A coffee and you
Pt. 12 Cold Blooded
Langit sore tiba-tiba saja mendung. Baru beberapa saat lalu teriknya matahari terasa menyengat. Ketikan hatinya gundah dan kalut, Clara memilih melangkah pergi meninggalkan apartemen Selina. Lima belas menit sebelumnya Clara sudah memesan taksi online. Setibanya di lobi, taksi tersebut sudah berada di depan gedung apartemen.
Cuaca hari itu sangat mendukung dirinya untuk sekedar minum kopi di sebuah cafe yang dulu sering ia kunjungi. Dua puluh menit perjalanan tibalah Clara di Epic Coffee. Dalam cafe itu cukup ramai pengunjung, dua bola mata Clara menelisik ke seluruh ruangan namun ia tak menemukan meja yang kosong. Sedikit kecewa namun ia sudah sampai di sana setidaknya Clara bisa menikmati secangkir caramel macchiato favoritnya.
“Mas, ada yang kosong nggak ya?” Tanya Clara pada waiters di sana.
“Masih ada satu meja kosong kak, sebelah sana. Silahkan kakak memesan terlebih dahulu.” Ucap waiters tersebut sembari menunjuk arah meja kosong yang di maksud, terletak di sebelah dinding kaca. Clara mengangguk kemudian ia memesan secangkir kopi.
“Caramel macchiato mas.”
“Caramel macchiato kak.”
Dua kalimat terucap secara bersamaan. Dan keduanya menoleh ke arah sumber suara, saling menatap satu sama lain.
“Dave..”
“Hm.. Oh, Clara?”
“Kita nggak sengaja ketemu di waktu dan tempat yang sama.” Ujarnya. Sembari menunggu kopi yang ia pesan.
“Kebetulan aja.” Jawab Dave ketus.
Clara tersenyum tipis kemudian berlalu meninggalkan Dave. Dalam hatinya cukup kesal dengan sikap Dave yang terlalu dingin tetapi wanita itu tak bisa protes.
Clara berjalan menuju satu meja kosong yang terletak di samping dinding kaca. Di susul seorang waiters yang membawakan kopi pesanannya. Ia duduk sendiri, menatap riuhnya jalanan ibu kota. Meskipun pandangan matanya fokus pada kendaraan yang berlalu lalang, namun pikirannya entah dimana. Bayangan wajah Dave terus menghantui Clara, hingga kerap kali membuatnya frustasi.
Selagi menyeruput kopinya pelan, detik kemudian ia di kagetkan oleh suara yang tak asing di telinganya.
“Aku boleh join disini?”
Clara menoleh ke arah sumber suara, menatap Dave beberapa saat.
“Boleh.” Jawab Clara singkat. Memasang muka datar, kemudian memalingkan pandangannya ke arah luar. Jantung Clara berdetak lebih cepat dari biasanya, begitupun Dave. Lelaki itu beberapa kali melirik, mencuri pandang pada tanpa sepengetahuan Clara.
Clara enggan berbicara, menurutnya menjelaskan dengan beribu-ribu kata tetap saja Dave tidak akan ingat dengan dirinya dan Transylvania. Wanita itu masih tak bergeming, hanya menikmati pemandangan rintik hujan yang turun.
“Kopinya di minum, keburu dingin.” Ucap Dave tiba-tiba. Wanita itu sedikit terkejut, pasalnya Dave adalah orang yang sangat dingin terlebih pada dirinya. Dan detik ini, Dave memulai perbincangan mereka.
“Dave, aku boleh tanya sesuatu?”
Lelaki itu mengangguk sembari menghabiskan sisa kopi di cangkir berwarna putih.
“Dave, kamu pernah tinggal di Transylvania?“
Dave membeku, ia mengingat sesuatu tentang Transylvania. Lelaki itu terdiam sesaat, melempar pandangan ke arah luar dan mencari jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan Clara.
Transylvania?
“Kenapa?” Tanya Dave.
Clara tersenyum, menatap bola mata Dave. Semua kenangan bersama lelaki itu kembali muncul, dadanya terasa sesak ketika mengingat hal paling indah yang ia lakukan dengan Dave.
“Waktu tinggal di Transylvania, aku pernah mengenal seseorang. Sampai akhirnya aku punya perasaan lebih ke dia. Kesalahan terbesar di hidupku, karena kami berbeda. Lelaki itu bernama Dave, sama kayak nama kamu. Wajahnya, tinggi badannya, postur tubuhnya sama persis kayak kamu. Tapi tiba-tiba dia pergi, dengan alasan yang nggak bisa aku pahami.” Jelas Clara memulai ceritanya. Kalimat terakhir-pun terhenti. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Jika ia mengingat saat di tinggalkan oleh Dave, hatinya terasa sakit.
Clara meneguk sisa kopi di cangkirnya lalu berdiri. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
“Dia cuma ninggalin surat ini.” Clara meletakkan satu lembar kertas yang terlipat rapi di hadapan Dave.
“Aku duluan ya, bentar lagi hujan.” Lanjut Clara. Wanita itu akhirnya pergi meninggalkan Dave yang masih membeku melihat Clara berlalu begitu saja.
Dave membuka lebaran kertas itu dan membacanya. Tulisan di dalam kertas itu sama persis dengan miliknya. Lelaki itu berpikir keras tentang apa yang di lihatnya. Samar-samar ia mengingat pernah menulis di selembar kertas berwarna coklat muda itu. Tetapi kapan? Dimana?
Clara?
Dave pun beranjak dari tempat duduknya. Ia melihat sekeliling dalam cafe namun sosok wanita yang ia cari sudah hilang dari pandangan matanya. Dave berjalan sedikit lebih cepat, keluar dari cafe dan mencari Clara. Samar Dave melihat wanita berambut panjang berjalan pelan di sepanjang trotoar. Rintik hujan kelamaan menjadi semakin deras. Dave berlari ke arah wanita itu, bersamaan air yang tiba-tiba turun menghujani bumi.
Clara menghentikan langkahnya, menutupi kepala dengan kedua tangannya. Lalu berlari kecil hendak mencari tempat untuk berteduh. Tiba-tiba saja tangan kirinya di tarik oleh seseorang dari belakang.
“Ah!” Clara memekik, kaget ketika ada seseorang secepat kilat membawa kedalam pelukannya.
“D-Dave..” Bisiknya lirih. Aroma tubuhnya sama persis dengan sosok vampir yang ia temui satu tahun lalu. Detak jantung Clara berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dadanya sedikit sesak hingga air mata seketika tumpah. Hujan yang membasahi tubuhnya menyamarkan setiap tetes air mata yang tak tertahan. Clara membeku, tak bergeming. Ia tidak percaya dengan situasi saat itu. Detik itu juga Dave memeluknya dengan sangat erat. Menyalurkan rasa hangat di tubuhnya. Rasa nyaman yang pernah hilang kini kembali lagi, inilah yang sekian lama di cari oleh Clara. Ia menemukannya, wanita itu mendapatkannya kembali.
“Hujan, Clara.” Bisiknya lirih, sembari membuka payung berwarna hitam guna melindungi Clara dari terpaan air hujan yang cukup deras. Dave melepaskan pelukan diantara keduanya, menatap lekat wajah Clara yang terlihat kuyup. Tanpa ada sepatah katapun keluar dari bibir Dave, lelaki itu menggenggam tangan Clara dan membawanya masuk ke dalam mobil bernuansa hitam tak jauh dari sana. Tanpa penawaran, dan tidak ada penolakan dari wanita itu.