Hopeless
Setelah bertanya pada staf rumah sakit, Adel dan Nico bergegas mencari ruang operasi. Langkahnya terburu-buru melewati beberapa lorong dan menemukan sosok laki-laki yang sedang duduk di depan ruang operasi dengan wajah tertunduk. Dua tangan memegangi kepala, sedikit memijat pelipisnya. Terlihat sangat berantakan. Jas yang tergeletak di lantai dan beberapa kancing bajunya terlepas, hingga terlihat keringat yang mengalir pada garis leher.
Adel duduk di sebelah lelaki itu si susul oleh Nico. Tangan Adel beberapa kali mengusap punggung Jovan yang masih tak bergerak dari posisinya. Nico hanya melirik aktivitas tersebut lalu bersandar pada kursi dan menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit rumah sakit. Tiga jam mereka duduk tanpa suara, tanpa ada percakapan, hanya suasana yang tegang dan sunyi. Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruang operasi. Jovan sontak berdiri menghampiri dokter tersebut, di susul Adel dan Nico.
“Mohon maaf sekali, nyawa korban tidak bisa di selamatkan. Pendarahan di otak menyebabkan sel-sel di dalamnya kekurangan oksigen. Pada saat di bawa ke rumah sakit, korban sudah dalam keadaan kritis.” Jelas dokter tersebut.
Deg! Hantaman keras bak menghujam dada Jovan, tubuhnya seketika melemah dan air matanya mengalir begitu saja. Dua tangan mungil milik Adel tergerak merangkul tubuh Jovan yang hampir tumbang. Dadanya sesak, nafasnya seakan tercekat, Jovan menangis sejadi-jadinya di ceruk leher Adel. Wanita itu ikut meneteskan air mata sembari mengusap punggung sahabatnya.
“D-Del...” Ucapnya lirih di samping telinga sahabatnya.
“Jov, lo harus kuat. Oke? Lo gak sendirian. Ada gue disini.” Tutur Adel sembari mengusap dan menepuk punggung Jovan tanpa memikirkan ada sosok lelaki di sebelahnya. Nico mengepalkan tangannya saat melihat Adel tengah memeluk dan memenangkan Jovan. Sebenarnya bukan kali pertama lelaki itu melihat hal seperti ini, bagaimana-pun juga Nico tetap mempunyai rasa cemburu.