A Letter

Setelah memarkirkan mobilnya, tanpa ada rasa canggung Adel memasuki gedung JCC Holdings dengan menenteng satu amplop berwarna coklat berisikan surat lamaran pekerjaan milik Kala.

Wanita berambut hitam itu sudah tau betul di mana letak ruang kerja Jovan dan tanpa harus membuat janji terlebih dahulu, Adel bisa menemui Jovan kapan saja. Adel tersenyum tipis sembari menundukkan sedikit kepalanya untuk menyapa staf karyawan yang berada di resepsionis. Kemudian melangkah menuju lift dan menggunakannya untuk naik ke lantai empat.

Di setiap sudut juga sisi dalam gedung tersebut seperti mengingatkan kembali memori lama wanita itu. Tentu saja bukanlah memori yang patut di kenang, namun serpihan luka yang bertebaran. Ia berjalan pelan diantara koridor yang tampak lengang. Ya, beberapa orang sedang berada di ruang meeting termasuk Jovan dan Nico.

klek...

Wanita itu memasuki ruangan yang cukup besar, bertuliskan CEO office. Dua bola matanya sibuk mengamati isi dalam ruangan, berjalan perlahan kemudian meletakkan amplop coklat itu di atas meja kerja Jovan.

Langkah kakinya menuntun ke arah sofa yang tak jauh dari tempat ia berdiri , lalu merebahkan tubuhnya perlahan. Ia sempat melirik arloji yang menempel di tangan kanannya, menunjukkan pukul 12.40 dan sudah waktunya jam makan siang namun Jovan belum juga keluar dari ruang meeting. Pendingin ruangan siang itu benar-benar seperti hipnotis, Adel yang masih nyaman di tempatnya kini bersiap memejamkan mata. Wanita itu menyilangkan kakinya dan melipat dua tangannya di depan dada. Tubuhnya beberapa kali mencari posisi paling nyaman dan tak lama matanya-pun terpejam.

Sekitar lima belas menit setelahnya, seseorang tanpa mengetuk pintu memasuki ruangan itu. Lelaki bertubuh tinggi dan gagah, serta aroma wangi semerbak mengusik indera penciumannya tengah berdiri di dekat sofa. Adel beberapa kali mengerjapkan matanya guna melihat sosok yang sedikit mengusiknya.

“Jov..an.. Dari kapan lo disini?” Tanya Adel sembari memperbaiki posisi duduknya.

“Bisa-bisanya masuk ke ruangan gue tanpa ijin.” Kata Jovan, lelaki itu kemudian duduk di sebelah Adel. Mendengar celetukan sahabatnya, wanita itu hanya terkekeh dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Surat lamaran gue ya Jov, pokoknya lo harus nerima gue jadi sekretaris. Biar gue bisa tiap hari pacaran sama Nico.” Ujarnya sembari mengibaskan rambutnya.

“Males punya sekretaris bucin.” Jawabnya dengan senyum seringai.

“Eh, Del.. Tadi lo bilang gak di bolehin sama Nico. Kenapa lo nekat? Ntar ribut, berantem, nangis.” Lanjut Jovan, setengah meledek. Sedangkan Adel hanya tersenyum tipis dan merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang beberapa kali bergetar. Wanita itu kemudian menatap layar ponsel beberapa saat, membaca pesan yang masuk. Tak lama ia beranjak dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan Jovan.

“Jov, gue cabut ya.. Gue di cariin si bos.” Ucap Adel sembari menepuk lengan Jovan.

“Oke.. Eh, lo gak nyamperin Nico?”

“Gak, ntar bos gue ngomel kalau kelamaan.” Jawab Adel. Ia melangkah pergi hendak meninggalkan ruangan itu, namun tiba-tiba di tahan oleh Jovan. Lelaki itu menarik lengan Adel, hingga membuatnya sedikit kaget lalu menghentikan langkahnya.

“Bentar Del, ini di benerin dulu.” Ujarnya sembari mengikat tali simpul pada bagian belakang baju yang di kenakan Adel. Wanita itu diam dan tiba-tiba hatinya berdesir. “Brengsek Jovan, bikin deg-degan aja!”— batin Adel.

Thank you.” Balasnya singkat lalu meninggalkan Jovan.

Adel keluar dari ruangan itu, berjalan sedikit cepat sembari menyentuh dadanya pelan. Jantungnya baru saja berdetak lebih cepat dari biasanya.