”

“Iya, iya aku serius.” — “Van, gak usah buru-buru ya? Aku belum kelarin masalah perjodohan sama orang tuanya Jeremy. Aku harus ngomong langsung ke mama-nya dulu, biar semua clear. Terus aku juga masih ada beberapa kontrak yang belum selesai. Nanti kalau kita udah sama-sama santai baru bahas pernikahan. Gimana?” Tawar wanita itu sembari mengusap rambut Jovan berkali-kali guna menetralkan mood-nya.

“Ya udah, terserah kamu Hel. Aku bakalan nunggu kok.”

Helena tersenyum mendengar jawaban Jovan dan keduanya kembali berpelukan. Jovan tak henti mendaratkan kecupan-kecupan kecil di bibir Helena.

“Mandi yuk, terus tidur.” Ajak Jovan sembari menarik kedua lengan Helena dan mendudukkan di atas pangkuannya. Wanita itu mengangguk tanda setuju lalu membawa tubuh Helena ke kamar mandi. Menyiapkan air hangat dalam bathup kemudian keduanya berendam guna memulihkan kembali tenaga yang habis terkuras.

nut nut nut...

cklek...

Suara pintu terbuka dan Lucia beranjak dari atas ranjang kemudian berlari kecil keluar kamar. Ia tau pasti Jevan yang berada di sana.

“Sayang!” Pekik Lucia sembari berlari ke arah kekasihnya. Jovan melebarkan senyumnya dan merentangkan ke dua tangan ke arah wanita itu. Lucia secepat kilat melompat dan meluk tubuh Jevan. Kemudian lelaki itu mendaratkan kecupan-kecupan manis di pipi Lucia.

“Kamu sekarang banyak sibuknya, sampai gak ada waktu buat aku.” Ucap Lucia sembari menatap lekat wajah Jevan, dua tangannya melingkar di perpotongan leher kekasihnya. Detik kemudian lelaki itu mencium bibir Lucia singkat lalu tersenyum.

“Ya gimana lagi, aku kan di suruh pegang perusahaan papa sekarang.” Jelas lelaki itu, tangannya mengusap pucuk kepala Lucia lalu menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga. Tangan kirinya mengusap punggung wanita itu, pelan.

“Ini katanya horny? Coba mana, udah basah apa belum?” Goda Jevan. Raut wajah Lucia berubah menjadi merah padam ketika lelaki itu menggodanya. Lucia tersipu malu sembari menempelkan wajahnya pada leher kekasihnya.

“Ini gak mau lepas?” Tanya Jevan lirih, berbisik di telinga Lucia membuatnya bergidik merinding. Wanita itu menjawab dengan menggelengkan kepala saja tanpa memandang wajah kekasihnya. Detik kemudian Jevan menggendong Lucia bak seekor koala dan menurunkannya pada sofa yang tak jauh dari sana.

Jevan melepaskan jas yang ia kenakan lalu melepas kancing baju dan menggulung kemeja putihnya hingga siku. Lelaki itu duduk di sebelah Lucia sembari memandangi tubuh kekasihnya dari atas hingga bawah lalu tersenyum miring. Perlahan ia mendekat dan mencium lembut bibir Lucia. Wanita itu sangat menikmati ciuman sang kekasih hingga membuat dirinya relax.

Tangan Jevan meremas pelan payudara kekasihnya, memilin putingnya yang sudah mencuat tegang. Lelaki itu tak perlu lama memberi rangsangan karena Lucia memang sudah horny sedari tadi. Setelah puas mencium dan melumat bibir Lucia, ia pandangi wanita di hadapannya. Wajah cantik nan sayu tergambar jelas, tangan Jevan mengusap pipi sang kekasih lalu tersenyum.

Detik kemudian tangan lelaki itu menerobos masuk ke dalam lingerie dan mengusap milik Lucia yang sudah basah.

“Baru sebentar udah basah ya sayang?” Ucap Jevan lirih. Seketika wanita itu kembali di buatnya merinding.

“Jev, i like your fingers.

“Mmm.. Oke honey, let's start? Aku mau buat kamu lebih basah lagi.” Ucap Jevan sembari menanggalkan celana dalam milik Lucia.

Jevan mulai melebarkan kedua kaki Lucia dan meraba liang vaginanya yang sudah basah. Ibu jarinya menekan klitoris milik Lucia dan sesekali memutarnya membuat wanita itu akhirnya meloloskan desahannya.

“Mmph... Jev, pelan.” Ucap Lucia, lelaki itu tersenyum lalu mendaratkan satu ciuman singkat di bibir kekasihnya.

“Aku masukin ya sayang? Two or three?” Tawar Jevan pada Lucia yang terlihat sedang mengatur nafas dan tangannya meremas payudaranya sendiri.

Two. Kalau langsung tiga, sakit babe.” Pinta Lucia.

“Iya, nanti kalau udah becek banget baru masukin tiga. Oke?”

Wanita itu menjawab dengan anggukan tanda ia setuju dengan tawaran Jevan. Jemari Jevan dengan lihai memainkan milik Lucia di bawah sana. Ia gesek menggunakan jari tengahnya serta ibu jari yang bermain dengan klitorisnya. Perlahan dua jari milik Jevan melesat masuk ke dalam liang vagina kekasihnya dan mengocoknya dengan tempo sedang. Lelaki itu terus memandangi wajah Lucia yang mulai keenakan dan menikmati permainan di bawah sana.

Sesekali wanita itu memejamkan matanya dan tangannya terus meremas payudaranya sendiri seolah memburu rasa nikmat yang ia cari. Desahan-desahan yang keluar dari bibir Lucia membuat Jevan semakin bersemangat memainkan milik kekasihnya. Kini temponya ia percepat hingga mengeluarkan suara yang khas, sang empu terus mendesah kencang sembari meremas lengan lelaki itu.

Ready for three, babe? Udah becek banget.”

Lucia hanya mengangguk. Tangan kiri yang tadinya ia gunakan untuk meremas payudaranya sendiri, kini berpindah mencengkeram sofa. Sedangkan tangan kanannya masih meremas lengan kekasihnya.

“A-aahh...” Desahan wanita itu terdengar nyaring ketika Jevan menambah satu jari lagi masuk ke dalam liang surgawi milik kekasihnya dan mempercepat tempo kocokan di bawah sana.

Jevan mencium bibir Lucia singkat sebelum akhirnya ia turun ke bawah dan mensejajarkan wajahnya pada liang vagina kekasihnya yang sedang ia mainkan. Tiga jari itu sibuk mengoyak liang milik Lucia yang berwarna pink, tampak menggairahkan bagi Jevan. Detik berikutnya lelaki itu menjilat serta memutar klitorisnya menggunakan lidahnya yang panjang.

Babe, faster pleaseehhh...” Ucap Lucia memohon, dirinya seakan di bawa terbang ke langit karena permainan Jevan yang tak pernah gagal membuatnya di titik puncak. Lelaki itu mengabulkan ke inginan wanitanya, ia mempercepat tempo kocokan di bawah sana. Hingga suara khas terdengar jelas karena milik Lucia yang sudah sangat basah.

“Jev, awas! A-aku mau squirt!” Ucap Lucia pada lelaki itu ketika Jevan masih sibuk menjilat dan menggigit klitorisnya. Tangan Lucia berusaha mendorong kepala Jevan agar menyudahi aktivitasnya namun tak di pedulikan oleh lelaki itu.

Jevan terus melanjutkan kegiatannya tanpa memelankan tempo kocokannya hingga cairan squirt keluar membasahi sebagian wajah Jevan. Lelaki itu kemudian membersihkan sisa-sisa cairan dengan menjilat dan menyesap hingga bersih.

“Mmm.. Enak banget punyamu babe.” Ucap Jevan sembari memandangi wajah kekasihnya dari bawah.

“Jev, your fingers gak pernah gagal.” Ujarnya. Lucia mencoba menetralkan nafasnya perlahan, tubuhnya masih terbaring lemas.

“Mandi yuk, mandi bareng.” Pinta Jevan pada kekasihnya. Ia mencium bibir juga pipi Lucia berkali-kali karena gemas.

“Gendong. Gak kuat jalan.”

“Iya, aku gendong.” Ucap Jevan, lalu ia menggendong wanita itu bak bridal style dan membawanya ke kamar mandi. Jevan menyalahkan air shower dan mengaturnya hingga air yang mengalir menjadi hangat. Lelaki itu kemudian melepaskan semua baju yang ia kenakan dan ikut menikmati air hangat bersama Lucia.

Di tengah-tengah aktivitasnya, tiba-tiba tangan lelaki itu meraba bagian bawah milik kekasihnya. Tangan satunya meremas payudaranya pelan, serta memainkan putingnya. Lucia tau pasti kepunyaan kekasihnya sudah menegang dan keras.

“Sayang, aku masih lemes loh..” Ucap Lucia lirih sembari memandang wajah Jevan. Lelaki itu tersenyum penuh arti lalu mengecup singkat bibir Lucia.

“Istirahat dulu, aku nginep di sini kok.” Jelas Jevan. Senyum Lucia mengembang sempurna kala mendengar kekasihnya hendak menginap di apartemennya. Ia benar-benar sangat merindukan belaian Jevan karena beberapa hari terakhir lelaki itu sangat sibuk. Setelah menyelesaikan membersihkan diri, masing-masing mengenakan handuk berwarna putih lalu keluar menuju kamar Lucia. Keduanya saling berpakaian lalu merebahkan tubuhnya pada ranjang besar di dalam kamar wanita itu. Dua sejoli itu saling berpelukan erat dan menyalurkan rasa hangat di antara keduanya.

I love you, babe” Ucap Jevan lirih berbisik di telinga kekasihnya.

Love you too” Balas Lucia sembari tersenyum, lalu Jevan mendaratkan satu kecupan singkat di bibir kekasihnya.

Sejak semalam Nathalie tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hatinya gundah, ia terus memikirkan mama Jeremy yang ingin bertemu dengannya. Jauh di lubuk hatinya masih ada ketakutan dan sedikit rasa sakit jika mengingat semua yang pernah di ucapkan oleh mama Jeremy. Namun ia mencoba untuk melupakan hal-hal pahit yang di alami saat itu. Tidak bersama Jeremy atau bahkan Jovan adalah awal yang baru baginya.

Siang itu Jeremy menjemputnya untuk pergi ke rumah sakit. Saat di perjalanan, Nathalie banyak diam. Wanita itu terus menetralkan pikirannya. Jeremy juga tak banyak bicara, hanya seperlunya saja. Ia tau pasti wanita yang di sebelahnya itu sedang memikirkan banyak hal.

Setibanya di rumah sakit, dua insan ini berjalan beriringan menuju kamar rawat inap dimana mama Jeremy berada. Lelaki itu mengantar Nathalie hingga memasuki ruangan. Di dalam, mama Jeremy tidak sendiri. Papa Jeremy berada di sana sedang duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang tempat mama-nya berbaring dan terlihat sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.

Nathalie membungkukkan badannya untuk menyapa papa Jeremy sembari tersenyum ke arahnya dan di balas dengan anggukan kepala oleh papa Jeremy.

Wajah datar mama Jeremy saat menatap Nathalie membuat jantungnya berdetak kian cepat. Mungkin ia tak akan sanggup jika kalimat-kalimat menyakitkan itu akan ia dengar lagi. Nathalie berjalan perlahan mendekat lalu duduk di sebelah ranjang tempat wanita paruh baya itu berbaring, sedangkan Jeremy tetap berdiri di sebelahnya.

“Jer, kamu keluar dulu, mama mau bicara sama Nathalie.” Pinta mamanya pada Jeremy. Anak lelakinya menuruti permintaan sang mama lalu meninggalkan Nathalie disana. Sebelum ia keluar dari ruangan itu, Jeremy mengusap lengan Nathalie kemudian saling bertatapan. Jeremy menganggukkan kepalanya sembari menatap wajah wanita itu se akan memberi tau bahwa semua akan baik-baik saja. Nathalie-pun tersenyum tipis pada lelaki itu.

“Nathalie, saya cuma mau ngucapin terima kasih sudah mau membantu.” Ucap wanita paruh baya itu lirih. Tak ada secuil senyum di bibirnya dan masih saja angkuh seperti biasanya.

“Iya tante. Saya ikhlas membantu tante. Dan saya tidak mengharapkan imbalan apapun. Tante kembali pulih dan sehat aja sudah membuat saya tenang.” Kata Nathalie pelan sembari menetralkan nafasnya.

“Sekarang saya tidak melarang kamu dan Jeremy saling berhubungan, tetapi bukan berarti saya memberi restu pada kalian.”

Nathalie terdiam. Ia tak bisa berkata-kata, bahkan ia memalingkan pandangannya dan menatap langit lewat jendela. Ia mencoba memahami kalimat yang di ucapkan mama Jeremy.

“Kamu boleh keluar. Bilang sama Jeremy, mama mau bicara sama dia.” Ucap wanita paruh baya itu memecah lamunan Nathalie.

“Baik tante, terima kasih. Semoga tante cepat pulih dan sehat.” Ucap Nathalie sembari berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

Nathalie meninggalkan ruangan itu lalu menghampiri Jeremy yang sedang duduk di bangku sembari memainkan ponselnya. Wanita itu duduk di sebelahnya kemudian menatap Jeremy dan keduanya saling melempar pandangan.

“Gimana mama?” Tanya Jeremy sembari mengusap telapak tangan Nathalie.

“Mama bilang terima kasih ke aku karena udah bantuin. Mama baik kok, gak marah atau apa.” Jelas Nathalie. Lelaki di sebelahnya hanya mengangguk saja.

“Oya, kamu di suruh masuk. Mama mau ngomong sama kamu Jer.” Lanjut Nathalie.

“Oke. Kamu tunggu disini ya?” Kata Jeremy, lalu berdiri dan masuk ke ruang rawat inap. Wanita itu hanya mengangguk pelan sembari memandang Jeremy yang hendak menemui mamanya.

Jeremy masuk ke ruangan dan memandangi sang mama yang masih terbaring di atas ranjang. Ia merasa beruntung kala itu Nathalie yang pertama menyelamatkan nyawa mama-nya. Lelaki itu kemudian duduk di sebelah ranjang sembari menggenggam tangan sang mama.

“Apa ma? Katanya mau ngomong sama aku?” Tanya Jeremy.

“Kamu sama Helena gimana?”

“Maksud mama?” Tanya Jeremy sekali lagi untuk memperjelas.

“Hubungan kalian gimana? Udah siap menikah?”

“Gak gimana-gimana ma. Lagian aku sama Helena gak saling suka. Kalau nanti kami nikah juga karena keinginan mama, bukan aku.” Ucap Jeremy. Ia tersenyum tipis untuk meyakinkan sang mama bahwa ia baik-baik saja saat ini bahkan hubungannya dengan Helena.

“Kalau sama Nathalie?” Tanya wanita itu.

“Sampai kapanpun aku tetap sayang sama Nathalie ma. Walaupun mama gak pernah kasih restu bahkan menentang hubungan kami. Aku cuma pengen mama bahagia dengan semua keputusan mama, sekalipun aku gak bahagia ma..”

Keduanya lalu terdiam. Sang mama yang menatap wajah anak lelakinya. Sedangkan Jeremy masih mencoba untuk tersenyum di hadapan mamanya sembari mengusap-usap pelan telapak tangannya.

“Jeremy..”

“Ya ma?”

“Sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Kamu mau berhubungan dengan siapapun mama sudah tidak melarang, bahkan Nathalie sekalipun. Tapi ingat, mulai sekarang mama sudah lepas tangan. Mama tidak akan membantu apapun termasuk urusan uang dan perusahaan.”

“Kamu berani melangkah berarti berani mengambil resiko. Paham?” Lanjut wanita itu.

“Paham ma.” Jawab Jeremy dengan sebutan senyum penuh arti.

“Jadi laki-laki harus punya tanggung jawab.”

“Iya ma, aku gak akan ngecewain mama sama papa.” Ujarnya. Tangannya masih menggenggam erat telapak tangan sang mama.

“Ya udah sana, mama mau istirahat.” Ucap mama Jeremy dengan wajah datar.

“Ma, terima kasih banyak udah ngasih kepercayaan buat aku.” Kata Jeremy sembari mengecup tangan dan kening mamanya sebelum meninggalkan ruangan.

Setelah anak laki-laki nya keluar ruangan dan menutup pintu dengan pelan, wanita itu tersenyum tipis sembari memandangi langit biru lewat jendela.