Hope
Awan hitam membumbung menutup sebagian langit biru. Siang menjelang sore yang awalnya cerah dan terik pun meredup perlahan. Air langit tiba-tiba turun membasahi bumi, aroma khas pun tercium menyengat.
“Hujan? Gue gak bawa payung, neduh dulu kali ya?” Batin Nathalie kala itu.
Terlihat beberapa orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Aspal kering dan panas pun berubah menjadi basah dan licin. Banyak para pengendara motor tanpa menggunakan jas hujan memacu kendaraan lebih cepat agar terhindar dari hujan.
Nathalie membangun angan diatas lamunan siang itu. Diantara bulir-bulir air langit yang mengucur menyejukkan ibu kota. Beberapa menit gadis itu larut dalam khayalan namun terpecah oleh suara benturan yang begitu keras.
Bruukkk......
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengalami kecelakaan tunggal. Menabrak pembatas jalan dan terguling akibat menghindari penyeberang jalan. Teriakan histeris dari berbagai arah saksi insiden siang itupun membuat suasana sendu berubah mencekam.
Beberapa orang disana berlarian menghampiri mobil tersebut, ada juga yang membantu mengatur jalan agar tidak menimbulkan kemacetan. Secara reflek Nathalie menuntun langkah kakinya mendekat ke tempat terjadinya kecelakaan. Ia tak peduli hujan yang lambat laun membasahi tubuhnya, Nathalie ingin tau siapa wanita di balik kemudi itu.
Deg!
Jantung gadis itu seperti lepas dari tempatnya, tempo detaknya pun kian cepat kala ia mengenali sosok di dalam sana. Ia menyaksikan sesosok wanita tak sadarkan diri. Di pelipis juga beberapa bagian tubuhnya mengalir darah segar. Nathalie berteriak histeris seraya menutup separuh wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia berusaha masuk ke dalam kerumunan, namun beberapa orang menahannya.
“Pak, saya kenal ibu ini! Pak! Tolong selamatkan beliau!” Pekik Nathalie menahan air mata yang hampir tumpah.
“Mbak! Kamu gak boleh dekat-dekat!” Ucap salah satu orang disana. Namun Nathalie tetap nekat.
“Pak, saya kenal keluarganya! Tolong pak...!” Air mata yang tertahan pun akhirnya tumpah, dadanya terasa sesak. Nathalie jelas mengenalnya, wanita paruh baya yang kala itu secara terang-terangan menentang hubungan dengan anak laki-lakinya.
Tak lama mobil ambulan tiba disana dan membawa wanita paruh baya tersebut ke rumah sakit. Karena Nathalie mengenalinya, ia di ijinkan ikut dengan ambulan.
Nathalie terus memandangi raut wajah pucat wanita yang terbaring lemah itu. Air matanya masih saja menetes membasahi pipinya, tangan wanita itu ia genggam erat. Dalam hatinya mengucapkan doa sebanyak-banyaknya.
Rumah Sakit
Nathalie duduk di ruang tunggu dengan perasaan cemas dan kalut. Telapak tangannya dingin juga pakaiannya basah. Berkali-kali menghubungi Jeremy lewat telepon tetapi tak di jawab. Ia pun berinisiatif mengirimkan pesan pada lelaki itu, memberi tau bahwa ibunya berada di rumah sakit karena kecelakaan.
Gadis itu menatap layar ponselnya, terlihat ikon daya pada sudut kanan atas menunjukkan isi baterai tersisa 4%.
“Aduh lowbatt.” Gumamnya dalam hati. Tak berapa lama ia di hampiri seorang dokter. Ibu Jeremy akan segera di operasi namun membutuhkan pendonor dengan golongan darah dan resus yang sesuai dengannya. Kebetulan persediaan darah di rumah sakit tersebut sedang kosong, sehingga pihak keluarga harus mencari sendiri. Tanpa pikir panjang Nathalie menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya karena kebetulan sama. Saat ini yang terbesit dalam otaknya adalah keselamatan wanita tersebut. Ia tak mempedulikan rasa sakit yang dulu pernah di goreskan kala hubungannya di tentang bahkan seperti tak punya harga diri. Ia buang jauh rasa sakit itu, pun kini Nathalie mengubur dalam-dalam rasa dendam.