Touch

Part. 2 Cool Blooded

Clara melucuti long dress berwarna putih yang ia kenakan, serta bra dan celana dalam warna senada. Seperti biasa, ia biarkan berserakan di lantai bersebelahan dengan bathup yang berisi air hangat dan beberapa kelopak bunga mawar merah mengapung di atasnya. Harum semerbak tercium dari lilin aroma terapi membuat suasana menjadi sangat nyaman dan tenang.

Satu persatu kaki mungil Clara masuk ke dalam bathup, perlahan ia menenggelamkan tubuhnya hingga menyisakan kepala yang bersandar pada ujung bathup. Wanita itu memejamkan matanya, menikmati air hangat yang memberinya rasa tenang.

Dua tangan yang awalnya berpegangan pada sisi bathup perlahan ia turunkan ke bawah hingga tenggelam di dalam air. Beberapa menit setelah ia memejamkan mata, Clara melihat sosok lelaki lewat bayangan matanya.

Fiuhhhh....

Desir angin meniup tirai dalam kamar mandinya, kain berwarna putih itu melambai-lambai seakan terbang. Clara sama sekali tidak memperdulikan sekelilingnya dan enggan membuka mata meskipun ada sesosok lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri.

Tangan dingin itu menyapa tiap jengkal permukaan kulit Clara, membelai rambut serta wajahnya. Sosok lelaki misterius itu menatap dirinya dan tersenyum. “Ini mimpi apa bukan? Laki-laki itu siapa?”—batin Clara. Ketika wanita itu hendak membuka matanya, sesuatu di bawah sana menarik kakinya.

“Haahhhh....” Clara membelalakkan matanya ketika ia hampir tenggelam di dalam bathup. Dua bola matanya menelisik di setiap sudut kamar mandi, ia mencari sosok lelaki yang beberapa detik yang lalu berada di sampingnya.

“Tadi siapa? Masa gue ketiduran?”

Clara bermonolog. Ia bingung dengan situasi yang terjadi beberapa detik yang lalu. Sangat aneh, ia melihat sosok lelaki nyata di hadapannya. Tetapi setelah membuka mata, lelaki itu lenyap dari pandangan.

Wanita itu akhirnya beranjak dari tempatnya berendam. Ia mengambil bathrobe yang menggantung di sebelah pintu kamar mandi, lalu mengenakannya. Ia berjalan perlahan memasuki kamarnya dan...

“Hei..!!!” Pekik Clara, secepat kilat ia mengambil gunting di laci nakas yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Clara mengacungkan gunting ke arah lelaki misterius yang sedang duduk di sofa.

“Kamu siapa?? Maling ya?!” Ucap Clara setengah berteriak, tangannya gemetar, jantungnya berdegup sangat kencang.

Tiba-tiba lelaki misterius itu berjalan ke arahnya secepat kilat, mengambil gunting dari genggaman Clara kemudian kembali duduk. Tak sampai 2 detik, benar-benar sangat cepat.

Clara terperangah melihat kejadian beberapa detik yang lalu. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak dan berjalan perlahan menjauh. Baru beberapa langkah ia hendak keluar kamar, lelaki misterius itu tiba-tiba sudah berada di ambang pintu.

“AAA—!!”

Clara berteriak kencang, namun dengan cepat lelaki itu menutup bibirnya dengan telapak tangan. Clara terpaku menatap lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya. Bola matanya berwarna merah, kulit putih pucat dan tubuh dingin sangat terasa ketika telapak tangan lelaki itu menyentuh kulitnya.

Detik berikutnya, lelaki itu membawa tubuh Clara berpindah tempat dengan sangat cepat. Ia kini tengah duduk di tepi ranjang besar.

“Clara, aku Dave.” Ucap lelaki misterius itu sembari mengulurkan tangan ke arahnya, namun tak mendapatkan balasan dari Clara.

“Kamu tau namaku dari mana?”

Dave tak menjawab, tangan kiri lelaki itu menunjuk laptop di atas meja yang menyala. “Hallo i'm Clara” tertulis jelas pada layarnya.

“Kamu masuk dari mana? Semua pintu terkunci.” Cecar Clara.

“Dari sana.” Dave menunjuk arah pintu yang tersambung dengan balkon di sisi belakang.

“Tiap malam pintu balkon gak pernah kamu tutup kan? Kamu gak takut ada hewan liar masuk?”

Clara berpikir keras, pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal terus memutari otaknya, hingga terdiam beberapa saat.

“Kamu siapa?” Tanya Clara sangat penasaran dengan lelaki itu.

“Aku Dave. Kamu lupa?”

“B-bukan itu maksud ku. Kamu manusia apa bukan? Gak mungkin kan kamu terbang terus masuk kesini?” Tanya Clara sembari mengernyitkan dahinya.

“Kalau aku terbang, dan bukan manusia apa kamu percaya?” Ucap Dave.

“Jangan bilang kamu vampir? Mitos, aku gak percaya.” Ucap Clara, ia tersenyum miring dan memalingkan muka. Tiba-tiba Dave mendekatinya dan mengeluarkan taring sembari menarik tengkuk Clara.

“AAAA...! STOP!! Dave!”

“Sekarang kamu percaya?”

“Dave! Please don't touch me.” Ucap Clara, ia berjalan mundur hingga menabrak meja dibelakangnya. Wanita itu sangat ketakutan, bahkan tak pernah terbesit sedikitpun ia akan bertemu sesosok vampir.

“Jangan takut Clara, kita bisa berteman kan?” Ucap Dave sembari berjalan ke arah wanita itu.

Stop Dave! Stop!” Clara mengangkat kedua tangannya di depan dada, bermaksud menahan Dave agar tak mendekatinya. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menatap wajah Clara yang terlihat sangat ketakutan.

“Jangan tak—”

“Dave! kamu bisa pergi gak?!”

“Oke, aku pergi. Aku pergi sekarang.” Ujarnya, Dave-pun berjalan ke arah balkon dan Clara berada di belakangnya, ia bersiap menutup pintu. Sebelum meninggalkan wanita itu, Dave menoleh kebelakang dan menatapnya.

“Clara, aku pastikan kamu aman.”

Dave melompat dari atas balkon dan menghilang dari tatapan Clara. Ia bergegas menutup pintu dan berlari ke arah tempat tidurnya. Wanita itu bersembunyi di bawah selimut tebal, mengurung dirinya di sana. Pikirannya sangat kacau dan takut.

“Oh, God.. Dave benar-benar vampir?” Gumamnya.

Malam itu Clara tidur tanpa mematikan lampu kamar. Baginya sangat sulit memejamkan mata jika cahaya lampu sangat terang, karena ia sudah terbiasa tidur dalam keadaan gelap. Namun tidak untuk malam itu, sampai pada akhirnya Clara tertidur setelah memasang airpods di telinganya dan memutar lagu.