Cuddle
Sepuluh menit kemudian setelah Marcell mengirimkan pesan pada Ara, ia tiba di apartemen. Tanpa menekan bell, ia sudah hafal dengan passcode kunci smart lock pada pintu apartemen itu. Mendengar ada suara di balik pintu, Ara berlari kecil ke kamarnya sambil menenteng laptop di tangannya. Ia harus segera menyelesaikan tugas kuliahnya malam ini.
Marcell memasuki unit apartemen Ara seperti di rumahnya sendiri, tanpa ada rasa canggung. Lelaki itu menatap sekeliling ruangan tetapi tak menemukan wanita yang ia cari. Kemudian sorot matanya tertuju pada kamar Ara yang pintunya terbuka. Ia melangkah sangat pelan sampai tak terdengar suara langkah kaki, membuka perlahan pintu kamar Ara dan memasukinya tanpa ada kata permisi .
Lelaki berparas tampan itu perlahan mendekati Ara, dan membisikkan satu kalimat tepat di telinganya hingga membuat gadis itu merinding.
“Lo ngapain Ra?”
“Apaan sih lo Cell, ngagetin aja.. ketuk pintu dulu kek, apa gimana.” Gerutu Ara.
Marcell hanya terkekeh melihat tingkah wanita di hadapannya. Ia lalu berbalik menuju tempat tidur dan merebahkannya. Di dekapnya guling, dan mencoba memposisikan tubuhnya hingga merasa nyaman. Ia memandangi tubuh sahabatnya yang masih sibuk dengan laptopnya.
“Ra...”
“Hm?”
“Minta tolong ..”
“Apaan?”
“Ambilin minum dong ..”
Ara menengok ke arah suara itu, dan melihat sosok Marcell cengar cengir sambil mengacungkan jarinya membentuk love.
“Ambil sendiri Cell, biasanya juga gimana.. gue lagi tanggung banget, tugas harus kelar malam ini.” Jelasnya, beberapa hari terakhir Ara cukup stress karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya.
“Raaaaa....”
Marcell malah merengek seperti anak kecil yang meminta mainan. Ara sedikit agak kesal melihat tingkah Marcell, tetapi ia tak bisa menolak permintaannya. Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya, pergi ke dapur untuk mengambil satu kaleng Cola di dalam kulkas. Ia sempat berpikir semoga Marcell tidak melakukan hal yang aneh padanya. Karena jika sahabatnya ini bersikap manja, biasanya dia akan meminta sesuatu.
Langkah Ara sedikit gontai memasuki kamarnya. Ia agak malas melihat kelakuan sahabatnya. Sebenarnya malam itu ia tak mau di ganggu siapapun. Dan benar saja, Ara cukup kaget dan menepuk jidatnya sendiri saat melihat Marcell duduk di kursi tempat ia mengerjakan tugasnya. Lelaki itu merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Ara dengan seutas senyum di bibirnya.
“Sini peluk.. kangen Ra ..”
Ara tak menjawab, langkah kakinya sedikit berat. Ia berjalan mendekat kearah Marcell dan meletakkan Coca-Cola diatas meja. Tangannya di tarik pelan oleh Marcell dan mengarahkan gadis itu agar duduk di pangkuannya. Ara hanya menurut saja, ia tak pernah bisa menolak apapun yang di minta oleh Marcell. Lelaki itu kemudian memeluk dan mengusap punggung Ara.
“Nah.. gini dong Ra .. Gue bisa peluk dan lo bisa ngerjain tugas.”
Ara masih diam saja, mana bisa konsentrasi kalau posisi mereka berhadapan. Yang ada malah menaikkan libidonya. Wanita itu mencoba fokus pada laptop di depannya tetapi tiba-tiba buyar seketika saat tangan Marcell menerobos masuk kedalam kaos oversize yang di kenakannya. Lelaki itu mengusap-usap punggung Ara tanpa terhalang apapun karena gadis itu tak mengenakan bra.
“Cell ...?”
“Ssssttt .... Gue tau lo stress gara-gara tugas Ra.. mau gue bikin relax? “ Bisik Marcell tepat di telinga Ara dan membuatnya semakin tidak fokus.
Sungguh usapan lembut dari tangan Marcell benar-benar menaikkan libidonya, ia mulai tidak fokus dengan tugasnya. Jarinya yang semula diatas keyboard tiba-tiba mengepal. Ia merasakan ada tangan di dalam sana yang mulai bergerak menyentuh putingnya.
Ara mengarahkan pandangan ke kedua bola mata lelaki di hadapannya. Marcell membalas tatapannya dan tersenyum. Sepersekian detik berikutnya Marcell mendorong tengkuk Ara perlahan dan mencium bibirnya. Tangan satunya masih bermain-main dengan payudara yang mulai mengeras.
“Mmpphh ....” Wanita itu menahan desahannya. Ia sedikit malu jika terlalu cepat terangsang karena sesungguhnya Ara membutuhkan Marcell pada saat seperti ini.
Ciuman itu kelamaan berubah menjadi lumatan yang sedikit kasar dan menuntut, tangan Marcell yang semula hanya meremas perlahan payudaranya kini berubah menjadi lebih kasar. Ia terus memutar-mutar putingnya yang sudah mengeras. Kedua tangan Ara mengalung di leher Marcell dan mulai menikmati setiap sentuhan sahabatnya.
Ara melepaskan pagutan keduanya, ia hampir kehabisan nafas. Dengan cepat lelaki dihadapannya itu melepas kaos yang di kenakan Ara dan membuangnya ke sembarang arah. Di depan matanya terpampang dua gundukan payudara yang siap untuk dimainkan.
Detik berikutnya Marcell mulai menciumi telinga lalu turun ke leher Ara, menjilatinya penuh nafsu dan sesekali menyesapnya. Sadar akan hal itu, Ara mendorong tubuh Marcell agar melepaskannya.
“Why? Hm ...?”
Tatapan mata Marcell sungguh membuat wanita itu menjadi lemah.
“Hansel?” Lanjut Marcell.
Ara tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan. Lalu Marcell melanjutkan aktivitasnya kembali, ia mencium bibir Ara dengan lembut. Tangannya bergerak kebawah mengusap lembut vagina yang masih tertutup celana dalam. Lalu Marcell menarik tali simpul di kanan dan kiri celana dalam milik Ara, sangat mudah melepaskan dan membuangnya begitu saja.
Jemarinya mulai meraba-raba di bawah sana. Kedua tangan Ara mengalung di leher Marcell dan mendongakkan kepalanya.
“Hhhh....” Nafasnya mulai berat.
Tanpa aba-aba lelaki itu memutar klitorisnya dengan kasar, Ara sontak kaget dan berteriak.
“AAHHH .... CELL !!”
Tangannya meremas lengan Marcell dengan keras, ia tak tahan dengan perlakuan lelaki dihadapannya. Lalu detik berikutnya Marcell melesatkan dua jarinya kedalam lubang vaginanya, mengocok dengan tempo sedang.
“Ngghhh.... ” Lenguhnya.
Marcell menatap wajah Ara yang tampak menikmati permainannya. Wajah sahabatnya itu sungguh menjadi candu bagi Marcell. Seandainya lelaki itu bisa memiliki Ara seutuhnya.
Tangan Marcell memainkan kembali dua gundukan payudara yang menyembul di hadapannya lalu mulai menjilati puting gadis itu dan memutarnya dengan lidah, sementara tangan satunya masih di bawah sana mengocok lubang kenikmatan milik Ara. Temponya di percepat hingga membuat Ara mengeluarkan desahan-desahan yang cukup keras.
“Aahhh .. Cell .. disitu te-teruss ...”
Jemari lelaki itu mengenai titik g-spot miliknya hingga ia merasa ingin mencapai orgasme.
“Cell ... A-aku mau ke-keluaarr ...” Lenguh Ara .
Marcell lalu mempercepat lagi kocokan di bawah sana, dan tangan satunya memainkan puting wanita itu. Memutar dan memilinnya. Ara meremas lengan Marcell dan mendongakkan kepalanya dengan nafas yang terengah-engah. Tak lama Ara mengerang karena nikmatnya sampai pada klimaksnya. Tubuhnya menggelinjang dan bergetar. Marcell dengan cepat memeluk tubuh Ara dan mengusap punggungnya.
Ara di buatnya lemas dengan permainan yang di ciptakan sahabatnya. Marcell menarik kedua jarinya dari lubang vagina dan menjilati cairan yang memenuhi jarinya itu tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Ara hanya memandangi apa yang dilakukan lelaki itu tanpa bersuara, ia terus mengatur nafasnya.
Ara masih di posisi yang sama, berada di pangkuan Marcell. Sedikitpun tak beranjak dari sana.
“Lo mau kaya gini terus Ra?” Ucap Marcell dengan menangkupkan kedua tangan di wajah Ara .
“Ngilu Cell .. gak bisa jalan ..”
Marcell terkekeh mendengarnya, ia lalu menggendong wanita itu bak koala menuju kamar mandi. Sedangkan Ara merangkul tubuh sahabatnya, kepalanya menempel di ceruk leher Marcell.
Setelah selesai membantu Ara membersihkan diri, mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi saling berhadapan. Keduanya saling menatap, Marcell mengusap rambut Ara dengan lembut.
“Ra, gue tidur sini ya?”
“Hm?”
“Gue tidur sini.”
“Ogah.. balik lo Cell.. ” lanjut Ara .
“Kenapa emang? Tumben?”
Biasanya tiap Marcell meminta ijin untuk menginap, pasti selalu diperbolehkan. Tapi kali ini Ara menolaknya.
“Besok Hansel balik. Penerbangan pagi, biasanya langsung kesini.” Jelas Ara. Membuat raut wajah Marcell seketika berubah.
“Ra! Mau sampai kapan sih lo betah LDRan sama Hansel? Lo percaya sama hubungan jarak jauh? Lo mana tau disana Hansel ada main sama cewek lain, ha??”
Ara hanya diam.
“Putusin Hansel. Ada gue Ra.. Gue selalu ada buat lo dan yang lo butuhin saat ini cuma gue.” Desak Marcell.
Ara tetap membisu. Kalimat yang diucapkan Marcell sungguh membuatnya berpikir. Ada benarnya, setiap hari Marcell selalu ada untuknya. Bahkan setiap ia hendak memejamkan mata sampai kembali membuka mata pada esok hari, lelaki itu setia berada disampingnya. Sudah lama Marcell menyukai Ara tetapi wanita itu sudah lebih dulu berpacaran dengan Hansel.
Di mata orang lain yang melihatnya, Marcell dan Ara terlihat lebih dari sekedar sahabat. Kemanapun mereka selalu bersama, Marcell selalu ada disaat Ara membutuhkannya. Bahkan mereka sudah tak canggung lagi jika harus berbagi kenikmatan yang ia tak dapatkan dari Hansel.