Terima kasih

Nathalie duduk sendirian, wajahnya pucat, tubuhnya lemas juga pakaian yang ia kenakan pun masih basah. Ponsel di tangannya habis daya, dan tak bisa menghubungi siapapun termasuk memesan taksi online untuk pulang. Ia sandarkan kepala pada tembok di belakangnya, di pejamkan matanya barang sebentar saja. Tubuhnya lelah, ia ingin tidur, bahkan pandangan matanya pun sudah kabur. Sekitar lima belas menit berlalu, Jeremy tiba di rumah sakit dan bertemu Nathalie.

Lelaki itu berlari kecil menghampiri Nathalie yang sedang duduk sendirian dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Blouse berwarna broken white basah yang terlihat sedikit lusuh serta terdapat beberapa bercak darah disana nampak begitu memprihatinkan bagi yang melihatnya, begitupun Jeremy. Lelaki itu kemudian duduk di sebelahnya.

“Nath, terimakasih banyak ya.. Kalau gak ada kamu, gak tau lagi deh nasib mama gimana.” Ucap Jeremy ketika tau Nathalie yang mendonorkan darahnya. Jeremy mengusap lengan gadis itu dan hanya di jawab dengan senyum tipis.

“Kamu sampai basah-basahan kya gini? Ayo pulang, aku anterin.” Pinta Jeremy sembari mendekap tubuh gadis itu dan membantunya berdiri.

Selama di perjalanan gadis itu hanya diam dan Jeremy pun menjadi tampak canggung. Sesungguhnya Nathalie diam karena ia merasakan pandangannya seperti berputar dan tubuhnya lemas. Setibanya di apartemen, lelaki itu mengantarkannya hingga unit milik Nathalie. Setelah memasuki unit tersebut, baru beberapa langkah tiba-tiba gadis itu menarik lengan Jeremy.

“Jer... Aku pusing banget, kya muter gitu..”

Jeremy dengan raut wajah yang sedikit panik lalu menggendong gadis itu ke kamarnya, lalu merebahkan tubuh Nathalie di atas ranjang. Lelaki itu kemudian membantu Nathalie mengganti pakaiannya yang basah, mengusap rambutnya juga pipinya. Keduanya seakan mengingat kembali beribu-ribu kenangan yang pernah di lalui. Ruangan itu, saksi dimana dua insan ini mencurahkan segala kerinduan, canda tawa yang menghiasi tiap cerita cinta mereka.

“Nath, kamu tidur ya.. Aku tungguin. Nanti aku pulang kalau kamu udah tidur.” Pinta Jeremy. Gadis itupun mengangguk dan memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman. Jeremy berkali-kali mengusap tangan Nathalie untuk menyalurkan kenyamanan dan kehangatan. Dua puluh menit setelah gadis itu menjemput mimpi, Jeremy masih menemani Nathalie. Ia belum juga beranjak dari sana, lelaki itu tak puas memandangi wajah cantik Nathalie yang selalu ia rindukan. Tangannya mengusap lembut pipi gadis itu sambil berbisik lirih.

“Nath, aku kangen...”

Tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkan Jeremy.

klek.....

Dua lelaki saling bertatapan.

“Lo udah lama disini?”