Back to,
Part.8 Cold Blooded
Clara benar-benar meninggalkan Rumania, ia bertekad pergi untuk melupakan Dave. Entah berapa lama ia akan tinggal di Indonesia tanpa keluarga, yang pasti wanita itu meninggalkan rasa sakit dan kecewa terhadap Dave. Sungguh tidak masuk akal jika keluarganya tau bahwa ia berhubungan dengan sosok vampir hingga sejauh itu. Tetapi Clara benar-benar mengalaminya, merasakannya bahkan rasa kehilangan setelah di tinggalkan oleh Dave masih berbekas dan menyakitkan.
Tengah hari, pesawat yang di tumpangi mendarat dengan sempurna di bumi pertiwi. Langit tampak mendung namun hawa panas terasa menyengat.
Satu koper besar di tangan kanannya, dan satu lagi berukuran sedang di tangan kiri. Ia dorong sekuat tenaga berjalan keluar dari airport. Beberapa kali bola matanya menelusuri kerumunan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Menunggu sang sahabat, Yohan. Ya, sebelumya lelaki itu sudah berjanji menjemputnya. Sembari menunggu Yohan, wanita itu duduk di salah satu bangku sembari membalas pesan yang di kirim oleh Yohan.
Sekitar lima belas menit menunggu, Yohan-pun akhirnya tiba. Lelaki mengenakan setelan serba hitam dan rambut sedikit gondrong membuat Yohan terlihat seperti bos mafia. Wajahnya datar, tanpa ekspresi sedikitpun. Clara melambaikan tangannya ke arah lelaki tersebut, kemudian Yohan menghampirinya. Satu pelukan hangat seorang sahabat mendarat di tubuh Clara.
“Lo gak lagi berantem sama bokap nyokap lo kan? Bawa barang segini banyak kya mau pindahan.” Ujar Yohan sembari menepuk-nepuk punggung wanita itu. Clara hanya terkekeh lalu melepaskan pelukan dari tubuh Yohan.
“Nggak, gue mau healing disini.”
“Lo kata healing? Tambah stress yang ada.” Ucap Yohan dan mendorong koper besar milik Clara.
“Gue kangen kalian. Makanya gue balik Indo aja.”
Keduanya-pun tertawa bersama. Wanita itu sangat pandai menyembunyikan semuanya.
Setibanya di apartemen milik Selina, wanita itu buru-buru merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tengah. Sedangkan Yohan membawa dua koper milik Clara ke dalam ruang kamar Selina.
“Koper gue kenapa di bawa ke kamar Selin? Gue pakai kamar tamu aja gapapa kali.” Ujarnya. Namun Yohan hanya tersenyum.
“Selin bilang lo tidur di kamar dia aja.”
“Gue balik kantor dulu, ini udah gue pesenin makan. Gak usah keluar kemana-mana, lo istirahat aja. Gue udah bilang sama Selin.” Kata Yohan sembari berlalu, hendak meninggalkan Clara sendiri.
“Yohan, makasih ya.. Eh, by the way lo jadian sama Selin?” Tanya Clara tersenyum dan menaikkan dua alisnya.
“Menurut lo aja gimana?” Jawab Yohan sembari terkekeh, di susul oleh Clara.
“Ya udah gue cabut dulu ya Ra.”
“Oke, tiati.”