Shooting Sport

Malam itu Jevan sedang menghadiri acara ulang tahun teman kuliahnya, Joseph. Sebelumnya ia sudah berjanji pada kekasihnya, Lucia untuk pulang lebih awal karena wanita itu tidak berani tinggal sendirian di apartemen yang cukup besar terutama pada malam hari. Lucia kini tinggal bersama dengan Jevan di apartemennya. Memilih untuk meminta lelaki itu menemaninya tinggal di bersama setelah sahabat Lucia pindah sebulan yang lalu.

22.30 Jevan meninggalkan riuhnya acara pesta ulang tahun temannya, dan segera bergegas mengemudikan mobilnya menuju apartemen Lucia. Sekitar kurang lebih 30 menit perjalanan, ia tiba di sebuah apartemen yang cukup mewah. Jevan memarkirkan mobilnya di basement, lalu memasuki gedung dan menaiki lift menuju lantai 10.

Lelaki itu menekan pin pada pintu smart lock dan membukanya dengan penuh tenaga. Ia berjalan sedikit gontai karena efek alkohol yang ia minum di pesta tadi. Jevan mendapati seluruh lampu ruangan menyala. Tv di ruang tamu pun menyala, padahal Lucia berada di kamarnya sedang melihat drama series favoritnya. Seperti itulah Lucia jika di tinggal kekasihnya pada malam hari, ia akan menyalakan semua lampu dan Tv. Mengeraskan volumenya agar ia tak merasa sendirian.

Jevan memasuki kamar kekasihnya dan melihat Lucia sedang duduk di atas bean bag dengan menampilkan tubuh mulusnya, ia mengenakan tanktop crop dan celana sangat pendek hanya menutupi bokongnya saja. Melihat pemandangan di depan matanya, ia tersenyum miring sambil menggaruk kepalanya. Sedangkan Lucia hanya menatap saja dan tetap melanjutkan aktivitasnya menonton drama series.

Tubuh Jevan sedikit terhuyung berjalan kearah wanita itu dan langsung memeluk erat tubuhnya. Lucia sadar bahwa lelakinya itu tengah dipengaruhi alkohol, baunya sangat menyengat. Ia mendorong tubuh Jevan agar menjauh darinya, Lucia tak tahan dengan bau itu. Tetapi lelaki disebelahnya bebal, tak mau beranjak dari sama bahkan lebih mengeratkan lagi pelukannya.

“Jev, minggir ah. Bau banget, gue gak tahan.” Ucapnya setengah berteriak dan masih berusaha melepaskan pelukan yang semakin membuatnya sesak hampir tak bisa bernafas. Jevan hanya cengar cengir tanpa dosa, sesekali mengecup leher dan telinga Lucia hingga ia merasa geli.

“Jev, ihh. Mandi dulu sana! Pintanya, tetapi tetap saja tak di hiraukan oleh Jevan.

“Lo pakai baju beginian itu sengaja ya mau ngajakin gue olahraga?” Tangan lelaki itu cukup nakal meraba perut dan dada Lucia.

“Lepasin gak?! Mandi dulu sana!”

Akhirnya Jevan melepaskan pelukannya dan berjalan kearah kamar mandi. Sepuluh menit berlalu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah kamar mandi.

“Sayang ambilin handuk.....”

“Ck.... Kebiasaan.” Decak Lucia kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengambilkan handuk untuk Jevan. Ia mengambil handuk di lemari kecil yang terletak di dekat pintu kamar mandi. Lucia bersungut sambil berkacak pinggang melihat kekasihnya mandi tanpa menutup pintu hingga terpampang pemandangan yang cukup senonoh.

“Ah elah! Punya laki kelakuan mesum! Pintunya di tutup kek, aurot lo kelihatan Jev.. Dosa!” Pekik Lucia karena cukup sebal dengan kelakuan pacarnya.

“Kenapa sih? Lo juga suka kan?”

“Dihh..”

“Tolong dong taruh di wastafel..” pinta Jevan. Wanita itu lalu berjalan memasuki kamar mandi dan menaruh handuk sesuai perintah kekasihnya.

Baru membalikkan badan tiba-tiba dari arah belakang, Jevan menarik lengan Lucia kearahnya dan mendekap gadis itu seakan tak mau ditinggalkan.

“Jev, basah.. gue udah mandi dodol!” Apa-apaan sih lo?!”

“Udah diem dulu.” Ucap Jevan dengan tangan yang mulai nakal meraba tiap jengkal tubuh Lucia.

“Jev!” Lanjut Lucia setengah berteriak, namun tak di hiraukan oleh kekasihnya. Jevan malah mencium dengan paksa, terus mendekap dan tangannya meraba tubuh Lucia. Sungguh wanita itu tak bisa berkutik dan akhirnya ia pasrah dengan perlakuan Jevan.

Air yang mengalir dari shower terasa hangat membasahi tubuh keduanya yang terlibat adegan cukup panas. Jevan terus menghujani banyak ciuman di bibir, telinga serta leher Lucia. Wanita itu hanya mengikuti setiap pergerakan yang di ciptakan oleh kekasihnya, biasanya memang Jevan yang selalu mendominasi.

Jevan melepaskan semua yang menempel di tubuh Lucia, menciumi setiap lekuk tubuh wanitanya yang mulus. Meraba payudara, meremasnya dan memutar-mutar putingnya.

“Ngghhh.... Jev ...” Lenguhnya. Lelaki bertubuh kekar itu membalikkan tubuh wanita yang di dekapnya itu, lalu melumat bibirnya penuh nafsu dan sedikit menuntut. Lucia membalas lumatan itu sedikit kasar, saat ia mulai turn on. Tangannya meraba penis besar milik kekasihnya, ia gerakkan naik turun membuat Jevan mengeluarkan erangan .

“Uhhggg... Babe.. “

Wanita itu terus mengelus penis kekasihnya yang sudah keras dan menegang. Jevan mulai menciumi leher dan telinga Lucia lalu menyesapnya sampai terlihat bekas kemerahan di lehernya. Setelah meninggalkan banyak *kissmark di sana, ciuman itu kemudian turun kebawah dan berhenti di dua gundukan payudara milik Lucia. Jevan meremasnya lembut dan memainkan putingnya yang sudah menegang, tangan satunya meraba vagina Lucia yang mulai basah karena permainannya yang mulai memanas.

“Mmpphh... Ahh...” Desah Lucia kala jemari Jevan menyapa klitorisnya. Tanpa aba-aba dua Jevan memasukkan dua jari sekaligus ke dalam lubang kenikmatan milik kekasihnya. Sangat mudah bagi Jevan karena milik Lucia sudah sangat basah.

“Aaahhh.... Jev!” Lucia tersentak dan meremas lengan kekasihnya.

Tangan Jevan mengeluarkan masukkan jarinya dengan tempo cepat, mengobrak-abrik lubang surgawi di bawah sana. Lucia mengalungkan kedua tangannya di leher kekasihnya karena tubuh wanita itu mulai goyang dan kakinya sedikit bergetar.

“Jev .. ce-cepetin.. sshhh .. aahhh... ” Desahnya terus menerus membuat Jevan semakin bersemangat, mengocok lebih cepat lagi. Ia tau kekasihnya sebentar lagi akan mencapai pelepasannya yang pertama.

“Ngghhh... Aaahhhh... Jev, a-aku mau ke-keluaarr...” Kaki Lucia mulai bergetar dan tubuhnya menggeliat. Tiba-tiba Jevan mengeluarkan jarinya begitu saja, padahal Lucia belum mencapai orgasme.

“Ahh! Brengsek lo Jev, kenapa di lepas?!” Teriaknya kesal. Raut wajah wanita itu perlahan memerah.

“Lo gak mau pakai punyaku sayang? Jangan jangan ngambek ntar cantiknya ilang.” Goda Jevan dengan menatap kedua bola mata kekasihnya lalu mengecup keningnya.

“Mau....” Lanjut Lucia.

“Balik badan dulu.” Jevan mengarahkan tubuh Lucia untuk berbalik menghadap ke tembok. Tangannya menekan pinggul wanita itu agar lebih condong. Tanpa aba-aba lelaki itu melesatkan penis besarnya ke dalam lubang vagina Lucia dengan sekali hentakan.

“AAAHHHH JEV ...” Pekik Lucia. Tanpa persiapan lubangnya dihujam penis besar dan berotot milik kekasihnya hingga vaginanya terasa penuh. Jevan terus menggoyangkan pinggulnya, memaju mundurkan dengan sedikit cepat.

“Sayang.. punya sempit banget, enak.” Racau Jevan kala merasakan penisnya terjepit lubang vagina milik Lucia yang selalu terasa sempit. Padahal hampir setiap hari mereka bercinta. Sesekali ia hentakkan penisnya hingga menyentuh g-spot kekasihnya hingga membuat gadis itu mengerang.

“Aaahhh... Jev... Fuck me harder, babe...” Lucia semakin meracau tak karuan. Tangan kiri Jevan memegangi pinggul wanita itu sedangkan tangan kanannya bermain-main dengan klitorisnya. Ia memutarnya dengan kasar dan terus menyodok lubangnya dengan keras membuat Lucia tak tahan dan ingin segera mencapai klimaksnya.

“Ngghhh.. Jev.. aku ma-u keluarr aahhh..”

“Keluar bareng ya s-sayang.. ughhh...”

Jevan terus memaju mundurkan pinggulnya, mempercepat temponya dan pada hentakan terakhir, ia melepaskannya bersamaan dengan Lucia. Tubuh wanita itu menggelinjang hebat dan bergetar, kakinya melemah hingga tak kuat menopang tubuhnya sendiri.

“Egghhh.... “

“Aahhh....”

Mereka mendesah bersamaan kala sama-sama mencapai klimaksnya. Jevan melepaskan penisnya perlahan. Cairan keduanya mengalir di sela kedua paha Lucia. Lelaki itu menahan tubuh kekasihnya agar tidak jatuh, ia lalu membantu membersihkan tubuh Lucia. Ia mengecup kening gadis itu dan tersenyum puas. Jevan mengambil handuk dan membalutkan pada tubuh kekasihnya lalu menggendong keluar dari kamar mandi.

Jevan mendudukkan wanita itu di tepi tempat tidur, kemudian mengambil piyama di dalam lemari pakaian serta membantu mengenakannya. Jevan juga bergegas mengambil boxer dan memakainya lalu naik keatas tempat tidur, merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Lucia.

“Jev, maksud lo apa gak pakein gue celana dalam?”

“Sini peluk, tidur. Besok pagi ada serangan fajar.” Ucap Jevan seraya menarik tangan kekasihnya kedalam pelukan. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi keduanya. Jemari Jevan terus mengusap-usap pucuk kepala Lucia hingga wanita itu terlelap. Tak lama lelaki itupun menyusulnya ke alam mimpi.