Warm and Soft
Nathalie dengan langkah ragu memasuki kamar Jovan. Wanita itu tak bisa menolak permintaan ibunda Jovan untuk tetap tinggal dan menginap di rumahnya. Kamar Jovan cukup luas dengan corak warna putih abu-abu, terdapat sofa berukuran sedang serta walk in closet cukup luas berisi pakaian yang tertata sangat rapi.
Wanita itu melangkah pelan dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sorot matanya menelisik ruang kamar tetapi tak mendapati Jovan di sana. Jantung Nathalie terus berdetak kencang. Dalam otaknya terus memikirkan hal negatif jika bersama Jovan, apalagi ia harus tidur satu kamar dengan bos-nya.
Lima menit berlalu, Jovan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk berwarna putih yang di lilitkan di pinggangnya. Tubuh kekarnya terekspos, lelaki berperawakan tinggi itu menatap Nathalie yang tengah duduk di sofa. Ia kemudian mengambil handuk yang masih terlipat rapi lalu memberikan pada Nathalie.
“Mandi sana.–”
Nathalie menerima handuk yang di sodorkan ke arahnya lalu bergegas ke kamar mandi.
“Maaf pak, ba—”
“Baju? Ambil di lemari, mana yang cukup buat kamu, pakai aja.” Lanjut Jovan.
“Maksudnya saya pakai baju pak Jovan?” Tanya Nathalie sedikit ragu.
“Iya, gapapa kan? Di lemari kan isinya baju saya semua.” Ucap Jovan tegas.
Wanita itu hanya menganggukkan kepala kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jovan lalu berpakaian, mengenakan kaos tipis warna putih serta celana pendek. Ia kemudian duduk di sofa, menghidupkan laptop dan mengoreksi hasil meeting.
Lima belas menit setelahnya, Nathalie keluar dari kamar mandi mengenakan kemeja warna hitam milik Jovan. Terlihat kebesaran, tetapi cukup menggemaskan. Jovan berkali-kali melirik kearah sekretaris nya dan tersenyum, seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Pak Jovan, saya tidur di sofa aja gapapa. Bapak yang tidur disini.” Ucap wanita itu sambil menunjuk ranjang di sebelahnya.
“Kamu aja yang tidur disitu. Tadi pesan mama, aku yang tidur di sofa.” Jelas Jovan.
Nathalie menganggukkan kepalanya tanda setuju lalu naik keatas tempat tidur dan membenamkan tubuhnya di balik selimut berwarna abu tua, hingga terlihat kepalanya saja.
“Pak Jovan..”
“Hm?”
“Saya gak bisa tidur kalau lampunya terang seperti ini.” Ucap Nathalie. Jovan sontak memandangi sekretaris nya cukup lama, lalu tersenyum tipis.
“Matikan saja lampunya, tombol ada di sebelah nakas.” Jelas Jovan kemudian ia kembali fokus pada laptop di hadapannya. Nathalie kemudian mematikan lampu yang membuat matanya silau dan hanya menyisakan lampu tidur yang terlihat temaram. Ia lalu memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Tiga puluh menit berlalu dan ia masih terjaga meskipun tubuhnya cukup lelah. Nathalie membalikkan badan ke arah Jovan, ia pandangi bos nya yang masih sibuk dengan laptop nya. Sedangkan lelaki itu tak sadar jika sekretaris nya sedang memperhatikan dirinya.
AC di kamar Jovan terasa sangat dingin hingga membuat tenggorokan Nathalie terasa kering. Ia merasa sangat haus, sedangkan jug berisi air putih berada di meja tepat di depan laptop. Wanita itu sempat berpikir ingin menahannya saja tapi sepertinya ia menyerah. Nathalie bangun dari posisinya, beranjak dari tempat tidur lalu berjalan kearah Jovan. Lelaki yang sedari tadi sibuk menatap layar laptop tiba-tiba pandangan matanya beralih pada wanita di hadapannya.
“Belum tidur? Apa gak bisa tidur?” Tanya Jovan lirih.
“Belum bisa tidur pak.. Oya, kalau pak Jovan capek ya istirahat saja. Biar saya yang cek hasil meeting tadi.” Tawar Nathalie sambil menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminum nya.
“Coba duduk sini.” Pinta Jovan sembari menepuk-nepuk permukaan sofa agar Nathalie duduk sesuai arahannya.
Wanita itu menurut saja dengan perintah bos nya, ia kemudian duduk di sebelah Jovan. Di dalam otak Jovan sudah di penuhi oleh Nathalie, hasrat untuk memiliki seutuhnya kembali muncul meskipun ia tau bahwa sekretaris nya itu sudah mempunyai kekasih. Dalam hati sungguh ia ingin menerkam wanita yang duduk di sebelahnya itu. Pasalnya Nathalie terlihat sangat cantik dan sexy hanya mengenakan kemeja miliknya, tanpa memakai bawahan dan paha nya terekspos sangat mulus.
Baru beberapa detik Nathalie memegang laptop di hadapannya, secara tiba-tiba Jovan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sekretaris nya. Lelaki itu dengan sengaja memandang lekat raut wajah Nathalie dengan mengikis jarak di antara keduanya. Sadar hal itu, Nathalie kemudian menengok ke arah Jovan dan tak sengaja hidung mereka bergesekan.
Deg! Jantung Nathalie terus berdetak semakin kencang, keduanya saling berpandangan dan tanpa aba-aba Jovan mengecup bibir sekretaris nya perlahan. Wanita di sebelahnya sama sekali tak menolak juga tak melawan. Lagi-lagi Jovan mendaratkan kecupan singkat yang ke dua di bibir Nathalie. Dan wanita itu tak bergerak sama sekali.
Kecupan yang ketiga mendarat sempurna di bibir Nathalie tetapi kali ini sedikit lebih lama, dan perlahan berubah menjadi ciuman yang menuntut. Lidah Jovan bermain di dalam bibir wanita itu dan lama kelamaan berubah menjadi lumatan yang semakin panas.
Tangan Jovan tak tinggal diam, tangan kirinya menarik tengkuk Nathalie memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan kanan nya melepas kancing baju yang di kenakan oleh Nathalie perlahan hingga menampilkan dua gundukan payudara yang sintal menggantung tanpa bra.
Nafas wanita itu mulai tak beraturan, tetapi ia tidak menolak perlakuan Jovan kepadanya. Kali ini lelaki di hadapan nya itu nampak berbeda, yang ia rasakan sekarang Jovan sangat lembut dan tidak menjadi orang yang menakutkan seperti di saat di kantor waktu itu. Bibir dua sejoli itu saling melumat tanpa henti, jemari Jovan mulai nakal meraba area payudara Nathalie. Meremas nya perlahan lalu memilin dan memutar putingnya. Sedangkan Nathalie hanya menahan desahan agar tak keluar dari bibirnya.
Ketika keduanya saling menikmati ciuman yang penuh nafsu, bibir Jovan bergerak ke arah telinga serta leher milik Nathalie dan terus mencumbu sekretaris nya. Mata gadis itu terpejam menikmati sentuhan jemari bos nya kala menyentuh area kewanitaan nya.
“Ngghhh.....” Lenguhnya pelan. Nathalie benar-benar berusaha untuk menahan desahan agar tak keluar dari bibirnya namun gagal. Jemari bos-nya sudah terlanjur meraba bibir vagina milik Nathalie, dan memutar juga menekan klitorisnya hingga membuat gadis itu tersentak.
“Aahhh....” Desahan itu akhirnya lolos keluar dari bibir Nathalie namun tangannya menahan gerakan jemari Jovan di bawah sana. Sadar tangannya di tahan oleh Nathalie, lalu ia tatap bola mata milik wanita itu, sendu.
“Nath, mau lanjut atau tidak? Kalau kamu setuju, aku akan lanjutkan. Tapi kalau tidak, aku akan berhenti disini.”
Jovan tak seperti dulu, yang tiba-tiba memaksanya. Kali ini justru memberikan penawaran terhadap nya. Jantung wanita itu terus berdetak semakin kencang. Nathalie akhirnya memberikan jawaban dengan menggelengkan kepalanya, pertanda untuk tidak melanjutkan nya. Jovan pun mengangguk setuju, kali ini ia berhasil menahan nafsunya demi Nathalie.
“Nathalie... Entah ini yang keberapa kali saya ungkapkan ke kamu bahwa saya suka sama kamu.” — “Saya ingin dengar jawaban nya.–” Lanjut Jovan, tangannya bergerak mengaitkan kembali kancing baju milik Nathalie yang lepas. Sedangkan wanita di hadapannya itu hanya membisu.
“Kalau kamu gak mau jawab sekarang gapapa Nath... Ayo tidur.”
“Oya, saya boleh tidur di sebelah kamu? Sebenarnya saya tidak terbiasa tidur di sofa.” Pinta Jovan.
Nathalie hanya mengangguk saja, ia terus memandang raut wajah bos-nya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Jovan terlihat manis dan lembut kepadanya, tanpa ada secuil emosi.
Jovan kemudian berdiri dengan menggandeng tangan Nathalie dan menuntunnya untuk tidur di satu ranjang yang sama. Wanita itu hanya menurut saja. Setelah merebahkan tubuh keduanya dan mencari posisi senyaman mungkin, lalu tangan Jovan mencari kesempatan untuk bisa mendekatkan bahkan memeluk tubuh ramping Nathalie. Malam itu terasa sangat hangat bagi Nathalie, dan baru kali ini ia merasakan kenyamanan tanpa rasa takut terhadap Jovan.