Who are you?

Part. 9 Cold Blooded

Setelah di bujuk beberapa kali akhirnya Clara setuju untuk ikut di acara perayaan kenaikan jabatan Yohan sebagai kepala divisi dan perkenalan kepala HRD baru. Kedua wanita itu pergi menggunakan taksi online menuju hotel yang di tentukan. Tak perlu lama, perjalanan sekitar dua puluh menit mereka sampai di hotel.

Clara dan Selina sama-sama mengenakan dress berwarna hitam, berjalan menuju ballroom yang berada di lantai lima. Keduanya menjadi pusat perhatian para rekan kerja yang turut hadir disana sejak mereka memasuki tempat tersebut. Tidak terkecuali Yohan yang memandangi sang kekasih dari kejauhan terlihat sangat cantik dan anggun.

Selina menggandeng Clara agar sahabatnya ini tidak terpisah darinya. Membelah puluhan manusia yang sedang asik berbincang, beberapa orang bahkan menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik Dj yang bergema memenuhi seluruh ruangan. Clara sama sekali tidak memperhatikan sekeliling, ia fokus pada Selina yang berjalan di depannya hingga menemukan mejanya.

Satu meja yang berisikan empat kursi kosong memang tampak lengang. Sedangkan di sebelahnya sudah penuh bergerumul orang. Clara tidak mengenal siapapun disitu kecuali Yohan dan Selina. Jadi ia berpikir untuk tetap diam di tempat, menikmati sajian di hadapannya. Beberapa botol Champagne dan wine sudah tersaji diatas meja. Satu orang waiters di sebelahnya sudah siap melayani tamu di meja tersebut.

“Ra, minum sepuasnya gak usah sungkan. Lo teler, tenang.. Ada gue sama Yohan.” Ucap Selina sembari meneguk satu gelas berisi wine yang hampir penuh hingga habis tak tersisa. Setelah itu waiters kembali menuangkan minuman ke dalam gelas milik Selina.

“Sinting. By the way mana Yohan?” Tanya Clara, gelas ke dua berisi wine yang sudah ia habiskan.

“Kayaknya ada di depan. Ini kan acara dia sama si bapak.” Jelas Selina.

“Oh...” Jawab Clara singkat. Ia kembali menikmati minuman yang semakin lama semakin memabukkan itu.

Sudah tak terhitung berapa gelas ia habiskan, botol kosong sudah mulai di ganti dengan botol yang baru. Menuangkan ke dalam gelasnya sendiri, ia teguk sampai habis dan menuangkan kembali. Seperti itu terus hingga berulang kali. Pandangan mata Clara sudah mulai kabur, tubuhnya terasa seribu kali lebih ringan.

Clara tidak sadar ketika Selina sudah hilang dari pandangan matanya. Entah sahabatnya itu sekarang berada dimana. Dua bola matanya menelisik ke beberapa titik tetapi efek alkohol yang membuat pandangannya kabur membuat orang-orang di hadapannya terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Ia pusing, langkah kakinya gontai. Wanita itu berusaha berjalan dengan semestinya, membelah kumpulan manusia di hadapannya.

Wanita itu terus berjalan sempoyongan namun tetap berusaha tegak dan berjalan lurus kedepan hingga tubuhnya tidak sengaja menyenggol lengan seseorang lelaki.

“Aw, sorry.. Sorry...” Ujarnya, lalu Clara pergi begitu saja tidak sadar dengan keadaan yang sebenarnya. Gelas berisi champagne di tangan kiri lelaki tersebut tumpah dan membasahi jas berwarna abu yang di kenakan oleh kepala HRD itu.

“Ra! Clara!” Pekik Selina setengah berteriak namun sahabatnya seakan tuli.

“Pak, maafin temen saya. Cewek yang tadi temen saya. Duh.. Jas bapak basah, gimana ya?” Tutur Selina agaknya panik karena sosok lelaki tersebut adalah kepala HRD yang punya acara malam itu.

“Sel, cari Clara. Itu bocah mabok kan? Takut ilang di culik om-om.” Perintah Yohan pada kekasihnya.

“Oke, aku tinggal bentar ya?” Kata Selina pada Yohan, dan lelaki itu mengangguk.

“Pak, saya tinggal dulu ya? Mau nyari temen saya tadi.” Ucap Selina pamit meninggalkan tempat itu kemudian mencari sahabatnya. Setelah membelah kerumunan orang di hadapannya dan keluar dari ballroom, Selina mendapati Clara sedang bersandar di lorong yang tampak sepi sembari memegangi kepalanya.

“Ra, lo mau kemana?” Selina menarik lengan Clara hingga hampir terjatuh.

“Mau pipis, udah gak tahan.”

“Ayo ikut gue.” Ucap Selina sembari memegangi lengan sahabatnya dan membawa wanita itu ke toilet. Lima belas menit setelahnya Clara-pun keluar dari toilet dan kembali ke ballroom bersama Selina. Untuk yang kedua kali, wanita itu di tuntun oleh Selina agar tidak hilang atau terjatuh karena tubuhnya cukup limbung.

Beberapa langkah sebelum akhirnya tiba di meja tempatnya tadi, Clara menghentikan langkahnya. Selina ikut berhenti dan menoleh ke belakang.

“Apa Ra? Mejanya di depan itu.” Ucap Selina sembari menunjuk arah depan dimana Yohan dan seorang lelaki duduk di sebelahnya.

Clara sontak melepaskan genggaman tangan Selina. Berjalan cepat ke arah meja itu, tatapannya tajam kedepan.

“Ra..!” Pekik Selina namun sahabatnya tidak mempedulikan dirinya. Wanita itu-pun berjalan sedikit cepat di belakang Clara.

“D-Dave...” Ucap Clara terbata, air mata sudah di pelupuk dan hampir saja tumpah. Saat ini yang ia rasakan hanyalah ribuan rindu yang menumpuk, satu tahun sudah ia simpan. Rasa cintanya terhadap Dave yang tak tersampaikan hanya ia pendam jauh di palung terdalam. Clara sendiri yang merasakannya, ia sendiri yang menanggungnya. Tidak ada seorangpun tau bahkan percaya sedikitpun tentang dirinya dan Dave.

“Ra, lo kenal Pak Dave?” Tanya Selina sembari menggoyangkan lengan sahabatnya yang semenit lalu terpaku menatap sosok kepala HRD yang duduk di sebelah Yohan. Sedangkan Selina menatap Clara lalu Yohan bergantian.

“Ra!”

Clara tidak peduli dengan Selina yang sedari tadi ingin menyadarkannya. Jika kali ini ia bermimpi, Clara benar-benar ingin memohon agar tidak terbangun lagi. Wanita itu lebih baik tinggal di alam mimpi bersama Dave.

“Dave....” Suaranya bergetar. Clara berjalan pelan menghampiri lelaki yang ia anggap sebagai Dave. Benar-benar sangat mirip sosok vampir yang ia temui di Rumania satu tahun lalu. Yang membedakan hanya bola matanya saja, Dave mempunyai bola mata berwarna merah sedangkan milik lelaki di hadapannya ini berwarna coklat.

Lelaki yang awalnya duduk akhirnya berdiri, beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap Clara, aneh. Lelaki itu sama sekali tidak mengenalnya tetapi dadanya tiba-tiba terasa sakit sejak melihat sosok wanita bernama Clara.

“Sel, siapa dia?” Tanya Dave pada Selina.

“Temen saya Pak, namanya Clara. Dia tadi yang gak sengaja nyenggol bapak.” Jelas Selina, ia cukup bingung dengan situasi saat ini.

“Dave, kamu gak kenal aku?” Tanya Clara. Sedang Dave hanya menggelengkan kepala saja. Lelaki itu benar-benar tidak mengenali Clara.

“E.. Gue ke toilet dulu ya..” Ucap Dave pada Yohan dan pergi meninggalkan tempat itu. Clara hanya bisa menatap sosok lelaki yang selama ini ia rindukan pergi begitu saja dari hadapannya.

“Ra, lo kenal Pak Dave? Jawab gue!” Kata Selina sembari mencengkeram kedua lengan Clara.

“Sel, dia vampir yang gue kenal di Rumania. Itu yang gue ceritain ke lo.”

“Udah.. Udah.. Gue anter ke kamar ya? Gue tau lo mabok. Mending lo tidur.” Pinta Selina. Ia menatap iba sahabatnya ketika tiba-tiba meneteskan air mata.

“Kenapa sih lo gak percaya sama gue Sel? Gue harus jelasin gimana lagi coba??”

Selina melempar pandangan ke arah kekasihnya, tangannya memijit pelipisnya pelan. Yohan-pun bergegas menghampiri Selina dan Clara.

“Sayang, kamu duduk dulu. Aku anter Clara ke kamar ya? Kamu tunggu Pak Dave dulu.” Ujarnya. Selina mengangguk tanda setuju. Wanita itu kembali meneguk satu gelas wine di hadapannya. Sedangkan Yohan mengantar Clara untuk beristirahat di kamar hotel.

Pada saat Clara masuk ke dalam kamar, di waktu yang sama Dave keluar dari kamar di sebelahnya. Namun wanita itu tidak mengetahui jika Dave berada di kamar tak jauh darinya.

“Yohan..” Sapa Dave yang sedang berdiri di depan pintu, Yohan menoleh ke arah Dave kemudian menghampirinya.

“Selin tepar?” Tanya Dave.

“Itu Clara, temen gue.”

“Pakai kamar lo?” Tanya Dave lagi.

“Iya, ntar gue pake punya Andre, yang pegang divisi 2. Dia balik, gak jadi nginep disini.” Jelas Yohan. Dave-pun mengangguk dan mereka kembali ke ballroom.

“Dave, lo kenal Clara?” Tanya Yohan tiba-tiba. Dave menoleh dan menatap Yohan beberapa detik lalu kembali menatap lurus ke depan. Pertanyaan yang di lontarkan Yohan tak kunjung di jawab. Dave ragu, ia merasa tidak mengenal bahkan tidak pernah bertemu dengan Clara. Namun tiba-tiba saja dadanya terasa sakit saat menatap mata wanita itu.

“Nggak. Gue baru liat tadi di acara.” Jawabannya singkat.