You're My Favorite Girl
Part. 5 Mature Content 🔞 Cool Blooded
Suatu hari Clara mengunjungi Cafe Marrakech. Rasa rindunya pada suasana tempat berkumpul dan bercengkrama, serta di suguhkan aroma khas kopi favoritnya. Cuaca dingin dan jaket bulu sebagai penghangat, juga segelas coffee latte sangat nikmat.
Clara meninggalkan Cafe Marrakech ketika mulai larut malam. Perjalanan sekitar tiga puluh menit ia tempuh untuk sampai di rumahnya. Malam itu cuaca lebih dingin dari biasanya, angin berdesir kencang membuat bulu kuduk merinding seketika. Wanita itu berlari kecil memasuki rumah, lalu menaiki tangga menuju kamar utama.
Dua bola matanya menelisik ke seluruh ruang kamarnya namun tak mendapati Dave di sana. Sudah lebih dari tiga malam sosok vampir tampan itu tidak menampakkan diri, Clara mulai gelisah, bahkan sempat berpikir Dave meninggalkan dirinya tanpa pamit. Ia kesal, seolah-olah menyalahkan Dave. “Kalau emang udah gak mau ketemu gue, mending jujur deh. Bukan tiba-tiba ilang kaya gini. Dasar vampir!”—gumamnya dalam hati.
Clara melempar handbag, jaket juga ponsel ke lantai. Wanita itu berjalan ke arah kamar mandi sembari melucuti pakaiannya. Clara berdiri tepat di bawah shower kemudian memutar tuas agar air di dalamnya mengalir dan membasahi tubuhnya. Wanita itu menengadah, kedua matanya terpejam sembari menikmati air hangat yang menyentuh tubuhnya bak pijatan-pijatan lembut hingga membuat relax.
Tiba-tiba Clara merasakan sesuatu menyentuh kulitnya, begitu dingin namun lembut. Sentuhan yang berawal dari leher kemudian berpindah ke bahu dan turun pada lengan, membuat dirinya bergidik merinding.
fiuhhh....
Clara merasakan sesuatu meniup tepat di belakang telinganya. Sontak ia mengerjapkan mata dan mengusap wajahnya berkali-kali. Ia mengamati sekeliling, mencari sosok yang mengganggu dirinya. “D—Dave?” Batin Clara, penasaran. Wanita itu terpaku dalam diam hingga beberapa menit.
“Ck.. Gue berhalusinasi.” Decak Clara.
Wanita itu memejamkan mata dan menengadah di bawah shower. Tanpa di sangka, ia merasakan sentuhan yang lebih intens dari sebelumnya. Wanita itu merasakan lehernya di kecup oleh seseorang. Namun siapa? Malam itu Clara hanya sendiri, Dave tak ada di sana. Atau memang kejadian beberapa detik yang lalu adalah ulah Dave, tetapi makhluk vampir itu sengaja tidak menampakkan diri.
“Dave!”
Detik berikutnya, bahu sebelah kanan wanita itu serasa di kecup oleh sesuatu yang tak bisa di lihat oleh mata manusia. Beberapa detik setelahnya, sentuhan lembut itu kian terasa. Membelai bahu hingga pinggul Clara hingga membuatnya benar-benar merinding.
“Dave stop!“
“Dave! Keluar sekarang!” Ucap Clara setengah berteriak.
Tirai putih di dalam kamar mandi itu tiba-tiba bergerak seakan tertiup angin, suasana yang tak asing muncul dan menyapa Clara malam itu. Desiran angin menambah suasana menjadi lebih mencekam. Kedua matanya sibuk menelisik ke setiap sudut kamar mandi, mencari sosok yang sedari tadi menggodanya. Ia berjalan hendak keluar dari sana, meraih handuk putih yang tergantung. Tiba-tiba sesuatu menyentuh tubuhnya, sentuhan tangan. Ya tangan yang secepat kilat menyambar pinggangnya, melingkar dan menahan tubuh Clara agar tak pergi menjauh.
“D—Dave...” Bisiknya lirih.
Clara membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan Dave. Vampir berwajah tampan itu melahap bibir ranum wanita yang tengah telanjang. Melumat dengan penuh nafsu, tangannya mengusap lembut pipi Clara.
Wanita itu merasakan sensasi berbeda. Dave bukan manusia, tetapi ia mempunyai nafsu seperti manusia pada umumnya bahkan berkali-kali lipat lebih kuat. Seluruh tubuh Clara bergidik merinding, namun aliran darahnya mengalir begitu cepat. Tak kurang dari dua detik, tubuh Clara sudah berpindah tempat di atas ranjang besar miliknya.
Dave mengunci wanita itu di bawah tubuhnya, sedangkan Clara masih terpaku oleh sosok tampan di hadapannya. Ia tidak berontak, juga tidak menolak. Clara benar-benar sudah jatuh hati dengan sosok vampir yang mampu mengisi kesendiriannya.
Sudah puas menatap wajah cantik Clara, Dave-pun kembali melumat bibir wanita itu. Lidahnya bertemu dengan milik Clara, saling bertukar saliva. Decapan dua bibir itu sangat jelas terdengar di iringi suara lenguhan dan desahan lirih kala hasrat Clara mulai membuncah.
Tangan dingin Dave mulai menyentuh dan menjamah tiap jengkal tubuh Clara yang mulai memanas. Detak jantung dan deru nafasnya kian cepat, tubuhnya mulai menggeliat resah. Ini bukan yang pertama bagi Clara, namun bercinta dengan sosok vampir adalah hal tak masuk akal yang pertama kali ia lakukan.
“A—ahh.. Davee..” Lenguh wanita itu ketika lidahnya menyusuri dada sintal dan perut milik Clara. Dave melumat dua payudara wanita itu secara bergantian, meremas dan memilin putingnya hingga membuat Clara semakin resah.
Dave sudah membuatnya gila, sosok vampir itu sudah membuatnya hilang akal. Ruang kamar yang temaram, tirai di balik balkon yang terus bergerak karena hembusan angin malam menjadi saksi bisu penyatuan dua sejoli itu.
Dalam satu kedipan mata, Dave melucuti pakaiannya dengan cepat dan kembali menindih tubuh Clara. Vampir tampan itu menatap sangat lekat wajah Clara, mengagumi sosok manusia cantik yang sudah membuatnya jatuh cinta. Meski tau mereka tak akan pernah bisa bersatu, Dave sama sekali tak peduli. Ia hanya ingin menghabiskan sisa waktunya dengan Clara.
“You're my favorite girl, Clara.” Bisik Dave.
Milik Clara yang sudah sangat basah karena aktivitas panasnya beberapa menit yang lalu, mempermudah Dave untuk menyatukan miliknya pada Clara. Satu kali hentakan yang cukup keras membuat wanita itu mendesah kencang.
“Aaahhh....” Dan bulir-bulir air mata wanita itu menetes. Rasa sakit di bawah sana akibat belum terbiasa dengan milik Dave. Tangannya meremas lengan lelaki itu saat kepunyaannya di hujam dengan cepat. Berkali-kali milik Dave menembus dan menusuk g-spot miliknya hingga membuat Clara lebih cepat menjemput pelepasannya.
“D—Dave a—ku..” Tak sempat melanjutkan ucapannya, Clara memejamkan kedua matanya kala di bawah sana mulai terasa sesak dan berkedut. Temponya semakin cepat, tak ada ampun, tak ada lelah. Dave sibuk menghujam milik wanita itu sembari menatap wajah Clara yang sedang menikmati setiap detail permainannya. Hingga keduanya sama-sama mencapai klimaks.
Desahan dan lenguhan cukup keras bersahutan saat dua sejoli itu sampai pada pelepasannya. Deru nafas Clara tak beraturan, keringat mengalir membasahi wajah cantiknya dan tubuhnya terasa lemas.
Dave berkali-kali mengecup kening dan bibir Clara. Senyumnya sangat hangat dan lembut, Clara sangat menyukainya.
“Dave, jangan pergi.” Ucap Clara lirih sembari memegangi tangan sang vampir.
“Iya Ra, malam ini aku temenin kamu. Tapi besok pagi aku pergi sebelum matahari terbit.” Jelas Dave. Jari-jari lembutnya mengusap pipi wanita itu dan mengecup singkat bibirnya.
Dave memposisikan dirinya di sebelah Clara, memeluk tubuh mungil wanita itu sangat erat seakan tak ingin melepaskannya. Dan Clara meringkuk, mencari kehangatan di dalam dekapan Dave juga di bawah selimut tebalnya hingga menjemput mimpi.