Landing

08.45

Pesawat yang di tumpangi Kala mendarat dengan sempurna. Pagi itu cuaca tidak begitu cerah, langit ibu kota terbalut awan kelabu. Kala menuntun satu koper berukuran sedang, berjalan keluar dari area bandara. Netranya cukup jeli mencari sosok sahabat yang sudah lama tak bersua.

Dari jarak kurang lebih lima meter, terlihat Adel melambaikan tangannya sembari tersenyum. Ia bersandar pada bagian depan mobilnya ketika sedang menunggu Kala.

“Lo nunggu lama Del?” Tanya Kala, menyambut pelukan dari sahabat lamanya.

“Nggak, baru sepuluh menitan. Yok masuk.” Pinta Adel, ia membuka bagasi mobilnya guna meletakkan koper milik Kala.

“Kal, gue anter lo pulang ke rumah gue kan.. Lo sarapan, tidur, apa aja terserah anggap rumah sendiri. Gue mau ngantor, biasanya gue balik jam empat. Kalau nggak ngaret. Hehe..” Ujarnya. Kala tersenyum sembari menatap Adel yang berada di belakang kemudi. Ia menggunakan seat belt setelah duduk dan mencari posisi yang nyaman.

“Maaf ya Del, gue baru aja sampai udah ngerepotin lo.” Jawab Kala singkat.

“Gue nggak merasa di repotkan. Oke? Pokoknya anggap rumah sendiri.” Jelas Adel, tangannya sangat mahir memutar kemudi. Lalu meninggalkan area bandara secepat mungkin. Hari itu Adel sedikit terlambat ke kantor karena harus menjemput Kala dan mengantarnya pulang terlebih dahulu. Tetapi tidak masalah bagi Adel, ia sudah meminta ijin terlebih dahulu pada atasannya.

Sesampainya di rumah Adel, wanita itu terduduk lesu. Ia memikirkan untuk segera mendapatkan rumah kontrakan atau satu unit apartemen dengan biaya sewa yang tidak terlalu mahal. Kala harus bisa me-manage uang sebaik mungkin, karena ia juga harus membagi dengan biaya kuliah adik perempuannya.

Kala merebahkan tubuhnya pada sofa di ruang tengah. Ia merasa sungkan jika terlalu lama tinggal di rumah itu, karena Adel adalah orang paling baik yang ia kenal sejak dulu. Tidak terasa kedua mata Kala terpejam dan tak perlu menunggu lama wanita itu menjemput mimpinya.