The Orphic

Part.8 Cold Blooded

Clara benar-benar meninggalkan Rumania, ia bertekad pergi untuk melupakan Dave. Entah berapa lama ia akan tinggal di Indonesia tanpa keluarga, yang pasti wanita itu meninggalkan rasa sakit dan kecewa terhadap Dave. Sungguh tidak masuk akal jika keluarganya tau bahwa ia berhubungan dengan sosok vampir hingga sejauh itu. Tetapi Clara benar-benar mengalaminya, merasakannya bahkan rasa kehilangan setelah di tinggalkan oleh Dave masih berbekas dan menyakitkan.

Tengah hari, pesawat yang di tumpangi mendarat dengan sempurna di bumi pertiwi. Langit tampak mendung namun hawa panas terasa menyengat.

Satu koper besar di tangan kanannya, dan satu lagi berukuran sedang di tangan kiri. Ia dorong sekuat tenaga berjalan keluar dari airport. Beberapa kali bola matanya menelusuri kerumunan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Menunggu sang sahabat, Yohan. Ya, sebelumya lelaki itu sudah berjanji menjemputnya. Sembari menunggu Yohan, wanita itu duduk di salah satu bangku sembari membalas pesan yang di kirim oleh Yohan.

Sekitar lima belas menit menunggu, Yohan-pun akhirnya tiba. Lelaki mengenakan setelan serba hitam dan rambut sedikit gondrong membuat Yohan terlihat seperti bos mafia. Wajahnya datar, tanpa ekspresi sedikitpun. Clara melambaikan tangannya ke arah lelaki tersebut, kemudian Yohan menghampirinya. Satu pelukan hangat seorang sahabat mendarat di tubuh Clara.

“Lo gak lagi berantem sama bokap nyokap lo kan? Bawa barang segini banyak kya mau pindahan.” Ujar Yohan sembari menepuk-nepuk punggung wanita itu. Clara hanya terkekeh lalu melepaskan pelukan dari tubuh Yohan.

“Nggak, gue mau healing disini.”

“Lo kata healing? Tambah stress yang ada.” Ucap Yohan dan mendorong koper besar milik Clara.

“Gue kangen kalian. Makanya gue balik Indo aja.”

Keduanya-pun tertawa bersama. Wanita itu sangat pandai menyembunyikan semuanya.

Setibanya di apartemen milik Selina, wanita itu buru-buru merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tengah. Sedangkan Yohan membawa dua koper milik Clara ke dalam ruang kamar Selina.

“Koper gue kenapa di bawa ke kamar Selin? Gue pakai kamar tamu aja gapapa kali.” Ujarnya. Namun Yohan hanya tersenyum.

“Selin bilang lo tidur di kamar dia aja.”

“Gue balik kantor dulu, ini udah gue pesenin makan. Gak usah keluar kemana-mana, lo istirahat aja. Gue udah bilang sama Selin.” Kata Yohan sembari berlalu, hendak meninggalkan Clara sendiri.

“Yohan, makasih ya.. Eh, by the way lo jadian sama Selin?” Tanya Clara tersenyum dan menaikkan dua alisnya.

“Menurut lo aja gimana?” Jawab Yohan sembari terkekeh, di susul oleh Clara.

“Ya udah gue cabut dulu ya Ra.”

“Oke, tiati.”

Rintik hujan siang itu mengiringi kepergian jiwa yang tenang. Awan kelabu seakan ikut berduka, mengantarkan tubuh rapuh ke peraduan terakhirnya. Luka di tubuhnya tidaklah sesakit ketika di tinggalkan secara tiba-tiba. Menyakitkan memang, tetapi siapa yang mampu melawan takdir?

Pemandangan yang membuat luluh, dua lelaki yang begitu rapuh terlihat bersimpuh. Batu nisan bertuliskan nama sang kekasih menjadi saksi manusia silih berganti, datang dan pergi, melantunkan doa untuk yang terakhir kali. Air mata Jovan mungkin sudah habis, wajah sendu dan lelah sangat terlihat jelas. Luka saat di tinggal pergi, melumpuhkan harapan yang sempat terpatri.

Jeremy menggenggam erat tangan Nathalie, berdiri di depan pusara Helena dan melantunkan doa. Tak jauh dari tempat ia berdiri, seorang lelaki betah berlama-lama disana. Menatap kosong pusara yang penuh dengan taburan bunga. Pakaian hitamnya basah akibat rintik hujan yang tak kunjung reda. Ia seakan tak peduli dengan dingin yang menghujam tubuhnya.

Nathalie dan Adel saling melempar pandangan, kemudian Adel mengangguk pelan sebelum akhirnya sama-sama menatap lelaki rapuh yang masih tertunduk di bawah sana. Nathalie berganti menatap lelaki yang berdiri di sebelahnya, lalu ia berjalan tiga langkah mendekati Jovan. Wanita itu mengusap punggung Jovan, pelan. Sentuhan yang tak asing baginya membuyarkan lamunan. Jovan mendongak, melihat sosok wanita itu. Ia-pun perlahan berdiri, saling bertatapan beberapa saat sebelum akhirnya Nathalie memeluk Jovan.

“Jov, ikhlaskan yang udah pergi...” Ucap Nathalie lirih. Lelaki itu mengangguk pelan dan kembali meneteskan air mata.

Dua wanita meninggalkan luka.


END Hai... Terima kasih untuk 33juta penduduk. Terima kasih juga untuk readers penikmat au Obsession beserta sequelnya.

Sekali lagi terima kasih banyak untuk kalian yang sabar menunggu au ini update dan memberikan feedback.

Soon, akan ada long au lagi, aku harap kalian tidak pernah bosan dengan tulisanku yang masih banyak kurangnya ini.

Tidak pernah lelah untuk mengingatkan kalian tetap jaga kesehatan ya!

Please give me a feedback! Any questions for me? Drop on my cc: https://curiouscat.qa/deorphic

Setelah bertanya pada staf rumah sakit, Adel dan Nico bergegas mencari ruang operasi. Langkahnya terburu-buru melewati beberapa lorong dan menemukan sosok laki-laki yang sedang duduk di depan ruang operasi dengan wajah tertunduk. Dua tangan memegangi kepala, sedikit memijat pelipisnya. Terlihat sangat berantakan. Jas yang tergeletak di lantai dan beberapa kancing bajunya terlepas, hingga terlihat keringat yang mengalir pada garis leher.

Adel duduk di sebelah lelaki itu si susul oleh Nico. Tangan Adel beberapa kali mengusap punggung Jovan yang masih tak bergerak dari posisinya. Nico hanya melirik aktivitas tersebut lalu bersandar pada kursi dan menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit rumah sakit. Tiga jam mereka duduk tanpa suara, tanpa ada percakapan, hanya suasana yang tegang dan sunyi. Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruang operasi. Jovan sontak berdiri menghampiri dokter tersebut, di susul Adel dan Nico.

“Mohon maaf sekali, nyawa korban tidak bisa di selamatkan. Pendarahan di otak menyebabkan sel-sel di dalamnya kekurangan oksigen. Pada saat di bawa ke rumah sakit, korban sudah dalam keadaan kritis.” Jelas dokter tersebut.

Deg! Hantaman keras bak menghujam dada Jovan, tubuhnya seketika melemah dan air matanya mengalir begitu saja. Dua tangan mungil milik Adel tergerak merangkul tubuh Jovan yang hampir tumbang. Dadanya sesak, nafasnya seakan tercekat, Jovan menangis sejadi-jadinya di ceruk leher Adel. Wanita itu ikut meneteskan air mata sembari mengusap punggung sahabatnya.

“D-Del...” Ucapnya lirih di samping telinga sahabatnya.

“Jov, lo harus kuat. Oke? Lo gak sendirian. Ada gue disini.” Tutur Adel sembari mengusap dan menepuk punggung Jovan tanpa memikirkan ada sosok lelaki di sebelahnya. Nico mengepalkan tangannya saat melihat Adel tengah memeluk dan memenangkan Jovan. Sebenarnya bukan kali pertama lelaki itu melihat hal seperti ini, bagaimana-pun juga Nico tetap mempunyai rasa cemburu.

Wedding Day

Hari yang di nantikan akhirnya tiba, pesta pernikahan yang mewah dan tamu undangan yang berdatangan membawa do'a untuk kedua mempelai. Nathalie sangat cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih bak seorang ratu, berpadu dengan Jeremy yang terlihat sangat tampan. Tidak kalah menawan, lelaki itu layaknya seorang pangeran.

Kerabat dan sahabat semua berkumpul di tempat itu, menjadi saksi hari penuh kebahagiaan sebelum bergantinya tahun. Hadirin yang berada di sana tampak bergantian berjabat tangan untuk memberikan selamat, serta berfoto dengan kedua pengantin. Begitu juga Jovan, Nico dan Adel.

Jovan masih tampak tenang, berjabat tangan dengan Jeremy dan menepuk-nepuk singkat lengan lelaki itu sembari tersenyum. Dulu mereka seperti rival tetapi kini dua lelaki itu layaknya kawan. Jovan berdiri di hadapan Nathalie, mencoba tersenyum tenang. Melihat Nathalie bersanding dengan Jeremy tak ayal menjadi pemandangan yang menyakitkan baginya.

Senyum Nathalie mengembang, dua tangannya terbuka untuk memberikan pelukan pada Jovan. Menatap dua bola mata lelaki itu, sekilas flashback akan beberapa hal yang pernah ia lalui bersama Jovan. Nathalie tidak mau munafik, ia-pun pernah merasa nyaman sampai akhirnya sempat bergantung pada lelaki yang pernah menyakiti dan akhirnya mengobati. Sempat berharap walaupun penuh dengan keraguan, juga bermimpi dan akhirnya hanya menjadi ilusi. Tidak cukup sampai disitu saja, Jovan setidaknya pernah menjadi tempat untuk berpijak kala dirinya rapuh dan juga membawanya terbang meskipun akhirnya terjatuh.

Jovan memeluk tubuh Nathalie, mendekap erat dan mengusap punggungnya beberapa kali.

“Selamat ya Nath, aku bersyukur dan ikut bahagia kamu bisa sama Jeremy.” Bisiknya lirih di telinga Nathalie.

Thanks Jov, terima kasih buat semuanya. Kamu cepat nyusul ya?” Ucap Nathalie. Jovan masih menggenggam tangan wanita itu beberapa saat sebelum ia lepaskan.

“Loh, Helena mana? Gak sama kamu?” Tanya Nathalie lagi.

“Nanti dia nyusul Nath, masih ada kerjaan.” — “Aku turun ya..” Lanjut Jovan, kemudian berjalan meninggalkan Nathalie dan Jeremy.

Jovan, Nico dan Adel masing-masing menggenggam gelas berisi Champagne sembari menikmati lagu yang di iringi oleh wedding band.

“Helena lama banget Jov? Katanya mau nyusul?” Tanya Adel tiba-tiba memecah fokus lelaki yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu.

“Tadi bilang kalau udah mau on the way kesini.” Jawab Jovan singkat sembari meneguk Champagne di tangan kanannya.

“Del, lo kapan nyusul?” Tanya Jovan menggoda sahabatnya. Ia menaik turunkan alisnya lalu melirik Nico yang berdiri di sebelah Adel. Sedari tadi dua sejoli itu berpegangan tangan dan mengumbar kemesraan di depan mata Jovan hingga membuatnya sedikit iri, pasalnya Helena belum juga tiba disana.

Sekitar sepuluh menit setelahnya tiba-tiba ponsel Jovan berdering hingga beberapa kali. Lelaki itu sama sekali tidak sadar jika ada panggilan telepon. Justru Adel yang mendengar samar suara panggilan telepon dari arah saku celananya.

“Ada telepon kayaknya Jov.” Ucap Adel.

“Ha? Telepon?” Tanya Jovan pada Adel sembari mengambil ponselnya dari saku celana. Adel hanya mengangguk ketika menjawab Jovan. Lelaki itu menatap layar ponsel beberapa saat sebelum akhirnya menjawab telepon dari nomor yang tak dikenalnya.

Hallo...”

Iya benar, saya sendiri...”

Jovan membeku, tangan kirinya masih memegang ponsel yang menempel di telinganya namun tidak ada jawaban apapun yang terlontar dari bibirnya.

Pranggg....

Gelas berisi Champagne di tangan kanannya lepas dari genggaman Jovan dan pecah, raut wajahnya tiba-tiba pucat. Nico dan Adel saling melemparkan pandangan sebelum akhirnya mereka mendekat pada Jovan.

“Kenapa Jov?” Taya Adel.

“Jov..” Ucap Nico sembari menggoyangkan lengan sahabatnya itu. Jovan tak merespon, kemudian Nico mengambil alih ponsel yang di genggam Jovan dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.

Hallo?

Nico mencoba berbicara dengan orang tersebut.

“Jovan!” Pekik Adel menyadarkan lelaki bertubuh tinggi itu. Jovan tiba-tiba meninggalkan pesta tersebut, berlari membelah kerumunan tamu undangan disana tanpa mempedulikan Nico dan Adel, bahkan ponselnya masih di tangan Nico.

“Jovan kenapa Nic? Itu telepon dari siapa???” — “Nico!!”

“Ayo ke rumah sakit. Buruan!”

“Nath...” Panggil Jeremy ketika memasuki ruang kamar sang empu yang terbuka. Nathalie berdiri di depan ranjang besar sembari berkacak pinggang. Di hadapannya menumpuk beberapa potong pakaian yang ia keluarkan dari dalam lemari. Sudah tiga koper berukuran sedang berjajar rapi, sebagian besar berisi pakaian dan sisanya ia isi dengan beberapa alas kaki.

“Masih banyak?” Tanya Jeremy sembari merangkul tubuh mungil Nathalie menggunakan tangan kirinya.

“Kamu liat sendiri masih ada segini. Itu tiga koper udah penuh, sama satu totebag.” Jelasnya pada Jeremy. Lelaki yang berada di sebelahnya itu tersenyum dan mengusap pucuk kepala Nathalie.

“Lipat dulu bajunya, aku yang packing. Masih ada tas di lemari kan?” Ujarnya, Jeremy kemudian berjalan ke arah lemari dan mencari tas yang di maksud.

Nathalie duduk di tepi ranjang dan mulai melipat pakaian yang berada di sebelahnya. Jeremy memandang wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh lalu tersenyum tipis. Seperti mimpi, tetapi pada dasarnya keinginan yang sudah lama ia pendam akhirnya tinggal satu langkah lagi. Yaitu pernikahan, dan restu dari kedua orang tuanya.

“Nath,”

Jeremy berjalan menghampiri Nathalie dan tiba-tiba berjongkok di hadapan wanita itu. Dua netra keduanya saling bertemu, tatapan yang begitu teduh. Lelaki itu menggenggam kedua tangan Nathalie, menngusap beberapa kali menggunakan ibu jarinya kemudian mengecup singkat punggung tangan Nathalie.

“Aku bahagia akhirnya kita bisa sampai di titik ini. Aku sayang kamu Nath, aku janji gak akan ninggalin kamu.” Tutur lelaki itu. Nathalie membeku dalam diam, ia juga merasa ini seperti mimpi.

“Hei.. Kenapa diem?” Suara Jeremy menggugah alam sadar Nathalie. Detik kemudian wanita itu merentangkan kedua tangannya dan di sambut hangat oleh Jeremy.

“Terima kasih sayang.. Terima kasih buat semuanya. Maaf ya, aku sempat gak percaya sama kamu dan hubungan kita.” Ucap Nathalie sedikit terisak. Ia menahan air mata yang hampir tumpah. Pelukan Jeremy sangat hangat dan membuatnya tenang. Usapan tangan lelaki itu seperti obat dari segala rasa sakit yang pernah ada. Jika Tuhan sudah berkehendak, terpisah sejauh apapun, terluka sesakit apapun, ia akan kembali pada takdirnya.

Nico bergegas menyusul Jovan yang sudah menunggunya di parkiran. Ketika jam makan siang, lobi terlihat lebih ramai. Para karyawan keluar masuk kantor untuk keperluannya masing-masing. Nico sedikit berlari kecil untuk mempercepat langkahnya agar cepat sampai di parkiran.

Jovan sudah berada di dalam mobil dan sedang sibuk dengan ponselnya. Tak lama Nico masuk ke dalam mobil kemudian mengenakan seat belt.

“Ayo Jov, laper gue.” Ucap Nico sembari menepuk lengan Bos-nya.

Jovan-pun menaruh ponselnya pada saku kemeja dan sesegera mungkin mengemudikan mobilnya. Kendaraan roda empat itu berputar-putar tak tentu arah, sudah melewati beberapa resto juga cafe namun tidak berhenti di salah satu tempat tersebut. Jovan masih fokus pada kemudi meskipun pikirannya entah kemana. Sesekali Nico melirik ke arah sahabatnya itu, ia paham dengan raut wajah Jovan yang tidak seperti biasanya.

“Lo kenapa? Mikirin Nathalie?” Tanya Nico tanpa basa basi.

“Hm?”

“Lo mikirin Nathalie? Sampai gak tau arah mau makan dimana.” Ucap Nico sedikit kesal, namun bagaimana-pun juga lelaki di sebelahnya itu masih sahabatnya. Jovan hanya diam, ia terus melajukan mobilnya. Asal.

Jovan sama sekali tidak lapar, sesungguhnya ia hanya ingin melepas penat setelah di tinggal Nathalie. Lelaki itu tidak munafik, rasa sayangnya terhadap Nathalie masih ada meskipun ia sudah ikhlas melepaskan wanita itu bersama Jeremy.

“Gue ngerasa kehilangan Nathalie.” Kata Jovan tiba-tiba.

“Jov, sekarang lo mending fokus sama Helena. Cewek lo sekarang Helena. Lo sama Nath udah end.” Cecar Nico. Kali ini kekasih Adel ini benar-benar kesal melihat tingkah Jovan.

“Kalau gue bilang udah gak sayang sama Nathalie itu munafik. Gue ngerasa ada sesuatu yang hilang, Nic.” Tutur Jovan sembari memutar kemudi. Berbelok ke kiri kemudian memarkirkan mobilnya di depan sebuah Resto. Nico tidak membalas percakapan Jovan, ia turun dari mobil kemudian meninggalkan sahabatnya yang masih duduk di belakang kemudi.

Nathalie dengan langkah ragu memasuki kamar Jovan. Wanita itu tak bisa menolak permintaan ibunda Jovan untuk tetap tinggal dan menginap di rumahnya. Kamar Jovan cukup luas dengan corak warna putih abu-abu, terdapat sofa berukuran sedang serta walk in closet cukup luas berisi pakaian yang tertata sangat rapi.

Wanita itu melangkah pelan dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sorot matanya menelisik ruang kamar tetapi tak mendapati Jovan di sana. Jantung Nathalie terus berdetak kencang. Dalam otaknya terus memikirkan hal negatif jika bersama Jovan, apalagi ia harus tidur satu kamar dengan bos-nya.

Lima menit berlalu, Jovan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk berwarna putih yang di lilitkan di pinggangnya. Tubuh kekarnya terekspos, lelaki berperawakan tinggi itu menatap Nathalie yang tengah duduk di sofa. Ia kemudian mengambil handuk yang masih terlipat rapi lalu memberikan pada Nathalie.

“Mandi sana.–”

Nathalie menerima handuk yang di sodorkan ke arahnya lalu bergegas ke kamar mandi.

“Maaf pak, ba—”

“Baju? Ambil di lemari, mana yang cukup buat kamu, pakai aja.” Lanjut Jovan.

“Maksudnya saya pakai baju pak Jovan?” Tanya Nathalie sedikit ragu.

“Iya, gapapa kan? Di lemari kan isinya baju saya semua.” Ucap Jovan tegas.

Wanita itu hanya menganggukkan kepala kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jovan lalu berpakaian, mengenakan kaos tipis warna putih serta celana pendek. Ia kemudian duduk di sofa, menghidupkan laptop dan mengoreksi hasil meeting.

Lima belas menit setelahnya, Nathalie keluar dari kamar mandi mengenakan kemeja warna hitam milik Jovan. Terlihat kebesaran, tetapi cukup menggemaskan. Jovan berkali-kali melirik kearah sekretaris nya dan tersenyum, seperti ingin menyampaikan sesuatu.

“Pak Jovan, saya tidur di sofa aja gapapa. Bapak yang tidur disini.” Ucap wanita itu sambil menunjuk ranjang di sebelahnya.

“Kamu aja yang tidur disitu. Tadi pesan mama, aku yang tidur di sofa.” Jelas Jovan.

Nathalie menganggukkan kepalanya tanda setuju lalu naik keatas tempat tidur dan membenamkan tubuhnya di balik selimut berwarna abu tua, hingga terlihat kepalanya saja.

“Pak Jovan..”

“Hm?”

“Saya gak bisa tidur kalau lampunya terang seperti ini.” Ucap Nathalie. Jovan sontak memandangi sekretaris nya cukup lama, lalu tersenyum tipis.

“Matikan saja lampunya, tombol ada di sebelah nakas.” Jelas Jovan kemudian ia kembali fokus pada laptop di hadapannya. Nathalie kemudian mematikan lampu yang membuat matanya silau dan hanya menyisakan lampu tidur yang terlihat temaram. Ia lalu memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Tiga puluh menit berlalu dan ia masih terjaga meskipun tubuhnya cukup lelah. Nathalie membalikkan badan ke arah Jovan, ia pandangi bos nya yang masih sibuk dengan laptop nya. Sedangkan lelaki itu tak sadar jika sekretaris nya sedang memperhatikan dirinya.

AC di kamar Jovan terasa sangat dingin hingga membuat tenggorokan Nathalie terasa kering. Ia merasa sangat haus, sedangkan jug berisi air putih berada di meja tepat di depan laptop. Wanita itu sempat berpikir ingin menahannya saja tapi sepertinya ia menyerah. Nathalie bangun dari posisinya, beranjak dari tempat tidur lalu berjalan kearah Jovan. Lelaki yang sedari tadi sibuk menatap layar laptop tiba-tiba pandangan matanya beralih pada wanita di hadapannya.

“Belum tidur? Apa gak bisa tidur?” Tanya Jovan lirih.

“Belum bisa tidur pak.. Oya, kalau pak Jovan capek ya istirahat saja. Biar saya yang cek hasil meeting tadi.” Tawar Nathalie sambil menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminum nya.

“Coba duduk sini.” Pinta Jovan sembari menepuk-nepuk permukaan sofa agar Nathalie duduk sesuai arahannya.

Wanita itu menurut saja dengan perintah bos nya, ia kemudian duduk di sebelah Jovan. Di dalam otak Jovan sudah di penuhi oleh Nathalie, hasrat untuk memiliki seutuhnya kembali muncul meskipun ia tau bahwa sekretaris nya itu sudah mempunyai kekasih. Dalam hati sungguh ia ingin menerkam wanita yang duduk di sebelahnya itu. Pasalnya Nathalie terlihat sangat cantik dan sexy hanya mengenakan kemeja miliknya, tanpa memakai bawahan dan paha nya terekspos sangat mulus.

Baru beberapa detik Nathalie memegang laptop di hadapannya, secara tiba-tiba Jovan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sekretaris nya. Lelaki itu dengan sengaja memandang lekat raut wajah Nathalie dengan mengikis jarak di antara keduanya. Sadar hal itu, Nathalie kemudian menengok ke arah Jovan dan tak sengaja hidung mereka bergesekan.

Deg! Jantung Nathalie terus berdetak semakin kencang, keduanya saling berpandangan dan tanpa aba-aba Jovan mengecup bibir sekretaris nya perlahan. Wanita di sebelahnya sama sekali tak menolak juga tak melawan. Lagi-lagi Jovan mendaratkan kecupan singkat yang ke dua di bibir Nathalie. Dan wanita itu tak bergerak sama sekali.

Kecupan yang ketiga mendarat sempurna di bibir Nathalie tetapi kali ini sedikit lebih lama, dan perlahan berubah menjadi ciuman yang menuntut. Lidah Jovan bermain di dalam bibir wanita itu dan lama kelamaan berubah menjadi lumatan yang semakin panas.

Tangan Jovan tak tinggal diam, tangan kirinya menarik tengkuk Nathalie memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan kanan nya melepas kancing baju yang di kenakan oleh Nathalie perlahan hingga menampilkan dua gundukan payudara yang sintal menggantung tanpa bra.

Nafas wanita itu mulai tak beraturan, tetapi ia tidak menolak perlakuan Jovan kepadanya. Kali ini lelaki di hadapan nya itu nampak berbeda, yang ia rasakan sekarang Jovan sangat lembut dan tidak menjadi orang yang menakutkan seperti di saat di kantor waktu itu. Bibir dua sejoli itu saling melumat tanpa henti, jemari Jovan mulai nakal meraba area payudara Nathalie. Meremas nya perlahan lalu memilin dan memutar putingnya. Sedangkan Nathalie hanya menahan desahan agar tak keluar dari bibirnya.

Ketika keduanya saling menikmati ciuman yang penuh nafsu, bibir Jovan bergerak ke arah telinga serta leher milik Nathalie dan terus mencumbu sekretaris nya. Mata gadis itu terpejam menikmati sentuhan jemari bos nya kala menyentuh area kewanitaan nya.

“Ngghhh.....” Lenguhnya pelan. Nathalie benar-benar berusaha untuk menahan desahan agar tak keluar dari bibirnya namun gagal. Jemari bos-nya sudah terlanjur meraba bibir vagina milik Nathalie, dan memutar juga menekan klitorisnya hingga membuat gadis itu tersentak.

“Aahhh....” Desahan itu akhirnya lolos keluar dari bibir Nathalie namun tangannya menahan gerakan jemari Jovan di bawah sana. Sadar tangannya di tahan oleh Nathalie, lalu ia tatap bola mata milik wanita itu, sendu.

“Nath, mau lanjut atau tidak? Kalau kamu setuju, aku akan lanjutkan. Tapi kalau tidak, aku akan berhenti disini.”

Jovan tak seperti dulu, yang tiba-tiba memaksanya. Kali ini justru memberikan penawaran terhadap nya. Jantung wanita itu terus berdetak semakin kencang. Nathalie akhirnya memberikan jawaban dengan menggelengkan kepalanya, pertanda untuk tidak melanjutkan nya. Jovan pun mengangguk setuju, kali ini ia berhasil menahan nafsunya demi Nathalie.

“Nathalie... Entah ini yang keberapa kali saya ungkapkan ke kamu bahwa saya suka sama kamu.” — “Saya ingin dengar jawaban nya.–” Lanjut Jovan, tangannya bergerak mengaitkan kembali kancing baju milik Nathalie yang lepas. Sedangkan wanita di hadapannya itu hanya membisu.

“Kalau kamu gak mau jawab sekarang gapapa Nath... Ayo tidur.”

“Oya, saya boleh tidur di sebelah kamu? Sebenarnya saya tidak terbiasa tidur di sofa.” Pinta Jovan.

Nathalie hanya mengangguk saja, ia terus memandang raut wajah bos-nya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Jovan terlihat manis dan lembut kepadanya, tanpa ada secuil emosi.

Jovan kemudian berdiri dengan menggandeng tangan Nathalie dan menuntunnya untuk tidur di satu ranjang yang sama. Wanita itu hanya menurut saja. Setelah merebahkan tubuh keduanya dan mencari posisi senyaman mungkin, lalu tangan Jovan mencari kesempatan untuk bisa mendekatkan bahkan memeluk tubuh ramping Nathalie. Malam itu terasa sangat hangat bagi Nathalie, dan baru kali ini ia merasakan kenyamanan tanpa rasa takut terhadap Jovan.

Perasaan Nathalie sebenarnya tidak bisa di gambarkan saat itu, dimana ia akan meninggalkan semua rutinitas yang biasa di lakukan setiap hari. Meninggalkan ruangan yang menemaninya selama hampir dua tahun terakhir, meninggalkan tumpukan berkas-berkas penting yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dan meninggalkan orang yang pernah memberikan luka, kemudian memberikan rasa nyaman, serta kasih sayang bahkan memberikan harapan yang begitu indah. Persetan dengan semua kejadian yang pernah menimpanya kala itu. Nathalie berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan goyah sedikitpun.

Langkah kakinya mengantarkan pada satu ruang penuh dengan banyak kenangan. Awal yang buruk dan menyakitkan, hingga berubah menjadi tempat paling nyaman untuk sekedar bersenda gurau, melepas penatnya pekerjaan dan deadline yang terus memburu waktu. Di dalam ruangan tersebut sudah menunggu seseorang lelaki penuh dengan kegundahan, perasaan campur aduk tak karuan. Ya, sebentar lagi ia akan di tinggalkan oleh sekretarisnya. Dua pucuk surat di tangan kiri wanita itu adalah hadiah yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh Jovan dan lelaki itu harus bisa menerima segala macam bentuk perpisahan.

Tangan Nathalie sedikit gemetar ketika menyentuh gagang pintu, ia buka perlahan kemudian memasuki ruangan tersebut dan dua bola mata keduanya saling bertatapan.

Deg! Jantung Nathalie berdetak lebih cepat dari biasanya bahkan seperti saat mereka pertama kali bertemu. Langkah kaki Nathalie sangat pelan, lalu tersenyum tipis pada lelaki yang sedang berdiri di depan jendela kaca yang membentang di hadapannya. Sama persis saat kejadian kala itu, raut wajah yang datar tanpa ekspresi tergambar jelas. Senyum yang tak berbalas, hanya tatapan mata yang tajam ke arah Nathalie sembari menelan ludahnya sendiri.

“Jov—,”

“Nath—,”

Sapaan keduanya hampir bersamaan.

“Jov, sorry mendadak banget.”

“A-iya gak papa Nath. Ohya, duduk dulu.” Ucap Jovan sembari mengarahkan wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya untuk duduk di sofa.

“Jov, e—aku gak bisa lama-lama. Maaf, tapi—,”

“Tapi kenapa Nath?” Lelaki itu memotong kalimat yang belum selesai di ucapkan oleh Nathalie.

“Jov, ini undangan resepsi pernikahanku sama Jeremy. Kamu datang ya?” Ucap Nathalie sembari menyodorkan undangan serta satu amplop berwarna putih.

“Kapan?” Tanya Jovan sembari membolak balik amplop itu.

“Akhir tahun.” Jawab Nathalie singkat.

“Ini apa Nath?” Tanya lelaki itu sekali lagi kemudian mengambil kertas dari dalam amplop. Baru saja Jovan membuka lipatan kertas tersebut, belum lagi ia membacanya tiba-tiba Nathalie mengucapkan kalimat yang membuatnya cukup terkejut.

“Itu surat resign Jov..”

Resign?? Nath..” Jovan menatap lekat dua bola mata Nathalie dengan perasaan yang berkecamuk. Ini benar-benar sangat mendadak dan cukup membuat pikirannya menjadi kacau.

“Jovan, aku—,”

Tiba-tiba Jovan menarik lengan Nathalie dan membawa masuk ke dalam pelukannya. Wanita itu terpaku, tidak ada perlawanan bahkan pandangan matanya kosong. Nathalie merasakan pelukan yang tak biasa, kali ini terasa lebih hangat dari pelukan yang berkali-kali ia dapatkan dari lelaki itu. Jovan mendekap tubuh Nathalie sangat erat seakan tak ingin ia lepaskan, mengusap surai hitam milik wanita itu dan beberapa kali mengecup pucuk kepalanya. Jovan merasa bahwa ini adalah terakhir kalinya ia bisa memeluk wanita yang kini berada dalam dekapannya itu.

Beberapa menit setelahnya Nathalie tersadar kemudian melepaskan tubuhnya dari dekapan lelaki itu. Keduanya saling bertatapan cukup lama, Jovan merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Nathalie kemudian menyelipkan di belakang telinga.

“Nath, aku harap kamu bahagia. Bagaimanapun juga kamu pernah ada di sini.” Ucap Jovan sembari menarik tangan Nathalie dan meletakkannya di dadanya.

“Jov—,” Belum selesai Nathalie berbicara tiba-tiba Jovan menarik tengkuknya dan mencium bibir wanita itu. Nathalie seketika memejamkan matanya dan memegangi tangan Jovan yang berada di lehernya. Jantung Nathalie berdetak semakin cepat, nafasnya pun menjadi berat.

“J-Jovan aku pamit ya? Semua berkas ada di mejaku. Udah kelar semua tinggal kamu tanda tangan aja.” Jelas wanita itu. Jovan hanya menjawab dengan anggukan saja. Tangannya masih memegangi lengan Nathalie, tatapannya begitu sendu seakan berkata “jangan pergi” namun kata itu tak sanggup keluar dari mulutnya.

Jovan mengantarkan wanita itu hingga depan pintu. Menatap setiap langkah kaki Nathalie, berat sekali rasanya namun Jovan seharusnya tidak egois. Sudah ada Helena yang akan selalu ada untuknya, wanita dari masa lalu yang mencintai dirinya lebih dari apapun.

“Jov, dateng sama Helena ya? Aku tunggu.” Ucap Nathalie sebelum akhirnya keluar dari ruangan Jovan dan menutup pintu. Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala saja. Bagaimanapun perkaranya, perpisahan sudah jelas akan terasa menyakitkan.

08.30 Pesawat yang ditumpangi Hansel mendarat dengan sempurna pagi itu. Ia berjalan sedikit lebih cepat sembari fokus pada layar ponselnya untuk memesan taksi online dan tangan kirinya mendorong koper berukuran sedang. Hari itu adalah yang ditunggu-tunggu Hansel, pasalnya lelaki itu sangat rindu dengan sang kekasih. Dua bulan terakhir ini mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.

Perjalanan yang di tempuh tidak terlalu jauh dari bandara. Sekitar kurang lebih 20 menit, Hansel tiba di apartemen Ara. Perjalanan sangat singkat dan tanpa ada hambatan bahkan jalanan ibu kota tampak lengang pagi itu, seakan memberi akses untuk Hansel segera tiba di apartemen milik Ada. Setelah tiba di tempat tujuan, lelaki itu naik ke lantai 5 menggunakan lift, ia menyusuri lorong yang tampak sepi menuju unit milik kekasihnya.

Tanpa membunyikan bel, sangat di luar kepala Hansel hafal dengan pin tersebut. Kemudian menekan enam digit angka pin pada pintu smartlock door untuk membukanya. , ia sudah sangat hafal dengan pin smart lock door di depannya. Lelaki itu-pun memasuki ruang apartemen berukuran sedang dengan membawa satu koper berukuran sedang. Mata Hansel memperhatikan detail setiap ruangan, “tidak berubah.”—batin Hansel. Setelah tidak menemukan sosok yang ia cari, kemudian lelaki itu berjalan menuju kamar Ara. Lelaki itu membuka pintu kamar perlahan, hingga tidak mengeluarkan suara dan melihat Ara masih meringkuk di bawah selimut. Hansel kemudian mendekat dan perlahan naik keatas tempat tidur, memeluk tubuh Ara dari belakang dan mengendus leher kekasihnya.

“Kangen...” Bisik Hansel tepat di telinga kekasihnya.

“Hmm...” Suara yang keluar dari bibir Ara sedikit parau, karena rasa kantuk yang belum hilang. Hansel menyingkap selimut yang menutupi tubuh kekasihnya, ia ingin memastikan Ara sudah mengenakan lingerie yang ia minta atau belum.

“Ra .. kenapa lo gak pakai lingerie-nya?”

Ia mendapati kekasihnya masih mengenakan piyama tidur model terusan di atas lutut.

“Masih mager Hansel.. Mau bangun aja males banget.” Jelas Ara sembari menarik selimutnya lagi. Tanpa di sangka Hansel turun dari tempat tidur dan meninggalkan Ara. Wanita itu menengok kebelakang, ketika sadar ia tinggalkan oleh Hansel.

“Sel, lo mau kemana? Kok udahan peluknya?”

“Mules Ra, bentar ya.. gak lama kok.” Hansel berlari kecil ke kamar mandi. 15 menit kemudian ia keluar dengan wajah tampak berbeda, kemudian meninggalkan kamar Ara tanpa menghiraukan gadis itu.

“Hansel!” Ara sedikit berteriak memanggil nama kekasihnya, namun tidak dijawab oleh lelaki itu. “Aneh”—batin Ara. Wanita itu beranjak dari tempat tidur dan segera mencari dimana Hansel berada. Ia melihat kekasihnya sedang berdiri didekat meja makan, meminum sekaleng Coca-Cola dan tiba-tiba meremas kaleng itu hingga penyok. Ara mendekat perlahan lalu memeluk tubuh kekasihnya dari belakang, tetapi pelukan itu di lepaskan oleh Hansel.

“Hansel, kamu kenapa?” Tanya Ara.

Lelaki itu tidak menjawab, tatapan matanya sangat tajam kearahnya. Hansel perlahan mendekati Ara, dan wanita itu berjalan mundur hingga langkahnya terhenti di depan meja makan. Kedua tangan Hansel bertumpu di atas meja makan mengunci tubuh Ara didalamnya. Lelaki itu menatap lekat dua bola mata Ara. Sedari tadi ia merasa aneh dengan sikap Hansel yang tiba-tiba berubah .

Detik kemudian tangan Hansel meraih tengkuk wanita itu dan melumat bibirnya dengan kasar. Ara cukup kaget dan berusaha mengimbangi ciuman panas itu. Tak berapa lama Ara mendorong tubuh Hansel karena dirasa ia sudah kehabisan nafas. Ara mencoba mengatur nafas dan menatap wajah Hansel penuh rasa penasaran.

Tanpa aba-aba, Hansel mengangkat tubuh Ara keatas meja makan dan merobek piyama yang dikenakannya dengan sekali tarik hingga kancingnya terlepas dan berserakan di lantai.

“Hansel, why? Kasar banget..”

Lagi-lagi Hansel tidak mempedulikan apa yang di dengarnya. Sepersekian detik lelaki itu kembali menyambar dan melumat bibir Ara dengan kasar, ciumannya lalu berpindah ke telinga hingga leher. Menyesapnya dan meninggalkan bekas kemerahan di sana. Tangannya dengan leluasa memainkan payudara wanita itu karena ia tak mengenakan bra. Hansel terus meremas dan memutar putingnya, membuat Ara nampak pasrah dengan alur yang di ciptakan kekasihnya.

Setelah puas memainkan payudaranya, ia lalu menyesapnya seperti bayi kelaparan, memainkan dengan lidahnya.

“Ngghh.. Sel..” lenguhnya. Kedua tangannya bertumpu pada meja kerja yang berada di sebelahnya. Hansel kemudian melepaskan celana dalam yang dikenakan Ara dan membuangnya ke sembarang arah. Lalu mengangkat kedua kaki gadis itu keatas meja, menampilkan lubang vagina yang sudah basah. Tanpa aba-aba Hansel memutar klitorisnya dengan kasar membuat gadis itu mendesah dengan keras. Desahannya menggema keseluruh ruangan.

“AAHHH ... HANSEL ...”

Jemari Hansel terus memutar klitorisnya dan sesekali menekan-nekannya. Dan detik berikutnya lelaki itu melesatkan kedua jarinya kedalam lubang kenikmatan milik Ara. Ia mengocok lubang itu dengan kasar dan cepat.

“Punya lo udah basah banget Ra ..”

Lelaki itu terus mengocok dan mengobrak-abrik lubang surgawi di bawah sana. Sedangkan gadis di hadapannya itu terus mengeluarkan desahan-desahan tanpa henti, tubuhnya terasa melayang saat merasakan permainan panas yang di ciptakan oleh Hansel.

“Ngghh.. Aaahh.. ” Lenguhan itu keluar lagi dari bibir Ara. Ketika tangan hansel masih bermain-main di dalam lubang vagina milik Ara, sedangkan angan satunya memilin dan memutar payudaranya hingga membuat tubuhnya melengkung dan bergetar.

“Hansel! Aahhh... Aku ma-u keluaarr... Aaahhh...”

Gadis itu merasakan hendak mencapai pelepasannya, ia mendongakkan kepalanya dan semakin mendesah tak karuan. Mendengar itu Hansel semakin mempercepat kocokannya dengan menatap wajah kekasihnya yang nampak berantakan karena ulahnya.

“SEL ! AAAHHHHH......”

Akhirnya wanita itu sampai pada pelepasannya. Tubuhnya bergetar hebat, deru nafasnya semakin tak beraturan. Kemudian Hansel di melepaskan kedua jarinya dari dalam sana, tak sampai disitu ia lalu turun kebawah mensejajarkan wajahnya dengan lubang vagina milik Ara. Hansel menyesap lubang vagina yang basah itu dan sesekali memainkan klitorisnya dengan lidah. Hansel benar-benar menyesap semua cairan di bawah sana hingga bersih.

“Aahh.. Hansel cukup!”

Hansel lalu berdiri dan menggendong gadis itu ala bridal style menuju kamar mandi. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Hansel dan menatap setiap garis wajah kekasihnya.

“Sel, kok udahan? Kamu gak pengin?”

Sungguh dingin, sikap Hansel benar-benar aneh. Ia membisu, tak menjawab pertanyaan kekasih. Ia terus berjalan kearah kamar mandi. Hansel menurunkan wanita itu dan, membantu membersihkan tubuh Ara. Ia menutup sedikit pintu kamar mandi, dan menanyakan sesuatu yang dilihatnya sejak tadi.

“Itu kaos siapa Ra? Lo bawa cowok ke apartemen?”

Deg!

“E-Itu punyaku.” Jawab Ara, asal. “Jadi ini yang membuat Hansel tiba-tiba berubah menjadi dingin?!”—batin Ara.

“Gak mungkin punya lo, itu bau parfum cowok.” Lanjut Hansel. Wanita itu terdiam, ia memutar otak untuk menjawab pertanyaan.

“Sel, yok udahan.. Dingin airnya.” Pinta Ara pada kekasihnya, kemudian Hansel mengambil handuk berwarna putih dan menutupi tubuh Ara dengan handuk tersebut, Saking rasa sayangnya Hansel terhadap gadis itu, ia menggendong tubuh kekasihnya lagi dan mendudukkan di atas tempat tidur. Mengambil pakaian dari lemari serta membantu mengenakannya.

“Hansel..”

“Hm..” jawab Hansel singkat.

“Itu beneran kaos gue tapi parfumnya punya Marcell. Kemarin kehabisan parfum jadi waktu di kampus minta punya Marcell.” Jelas Ara.

Hansel hanya membisu dan menatap wajah kekasihnya masih dengan rasa penasaran. Mungkin saja Hansel berpikir Ara selingkuh dibelakangnya karena mempertahankan hubungan jarak jauh itu cukup sulit. Sedangkan Ara mencoba meyakinkan Hansel. Ia pun tak mau kehilangan kekasihnya.

Hansel, Marcell dan Ara adalah tiga sahabat dari SMA. Kedua lelaki itu sama-sama menyukai Ara dari dulu, tetapi Marcell cukup ciut untuk menyatakan cintanya pada Ara. Dan yang terjadi, Hansel malah lebih dulu memacarinya. Persahabatan mereka tetap berlanjut sampai saat ini. Namun Hansel dan Ara terpaksa terlibat LDR setelah ayah Hansel di pindah tugaskan oleh perusahaan, dan harus memboyong seluruh keluarganya.

Kini Ara menjalani hidupnya setengah untuk Hansel dan setengahnya lagi untuk Marcell. Ia tak munafik jika saat ini Marcell selalu ada disaat Ara membutuhkan apapun.

Daisy Dresses and Gowns

Tepat di hari Minggu, Jeremy dan Nathalie pergi ke sebuah butik untuk fitting gaun pengantin. Pemilik Daisy Dresses and Gowns adalah kenalan dari mama Jeremy. Sebelumnya sang mama sudah memberi tau bahwa hari ini anak dan calon menantunya akan berkunjung, jadi pemiliknya-pun menunggu kedatangan dua sejoli itu.

Dengan senyum sumringah Jeremy dan Nathalie bertemu dengan beberapa karyawan yang membantu memilih gaun untuk di coba. Entah sudah gaun ke berapa namun belum ada yang cocok di tubuhnya. Tak lama suara yang tak asing di telinga Nathalie menyapanya.

“Nathalie..” Sapa wanita itu.

Jeremy dan Nathalie sontak menoleh ke arah belakang dimana suara itu berasal. Nathalie beranjak dari duduknya lalu tersenyum sedikit kaku karena pemilik butik tersebut adalah Ibu Daisy, lebih tepatnya mama Jovan. Wanita paruh baya itu mendekati Nathalie dan mengusap lengannya perlahan.

“Jadi kamu yang mau menikah? Nih, tante baru aja design gaun dan baru aja selesai di garap. Kamu coba dulu, pas atau enggak. Nanti tinggal di benahi dikit-dikit kalau ada yang kurang pas.” Tutur wanita paruh baya itu, lalu meminta asistennya membawa gaun yang baru saja selesai di kerjakan.

Nathalie mencoba gaun tersebut dan merasa cocok dengan modelnya. Ukurannya juga sudah sangat pas di tubuh Nathalie, tanpa harus di benahi.

“Gaun ini sebenernya mau tante simpan di rumah, karena ini tidak akan di keluarin untuk display.” Ucap Daisy sembari memegangi lengan Nathalie.

“Kenapa tidak di display tante?” Tanya Nathalie, saling menatap dengan Daisy lewat pantulan cermin di depannya.

“Tante nyicil buat calon-nya Jovan. Padahal tante juga belum tau siapa orangnya.”

“Jovan bukannya balikan lagi sama Helena, tante?”

“Oh, balikan? Jovan cuma bilang kalau ketemu sama Helena lagi. Tapi tidak bilang kalau mereka pacaran lagi.” — “Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu yang lebih dulu menikah, jadi gaun ini kamu saja yang pakai.”

“Tapi tante,—”

“Sudah, tidak apa-apa. Tante besok bisa design lagi yang baru.” Jelas Daisy dan tersenyum pada Nathalie. Wanita paruh baya itu kemudian memeluk Nathalie dan mengusap lembut punggungnya sembari berbisik.

“Semoga lancar ya, doa tante kamu bahagia menjalani rumah tangga kedepannya.”

“Terima kasih tante. Tante udah baik banget sama aku.”