3 am.
“Jer, ini jam tiga pagi” Ucap Nathalie sembari melepaskan pelukan.
“Terus kenapa? Aku masih mau di sini, peluk kamu.” Timpal Jeremy.
“Kamu gak ngantuk?”
“Enggak, emang kamu ngantuk?” Tanya Jeremy dan wanita itu menggelengkan kepalanya. Tanpa aba-aba Jeremy kembali meraih tengkuk Nathalie dan melumat bibir manis wanitanya yang selalu membuatnya candu. Tangan Jeremy perlahan menelusup masuk ke dalam kaos tipis yang di kenakan Nathalie, meraba punggung wanita itu dan melepaskan pengait bra dengan sekali hentak.
Jeremy melepaskan ciuman di antara keduanya, sembari melepaskan kaos serta bra dari tubuh Nathalie. Wanita itu mengatur nafas dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Detik berikutnya Jeremy kembali mencium bibir Nathalie sedikit gusar, tangannya tak tinggal diam. Meremas perlahan gundukan payudara milik wanitanya, sesekali memilin putingnya yang sudah sangat tegang.
“Nghhh...” Lenguhan kecil lolos di sela pagutan itu. Nathalie mendongakkan kepala dan memejamkan matanya saat Jeremy membuatnya terangsang. Lelaki itu seperti di beri jalan untuk menyusuri leher jenjang wanitanya, mengecup dan memberikan tanda kemerahan di sana.
Bibir Jeremy menelusuri tiap lekuk tubuh Nathalie dan berhenti di atas dua gundukan payudara yang sudah lama tak di mainkan oleh lelaki itu. Jeremy meraup dan melumat dengan rakus dua payudara itu secara bergantian, ia tak membiarkan satu jengkal-pun tubuh Nathalie lepas dari tangannya.
Tubuh wanita itu menggeliat resah, aliran darahnya terasa mengalir lebih cepat. Tangannya ia gunakan untuk meremas rambut Jeremy kala lelaki itu menggodanya dengan menggigit kecil putingnya.
“A-ahh.. Jer,” Lenguhnya. Jeremy memainkan putingnya dengan lidah, memutar dan menyesapnya. Tangan kanan lelaki itu kemudian perlahan meraba bagian bawah milik Nathalie. Ia sentuh titik sensitif wanitanya yang sudah basah akibat ulahnya.
“Nath, lanjut enggak? Kamu udah basah.” Tanya Jeremy sembari menggodanya, jarinya memutar klitoris milik Nathalie hingga membuatnya meloloskan desahannya.
“Ahh.. Jer, you teasing me, tapi tanya lanjut apa enggak?” Ucap Nathalie mengernyitkan dahinya. Lelaki itu hanya terkekeh lalu mendaratkan satu ciuman di bibir Nathalie.
“Enggak sayang, kita lanjut ya?” Pinta Jeremy sembari tersenyum dan di balas dengan anggukan kepala oleh wanita itu, tanda setuju. Jeremy melanjutkan kegiatan yang sudah lama tak di lakukannya dengan Nathalie. Lelaki itu sangat merindukan wanita yang saat ini berada di bawah kuasanya.
Tanpa aba-aba Jeremy melesatkan dua jari ke dalam liang milik Nathalie. Mengoyak lubang di bawah sana dengan tempo sedang. Bibirnya meraup kembali payudara yang terlihat kosong, sedangkan Nathalie meremas selimut dan melengkungkan tubuhnya kala dua titik sensitifnya di mainkan oleh Jeremy.
“Jerr.. A-ahh...”
“Enak sayang? Kamu suka?” Tanya Jeremy, beberapa kali ia mendaratkan ciuman untuk menyalurkan rasa tenang pada wanitanya.
“Nghhh.. Aah...”
Nathalie terus mengeluarkan desahan-desahan hingga memenuhi seisi ruang kamarnya.
“Kamu udah basah banget sayang, mau aku cepetin?” Tawar Jeremy. Nathalie hanya mengangguk saja, ketika ia merasa hendak menjemput pelepasannya. Lelaki itu kemudian mempercepat tempo di bawah sana, mengoyak lebih keras liang kenikmatan milik Nathalie dan detik berikutnya wanita itu mencapai orgasm-nya. Jeremy mengecup beberapa kali leher Nathalie ketika wanita itu mendesah kencang, tangan Nathalie melingkar di perpotongan leher Jeremy sembari meremas rambut lelaki itu.
Jeremy beranjak dari sofa, menggendong tubuh Nathalie dan membawanya ke atas ranjang besar di belakangnya. Ia melepas pakaian yang di kenakan hingga kini lelaki itu dalam keadaan telanjang. Jeremy naik ke atas ranjang dan mengunci tubuh Nathalie yang berada di bawahnya. Dua sejoli itu saling menatap lekat wajah masing-masing, tersirat banyak kerinduan disana. Jeremy tersenyum pada Nathalie dan mengecup singkat bibirnya yang ranum, sebelum akhirnya ia melebarkan paha wanita itu menggunakan kakinya. Jeremy menggesekkan ujung penisnya pada bibir vagina milik Nathalie dan tanpa aba-aba melesatkan batang yang sudah menegang dan keras itu ke dalam liang milik wanitanya.
“Aaahh...” Desahan Nathalie terdengar lebih keras ketika batang milik Jeremy menembus hingga ujungnya menyentuh g-spot. Lelaki itu memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang agar tubuh Nathalie bisa menyesuaikan ritmenya. Jeremy kembali melumat bibir wanitanya guna menyalurkan rasa nikmat lewat penyatuan tubuh mereka. Keduanya kini merasa terbang ke langit ke tujuh, kala tumbukan demi tumbukan di bawah sana menciptakan kenikmatan yang luar biasa. Saat liang milik Nathalie mulai mengetat dan berkedut, Jeremy tau pasti wanitanya hendak menjemput pelepasannya lagi.
“Cum, sayang? Aku cepetin ya? Sini peluk.” Ujarnya. Jeremy-pun mempercepat gerakan di bawah sana. Ia menumbuk milik Nathalie lebih cepat dan keras, sesekali hentakkan batang penisnya hingga menabrak titik g-spot milik wanita itu. Hentakan yang terakhir keduanya sama-sama mencapai titik orgasm. Sperma dan cairan milik Nathalie menyatu di dalam sana hingga penuh dan mengalir di sela pahanya. Jeremy mencium kening Nathalie berkali-kali, dan mengecup bibirnya singkat.
“Thank you sayang, i love you...”
“Love you too, Jer...” Balas Nathalie. Dan sekali lagi Jeremy mengecup bibir Nathalie hingga beberapa detik. Lelaki itu kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Nathalie dan memeluk erat tubuh mungil wanitanya seakan tak mau melepaskan.
“Jer,”
“Hm?” Jeremy menempelkan wajahnya pada ceruk leher Nathalie.
“Kenapa di keluarin di dalem?” Tanya wanita itu sembari menatap langit-langit dalam kamarnya.
“Kita kan mau nikah Nath.” Jawab Jeremy tanpa menatap wajah Nathalie. Wanita itu sontak kaget dan melepaskan pelukannya.
“Ngaco kamu. Belum tentu mama bener-bener ngasih restu.”
“Nath,—”
“Jer, kalau aku sampai hamil lagi dan mama tetep gak kasih restu. Aku mau pergi dari sini, jangan harap kamu bisa nemuin aku!” Cecar Nathalie dengan wajah sembab, lagi dan lagi ia menahan air mata yang hampir mengucur membasahi pipinya. Hatinya masih sakit saat mengingat kenangan pahit kala itu, titik terendah dalam hidupnya.
“Nath, aku pastiin kita nikah secepatnya. Bulan depan gimana?”
“Mama udah lepas tangan Nath, mama udah gak ngatur hidupku lagi. Sekarang aku bebas mau nikah sama siapapun. Dan aku mau nikah sama kamu.” Jelas lelaki itu sembari mengusap pucuk kepala Nathalie. Sedangkan wanita yang tengah mematung itu tak memberikan respon apapun. Nathalie masih setengah tak percaya.
“Sayang, aku janji. Kita nikah secepatnya, oke? Sekarang kamu tidur, ini udah hampir pagi.”
Kalimat yang di ucapkan lelaki itu membuyarkan lamunannya.
“Jer, tapi aku kerja. Mending aku gak usah tidur, takut gabisa bangun.” Ucap wanita itu kemudian bangun dari posisi tidurnya. Jeremy menarik lengan Nathalie dan membawanya ke dalam pelukan, mengusap punggungnya sangat lembut menyalurkan rasa nyaman untuk wanitanya.
“Nath, gak usah kerja dulu. Kamu gak malu di lehermu banyak merah-merahnya?” Timpal Jeremy. Wanita itu membelalakkan matanya dan menatap Jeremy, tajam.
“Jer! Ihh! Blouse turtle neck-ku di laundry semuaaaa..” Ucapnya sembari memukul lirih dada bidang Jeremy. Lelaki itu hanya terkekeh dan mengecup bahu Nathalie.
“Nanti aku pamitin ke Jovan. Nanti aku telepon dia agak siangan.”
“Gak usah Jer, aku aja nanti chat dia.”
“Ya udah, ayo tidur. Sini peluk.”
Jeremy merentangkan kedua tangannya lalu wanita itu-pun masuk ke dalam pelukannya. Wajahnya ia benamkan pada dada bidang Jeremy, dan lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang masih sama-sama telanjang. Dua sejoli itu mencari kehangatan di bawah selimut tebal dan pelukan yang sangat erat dan nyaman. Tak peduli cahaya matahari yang menyapa pagi itu, mereka sama sekali tidak terusik. Bahkan hangatnya sinar mentari menambah rasa nyaman, membuat enggan untuk beranjak dari tempat peraduannya.