Togetherness
“Nath...” Panggil Jeremy ketika memasuki ruang kamar sang empu yang terbuka. Nathalie berdiri di depan ranjang besar sembari berkacak pinggang. Di hadapannya menumpuk beberapa potong pakaian yang ia keluarkan dari dalam lemari. Sudah tiga koper berukuran sedang berjajar rapi, sebagian besar berisi pakaian dan sisanya ia isi dengan beberapa alas kaki.
“Masih banyak?” Tanya Jeremy sembari merangkul tubuh mungil Nathalie menggunakan tangan kirinya.
“Kamu liat sendiri masih ada segini. Itu tiga koper udah penuh, sama satu totebag.” Jelasnya pada Jeremy. Lelaki yang berada di sebelahnya itu tersenyum dan mengusap pucuk kepala Nathalie.
“Lipat dulu bajunya, aku yang packing. Masih ada tas di lemari kan?” Ujarnya, Jeremy kemudian berjalan ke arah lemari dan mencari tas yang di maksud.
Nathalie duduk di tepi ranjang dan mulai melipat pakaian yang berada di sebelahnya. Jeremy memandang wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh lalu tersenyum tipis. Seperti mimpi, tetapi pada dasarnya keinginan yang sudah lama ia pendam akhirnya tinggal satu langkah lagi. Yaitu pernikahan, dan restu dari kedua orang tuanya.
“Nath,”
Jeremy berjalan menghampiri Nathalie dan tiba-tiba berjongkok di hadapan wanita itu. Dua netra keduanya saling bertemu, tatapan yang begitu teduh. Lelaki itu menggenggam kedua tangan Nathalie, menngusap beberapa kali menggunakan ibu jarinya kemudian mengecup singkat punggung tangan Nathalie.
“Aku bahagia akhirnya kita bisa sampai di titik ini. Aku sayang kamu Nath, aku janji gak akan ninggalin kamu.” Tutur lelaki itu. Nathalie membeku dalam diam, ia juga merasa ini seperti mimpi.
“Hei.. Kenapa diem?” Suara Jeremy menggugah alam sadar Nathalie. Detik kemudian wanita itu merentangkan kedua tangannya dan di sambut hangat oleh Jeremy.
“Terima kasih sayang.. Terima kasih buat semuanya. Maaf ya, aku sempat gak percaya sama kamu dan hubungan kita.” Ucap Nathalie sedikit terisak. Ia menahan air mata yang hampir tumpah. Pelukan Jeremy sangat hangat dan membuatnya tenang. Usapan tangan lelaki itu seperti obat dari segala rasa sakit yang pernah ada. Jika Tuhan sudah berkehendak, terpisah sejauh apapun, terluka sesakit apapun, ia akan kembali pada takdirnya.