Goodbye

Perasaan Nathalie sebenarnya tidak bisa di gambarkan saat itu, dimana ia akan meninggalkan semua rutinitas yang biasa di lakukan setiap hari. Meninggalkan ruangan yang menemaninya selama hampir dua tahun terakhir, meninggalkan tumpukan berkas-berkas penting yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dan meninggalkan orang yang pernah memberikan luka, kemudian memberikan rasa nyaman, serta kasih sayang bahkan memberikan harapan yang begitu indah. Persetan dengan semua kejadian yang pernah menimpanya kala itu. Nathalie berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan goyah sedikitpun.

Langkah kakinya mengantarkan pada satu ruang penuh dengan banyak kenangan. Awal yang buruk dan menyakitkan, hingga berubah menjadi tempat paling nyaman untuk sekedar bersenda gurau, melepas penatnya pekerjaan dan deadline yang terus memburu waktu. Di dalam ruangan tersebut sudah menunggu seseorang lelaki penuh dengan kegundahan, perasaan campur aduk tak karuan. Ya, sebentar lagi ia akan di tinggalkan oleh sekretarisnya. Dua pucuk surat di tangan kiri wanita itu adalah hadiah yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh Jovan dan lelaki itu harus bisa menerima segala macam bentuk perpisahan.

Tangan Nathalie sedikit gemetar ketika menyentuh gagang pintu, ia buka perlahan kemudian memasuki ruangan tersebut dan dua bola mata keduanya saling bertatapan.

Deg! Jantung Nathalie berdetak lebih cepat dari biasanya bahkan seperti saat mereka pertama kali bertemu. Langkah kaki Nathalie sangat pelan, lalu tersenyum tipis pada lelaki yang sedang berdiri di depan jendela kaca yang membentang di hadapannya. Sama persis saat kejadian kala itu, raut wajah yang datar tanpa ekspresi tergambar jelas. Senyum yang tak berbalas, hanya tatapan mata yang tajam ke arah Nathalie sembari menelan ludahnya sendiri.

“Jov—,”

“Nath—,”

Sapaan keduanya hampir bersamaan.

“Jov, sorry mendadak banget.”

“A-iya gak papa Nath. Ohya, duduk dulu.” Ucap Jovan sembari mengarahkan wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya untuk duduk di sofa.

“Jov, e—aku gak bisa lama-lama. Maaf, tapi—,”

“Tapi kenapa Nath?” Lelaki itu memotong kalimat yang belum selesai di ucapkan oleh Nathalie.

“Jov, ini undangan resepsi pernikahanku sama Jeremy. Kamu datang ya?” Ucap Nathalie sembari menyodorkan undangan serta satu amplop berwarna putih.

“Kapan?” Tanya Jovan sembari membolak balik amplop itu.

“Akhir tahun.” Jawab Nathalie singkat.

“Ini apa Nath?” Tanya lelaki itu sekali lagi kemudian mengambil kertas dari dalam amplop. Baru saja Jovan membuka lipatan kertas tersebut, belum lagi ia membacanya tiba-tiba Nathalie mengucapkan kalimat yang membuatnya cukup terkejut.

“Itu surat resign Jov..”

Resign?? Nath..” Jovan menatap lekat dua bola mata Nathalie dengan perasaan yang berkecamuk. Ini benar-benar sangat mendadak dan cukup membuat pikirannya menjadi kacau.

“Jovan, aku—,”

Tiba-tiba Jovan menarik lengan Nathalie dan membawa masuk ke dalam pelukannya. Wanita itu terpaku, tidak ada perlawanan bahkan pandangan matanya kosong. Nathalie merasakan pelukan yang tak biasa, kali ini terasa lebih hangat dari pelukan yang berkali-kali ia dapatkan dari lelaki itu. Jovan mendekap tubuh Nathalie sangat erat seakan tak ingin ia lepaskan, mengusap surai hitam milik wanita itu dan beberapa kali mengecup pucuk kepalanya. Jovan merasa bahwa ini adalah terakhir kalinya ia bisa memeluk wanita yang kini berada dalam dekapannya itu.

Beberapa menit setelahnya Nathalie tersadar kemudian melepaskan tubuhnya dari dekapan lelaki itu. Keduanya saling bertatapan cukup lama, Jovan merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Nathalie kemudian menyelipkan di belakang telinga.

“Nath, aku harap kamu bahagia. Bagaimanapun juga kamu pernah ada di sini.” Ucap Jovan sembari menarik tangan Nathalie dan meletakkannya di dadanya.

“Jov—,” Belum selesai Nathalie berbicara tiba-tiba Jovan menarik tengkuknya dan mencium bibir wanita itu. Nathalie seketika memejamkan matanya dan memegangi tangan Jovan yang berada di lehernya. Jantung Nathalie berdetak semakin cepat, nafasnya pun menjadi berat.

“J-Jovan aku pamit ya? Semua berkas ada di mejaku. Udah kelar semua tinggal kamu tanda tangan aja.” Jelas wanita itu. Jovan hanya menjawab dengan anggukan saja. Tangannya masih memegangi lengan Nathalie, tatapannya begitu sendu seakan berkata “jangan pergi” namun kata itu tak sanggup keluar dari mulutnya.

Jovan mengantarkan wanita itu hingga depan pintu. Menatap setiap langkah kaki Nathalie, berat sekali rasanya namun Jovan seharusnya tidak egois. Sudah ada Helena yang akan selalu ada untuknya, wanita dari masa lalu yang mencintai dirinya lebih dari apapun.

“Jov, dateng sama Helena ya? Aku tunggu.” Ucap Nathalie sebelum akhirnya keluar dari ruangan Jovan dan menutup pintu. Sedangkan lelaki itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala saja. Bagaimanapun perkaranya, perpisahan sudah jelas akan terasa menyakitkan.