Trapped
For long au: Obsession
Setelah menerima pesan dari Jovan, wanita cantik bernama Nathalie itu nampak gelisah. Jelas saja, bosnya sendiri memergoki dirinya tengah melakukan adegan panas bersama kekasihnya. Malam itu ia lupa menutup gordyn sehingga orang yang berada di luar bisa melihat isi dalam apartemen miliknya. Terlebih, Jovan sekarang pindah di gedung apartemen yang lebih dekat dengannya, unit-nya pun berhadapan .
Pagi ini Nathalie benar-benar bangun lebih awal dari biasanya tetapi bisa saja ia terlambat ke kantor karena keteledorannya sendiri. Semalam ia lupa men-charge ponselnya, hingga saat ini ponselnya dalam keadaan mati. Ia harus mengisi daya terlebih dahulu sebelum menggunakan untuk memesan taksi online, coba saja kalau mobilnya tidak masuk bengkel ia tak akan serepot ini.
Jika Jovan meminta untuk datang satu jam lebih awal, seharusnya Nathalie sudah berada di kantor dari pukul 07:00 . Nyatanya, pukul 07:30 ia baru saja tiba di kantor. Wanita berambut panjang itu berlari kecil memasuki gedung, kantor masih sepi hanya terlihat beberapa OB yang sibuk dengan pekerjaannya.
Ia kemudian menaiki lift menuju lantai 4 , bergerak secepat mungkin untuk menemui Jovan di ruangannya. Nathalie mengetuk pintu dan membukanya perlahan, ia memberanikan diri masuk keruangan bosnya dengan menenteng sepatu high heels di tangan kirinya.
Jovan saat itu sedang berdiri di depan jendela kaca yang cukup lebar, menatap ramainya jalanan di bawah sana. Mendengar pintunya terbuka, ia menatap setiap gerak gerik sekretarisnya itu.
“Ma-maaf pak, saya terlambat..”
“Kamu tau telat berapa menit?”
“Maaf pak, tadi malam lupa gak charge hp.”
“Banyak alasan kamu, mana berkas yang harus saya tanda tangani?”
Belum selesai menjelaskan Jovan sudah menyambar kalimat yang diucapkan Nathalie. Wanita itu kemudian berjalan kearah meja kerja Jovan dan mencari berkas yang diminta oleh bosnya.
Pandangan lelaki berperawakan tinggi itu tertuju pada tubuh sekretarisnya yang benar-benar sangat menggoda ia mengenakan rok pendek diatas lutut dan blouse putih model V neck dengan aksen kancing di bagian depan . Jika Nathalie sedikit menunduk saja, sudah jelas gundukan payudaranya yang sintal itu akan terekspos.
Jovan dengan tatapan nakal menghampiri sekretarisnya, ia berdiri tepat di belakang tubuh Nathalie. Kedua tangannya bertumpu pada meja, mengunci tubuh wanita itu agar tak bisa bergerak dan membisikkan kalimat yang membuatnya merinding .
“Nath ... Semalam enak?”
Deg! Jantung Nathalie seperti mau lepas.
“Maksud bapak?”
“Pak, bisa gak kalau Bapak agak munduran sedikit.” Lanjut Nathalie.
Tetapi bos-nya itu tak mempedulikan apa yang di katakan Nathalie. Ia justru semakin menempelkan tubuhnya.
“Nathalie .. kamu tau gak? Saya suka sama kamu dari pertama kali masuk kerja .” Ucap lelaki itu, ia perlahan membalikkan tubuh Nathalie agar saling berhadapan. Nathalie tak menjawab, yang dipikirkan dalam otaknya hanya ingin pergi dari ruangan itu secepat mungkin.
“Tapi pak.....”
Kalimat yang diucapkan terputus setelah Jovan mencium bibirnya. Wanita itu mendorong tubuh bos-nya agar terlepas dari ciumannya. Keduanya saling melempar pandangan lalu Jovan kembali melumat bibir sekretarisnya.
Lumatan demi lumatan makin lama semakin membuncah dan kasar, tangan nakal Jovan sudah bergerilya disana. Ia meraba payudara sekretarisnya dari luar, sedangkan kedua tangan Nathalie bertumpu pada meja di belakangnya. Jovan lalu mengangkat tubuh sekretarisnya dan mendudukkan diatas meja kerjanya . Ia merobek blouse yang di kenakan Nathalie dengan sedikit kasar .
“Pak ..!!”
“Sssttt ....”
Nathalie sempat menahan kedua tangan Jovan yang merusak baju yang dikenakannya tetapi kalah cepat dengan kekuatan tangan bos-nya yang kekar.
Jovan kembali menghujani bibir sekretarisnya itu dengan ciuman penuh nafsu, lalu ciuman itu berpindah ke telinga, leher sesekali menyesapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan. Tangan Jovan tak tinggal diam, bermain-main dengan payudara perempuan di hadapannya. Ia meremas dan memutar puting Nathalie sampai akhirnya gadis berparas ayu itu pasrah dengan aktivitas penuh dosa ini.
“Ngghhh....” Lenguhan itu keluar dari bibir Nathalie. Ia sungguh tak bisa menahan birahinya ketika seorang Jovan membuatnya mabuk kepayang.
Tangan nakal bosnya terus bergerilya, menjamah setiap lekuk tubuh Nathalie sampai pada akhirnya menyibak rok mini berwarna hitam itu dan jemarinya menerobos masuk ke sela paha sang sekretaris.
“Pak! Stop!” Ucap Nathalie dengan meremas tangan Jovan yg sudah hampir menyentuh area kewanitaannya.
“Why? I like it. I want to play with you.”
“Pak, saya udah punya pacar.. Jangan seperti ini.”
“Not my problem.” Timpal Jovan dengan senyum seringai.
“Nathalie.. saya cuma mau kamu. Saya gak peduli kamu udah punya pacar.”
Jovan seperti tak punya dosa bahkan ia tak memikirkan bagaimana perasaan Nathalie jika ia bersikap egois. Ia tetap melanjutkan kegiatan yang seharusnya tak di lakukan seorang Bos terhadap sekretarisnya.
Jovan mendorong tengkuk Nathalie kearahnya dan kembali melumat bibir berwarna merah merekah itu, kini lumatan itu begitu lembut seperti tanpa paksaan dan Nathalie mulai luluh dan terbawa suasana. Nathalie membalas lumatan itu, tangannya melingkar di leher dan lebih merekatkan tubuhnya.
Jemari Jovan akhirnya berhasil menerobos masuk di sela paha Nathalie, dan mengusap vagina yang masih terbungkus oleh celana dalam.
“Udah basah ya Nath?”
Pertanyaan itu membuat wajah Nathalie berubah menjadi merah padam, ia sungguh malu tetapi sudah terlanjur terjadi. Jovan tersenyum miring, dalam hatinya mungkin bersorak karena berhasil membuat sekretarisnya luluh dan pasrah.
Lelaki bertubuh tinggi itu merobek celana dalam yang dikenakan Nathalie, dan dengan mudah menjamah lubang surgawi di bawah sana. Tanpa berpikir panjang, Jovan memutar klitorisnya dengan cepat dan sedikit kasar. Nathalie sontak kaget .
“Aaahhh....”
Desahannya cukup keras memenuhi seluruh ruangan, dengan cepat Jovan membungkam bibir Nathalie dengan telapak tangan kirinya . Wanita itu sungguh tak tahan dengan kenikmatan permainan di bawah sana.
Setelah puas bermain dengan klitorisnya, dua jemari Jovan dengan tanpa aba-aba melesatkan kedalam lubang vagina sekretarisnya. Ia keluar masukkan jarinya dengan tempo yang agak cepat. Bibirnya sibuk dengan dua gundukan payudara yang menyembul. Tangan kirinya lalu bergerak melepas kaitan bra berwarna hitam itu.
Di depan mata Jovan sudah ada pemandangan indah yang membuatnya semakin tak sabar ingin memainkannya. Ia meraup payudara sintal itu, menyesapnya seperti bayi yang kelaparan. Lidahnya bermain-main dengan puting Nathalie yang sudah menegang.
“Ngghhh... Ahhh...” Lenguh Nathalie.
“You like it, huh? Keluain aja jangan ditahan.” Ucap Jovan dengan tatapan tajam kearah Nathalie. Wajah sekretarisnya itu semakin terlihat cantik dan menggoda jika terlihat keenakan dan berantakan seperti saat ini .
“Aaahh... Pak, s-saya mau ke-keluaarr ...”
“Keluarin aja Nathalie ...” Lanjut Jovan. Ia terus mengocok lubang kenikmatan itu, bahkan menambah temponya menjadi lebih cepat. Payudara Nathalie terus dimainkan, memutar dan memilinnya hingga membuat wanita itu melengkungkan tubuhnya . Kepalanya mendongak keatas, tubuh dan kakinya mulai bergetar tanda ia hampir sampai pada pelepasannya .
“Aaahhhh...” Desahannya panjang setelah mencapai klimaksnya. Jovan lalu bergerak turun, mensejajarkan wajahnya dengan vagina Nathalie lalu menjilati dan menyesap semua cairan yang keluar dari lubangnya .
“Aahhhh ....” Desahnya lagi. Bosnya benar-benar membuatnya lemas dan tak berdaya. Setelah selesai semua aktivitas dibawah sana, Jovan kemudian berdiri menatap lekat kedua bola mata Nathalie. Mengusap lembut rambutnya dan mencium bibirnya sekilas .
“Bapak sudah gila ya? Baju saya rusak, saya gak bisa kerja kalau kaya gini Pak ..” ucap Nathalie kesal dengan kelakuan Bosnya.
“Bersih-bersih dulu sana, saya udah siapkan baju buat kamu.”
Nathalie dengan muka yang bersungut memunguti pakaian yang tercecer di lantai, lalu berjalan ke toilet di dalam ruang kerja Jovan sembari menenteng satu paper bag yang di berikan Jovan berisi baju kerja baru, lengkap dengan bra dan celana dalam .
Nathalie seperti terjebak dalam situasi ini . Satu sisi ia harus bekerja lebih keras, dan menabung untuk kelangsungan hidupnya. Serta memantapkan diri untuk menjadi calon istri Jeremy itu tak mudah. Kekasihnya seorang anak tunggal yang cukup kaya sedangkan ia hanya perempuan dari kalangan biasa yang sudah tak mempunyai orang tua .
Akan tetapi, hidup dan perjuangannya harus tetap berjalan.