First Meet
Langit tampak begitu cerah, langit berwarna biru. Sinar mentari yang hangat menyeruak masuk melalui celah jendela kaca. Alarm berbunyi nyaring sedikit mengusik ketenangan, jemari mungil terlihat meraba arah sumber suara yang berada di atas nakas.
Netranya masih terpejam saat meraih ponsel itu. Mengetuk asal pada layar ponsel dan meletakkannya sembarang. Kala mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian duduk di tepian ranjang sembari mengumpulkan tenaga.
Hari ini pertama kalinya ia bekerja sebagai sekretaris. Kala tidak ingin terlambat, ia harus mempersiapkan semua dengan sebaik mungkin.
“Del, thank you ya udah di anterin, lo hati-hati.” Ucap Kala sembari melepaskan seat belt dan turun dari mobil Adel. Pagi itu sebenarnya Kala ingin berangkat menggunakan taksi online atau gojek, namun Adel tidak tega membiarkan sahabatnya itu berangkat sendiri di hari pertamanya bekerja. Bahkan jarak rumah Adel ke JCC Holdings cukup memakan waktu, kurang lebih tiga puluh menit perjalanan.
Kala berjalan pelan, memasuki gedung yang sudah tidak asing baginya. Masih sama seperti tiga tahun lalu, hanya beberapa ornamen di dalam ruangan saja yang sedikit berubah. Langkahnya menuntun ke sebuah lift yang akan mengantarkannya ke lantai empat. Beberapa orang di sana memandangi dirinya, mungkin di mata karyawan lain sosok Kala memang masih asing.
Ting! Kala tiba di lantai empat, jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia melirik arloji yang menempel di tangan kirinya tepat pukul 07:55 sedikit lebih cepat dari waktu yang di tentukan. Wanita itu merasa lega karena tidak terlambat untuk menghadap Jovan. Setibanya di depan ruangan yang bertuliskan CEO Office, jantung Kala benar-benar seperti lepas dari posisinya. Ia memegangi dadanya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskan nafasnya perlahan.
Tok tok tok...
Klek...
Kala membuka pintu ruangan tersebut. Melangkahkan kakinya perlahan dan di sambut oleh udara dingin yang mencekat. Seluruh tubuhnya di buat merinding karena suhu udara benar-benar sangat dingin. Kala menghembuskan nafasnya sedikit kasar sebelum akhirnya mengayunkan kakinya ke tempat dimana Jovan berdiri.
Lelaki berperawakan tinggi itu sudah menantikan kehadiran Kala. Ia tengah berdiri di depan dinding kaca yang terbentang luas sembari memandang hiruk pikuk ramainya jalanan ibu kota. Dua tangannya ia lipat di depan dada, Jovan terlihat maskulin ketika mengenakan setelan jas berwarna hitam dan rambut yang tertata rapi. Bahkan wajahnya lebih tampan di bandingkan tiga tahun lalu.
Jovan menoleh ke arah wanita yang tengah berdiri di sebelahnya, dua tangannya kini ia masukkan ke dalam saku celana. Kedua mata mereka saling bertemu, tanpa berkedip sedetikpun.
“Kala..”
“Iya Jov, eh Pak Jovan.” Jawab Kala gugup.
“Panggil Jovan gapapa, nggak usah terlalu formal. Kecuali kalau di depan klien.” Tutur lelaki itu dengan tatapan yang dingin dan tajam. Kala merasa Jovan bukanlah yang dulu ia kenal, raut mukanya terlihat datar, berbicara seperlunya dan tatapan matanya begitu dingin.
“Kamu bisa ke ruangan, Kal.”
“Hari ini nggak begitu sibuk, kamu bisa duduk dan menerima pengajuan proposal dari klien via email.” Jelas Jovan. Lelaki itu berjalan ke arah meja kerjanya kemudian duduk dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Kala masih berdiri di tempat yang sama, sedikit aneh baginya. Pertemuan dan hari pertama ia bekerja sama sekali tidak ada kesan manis, hanya rasa yang sangat hambar.
“Ehm...” Lelaki itu berdeham, sembari melirik ke arah Kala yang masih membeku di sana. Kemudian menyeruput secangkir kopi yang berada di atas meja kerjanya. Wanita itu terhenyak, kemudian berpamitan pada Jovan dan meninggalkan ruangan itu.
“A-aku ke ruangan dulu.” Ucap Kala, kemudian di jawab dengan anggukan oleh Jovan.