The Orphic

Langit tampak begitu cerah, langit berwarna biru. Sinar mentari yang hangat menyeruak masuk melalui celah jendela kaca. Alarm berbunyi nyaring sedikit mengusik ketenangan, jemari mungil terlihat meraba arah sumber suara yang berada di atas nakas.

Netranya masih terpejam saat meraih ponsel itu. Mengetuk asal pada layar ponsel dan meletakkannya sembarang. Kala mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian duduk di tepian ranjang sembari mengumpulkan tenaga.

Hari ini pertama kalinya ia bekerja sebagai sekretaris. Kala tidak ingin terlambat, ia harus mempersiapkan semua dengan sebaik mungkin.


“Del, thank you ya udah di anterin, lo hati-hati.” Ucap Kala sembari melepaskan seat belt dan turun dari mobil Adel. Pagi itu sebenarnya Kala ingin berangkat menggunakan taksi online atau gojek, namun Adel tidak tega membiarkan sahabatnya itu berangkat sendiri di hari pertamanya bekerja. Bahkan jarak rumah Adel ke JCC Holdings cukup memakan waktu, kurang lebih tiga puluh menit perjalanan.

Kala berjalan pelan, memasuki gedung yang sudah tidak asing baginya. Masih sama seperti tiga tahun lalu, hanya beberapa ornamen di dalam ruangan saja yang sedikit berubah. Langkahnya menuntun ke sebuah lift yang akan mengantarkannya ke lantai empat. Beberapa orang di sana memandangi dirinya, mungkin di mata karyawan lain sosok Kala memang masih asing.

Ting! Kala tiba di lantai empat, jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia melirik arloji yang menempel di tangan kirinya tepat pukul 07:55 sedikit lebih cepat dari waktu yang di tentukan. Wanita itu merasa lega karena tidak terlambat untuk menghadap Jovan. Setibanya di depan ruangan yang bertuliskan CEO Office, jantung Kala benar-benar seperti lepas dari posisinya. Ia memegangi dadanya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskan nafasnya perlahan.

Tok tok tok...

Klek...

Kala membuka pintu ruangan tersebut. Melangkahkan kakinya perlahan dan di sambut oleh udara dingin yang mencekat. Seluruh tubuhnya di buat merinding karena suhu udara benar-benar sangat dingin. Kala menghembuskan nafasnya sedikit kasar sebelum akhirnya mengayunkan kakinya ke tempat dimana Jovan berdiri.

Lelaki berperawakan tinggi itu sudah menantikan kehadiran Kala. Ia tengah berdiri di depan dinding kaca yang terbentang luas sembari memandang hiruk pikuk ramainya jalanan ibu kota. Dua tangannya ia lipat di depan dada, Jovan terlihat maskulin ketika mengenakan setelan jas berwarna hitam dan rambut yang tertata rapi. Bahkan wajahnya lebih tampan di bandingkan tiga tahun lalu.

Jovan menoleh ke arah wanita yang tengah berdiri di sebelahnya, dua tangannya kini ia masukkan ke dalam saku celana. Kedua mata mereka saling bertemu, tanpa berkedip sedetikpun.

“Kala..”

“Iya Jov, eh Pak Jovan.” Jawab Kala gugup.

“Panggil Jovan gapapa, nggak usah terlalu formal. Kecuali kalau di depan klien.” Tutur lelaki itu dengan tatapan yang dingin dan tajam. Kala merasa Jovan bukanlah yang dulu ia kenal, raut mukanya terlihat datar, berbicara seperlunya dan tatapan matanya begitu dingin.

“Kamu bisa ke ruangan, Kal.”

“Hari ini nggak begitu sibuk, kamu bisa duduk dan menerima pengajuan proposal dari klien via email.” Jelas Jovan. Lelaki itu berjalan ke arah meja kerjanya kemudian duduk dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

Kala masih berdiri di tempat yang sama, sedikit aneh baginya. Pertemuan dan hari pertama ia bekerja sama sekali tidak ada kesan manis, hanya rasa yang sangat hambar.

“Ehm...” Lelaki itu berdeham, sembari melirik ke arah Kala yang masih membeku di sana. Kemudian menyeruput secangkir kopi yang berada di atas meja kerjanya. Wanita itu terhenyak, kemudian berpamitan pada Jovan dan meninggalkan ruangan itu.

“A-aku ke ruangan dulu.” Ucap Kala, kemudian di jawab dengan anggukan oleh Jovan.

08.45

Pesawat yang di tumpangi Kala mendarat dengan sempurna. Pagi itu cuaca tidak begitu cerah, langit ibu kota terbalut awan kelabu. Kala menuntun satu koper berukuran sedang, berjalan keluar dari area bandara. Netranya cukup jeli mencari sosok sahabat yang sudah lama tak bersua.

Dari jarak kurang lebih lima meter, terlihat Adel melambaikan tangannya sembari tersenyum. Ia bersandar pada bagian depan mobilnya ketika sedang menunggu Kala.

“Lo nunggu lama Del?” Tanya Kala, menyambut pelukan dari sahabat lamanya.

“Nggak, baru sepuluh menitan. Yok masuk.” Pinta Adel, ia membuka bagasi mobilnya guna meletakkan koper milik Kala.

“Kal, gue anter lo pulang ke rumah gue kan.. Lo sarapan, tidur, apa aja terserah anggap rumah sendiri. Gue mau ngantor, biasanya gue balik jam empat. Kalau nggak ngaret. Hehe..” Ujarnya. Kala tersenyum sembari menatap Adel yang berada di belakang kemudi. Ia menggunakan seat belt setelah duduk dan mencari posisi yang nyaman.

“Maaf ya Del, gue baru aja sampai udah ngerepotin lo.” Jawab Kala singkat.

“Gue nggak merasa di repotkan. Oke? Pokoknya anggap rumah sendiri.” Jelas Adel, tangannya sangat mahir memutar kemudi. Lalu meninggalkan area bandara secepat mungkin. Hari itu Adel sedikit terlambat ke kantor karena harus menjemput Kala dan mengantarnya pulang terlebih dahulu. Tetapi tidak masalah bagi Adel, ia sudah meminta ijin terlebih dahulu pada atasannya.

Sesampainya di rumah Adel, wanita itu terduduk lesu. Ia memikirkan untuk segera mendapatkan rumah kontrakan atau satu unit apartemen dengan biaya sewa yang tidak terlalu mahal. Kala harus bisa me-manage uang sebaik mungkin, karena ia juga harus membagi dengan biaya kuliah adik perempuannya.

Kala merebahkan tubuhnya pada sofa di ruang tengah. Ia merasa sungkan jika terlalu lama tinggal di rumah itu, karena Adel adalah orang paling baik yang ia kenal sejak dulu. Tidak terasa kedua mata Kala terpejam dan tak perlu menunggu lama wanita itu menjemput mimpinya.

Seorang wanita paruh baya menghampiri anak perempuannya. Mengusap punggungnya lembut kemudian duduk di tepi ranjang, di setelahnya satu koper yang hampir terisi penuh dengan pakaian. Wanita itu menatap lamat wajah sang anak. Ya, dialah tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahnya setelah di tinggal sang suami untuk selamanya.

“Kamu mau ninggalin mama? Kerjanya jauh banget.” Ucap wanita itu. Tangannya sangat terampil melipat beberapa pakaian yang masih tergantung pada hanger.

“Ma.. Nanti aku sering-sering vidcall sama mama. Lagian aku kerja juga buat bantu keuangan mama. Luna masih butuh biaya banyak buat kuliah.” Tutur Kala. Terbesit satu senyuman namun dalam hatinya sedikit sakit. Ia harus meninggalkan orang tua satu-satunya dan seorang adik perempuan. Tidak ada pilihan lain, toh Kala merasa semua tanggung jawab ada di tangannya.

“Kala.. Kamu ada cukup uang, tidak?” Tanya sang mama.

“Ada ma, aku masih punya tabungan. Cukup buat beberapa bulan, nanti kan aku dapet gaji.” Jelas Kala. Wanita itu kemudian duduk di sebelah sang mama dan memeluknya erat. Bulir-bulir air mata-pun jatuh membasahi pipinya. Kala sesegera mungkin mengusapnya agar sang mama tidak melihat.

“Ma, aku nggak akan ngecewain mama. Aku kerja keras buat mama sama Luna.”

“Mama percaya sama kamu, kalau kamu nggak betah sama kerjaan pulang aja ya? Nggak perlu dipaksakan.” Ucap wanita itu sembari mengusap pipi sang anak. Kala tersenyum dan mengangguk, kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya.

Setelah memarkirkan mobilnya, tanpa ada rasa canggung Adel memasuki gedung JCC Holdings dengan menenteng satu amplop berwarna coklat berisikan surat lamaran pekerjaan milik Kala.

Wanita berambut hitam itu sudah tau betul di mana letak ruang kerja Jovan dan tanpa harus membuat janji terlebih dahulu, Adel bisa menemui Jovan kapan saja. Adel tersenyum tipis sembari menundukkan sedikit kepalanya untuk menyapa staf karyawan yang berada di resepsionis. Kemudian melangkah menuju lift dan menggunakannya untuk naik ke lantai empat.

Di setiap sudut juga sisi dalam gedung tersebut seperti mengingatkan kembali memori lama wanita itu. Tentu saja bukanlah memori yang patut di kenang, namun serpihan luka yang bertebaran. Ia berjalan pelan diantara koridor yang tampak lengang. Ya, beberapa orang sedang berada di ruang meeting termasuk Jovan dan Nico.

klek...

Wanita itu memasuki ruangan yang cukup besar, bertuliskan CEO office. Dua bola matanya sibuk mengamati isi dalam ruangan, berjalan perlahan kemudian meletakkan amplop coklat itu di atas meja kerja Jovan.

Langkah kakinya menuntun ke arah sofa yang tak jauh dari tempat ia berdiri , lalu merebahkan tubuhnya perlahan. Ia sempat melirik arloji yang menempel di tangan kanannya, menunjukkan pukul 12.40 dan sudah waktunya jam makan siang namun Jovan belum juga keluar dari ruang meeting. Pendingin ruangan siang itu benar-benar seperti hipnotis, Adel yang masih nyaman di tempatnya kini bersiap memejamkan mata. Wanita itu menyilangkan kakinya dan melipat dua tangannya di depan dada. Tubuhnya beberapa kali mencari posisi paling nyaman dan tak lama matanya-pun terpejam.

Sekitar lima belas menit setelahnya, seseorang tanpa mengetuk pintu memasuki ruangan itu. Lelaki bertubuh tinggi dan gagah, serta aroma wangi semerbak mengusik indera penciumannya tengah berdiri di dekat sofa. Adel beberapa kali mengerjapkan matanya guna melihat sosok yang sedikit mengusiknya.

“Jov..an.. Dari kapan lo disini?” Tanya Adel sembari memperbaiki posisi duduknya.

“Bisa-bisanya masuk ke ruangan gue tanpa ijin.” Kata Jovan, lelaki itu kemudian duduk di sebelah Adel. Mendengar celetukan sahabatnya, wanita itu hanya terkekeh dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Surat lamaran gue ya Jov, pokoknya lo harus nerima gue jadi sekretaris. Biar gue bisa tiap hari pacaran sama Nico.” Ujarnya sembari mengibaskan rambutnya.

“Males punya sekretaris bucin.” Jawabnya dengan senyum seringai.

“Eh, Del.. Tadi lo bilang gak di bolehin sama Nico. Kenapa lo nekat? Ntar ribut, berantem, nangis.” Lanjut Jovan, setengah meledek. Sedangkan Adel hanya tersenyum tipis dan merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang beberapa kali bergetar. Wanita itu kemudian menatap layar ponsel beberapa saat, membaca pesan yang masuk. Tak lama ia beranjak dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan Jovan.

“Jov, gue cabut ya.. Gue di cariin si bos.” Ucap Adel sembari menepuk lengan Jovan.

“Oke.. Eh, lo gak nyamperin Nico?”

“Gak, ntar bos gue ngomel kalau kelamaan.” Jawab Adel. Ia melangkah pergi hendak meninggalkan ruangan itu, namun tiba-tiba di tahan oleh Jovan. Lelaki itu menarik lengan Adel, hingga membuatnya sedikit kaget lalu menghentikan langkahnya.

“Bentar Del, ini di benerin dulu.” Ujarnya sembari mengikat tali simpul pada bagian belakang baju yang di kenakan Adel. Wanita itu diam dan tiba-tiba hatinya berdesir. “Brengsek Jovan, bikin deg-degan aja!”— batin Adel.

Thank you.” Balasnya singkat lalu meninggalkan Jovan.

Adel keluar dari ruangan itu, berjalan sedikit cepat sembari menyentuh dadanya pelan. Jantungnya baru saja berdetak lebih cepat dari biasanya.

Awal mula cerita ini terjadi satu tahun setelah kepergian sang belahan jiwa.

Jovan, menjalani kehidupan yang semestinya dan normal. Kisah lalu, sudah ikhlas di lepaskan. Terkadang kenangan masih saja tinggal, namun semua ingatan yang sarat akan luka dan rasa kecewa sudah ia pendam jauh di palung terdalam.

Hari itu dan seterusnya, ia bulatkan tekad untuk fokus pada pekerjaannya. Bukan lagi wanita, juga bukan tentang cinta.


Ralia Kalana.

Panggil dia Kala, wanita yang tidak banyak bicara namun sangat ramah.

Kala bukanlah orang baru di keseharian sang Adam. Tiga tahun lalu, wanita itu pernah menjadi rekan kerja ketika sama-sama menapak dari titik nol.

Kini cerita mereka bermula dari sini. Suka dan duka, kisah sedih serta luka terbentuk saat dua insan itu bertemu kembali.


LETTERELESS, Januari 2022 Story by: @deorphic

Pt. 13 Cold Blooded CW / Mature content 🔞

“Kita mau kemana?” Tanya Clara di tengah perjalanan mereka.

“Pulang.” Jawab Dave singkat.

“Pulang???”—batin Clara. Namun wanita itu tidak menjawab, ia menatap sesaat Dave yang fokus pada kemudinya.

Hujan semakin deras membuat jarak pandang menjadi lebih kecil. Hawa dingin semakin menusuk, sweater yang ia kenakan pun tak mampu menghangatkan tubuhnya. Dave lebih banyak diam, sesekali wanita itu menoleh dan memandang ke arah Dave. Tangannya meremas ujung sweater, jantungnya berdetak lebih cepat. Clara terus mencoba tenang.

Tidak lama, mungkin hanya perlu waktu sepuluh menit saja untuk sampai di kediaman Dave. Sebuah rumah yang cukup unik bernuansa klasik terlihat sangat apik berdiri gagah di tengah kota. Tidak seperti rumah pada umumnya, halamannya di penuhi beberapa pohon rindang dan lantai bawah lebih banyak menggunakan dinding kaca. Rumah itu memang terlihat lebih teduh, namun terlihat lebih nyaman.

Dave turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Clara, di tangan kanannya membawa payung guna melindungi dari terpaan hujan. Dua insan itu memasuki rumah yang cukup besar itu. Tampak sunyi, ketika melewati ruang tengah tangan Dave melambaikan tangan ke arah perapian dan wuss... Api mengepul dari sana, seperti sihir.

“Clara..”

“Hm?” Wanita itu menoleh ke arah Dave saat ia tengah berdiri di depan perapian.

“Baju kamu basah? Naik ke atas, ganti baju.”

Clara mengangguk pelan kemudian mengayunkan kakinya menuju lantai atas. Wanita menghentikan langkahnya ketika sampai di ruang besar itu. Design ruangan kamar hampir sama dengan miliknya di Transylvania. Satu ruang besar terdapat beberapa rak buku yang cukup tinggi, menghubungkan ruang kerja dengan kamar Dave. Sebuah ranjang besar, dan balkon dengan letak posisi yang hampir sama dengan miliknya. Clara sangat takjub, ia merasa kembali ke Transylvania sekarang.

Wanita itu kemudian duduk di tepi ranjang, mengusap perlahan sprei berwarna putih dengan motif yang benar-benar sama persis dengan miliknya. Clara mengusap wajahnya dengan dua tangan seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Ruangan itu seperti memutar kembali banyaknya kenangan bersama Dave. Batinnya sangat kalut, ia menundukkan kepala. Dua tangannya memijit pelan pelipis bersamaan dengan hembusan nafas kasar, dadanya terasa sesak. Tidak mengetahui kapan Dave berada di sana, bahkan suara derap langkah kakinya saja tidak terdengar. Lelaki itu mengusap pundaknya pelan, hingga membuyarkan lamunannya.

“Dave, siapa yang design ini?” Ucap Clara, wanita itu kemudian berdiri dan menatap lekat dua bola mata berwarna coklat milik lelaki yang kini berdiri di hadapannya.

“Aku. Kenapa?”

“Dave, design ruangan ini persis kayak kamarku.” Ucap Clara.

Dave tersenyum dan melihat sekeliling ruangan.

“Gambaran ruangan ini udah lama ada di pikiranku. Tapi aku nggak pernah ingat ada di mana.” Jelas Dave.

Dave menatap lekat Clara, dari ujung kepala hingga kaki. Ia masih mencoba untuk mengingat kembali dengan jelas siapa Clara. Dadanya selalu terasa sakit jika menatap mata wanita itu. Dave ingin tau seberapa jauh ia mengenal Clara.

Suara petir menyambar mengiringi deras hujan yang tak kunjung reda. Beberapa kali Clara terlihat mengusap lengannya, hawa di ruangan itu memang sangat dingin. Perlahan Dave mendekati Clara, mengusap lengan wanita itu. Keduanya saling menatap, jantung Clara berdetak lebih cepat dari sebelumnya, darahnya berdesir cepat.

“Dingin?” Dave berucap.

Wanita itu mengangguk sembari mengusap-usap telapak tangannya dan meniupnya pelan. Dave berjalan pelan mendekati Clara. Mengusap pucuk kepala wanita itu, kemudian turun mengusap pipi sang puan. Detik berikutnya, Dave meraih tengkuk Clara dan mencium bibirnya lembut, hembusan nafas yang menyatu lewat pagutan bibir mereka. Menyalurkan kehangatan di setiap decapan dan lidah yang saling bertaut. Hampir terbawa suasana, dan Clara-pun tersadar. Ia mendorong pelan dada bidang Dave agar sedikit menjauh darinya. Lelaki itu mengusap pipi Clara dengan pelan dan lembut.

“Clara, maaf..”

“Maaf aku baru mengingatmu sekarang. Aku—,”

“Aku nggak peduli, Dave!” Ucap Clara, dua tangannya melingkar pada perpotongan leher Dave dan mencium bibir lelaki itu. Ciuman keduanya lamat menjadi lumatan yang begitu candu. Menyesap tiap sisi pada bibir masing-masing, menciptakan rasa nikmat dan menyalurkan rada rindu yang menggebu. Air mata Clara menetes, membasahi pipinya, Dave-pun tersadar dan menyudahi ciuman itu.

“Kamu kenapa nangis? Aku sekarang disini Ra, kamu nggak perlu nyari aku lagi.”

“Dave, jangan pergi...” Ucapnya seraya merangkul tubuh lelaki itu dengan sangat erat. Air matanya tumpah entah sudah berapa kali. Usahanya untuk membuat Dave mengingat dirinya-pun tidak sia-sia. Lelaki itu membalas pelukannya, mengusap punggung sang puan berkali-kali guna memberikan rasa nyaman dan tenang. Tiba-tiba saja Dave melepaskan pelukannya, lengan pakaiannya terasa dingin dan basah.

“Ra, ganti baju dulu ya? Nanti kamu sakit.” Ujarnya sembari melepas sweater berwarna coklat muda yang di kenakan Clara.

Seketika itu Dave dan Clara saling menatap lekat dua bola mata masing-masing. Seakan memberi isyarat bahwa dalam diri keduanya sedang menahan ribuan rindu yang terpendam satu tahun lamanya. Entah dorongan dari mana, tangan Dave perlahan meraba dari ujung tangan wanita itu kemudian berhenti pada pundaknya. mengusapnya dengan lembut dan menarik tali simpul hingga terlepas.

Clara-pun tak tinggal diam, ia mendekatkan tubuhnya dan menarik sweater turtleneck berwarna hitam yang di kenakan oleh Dave. Tangannya menelusup kedalam sweater, menariknya ke atas dan melepaskan dari tubuh lelaki itu. Menit kemudian Dave memberikan serangan bertubi-tubi pada bibir Clara, melumatnya sembari melepaskan tali simpul satunya hingga mempermudah untuk melucuti pakaian yang di kenakan oleh wanita itu.

Setelah tanktop satin itu terlepas dari tubuh sang puan, tangan Dave kemudian turun ke bawah. Melepas kancing juga resleting celana milik Clara tanpa melepas pagutan keduanya. Decapan bibir mereka semakin lekat hingga menimbulkan suara khas, terdengar lebih keras dari sebelumnya membuat libido wanita itu naik dengan cepat.

Dave mengangkat tubuh Clara, membawanya pada ranjang besar di sebelahnya. Merebahkan tubuh wanita itu sembari mendaratkan kecupan berkali-kali mulai dari bibir, leher dan berhenti pada dua gundukan payudara Clara yang masih di lapisi bra berwarna hitam. Dave melepaskan kaitan bra itu hanya dalam sekali percobaan, melepaskannya dan membuang ke sembarang arah. Tak terasa hari itu sudah menjelang malam, ruang kamar Dave menjadi lebih redup. Hawa dingin yang masuk kedalam ruangan tersebut sangat mendukung untuk menciptakan kehangatan lewat penyatuan kedua raga yang haus akan erotika.

Lenguhan dan desahan mulai mengisi ruang tersebut, hamparan buku, ruang kerja yang kosong serta lukisan kastil yang terpasang pada dinding menjadi saksi bisu dua jiwa yang menyatu. Clara tak henti-hentinya melenguh dan mendesah kala Dave mulai melesatkan miliknya ke dalam tubuh Clara.

Dave menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang pelan, ia tak ingin menyakiti Clara. Dalam tubuh Dave, separuhnya masih mengalir darah vampir. Kekuatannya tidak akan pernah bisa imbang dengan manusia. Dave kerap kali memberikan sentuhan lembut, membelai surai hitam milik Clara, mengecup singkat mata juga bibirnya membuat sang puan merasa lebih nyaman, dan tenang. Dave menambah tempo hentakan sedikit lebih cepat, sesekali mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik terdalam milik Clara. Membuat sang puan melengkungkan tubuhnya, hingga hampir menjemput pelepasannya.

“D-Dave.. Ahh.. Pleaseee...” Lenguhan dan rintihan wanita itu nyaring terdengar di telinga Dave.

Dave mengecup mencium bibir Clara, sembari mendorong penuh miliknya hingga keduanya mencapai klimaks dalam waktu yang bersamaan. Clara melenguh kencang, tangannya mengeratkan pelukan di tubuh Dave kala cairan penuh kasih keduanya melebur menjadi satu di dalam sana. Lelaki itu beberapa kali mendaratkan kecupan lembut di bibir Clara.

Sang puan masih menengadahkan kepada seraya mengatur nafasnya yang memburu. Dave mengusap peluh di wajah Clara, lalu mencium keningnya pelan hingga beberapa detik. Lelaki itu melepaskan miliknya dari tubuh Clara, kemudian berbaring di sebelahnya. Dave tak pernah bosan memandangi wajah wanita itu, mengusap pipinya dan tersenyum.

Dave menarik selimut tebal dan menutupi tubuh wanita itu hingga atas. Keduanya saling berhadapan dan menatap lekat dua bola mata masing-masing.

“Berendam pakai air hangat yuk..” Pinta Dave. Kemudian di jawab dengan anggukan oleh Clara.

“Selesai mandi aku di antar pulang ya, Dave? Takut Selina nyariin. Tadi aku pamit perginya nggak akan lama.” Ucap Clara tiba-tiba. Lelaki itu mengernyitkan dahinya. Kemudian merubah posisi, menyangga kepalanya dengan satu tangan sembari menatap wajah Clara.

“Pulang kemana? Ini rumahmu.”

“Dave! Jangan ngaco deh..” Ucap Clara, tangannya mendorong pelan dada bidang lelaki itu. Dave hanya terkekeh melihat tingkah Clara.

“Aku serius Ra, buktinya aku bikin design sama persis kayak rumahmu di Transylvania.” Ujarnya.

“Ra, sekarang aku udah ingat kamu lagi, kita ketemu disini, aku punya rumah yang bisa kita tinggali berdua. Masih kurang?” Cecar Dave. Wanita itu membeku dan tak bergeming. Air mata Clara sudah di pelupuk dan hampir luruh. Ia bahagia bisa bertemu dengan lelaki yang selama ini menghilang. Namun sampai kapanpun mereka berbeda, Clara selalu merasa mereka tidak akan pernah bisa bersama.

“Dave, kita beda... Aku dan kamu nggak akan pernah bisa sama-sama.”

Tap! Dada lelaki itu tiba-tiba saja sakit seperti tertusuk benda tajam.

“Ra, aku sekarang hampir jadi manusia. Tapi di dalam darahku masih mengalir darah vampir. Aku bisa jadi manusia seutuhnya kalau menikah dengan wanita yang lahir di bulan Oktober tepat di bulan purnama.” Jelas Dave. Mendengar kalimat itu sontak Clara memeluk lelaki itu dan menangis sejadi-jadinya. Dadanya sesak karena tangis yang tertahan, namun secerca harapan timbul malam itu. Clara lahir di bulan Oktober tepat pada saat bulan purnama. Jika memang aturan harus seperti itu, Clara sangat rela menikah dengan Dave. Clara bersedia memberikan seluruh kehidupannya untuk Dave.

“Dave, aku lahir bulan Oktober malam bulan purnama! Kita bisa menikah! Kamu bisa jadi manusia, Dave!!” Ujarnya sembari menggoyangkan tubuh lelaki itu.

“Semoga...” Ucap Dave singkat.

“Semoga??? Kamu nggak percaya sama aku?” Clara sontak beranjak dari tempat tidur. Ia tak mengerti dengan jawabannya Dave.

“Ra, dengerin aku. Satu tahun lagi aku disini, setelah itu aku kembali ke Transylvania. Kamu mau ikut? Kita ketemu Raja.” Jelas Dave. Clara mengangguk penuh keyakinan.

“Kalau kita nggak bisa menikah, kamu nggak akan bisa berubah jadi manusia. Gigit aku Dave, ambil darahku. Setelah itu kita menjadi sama dan nggak akan pernah berpisah.”

END.


Hi! Cold Blooded short au, tamat ya! Terima kasih sudah mau menunggu update cerita ini. This story special for: @xyaranna

Kritik, saran, kesan dan pesan: Drop on my CC & TL. CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic

THANK YOU

Pt. 12 Cold Blooded

Langit sore tiba-tiba saja mendung. Baru beberapa saat lalu teriknya matahari terasa menyengat. Ketikan hatinya gundah dan kalut, Clara memilih melangkah pergi meninggalkan apartemen Selina. Lima belas menit sebelumnya Clara sudah memesan taksi online. Setibanya di lobi, taksi tersebut sudah berada di depan gedung apartemen.

Cuaca hari itu sangat mendukung dirinya untuk sekedar minum kopi di sebuah cafe yang dulu sering ia kunjungi. Dua puluh menit perjalanan tibalah Clara di Epic Coffee. Dalam cafe itu cukup ramai pengunjung, dua bola mata Clara menelisik ke seluruh ruangan namun ia tak menemukan meja yang kosong. Sedikit kecewa namun ia sudah sampai di sana setidaknya Clara bisa menikmati secangkir caramel macchiato favoritnya.

“Mas, ada yang kosong nggak ya?” Tanya Clara pada waiters di sana.

“Masih ada satu meja kosong kak, sebelah sana. Silahkan kakak memesan terlebih dahulu.” Ucap waiters tersebut sembari menunjuk arah meja kosong yang di maksud, terletak di sebelah dinding kaca. Clara mengangguk kemudian ia memesan secangkir kopi.

Caramel macchiato mas.”

Caramel macchiato kak.”

Dua kalimat terucap secara bersamaan. Dan keduanya menoleh ke arah sumber suara, saling menatap satu sama lain.

“Dave..”

“Hm.. Oh, Clara?”

“Kita nggak sengaja ketemu di waktu dan tempat yang sama.” Ujarnya. Sembari menunggu kopi yang ia pesan.

“Kebetulan aja.” Jawab Dave ketus.

Clara tersenyum tipis kemudian berlalu meninggalkan Dave. Dalam hatinya cukup kesal dengan sikap Dave yang terlalu dingin tetapi wanita itu tak bisa protes.

Clara berjalan menuju satu meja kosong yang terletak di samping dinding kaca. Di susul seorang waiters yang membawakan kopi pesanannya. Ia duduk sendiri, menatap riuhnya jalanan ibu kota. Meskipun pandangan matanya fokus pada kendaraan yang berlalu lalang, namun pikirannya entah dimana. Bayangan wajah Dave terus menghantui Clara, hingga kerap kali membuatnya frustasi.

Selagi menyeruput kopinya pelan, detik kemudian ia di kagetkan oleh suara yang tak asing di telinganya.

“Aku boleh join disini?”

Clara menoleh ke arah sumber suara, menatap Dave beberapa saat.

“Boleh.” Jawab Clara singkat. Memasang muka datar, kemudian memalingkan pandangannya ke arah luar. Jantung Clara berdetak lebih cepat dari biasanya, begitupun Dave. Lelaki itu beberapa kali melirik, mencuri pandang pada tanpa sepengetahuan Clara.

Clara enggan berbicara, menurutnya menjelaskan dengan beribu-ribu kata tetap saja Dave tidak akan ingat dengan dirinya dan Transylvania. Wanita itu masih tak bergeming, hanya menikmati pemandangan rintik hujan yang turun.

“Kopinya di minum, keburu dingin.” Ucap Dave tiba-tiba. Wanita itu sedikit terkejut, pasalnya Dave adalah orang yang sangat dingin terlebih pada dirinya. Dan detik ini, Dave memulai perbincangan mereka.

“Dave, aku boleh tanya sesuatu?”

Lelaki itu mengangguk sembari menghabiskan sisa kopi di cangkir berwarna putih.

“Dave, kamu pernah tinggal di Transylvania?

Dave membeku, ia mengingat sesuatu tentang Transylvania. Lelaki itu terdiam sesaat, melempar pandangan ke arah luar dan mencari jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan Clara.

Transylvania?

“Kenapa?” Tanya Dave.

Clara tersenyum, menatap bola mata Dave. Semua kenangan bersama lelaki itu kembali muncul, dadanya terasa sesak ketika mengingat hal paling indah yang ia lakukan dengan Dave.

“Waktu tinggal di Transylvania, aku pernah mengenal seseorang. Sampai akhirnya aku punya perasaan lebih ke dia. Kesalahan terbesar di hidupku, karena kami berbeda. Lelaki itu bernama Dave, sama kayak nama kamu. Wajahnya, tinggi badannya, postur tubuhnya sama persis kayak kamu. Tapi tiba-tiba dia pergi, dengan alasan yang nggak bisa aku pahami.” Jelas Clara memulai ceritanya. Kalimat terakhir-pun terhenti. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Jika ia mengingat saat di tinggalkan oleh Dave, hatinya terasa sakit.

Clara meneguk sisa kopi di cangkirnya lalu berdiri. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam tasnya.

“Dia cuma ninggalin surat ini.” Clara meletakkan satu lembar kertas yang terlipat rapi di hadapan Dave.

“Aku duluan ya, bentar lagi hujan.” Lanjut Clara. Wanita itu akhirnya pergi meninggalkan Dave yang masih membeku melihat Clara berlalu begitu saja.

Dave membuka lebaran kertas itu dan membacanya. Tulisan di dalam kertas itu sama persis dengan miliknya. Lelaki itu berpikir keras tentang apa yang di lihatnya. Samar-samar ia mengingat pernah menulis di selembar kertas berwarna coklat muda itu. Tetapi kapan? Dimana?

Clara?

Dave pun beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat sekeliling dalam cafe namun sosok wanita yang ia cari sudah hilang dari pandangan matanya. Dave berjalan sedikit lebih cepat, keluar dari cafe dan mencari Clara. Samar Dave melihat wanita berambut panjang berjalan pelan di sepanjang trotoar. Rintik hujan kelamaan menjadi semakin deras. Dave berlari ke arah wanita itu, bersamaan air yang tiba-tiba turun menghujani bumi.

Clara menghentikan langkahnya, menutupi kepala dengan kedua tangannya. Lalu berlari kecil hendak mencari tempat untuk berteduh. Tiba-tiba saja tangan kirinya di tarik oleh seseorang dari belakang.

“Ah!” Clara memekik, kaget ketika ada seseorang secepat kilat membawa kedalam pelukannya.

“D-Dave..” Bisiknya lirih. Aroma tubuhnya sama persis dengan sosok vampir yang ia temui satu tahun lalu. Detak jantung Clara berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dadanya sedikit sesak hingga air mata seketika tumpah. Hujan yang membasahi tubuhnya menyamarkan setiap tetes air mata yang tak tertahan. Clara membeku, tak bergeming. Ia tidak percaya dengan situasi saat itu. Detik itu juga Dave memeluknya dengan sangat erat. Menyalurkan rasa hangat di tubuhnya. Rasa nyaman yang pernah hilang kini kembali lagi, inilah yang sekian lama di cari oleh Clara. Ia menemukannya, wanita itu mendapatkannya kembali.

“Hujan, Clara.” Bisiknya lirih, sembari membuka payung berwarna hitam guna melindungi Clara dari terpaan air hujan yang cukup deras. Dave melepaskan pelukan diantara keduanya, menatap lekat wajah Clara yang terlihat kuyup. Tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir Dave, lelaki itu menggenggam tangan Clara dan membawanya masuk ke dalam mobil bernuansa hitam tak jauh dari sana. Tanpa penawaran, dan tidak ada penolakan dari wanita itu.

Part. 11 Cold Blooded

“Sinting!”

Satu kata yang terlontar dari bibir Selina ketika Yohan memberitahu bahwa Clara berada di kamar Dave. Semalam Selina juga terlalu banyak minum hingga tidak begitu memperhatikan sahabatnya. Seharusnya Clara menjadi tanggung jawabnya karena dari awal ia yang terus memaksa agar Clara ikut ke acara tersebut.

Selina bergegas keluar dan menunggu Yohan di depan kamar Dave. Tak berapa lama lelaki berhidung bangir itu berlari kecil menghampiri sang kekasih.

“Sel, jangan emosi dulu ya? Semalem Dave cuma nolongin Clara. Dia keluar kamar tapi gak bawa cardlock jadi gak bisa masuk ke kamar lagi.” Jelas Yohan. Sedangkan Selina hanya mengangguk namun masih dengan raut wajah sedikit kesal.

Ting Tong....

Dave membuka pintu kamarnya kemudian dua sejoli ini masuk sedikit tergesa. Langkah keduanya terhenti saat melihat Clara masih terpejam dan berbalut selimut tebal. Selina dan Yohan saling melemparkan pandangan.

“Sel, bentar lagi dia bangun.”

Dave berjalan mengambil arloji yang berada di atas nakas dan memasang di tangan kirinya. Saat ia membalikkan badan, samar terlihat tangannya mengusap pucuk kepala Clara.

“Gue balik duluan ya..” Ucap Dave lagi, sembari menepuk bahu Yohan.

Setelah Dave keluar dari kamar hotel, saat itu juga Clara terbangun dari tidurnya. Selina menghampiri sahabatnya lalu duduk di tepi ranjang.

“Lo gapapa kan?”

“Sel, Dave dimana?” Tanya Clara, matanya memutari ruangan sekitar untuk memastikan lelaki yang ia cari berada di sana atau tidak. Namun sia-sia, Dave sudah pergi.

Mendengar pertanyaan itu Selina dan Yohan saling menatap, keduanya mencoba mencerna apa yang sesungguhnya terjadi. Baru saja semalam Clara bertemu dengan Dave, tapi seolah-olah sahabatnya sudah mengenal lama sosok kepala HRD itu.

“Mandi gih, terus sarapan.” Pinta Selina sembari menyibak selimut yang menutupi tubuh Clara.

“Sel, gue pengen pulang. Kalau lo mau sarapan dulu sama Yohan gapapa. Gue pulang duluan naik taksi.” Tutur Clara. Ia benar-benar ingin pulang.

“Ya ayo pulang. Sarapan di apart aja, nanti gue pesenin makan.” Sahut Yohan. Selina mengangguk tanda setuju, tanpa menjawab apapun.

Part. 10 Cold Blooded

Clara mencoba menutup matanya namun gagal. Jika saja ia bisa tidur, Clara ingin segera tidur dan bermimpi. Suhu pendingin udara di dalam ruang tersebut buktinya tak sanggup mendinginkan tubuhnya. Sempat beberapa kali mencari posisi yang nyaman pada tapi sia-sia. Wanita itu-pun bangun, tanpa alas kaki ia berjalan keluar dari ruang kamarnya.

Pandangan matanya masih kabur, langkah kakinya gontai. Bahkan ia keluar tanpa membawa cardlock. Clara berjalan pelan tak tau arah, satu tangannya bertumpu pada dinding untuk menopang tubuhnya. Di dalam pikirannya saat itu hanya ingin mencari udara segar.

Baru beberapa langkah, Clara berhenti. Ia sandarkan tubuhnya pada dinding dan memejamkan matanya sebentar. Kepalanya masih pusing dan terasa berputar. Tiba-tiba suara yang tak asing di telinganya menyerukan suara lirih di dekatnya.

Are you oke?

Clara membuka matanya perlahan dan mengusapnya untuk memastikan ia tidak salah lihat kali ini.

“Dave...” Ucapnya sembari memegang tangan lelaki itu.

“Kamu pakai kamar Yohan? Ayo aku bantu, mana cardlock-nya.” Kata Dave, ia sempat memegang dua lengan wanita itu karena hampir terjatuh. Sedangkan Clara menggelengkan kepalanya, ia tak membawa apapun selain tubuhnya sendiri. Memang terlihat konyol, tapi ini Clara dan ia sedang di bawah pengaruh alkohol.

Lamat-lamat dari kejauhan suara beberapa orang sedang bersenda gurau yang berjalan ke arah mereka. Sedangkan posisinya sekarang berdua dengan Clara, dan sang puan dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar. Dave bergerak cepat membuka pintu kamarnya dan membawa tubuh Clara, menggendongnya ke dalam kamar. Dave berpikir jika gerombolan orang itu adalah bawahannya, ia tidak mau image-nya menjadi buruk akibat kesalahpahaman.

Dave menggendong Clara seperti bridal dan merebahkan tubuh wanita itu di atas ranjang besar. Tangan Clara yang semula melingkar di perpotongan leher Dave, kini meremas dan menarik kemeja Dave.

“Dave...” Suaranya lirih, nafasnya berhembus di telinga lelaki itu.

Dave perlahan melepaskan tangan Clara, mengusap pipinya beberapa kali. Dalam hitungan detik, bak seperti sihir dan akhirnya wanita itu tertidur. Ajaib! Dave menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuh Clara, kemudian ia duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang tidurnya. Ia menatap lamat sosok wanita bernama Clara.

Dave mencoba mengingat kembali masa lalunya namun gagal. Ia sama sekali tidak mengingat apapun. Wanita itu merasa mengenal dirinya namun Dave sama sekali tidak. Hingga pagi menyingsing Dave masih terjaga di sana, mengamati setiap inci raut wajah Clara sembari meminum wine. Entah sudah berapa botol yang ia habiskan malam itu.

Part. 9 Cold Blooded

Setelah di bujuk beberapa kali akhirnya Clara setuju untuk ikut di acara perayaan kenaikan jabatan Yohan sebagai kepala divisi dan perkenalan kepala HRD baru. Kedua wanita itu pergi menggunakan taksi online menuju hotel yang di tentukan. Tak perlu lama, perjalanan sekitar dua puluh menit mereka sampai di hotel.

Clara dan Selina sama-sama mengenakan dress berwarna hitam, berjalan menuju ballroom yang berada di lantai lima. Keduanya menjadi pusat perhatian para rekan kerja yang turut hadir disana sejak mereka memasuki tempat tersebut. Tidak terkecuali Yohan yang memandangi sang kekasih dari kejauhan terlihat sangat cantik dan anggun.

Selina menggandeng Clara agar sahabatnya ini tidak terpisah darinya. Membelah puluhan manusia yang sedang asik berbincang, beberapa orang bahkan menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik Dj yang bergema memenuhi seluruh ruangan. Clara sama sekali tidak memperhatikan sekeliling, ia fokus pada Selina yang berjalan di depannya hingga menemukan mejanya.

Satu meja yang berisikan empat kursi kosong memang tampak lengang. Sedangkan di sebelahnya sudah penuh bergerumul orang. Clara tidak mengenal siapapun disitu kecuali Yohan dan Selina. Jadi ia berpikir untuk tetap diam di tempat, menikmati sajian di hadapannya. Beberapa botol Champagne dan wine sudah tersaji diatas meja. Satu orang waiters di sebelahnya sudah siap melayani tamu di meja tersebut.

“Ra, minum sepuasnya gak usah sungkan. Lo teler, tenang.. Ada gue sama Yohan.” Ucap Selina sembari meneguk satu gelas berisi wine yang hampir penuh hingga habis tak tersisa. Setelah itu waiters kembali menuangkan minuman ke dalam gelas milik Selina.

“Sinting. By the way mana Yohan?” Tanya Clara, gelas ke dua berisi wine yang sudah ia habiskan.

“Kayaknya ada di depan. Ini kan acara dia sama si bapak.” Jelas Selina.

“Oh...” Jawab Clara singkat. Ia kembali menikmati minuman yang semakin lama semakin memabukkan itu.

Sudah tak terhitung berapa gelas ia habiskan, botol kosong sudah mulai di ganti dengan botol yang baru. Menuangkan ke dalam gelasnya sendiri, ia teguk sampai habis dan menuangkan kembali. Seperti itu terus hingga berulang kali. Pandangan mata Clara sudah mulai kabur, tubuhnya terasa seribu kali lebih ringan.

Clara tidak sadar ketika Selina sudah hilang dari pandangan matanya. Entah sahabatnya itu sekarang berada dimana. Dua bola matanya menelisik ke beberapa titik tetapi efek alkohol yang membuat pandangannya kabur membuat orang-orang di hadapannya terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Ia pusing, langkah kakinya gontai. Wanita itu berusaha berjalan dengan semestinya, membelah kumpulan manusia di hadapannya.

Wanita itu terus berjalan sempoyongan namun tetap berusaha tegak dan berjalan lurus kedepan hingga tubuhnya tidak sengaja menyenggol lengan seseorang lelaki.

“Aw, sorry.. Sorry...” Ujarnya, lalu Clara pergi begitu saja tidak sadar dengan keadaan yang sebenarnya. Gelas berisi champagne di tangan kiri lelaki tersebut tumpah dan membasahi jas berwarna abu yang di kenakan oleh kepala HRD itu.

“Ra! Clara!” Pekik Selina setengah berteriak namun sahabatnya seakan tuli.

“Pak, maafin temen saya. Cewek yang tadi temen saya. Duh.. Jas bapak basah, gimana ya?” Tutur Selina agaknya panik karena sosok lelaki tersebut adalah kepala HRD yang punya acara malam itu.

“Sel, cari Clara. Itu bocah mabok kan? Takut ilang di culik om-om.” Perintah Yohan pada kekasihnya.

“Oke, aku tinggal bentar ya?” Kata Selina pada Yohan, dan lelaki itu mengangguk.

“Pak, saya tinggal dulu ya? Mau nyari temen saya tadi.” Ucap Selina pamit meninggalkan tempat itu kemudian mencari sahabatnya. Setelah membelah kerumunan orang di hadapannya dan keluar dari ballroom, Selina mendapati Clara sedang bersandar di lorong yang tampak sepi sembari memegangi kepalanya.

“Ra, lo mau kemana?” Selina menarik lengan Clara hingga hampir terjatuh.

“Mau pipis, udah gak tahan.”

“Ayo ikut gue.” Ucap Selina sembari memegangi lengan sahabatnya dan membawa wanita itu ke toilet. Lima belas menit setelahnya Clara-pun keluar dari toilet dan kembali ke ballroom bersama Selina. Untuk yang kedua kali, wanita itu di tuntun oleh Selina agar tidak hilang atau terjatuh karena tubuhnya cukup limbung.

Beberapa langkah sebelum akhirnya tiba di meja tempatnya tadi, Clara menghentikan langkahnya. Selina ikut berhenti dan menoleh ke belakang.

“Apa Ra? Mejanya di depan itu.” Ucap Selina sembari menunjuk arah depan dimana Yohan dan seorang lelaki duduk di sebelahnya.

Clara sontak melepaskan genggaman tangan Selina. Berjalan cepat ke arah meja itu, tatapannya tajam kedepan.

“Ra..!” Pekik Selina namun sahabatnya tidak mempedulikan dirinya. Wanita itu-pun berjalan sedikit cepat di belakang Clara.

“D-Dave...” Ucap Clara terbata, air mata sudah di pelupuk dan hampir saja tumpah. Saat ini yang ia rasakan hanyalah ribuan rindu yang menumpuk, satu tahun sudah ia simpan. Rasa cintanya terhadap Dave yang tak tersampaikan hanya ia pendam jauh di palung terdalam. Clara sendiri yang merasakannya, ia sendiri yang menanggungnya. Tidak ada seorangpun tau bahkan percaya sedikitpun tentang dirinya dan Dave.

“Ra, lo kenal Pak Dave?” Tanya Selina sembari menggoyangkan lengan sahabatnya yang semenit lalu terpaku menatap sosok kepala HRD yang duduk di sebelah Yohan. Sedangkan Selina menatap Clara lalu Yohan bergantian.

“Ra!”

Clara tidak peduli dengan Selina yang sedari tadi ingin menyadarkannya. Jika kali ini ia bermimpi, Clara benar-benar ingin memohon agar tidak terbangun lagi. Wanita itu lebih baik tinggal di alam mimpi bersama Dave.

“Dave....” Suaranya bergetar. Clara berjalan pelan menghampiri lelaki yang ia anggap sebagai Dave. Benar-benar sangat mirip sosok vampir yang ia temui di Rumania satu tahun lalu. Yang membedakan hanya bola matanya saja, Dave mempunyai bola mata berwarna merah sedangkan milik lelaki di hadapannya ini berwarna coklat.

Lelaki yang awalnya duduk akhirnya berdiri, beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap Clara, aneh. Lelaki itu sama sekali tidak mengenalnya tetapi dadanya tiba-tiba terasa sakit sejak melihat sosok wanita bernama Clara.

“Sel, siapa dia?” Tanya Dave pada Selina.

“Temen saya Pak, namanya Clara. Dia tadi yang gak sengaja nyenggol bapak.” Jelas Selina, ia cukup bingung dengan situasi saat ini.

“Dave, kamu gak kenal aku?” Tanya Clara. Sedang Dave hanya menggelengkan kepala saja. Lelaki itu benar-benar tidak mengenali Clara.

“E.. Gue ke toilet dulu ya..” Ucap Dave pada Yohan dan pergi meninggalkan tempat itu. Clara hanya bisa menatap sosok lelaki yang selama ini ia rindukan pergi begitu saja dari hadapannya.

“Ra, lo kenal Pak Dave? Jawab gue!” Kata Selina sembari mencengkeram kedua lengan Clara.

“Sel, dia vampir yang gue kenal di Rumania. Itu yang gue ceritain ke lo.”

“Udah.. Udah.. Gue anter ke kamar ya? Gue tau lo mabok. Mending lo tidur.” Pinta Selina. Ia menatap iba sahabatnya ketika tiba-tiba meneteskan air mata.

“Kenapa sih lo gak percaya sama gue Sel? Gue harus jelasin gimana lagi coba??”

Selina melempar pandangan ke arah kekasihnya, tangannya memijit pelipisnya pelan. Yohan-pun bergegas menghampiri Selina dan Clara.

“Sayang, kamu duduk dulu. Aku anter Clara ke kamar ya? Kamu tunggu Pak Dave dulu.” Ujarnya. Selina mengangguk tanda setuju. Wanita itu kembali meneguk satu gelas wine di hadapannya. Sedangkan Yohan mengantar Clara untuk beristirahat di kamar hotel.

Pada saat Clara masuk ke dalam kamar, di waktu yang sama Dave keluar dari kamar di sebelahnya. Namun wanita itu tidak mengetahui jika Dave berada di kamar tak jauh darinya.

“Yohan..” Sapa Dave yang sedang berdiri di depan pintu, Yohan menoleh ke arah Dave kemudian menghampirinya.

“Selin tepar?” Tanya Dave.

“Itu Clara, temen gue.”

“Pakai kamar lo?” Tanya Dave lagi.

“Iya, ntar gue pake punya Andre, yang pegang divisi 2. Dia balik, gak jadi nginep disini.” Jelas Yohan. Dave-pun mengangguk dan mereka kembali ke ballroom.

“Dave, lo kenal Clara?” Tanya Yohan tiba-tiba. Dave menoleh dan menatap Yohan beberapa detik lalu kembali menatap lurus ke depan. Pertanyaan yang di lontarkan Yohan tak kunjung di jawab. Dave ragu, ia merasa tidak mengenal bahkan tidak pernah bertemu dengan Clara. Namun tiba-tiba saja dadanya terasa sakit saat menatap mata wanita itu.

“Nggak. Gue baru liat tadi di acara.” Jawabannya singkat.