Repair pt.2

TW // 3some 🔞

“Hana!!” Pekik Marcell setengah berteriak ketika wanita itu membanting pintu kamarnya. Bukan tanpa sebab, Hana tak pernah tau jika Halsey menyukai Marcell. Dan kejadian sepuluh menit yang lalu cukup membuatnya malu.

Lelaki itu kemudian berlari mengejar Hana yang hampir pergi meninggalkan rumah. Kala itu Hana sedang menuruni tangga sembari berlari kecil dan Marcell lebih cepat darinya. Lelaki itu menarik lengan Hana untuk menahannya.

“Lo mau kemana?” Tanya Marcell pandangan matanya mengunci dua bola mata Hana.

“Lepasin gak?! Lo kelarin dulu deh sama Halsey.”

“Apa yang harus di kelarin? Gak ada, masuk dulu kita bicarakan baik-baik. Gak enak sama Hansel kalau dia sampai dengar.” Pinta Marcell, tangannya masih menggenggam lengan Hana erat. Wanita itu akhirnya mau menuruti permintaan Marcell. Keduanya menaiki tangga dan kembali ke kamar Hana.

Halsey masih berdiri di sana, bersandar di sisi sofa sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Ketika kakak perempuannya memasuki kamar bersama Marcell, wanita itu seperti hilang akal. Halsey berjalan menghampiri Marcell lalu menarik tangannya dan membawanya ke arah sofa. Ia mendorong tubuh lelaki itu hingga terjatuh di atas sofa dan mencium bibir Marcell dengan gusar.

Marcell tidak menolak, bahkan ke dua tangannya memegangi pinggang Halsey dan membalas ciuman dengan lumatan yang sedikit kasar. Apakah Marcell lupa jika ada Hana di sana? Tidak. Bahkan di sela ciuman panasnya dengan Halsey, ia sempat melirik ke arah wanita yang sedang berdiri sembari berkacak pinggang, menyaksikan dua anak manusia yang sedang bergulat dengan nafsu.

“Kak touch my body.” Pinta Halsey pada lelaki yang posisinya kini berada di hadapannya. Tanpa di minta, wanita itu melucuti pakaiannya sendiri hingga menyisakan bra dan celana dalamnya saja.

Melihat pergerakan adik perempuannya terlampau agresif, Hana kemudian menghampiri gadis itu.

“Heh! Sinting! Lo mau ngapain?!” Tanya Hana dengan nada tinggi.

“Kak, aku capek self service. Aku pengen kak Marcell bantuin aku.” Jelas Halsey, sontak membuat kakak perempuannya shock. Halsey yang sangat polos di matanya, pernah melakukan self service. Entah demi memuaskan nafsunya atau karena penasaran saja.

“Kak, please..” Halsey memohon setengah merengek pada kakaknya, namun tak ada jawaban. Hana masih bingung dengan situasi saat ini, apa yang akan ia lakukan setelahnya. Menyetujui permintaan Halsey atau menolaknya. Sedangkan ia sendiri menginginkan Marcell menjamah tubuhnya, aktivitas beberapa menit yang lalu belum juga di tuntaskan.

“Han, duduk sini.” Tiba-tiba Marcell menarik lengan Hana dan membawanya duduk di sebelahnya.

“Lo masih mau lagi? Ayo bertiga.” Tawar Marcell. Wanita itu menatap wajah Marcell seakan tidak percaya dengan tawarannya. Bahkan ia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Mungkin ini hal gila tetapi jika harus jujur, Hana sangat menyukai permainan Marcell. Hanya menggunakan jari-jarinya saja, Hana di buat terbang ke langit ke tujuh. Bagaimana jika menggunakan milik Marcell? Tak mendapatkan jawaban dari Hana, lelaki itu tiba-tiba melumat bibirnya pelan lalu menjadi sedikit kasar. Wanita itu-pun menyesuaikan ritme lumatan yang di ciptakan oleh Marcell hingga membuatnya relax. Marcell meremas dua gundukan payudara Hana yang menyembul lewat kaos tipis secara bergantian.

“Mmphh...” Lenguhnya pelan.

Halsey seperti kepanasan melihat kakak perempuannya dan Marcell sedang bercumbu di depan mata. Ia tak mau kalah, detik berikutnya Halsey melucuti bawahan yang di kenakan Marcell hingga meloloskan penis yang sudah mengeras dan tegang. Dengan sangat lihai tangan Halsey mengocok batang penis milik Marcell dengan tempo sedang kemudian memasukkan ke dalam mulut mungilnya. Wanita itu mengulum dan mengurut batang penisnya hingga mengeluarkan cairan pre-cum.

“Owh fuck!” Racau Marcell ketika ia menemukan kenikmatan di balik blowjob yang di berikan Halsey.

Setelah puas bermain dengan payudaranya, jemari Marcell kini bergerilya menjamah milik Hana di bawah sana.

“Udah basah, hmm i like your pussy.” Ucap Marcell dengan senyum khasnya membuat libidonya seketika naik.

I wanna try your dicky, babe..” Bisik lirih Hana ke telinga Marcell membuat lelaki itu semakin gusar memainkan milik Hana yang sudah sangat basah. Di bawah sana, Halsey masih sibuk mengulum dan memainkan penis besar milik Marcell. Sesekali mengulum dua bola kembar milik lelaki itu hingga membuatnya meracau lebih kencang.

“Oughh... Fuck! Stop!” Pekik Marcell. Halsey-pun menyudahi aktivitas di bawah sana dan menatap lelaki yang tengah bercumbu dengan kakak perempuannya. Marcell membalas tatapan Halsey, detik berikutnya ia menarik tubuh Halsey dan membawanya naik ke atas tubuhnya.

Marcell dengan gusar melumat bibir ranum milik Halsey sembari melepas kaitan bra-nya dalam satu kali hentakan. Hana tak mau kalah, wanita itu semakin agresif. Ia melucuti pakaiannya sendiri dan kini Hana menampilkan tubuh sexy-nya tanpa sehelai kain yang menutupi. Hana kemudian berada di bagian bawah lelaki itu, ia mengurut batang penis Marcell yang sudah sangat tegang lalu menggesek pada miliknya sendiri.

“A-ahh...” Desahnya ketika Hana berhasil melesatkan batang penis Marcell pada miliknya sendiri. Wanita itu mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan, ia memaju mundurkan dengan tempo sedang. Tangan kirinya bertumpu pada sofa, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas payudaranya sendiri. Sesekali ia memejamkan matanya dan kepalanya menengadah kala penis besar dan panjang milik Marcell menyentuh titik g-spot-nya.

“Owh fuck! I like it, Han.” Racau Marcell di tengah-tengah cumbuannya dengan Halsey.

Lelaki itu kini sedang bermain dengan gundukan payudara ranum milik Halsey, dua tangannya tak di biarkan menganggur. Ia gunakan untuk meremas dan memilin payudara wanita itu, lalu dengan rakus Marcell melahap payudara Halsey secara bergantian. Memutar puting wanita itu dengan lidah dan sesekali menggigitnya.

“Ahh...” Satu desahan lolos dari bibir mungil Halsey. Wanita itu mulai menikmati permainan yang di ciptakan oleh Marcell, lelaki yang sangat ia sukai.

“Halsey, lepas dulu ini.” Ucap Marcell sembari meraba bagian bawah milik Halsey. Wanita itu-pun menuruti perkataan Marcell, ia melepas celana dalamnya dan melempar ke sembarang arah. Lelaki itu kemudian membawa bagian bawah milik Halsey tepat di atas wajahnya. Dua tangan wanita itu berpegangan pada sofa dan kakinya ia lipat, bertumpu di mengapit kepala Marcell.

Lelaki itu mulai melumat bibir vagina Halsey, memainkan lidahnya sesekali menyesap klitorisnya membuat wanita itu melenguh karena nikmat.

“Nghh...” Lenguh Halsey, tangannya mencengkeram sofa di hadapannya.

Sedangkan Hana masih sibuk menggoyangkan pinggulnya dengan lincah, dan terus mendesah kencang. Tak lama ia mengubah posisinya menjadi berjongkok dan menaik turunkan pinggulnya. Menghujam batang penis Marcell dengan tempo yang lebih cepat.

Halsey terus mendesah dan menggoyangkan pinggulnya, resah. Ketika lidah Marcell bermain dengan klitorisnya sedangkan dua jarinya telah masuk dan mengoyak liang milik Halsey dengan tempo sedang. Dua jari lelaki itu sangat lihai mengoyak liangnya, sesekali mempercepat tempo kocokan di bawah sana hingga membuat sang empu mendesah kencang. Permainan lidah Marcell serta jari-jarinya yang sangat lihai membuat wanita itu hampir sampai pada pelepasannya.

“Aahhh.. Kak, a-aku mau cumhh... Awasshh..” Racau Halsey yang hendak menggeser tubuhnya agar cairan miliknya tidak mengenai wajah Marcell, namun di tahan oleh lelaki itu.

No, no, Halsey. I like it.” Ujarnya. Lalu tangan Marcell memegangi pinggul wanita itu agar tidak berpindah tempat. Halsey-pun tak beranjak dari sana, lututnya mulai bergetar kala menjemput pelepasannya.

“AHHH.. Kak...” Desah Halsey sembari meremas sofa di hadapannya. Kakinya bergetar hebat, tubuhnya menggelinjang saat mencapai titik orgasm-nya. Cairan milik Halsey mengalir dari liangnya dan dengan sigap Marcell menyesapnya, menjilati liang vagina yang sangat basah itu hingga benar-benar bersih.

“Arghhh... Fuck Han!” Pekik Marcell saat tiba-tiba pinggul Hana menukik tajam menghujam batang milik lelaki itu.

“Gue mau keluarrrhh.. Ahh...” Racau Hana. Mendengarnya, Marcell kemudian membantu Hana menggerakkan pinggulnya, ia memegangi pinggul wanita itu lalu menaik-turunkan dengan tempo yang cepat. Sedangkan Marcell sendiri juga menggoyangkan pinggulnya berlawanan dengan milik Hana hingga menimbulkan bunyi khas yang semakin keras dan keduanya hendak mencapai pada pelepasannya.

“H-han, gue mau keluarrr, lo cabuthh.”

No! gue dikit lagi. Ahhh...”

“Arghhhh...” Desahan keduanya saling bersahutan saat sama-sama mencapai pelepasannya. Marcell, terengah-engah sembari menatap heran wajah Hana yang dengan sengaja tidak mencabut batang penisnya saat menyemburkan sperma. Cairan miliknya sudah menyatu dengan milik Hana di bawah sana. Wanita itu akhirnya ambruk di atas tubuh Marcell dan lelaki itu mengusap punggung Hana dengan lembut.

It's oke Cell, bentar lagi gue haid.” Ucap Hana berbisik lirih di telinga Marcell sembari menetralkan nafasnya. Lelaki itu mengangguk pelan. Beberapa menit mereka saling berpelukan, Hana merasa nyaman dengan usapan Marcell hingga ia memejamkan matanya. Tak lama Hana tersadar akan sesuatu. Wanita itu melepaskan pelukan Marcell dan beranjak dari sana.

“Halsey?” Ucapnya, dua bola matanya menelisik seluruh ruang kamarnya namun tak menemukan adik perempuannya di sana.

“Dia udah keluar.” Jelas Marcell sembari memegangi tangan Hana.

“Han, Halsey gak marah kok. Lanjut Marcell, ia menarik tangan Hana dan membawa ke pelukannya lagi.

“Lo mau mandi sekarang apa nanti? Udah lengket banget loh Han.” Tanya Marcell sembari mengusap pucuk kepala wanita itu.

“Mau mandi sekarang, tapi kaki gue..”

“Iya, gue bantu. Gak mungkin gue ninggalin lo kaya gini.” Ucap Marcell sembari menggendong Hana ala bridal dan membawanya ke kamar mandi. Hana dan Marcell berdiri di bawah shower. Air hangat yang mengalir membuat tubuh keduanya lebih relax.

“Cell, lo kenapa mau sampai kaya gini ke gue dan Halsey? Pacar lo?” Tanya Hana tiba-tiba.

“Gue kagak punya pacar, fwb-an doang pas dia LDRan sama tuh cowok. Tapi sekarang udah jarang ketemu lagi, gara-gara cowoknya balik.” Jelas Marcell. Wanita itu hanya mengangguk saja, ia masih memejamkan matanya sembari menikmati air hangat yang mengucur membasahi wajahnya.

“Han, pacar lo?”

“Uhuk.. Uhuk.. Aaaah Cell!” Ucap Hana, tubuhnya mendunduk dan mencoba mengeluarkan air yang masuk ke hidungnya.

“Han, lo gapapa?” Tanya Marcell sembari mengusap tubuh wanita itu.

“Gapapa.” Jawab Hana singkat, ia mengusap wajahnya beberapa kali dan menjauh dari bawah shower.

“Pacar? Relationship? Yang ada relationshit! Gue sekarang gak percaya cowok setelah di tinggal selingkuh berkali-kali. Cowok yang gue percaya cuma bokap sama adek gue.” Lanjut Hana. Tatapan matanya mengunci dua bola mata Marcell yang berdiri di hadapannya.

Marcell berjalan perlahan mendekati Hana dan tiba-tiba memeluknya, mengusap punggung wanita itu. Hana cukup bingung dengan situasi saat ini, namun entah kenapa pelukan Marcell bisa membuatnya tenang.

“Ngapain lo peluk gue?” Ucapnya, wanita itu masih mematung di dalam pelukan Marcell.

“Ya gue pengen peluk lo aja. Gaboleh?” Timpal Marcell.

“Ck...” Decak Hana kemudian wanita itu melepaskan pelukannya. Menatap mata Marcell beberapa saat tanpa mengeluarkan sepatah kata-pun.

“Han, gue emang temen adek lo, dan kita juga jarang ketemu. Tapi kalau lo butuh sesuatu, butuh temen buat sharing, atau apapun itu. Lo bisa hubungi gue.”

“Terserah lo mau anggap gue apa, gue bisa usahain apapun buat lo.” Timpal Marcell.

Hana masih terpaku, dan mencoba memahami kalimat yang di ucapkan Marcell. Berkali-kali di sakiti oleh mantan kekasihnya, membuat Hana tidak mudah percaya dengan siapapun. Hana sangat sulit membuka hati, bahkan ia lebih sering menyendiri. Bagi Hana, ucapan Marcell seperti mengambang dan tidak pasti. Namun kali ini, Marcell berhasil membuat Hana lebih membuka diri.


—End or Tbc? give me a feedback, guys! drop on my cc: https://curiouscat.qa/deorphic