The Hope

Sejak semalam Nathalie tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hatinya gundah, ia terus memikirkan mama Jeremy yang ingin bertemu dengannya. Jauh di lubuk hatinya masih ada ketakutan dan sedikit rasa sakit jika mengingat semua yang pernah di ucapkan oleh mama Jeremy. Namun ia mencoba untuk melupakan hal-hal pahit yang di alami saat itu. Tidak bersama Jeremy atau bahkan Jovan adalah awal yang baru baginya.

Siang itu Jeremy menjemputnya untuk pergi ke rumah sakit. Saat di perjalanan, Nathalie banyak diam. Wanita itu terus menetralkan pikirannya. Jeremy juga tak banyak bicara, hanya seperlunya saja. Ia tau pasti wanita yang di sebelahnya itu sedang memikirkan banyak hal.

Setibanya di rumah sakit, dua insan ini berjalan beriringan menuju kamar rawat inap dimana mama Jeremy berada. Lelaki itu mengantar Nathalie hingga memasuki ruangan. Di dalam, mama Jeremy tidak sendiri. Papa Jeremy berada di sana sedang duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang tempat mama-nya berbaring dan terlihat sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.

Nathalie membungkukkan badannya untuk menyapa papa Jeremy sembari tersenyum ke arahnya dan di balas dengan anggukan kepala oleh papa Jeremy.

Wajah datar mama Jeremy saat menatap Nathalie membuat jantungnya berdetak kian cepat. Mungkin ia tak akan sanggup jika kalimat-kalimat menyakitkan itu akan ia dengar lagi. Nathalie berjalan perlahan mendekat lalu duduk di sebelah ranjang tempat wanita paruh baya itu berbaring, sedangkan Jeremy tetap berdiri di sebelahnya.

“Jer, kamu keluar dulu, mama mau bicara sama Nathalie.” Pinta mamanya pada Jeremy. Anak lelakinya menuruti permintaan sang mama lalu meninggalkan Nathalie disana. Sebelum ia keluar dari ruangan itu, Jeremy mengusap lengan Nathalie kemudian saling bertatapan. Jeremy menganggukkan kepalanya sembari menatap wajah wanita itu se akan memberi tau bahwa semua akan baik-baik saja. Nathalie-pun tersenyum tipis pada lelaki itu.

“Nathalie, saya cuma mau ngucapin terima kasih sudah mau membantu.” Ucap wanita paruh baya itu lirih. Tak ada secuil senyum di bibirnya dan masih saja angkuh seperti biasanya.

“Iya tante. Saya ikhlas membantu tante. Dan saya tidak mengharapkan imbalan apapun. Tante kembali pulih dan sehat aja sudah membuat saya tenang.” Kata Nathalie pelan sembari menetralkan nafasnya.

“Sekarang saya tidak melarang kamu dan Jeremy saling berhubungan, tetapi bukan berarti saya memberi restu pada kalian.”

Nathalie terdiam. Ia tak bisa berkata-kata, bahkan ia memalingkan pandangannya dan menatap langit lewat jendela. Ia mencoba memahami kalimat yang di ucapkan mama Jeremy.

“Kamu boleh keluar. Bilang sama Jeremy, mama mau bicara sama dia.” Ucap wanita paruh baya itu memecah lamunan Nathalie.

“Baik tante, terima kasih. Semoga tante cepat pulih dan sehat.” Ucap Nathalie sembari berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

Nathalie meninggalkan ruangan itu lalu menghampiri Jeremy yang sedang duduk di bangku sembari memainkan ponselnya. Wanita itu duduk di sebelahnya kemudian menatap Jeremy dan keduanya saling melempar pandangan.

“Gimana mama?” Tanya Jeremy sembari mengusap telapak tangan Nathalie.

“Mama bilang terima kasih ke aku karena udah bantuin. Mama baik kok, gak marah atau apa.” Jelas Nathalie. Lelaki di sebelahnya hanya mengangguk saja.

“Oya, kamu di suruh masuk. Mama mau ngomong sama kamu Jer.” Lanjut Nathalie.

“Oke. Kamu tunggu disini ya?” Kata Jeremy, lalu berdiri dan masuk ke ruang rawat inap. Wanita itu hanya mengangguk pelan sembari memandang Jeremy yang hendak menemui mamanya.

Jeremy masuk ke ruangan dan memandangi sang mama yang masih terbaring di atas ranjang. Ia merasa beruntung kala itu Nathalie yang pertama menyelamatkan nyawa mama-nya. Lelaki itu kemudian duduk di sebelah ranjang sembari menggenggam tangan sang mama.

“Apa ma? Katanya mau ngomong sama aku?” Tanya Jeremy.

“Kamu sama Helena gimana?”

“Maksud mama?” Tanya Jeremy sekali lagi untuk memperjelas.

“Hubungan kalian gimana? Udah siap menikah?”

“Gak gimana-gimana ma. Lagian aku sama Helena gak saling suka. Kalau nanti kami nikah juga karena keinginan mama, bukan aku.” Ucap Jeremy. Ia tersenyum tipis untuk meyakinkan sang mama bahwa ia baik-baik saja saat ini bahkan hubungannya dengan Helena.

“Kalau sama Nathalie?” Tanya wanita itu.

“Sampai kapanpun aku tetap sayang sama Nathalie ma. Walaupun mama gak pernah kasih restu bahkan menentang hubungan kami. Aku cuma pengen mama bahagia dengan semua keputusan mama, sekalipun aku gak bahagia ma..”

Keduanya lalu terdiam. Sang mama yang menatap wajah anak lelakinya. Sedangkan Jeremy masih mencoba untuk tersenyum di hadapan mamanya sembari mengusap-usap pelan telapak tangannya.

“Jeremy..”

“Ya ma?”

“Sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Kamu mau berhubungan dengan siapapun mama sudah tidak melarang, bahkan Nathalie sekalipun. Tapi ingat, mulai sekarang mama sudah lepas tangan. Mama tidak akan membantu apapun termasuk urusan uang dan perusahaan.”

“Kamu berani melangkah berarti berani mengambil resiko. Paham?” Lanjut wanita itu.

“Paham ma.” Jawab Jeremy dengan sebutan senyum penuh arti.

“Jadi laki-laki harus punya tanggung jawab.”

“Iya ma, aku gak akan ngecewain mama sama papa.” Ujarnya. Tangannya masih menggenggam erat telapak tangan sang mama.

“Ya udah sana, mama mau istirahat.” Ucap mama Jeremy dengan wajah datar.

“Ma, terima kasih banyak udah ngasih kepercayaan buat aku.” Kata Jeremy sembari mengecup tangan dan kening mamanya sebelum meninggalkan ruangan.

Setelah anak laki-laki nya keluar ruangan dan menutup pintu dengan pelan, wanita itu tersenyum tipis sembari memandangi langit biru lewat jendela.