Dinner
Jeremy menjemput Nathalie setengah jam lebih awal. Setelah memarkirkan mobil di depan gedung, ia lalu naik ke unit apartemen milik wanita itu. Nathalie mengira, Jeremy akan menunggunya di bawah seperti biasanya. Namun Jeremy tidak memberi tau bahwa ia akan menemuinya terlebih dahulu.
Nathalie sama sekali tidak mendengar jika ada seseorang yang memasuki unit apartemen tanpa membunyikan bel, bahkan masuk secara diam-diam tanpa sedikitpun bersuara. Wanita itu hampir selesai mandi, dan suara air dari shower yang mengalir deras membuat telinganya seakan tuli dengan suara di luar sana. Langkah kaki Jeremy mengendap sangat pelan menuju kamar Nathalie, membuka pintu perlahan dan tak mendapati sosok yang ia cari. Hanya suara samar dari gemericik air yang mengalir dari arah kamar mandi.
Jeremy berdiri di ambang pintu sembari melipat dua tangannya di depan dada. Ia menunggu Nathalie keluar dari kamar mandi. Tak kurang dari lima menit wanita itu keluar, mengenakan bathrobe lalu mengambil pakaian dari lemari. Lelaki itu mengamati Nathalie ketika hendak mengenakan backless top dengan tali di bagian belakang. Jeremy berjalan perlahan menghampiri wanita itu dan tiba-tiba menarik tali pada bagian bawah backless top yang ia kenakan. Sontak membuat wanita itu terkejut.
“Ah! Jer, ngagetin aja!”
Jeremy terkekeh melihat raut wajah Nathalie yang berubah.
“Kamu kapan dateng? Udah lama?” Tanya wanita itu sembari membuat tali simpul di belakang pakaiannya.
“Ya 20 menitan lah.” — “Kamu cantik banget Nath..” Kata Jeremy berbisik di telinga wanita itu hingga membuat bergidik merinding. Jeremy merapatkan tubuhnya pada Nathalie yang belum lengkap mengenakan pakaian. Hanya celana dalam saja dan bagian atas melekat backless top.
“Jer, agak munduran dikit bisa?” Pinta Nathalie karena ia merasakan milik Jeremy di bawah sana sudah mulai mengeras dan menempel di bokongnya.
Lelaki itu semakin merapatkan tubuhnya dan memandang Nathalie melalui cermin di depannya lalu tersenyum. Wanita itu masih sibuk merias wajahnya, sedangkan tangan Jeremy mulai iseng melepas tali backless top yang di kenakan Nathalie.
“Jer, jangan iseng ah. Kita mau pergi kan?” Ucap wanita itu dan bertatapan dengan Jeremy lewat pantulan cermin di depannya.
“Bentar yuk Nath..” Pinta Jeremy, lalu ia mengecup leher Nathalie.
“Aku udah make up sayang.. Jangan.. Aahh..” — “Jer, ih! Jangan..” Pekik Nathalie, ia sempat melenguh pelan ketika tangan lelaki itu berhasil menangkup payudara dan meremasnya. Jeremy terkekeh melihat raut wajah Nathalie ketika ia berhasil menggodanya.
“Iya, udah ayo siap-siap.” Ucap Jeremy sembari mengikat kembali tali backless top yang di kenakan wanita itu.
Setelah bersiap, mereka lalu meninggalkan apartemen dan pergi ke tempat makan malam yang sudah di tentukan. Jarak yang di tempuh tak terlalu jauh dari apartemen milik Nathalie, sekitar dua puluh menit mereka tiba di sebuah resto bernuansa klasik namun mewah dan menyajikan berbagai macam menu western kegemaran mereka. Dua sejoli ini sudah melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum tiba di sana, satu private room yang berada di lantai dua dengan pemandangan riuhnya jalanan ibu kota menjadi satu hiburan bagi keduanya.
Jeremy dan Nathalie larut akan pemandangan gemerlapnya hamparan lampu di bawah sana sembari menunggu waiters yang mengantarkan hidangan. Tak berapa lama, yang mereka tunggu akhirnya tiba. Berbagai macam menu makanan favorit di sajikan lengkap di hadapannya. Nathalie mengernyitkan dahinya sembari menatap lelaki yang duduk di hadapannya, heran. Ini terlalu banyak untuk di santap pada malam hari, namun Jeremy hanya membalas dengan senyuman saja.
Keduanya menyantap makan malam dengan keadaan yang sangat tenang, mungkin baru dua suap yang masuk ke mulut mereka tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu ruangan tersebut. Nathalie sontak menoleh ke arah pintu sedangkan Jeremy masih tenang dengan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kirinya sembari menatap wanita yang duduk di hadapannya.
“Oh, om tante.” Ucap wanita itu lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat pada kedua orang tua Jeremy. Nathalie cukup terkejut dengan kehadiran mereka karena Jeremy tidak memberi tau terlebih dahulu. Raut wajah wanita itu berubah pucat, ia beberapa kali membenahi pakaiannya karena di rasa kurang sopan jika makan malam bersama calon mertua dengan mengenakan backless top tanpa lengan. Beberapa kali Nathalie melirik ke arah lelaki itu namun Jeremy hanya tersenyum saja seakan menggodanya.
Ini kali pertama Nathalie bertemu dengan orang tua Jeremy setelah pertemuan terakhirnya di rumah sakit kala itu. Rasa gugup dan canggung terus menyelimuti batin wanita itu.
“Persiapan kalian gimana?” Tanya sang mama sembari menatap Jeremy dan Nathalie secara bergantian.
“Udah dapet WO, udah reservasi hotel juga. Undangan besok mulai di sebar, Tristan yang ngurusin semua, ma.. Tinggal fitting baju.” Jelas Jeremy.
“Kenapa fitting baju malah mendadak? Gak bisa gitu Jer, yang bikin lama itu bikin gaunnya.” Cecar sang mama. Nathalie hanya menundukkan kepala karena memang beberapa kali ia menunda untuk fitting baju pengantin. Bukan tanpa alasan. Ia belum resign dari pekerjaannya dan menjelang akhir tahun cukup menguras waktu.
“Gini aja, besok kalian datang ke Daisy Dresses and Gowns itu punya kenalannya mama, fitting di sana. Nanti mama bilang ke owner-nya buat ngerjain punya Nathalie.”
“Iya ma, besok aku ke sana sama Nathalie.”
Nathalie sedikit lega dengan saran mama Jeremy yang merekomendasikan tempat untuk fitting baju pengantin. Hanya sedikit protes karena persiapan terlalu mendadak.
Ruangan-pun kembali sunyi, hanya ada aktivitas menyantap hidangan makan malam. Nathalie awalnya canggung, kini lebih relax karena beberapa kali bertatap dengan mama Jeremy dan sama-sama melempar senyum. Begitu juga sebaliknya, sang mama yang awalnya sangat keras. Kini sudah melunak jika berhadapan dengan Nathalie.
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka meninggalkan resto dan berpisah dengan tujuan masing-masing. Orang tua Jeremy pulang ke kediamannya, sedangkan Jeremy mengantar Nathalie pulang ke apartemen.