Happiness And Sadness

Wedding Day

Hari yang di nantikan akhirnya tiba, pesta pernikahan yang mewah dan tamu undangan yang berdatangan membawa do'a untuk kedua mempelai. Nathalie sangat cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih bak seorang ratu, berpadu dengan Jeremy yang terlihat sangat tampan. Tidak kalah menawan, lelaki itu layaknya seorang pangeran.

Kerabat dan sahabat semua berkumpul di tempat itu, menjadi saksi hari penuh kebahagiaan sebelum bergantinya tahun. Hadirin yang berada di sana tampak bergantian berjabat tangan untuk memberikan selamat, serta berfoto dengan kedua pengantin. Begitu juga Jovan, Nico dan Adel.

Jovan masih tampak tenang, berjabat tangan dengan Jeremy dan menepuk-nepuk singkat lengan lelaki itu sembari tersenyum. Dulu mereka seperti rival tetapi kini dua lelaki itu layaknya kawan. Jovan berdiri di hadapan Nathalie, mencoba tersenyum tenang. Melihat Nathalie bersanding dengan Jeremy tak ayal menjadi pemandangan yang menyakitkan baginya.

Senyum Nathalie mengembang, dua tangannya terbuka untuk memberikan pelukan pada Jovan. Menatap dua bola mata lelaki itu, sekilas flashback akan beberapa hal yang pernah ia lalui bersama Jovan. Nathalie tidak mau munafik, ia-pun pernah merasa nyaman sampai akhirnya sempat bergantung pada lelaki yang pernah menyakiti dan akhirnya mengobati. Sempat berharap walaupun penuh dengan keraguan, juga bermimpi dan akhirnya hanya menjadi ilusi. Tidak cukup sampai disitu saja, Jovan setidaknya pernah menjadi tempat untuk berpijak kala dirinya rapuh dan juga membawanya terbang meskipun akhirnya terjatuh.

Jovan memeluk tubuh Nathalie, mendekap erat dan mengusap punggungnya beberapa kali.

“Selamat ya Nath, aku bersyukur dan ikut bahagia kamu bisa sama Jeremy.” Bisiknya lirih di telinga Nathalie.

Thanks Jov, terima kasih buat semuanya. Kamu cepat nyusul ya?” Ucap Nathalie. Jovan masih menggenggam tangan wanita itu beberapa saat sebelum ia lepaskan.

“Loh, Helena mana? Gak sama kamu?” Tanya Nathalie lagi.

“Nanti dia nyusul Nath, masih ada kerjaan.” — “Aku turun ya..” Lanjut Jovan, kemudian berjalan meninggalkan Nathalie dan Jeremy.

Jovan, Nico dan Adel masing-masing menggenggam gelas berisi Champagne sembari menikmati lagu yang di iringi oleh wedding band.

“Helena lama banget Jov? Katanya mau nyusul?” Tanya Adel tiba-tiba memecah fokus lelaki yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu.

“Tadi bilang kalau udah mau on the way kesini.” Jawab Jovan singkat sembari meneguk Champagne di tangan kanannya.

“Del, lo kapan nyusul?” Tanya Jovan menggoda sahabatnya. Ia menaik turunkan alisnya lalu melirik Nico yang berdiri di sebelah Adel. Sedari tadi dua sejoli itu berpegangan tangan dan mengumbar kemesraan di depan mata Jovan hingga membuatnya sedikit iri, pasalnya Helena belum juga tiba disana.

Sekitar sepuluh menit setelahnya tiba-tiba ponsel Jovan berdering hingga beberapa kali. Lelaki itu sama sekali tidak sadar jika ada panggilan telepon. Justru Adel yang mendengar samar suara panggilan telepon dari arah saku celananya.

“Ada telepon kayaknya Jov.” Ucap Adel.

“Ha? Telepon?” Tanya Jovan pada Adel sembari mengambil ponselnya dari saku celana. Adel hanya mengangguk ketika menjawab Jovan. Lelaki itu menatap layar ponsel beberapa saat sebelum akhirnya menjawab telepon dari nomor yang tak dikenalnya.

Hallo...”

Iya benar, saya sendiri...”

Jovan membeku, tangan kirinya masih memegang ponsel yang menempel di telinganya namun tidak ada jawaban apapun yang terlontar dari bibirnya.

Pranggg....

Gelas berisi Champagne di tangan kanannya lepas dari genggaman Jovan dan pecah, raut wajahnya tiba-tiba pucat. Nico dan Adel saling melemparkan pandangan sebelum akhirnya mereka mendekat pada Jovan.

“Kenapa Jov?” Taya Adel.

“Jov..” Ucap Nico sembari menggoyangkan lengan sahabatnya itu. Jovan tak merespon, kemudian Nico mengambil alih ponsel yang di genggam Jovan dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.

Hallo?

Nico mencoba berbicara dengan orang tersebut.

“Jovan!” Pekik Adel menyadarkan lelaki bertubuh tinggi itu. Jovan tiba-tiba meninggalkan pesta tersebut, berlari membelah kerumunan tamu undangan disana tanpa mempedulikan Nico dan Adel, bahkan ponselnya masih di tangan Nico.

“Jovan kenapa Nic? Itu telepon dari siapa???” — “Nico!!”

“Ayo ke rumah sakit. Buruan!”