Perpisahan
Setelah menyelesaikan pekerjaan hari ini, Helena menggunakan taksi online menuju kediaman Jeremy. Ia dan lelaki itu sudah sama-sama sepakat untuk mengakhiri perjodohan yang sebelumnya gencar. Wanita itu membawa satu bouquet bunga dan satu keranjang buah untuk mama Jeremy.
Setibanya di rumah Jeremy, wanita itu di sambut dengan baik oleh keluarga Jeremy. Semua berkumpul di ruang tengah, kecuali Tristan dan istrinya juga Jeremy yang tak nampak di sana. Jeremy memang masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan hingga membuat dirinya pulang terlambat. Perbincangan mengenai pembatalan perjodohan Jeremy dan Helena pun di bahas dengan baik-baik tanpa ada beban satu sama lain.
“Tante, saya mohon maaf tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Saya sama Jeremy udah sepakat, kami mau berpisah secara baik-baik. Selama ini saya sama Jeremy udah mencoba lebih dekat lagi tapi tidak bisa.” Jelas Helena pada wanita paruh baya yang duduk di hadapannya. Ia genggam tangan wanita itu sembari mengusapnya pelan. Mama Jeremy-pun membalas usapan di telapak tangan itu lalu tersenyum.
“Tidak apa-apa nak, sekarang terserah kalian. Mama cuma mau fokus sama kesehatan aja.”
“Mama yakin, apapun keputusan kalian itu yang terbaik.” Lanjut mama Jeremy. Ia benar-benar sudah ikhlas dengan keputusan anak laki-lakinya.
“Terima kasih tante.” Ucap Helena sembari tersenyum lega.
“Oya, ayah kamu tidak ikut?”
“Oh, ayah titip salam dan minta maaf tidak bisa ikut. Tadi pagi ke Singapore ada pekerjaan di sana.” Jelas Helena. Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian mengajak Helena makan malam sebelum meninggalkan rumah mereka.
Semua menu makan malam sudah di siapkan oleh asisten rumah tangga dan tertata rapi di meja makan. Helena ikut berbaur di dalamnya juga sesekali bersenda gurau.
Setelah makan malam usai dan sebelum Helena pamit untuk pulang, Jeremy tiba di rumah. Keduanya berpapasan di ruang tengah, dan sama-sama melemparkan senyum. Wanita itu menahan Jeremy kemudian mengajaknya berbicara sebentar di samping rumah.
“Je, gue mau ngomong sebentar.” Ujarnya lalu menarik tangan Jeremy dan membawanya ke samping rumah. Keduanya duduk di sebuah bangku sembari menatap langit yang di penuhi bintang.
“Je, gue udah mutusin buat lanjut sama Jovan, gue udah bilang sama ayah, sama nyokap lo juga. Gue berharap kita bisa tetep kaya gini Je, gak ada yang berubah. Dan gue harap lo bisa balikan sama Nathalie.” Ucap Helena bak kalimat perpisahan di antara keduanya.
“Lo baik-baik ya sama Jovan, jaga hubungan kalian. Kalau gue sama Nathalie masih gak yakin bisa balikan apa enggak. Semua keputusan ada di Nathalie.” Jelas Jeremy sembari menatap ke langit malam yang begitu gelap.
“Lo harus bisa dapetin Nathalie lagi Je. Kalau sekarang waktunya belum tepat, mungkin suatu saat nanti lo bisa balik sama Nathalie. Lo pasti bisa.” Ucap Helena sembari menepuk-nepuk punggung Jeremy pelan. Keduanya saling menatap dalam lalu tersenyum.
“Mau gue peluk? Pelukan terakhir gue Je.” Tawar Helena sembari merentangkan ke dua tangannya. Jeremy terkekeh lalu masuk ke dalam pelukan Helena. Mereka saling mengeratkan satu sama lain, saling mengusap penuh kehangatan.
“Yok balik ke dalem, gue mau pamit pulang.” Ucap Helena sembari berdiri dan berjalan memasuki rumah.
Di ruang tengah, mama Jeremy sedang duduk bersantai di sana.
“Tante, saya pulang ya? Terima kasih banyak udah di ajakin makan malam di sini.”
“Iya, kapanpun kamu boleh main ke rumah. Oya, biar di anterin Jeremy aja, kamu gak bawa mobil kan?” Tawar mmama Jeremy, namun segera di tolak olehnya.
“Terima kasih tante, tapi saya udah di jemput sama Jovan.” Jawab Helena sembari tersenyum. Wanita paruh baya itu-pun tersenyum dan mengangguk. Jeremy mengantarkan Helena hingga ujung pintu, menatap lamat wanita itu berjalan menjauh darinya. Di depan sana, seorang laki-laki yang berada di dalam mobil berwarna hitam sudah menunggu Helena. Wanita itu kemudian naik ke dalam mobil dan melambaikan tangan ke arah Jeremy yang sedang berdiri sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Jeremy dan Jovan saling menatap lalu tersenyum sebelum akhirnya Jovan melajukan mobilnya pelan meninggalkan rumah Jeremy.