Perpisahan
Seorang wanita paruh baya menghampiri anak perempuannya. Mengusap punggungnya lembut kemudian duduk di tepi ranjang, di setelahnya satu koper yang hampir terisi penuh dengan pakaian. Wanita itu menatap lamat wajah sang anak. Ya, dialah tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahnya setelah di tinggal sang suami untuk selamanya.
“Kamu mau ninggalin mama? Kerjanya jauh banget.” Ucap wanita itu. Tangannya sangat terampil melipat beberapa pakaian yang masih tergantung pada hanger.
“Ma.. Nanti aku sering-sering vidcall sama mama. Lagian aku kerja juga buat bantu keuangan mama. Luna masih butuh biaya banyak buat kuliah.” Tutur Kala. Terbesit satu senyuman namun dalam hatinya sedikit sakit. Ia harus meninggalkan orang tua satu-satunya dan seorang adik perempuan. Tidak ada pilihan lain, toh Kala merasa semua tanggung jawab ada di tangannya.
“Kala.. Kamu ada cukup uang, tidak?” Tanya sang mama.
“Ada ma, aku masih punya tabungan. Cukup buat beberapa bulan, nanti kan aku dapet gaji.” Jelas Kala. Wanita itu kemudian duduk di sebelah sang mama dan memeluknya erat. Bulir-bulir air mata-pun jatuh membasahi pipinya. Kala sesegera mungkin mengusapnya agar sang mama tidak melihat.
“Ma, aku nggak akan ngecewain mama. Aku kerja keras buat mama sama Luna.”
“Mama percaya sama kamu, kalau kamu nggak betah sama kerjaan pulang aja ya? Nggak perlu dipaksakan.” Ucap wanita itu sembari mengusap pipi sang anak. Kala tersenyum dan mengangguk, kemudian ia kembali melanjutkan aktivitasnya.