Pt. 13
Cold Blooded
CW / Mature content 🔞
“Kita mau kemana?” Tanya Clara di tengah perjalanan mereka.
“Pulang.” Jawab Dave singkat.
“Pulang???”—batin Clara. Namun wanita itu tidak menjawab, ia menatap sesaat Dave yang fokus pada kemudinya.
Hujan semakin deras membuat jarak pandang menjadi lebih kecil. Hawa dingin semakin menusuk, sweater yang ia kenakan pun tak mampu menghangatkan tubuhnya. Dave lebih banyak diam, sesekali wanita itu menoleh dan memandang ke arah Dave. Tangannya meremas ujung sweater, jantungnya berdetak lebih cepat. Clara terus mencoba tenang.
Tidak lama, mungkin hanya perlu waktu sepuluh menit saja untuk sampai di kediaman Dave. Sebuah rumah yang cukup unik bernuansa klasik terlihat sangat apik berdiri gagah di tengah kota. Tidak seperti rumah pada umumnya, halamannya di penuhi beberapa pohon rindang dan lantai bawah lebih banyak menggunakan dinding kaca. Rumah itu memang terlihat lebih teduh, namun terlihat lebih nyaman.
Dave turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Clara, di tangan kanannya membawa payung guna melindungi dari terpaan hujan. Dua insan itu memasuki rumah yang cukup besar itu. Tampak sunyi, ketika melewati ruang tengah tangan Dave melambaikan tangan ke arah perapian dan wuss... Api mengepul dari sana, seperti sihir.
“Clara..”
“Hm?” Wanita itu menoleh ke arah Dave saat ia tengah berdiri di depan perapian.
“Baju kamu basah? Naik ke atas, ganti baju.”
Clara mengangguk pelan kemudian mengayunkan kakinya menuju lantai atas. Wanita menghentikan langkahnya ketika sampai di ruang besar itu. Design ruangan kamar hampir sama dengan miliknya di Transylvania. Satu ruang besar terdapat beberapa rak buku yang cukup tinggi, menghubungkan ruang kerja dengan kamar Dave. Sebuah ranjang besar, dan balkon dengan letak posisi yang hampir sama dengan miliknya. Clara sangat takjub, ia merasa kembali ke Transylvania sekarang.
Wanita itu kemudian duduk di tepi ranjang, mengusap perlahan sprei berwarna putih dengan motif yang benar-benar sama persis dengan miliknya. Clara mengusap wajahnya dengan dua tangan seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Ruangan itu seperti memutar kembali banyaknya kenangan bersama Dave. Batinnya sangat kalut, ia menundukkan kepala. Dua tangannya memijit pelan pelipis bersamaan dengan hembusan nafas kasar, dadanya terasa sesak. Tidak mengetahui kapan Dave berada di sana, bahkan suara derap langkah kakinya saja tidak terdengar. Lelaki itu mengusap pundaknya pelan, hingga membuyarkan lamunannya.
“Dave, siapa yang design ini?” Ucap Clara, wanita itu kemudian berdiri dan menatap lekat dua bola mata berwarna coklat milik lelaki yang kini berdiri di hadapannya.
“Aku. Kenapa?”
“Dave, design ruangan ini persis kayak kamarku.” Ucap Clara.
Dave tersenyum dan melihat sekeliling ruangan.
“Gambaran ruangan ini udah lama ada di pikiranku. Tapi aku nggak pernah ingat ada di mana.” Jelas Dave.
Dave menatap lekat Clara, dari ujung kepala hingga kaki. Ia masih mencoba untuk mengingat kembali dengan jelas siapa Clara. Dadanya selalu terasa sakit jika menatap mata wanita itu. Dave ingin tau seberapa jauh ia mengenal Clara.
Suara petir menyambar mengiringi deras hujan yang tak kunjung reda. Beberapa kali Clara terlihat mengusap lengannya, hawa di ruangan itu memang sangat dingin. Perlahan Dave mendekati Clara, mengusap lengan wanita itu. Keduanya saling menatap, jantung Clara berdetak lebih cepat dari sebelumnya, darahnya berdesir cepat.
“Dingin?” Dave berucap.
Wanita itu mengangguk sembari mengusap-usap telapak tangannya dan meniupnya pelan. Dave berjalan pelan mendekati Clara. Mengusap pucuk kepala wanita itu, kemudian turun mengusap pipi sang puan. Detik berikutnya, Dave meraih tengkuk Clara dan mencium bibirnya lembut, hembusan nafas yang menyatu lewat pagutan bibir mereka. Menyalurkan kehangatan di setiap decapan dan lidah yang saling bertaut. Hampir terbawa suasana, dan Clara-pun tersadar. Ia mendorong pelan dada bidang Dave agar sedikit menjauh darinya. Lelaki itu mengusap pipi Clara dengan pelan dan lembut.
“Clara, maaf..”
“Maaf aku baru mengingatmu sekarang. Aku—,”
“Aku nggak peduli, Dave!” Ucap Clara, dua tangannya melingkar pada perpotongan leher Dave dan mencium bibir lelaki itu. Ciuman keduanya lamat menjadi lumatan yang begitu candu. Menyesap tiap sisi pada bibir masing-masing, menciptakan rasa nikmat dan menyalurkan rada rindu yang menggebu. Air mata Clara menetes, membasahi pipinya, Dave-pun tersadar dan menyudahi ciuman itu.
“Kamu kenapa nangis? Aku sekarang disini Ra, kamu nggak perlu nyari aku lagi.”
“Dave, jangan pergi...” Ucapnya seraya merangkul tubuh lelaki itu dengan sangat erat. Air matanya tumpah entah sudah berapa kali. Usahanya untuk membuat Dave mengingat dirinya-pun tidak sia-sia. Lelaki itu membalas pelukannya, mengusap punggung sang puan berkali-kali guna memberikan rasa nyaman dan tenang. Tiba-tiba saja Dave melepaskan pelukannya, lengan pakaiannya terasa dingin dan basah.
“Ra, ganti baju dulu ya? Nanti kamu sakit.” Ujarnya sembari melepas sweater berwarna coklat muda yang di kenakan Clara.
Seketika itu Dave dan Clara saling menatap lekat dua bola mata masing-masing. Seakan memberi isyarat bahwa dalam diri keduanya sedang menahan ribuan rindu yang terpendam satu tahun lamanya. Entah dorongan dari mana, tangan Dave perlahan meraba dari ujung tangan wanita itu kemudian berhenti pada pundaknya. mengusapnya dengan lembut dan menarik tali simpul hingga terlepas.
Clara-pun tak tinggal diam, ia mendekatkan tubuhnya dan menarik sweater turtleneck berwarna hitam yang di kenakan oleh Dave. Tangannya menelusup kedalam sweater, menariknya ke atas dan melepaskan dari tubuh lelaki itu. Menit kemudian Dave memberikan serangan bertubi-tubi pada bibir Clara, melumatnya sembari melepaskan tali simpul satunya hingga mempermudah untuk melucuti pakaian yang di kenakan oleh wanita itu.
Setelah tanktop satin itu terlepas dari tubuh sang puan, tangan Dave kemudian turun ke bawah. Melepas kancing juga resleting celana milik Clara tanpa melepas pagutan keduanya. Decapan bibir mereka semakin lekat hingga menimbulkan suara khas, terdengar lebih keras dari sebelumnya membuat libido wanita itu naik dengan cepat.
Dave mengangkat tubuh Clara, membawanya pada ranjang besar di sebelahnya. Merebahkan tubuh wanita itu sembari mendaratkan kecupan berkali-kali mulai dari bibir, leher dan berhenti pada dua gundukan payudara Clara yang masih di lapisi bra berwarna hitam. Dave melepaskan kaitan bra itu hanya dalam sekali percobaan, melepaskannya dan membuang ke sembarang arah. Tak terasa hari itu sudah menjelang malam, ruang kamar Dave menjadi lebih redup. Hawa dingin yang masuk kedalam ruangan tersebut sangat mendukung untuk menciptakan kehangatan lewat penyatuan kedua raga yang haus akan erotika.
Lenguhan dan desahan mulai mengisi ruang tersebut, hamparan buku, ruang kerja yang kosong serta lukisan kastil yang terpasang pada dinding menjadi saksi bisu dua jiwa yang menyatu. Clara tak henti-hentinya melenguh dan mendesah kala Dave mulai melesatkan miliknya ke dalam tubuh Clara.
Dave menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang pelan, ia tak ingin menyakiti Clara. Dalam tubuh Dave, separuhnya masih mengalir darah vampir. Kekuatannya tidak akan pernah bisa imbang dengan manusia. Dave kerap kali memberikan sentuhan lembut, membelai surai hitam milik Clara, mengecup singkat mata juga bibirnya membuat sang puan merasa lebih nyaman, dan tenang. Dave menambah tempo hentakan sedikit lebih cepat, sesekali mendorong penuh miliknya hingga menumbuk titik terdalam milik Clara. Membuat sang puan melengkungkan tubuhnya, hingga hampir menjemput pelepasannya.
“D-Dave.. Ahh.. Pleaseee...” Lenguhan dan rintihan wanita itu nyaring terdengar di telinga Dave.
Dave mengecup mencium bibir Clara, sembari mendorong penuh miliknya hingga keduanya mencapai klimaks dalam waktu yang bersamaan. Clara melenguh kencang, tangannya mengeratkan pelukan di tubuh Dave kala cairan penuh kasih keduanya melebur menjadi satu di dalam sana. Lelaki itu beberapa kali mendaratkan kecupan lembut di bibir Clara.
Sang puan masih menengadahkan kepada seraya mengatur nafasnya yang memburu. Dave mengusap peluh di wajah Clara, lalu mencium keningnya pelan hingga beberapa detik. Lelaki itu melepaskan miliknya dari tubuh Clara, kemudian berbaring di sebelahnya. Dave tak pernah bosan memandangi wajah wanita itu, mengusap pipinya dan tersenyum.
Dave menarik selimut tebal dan menutupi tubuh wanita itu hingga atas. Keduanya saling berhadapan dan menatap lekat dua bola mata masing-masing.
“Berendam pakai air hangat yuk..” Pinta Dave. Kemudian di jawab dengan anggukan oleh Clara.
“Selesai mandi aku di antar pulang ya, Dave? Takut Selina nyariin. Tadi aku pamit perginya nggak akan lama.” Ucap Clara tiba-tiba. Lelaki itu mengernyitkan dahinya. Kemudian merubah posisi, menyangga kepalanya dengan satu tangan sembari menatap wajah Clara.
“Pulang kemana? Ini rumahmu.”
“Dave! Jangan ngaco deh..” Ucap Clara, tangannya mendorong pelan dada bidang lelaki itu. Dave hanya terkekeh melihat tingkah Clara.
“Aku serius Ra, buktinya aku bikin design sama persis kayak rumahmu di Transylvania.” Ujarnya.
“Ra, sekarang aku udah ingat kamu lagi, kita ketemu disini, aku punya rumah yang bisa kita tinggali berdua. Masih kurang?” Cecar Dave. Wanita itu membeku dan tak bergeming. Air mata Clara sudah di pelupuk dan hampir luruh. Ia bahagia bisa bertemu dengan lelaki yang selama ini menghilang. Namun sampai kapanpun mereka berbeda, Clara selalu merasa mereka tidak akan pernah bisa bersama.
“Dave, kita beda... Aku dan kamu nggak akan pernah bisa sama-sama.”
Tap!
Dada lelaki itu tiba-tiba saja sakit seperti tertusuk benda tajam.
“Ra, aku sekarang hampir jadi manusia. Tapi di dalam darahku masih mengalir darah vampir. Aku bisa jadi manusia seutuhnya kalau menikah dengan wanita yang lahir di bulan Oktober tepat di bulan purnama.” Jelas Dave. Mendengar kalimat itu sontak Clara memeluk lelaki itu dan menangis sejadi-jadinya. Dadanya sesak karena tangis yang tertahan, namun secerca harapan timbul malam itu. Clara lahir di bulan Oktober tepat pada saat bulan purnama. Jika memang aturan harus seperti itu, Clara sangat rela menikah dengan Dave. Clara bersedia memberikan seluruh kehidupannya untuk Dave.
“Dave, aku lahir bulan Oktober malam bulan purnama! Kita bisa menikah! Kamu bisa jadi manusia, Dave!!” Ujarnya sembari menggoyangkan tubuh lelaki itu.
“Semoga...” Ucap Dave singkat.
“Semoga??? Kamu nggak percaya sama aku?” Clara sontak beranjak dari tempat tidur. Ia tak mengerti dengan jawabannya Dave.
“Ra, dengerin aku. Satu tahun lagi aku disini, setelah itu aku kembali ke Transylvania. Kamu mau ikut? Kita ketemu Raja.” Jelas Dave. Clara mengangguk penuh keyakinan.
“Kalau kita nggak bisa menikah, kamu nggak akan bisa berubah jadi manusia. Gigit aku Dave, ambil darahku. Setelah itu kita menjadi sama dan nggak akan pernah berpisah.”
END.
Hi! Cold Blooded short au, tamat ya! Terima kasih sudah mau menunggu update cerita ini.
This story special for: @xyaranna
Kritik, saran, kesan dan pesan:
Drop on my CC & TL.
CC: https://curiouscat.me/deorphic
TL: https://tellonym.me/deorphic
THANK YOU