Two or Three

nut nut nut...

cklek...

Suara pintu terbuka dan Lucia beranjak dari atas ranjang kemudian berlari kecil keluar kamar. Ia tau pasti Jevan yang berada di sana.

“Sayang!” Pekik Lucia sembari berlari ke arah kekasihnya. Jovan melebarkan senyumnya dan merentangkan ke dua tangan ke arah wanita itu. Lucia secepat kilat melompat dan meluk tubuh Jevan. Kemudian lelaki itu mendaratkan kecupan-kecupan manis di pipi Lucia.

“Kamu sekarang banyak sibuknya, sampai gak ada waktu buat aku.” Ucap Lucia sembari menatap lekat wajah Jevan, dua tangannya melingkar di perpotongan leher kekasihnya. Detik kemudian lelaki itu mencium bibir Lucia singkat lalu tersenyum.

“Ya gimana lagi, aku kan di suruh pegang perusahaan papa sekarang.” Jelas lelaki itu, tangannya mengusap pucuk kepala Lucia lalu menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga. Tangan kirinya mengusap punggung wanita itu, pelan.

“Ini katanya horny? Coba mana, udah basah apa belum?” Goda Jevan. Raut wajah Lucia berubah menjadi merah padam ketika lelaki itu menggodanya. Lucia tersipu malu sembari menempelkan wajahnya pada leher kekasihnya.

“Ini gak mau lepas?” Tanya Jevan lirih, berbisik di telinga Lucia membuatnya bergidik merinding. Wanita itu menjawab dengan menggelengkan kepala saja tanpa memandang wajah kekasihnya. Detik kemudian Jevan menggendong Lucia bak seekor koala dan menurunkannya pada sofa yang tak jauh dari sana.

Jevan melepaskan jas yang ia kenakan lalu melepas kancing baju dan menggulung kemeja putihnya hingga siku. Lelaki itu duduk di sebelah Lucia sembari memandangi tubuh kekasihnya dari atas hingga bawah lalu tersenyum miring. Perlahan ia mendekat dan mencium lembut bibir Lucia. Wanita itu sangat menikmati ciuman sang kekasih hingga membuat dirinya relax.

Tangan Jevan meremas pelan payudara kekasihnya, memilin putingnya yang sudah mencuat tegang. Lelaki itu tak perlu lama memberi rangsangan karena Lucia memang sudah horny sedari tadi. Setelah puas mencium dan melumat bibir Lucia, ia pandangi wanita di hadapannya. Wajah cantik nan sayu tergambar jelas, tangan Jevan mengusap pipi sang kekasih lalu tersenyum.

Detik kemudian tangan lelaki itu menerobos masuk ke dalam lingerie dan mengusap milik Lucia yang sudah basah.

“Baru sebentar udah basah ya sayang?” Ucap Jevan lirih. Seketika wanita itu kembali di buatnya merinding.

“Jev, i like your fingers.

“Mmm.. Oke honey, let's start? Aku mau buat kamu lebih basah lagi.” Ucap Jevan sembari menanggalkan celana dalam milik Lucia.

Jevan mulai melebarkan kedua kaki Lucia dan meraba liang vaginanya yang sudah basah. Ibu jarinya menekan klitoris milik Lucia dan sesekali memutarnya membuat wanita itu akhirnya meloloskan desahannya.

“Mmph... Jev, pelan.” Ucap Lucia, lelaki itu tersenyum lalu mendaratkan satu ciuman singkat di bibir kekasihnya.

“Aku masukin ya sayang? Two or three?” Tawar Jevan pada Lucia yang terlihat sedang mengatur nafas dan tangannya meremas payudaranya sendiri.

Two. Kalau langsung tiga, sakit babe.” Pinta Lucia.

“Iya, nanti kalau udah becek banget baru masukin tiga. Oke?”

Wanita itu menjawab dengan anggukan tanda ia setuju dengan tawaran Jevan. Jemari Jevan dengan lihai memainkan milik Lucia di bawah sana. Ia gesek menggunakan jari tengahnya serta ibu jari yang bermain dengan klitorisnya. Perlahan dua jari milik Jevan melesat masuk ke dalam liang vagina kekasihnya dan mengocoknya dengan tempo sedang. Lelaki itu terus memandangi wajah Lucia yang mulai keenakan dan menikmati permainan di bawah sana.

Sesekali wanita itu memejamkan matanya dan tangannya terus meremas payudaranya sendiri seolah memburu rasa nikmat yang ia cari. Desahan-desahan yang keluar dari bibir Lucia membuat Jevan semakin bersemangat memainkan milik kekasihnya. Kini temponya ia percepat hingga mengeluarkan suara yang khas, sang empu terus mendesah kencang sembari meremas lengan lelaki itu.

Ready for three, babe? Udah becek banget.”

Lucia hanya mengangguk. Tangan kiri yang tadinya ia gunakan untuk meremas payudaranya sendiri, kini berpindah mencengkeram sofa. Sedangkan tangan kanannya masih meremas lengan kekasihnya.

“A-aahh...” Desahan wanita itu terdengar nyaring ketika Jevan menambah satu jari lagi masuk ke dalam liang surgawi milik kekasihnya dan mempercepat tempo kocokan di bawah sana.

Jevan mencium bibir Lucia singkat sebelum akhirnya ia turun ke bawah dan mensejajarkan wajahnya pada liang vagina kekasihnya yang sedang ia mainkan. Tiga jari itu sibuk mengoyak liang milik Lucia yang berwarna pink, tampak menggairahkan bagi Jevan. Detik berikutnya lelaki itu menjilat serta memutar klitorisnya menggunakan lidahnya yang panjang.

Babe, faster pleaseehhh...” Ucap Lucia memohon, dirinya seakan di bawa terbang ke langit karena permainan Jevan yang tak pernah gagal membuatnya di titik puncak. Lelaki itu mengabulkan ke inginan wanitanya, ia mempercepat tempo kocokan di bawah sana. Hingga suara khas terdengar jelas karena milik Lucia yang sudah sangat basah.

“Jev, awas! A-aku mau squirt!” Ucap Lucia pada lelaki itu ketika Jevan masih sibuk menjilat dan menggigit klitorisnya. Tangan Lucia berusaha mendorong kepala Jevan agar menyudahi aktivitasnya namun tak di pedulikan oleh lelaki itu.

Jevan terus melanjutkan kegiatannya tanpa memelankan tempo kocokannya hingga cairan squirt keluar membasahi sebagian wajah Jevan. Lelaki itu kemudian membersihkan sisa-sisa cairan dengan menjilat dan menyesap hingga bersih.

“Mmm.. Enak banget punyamu babe.” Ucap Jevan sembari memandangi wajah kekasihnya dari bawah.

“Jev, your fingers gak pernah gagal.” Ujarnya. Lucia mencoba menetralkan nafasnya perlahan, tubuhnya masih terbaring lemas.

“Mandi yuk, mandi bareng.” Pinta Jevan pada kekasihnya. Ia mencium bibir juga pipi Lucia berkali-kali karena gemas.

“Gendong. Gak kuat jalan.”

“Iya, aku gendong.” Ucap Jevan, lalu ia menggendong wanita itu bak bridal style dan membawanya ke kamar mandi. Jevan menyalahkan air shower dan mengaturnya hingga air yang mengalir menjadi hangat. Lelaki itu kemudian melepaskan semua baju yang ia kenakan dan ikut menikmati air hangat bersama Lucia.

Di tengah-tengah aktivitasnya, tiba-tiba tangan lelaki itu meraba bagian bawah milik kekasihnya. Tangan satunya meremas payudaranya pelan, serta memainkan putingnya. Lucia tau pasti kepunyaan kekasihnya sudah menegang dan keras.

“Sayang, aku masih lemes loh..” Ucap Lucia lirih sembari memandang wajah Jevan. Lelaki itu tersenyum penuh arti lalu mengecup singkat bibir Lucia.

“Istirahat dulu, aku nginep di sini kok.” Jelas Jevan. Senyum Lucia mengembang sempurna kala mendengar kekasihnya hendak menginap di apartemennya. Ia benar-benar sangat merindukan belaian Jevan karena beberapa hari terakhir lelaki itu sangat sibuk. Setelah menyelesaikan membersihkan diri, masing-masing mengenakan handuk berwarna putih lalu keluar menuju kamar Lucia. Keduanya saling berpakaian lalu merebahkan tubuhnya pada ranjang besar di dalam kamar wanita itu. Dua sejoli itu saling berpelukan erat dan menyalurkan rasa hangat di antara keduanya.

I love you, babe” Ucap Jevan lirih berbisik di telinga kekasihnya.

Love you too” Balas Lucia sembari tersenyum, lalu Jevan mendaratkan satu kecupan singkat di bibir kekasihnya.