On You

Part. 4 Cool Blooded

Malam itu Clara sibuk mengutak-atik alat memasaknya. Rencananya ia ingin membuat ayam panggang untuk makan malam. Di atas kitchen counter sudah lengkap bahan dan beberapa bumbu di siapkan. Di sela kegiatannya, Clara melirik arloji yang menempel pada tangan kirinya, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia berhenti sejenak lalu bergumam sendiri.

“Kok udah jam 10 sih? Apa delivery order makanan aja ya?”

Wanita itu kemudian menarik satu kursi di hadapannya, ia-pun duduk dan merogoh ponsel yang berada di saku jaketnya. Clara sibuk mencari restoran yang melayani delivery hingga 24 jam, pada akhirnya wanita itu mengurungkan niat memasaknya. Karena hari sudah mulai larut serta rasa malas muncul secara tiba-tiba.

Clara sama sekali tidak menyadari Dave sudah berada di rumahnya, entah sejak kapan. Lelaki itu menyiapkan makan malam untuk Clara. Hanya dalam hitungan detik, Dave dapat merampungkan satu menu yang siap di santap oleh wanita itu. Dave bukan manusia, ia sosok vampir yang mempunyai kekuatan sihir. Tidak sampai satu menit, potongan ayam, dan beberapa bumbu yang tergeletak di atas kitchen counter tersebut sudah berubah menjadi ayam panggang mentega.

“Makan dulu, Clara.” Ucap Dave sembari membawa satu piring saji berisikan ayam panggang mentega yang siap untuk di santap.

“Dave! Ka-kamu?” Wanita itu cukup shock dengan kehadiran Dave yang sangat tiba-tiba.

“Makan aja, gak ada racunnya kok.” Tutur lelaki itu, tangannya bertumpu di atas meja makan dan matanya menatap wanita yang saat ini duduk di hadapannya. Awalnya Clara sedikit ragu dengan makanan itu, tetapi ia sangat lapar dan sudah tidak tahan dengan aroma wangi dari hidangan tersebut. Clara sangat lahap menyantap ayam panggang itu hingga menyisakan tulang-tulangnya saja. Dave masih sibuk mengamati gerak gerik wanita itu sembari tersenyum, Clara sadar lalu berniat menawarkan beberapa potong ayam panggang yang masih ada di piring saji.

“E—Dave, kamu mau makan juga? Ini masih ada, aku juga gak akan habis.” Ucap Clara sembari meneguk segelas air putih.

“Habisin aja Ra, aku gak makan makanan manusia.”

Uhuk.. Uhuk.. Uhukkk...

Clara tersedak oleh air putih yang ia minum akibat mendengar jawaban Dave. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri berkali-kali agar rasa sesaknya hilang. Dave-pun merasa panik lalu menghampiri Clara dan mengusap punggung wanita itu.

“Kamu gak apa-apa Ra?”

“Gapapa Dave, gapapa. Kalau kamu gak makan makanan manusia terus makan apa?” Tanya Clara sedikit penasaran.

“Darah.” Jawab lelaki itu singkat. Jawaban yang di lontarkan Dave membuat Clara kaget dan sontak berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mundur dan menutupi lehernya dengan kerah jaket yang ia kenakan.

Oh God.. Dave, jangan dekat-dekat! Aku gak mau mati muda!”

Dave terkekeh ketika mendengar celotehan wanita itu. Dave tidak akan menghisap darah Clara, lelaki itu bisa menahan asalkan bagian tubuh Clara tidak ada yang terluka atau mengeluarkan darah. Indera penciuman Dave sangat tajam, terutama dengan aroma darah segar.

Dave mendekat ke arah wanita yang sedari tadi mematung memandangi sosok vampir yang kini sedang berdiri di hadapannya. Dave mengusap lengan Clara, memberikan rasa tenang dan meyakinkan wanita itu agar tidak takut dengan kehadirannya. Clara bak tersihir oleh ucapan Dave, ia mulai merasa nyaman dan rasa takutnya perlahan menghilang.


One Month Later

Dave hampir setiap hari mendatangi kediaman Clara. Ia hanya menampakkan diri di malam hari saja. Menemani sang tuan rumah menghabiskan malam dengan sibuk menulis cerita fiksinya tentang vampir dan manusia. Ada perasaan yang bergejolak di hati Dave kala berhadapan dengan Clara, berbicara dengan wanita itu bahkan saat mereka bersentuhan. Namun sosok vampir itu tak pernah tau apa yang di rasakan selama ini.

Semakin lama, Clara semakin terbiasa dan seakan bergantung pada Dave. Kehadirannya setiap malam selalu di tunggu oleh wanita itu, bahkan Clara sering kali terjaga hingga dini hari hanya untuk menunggu kedatangan Dave. Terkadang ketika Dave tak berkunjung ke rumahnya, hal tersebut membuat Clara kesepian. Ia sudah terbiasa, bahkan sangat terbiasa dengan Dave. Senyum Dave, wajahnya yang tampan, bola mata berwarna merah yang tajam, menjadi candu bagi Clara Emiliana.

Sudah satu bulan lebih Clara sama sekali tidak pernah berkunjung ke Cafe Marrakech miliknya. Selama itu pula, adik laki-lakinya yang mengelola cafe tersebut. Clara lebih memilih menghabiskan waktu di rumah dengan Dave. Waktu dan pikiran Clara kini di penuhi sosok vampir tampan yang berhasil mencuri hatinya. Ya, Clara mungkin sudah gila dan terdengar tidak masuk akal. Tapi pada kenyataannya wanita itu sekarang sedang jatuh cinta pada Dave.