Part. 11 Cold Blooded

“Sinting!”

Satu kata yang terlontar dari bibir Selina ketika Yohan memberitahu bahwa Clara berada di kamar Dave. Semalam Selina juga terlalu banyak minum hingga tidak begitu memperhatikan sahabatnya. Seharusnya Clara menjadi tanggung jawabnya karena dari awal ia yang terus memaksa agar Clara ikut ke acara tersebut.

Selina bergegas keluar dan menunggu Yohan di depan kamar Dave. Tak berapa lama lelaki berhidung bangir itu berlari kecil menghampiri sang kekasih.

“Sel, jangan emosi dulu ya? Semalem Dave cuma nolongin Clara. Dia keluar kamar tapi gak bawa cardlock jadi gak bisa masuk ke kamar lagi.” Jelas Yohan. Sedangkan Selina hanya mengangguk namun masih dengan raut wajah sedikit kesal.

Ting Tong....

Dave membuka pintu kamarnya kemudian dua sejoli ini masuk sedikit tergesa. Langkah keduanya terhenti saat melihat Clara masih terpejam dan berbalut selimut tebal. Selina dan Yohan saling melemparkan pandangan.

“Sel, bentar lagi dia bangun.”

Dave berjalan mengambil arloji yang berada di atas nakas dan memasang di tangan kirinya. Saat ia membalikkan badan, samar terlihat tangannya mengusap pucuk kepala Clara.

“Gue balik duluan ya..” Ucap Dave lagi, sembari menepuk bahu Yohan.

Setelah Dave keluar dari kamar hotel, saat itu juga Clara terbangun dari tidurnya. Selina menghampiri sahabatnya lalu duduk di tepi ranjang.

“Lo gapapa kan?”

“Sel, Dave dimana?” Tanya Clara, matanya memutari ruangan sekitar untuk memastikan lelaki yang ia cari berada di sana atau tidak. Namun sia-sia, Dave sudah pergi.

Mendengar pertanyaan itu Selina dan Yohan saling menatap, keduanya mencoba mencerna apa yang sesungguhnya terjadi. Baru saja semalam Clara bertemu dengan Dave, tapi seolah-olah sahabatnya sudah mengenal lama sosok kepala HRD itu.

“Mandi gih, terus sarapan.” Pinta Selina sembari menyibak selimut yang menutupi tubuh Clara.

“Sel, gue pengen pulang. Kalau lo mau sarapan dulu sama Yohan gapapa. Gue pulang duluan naik taksi.” Tutur Clara. Ia benar-benar ingin pulang.

“Ya ayo pulang. Sarapan di apart aja, nanti gue pesenin makan.” Sahut Yohan. Selina mengangguk tanda setuju, tanpa menjawab apapun.