Don't Go
Part. 6 Mature content 🔞 Cold Blooded
Genap satu Minggu, Dave tak menampakkan diri. Sedangkan Clara tidak tau bagaimana caranya berkomunikasi dengan sosok vampir itu. Dave tidak menggunakan ponsel, bahkan akhir-akhir ini vampir itu singgah tak menentu. Tanpa Dave hari yang di lalui wanita itu terasa sangat sepi, hanya gelisah bahkan Clara tak pernah bisa tidur di malam hari. Ia terus menunggu dan menunggu sosok vampir itu.
Masih seperti malam-malam sebelumnya, ruang kamar yang terasa sunyi. Hanya suara desiran angin yang menerpa tirai membuat gesekan hingga menimbulkan bunyi yang sedikit mengusik telinga. Clara masih duduk dan bersandar pada kursi, jarinya mengetuk-ngetuk meja kerja beberapa kali. Tatapan matanya tak lepas dari balkon yang tak berpenghuni, pintunya terbuka lebar dan berharap Dave akan datang padanya. Angin malam terus berhembus sangat dingin hingga menembus sampai ke tulang. Clara masih terjaga dalam lamunan dan tiba-tiba buyar ketika seekor burung gagak yang mengepakkan sayap beberapa kali kemudian hinggap di ujung balkon. “Bukan Dave.”—batin Clara.
Wanita itu menghembuskan nafasnya sedikit kasar, lalu beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke arah balkon hendak menutup pintu. Angin yang berhembus sangat kencang serta seekor gagak yang membuat tubuhnya bergidik merinding. Clara di buat kaget oleh sosok yang tiba-tiba memegang tangannya saat hendak menarik gagang pintu.
“Dave!”
Wanita itu sontak menabrak tubuh Dave dan memeluknya sangat erat, Clara sangat rindu.
“Kamu kemana aja?” Tanya Clara sembari membenamkan wajahnya di balik dada bidang milik Dave. Lelaki itu tidak menjawab, ia terus mengusap punggung Clara guna menenangkan wanita itu. Dave memandangi wajah cantik wanita yang berada di hadapannya, lalu tersenyum tipis.
Dave membawa tubuh Clara duduk di tepi ranjang, lelaki itu mengusap telapak tantan Clara dan menggenggam erat.
“Clara, maafin aku.”
“Maaf untuk apa?” Tanya Clara penasaran. Selama mereka bersama, wanita itu merasa Dave tidak pernah melakukan kesalahan apapun.
“Aku harus pergi...” Ucap Dave lirih.
Deg! Jantung wanita itu seakan lepas. Ia bahkan tak bisa berkata-kata, hanya berusaha menahan air mata yang hampir tumpah.
“Kenapa pergi?” Tanya Clara, suara yang keluar dari bibirnya bergetar ketika menahan tangis.
“Suatu hari nanti, aku bakalan kembali ke sini. Jangan sedih ya?”
“Ya tapi apa alasannya kamu pergi?” Desak wanita itu, tangannya menggenggam erat telapak tangan Dave seakan tak ingin di tinggalkan.
“Aku gak bisa jelasin.”
“Kamu jahat, Dave! Hiks..”
Air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya tumpah membasahi pipi Clara. Hatinya sakit, pertemuan dengan Dave begitu singkat dan sesungguhnya ia tidak ingin kehilangan Dave.
“Clara, aku boleh cium kamu? Untuk yang terakhir.” Pinta Dave, dan wanita itu mengangguk tanda setuju atas permintaan Dave.
Vampir tampan itu mengikis jarak di antara keduanya. Ia raih tengkuk Clara lalu mendaratkan ciuman yang lembut di bibirnya. Perlahan ciuman itu menjadi lumatan yang begitu nikmat hingga decapan penyatuan bibir keduanya terdengar jelas.
Dua tangan Dave yang berada di belakang tubuh Clara saat memeluknya tiba-tiba merobek gaun tidur yang di kenakan wanita itu dan melucutinya. Ia meremas perlahan payudara Clara tanpa melepas ciumannya.
“Nghh...” Clara melenguh pelan saat lelaki itu bermain-main dengan payudaranya secara bergantian membuat libidonya naik seketika. Dave perlahan menidurkan tubuh Clara dan menindihnya, ia tatap wajah cantik wanita yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Dave mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada kening, mata, pipi, dan bibir Clara. Ia sangat mengagumi sosok manusia yang pertama kali bisa meluluhkan hatinya.
Dave kembali mencium bibir Clara dengan sangat lembut, tangannya meremas perlahan payudara wanita itu, memainkan dengan lembut.
Perlahan kaki Dave ia gunakan untuk membuka lebar dua paha wanita itu dan ia gesekkan batang miliknya pada bibir vagina Clara sebelum akhirnya memasukkan dengan penuh ke dalam sana. Dave memandangi wajah wanita yang berada di bawah kuasanya, dan tersenyum tipis saat Clara mendesah.
Dave menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang, ia tidak ingin menyakiti Clara karena kekuatannya tidak sepadan dengan manusia. Tangan wanita itu meremas lengan Dave saat lelaki itu menghentakkan pinggulnya hingga batang penisnya menumbuk g-spot milik Clara. Ia memejamkan matanya dan terus mendesah karena nikmat yang di ciptakan oleh Dave membuat dirinya lebih cepat mencapai pelepasannya.
“D—Dave, faster please...” Lenguhnya di sela penyatuan mereka. Sosok vampir itu kemudian mempercepat tempo di bawah sana.
“Aaaahhh... Daveeehh...” Desah wanita itu sembari memejamkan mata dan tubuhnya mulai melengkung.
Dave mencium bibir Clara guna mengurangi rasa sakit akibat gerakan pinggulnya yang cepat, dan mengusap pucuk kepala wanita itu. Sekali hentakan keras, Dave dan Clara mencapai klimaks secara bersamaan.
Dave tidak pernah bosan memandang wajah cantik wanita itu. Ia kecup sekali lagi kening dan bibirnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Clara.
Sosok vampir tampan itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengenakan kembali pakaiannya. Ia menoleh ke arah wanita yang masih terduduk di atas ranjang, Dave-pun menghampirinya. Mengusap surai hitam wanitanya lalu mengusap lembut pipinya. Clara memegangi tangan Dave seakan tak rela di tinggalkan. Dalam benak wanita itu sebenarnya berontak, ia sama sekali tidak ingin lepas dari Dave. Namun Dave bukan sosok nyata di dunia, mereka berbeda, mereka tidak akan pernah bisa bersatu.
“Aku pergi ya? Aku tidak bisa menentukan kapan akan kembali, tapi jangan pernah meninggalkan rumah ini.”
“Dave...”
“Clara, kalau satu tahun kemudian aku tidak kembali ke rumah ini, berarti kita tidak akan pernah bertemu lagi.”
“Dave, please don't go... Hiks...” Tangis wanita itu pecah lagi, hatinya sakit dan kecewa. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan Dave.
Dave melepaskan pelukan diantara keduanya, lalu berjalan perlahan keluar dari kamar Clara. Wanita itu hanya bisa menatap kepergian Dave, dan hanya air mata yang menemaninya sepanjang malam.