08.30
Pesawat yang ditumpangi Hansel mendarat dengan sempurna pagi itu. Ia berjalan sedikit lebih cepat sembari fokus pada layar ponselnya untuk memesan taksi online dan tangan kirinya mendorong koper berukuran sedang. Hari itu adalah yang ditunggu-tunggu Hansel, pasalnya lelaki itu sangat rindu dengan sang kekasih. Dua bulan terakhir ini mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Perjalanan yang di tempuh tidak terlalu jauh dari bandara. Sekitar kurang lebih 20 menit, Hansel tiba di apartemen Ara. Perjalanan sangat singkat dan tanpa ada hambatan bahkan jalanan ibu kota tampak lengang pagi itu, seakan memberi akses untuk Hansel segera tiba di apartemen milik Ada. Setelah tiba di tempat tujuan, lelaki itu naik ke lantai 5 menggunakan lift, ia menyusuri lorong yang tampak sepi menuju unit milik kekasihnya.
Tanpa membunyikan bel, sangat di luar kepala Hansel hafal dengan pin tersebut. Kemudian menekan enam digit angka pin pada pintu smartlock door untuk membukanya. , ia sudah sangat hafal dengan pin smart lock door di depannya. Lelaki itu-pun memasuki ruang apartemen berukuran sedang dengan membawa satu koper berukuran sedang. Mata Hansel memperhatikan detail setiap ruangan, “tidak berubah.”—batin Hansel. Setelah tidak menemukan sosok yang ia cari, kemudian lelaki itu berjalan menuju kamar Ara. Lelaki itu membuka pintu kamar perlahan, hingga tidak mengeluarkan suara dan melihat Ara masih meringkuk di bawah selimut. Hansel kemudian mendekat dan perlahan naik keatas tempat tidur, memeluk tubuh Ara dari belakang dan mengendus leher kekasihnya.
“Kangen...” Bisik Hansel tepat di telinga kekasihnya.
“Hmm...” Suara yang keluar dari bibir Ara sedikit parau, karena rasa kantuk yang belum hilang. Hansel menyingkap selimut yang menutupi tubuh kekasihnya, ia ingin memastikan Ara sudah mengenakan lingerie yang ia minta atau belum.
“Ra .. kenapa lo gak pakai lingerie-nya?”
Ia mendapati kekasihnya masih mengenakan piyama tidur model terusan di atas lutut.
“Masih mager Hansel.. Mau bangun aja males banget.” Jelas Ara sembari menarik selimutnya lagi. Tanpa di sangka Hansel turun dari tempat tidur dan meninggalkan Ara. Wanita itu menengok kebelakang, ketika sadar ia tinggalkan oleh Hansel.
“Sel, lo mau kemana? Kok udahan peluknya?”
“Mules Ra, bentar ya.. gak lama kok.” Hansel berlari kecil ke kamar mandi. 15 menit kemudian ia keluar dengan wajah tampak berbeda, kemudian meninggalkan kamar Ara tanpa menghiraukan gadis itu.
“Hansel!” Ara sedikit berteriak memanggil nama kekasihnya, namun tidak dijawab oleh lelaki itu. “Aneh”—batin Ara. Wanita itu beranjak dari tempat tidur dan segera mencari dimana Hansel berada. Ia melihat kekasihnya sedang berdiri didekat meja makan, meminum sekaleng Coca-Cola dan tiba-tiba meremas kaleng itu hingga penyok. Ara mendekat perlahan lalu memeluk tubuh kekasihnya dari belakang, tetapi pelukan itu di lepaskan oleh Hansel.
“Hansel, kamu kenapa?” Tanya Ara.
Lelaki itu tidak menjawab, tatapan matanya sangat tajam kearahnya. Hansel perlahan mendekati Ara, dan wanita itu berjalan mundur hingga langkahnya terhenti di depan meja makan. Kedua tangan Hansel bertumpu di atas meja makan mengunci tubuh Ara didalamnya. Lelaki itu menatap lekat dua bola mata Ara. Sedari tadi ia merasa aneh dengan sikap Hansel yang tiba-tiba berubah .
Detik kemudian tangan Hansel meraih tengkuk wanita itu dan melumat bibirnya dengan kasar. Ara cukup kaget dan berusaha mengimbangi ciuman panas itu. Tak berapa lama Ara mendorong tubuh Hansel karena dirasa ia sudah kehabisan nafas. Ara mencoba mengatur nafas dan menatap wajah Hansel penuh rasa penasaran.
Tanpa aba-aba, Hansel mengangkat tubuh Ara keatas meja makan dan merobek piyama yang dikenakannya dengan sekali tarik hingga kancingnya terlepas dan berserakan di lantai.
“Hansel, why? Kasar banget..”
Lagi-lagi Hansel tidak mempedulikan apa yang di dengarnya. Sepersekian detik lelaki itu kembali menyambar dan melumat bibir Ara dengan kasar, ciumannya lalu berpindah ke telinga hingga leher. Menyesapnya dan meninggalkan bekas kemerahan di sana. Tangannya dengan leluasa memainkan payudara wanita itu karena ia tak mengenakan bra. Hansel terus meremas dan memutar putingnya, membuat Ara nampak pasrah dengan alur yang di ciptakan kekasihnya.
Setelah puas memainkan payudaranya, ia lalu menyesapnya seperti bayi kelaparan, memainkan dengan lidahnya.
“Ngghh.. Sel..” lenguhnya. Kedua tangannya bertumpu pada meja kerja yang berada di sebelahnya. Hansel kemudian melepaskan celana dalam yang dikenakan Ara dan membuangnya ke sembarang arah. Lalu mengangkat kedua kaki gadis itu keatas meja, menampilkan lubang vagina yang sudah basah. Tanpa aba-aba Hansel memutar klitorisnya dengan kasar membuat gadis itu mendesah dengan keras. Desahannya menggema keseluruh ruangan.
“AAHHH ... HANSEL ...”
Jemari Hansel terus memutar klitorisnya dan sesekali menekan-nekannya. Dan detik berikutnya lelaki itu melesatkan kedua jarinya kedalam lubang kenikmatan milik Ara. Ia mengocok lubang itu dengan kasar dan cepat.
“Punya lo udah basah banget Ra ..”
Lelaki itu terus mengocok dan mengobrak-abrik lubang surgawi di bawah sana. Sedangkan gadis di hadapannya itu terus mengeluarkan desahan-desahan tanpa henti, tubuhnya terasa melayang saat merasakan permainan panas yang di ciptakan oleh Hansel.
“Ngghh.. Aaahh.. ” Lenguhan itu keluar lagi dari bibir Ara. Ketika tangan hansel masih bermain-main di dalam lubang vagina milik Ara, sedangkan angan satunya memilin dan memutar payudaranya hingga membuat tubuhnya melengkung dan bergetar.
“Hansel! Aahhh... Aku ma-u keluaarr... Aaahhh...”
Gadis itu merasakan hendak mencapai pelepasannya, ia mendongakkan kepalanya dan semakin mendesah tak karuan. Mendengar itu Hansel semakin mempercepat kocokannya dengan menatap wajah kekasihnya yang nampak berantakan karena ulahnya.
“SEL ! AAAHHHHH......”
Akhirnya wanita itu sampai pada pelepasannya. Tubuhnya bergetar hebat, deru nafasnya semakin tak beraturan. Kemudian Hansel di melepaskan kedua jarinya dari dalam sana, tak sampai disitu ia lalu turun kebawah mensejajarkan wajahnya dengan lubang vagina milik Ara. Hansel menyesap lubang vagina yang basah itu dan sesekali memainkan klitorisnya dengan lidah. Hansel benar-benar menyesap semua cairan di bawah sana hingga bersih.
“Aahh.. Hansel cukup!”
Hansel lalu berdiri dan menggendong gadis itu ala bridal style menuju kamar mandi. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Hansel dan menatap setiap garis wajah kekasihnya.
“Sel, kok udahan? Kamu gak pengin?”
Sungguh dingin, sikap Hansel benar-benar aneh. Ia membisu, tak menjawab pertanyaan kekasih. Ia terus berjalan kearah kamar mandi. Hansel menurunkan wanita itu dan, membantu membersihkan tubuh Ara. Ia menutup sedikit pintu kamar mandi, dan menanyakan sesuatu yang dilihatnya sejak tadi.
“Itu kaos siapa Ra? Lo bawa cowok ke apartemen?”
Deg!
“E-Itu punyaku.” Jawab Ara, asal. “Jadi ini yang membuat Hansel tiba-tiba berubah menjadi dingin?!”—batin Ara.
“Gak mungkin punya lo, itu bau parfum cowok.” Lanjut Hansel. Wanita itu terdiam, ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan.
“Sel, yok udahan.. Dingin airnya.” Pinta Ara pada kekasihnya, kemudian Hansel mengambil handuk berwarna putih dan menutupi tubuh Ara dengan handuk tersebut, Saking rasa sayangnya Hansel terhadap gadis itu, ia menggendong tubuh kekasihnya lagi dan mendudukkan di atas tempat tidur. Mengambil pakaian dari lemari serta membantu mengenakannya.
“Hansel..”
“Hm..” jawab Hansel singkat.
“Itu beneran kaos gue tapi parfumnya punya Marcell. Kemarin kehabisan parfum jadi waktu di kampus minta punya Marcell.” Jelas Ara.
Hansel hanya membisu dan menatap wajah kekasihnya masih dengan rasa penasaran. Mungkin saja Hansel berpikir Ara selingkuh dibelakangnya karena mempertahankan hubungan jarak jauh itu cukup sulit. Sedangkan Ara mencoba meyakinkan Hansel. Ia pun tak mau kehilangan kekasihnya.
Hansel, Marcell dan Ara adalah tiga sahabat dari SMA. Kedua lelaki itu sama-sama menyukai Ara dari dulu, tetapi Marcell cukup ciut untuk menyatakan cintanya pada Ara. Dan yang terjadi, Hansel malah lebih dulu memacarinya. Persahabatan mereka tetap berlanjut sampai saat ini. Namun Hansel dan Ara terpaksa terlibat LDR setelah ayah Hansel di pindah tugaskan oleh perusahaan, dan harus memboyong seluruh keluarganya.
Kini Ara menjalani hidupnya setengah untuk Hansel dan setengahnya lagi untuk Marcell. Ia tak munafik jika saat ini Marcell selalu ada disaat Ara membutuhkan apapun.