Is Lost
Nico bergegas menyusul Jovan yang sudah menunggunya di parkiran. Ketika jam makan siang, lobi terlihat lebih ramai. Para karyawan keluar masuk kantor untuk keperluannya masing-masing. Nico sedikit berlari kecil untuk mempercepat langkahnya agar cepat sampai di parkiran.
Jovan sudah berada di dalam mobil dan sedang sibuk dengan ponselnya. Tak lama Nico masuk ke dalam mobil kemudian mengenakan seat belt.
“Ayo Jov, laper gue.” Ucap Nico sembari menepuk lengan Bos-nya.
Jovan-pun menaruh ponselnya pada saku kemeja dan sesegera mungkin mengemudikan mobilnya. Kendaraan roda empat itu berputar-putar tak tentu arah, sudah melewati beberapa resto juga cafe namun tidak berhenti di salah satu tempat tersebut. Jovan masih fokus pada kemudi meskipun pikirannya entah kemana. Sesekali Nico melirik ke arah sahabatnya itu, ia paham dengan raut wajah Jovan yang tidak seperti biasanya.
“Lo kenapa? Mikirin Nathalie?” Tanya Nico tanpa basa basi.
“Hm?”
“Lo mikirin Nathalie? Sampai gak tau arah mau makan dimana.” Ucap Nico sedikit kesal, namun bagaimana-pun juga lelaki di sebelahnya itu masih sahabatnya. Jovan hanya diam, ia terus melajukan mobilnya. Asal.
Jovan sama sekali tidak lapar, sesungguhnya ia hanya ingin melepas penat setelah di tinggal Nathalie. Lelaki itu tidak munafik, rasa sayangnya terhadap Nathalie masih ada meskipun ia sudah ikhlas melepaskan wanita itu bersama Jeremy.
“Gue ngerasa kehilangan Nathalie.” Kata Jovan tiba-tiba.
“Jov, sekarang lo mending fokus sama Helena. Cewek lo sekarang Helena. Lo sama Nath udah end.” Cecar Nico. Kali ini kekasih Adel ini benar-benar kesal melihat tingkah Jovan.
“Kalau gue bilang udah gak sayang sama Nathalie itu munafik. Gue ngerasa ada sesuatu yang hilang, Nic.” Tutur Jovan sembari memutar kemudi. Berbelok ke kiri kemudian memarkirkan mobilnya di depan sebuah Resto. Nico tidak membalas percakapan Jovan, ia turun dari mobil kemudian meninggalkan sahabatnya yang masih duduk di belakang kemudi.