The Orphic

Jeremy menjemput Nathalie setengah jam lebih awal. Setelah memarkirkan mobil di depan gedung, ia lalu naik ke unit apartemen milik wanita itu. Nathalie mengira, Jeremy akan menunggunya di bawah seperti biasanya. Namun Jeremy tidak memberi tau bahwa ia akan menemuinya terlebih dahulu.

Nathalie sama sekali tidak mendengar jika ada seseorang yang memasuki unit apartemen tanpa membunyikan bel, bahkan masuk secara diam-diam tanpa sedikitpun bersuara. Wanita itu hampir selesai mandi, dan suara air dari shower yang mengalir deras membuat telinganya seakan tuli dengan suara di luar sana. Langkah kaki Jeremy mengendap sangat pelan menuju kamar Nathalie, membuka pintu perlahan dan tak mendapati sosok yang ia cari. Hanya suara samar dari gemericik air yang mengalir dari arah kamar mandi.

Jeremy berdiri di ambang pintu sembari melipat dua tangannya di depan dada. Ia menunggu Nathalie keluar dari kamar mandi. Tak kurang dari lima menit wanita itu keluar, mengenakan bathrobe lalu mengambil pakaian dari lemari. Lelaki itu mengamati Nathalie ketika hendak mengenakan backless top dengan tali di bagian belakang. Jeremy berjalan perlahan menghampiri wanita itu dan tiba-tiba menarik tali pada bagian bawah backless top yang ia kenakan. Sontak membuat wanita itu terkejut.

“Ah! Jer, ngagetin aja!”

Jeremy terkekeh melihat raut wajah Nathalie yang berubah.

“Kamu kapan dateng? Udah lama?” Tanya wanita itu sembari membuat tali simpul di belakang pakaiannya.

“Ya 20 menitan lah.” — “Kamu cantik banget Nath..” Kata Jeremy berbisik di telinga wanita itu hingga membuat bergidik merinding. Jeremy merapatkan tubuhnya pada Nathalie yang belum lengkap mengenakan pakaian. Hanya celana dalam saja dan bagian atas melekat backless top.

“Jer, agak munduran dikit bisa?” Pinta Nathalie karena ia merasakan milik Jeremy di bawah sana sudah mulai mengeras dan menempel di bokongnya.

Lelaki itu semakin merapatkan tubuhnya dan memandang Nathalie melalui cermin di depannya lalu tersenyum. Wanita itu masih sibuk merias wajahnya, sedangkan tangan Jeremy mulai iseng melepas tali backless top yang di kenakan Nathalie.

“Jer, jangan iseng ah. Kita mau pergi kan?” Ucap wanita itu dan bertatapan dengan Jeremy lewat pantulan cermin di depannya.

“Bentar yuk Nath..” Pinta Jeremy, lalu ia mengecup leher Nathalie.

“Aku udah make up sayang.. Jangan.. Aahh..” — “Jer, ih! Jangan..” Pekik Nathalie, ia sempat melenguh pelan ketika tangan lelaki itu berhasil menangkup payudara dan meremasnya. Jeremy terkekeh melihat raut wajah Nathalie ketika ia berhasil menggodanya.

“Iya, udah ayo siap-siap.” Ucap Jeremy sembari mengikat kembali tali backless top yang di kenakan wanita itu.

Setelah bersiap, mereka lalu meninggalkan apartemen dan pergi ke tempat makan malam yang sudah di tentukan. Jarak yang di tempuh tak terlalu jauh dari apartemen milik Nathalie, sekitar dua puluh menit mereka tiba di sebuah resto bernuansa klasik namun mewah dan menyajikan berbagai macam menu western kegemaran mereka. Dua sejoli ini sudah melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum tiba di sana, satu private room yang berada di lantai dua dengan pemandangan riuhnya jalanan ibu kota menjadi satu hiburan bagi keduanya.

Jeremy dan Nathalie larut akan pemandangan gemerlapnya hamparan lampu di bawah sana sembari menunggu waiters yang mengantarkan hidangan. Tak berapa lama, yang mereka tunggu akhirnya tiba. Berbagai macam menu makanan favorit di sajikan lengkap di hadapannya. Nathalie mengernyitkan dahinya sembari menatap lelaki yang duduk di hadapannya, heran. Ini terlalu banyak untuk di santap pada malam hari, namun Jeremy hanya membalas dengan senyuman saja.

Keduanya menyantap makan malam dengan keadaan yang sangat tenang, mungkin baru dua suap yang masuk ke mulut mereka tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu ruangan tersebut. Nathalie sontak menoleh ke arah pintu sedangkan Jeremy masih tenang dengan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kirinya sembari menatap wanita yang duduk di hadapannya.

“Oh, om tante.” Ucap wanita itu lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat pada kedua orang tua Jeremy. Nathalie cukup terkejut dengan kehadiran mereka karena Jeremy tidak memberi tau terlebih dahulu. Raut wajah wanita itu berubah pucat, ia beberapa kali membenahi pakaiannya karena di rasa kurang sopan jika makan malam bersama calon mertua dengan mengenakan backless top tanpa lengan. Beberapa kali Nathalie melirik ke arah lelaki itu namun Jeremy hanya tersenyum saja seakan menggodanya.

Ini kali pertama Nathalie bertemu dengan orang tua Jeremy setelah pertemuan terakhirnya di rumah sakit kala itu. Rasa gugup dan canggung terus menyelimuti batin wanita itu.

“Persiapan kalian gimana?” Tanya sang mama sembari menatap Jeremy dan Nathalie secara bergantian.

“Udah dapet WO, udah reservasi hotel juga. Undangan besok mulai di sebar, Tristan yang ngurusin semua, ma.. Tinggal fitting baju.” Jelas Jeremy.

“Kenapa fitting baju malah mendadak? Gak bisa gitu Jer, yang bikin lama itu bikin gaunnya.” Cecar sang mama. Nathalie hanya menundukkan kepala karena memang beberapa kali ia menunda untuk fitting baju pengantin. Bukan tanpa alasan. Ia belum resign dari pekerjaannya dan menjelang akhir tahun cukup menguras waktu.

“Gini aja, besok kalian datang ke Daisy Dresses and Gowns itu punya kenalannya mama, fitting di sana. Nanti mama bilang ke owner-nya buat ngerjain punya Nathalie.”

“Iya ma, besok aku ke sana sama Nathalie.”

Nathalie sedikit lega dengan saran mama Jeremy yang merekomendasikan tempat untuk fitting baju pengantin. Hanya sedikit protes karena persiapan terlalu mendadak.

Ruangan-pun kembali sunyi, hanya ada aktivitas menyantap hidangan makan malam. Nathalie awalnya canggung, kini lebih relax karena beberapa kali bertatap dengan mama Jeremy dan sama-sama melempar senyum. Begitu juga sebaliknya, sang mama yang awalnya sangat keras. Kini sudah melunak jika berhadapan dengan Nathalie.

Setelah menyelesaikan makan malam, mereka meninggalkan resto dan berpisah dengan tujuan masing-masing. Orang tua Jeremy pulang ke kediamannya, sedangkan Jeremy mengantar Nathalie pulang ke apartemen.

Part.7 Cold Blooded

Sudah hampir satu tahun dan Dave tidak menampakkan diri. Clara menepati janji, ia benar-benar menunggu sosok vampir itu untuk kembali. Selama itu juga Clara merampungkan cerita fiksi yang ia tulis. Ia menceritakan kisahnya sendiri bersama Dave untuk membuang rasa sunyi dan rindu terhadap vampir tampan itu.

Absennya Dave dari keseharian Clara membuatnya lebih sering berkunjung ke Cafe Marrakech yang selama ini di kelola oleh adiknya. Alih-alih meng-handle Cafe tapi niat dalam hati hanya ingin mengusir bayang-bayang Dave yang selalu lekat di pikirannya. Ramai dan riuh suasana Cafe membuat wanita itu sedikit terhibur dan sejenak melupakan Dave dari ingatannya. Namun saat ia pergi meninggalkan Cafe dan pulang menuju rumah, seakan-akan Dave bersamanya. Berada di kursi penumpang sebelahnya dan sibuk menatap Clara yang sedang mengemudi.

Mungkin itu hanya bayangan Dave saja, atau memang ia sedang berhalusinasi. Clara sesungguhnya ingin menyerah saja, ia beberapa kali berpikir hendak meninggalkan rumah dan kembali tinggal dengan orang tuanya. Namun ia takut jika tidak bisa bertemu Dave lagi. Dan kali ini kesabaran Clara sudah habis, menunggu tanpa ada kepastian. Hampir satu tahun ia mencoba kuat melewati hari-hari tanpa Dave dan itu sangat menyiksanya.

Clara mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari dan menata rapi di dalam koper berukuran besar. Ya, ia akan tinggal di rumah orang tuanya untuk beberapa hari atau dalam jangka waktu yang lama. Ia sadar bahwa Dave tidak nyata, vampir hanyalah mitos dan yang dialami selama ini mungkin halusinasi saja.


Cklek...

“Ra, kamu gak bosen di kamar terus? Pergi jalan-jalan sana..” Sapa sang mama sembari membuka pintu kamar anaknya. Clara menoleh ke arah pintu dan hanya tersenyum saja. Wanita itu kemudian duduk dan menatap sang mama yang masih berdiri di ambang pintu.

“Ma, kangen Indo gasih?” Tanya Clara tiba-tiba.

“Ya kangen, tapi belum waktunya liburan, nak. Kenapa?” Wanita paruh baya itu-pun berjalan perlahan masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang, di sebelah anak perempuannya.

“Kangen temen-temen, Ma..”

drrrt... drrrtt...

Ponsel milik Clara bergetar, satu pesan masuk di terima kemudian ia baca. Tak lama, wanita itu beranjak dari duduknya dan mengambil jaket bulu yang berada di kursi kemudian mengenakannya.

“Mau kemana?” Tanya sang mama.

“Ke rumah dulu Ma, barusan Steven tetangga sebelah bilang kalau pintu balkon ke buka. Takut ada pencuri masuk.” Jelas Clara sembari mengambil kunci mobil.

“Loh, kamu gak nutup pintu apa gimana?”

“Di tutup Ma, tapi gatau deh. Aku pergi dulu ya Ma..” Pamit Clara, ia berjalan sedikit cepat keluar kamar lalu menuruni tangga.

“Ya, hati-hati.”

Dave. Itu pasti Dave!”—batin Clara. Ia sangat yakin bahwa Dave akan datang menemuinya. Wanita itu melajukan mobilnya sedikit cepat, suasana jalan pada malam hari tidak ramai seperti biasanya seolah memberikan akses untuk Clara agar bisa lebih cepat tiba di rumahnya.

Lima belas menit kemudian Clara tiba di rumah. Ia memarkirkan mobil di tepi jalan, tanpa memasukkan ke dalam garasi dan secepat kilat berlari membuka pintu dan naik ke lantai dua.

“Dave!” Pekik Clara setengah berteriak, ia sibuk mencari sosok vampir itu ke seluruh ruang kamarnya yang cukup besar namun tidak menemukan Dave di sana. Hatinya kalut, tatapannya tertuju pada balkon yang sunyi seperti biasanya. Pintu terbuka, tirai putih yang melambai terkena deru angin malam cukup kencang membuat bulu kuduk merinding.

Clara sedikit limbung, langkah gontai mengantarkan pada ranjang besar di hadapannya. Ia pandangi tiap sisi ranjang yang di balut sprei berwana putih, mengusap lembut dan mengingat kembali satu tahun lalu. Di tempat itu, saksi bisu desah dan rintihan ketika penyatuan dirinya dengan Dave. Tempat dimana ia menyelami mimpi di temani Dave di sampingnya hingga pagi tiba. Kenangan yang memenuhi pikirannya saat ini membuat Clara semakin rindu. Tatapan matanya kembali menelisik ke seluruh ruang kamar dan berhenti pada meja kerjanya. Ada sesuatu di sana dan ia beranjak dari duduknya, mengambil secarik kertas di sana kemudian membacanya.

Part.6 Cold Blooded

Dave pergi meninggalkan Clara dengan hati yang bergejolak. Ia kembali ke alamnya untuk menemui sosok yang berkuasa di dunia vampir. Dave tau pasti telah melakukan kesalahan, hingga sang Raja memintanya untuk bertemu.

Ia tiba di Kastil dengan perasaan yang gugup dan takut. Setelah menginjakkan kaki di tempat itu, ia tak akan pernah tau bisa kembali ke dunia manusia atau tidak. Dave hanya pasrah dan mengikuti perintah sang Raja.

Dave menyusuri lorong sunyi, di di terangi lilin-lilin kecil yang berjejer di sepanjang karpet berwarna merah. Tak ada siapapun di sana, hanya beberapa burung gagak yang terbang mengikuti langkahnya seakan mengantarkan Dave untuk bertemu sang Raja.

Di ujung lorong terlihat samar sosok tinggi besar mengenakan jubah berwarna hitam duduk di atas singgasana. Sorot matanya merah menyala, dan wajah pucat menambah kesan seram. Dave berdiri di bawah singgasana sang raja dengan kepala tertunduk.

Dave, kamu tau apa kesalahan yang sudah kamu perbuat?

Dave masih tertunduk, dan tidak berani menjawab barang sepatah katapun. Ia tau pasti kesalahan terbesarnya adalah berhubungan dengan manusia. Dan Dave sudah siap dengan semua konsekuensinya.

Kamu tau apa konsekuensinya jika berhubungan dengan manusia?

Dave hanya mengangguk, ia tau ini kesalahan yang fatal.

Aku memberimu waktu 6 hari untuk berpikir. Kamu akan tetap melanjutkan hubunganmu dengan anak manusia itu atau melepaskannya.

Jika kamu tetap melanjutkannya, maka 6 hari setelah perjanjian ini perlahan kamu akan musnah dan tidak akan bisa kembali ke dunia manusia.

Tetapi jika kamu berhenti berhubungan dengan manusia itu, hukumanmu lebih ringan.

Kamu akan bereinkarnasi, dan semua ingatanmu akan hilang.

Dave membungkukkan tubuhnya tanda memberi hormat pada sang Raja kemudian meninggalkan Kastil. Ia terus berjalan tanpa tujuan dan terus berpikir apa yang harus ia lakukan. Pilihan yang cukup sulit baginya, dan ia harus memilih salah satu dari perintah Raja.

Satu hari di dunia vampir adalah satu bulan di dunia manusia. Genap dua belas hari Dave berpikir dan tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini memenuhi pikirannya. Sudah lebih dari hari yang di tentukan dalam perjanjian pada sang Raja, namun ia benar-benar buntu. Dave akhirnya memutuskan untuk kembali ke dunia manusia untuk menemui Clara. Ya, menemui secara diam-diam dan tidak menampakkan diri di depan wanita itu.

For long au: Obsession

Setelah menerima pesan dari Jovan, wanita cantik bernama Nathalie itu nampak gelisah. Jelas saja, bosnya sendiri memergoki dirinya tengah melakukan adegan panas bersama kekasihnya. Malam itu ia lupa menutup gordyn sehingga orang yang berada di luar bisa melihat isi dalam apartemen miliknya. Terlebih, Jovan sekarang pindah di gedung apartemen yang lebih dekat dengannya, unit-nya pun berhadapan .

Pagi ini Nathalie benar-benar bangun lebih awal dari biasanya tetapi bisa saja ia terlambat ke kantor karena keteledorannya sendiri. Semalam ia lupa men-charge ponselnya, hingga saat ini ponselnya dalam keadaan mati. Ia harus mengisi daya terlebih dahulu sebelum menggunakan untuk memesan taksi online, coba saja kalau mobilnya tidak masuk bengkel ia tak akan serepot ini.

Jika Jovan meminta untuk datang satu jam lebih awal, seharusnya Nathalie sudah berada di kantor dari pukul 07:00 . Nyatanya, pukul 07:30 ia baru saja tiba di kantor. Wanita berambut panjang itu berlari kecil memasuki gedung, kantor masih sepi hanya terlihat beberapa OB yang sibuk dengan pekerjaannya.

Ia kemudian menaiki lift menuju lantai 4 , bergerak secepat mungkin untuk menemui Jovan di ruangannya. Nathalie mengetuk pintu dan membukanya perlahan, ia memberanikan diri masuk keruangan bosnya dengan menenteng sepatu high heels di tangan kirinya.

Jovan saat itu sedang berdiri di depan jendela kaca yang cukup lebar, menatap ramainya jalanan di bawah sana. Mendengar pintunya terbuka, ia menatap setiap gerak gerik sekretarisnya itu.

“Ma-maaf pak, saya terlambat..”

“Kamu tau telat berapa menit?”

“Maaf pak, tadi malam lupa gak charge hp.”

“Banyak alasan kamu, mana berkas yang harus saya tanda tangani?”

Belum selesai menjelaskan Jovan sudah menyambar kalimat yang diucapkan Nathalie. Wanita itu kemudian berjalan kearah meja kerja Jovan dan mencari berkas yang diminta oleh bosnya.

Pandangan lelaki berperawakan tinggi itu tertuju pada tubuh sekretarisnya yang benar-benar sangat menggoda ia mengenakan rok pendek diatas lutut dan blouse putih model V neck dengan aksen kancing di bagian depan . Jika Nathalie sedikit menunduk saja, sudah jelas gundukan payudaranya yang sintal itu akan terekspos.

Jovan dengan tatapan nakal menghampiri sekretarisnya, ia berdiri tepat di belakang tubuh Nathalie. Kedua tangannya bertumpu pada meja, mengunci tubuh wanita itu agar tak bisa bergerak dan membisikkan kalimat yang membuatnya merinding .

“Nath ... Semalam enak?”

Deg! Jantung Nathalie seperti mau lepas.

“Maksud bapak?”

“Pak, bisa gak kalau Bapak agak munduran sedikit.” Lanjut Nathalie.

Tetapi bos-nya itu tak mempedulikan apa yang di katakan Nathalie. Ia justru semakin menempelkan tubuhnya.

“Nathalie .. kamu tau gak? Saya suka sama kamu dari pertama kali masuk kerja .” Ucap lelaki itu, ia perlahan membalikkan tubuh Nathalie agar saling berhadapan. Nathalie tak menjawab, yang dipikirkan dalam otaknya hanya ingin pergi dari ruangan itu secepat mungkin.

“Tapi pak.....”

Kalimat yang diucapkan terputus setelah Jovan mencium bibirnya. Wanita itu mendorong tubuh bos-nya agar terlepas dari ciumannya. Keduanya saling melempar pandangan lalu Jovan kembali melumat bibir sekretarisnya.

Lumatan demi lumatan makin lama semakin membuncah dan kasar, tangan nakal Jovan sudah bergerilya disana. Ia meraba payudara sekretarisnya dari luar, sedangkan kedua tangan Nathalie bertumpu pada meja di belakangnya. Jovan lalu mengangkat tubuh sekretarisnya dan mendudukkan diatas meja kerjanya . Ia merobek blouse yang di kenakan Nathalie dengan sedikit kasar .

“Pak ..!!”

“Sssttt ....”

Nathalie sempat menahan kedua tangan Jovan yang merusak baju yang dikenakannya tetapi kalah cepat dengan kekuatan tangan bos-nya yang kekar.

Jovan kembali menghujani bibir sekretarisnya itu dengan ciuman penuh nafsu, lalu ciuman itu berpindah ke telinga, leher sesekali menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tangan Jovan tak tinggal diam, bermain-main dengan payudara perempuan di hadapannya. Ia meremas dan memutar puting Nathalie sampai akhirnya gadis berparas ayu itu pasrah dengan aktivitas penuh dosa ini.

“Ngghhh....” Lenguhan itu keluar dari bibir Nathalie. Ia sungguh tak bisa menahan birahinya ketika seorang Jovan membuatnya mabuk kepayang.

Tangan nakal bosnya terus bergerilya, menjamah setiap lekuk tubuh Nathalie sampai pada akhirnya menyibak rok mini berwarna hitam itu dan jemarinya menerobos masuk ke sela paha sang sekretaris.

“Pak! Stop!” Ucap Nathalie dengan meremas tangan Jovan yg sudah hampir menyentuh area kewanitaannya.

Why? I like it. I want to play with you.”

“Pak, saya udah punya pacar.. Jangan seperti ini.”

Not my problem.” Timpal Jovan dengan senyum seringai.

“Nathalie.. saya cuma mau kamu. Saya gak peduli kamu udah punya pacar.”

Jovan seperti tak punya dosa bahkan ia tak memikirkan bagaimana perasaan Nathalie jika ia bersikap egois. Ia tetap melanjutkan kegiatan yang seharusnya tak di lakukan seorang Bos terhadap sekretarisnya.

Jovan mendorong tengkuk Nathalie kearahnya dan kembali melumat bibir berwarna merah merekah itu, kini lumatan itu begitu lembut seperti tanpa paksaan dan Nathalie mulai luluh dan terbawa suasana. Nathalie membalas lumatan itu, tangannya melingkar di leher dan lebih merekatkan tubuhnya.

Jemari Jovan akhirnya berhasil menerobos masuk di sela paha Nathalie, dan mengusap vagina yang masih terbungkus oleh celana dalam.

“Udah basah ya Nath?”

Pertanyaan itu membuat wajah Nathalie berubah menjadi merah padam, ia sungguh malu tetapi sudah terlanjur terjadi. Jovan tersenyum miring, dalam hatinya mungkin bersorak karena berhasil membuat sekretarisnya luluh dan pasrah.

Lelaki bertubuh tinggi itu merobek celana dalam yang dikenakan Nathalie, dan dengan mudah menjamah lubang surgawi di bawah sana. Tanpa berpikir panjang, Jovan memutar klitorisnya dengan cepat dan sedikit kasar. Nathalie sontak kaget .

“Aaahhh....”

Desahannya cukup keras memenuhi seluruh ruangan, dengan cepat Jovan membungkam bibir Nathalie dengan telapak tangan kirinya . Wanita itu sungguh tak tahan dengan kenikmatan permainan di bawah sana.

Setelah puas bermain dengan klitorisnya, dua jemari Jovan dengan tanpa aba-aba melesatkan kedalam lubang vagina sekretarisnya. Ia keluar masukkan jarinya dengan tempo yang agak cepat. Bibirnya sibuk dengan dua gundukan payudara yang menyembul. Tangan kirinya lalu bergerak melepas kaitan bra berwarna hitam itu.

Di depan mata Jovan sudah ada pemandangan indah yang membuatnya semakin tak sabar ingin memainkannya. Ia meraup payudara sintal itu, menyesapnya seperti bayi yang kelaparan. Lidahnya bermain-main dengan puting Nathalie yang sudah menegang.

“Ngghhh... Ahhh...” Lenguh Nathalie.

You like it, huh? Keluain aja jangan ditahan.” Ucap Jovan dengan tatapan tajam kearah Nathalie. Wajah sekretarisnya itu semakin terlihat cantik dan menggoda jika terlihat keenakan dan berantakan seperti saat ini .

“Aaahh... Pak, s-saya mau ke-keluaarr ...”

“Keluarin aja Nathalie ...” Lanjut Jovan. Ia terus mengocok lubang kenikmatan itu, bahkan menambah temponya menjadi lebih cepat. Payudara Nathalie terus dimainkan, memutar dan memilinnya hingga membuat wanita itu melengkungkan tubuhnya . Kepalanya mendongak keatas, tubuh dan kakinya mulai bergetar tanda ia hampir sampai pada pelepasannya .

“Aaahhhh...” Desahannya panjang setelah mencapai klimaksnya. Jovan lalu bergerak turun, mensejajarkan wajahnya dengan vagina Nathalie lalu menjilati dan menyesap semua cairan yang keluar dari lubangnya .

“Aahhhh ....” Desahnya lagi. Bosnya benar-benar membuatnya lemas dan tak berdaya. Setelah selesai semua aktivitas dibawah sana, Jovan kemudian berdiri menatap lekat kedua bola mata Nathalie. Mengusap lembut rambutnya dan mencium bibirnya sekilas .

“Bapak sudah gila ya? Baju saya rusak, saya gak bisa kerja kalau kaya gini Pak ..” ucap Nathalie kesal dengan kelakuan Bosnya.

“Bersih-bersih dulu sana, saya udah siapkan baju buat kamu.”

Nathalie dengan muka yang bersungut memunguti pakaian yang tercecer di lantai, lalu berjalan ke toilet di dalam ruang kerja Jovan sembari menenteng satu paper bag yang di berikan Jovan berisi baju kerja baru, lengkap dengan bra dan celana dalam .

Nathalie seperti terjebak dalam situasi ini . Satu sisi ia harus bekerja lebih keras, dan menabung untuk kelangsungan hidupnya. Serta memantapkan diri untuk menjadi calon istri Jeremy itu tak mudah. Kekasihnya seorang anak tunggal yang cukup kaya sedangkan ia hanya perempuan dari kalangan biasa yang sudah tak mempunyai orang tua .

Akan tetapi, hidup dan perjuangannya harus tetap berjalan.

Sepuluh menit kemudian setelah Marcell mengirimkan pesan pada Ara, ia tiba di apartemen. Tanpa menekan bell, ia sudah hafal dengan passcode kunci smart lock pada pintu apartemen itu. Mendengar ada suara di balik pintu, Ara berlari kecil ke kamarnya sambil menenteng laptop di tangannya. Ia harus segera menyelesaikan tugas kuliahnya malam ini.

Marcell memasuki unit apartemen Ara seperti di rumahnya sendiri, tanpa ada rasa canggung. Lelaki itu menatap sekeliling ruangan tetapi tak menemukan wanita yang ia cari. Kemudian sorot matanya tertuju pada kamar Ara yang pintunya terbuka. Ia melangkah sangat pelan sampai tak terdengar suara langkah kaki, membuka perlahan pintu kamar Ara dan memasukinya tanpa ada kata permisi .

Lelaki berparas tampan itu perlahan mendekati Ara, dan membisikkan satu kalimat tepat di telinganya hingga membuat gadis itu merinding.

“Lo ngapain Ra?”

“Apaan sih lo Cell, ngagetin aja.. ketuk pintu dulu kek, apa gimana.” Gerutu Ara.

Marcell hanya terkekeh melihat tingkah wanita di hadapannya. Ia lalu berbalik menuju tempat tidur dan merebahkannya. Di dekapnya guling, dan mencoba memposisikan tubuhnya hingga merasa nyaman. Ia memandangi tubuh sahabatnya yang masih sibuk dengan laptopnya.

“Ra...”

“Hm?”

“Minta tolong ..”

“Apaan?”

“Ambilin minum dong ..”

Ara menengok ke arah suara itu, dan melihat sosok Marcell cengar cengir sambil mengacungkan jarinya membentuk love.

“Ambil sendiri Cell, biasanya juga gimana.. gue lagi tanggung banget, tugas harus kelar malam ini.” Jelasnya, beberapa hari terakhir Ara cukup stress karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya.

“Raaaaa....”

Marcell malah merengek seperti anak kecil yang meminta mainan. Ara sedikit agak kesal melihat tingkah Marcell, tetapi ia tak bisa menolak permintaannya. Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, pergi ke dapur untuk mengambil satu kaleng Cola di dalam kulkas. Ia sempat berpikir semoga Marcell tidak melakukan hal yang aneh padanya. Karena jika sahabatnya ini bersikap manja, biasanya dia akan meminta sesuatu.

Langkah Ara sedikit gontai memasuki kamarnya. Ia agak malas melihat kelakuan sahabatnya. Sebenarnya malam itu ia tak mau di ganggu siapapun. Dan benar saja, Ara cukup kaget dan menepuk jidatnya sendiri saat melihat Marcell duduk di kursi tempat ia mengerjakan tugasnya. Lelaki itu merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Ara dengan seutas senyum di bibirnya.

“Sini peluk.. kangen Ra ..”

Ara tak menjawab, langkah kakinya sedikit berat. Ia berjalan mendekat kearah Marcell dan meletakkan Coca-Cola diatas meja. Tangannya di tarik pelan oleh Marcell dan mengarahkan gadis itu agar duduk di pangkuannya. Ara hanya menurut saja, ia tak pernah bisa menolak apapun yang di minta oleh Marcell. Lelaki itu kemudian memeluk dan mengusap punggung Ara.

“Nah.. gini dong Ra .. Gue bisa peluk dan lo bisa ngerjain tugas.”

Ara masih diam saja, mana bisa konsentrasi kalau posisi mereka berhadapan. Yang ada malah menaikkan libidonya. Wanita itu mencoba fokus pada laptop di depannya tetapi tiba-tiba buyar seketika saat tangan Marcell menerobos masuk kedalam kaos oversize yang di kenakannya. Lelaki itu mengusap-usap punggung Ara tanpa terhalang apapun karena gadis itu tak mengenakan bra.

“Cell ...?”

“Ssssttt .... Gue tau lo stress gara-gara tugas Ra.. mau gue bikin relax? “ Bisik Marcell tepat di telinga Ara dan membuatnya semakin tidak fokus.

Sungguh usapan lembut dari tangan Marcell benar-benar menaikkan libidonya, ia mulai tidak fokus dengan tugasnya. Jarinya yang semula diatas keyboard tiba-tiba mengepal. Ia merasakan ada tangan di dalam sana yang mulai bergerak menyentuh putingnya.

Ara mengarahkan pandangan ke kedua bola mata lelaki di hadapannya. Marcell membalas tatapannya dan tersenyum. Sepersekian detik berikutnya Marcell mendorong tengkuk Ara perlahan dan mencium bibirnya. Tangan satunya masih bermain-main dengan payudara yang mulai mengeras.

“Mmpphh ....” Wanita itu menahan desahannya. Ia sedikit malu jika terlalu cepat terangsang karena sesungguhnya Ara membutuhkan Marcell pada saat seperti ini.

Ciuman itu kelamaan berubah menjadi lumatan yang sedikit kasar dan menuntut, tangan Marcell yang semula hanya meremas perlahan payudaranya kini berubah menjadi lebih kasar. Ia terus memutar-mutar putingnya yang sudah mengeras. Kedua tangan Ara mengalung di leher Marcell dan mulai menikmati setiap sentuhan sahabatnya.

Ara melepaskan pagutan keduanya, ia hampir kehabisan nafas. Dengan cepat lelaki dihadapannya itu melepas kaos yang di kenakan Ara dan membuangnya ke sembarang arah. Di depan matanya terpampang dua gundukan payudara yang siap untuk dimainkan.

Detik berikutnya Marcell mulai menciumi telinga lalu turun ke leher Ara, menjilatinya penuh nafsu dan sesekali menyesapnya. Sadar akan hal itu, Ara mendorong tubuh Marcell agar melepaskannya.

Why? Hm ...?”

Tatapan mata Marcell sungguh membuat wanita itu menjadi lemah.

“Hansel?” Lanjut Marcell.

Ara tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Lalu Marcell melanjutkan aktivitasnya kembali, ia mencium bibir Ara dengan lembut. Tangannya bergerak kebawah mengusap lembut vagina yang masih tertutup celana dalam. Lalu Marcell menarik tali simpul di kanan dan kiri celana dalam milik Ara, sangat mudah melepaskan dan membuangnya begitu saja.

Jemarinya mulai meraba-raba di bawah sana. Kedua tangan Ara mengalung di leher Marcell dan mendongakkan kepalanya.

“Hhhh....” Nafasnya mulai berat.

Tanpa aba-aba lelaki itu memutar klitorisnya dengan kasar, Ara sontak kaget dan berteriak.

“AAHHH .... CELL !!”

Tangannya meremas lengan Marcell dengan keras, ia tak tahan dengan perlakuan lelaki dihadapannya. Lalu detik berikutnya Marcell melesatkan dua jarinya kedalam lubang vaginanya, mengocok dengan tempo sedang.

“Ngghhh.... ” Lenguhnya.

Marcell menatap wajah Ara yang tampak menikmati permainannya. Wajah sahabatnya itu sungguh menjadi candu bagi Marcell. Seandainya lelaki itu bisa memiliki Ara seutuhnya.

Tangan Marcell memainkan kembali dua gundukan payudara yang menyembul di hadapannya lalu mulai menjilati puting gadis itu dan memutarnya dengan lidah, sementara tangan satunya masih di bawah sana mengocok lubang kenikmatan milik Ara. Temponya di percepat hingga membuat Ara mengeluarkan desahan-desahan yang cukup keras.

“Aahhh .. Cell .. disitu te-teruss ...”

Jemari lelaki itu mengenai titik g-spot miliknya hingga ia merasa ingin mencapai orgasme.

“Cell ... A-aku mau ke-keluaarr ...” Lenguh Ara .

Marcell lalu mempercepat lagi kocokan di bawah sana, dan tangan satunya memainkan puting wanita itu. Memutar dan memilinnya. Ara meremas lengan Marcell dan mendongakkan kepalanya dengan nafas yang terengah-engah. Tak lama Ara mengerang karena nikmatnya sampai pada klimaksnya. Tubuhnya menggelinjang dan bergetar. Marcell dengan cepat memeluk tubuh Ara dan mengusap punggungnya.

Ara di buatnya lemas dengan permainan yang di ciptakan sahabatnya. Marcell menarik kedua jarinya dari lubang vagina dan menjilati cairan yang memenuhi jarinya itu tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Ara hanya memandangi apa yang dilakukan lelaki itu tanpa bersuara, ia terus mengatur nafasnya.

Ara masih di posisi yang sama, berada di pangkuan Marcell. Sedikitpun tak beranjak dari sana.

“Lo mau kaya gini terus Ra?” Ucap Marcell dengan menangkupkan kedua tangan di wajah Ara .

“Ngilu Cell .. gak bisa jalan ..”

Marcell terkekeh mendengarnya, ia lalu menggendong wanita itu bak koala menuju kamar mandi. Sedangkan Ara merangkul tubuh sahabatnya, kepalanya menempel di ceruk leher Marcell.

Setelah selesai membantu Ara membersihkan diri, mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi saling berhadapan. Keduanya saling menatap, Marcell mengusap rambut Ara dengan lembut.

“Ra, gue tidur sini ya?”

“Hm?”

“Gue tidur sini.”

“Ogah.. balik lo Cell.. ” lanjut Ara .

“Kenapa emang? Tumben?”

Biasanya tiap Marcell meminta ijin untuk menginap, pasti selalu diperbolehkan. Tapi kali ini Ara menolaknya.

“Besok Hansel balik. Penerbangan pagi, biasanya langsung kesini.” Jelas Ara. Membuat raut wajah Marcell seketika berubah.

“Ra! Mau sampai kapan sih lo betah LDRan sama Hansel? Lo percaya sama hubungan jarak jauh? Lo mana tau disana Hansel ada main sama cewek lain, ha??”

Ara hanya diam.

“Putusin Hansel. Ada gue Ra.. Gue selalu ada buat lo dan yang lo butuhin saat ini cuma gue.” Desak Marcell.

Ara tetap membisu. Kalimat yang diucapkan Marcell sungguh membuatnya berpikir. Ada benarnya, setiap hari Marcell selalu ada untuknya. Bahkan setiap ia hendak memejamkan mata sampai kembali membuka mata pada esok hari, lelaki itu setia berada disampingnya. Sudah lama Marcell menyukai Ara tetapi wanita itu sudah lebih dulu berpacaran dengan Hansel.

Di mata orang lain yang melihatnya, Marcell dan Ara terlihat lebih dari sekedar sahabat. Kemanapun mereka selalu bersama, Marcell selalu ada disaat Ara membutuhkannya. Bahkan mereka sudah tak canggung lagi jika harus berbagi kenikmatan yang ia tak dapatkan dari Hansel.

Malam itu Jevan sedang menghadiri acara ulang tahun teman kuliahnya, Joseph. Sebelumnya ia sudah berjanji pada kekasihnya, Lucia untuk pulang lebih awal karena wanita itu tidak berani tinggal sendirian di apartemen yang cukup besar terutama pada malam hari. Lucia kini tinggal bersama dengan Jevan di apartemennya. Memilih untuk meminta lelaki itu menemaninya tinggal di bersama setelah sahabat Lucia pindah sebulan yang lalu.

22.30 Jevan meninggalkan riuhnya acara pesta ulang tahun temannya, dan segera bergegas mengemudikan mobilnya menuju apartemen Lucia. Sekitar kurang lebih 30 menit perjalanan, ia tiba di sebuah apartemen yang cukup mewah. Jevan memarkirkan mobilnya di basement, lalu memasuki gedung dan menaiki lift menuju lantai 10.

Lelaki itu menekan pin pada pintu smart lock dan membukanya dengan penuh tenaga. Ia berjalan sedikit gontai karena efek alkohol yang ia minum di pesta tadi. Jevan mendapati seluruh lampu ruangan menyala. Tv di ruang tamu pun menyala, padahal Lucia berada di kamarnya sedang melihat drama series favoritnya. Seperti itulah Lucia jika di tinggal kekasihnya pada malam hari, ia akan menyalakan semua lampu dan Tv. Mengeraskan volumenya agar ia tak merasa sendirian.

Jevan memasuki kamar kekasihnya dan melihat Lucia sedang duduk di atas bean bag dengan menampilkan tubuh mulusnya, ia mengenakan tanktop crop dan celana sangat pendek hanya menutupi bokongnya saja. Melihat pemandangan di depan matanya, ia tersenyum miring sambil menggaruk kepalanya. Sedangkan Lucia hanya menatap saja dan tetap melanjutkan aktivitasnya menonton drama series.

Tubuh Jevan sedikit terhuyung berjalan kearah wanita itu dan langsung memeluk erat tubuhnya. Lucia sadar bahwa lelakinya itu tengah dipengaruhi alkohol, baunya sangat menyengat. Ia mendorong tubuh Jevan agar menjauh darinya, Lucia tak tahan dengan bau itu. Tetapi lelaki disebelahnya bebal, tak mau beranjak dari sama bahkan lebih mengeratkan lagi pelukannya.

“Jev, minggir ah. Bau banget, gue gak tahan.” Ucapnya setengah berteriak dan masih berusaha melepaskan pelukan yang semakin membuatnya sesak hampir tak bisa bernafas. Jevan hanya cengar cengir tanpa dosa, sesekali mengecup leher dan telinga Lucia hingga ia merasa geli.

“Jev, ihh. Mandi dulu sana! Pintanya, tetapi tetap saja tak di hiraukan oleh Jevan.

“Lo pakai baju beginian itu sengaja ya mau ngajakin gue olahraga?” Tangan lelaki itu cukup nakal meraba perut dan dada Lucia.

“Lepasin gak?! Mandi dulu sana!”

Akhirnya Jevan melepaskan pelukannya dan berjalan kearah kamar mandi. Sepuluh menit berlalu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah kamar mandi.

“Sayang ambilin handuk.....”

“Ck.... Kebiasaan.” Decak Lucia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan handuk untuk Jevan. Ia mengambil handuk di lemari kecil yang terletak di dekat pintu kamar mandi. Lucia bersungut sambil berkacak pinggang melihat kekasihnya mandi tanpa menutup pintu hingga terpampang pemandangan yang cukup senonoh.

“Ah elah! Punya laki kelakuan mesum! Pintunya di tutup kek, aurot lo kelihatan Jev.. Dosa!” Pekik Lucia karena cukup sebal dengan kelakuan pacarnya.

“Kenapa sih? Lo juga suka kan?”

“Dihh..”

“Tolong dong taruh di wastafel..” pinta Jevan. Wanita itu lalu berjalan memasuki kamar mandi dan menaruh handuk sesuai perintah kekasihnya.

Baru membalikkan badan tiba-tiba dari arah belakang, Jevan menarik lengan Lucia kearahnya dan mendekap gadis itu seakan tak mau ditinggalkan.

“Jev, basah.. gue udah mandi dodol!” Apa-apaan sih lo?!”

“Udah diem dulu.” Ucap Jevan dengan tangan yang mulai nakal meraba tiap jengkal tubuh Lucia.

“Jev!” Lanjut Lucia setengah berteriak, namun tak di hiraukan oleh kekasihnya. Jevan malah mencium dengan paksa, terus mendekap dan tangannya meraba tubuh Lucia. Sungguh wanita itu tak bisa berkutik dan akhirnya ia pasrah dengan perlakuan Jevan.

Air yang mengalir dari shower terasa hangat membasahi tubuh keduanya yang terlibat adegan cukup panas. Jevan terus menghujani banyak ciuman di bibir, telinga serta leher Lucia. Wanita itu hanya mengikuti setiap pergerakan yang di ciptakan oleh kekasihnya, biasanya memang Jevan yang selalu mendominasi.

Jevan melepaskan semua yang menempel di tubuh Lucia, menciumi setiap lekuk tubuh wanitanya yang mulus. Meraba payudara, meremasnya dan memutar-mutar putingnya.

“Ngghhh.... Jev ...” Lenguhnya. Lelaki bertubuh kekar itu membalikkan tubuh wanita yang di dekapnya itu, lalu melumat bibirnya penuh nafsu dan sedikit menuntut. Lucia membalas lumatan itu sedikit kasar, saat ia mulai turn on. Tangannya meraba penis besar milik kekasihnya, ia gerakkan naik turun membuat Jevan mengeluarkan erangan .

“Uhhggg... Babe.. “

Wanita itu terus mengelus penis kekasihnya yang sudah keras dan menegang. Jevan mulai menciumi leher dan telinga Lucia lalu menyesapnya sampai terlihat bekas kemerahan di lehernya. Setelah meninggalkan banyak *kissmark di sana, ciuman itu kemudian turun kebawah dan berhenti di dua gundukan payudara milik Lucia. Jevan meremasnya lembut dan memainkan putingnya yang sudah menegang, tangan satunya meraba vagina Lucia yang mulai basah karena permainannya yang mulai memanas.

“Mmpphh... Ahh...” Desah Lucia kala jemari Jevan menyapa klitorisnya. Tanpa aba-aba dua Jevan memasukkan dua jari sekaligus ke dalam lubang kenikmatan milik kekasihnya. Sangat mudah bagi Jevan karena milik Lucia sudah sangat basah.

“Aaahhh.... Jev!” Lucia tersentak dan meremas lengan kekasihnya.

Tangan Jevan mengeluarkan masukkan jarinya dengan tempo cepat, mengobrak-abrik lubang surgawi di bawah sana. Lucia mengalungkan kedua tangannya di leher kekasihnya karena tubuh wanita itu mulai goyang dan kakinya sedikit bergetar.

“Jev .. ce-cepetin.. sshhh .. aahhh... ” Desahnya terus menerus membuat Jevan semakin bersemangat, mengocok lebih cepat lagi. Ia tau kekasihnya sebentar lagi akan mencapai pelepasannya yang pertama.

“Ngghhh... Aaahhhh... Jev, a-aku mau ke-keluaarr...” Kaki Lucia mulai bergetar dan tubuhnya menggeliat. Tiba-tiba Jevan mengeluarkan jarinya begitu saja, padahal Lucia belum mencapai orgasme.

“Ahh! Brengsek lo Jev, kenapa di lepas?!” Teriaknya kesal. Raut wajah wanita itu perlahan memerah.

“Lo gak mau pakai punyaku sayang? Jangan jangan ngambek ntar cantiknya ilang.” Goda Jevan dengan menatap kedua bola mata kekasihnya lalu mengecup keningnya.

“Mau....” Lanjut Lucia.

“Balik badan dulu.” Jevan mengarahkan tubuh Lucia untuk berbalik menghadap ke tembok. Tangannya menekan pinggul wanita itu agar lebih condong. Tanpa aba-aba lelaki itu melesatkan penis besarnya ke dalam lubang vagina Lucia dengan sekali hentakan.

“AAAHHHH JEV ...” Pekik Lucia. Tanpa persiapan lubangnya dihujam penis besar dan berotot milik kekasihnya hingga vaginanya terasa penuh. Jevan terus menggoyangkan pinggulnya, memaju mundurkan dengan sedikit cepat.

“Sayang.. punya sempit banget, enak.” Racau Jevan kala merasakan penisnya terjepit lubang vagina milik Lucia yang selalu terasa sempit. Padahal hampir setiap hari mereka bercinta. Sesekali ia hentakkan penisnya hingga menyentuh g-spot kekasihnya hingga membuat gadis itu mengerang.

“Aaahhh... Jev... Fuck me harder, babe...” Lucia semakin meracau tak karuan. Tangan kiri Jevan memegangi pinggul wanita itu sedangkan tangan kanannya bermain-main dengan klitorisnya. Ia memutarnya dengan kasar dan terus menyodok lubangnya dengan keras membuat Lucia tak tahan dan ingin segera mencapai klimaksnya.

“Ngghhh.. Jev.. aku ma-u keluarr aahhh..”

“Keluar bareng ya s-sayang.. ughhh...”

Jevan terus memaju mundurkan pinggulnya, mempercepat temponya dan pada hentakan terakhir, ia melepaskannya bersamaan dengan Lucia. Tubuh wanita itu menggelinjang hebat dan bergetar, kakinya melemah hingga tak kuat menopang tubuhnya sendiri.

“Egghhh.... “

“Aahhh....”

Mereka mendesah bersamaan kala sama-sama mencapai klimaksnya. Jevan melepaskan penisnya perlahan. Cairan keduanya mengalir di sela kedua paha Lucia. Lelaki itu menahan tubuh kekasihnya agar tidak jatuh, ia lalu membantu membersihkan tubuh Lucia. Ia mengecup kening gadis itu dan tersenyum puas. Jevan mengambil handuk dan membalutkan pada tubuh kekasihnya lalu menggendong keluar dari kamar mandi.

Jevan mendudukkan wanita itu di tepi tempat tidur, kemudian mengambil piyama di dalam lemari pakaian serta membantu mengenakannya. Jevan juga bergegas mengambil boxer dan memakainya lalu naik keatas tempat tidur, merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Lucia.

“Jev, maksud lo apa gak pakein gue celana dalam?”

“Sini peluk, tidur. Besok pagi ada serangan fajar.” Ucap Jevan seraya menarik tangan kekasihnya kedalam pelukan. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi keduanya. Jemari Jevan terus mengusap-usap pucuk kepala Lucia hingga wanita itu terlelap. Tak lama lelaki itupun menyusulnya ke alam mimpi.

Part. 6 Mature content 🔞 Cold Blooded

Genap satu Minggu, Dave tak menampakkan diri. Sedangkan Clara tidak tau bagaimana caranya berkomunikasi dengan sosok vampir itu. Dave tidak menggunakan ponsel, bahkan akhir-akhir ini vampir itu singgah tak menentu. Tanpa Dave hari yang di lalui wanita itu terasa sangat sepi, hanya gelisah bahkan Clara tak pernah bisa tidur di malam hari. Ia terus menunggu dan menunggu sosok vampir itu.

Masih seperti malam-malam sebelumnya, ruang kamar yang terasa sunyi. Hanya suara desiran angin yang menerpa tirai membuat gesekan hingga menimbulkan bunyi yang sedikit mengusik telinga. Clara masih duduk dan bersandar pada kursi, jarinya mengetuk-ngetuk meja kerja beberapa kali. Tatapan matanya tak lepas dari balkon yang tak berpenghuni, pintunya terbuka lebar dan berharap Dave akan datang padanya. Angin malam terus berhembus sangat dingin hingga menembus sampai ke tulang. Clara masih terjaga dalam lamunan dan tiba-tiba buyar ketika seekor burung gagak yang mengepakkan sayap beberapa kali kemudian hinggap di ujung balkon. “Bukan Dave.”—batin Clara.

Wanita itu menghembuskan nafasnya sedikit kasar, lalu beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah balkon hendak menutup pintu. Angin yang berhembus sangat kencang serta seekor gagak yang membuat tubuhnya bergidik merinding. Clara di buat kaget oleh sosok yang tiba-tiba memegang tangannya saat hendak menarik gagang pintu.

“Dave!”

Wanita itu sontak menabrak tubuh Dave dan memeluknya sangat erat, Clara sangat rindu.

“Kamu kemana aja?” Tanya Clara sembari membenamkan wajahnya di balik dada bidang milik Dave. Lelaki itu tidak menjawab, ia terus mengusap punggung Clara guna menenangkan wanita itu. Dave memandangi wajah cantik wanita yang berada di hadapannya, lalu tersenyum tipis.

Dave membawa tubuh Clara duduk di tepi ranjang, lelaki itu mengusap telapak tantan Clara dan menggenggam erat.

“Clara, maafin aku.”

“Maaf untuk apa?” Tanya Clara penasaran. Selama mereka bersama, wanita itu merasa Dave tidak pernah melakukan kesalahan apapun.

“Aku harus pergi...” Ucap Dave lirih.

Deg! Jantung wanita itu seakan lepas. Ia bahkan tak bisa berkata-kata, hanya berusaha menahan air mata yang hampir tumpah.

“Kenapa pergi?” Tanya Clara, suara yang keluar dari bibirnya bergetar ketika menahan tangis.

“Suatu hari nanti, aku bakalan kembali ke sini. Jangan sedih ya?”

“Ya tapi apa alasannya kamu pergi?” Desak wanita itu, tangannya menggenggam erat telapak tangan Dave seakan tak ingin di tinggalkan.

“Aku gak bisa jelasin.”

“Kamu jahat, Dave! Hiks..”

Air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya tumpah membasahi pipi Clara. Hatinya sakit, pertemuan dengan Dave begitu singkat dan sesungguhnya ia tidak ingin kehilangan Dave.

“Clara, aku boleh cium kamu? Untuk yang terakhir.” Pinta Dave, dan wanita itu mengangguk tanda setuju atas permintaan Dave.

Vampir tampan itu mengikis jarak di antara keduanya. Ia raih tengkuk Clara lalu mendaratkan ciuman yang lembut di bibirnya. Perlahan ciuman itu menjadi lumatan yang begitu nikmat hingga decapan penyatuan bibir keduanya terdengar jelas.

Dua tangan Dave yang berada di belakang tubuh Clara saat memeluknya tiba-tiba merobek gaun tidur yang di kenakan wanita itu dan melucutinya. Ia meremas perlahan payudara Clara tanpa melepas ciumannya.

“Nghh...” Clara melenguh pelan saat lelaki itu bermain-main dengan payudaranya secara bergantian membuat libidonya naik seketika. Dave perlahan menidurkan tubuh Clara dan menindihnya, ia tatap wajah cantik wanita yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Dave mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada kening, mata, pipi, dan bibir Clara. Ia sangat mengagumi sosok manusia yang pertama kali bisa meluluhkan hatinya.

Dave kembali mencium bibir Clara dengan sangat lembut, tangannya meremas perlahan payudara wanita itu, memainkan dengan lembut.

Perlahan kaki Dave ia gunakan untuk membuka lebar dua paha wanita itu dan ia gesekkan batang miliknya pada bibir vagina Clara sebelum akhirnya memasukkan dengan penuh ke dalam sana. Dave memandangi wajah wanita yang berada di bawah kuasanya, dan tersenyum tipis saat Clara mendesah.

Dave menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang, ia tidak ingin menyakiti Clara karena kekuatannya tidak sepadan dengan manusia. Tangan wanita itu meremas lengan Dave saat lelaki itu menghentakkan pinggulnya hingga batang penisnya menumbuk g-spot milik Clara. Ia memejamkan matanya dan terus mendesah karena nikmat yang di ciptakan oleh Dave membuat dirinya lebih cepat mencapai pelepasannya.

“D—Dave, faster please...” Lenguhnya di sela penyatuan mereka. Sosok vampir itu kemudian mempercepat tempo di bawah sana.

“Aaaahhh... Daveeehh...” Desah wanita itu sembari memejamkan mata dan tubuhnya mulai melengkung.

Dave mencium bibir Clara guna mengurangi rasa sakit akibat gerakan pinggulnya yang cepat, dan mengusap pucuk kepala wanita itu. Sekali hentakan keras, Dave dan Clara mencapai klimaks secara bersamaan.

Dave tidak pernah bosan memandang wajah cantik wanita itu. Ia kecup sekali lagi kening dan bibirnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Clara.

Sosok vampir tampan itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengenakan kembali pakaiannya. Ia menoleh ke arah wanita yang masih terduduk di atas ranjang, Dave-pun menghampirinya. Mengusap surai hitam wanitanya lalu mengusap lembut pipinya. Clara memegangi tangan Dave seakan tak rela di tinggalkan. Dalam benak wanita itu sebenarnya berontak, ia sama sekali tidak ingin lepas dari Dave. Namun Dave bukan sosok nyata di dunia, mereka berbeda, mereka tidak akan pernah bisa bersatu.

“Aku pergi ya? Aku tidak bisa menentukan kapan akan kembali, tapi jangan pernah meninggalkan rumah ini.”

“Dave...”

“Clara, kalau satu tahun kemudian aku tidak kembali ke rumah ini, berarti kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

“Dave, please don't go... Hiks...” Tangis wanita itu pecah lagi, hatinya sakit dan kecewa. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Dave.

Dave melepaskan pelukan diantara keduanya, lalu berjalan perlahan keluar dari kamar Clara. Wanita itu hanya bisa menatap kepergian Dave, dan hanya air mata yang menemaninya sepanjang malam.

Part. 5 Mature Content 🔞 Cool Blooded

Suatu hari Clara mengunjungi Cafe Marrakech. Rasa rindunya pada suasana tempat berkumpul dan bercengkrama, serta di suguhkan aroma khas kopi favoritnya. Cuaca dingin dan jaket bulu sebagai penghangat, juga segelas coffee latte sangat nikmat.

Clara meninggalkan Cafe Marrakech ketika mulai larut malam. Perjalanan sekitar tiga puluh menit ia tempuh untuk sampai di rumahnya. Malam itu cuaca lebih dingin dari biasanya, angin berdesir kencang membuat bulu kuduk merinding seketika. Wanita itu berlari kecil memasuki rumah, lalu menaiki tangga menuju kamar utama.

Dua bola matanya menelisik ke seluruh ruang kamarnya namun tak mendapati Dave di sana. Sudah lebih dari tiga malam sosok vampir tampan itu tidak menampakkan diri, Clara mulai gelisah, bahkan sempat berpikir Dave meninggalkan dirinya tanpa pamit. Ia kesal, seolah-olah menyalahkan Dave. “Kalau emang udah gak mau ketemu gue, mending jujur deh. Bukan tiba-tiba ilang kaya gini. Dasar vampir!”—gumamnya dalam hati.

Clara melempar handbag, jaket juga ponsel ke lantai. Wanita itu berjalan ke arah kamar mandi sembari melucuti pakaiannya. Clara berdiri tepat di bawah shower kemudian memutar tuas agar air di dalamnya mengalir dan membasahi tubuhnya. Wanita itu menengadah, kedua matanya terpejam sembari menikmati air hangat yang menyentuh tubuhnya bak pijatan-pijatan lembut hingga membuat relax.

Tiba-tiba Clara merasakan sesuatu menyentuh kulitnya, begitu dingin namun lembut. Sentuhan yang berawal dari leher kemudian berpindah ke bahu dan turun pada lengan, membuat dirinya bergidik merinding.

fiuhhh....

Clara merasakan sesuatu meniup tepat di belakang telinganya. Sontak ia mengerjapkan mata dan mengusap wajahnya berkali-kali. Ia mengamati sekeliling, mencari sosok yang mengganggu dirinya. “D—Dave?” Batin Clara, penasaran. Wanita itu terpaku dalam diam hingga beberapa menit.

“Ck.. Gue berhalusinasi.” Decak Clara.

Wanita itu memejamkan mata dan menengadah di bawah shower. Tanpa di sangka, ia merasakan sentuhan yang lebih intens dari sebelumnya. Wanita itu merasakan lehernya di kecup oleh seseorang. Namun siapa? Malam itu Clara hanya sendiri, Dave tak ada di sana. Atau memang kejadian beberapa detik yang lalu adalah ulah Dave, tetapi makhluk vampir itu sengaja tidak menampakkan diri.

“Dave!”

Detik berikutnya, bahu sebelah kanan wanita itu serasa di kecup oleh sesuatu yang tak bisa di lihat oleh mata manusia. Beberapa detik setelahnya, sentuhan lembut itu kian terasa. Membelai bahu hingga pinggul Clara hingga membuatnya benar-benar merinding.

“Dave stop!

“Dave! Keluar sekarang!” Ucap Clara setengah berteriak.

Tirai putih di dalam kamar mandi itu tiba-tiba bergerak seakan tertiup angin, suasana yang tak asing muncul dan menyapa Clara malam itu. Desiran angin menambah suasana menjadi lebih mencekam. Kedua matanya sibuk menelisik ke setiap sudut kamar mandi, mencari sosok yang sedari tadi menggodanya. Ia berjalan hendak keluar dari sana, meraih handuk putih yang tergantung. Tiba-tiba sesuatu menyentuh tubuhnya, sentuhan tangan. Ya tangan yang secepat kilat menyambar pinggangnya, melingkar dan menahan tubuh Clara agar tak pergi menjauh.

“D—Dave...” Bisiknya lirih.

Clara membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Dave. Vampir berwajah tampan itu melahap bibir ranum wanita yang tengah telanjang. Melumat dengan penuh nafsu, tangannya mengusap lembut pipi Clara.

Wanita itu merasakan sensasi berbeda. Dave bukan manusia, tetapi ia mempunyai nafsu seperti manusia pada umumnya bahkan berkali-kali lipat lebih kuat. Seluruh tubuh Clara bergidik merinding, namun aliran darahnya mengalir begitu cepat. Tak kurang dari dua detik, tubuh Clara sudah berpindah tempat di atas ranjang besar miliknya.

Dave mengunci wanita itu di bawah tubuhnya, sedangkan Clara masih terpaku oleh sosok tampan di hadapannya. Ia tidak berontak, juga tidak menolak. Clara benar-benar sudah jatuh hati dengan sosok vampir yang mampu mengisi kesendiriannya.

Sudah puas menatap wajah cantik Clara, Dave-pun kembali melumat bibir wanita itu. Lidahnya bertemu dengan milik Clara, saling bertukar saliva. Decapan dua bibir itu sangat jelas terdengar di iringi suara lenguhan dan desahan lirih kala hasrat Clara mulai membuncah.

Tangan dingin Dave mulai menyentuh dan menjamah tiap jengkal tubuh Clara yang mulai memanas. Detak jantung dan deru nafasnya kian cepat, tubuhnya mulai menggeliat resah. Ini bukan yang pertama bagi Clara, namun bercinta dengan sosok vampir adalah hal tak masuk akal yang pertama kali ia lakukan.

“A—ahh.. Davee..” Lenguh wanita itu ketika lidahnya menyusuri dada sintal dan perut milik Clara. Dave melumat dua payudara wanita itu secara bergantian, meremas dan memilin putingnya hingga membuat Clara semakin resah.

Dave sudah membuatnya gila, sosok vampir itu sudah membuatnya hilang akal. Ruang kamar yang temaram, tirai di balik balkon yang terus bergerak karena hembusan angin malam menjadi saksi bisu penyatuan dua sejoli itu.

Dalam satu kedipan mata, Dave melucuti pakaiannya dengan cepat dan kembali menindih tubuh Clara. Vampir tampan itu menatap sangat lekat wajah Clara, mengagumi sosok manusia cantik yang sudah membuatnya jatuh cinta. Meski tau mereka tak akan pernah bisa bersatu, Dave sama sekali tak peduli. Ia hanya ingin menghabiskan sisa waktunya dengan Clara.

You're my favorite girl, Clara.” Bisik Dave.

Milik Clara yang sudah sangat basah karena aktivitas panasnya beberapa menit yang lalu, mempermudah Dave untuk menyatukan miliknya pada Clara. Satu kali hentakan yang cukup keras membuat wanita itu mendesah kencang.

“Aaahhh....” Dan bulir-bulir air mata wanita itu menetes. Rasa sakit di bawah sana akibat belum terbiasa dengan milik Dave. Tangannya meremas lengan lelaki itu saat kepunyaannya di hujam dengan cepat. Berkali-kali milik Dave menembus dan menusuk g-spot miliknya hingga membuat Clara lebih cepat menjemput pelepasannya.

“D—Dave a—ku..” Tak sempat melanjutkan ucapannya, Clara memejamkan kedua matanya kala di bawah sana mulai terasa sesak dan berkedut. Temponya semakin cepat, tak ada ampun, tak ada lelah. Dave sibuk menghujam milik wanita itu sembari menatap wajah Clara yang sedang menikmati setiap detail permainannya. Hingga keduanya sama-sama mencapai klimaks.

Desahan dan lenguhan cukup keras bersahutan saat dua sejoli itu sampai pada pelepasannya. Deru nafas Clara tak beraturan, keringat mengalir membasahi wajah cantiknya dan tubuhnya terasa lemas.

Dave berkali-kali mengecup kening dan bibir Clara. Senyumnya sangat hangat dan lembut, Clara sangat menyukainya.

“Dave, jangan pergi.” Ucap Clara lirih sembari memegangi tangan sang vampir.

“Iya Ra, malam ini aku temenin kamu. Tapi besok pagi aku pergi sebelum matahari terbit.” Jelas Dave. Jari-jari lembutnya mengusap pipi wanita itu dan mengecup singkat bibirnya.

Dave memposisikan dirinya di sebelah Clara, memeluk tubuh mungil wanita itu sangat erat seakan tak ingin melepaskannya. Dan Clara meringkuk, mencari kehangatan di dalam dekapan Dave juga di bawah selimut tebalnya hingga menjemput mimpi.

Part. 4 Cool Blooded

Malam itu Clara sibuk mengutak-atik alat memasaknya. Rencananya ia ingin membuat ayam panggang untuk makan malam. Di atas kitchen counter sudah lengkap bahan dan beberapa bumbu di siapkan. Di sela kegiatannya, Clara melirik arloji yang menempel pada tangan kirinya, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia berhenti sejenak lalu bergumam sendiri.

“Kok udah jam 10 sih? Apa delivery order makanan aja ya?”

Wanita itu kemudian menarik satu kursi di hadapannya, ia-pun duduk dan merogoh ponsel yang berada di saku jaketnya. Clara sibuk mencari restoran yang melayani delivery hingga 24 jam, pada akhirnya wanita itu mengurungkan niat memasaknya. Karena hari sudah mulai larut serta rasa malas muncul secara tiba-tiba.

Clara sama sekali tidak menyadari Dave sudah berada di rumahnya, entah sejak kapan. Lelaki itu menyiapkan makan malam untuk Clara. Hanya dalam hitungan detik, Dave dapat merampungkan satu menu yang siap di santap oleh wanita itu. Dave bukan manusia, ia sosok vampir yang mempunyai kekuatan sihir. Tidak sampai satu menit, potongan ayam, dan beberapa bumbu yang tergeletak di atas kitchen counter tersebut sudah berubah menjadi ayam panggang mentega.

“Makan dulu, Clara.” Ucap Dave sembari membawa satu piring saji berisikan ayam panggang mentega yang siap untuk di santap.

“Dave! Ka-kamu?” Wanita itu cukup shock dengan kehadiran Dave yang sangat tiba-tiba.

“Makan aja, gak ada racunnya kok.” Tutur lelaki itu, tangannya bertumpu di atas meja makan dan matanya menatap wanita yang saat ini duduk di hadapannya. Awalnya Clara sedikit ragu dengan makanan itu, tetapi ia sangat lapar dan sudah tidak tahan dengan aroma wangi dari hidangan tersebut. Clara sangat lahap menyantap ayam panggang itu hingga menyisakan tulang-tulangnya saja. Dave masih sibuk mengamati gerak gerik wanita itu sembari tersenyum, Clara sadar lalu berniat menawarkan beberapa potong ayam panggang yang masih ada di piring saji.

“E—Dave, kamu mau makan juga? Ini masih ada, aku juga gak akan habis.” Ucap Clara sembari meneguk segelas air putih.

“Habisin aja Ra, aku gak makan makanan manusia.”

Uhuk.. Uhuk.. Uhukkk...

Clara tersedak oleh air putih yang ia minum akibat mendengar jawaban Dave. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri berkali-kali agar rasa sesaknya hilang. Dave-pun merasa panik lalu menghampiri Clara dan mengusap punggung wanita itu.

“Kamu gak apa-apa Ra?”

“Gapapa Dave, gapapa. Kalau kamu gak makan makanan manusia terus makan apa?” Tanya Clara sedikit penasaran.

“Darah.” Jawab lelaki itu singkat. Jawaban yang di lontarkan Dave membuat Clara kaget dan sontak berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mundur dan menutupi lehernya dengan kerah jaket yang ia kenakan.

Oh God.. Dave, jangan dekat-dekat! Aku gak mau mati muda!”

Dave terkekeh ketika mendengar celotehan wanita itu. Dave tidak akan menghisap darah Clara, lelaki itu bisa menahan asalkan bagian tubuh Clara tidak ada yang terluka atau mengeluarkan darah. Indera penciuman Dave sangat tajam, terutama dengan aroma darah segar.

Dave mendekat ke arah wanita yang sedari tadi mematung memandangi sosok vampir yang kini sedang berdiri di hadapannya. Dave mengusap lengan Clara, memberikan rasa tenang dan meyakinkan wanita itu agar tidak takut dengan kehadirannya. Clara bak tersihir oleh ucapan Dave, ia mulai merasa nyaman dan rasa takutnya perlahan menghilang.


One Month Later

Dave hampir setiap hari mendatangi kediaman Clara. Ia hanya menampakkan diri di malam hari saja. Menemani sang tuan rumah menghabiskan malam dengan sibuk menulis cerita fiksinya tentang vampir dan manusia. Ada perasaan yang bergejolak di hati Dave kala berhadapan dengan Clara, berbicara dengan wanita itu bahkan saat mereka bersentuhan. Namun sosok vampir itu tak pernah tau apa yang di rasakan selama ini.

Semakin lama, Clara semakin terbiasa dan seakan bergantung pada Dave. Kehadirannya setiap malam selalu di tunggu oleh wanita itu, bahkan Clara sering kali terjaga hingga dini hari hanya untuk menunggu kedatangan Dave. Terkadang ketika Dave tak berkunjung ke rumahnya, hal tersebut membuat Clara kesepian. Ia sudah terbiasa, bahkan sangat terbiasa dengan Dave. Senyum Dave, wajahnya yang tampan, bola mata berwarna merah yang tajam, menjadi candu bagi Clara Emiliana.

Sudah satu bulan lebih Clara sama sekali tidak pernah berkunjung ke Cafe Marrakech miliknya. Selama itu pula, adik laki-lakinya yang mengelola cafe tersebut. Clara lebih memilih menghabiskan waktu di rumah dengan Dave. Waktu dan pikiran Clara kini di penuhi sosok vampir tampan yang berhasil mencuri hatinya. Ya, Clara mungkin sudah gila dan terdengar tidak masuk akal. Tapi pada kenyataannya wanita itu sekarang sedang jatuh cinta pada Dave.

“Jer, ini jam tiga pagi” Ucap Nathalie sembari melepaskan pelukan.

“Terus kenapa? Aku masih mau di sini, peluk kamu.” Timpal Jeremy.

“Kamu gak ngantuk?”

“Enggak, emang kamu ngantuk?” Tanya Jeremy dan wanita itu menggelengkan kepalanya. Tanpa aba-aba Jeremy kembali meraih tengkuk Nathalie dan melumat bibir manis wanitanya yang selalu membuatnya candu. Tangan Jeremy perlahan menelusup masuk ke dalam kaos tipis yang di kenakan Nathalie, meraba punggung wanita itu dan melepaskan pengait bra dengan sekali hentak.

Jeremy melepaskan ciuman di antara keduanya, sembari melepaskan kaos serta bra dari tubuh Nathalie. Wanita itu mengatur nafas dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Detik berikutnya Jeremy kembali mencium bibir Nathalie sedikit gusar, tangannya tak tinggal diam. Meremas perlahan gundukan payudara milik wanitanya, sesekali memilin putingnya yang sudah sangat tegang.

“Nghhh...” Lenguhan kecil lolos di sela pagutan itu. Nathalie mendongakkan kepala dan memejamkan matanya saat Jeremy membuatnya terangsang. Lelaki itu seperti di beri jalan untuk menyusuri leher jenjang wanitanya, mengecup dan memberikan tanda kemerahan di sana.

Bibir Jeremy menelusuri tiap lekuk tubuh Nathalie dan berhenti di atas dua gundukan payudara yang sudah lama tak di mainkan oleh lelaki itu. Jeremy meraup dan melumat dengan rakus dua payudara itu secara bergantian, ia tak membiarkan satu jengkal-pun tubuh Nathalie lepas dari tangannya.

Tubuh wanita itu menggeliat resah, aliran darahnya terasa mengalir lebih cepat. Tangannya ia gunakan untuk meremas rambut Jeremy kala lelaki itu menggodanya dengan menggigit kecil putingnya.

“A-ahh.. Jer,” Lenguhnya. Jeremy memainkan putingnya dengan lidah, memutar dan menyesapnya. Tangan kanan lelaki itu kemudian perlahan meraba bagian bawah milik Nathalie. Ia sentuh titik sensitif wanitanya yang sudah basah akibat ulahnya.

“Nath, lanjut enggak? Kamu udah basah.” Tanya Jeremy sembari menggodanya, jarinya memutar klitoris milik Nathalie hingga membuatnya meloloskan desahannya.

“Ahh.. Jer, you teasing me, tapi tanya lanjut apa enggak?” Ucap Nathalie mengernyitkan dahinya. Lelaki itu hanya terkekeh lalu mendaratkan satu ciuman di bibir Nathalie.

“Enggak sayang, kita lanjut ya?” Pinta Jeremy sembari tersenyum dan di balas dengan anggukan kepala oleh wanita itu, tanda setuju. Jeremy melanjutkan kegiatan yang sudah lama tak di lakukannya dengan Nathalie. Lelaki itu sangat merindukan wanita yang saat ini berada di bawah kuasanya.

Tanpa aba-aba Jeremy melesatkan dua jari ke dalam liang milik Nathalie. Mengoyak lubang di bawah sana dengan tempo sedang. Bibirnya meraup kembali payudara yang terlihat kosong, sedangkan Nathalie meremas selimut dan melengkungkan tubuhnya kala dua titik sensitifnya di mainkan oleh Jeremy.

“Jerr.. A-ahh...”

“Enak sayang? Kamu suka?” Tanya Jeremy, beberapa kali ia mendaratkan ciuman untuk menyalurkan rasa tenang pada wanitanya.

“Nghhh.. Aah...”

Nathalie terus mengeluarkan desahan-desahan hingga memenuhi seisi ruang kamarnya.

“Kamu udah basah banget sayang, mau aku cepetin?” Tawar Jeremy. Nathalie hanya mengangguk saja, ketika ia merasa hendak menjemput pelepasannya. Lelaki itu kemudian mempercepat tempo di bawah sana, mengoyak lebih keras liang kenikmatan milik Nathalie dan detik berikutnya wanita itu mencapai orgasm-nya. Jeremy mengecup beberapa kali leher Nathalie ketika wanita itu mendesah kencang, tangan Nathalie melingkar di perpotongan leher Jeremy sembari meremas rambut lelaki itu.

Jeremy beranjak dari sofa, menggendong tubuh Nathalie dan membawanya ke atas ranjang besar di belakangnya. Ia melepas pakaian yang di kenakan hingga kini lelaki itu dalam keadaan telanjang. Jeremy naik ke atas ranjang dan mengunci tubuh Nathalie yang berada di bawahnya. Dua sejoli itu saling menatap lekat wajah masing-masing, tersirat banyak kerinduan disana. Jeremy tersenyum pada Nathalie dan mengecup singkat bibirnya yang ranum, sebelum akhirnya ia melebarkan paha wanita itu menggunakan kakinya. Jeremy menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina milik Nathalie dan tanpa aba-aba melesatkan batang yang sudah menegang dan keras itu ke dalam liang milik wanitanya.

“Aaahh...” Desahan Nathalie terdengar lebih keras ketika batang milik Jeremy menembus hingga ujungnya menyentuh g-spot. Lelaki itu memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang agar tubuh Nathalie bisa menyesuaikan ritmenya. Jeremy kembali melumat bibir wanitanya guna menyalurkan rasa nikmat lewat penyatuan tubuh mereka. Keduanya kini merasa terbang ke langit ke tujuh, kala tumbukan demi tumbukan di bawah sana menciptakan kenikmatan yang luar biasa. Saat liang milik Nathalie mulai mengetat dan berkedut, Jeremy tau pasti wanitanya hendak menjemput pelepasannya lagi.

“Cum, sayang? Aku cepetin ya? Sini peluk.” Ujarnya. Jeremy-pun mempercepat gerakan di bawah sana. Ia menumbuk milik Nathalie lebih cepat dan keras, sesekali hentakkan batang penisnya hingga menabrak titik g-spot milik wanita itu. Hentakan yang terakhir keduanya sama-sama mencapai titik orgasm. Sperma dan cairan milik Nathalie menyatu di dalam sana hingga penuh dan mengalir di sela pahanya. Jeremy mencium kening Nathalie berkali-kali, dan mengecup bibirnya singkat.

Thank you sayang, i love you...”

Love you too, Jer...” Balas Nathalie. Dan sekali lagi Jeremy mengecup bibir Nathalie hingga beberapa detik. Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Nathalie dan memeluk erat tubuh mungil wanitanya seakan tak mau melepaskan.

“Jer,”

“Hm?” Jeremy menempelkan wajahnya pada ceruk leher Nathalie.

“Kenapa di keluarin di dalem?” Tanya wanita itu sembari menatap langit-langit dalam kamarnya.

“Kita kan mau nikah Nath.” Jawab Jeremy tanpa menatap wajah Nathalie. Wanita itu sontak kaget dan melepaskan pelukannya.

“Ngaco kamu. Belum tentu mama bener-bener ngasih restu.”

“Nath,—”

“Jer, kalau aku sampai hamil lagi dan mama tetep gak kasih restu. Aku mau pergi dari sini, jangan harap kamu bisa nemuin aku!” Cecar Nathalie dengan wajah sembab, lagi dan lagi ia menahan air mata yang hampir mengucur membasahi pipinya. Hatinya masih sakit saat mengingat kenangan pahit kala itu, titik terendah dalam hidupnya.

“Nath, aku pastiin kita nikah secepatnya. Bulan depan gimana?”

“Mama udah lepas tangan Nath, mama udah gak ngatur hidupku lagi. Sekarang aku bebas mau nikah sama siapapun. Dan aku mau nikah sama kamu.” Jelas lelaki itu sembari mengusap pucuk kepala Nathalie. Sedangkan wanita yang tengah mematung itu tak memberikan respon apapun. Nathalie masih setengah tak percaya.

“Sayang, aku janji. Kita nikah secepatnya, oke? Sekarang kamu tidur, ini udah hampir pagi.”

Kalimat yang di ucapkan lelaki itu membuyarkan lamunannya.

“Jer, tapi aku kerja. Mending aku gak usah tidur, takut gabisa bangun.” Ucap wanita itu kemudian bangun dari posisi tidurnya. Jeremy menarik lengan Nathalie dan membawanya ke dalam pelukan, mengusap punggungnya sangat lembut menyalurkan rasa nyaman untuk wanitanya.

“Nath, gak usah kerja dulu. Kamu gak malu di lehermu banyak merah-merahnya?” Timpal Jeremy. Wanita itu membelalakkan matanya dan menatap Jeremy, tajam.

“Jer! Ihh! Blouse turtle neck-ku di laundry semuaaaa..” Ucapnya sembari memukul lirih dada bidang Jeremy. Lelaki itu hanya terkekeh dan mengecup bahu Nathalie.

“Nanti aku pamitin ke Jovan. Nanti aku telepon dia agak siangan.”

“Gak usah Jer, aku aja nanti chat dia.”

“Ya udah, ayo tidur. Sini peluk.”

Jeremy merentangkan kedua tangannya lalu wanita itu-pun masuk ke dalam pelukannya. Wajahnya ia benamkan pada dada bidang Jeremy, dan lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang masih sama-sama telanjang. Dua sejoli itu mencari kehangatan di bawah selimut tebal dan pelukan yang sangat erat dan nyaman. Tak peduli cahaya matahari yang menyapa pagi itu, mereka sama sekali tidak terusik. Bahkan hangatnya sinar mentari menambah rasa nyaman, membuat enggan untuk beranjak dari tempat peraduannya.