With you
Jovan mengemudikan mobilnya cepat, ia merasa melanggar janji pada Helena. Mungkin wanita itu sudah menunggunya lama. Ya, Jovan tiba di hotel Lafayette pukul 22:15 sedangkan wanita itu berharap Jovan datang lebih awal. Esok hari ia akan berada di fashion show.
Bel berdenting nyaring, ada seseorang di luar sana. Sudah bisa di pastikan Jovan yang berdiri di balik pintu. Tubuh lelahnya pun beranjak dari tempat paling nyaman, berjalan pelan ke arah pintu untuk membukanya. Wanita itu masih menggunakan mini dress berwarna hitam, pakaian yang hendak ia gunakan untuk dinner bersama Jovan.
klek....
Seorang lelaki bertubuh tinggi sudah berdiri di hadapannya. Dengan sorot mata yang tak bisa di gambarkan kala itu. Aroma wangi parfum khasnya yang tak berubah dari tiga tahun yang lalu. Indera penciuman Helena merespon aroma yang yang menyatu pada tubuh lelaki yang kini berdiri di hadapannya sembari menatap lekat manik matanya.
“Aku boleh masuk?” Ucap Jovan, suara lirihnya membuyarkan wanita itu kala ia sedang berusaha membangun sedikit demi sedikit kenangan yang menyapanya lewat aroma tubuh Jovan.
“A-iya. Masuk aja Van..” Lanjut Helena. Wanita itu mundur dua langkah memberikan jalan untuk Jovan.
Setelah menutup pintu kamarnya, Helena berjalan lebih dulu lalu di ikuti Jovan yang mengekor di belakangnya. Wanita itu berhenti sejenak, ia pandangi meja yang sedikit berantakan. Beberapa kaleng beer kosong yang belum ia buang serta sepatu high heels yang berserakan di lantai. Sebelum Jovan tiba di sana, Helena meminta managernya untuk membelikan beer untuknya. Hatinya kesal karena Jovan tak bisa di hubungi, padahal sebelumnya sudah berjanji hendak makan malam dengan dirinya. Sepatu yang berserakan itu-pun akibat ulahnya sendiri, ia lempar ke sembarang arah karena tersulut emosinya.
“Van, sorry berantakan.” Ucap wanita itu sedikit panik. Ia hendak membereskan benda-benda yang berserakan di sana, namun di tahan oleh Jovan. Lengannya di tarik pelan kemudian tubuhnya di sejajarkan di depan lelaki itu. Dua bola mata keduanya saling mengunci satu sama lain.
“Kamu marah?” Tanya Jovan lirih.
Helena hanya diam, ia masih menikmati binar-binar bola mata sayu dan tampak mengintimidasi.
“Hel, kamu diem juga aku tau. Kalau kamu lagi marah pasti kya gini, semua di buang-buang.” Ucap Jovan pada wanita itu. Tentu saja Jovan tau pasti kebiasaan Helena seperti apa.
“Aku tuh sebenarnya kesel sama kamu Van! Aku udah siap-siap dari jam 8 tapi kamu gak balas chat-ku. Sekarang udah malem banget, aku udah males mau ngapa-ngapain.” Cecar wanita itu sembari duduk di sofa, langkahnya sedikit gontai.
“Hel, aku jelasin.” Ucap Jovan sembari menghampiri Helena kemudian duduk di sebelahnya.
“Tadi aku dari tempat Nathalie. Mama Jeremy kecelakaan.”
“Hah? Serius Van?! Jeremy gak ngabarin aku.”
“Iya, mama Jeremy kecelakaan dan Nathalie ada disana. Mungkin Jeremy masih kaget, jadi belum sempat ngabarin kamu.” Jelas Jovan. Akhirnya wanita itu-pun mengerti, dan menerima penjelasan Jovan. Helena-pun terdiam sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa.
“Kamu udah makan Hel?”
“Belum.” Jawab Helena singkat.
“Mau aku pesenin makan?”
“Enggak. Aku gak nafsu makan Van.” Ucap Helena sembari mengambil sekaleng beer yang ada di hadapannya. Jovan dengan cepat menahan tangan wanita itu.
“Kamu kenapa Hel? Masih marah sama aku?” Tanya Jovan sekali lagi pada wanita yang terlihat sedikit mabuk. Helena mendengus, ia hembuskan nafasnya kasar kemudian meletakkan kaleng beer tersebut di atas meja.
“Van! Aku tuh kangen sama kamu!”
“Kamu ngerti gak sih?!” Pekik Helena dengan nada tinggi, emosinya sedikit tersulut karena ia merasa Jovan sama sekali tidak peka terhadapnya. Lelaki itu hanya diam sembari menatap lekat dua bola mata Helena. Detik berikutnya Jovan mendekat dan mencium bibir Helena. Ciuman yang di ciptakan oleh begitu lembut, Helena-pun tak menolak bahkan menikmatinya. Semakin lama, ciuman tersebut menjadi lumatkan yang menuntut. Wanita itu merasakan aliran darahnya semakin cepat dan detak jantungnya kian memburu. Bibir Jovan seperti candu baginya.
Perlahan tangan Jovan menurunkan strap dress sembari melumat dan memperdalam ciumannya. Decapan dua bibir yang menyatu terdengar semakin jelas. Libido Helena-pun naik saat tangan-tangan kekar milik Jovan meremas dengan lembut payudara tanpa balutan bra yang menyembul dan mulai menegang.
Tangan Helena melingkar pada perpotongan leher Jovan dan semakin mempererat keduanya.
“A-ahh...” Desahan itu-pun lolos dari bibir Helena, saat Jovan menjilati telinga juga lehernya. Suara desahan wanita itu membuat Jovan semakin terbawa suasana. Tangannya mulai menjamah tiap lekuk tubuh Helena, jemarinya mulai meraba di sela paha hingga menyapa bagian bawah milik Helena yang sudah basah. Bibirnya tak mau diam, melumat payudaranya dan memainkan putingnya yang sudah tegang.
Perlahan jemari Jovan menelusup masuk meraba milik Helena, menggesekkan jari tengahnya pada bibir vagina wanita itu dan sesekali menyentuh klitorisnya. Membuat Helena mendesah sedikit kencang.
“Aa-ahh... Van!” Desah Helena sembari menahan tangan Jovan yang berada di bawah sana. Lelaki itu-pun menghentikan aktivitasnya, keduanya saling menatap lekat dua bola mata yang tampak sayu.
“Hel, bisa gak kita kya dulu lagi?” Tanya Jovan sembari memegang erat tangan Helena.
“Bisa.” Jawab Helena singkat.
“Terus Jeremy gimana?”
“Nanti aku coba bilang ke Ayah dulu, aku jelasin semua. Baru aku bilang ke mama Jeremy pelan-pelan.” Jelas Helena pada lelaki yang membuatnya sedikit berantakan.
Mendengar jawaban itu, Jovan menjadi semakin gusar, ia melucuti dress yang di kenakan Helena dan juga miliknya. Lelaki itu meraih kembali tengkuk Helena lalu melumatnya kasar. Tangannya melebarkan kedua paha wanita itu dan mengusap bibir vaginanya yang sudah sangat basah. Tanpa aba-aba dua jari Jovan melesat masuk ke dalam lubang surgawi milik Helena.
“Aahh...” Desah wanita itu ketika merasakan dua jari Jovan sedang memainkan miliknya. Lelaki itu mengeluar masukkan jarinya dengan tempo sedang. Tangan Helena mencengkeram kuat punggung Jovan sembari mendongakkan kepalanya.
“V-Van... Ahh...” Lenguh wanita itu ketika ia merasakan dua jari milik Jovan berkali-kali menyentuh g-spot miliknya. Ibu jarinya memainkan klitoris dengan sedikit kasar membuat kaki Helena bergetar dan liangnya pun berkedut. Jovan tau pasti wanitanya hendak menjeput pelepasannya lalu mempercepat tempo kocokan di bawah sana hingga tubuh Helena-pun menggelinjang dan kakinya bergetar.
“Ahh... Van!” Desah Helena ketika mencapai puncak orgasm-nya. Jovan tersenyum tipis lalu mengecup singkat bibir Helena. Lelaki itu-pun menggendong Helena dan membawanya ke atas ranjang besar lalu menindih tubuhnya. Keduanya saling bertatapan cukup lama.
“Van..”
“Hm?”
“Aku mau kamu.” Ucap Helena sembari menetralkan nafasnya.
Jovan lalu melebarkan kedua paha wanita itu, mengusapnya kembali kemudian ia turun ke bawah dan mensejajarkan wajahnya dengan milik Helena.
Jovan melumat milik wanita itu, menyusuri dengan lidah, menjilati juga memainkan klitorisnya hingga membuat Helena terus mendesah kencang.
“Van! Stophhh!“
Lelaki itu-pun berhenti dari aktivitasnya lalu menatap lekat dua manik mata wanita yang ia rindukan. Jovan kemudian naik ke atas dan menindih tubuh Helena. Ia mengecup bibir wanita itu sebelum melesatkan batang miliknya yang sudah tegang sedari tadi.
“A-ahh...” Desahnya ketika Jovan menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Kedua tangan Helena merangkul tubuh Jovan dan mencengkeram kuat saat lelaki itu menghentakkan keras pinggulnya. Desahan keduanya saling bersahutan memenuhi ruangan. Jovan menatap raut wajah Helena yang penuh dengan peluh tetapi terlihat sangat cantik, tak ada yang berubah dari wanita itu.
“V-van..”
“Hm? You wanna cum, babe?” Tanya Jovan ketika ia merasakan milik Helena mulai berkedut dan mengetat. Kepunyaan Jovan juga terasa sesak disana. Sebentar lagi lelaki itu-pun akan menjemput pelepasannya.
Helena mengangguk lalu memeluk tubuh Jovan semakin erat. Bibirnya terus mengeluarkan desahan-desahan keras hingga keduanya mencari puncak orgasm-nya secara bersamaan.
Jovan memeluk erat tubuh Helena, lalu mendaratkan kecupan singkat di bibirnya.
“Van, kamu gak pulang kan?” Tanya Helena di sela pelukannya.
“Hm? Kamu mau aku tidur di sini?” Jovan mencoba memperjelas ucapan wanita itu.
“Iya, aku masih pengen peluk kamu Van, aku masih pengen kya gini terus.” Pinta Helena pada Jovan.
“Iya aku tidur di sini, temenin kamu.” Kata Jovan sembari mengecup pucuk kepala Helena.
Keduanya-pun berpelukan erat, saling memberi kehangatan hingga menjemput mimpi.