Ring in Bralette

Hari Sabtu kali ini ternyata banyak aktivitas yang di lakukan Jovan dan Kala. Wanita itu awalnya ingin istirahat di akhir pekan ternyata Jovan meminta dirinya untuk menemani ke makam Helena.

Kala tidak bisa menolak terlebih ia juga belum pernah sekalipun berkunjung ke makam Helena. Ketika Jovan mengajaknya, maka dengan senang hati wanita itu akan ikut serta. Setelah makan siang, dua sejoli itu menuju pemakaman di lanjutkan berkunjung ke rumah mama Jovan hingga malam hari.

Kala dengan keluarga Jovan sudah semakin dekat, bahkan beberapa kali pertemuan mereka selalu membahas tentang pernikahan. Sang mama awalnya tampak santai dan menyerahkan semua keputusan pada anak semata wayangnya, kini sedikit mendesak untuk buru-buru menikah.

Jovan sendiri sudah sangat siap dengan pernikahan tetapi ia masih menunggu kesiapan batin dan mental Kala. Lelaki itu tidak mau memaksakan keinginannya, semua harus di lakukan bersama, mencapai tujuan yang sama pula.


Jovan dan Kala tiba di apartemen sekitar pukul sepuluh malam, sedari tadi tangan Jovan tidak lepas dari pinggang si puan. Mulai turun dari mobil hingga menuju unit apartemen miliknya, tangan kokoh lelaki itu tidak bosan bertengger mesra di pinggang Kala.

Lantas keduanya berjalan menuju kamar utama, milik Jovan. Tak henti-hentinya lelaki itu menggoda Kala dengan kecupan-kecupan mesra pada lengan si puan setelah melepaskan outer dan menentengnya di tangan kanannya.

Kala hanya terkekeh melihat tingkah Jovan, namun lelaki itu terus menggodanya hingga mencium leher, pipi dan bibir Kala secara tiba-tiba.

“Jovan!! Kamu kenapa sih?” Ujarnya, kelamaan Kala pun kesal dengan tingkah Jovan yang kekanak-kanakan.

Jovan hanya terkekeh sembari mendudukkan dirinya pada tepi ranjang besar dan melepas beberapa kancing kemejanya hingga terlihat tubuh kekar miliknya. Langkah Kala terhenti, ia menatap lekat wajah sang kekasih yang sangat tampan. Dalam hati kecil wanita itu merapalkan puja dan puji syukur karena Tuhan telah mengirimkan seorang lelaki yang nyaris sempurna bagi dirinya.

“Jovan, kamu mandi dulu ya? Gantian.” Kala berujar sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Nggak bareng aja, Kal? Biar hemat waktu.” Balas Jovan sembari tersenyum nakal ke arah Kala.

Wanita itu tiba-tiba membuang muka karena malu, ia lalu berjalan menjauh dari Jovan dan meletakkan outer-nya di dalam laundry box yang berada di sisi kamar mandi.

Jovan tertawa kecil karena berhasil menggoda Kala, bahkan dengan waktu singkat ia dapat membuat wajah kekasihnya merona karena malu. Lantas lelaki itupun bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar mandi guna membersihkan diri.

Selagi menunggu Jovan untuk beberapa menit, wanita itu tidak tinggal diam. Iya merapikan beberapa potong baju yang tergeletak di atas ranjang, ia masukkan ke dalam lemari pakaian Jovan. Merapikan meja rias, menyimpan jam tangan milik Jovan pada laci khusus, menyiapkan satu setel piyama untuk di kenakan Jovan setelah mandi.

Lima belas menit setelahnya, Jovan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer. Handuk berwarna putih ia lingkarkan pada leher sembari menggosok rambutnya yang basah. Lelaki itu mengamati Kala yang sedang berdiri di depan cermin, melepas tali simpul yang melingkar di pinggangnya serta mencoba menurunkan resleting pada bagian belakang dress namun terlihat kesulitan.

Ketika melihat wanitanya merasa kesulitan, Jovan pun bergegas menghampirinya. Ia berjalan perlahan sembari tersenyum jail.

“Kalau nggak bisa itu bilang, sayang. Jangan diem aja.” Ucap Jovan sembari menurunkan resleting hingga batas pinggang. Melihat bagian belakang tubuh Kala yang terekspos sangat mulus, sangat wajar jika pemandangan apik itu bak mematik hawa nafsunya.

Tangan kiri Jovan menarik tubuh Kala agar menempel pada tubuhnya, tangan kanannya ia gunakan untuk menyibak rambut Kala hingga kesamping agar tidak menutupi punggungnya yang mulus. Bibir Jovan lantas bergerilya, memberikan kecupan-kecupan hangat dan mesra pada tengkuk, bahu serta punggung Kala. Sedangkan wanita yang masih sanggup berdiri tegak di depan cermin itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari meremas punggung tangan Jovan yang masih melingkar di perutnya.

Dengan satu kali hentakan, jemari Jovan berhasil melepaskan kaitan bra yang di kenakan Kala. Sontak wanita itu terhenyak, dan menatap Jovan dari pantulan cermin. Begitu juga Jovan, keduanya saling melemparkan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.

“Jov, aku belum mandi. Jangan deket-deket aku keringetan.” Ucap Kala sedikit gugup.

Selama mereka tinggal bersama di apartemen setelah keduanya resmi berpacaran tiga bulan lamanya, Jovan tidak pernah meminta lebih pada Kala. Meskipun mereka tidur dalam satu ranjang, dan sudah membahas lebih dalam tentang pernikahan. Jovan masih setenang air dalam menahan hawa nafsunya yang semakin hari semakin membuncah. Namun malam itu mungkin benteng yang di bangun tinggi-tinggi oleh Jovan akan runtuh seiring dengan hadiah kejutan untuk sang kekasih.

“Kamu keringetan aja wangi, Kal. Rasanya pengen cium-cium kamu terus.” “Ya udah mandi dulu, abis mandi aku mau kasih kamu sesuatu.”

Kala pun melepaskan diri dari pelukan Jovan, wajahnya terlihat penasaran dengan ucapan Jovan beberapa detik yang lalu. Wanita itupun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah melihat Kala masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower, Jovan bergegas mengambil satu box berwarna peach yang semula ia letakkan di atas lemari pakaian. Dua hari yang lalu Jovan membeli Bralette set berwarna putih dengan aksen renda warna peach serta satu cincin bertahtakan berlian yang ia simpan di dalam box berisi pakaian dalam. Kemudian Jovan meletakkan box tersebut di atas meja rias yang biasa di gunakan Kala.

Dua puluh menit setelahnya Kala keluar dari kamar mandi, ia masih mengenakan bathrobe berwarna putih juga rambut yang di balut dengan handuk. Lalu wanita itu duduk di depan meja rias menatap box berwarna peach itu kemudian menatap Jovan yang sedang bersandar pada headboard sembari memainkan ponselnya.

“Jovan..”

“Hmm..” Balasnya tanpa melihat ke arah Kala, lelaki itu masih fokus pada ponselnya.

“Jovan, liat aku.”

“Apa, sayang?” Jawabnya sembari menatap Kala yang sedang mengusap-usap rambutnya menggunakan handuk.

“Ini apa, Jov?” Tanya Kala lagi, jarinya menunjuk box di atas meja riasnya.

“Special gift for you, baby.” Jawab Jovan, ia menghidupkan mode pesawat di ponselnya lalu meletakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Lelaki itu lantas beranjak dan berdiri di belakang Kala, ia mengambil hair dryer dari laci guna mengeringkan rambut si puan.

“Buka aja, sayang.” Titahnya. Kala menatap Jovan melalui bias cermin di hadapannya lalu membuka kotak tersebut. Betapa terkejutnya setelah melihat isi kotak tersebut.

“Jovan, ini maksudnya apa?”

“Jangan bilang aku suruh pakai ini di depan kamu.” Ucap Kala. Bibirnya mengerucut, hatinya gundah seketika. Jovan tidak pernah memberikan hadiah yang tidak masuk akal sebelumnya. Menurut Kala, satu set pakaian dalam adalah hadiah yang menggelikan.

“Emang aku pengen kamu pakai itu sekarang, di depan aku.” Ucap Jovan sembari mengecup leher Kala.

“Jov—,”

“Itu di dalemnya masih ada satu box lagi, sayang. Coba kamu cari dulu.” Ujarnya, tangannya masih sibuk mengeringkan rambut Kala menggunakan hair dryer. Wanita itu merogoh isi box, di bawah sehelai celana dalam ia menemukan kotak yang sangat mungil.

Netra dua sejoli itu saling menatap melalui bias cermin di hadapannya, Jovan pun mengulas senyum manis pada sang kekasih. Sedangkan Kala membuka perlahan kotak kecil itu, dan ia semakin terhenyak melihat isinya.

“Oh, God..”

Suara yang keluar dari bibir Kala sangat lirih di iringi getar serta serak yang mencekat di tenggorokan. Matanya membelalak, satu tangannya menutup bibirnya yang menganga karena kaget dengan hadiah yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Kala pikir, cincin atau perhiasan dan semacamnya akan di berikan Jovan jelang pernikahan. Namun malam itu layaknya seorang wanita yang sedang di lamar oleh sang kekasih. Raut wajah bahagia Kala tidak dapat di sembunyikan.

“Jovan, ini cantik banget.”

“Secantik perempuan yang ada di depanku. Sini aku pakein.” Ucap Jovan, meletakkan hair dryer pada meja rias kemudian mengambil cincin bertahtakan berlian dan menyematkan pada jari manis sang kekasih.

“Sayang, aku mau bawa kamu ke altar secepatnya. Kamu mau kan, nikah sama aku?” Pertanyaan yang sarat akan penegasan itupun keluar dari bibir Jovan, tatapan matanya seakan mengunci sorot mata Kala. Wanita itu tak kuasa menahan tangis haru, dan menjawab pertanyaan Jovan dengan anggukan beberapa kali serta memeluk lelaki itu.

Jovan mengusap punggung Kala pelan, mengecup puncak kepala wanita itu hingga beberapa detik kemudian merenggangkan pelukannya.

“Sayang, sekarang pakai bralette set-nya ya? Aku mau liat.”

“Jovan, tapi—,”

“Nggak ada penolakan. Mau pakai sendiri atau aku bantu?”

“Aku pakai sendiri” Ucap Kala singkat dan jelas, lantas wanita itu berjalan menuju walk in closet guna memakai pakaian dalam yang di berikan Jovan. Warna peach yang di pilihkan Jovan sangat serasi jika melekat di tubuh putih Kala.

Ketika wanita itu keluar dari walk in closet ia dapati ruang kamar Jovan menjadi temaram, lampu yang semula menyala penuh kini tinggal empat lampu kecil remang yang berada di sudut ruang besar kamarnya.

Kala menelan ludah gusar, ketika mendapati Jovan tengah melihat dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh intimidasi. Lelaki itu sedang duduk bersandar pada headboard, dua tangannya ia lipat di depan dada. Kala masih terpaku dengan jarak sekitar dua meter dari ranjang besar milik Jovan. Otaknya sedang tidak bisa berpikir dengan baik, yang ada di dalam otaknya adalah bagaimana jika malam itu Jovan memakan dirinya sampai habis.

“Come here, baby.” Ucap Jovan sembari mengulurkan tangannya ke arah Kala.

Jantung Kala seakan-akan terlepas dari tempatnya saat itu. Akankah ia melakukannya kembali dengan Jovan setelah lima tahun yang lalu keperawanannya di rampas oleh sang mantan kekasih.

Kala berjalan pelan menuju ranjang besar di depannya, di iringi jantung yang berdetak semakin kencang. Kala meletakkan telapak tangannya di atas tangan Jovan guna menyambutnya dan lelaki itu menuntun Kala untuk duduk di atas pangkuannya.

“Hei.. You're so beautiful, baby.“I love you so much.”

Ucap Jovan dengan suara yang terdengar serak, lalu tangannya menarik tengkuk Kala guna mendaratkan ciuman mesra yang sarat akan gejolak nafsu.

Wanita itupun membalas ciuman hangat dan basah yang begitu intim, hingga kedua lidah saling berbelit dan bertukar saliva. Kala yang duduk di atas pangkuan Jovan merasakan kejantanan sang kekasih sudah keras di bawah sana.

Ciuman yang terasa semakin dalam kelamaan menjadi lumatan candu, hingga keduanya terbuai dengan gejolak birahi yang meletup-letup. Tangan Jovan dengan cepat menurunkan tali bralette dan melepaskan pengaitnya dengan satu kali percobaan hingga dada ranum milik Kala menyembul indah di depan matanya.

Dua tangan Kala melingkar pada perpotongan leher Jovan ketika lelaki itu meraup dengan rakus dua buah dada Kala secara bergantian. Puncak payudaranya sudah mencuat dan tegang seiring hisapan oleh bibir Jovan.

Bibir Kala meloloskan lenguh dan desah sarat akan rasa nikmat yang sudah lama ia dambakan, seiring dengan desis dan geram si tuan yang sedang sibuk menikmati dua buah dada ranum milik sang kekasih. Mengulumnya secara bergantian, memainkan dengan lidah serta memberi tanda kepemilikan di area payudara hingga menimbulkan bercak ruam keunguan.

Jovan dan Kala seakan lupa segalanya, keduanya sama-sama melupakan masa lalu dan meninggalkan rasa sakit yang sudah lama mereka pendam sendirian. Luka masing-masing seakan terobati dengan kasih sayang dan kepercayaan yang mereka bangun selama tiga bulan terakhir.

Yang ada di hadapan mereka kini adalah masa depan, yang keduanya cicip malam itu adalah sosok yang telah di miliki satu sama lain, tanpa bentang rintangan. Yang ada hanyalah api cinta mereka yang menyala, berkobar selayaknya nafsu birahi keduanya yang telah membakar akal sehat.

Kala meremas rambut Jovan ketika lelaki itu menggigit mesra puncak payudaranya. Ia merasakan celana dalam yang ia kenakan mungkin sudah basah akibat cumbu mesra yang kian menggebu.

Sudah puas menjamah buah dada si puan, lalu Jovan menggulingkan tubuh Kala hingga berada di bawahnya. Lelaki itu memastikan bahwa dirinya yang memegang kendali malam itu.

“Sayang, aku lanjut boleh ya?” Pinta Jovan dengan suara serak. Ia cium bibir Kala hingga beberapa detik, lalu menatap kedua mata wanita itu bak sebuah hipnotis. Tak perlu berpikir lama, akhirnya Kala mengangguk penuh keyakinan atas apa yang akan di lakukan Jovan selanjutnya. Malam itu Kala menyerahkan seutuhnya tubuh agar di nikmati oleh Jovan.

Jovan bertumpu menggunakan kedua lututnya, lalu melepaskan celana dalam yang menjadi penutup terakhir pada tubuh Kala. Lelaki itupun kembali mendaratkan ciuman basah di bibir Kala sembari meraba permukaan liang vaginanya yang terasa lembab dan sangat basah.

Kala meloloskan lenguh pasrah ketika jari tengah Jovan menyapa klitorisnya yang sudah membengkak.

“Mmm.. So wet, baby.” Ucap Jovan lirih berhasil memporak-porandakan akal sehat Kala, libidonya naik dengan cepat hanya dengan kalimat kotor yang di ucapkan Jovan.

Lantas Jovan mengecup tiap inchi tubuh Kala mulai dari kening, kedua mata, hidung, dan bibir. Kemudian beralih turun pada dua puncak buah dada, perut, serta paha. Dua tangan lelaki itu ia gunakan untuk membuka lebar paha Kala, mencium dan menjilat tiap permukaan kulit paha hingga berakhir pada titik sensitif milik wanita itu.

“Ouh.. Jov—vannn..”

Kala meremas apapun yang dapat ia raih guna melampiaskan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lidah hangat lelaki itu berhasil menjamah titik paling sensitif di tubuh Kala, memainkan klitorisnya dengan lidah dan sesekali menggigit kecil di sana membuat tubuh Kala menggelinjang karena nikmat.

Perlahan satu jari Jovan menembus liang surgawi milik Kala, menggerakkan secara perlahan membuat si puan mendesahkan nama Jovan berulang kali. Lidah Jovan masih bermain-main dengan klitorisnya, merangsang tubuh Kala agar lebih cepat sampai pada pelepasannya.

Karena di rasa liang milik Kala yang sudah sangat basah, Jovan mencoba memasukkan satu lagi jarinya dan menggerakkan dengan tempo sedikit lebih cepat. Kala menggeram resah ketika dua jari lelaki itu berhasil mengobrak-abrik liangnya, dengan tatapan yang begitu dalam Jovan mengamati wajah Kala dengan mata yang terpejam namun bibirnya mendesah gelisah serta meloloskan rancu serta lenguh yang memenuhi gendang telinganya.

Jovan merasa gemas dengan Kala, kemudian mendaratkan ciuman singkat guna menenangkan sang kekasih.

“Jovann.. Stophhh..” Pinta Kala sembari meremas lengan Jovan namun tidak di indahkan oleh si tuan.

“Sayang, kamu keluar dulu. Ini buat peregangan juga biar nggak sakit.” Jelas Jovan, ia kemudian meraup kembali payudara Kala guna memancing pelepasannya, dua jarinya masih bergerak di bawah sana dengan tempo yang lebih cepat dari sebelumnya.

“Jov.. Aku m-mau keluar..” Ucap Kala dengan nafas yang tersengal. Dua tangannya meremas sprei dan dua kelopak matanya masih terpejam.

“Let's go, baby.”

“Aahhh....” Kala meloloskan desah panjang ketika liang vaginanya mengejang seiring cairan pelepasannya luruh membasahi jari milik Jovan.

Deru nafas Kala tersengal bersamaan dengan peluh yang membasahi hampir seluruh tubuhnya. Kali kedua wanita itu melakukannya kembali setelah empat tahun tidak pernah berhubungan dengan lelaki. Kala merasakan seperti baru pertama kali, beberapa kali merasa ragu namun pada akhirnya yakin pada Jovan.

“Udah enak, sayang? Lanjut ya?”

“Jov, tapi aku—” Sergah wanita itu sembari memegangi kedua lengan Jovan agar tidak bergerak.

“Kamu kenapa?” Tanya Jovan sembari menatap kedua mata Kala.

“Aku pernah ngelakuin ini lima tahun lalu, aku udah nggak virgin.” Ucap Kala penuh penekanan, ia tidak mau Jovan kecewa karena masalah keperawanan.

“Emang kenapa kalau kamu udah nggak virgin? Aku cinta kamu, sayang sama kamu bukan di ukur dari kamu masih perawan apa enggak. Aku mau sama kamu karena kepribadian kamu, sayang..”

“Kalau kamu masih perawan itu bonus tapi kalau enggak, aku tetep cinta sama kamu, Kala. Tuhan ngasih aku calon istri yang baik, kuat, sabar dan nyaris sempurna buat aku.” “I love you, baby.”

“I love you more, Jovan..”

Jovan lantas mendaratkan ciuman basah di penuhi gejolak nafsu birahi, sembari melepaskan boxer yang masih menempel pada tubuhnya. Meloloskan kejantanannya yang sudah mengeras dan tegang, terlihat jelas urat yang menghias batang penisnya membuat Kala menelan ludahnya, gusar. Ia membayangkan seberapa sakit miliknya jika di tembus oleh penis besar berurat milik Jovan.

Jovan melebarkan kedua kaki Kala dan menggesekkan batang penisnya pada liang vaginanya sebelum akhirnya memasukkan kejantanannya ke dalam milik Kala.

“Aahhh... Jov—”

Tangan Kala mencengkeram erat lengan jovan, ketika batang penis lelaki itu menembus perlahan miliknya hingga penuh. Bulir air mata Kala pun tidak tertahan seiring peluh yang membasahi tubuhnya.

“It's oke, baby. Aku gerakin ya?” Ucap Jovan ketika merasakan liang milik Kala sudah berhasil menerima kejantanannya.

“Pelan Jov..”

“Iya, aku pelan sayang.” Ujarnya, Jovan mencium bibir Kala hingga beberapa detik sembari menggerakkan pinggulnya dengan tempo pelan. Lenguh serta desah yang tertahan di bibir Kala pun akhirnya lolos juga.

Lengan dan punggung Jovan menjadi sasaran dari jemari si puan yang mencengkeram juga mencakar kulit tubuh Jovan guna menyalurkan rasa sakit di balut nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Jovan pun mendesis dan menggeram karena nikmatnya liang vagina milik Kala yang sempit hingga terasa menjepit kejantanannya.

“Ouh.. So tight, baby.” Ucap Jovan di tengah rancu desah si puan.

Lelaki itu tidak membuang kesempatan untuk pemandangan apik di bawahnya, ketika pertama kalinya ia melakukan badan dengan Kala. Di saat wanita itu di bawah kendalinya, di basahi peluh hampir di seluruh tubuh, wajah merona dan kedua matanya terpejam, menikmati setiap hentakan perlahan namun keras hingga berhasil menembus titik paling sensitif milik si puan. Mendengarkan setiap lenguh, desah serta rancu yang keluar dari bibirnya membuat Jovan semakin candu untuk terus menyetubuhi sang kekasih.

“Jovan.. Ahhh...”

“You wanna cum, baby?” Tanya Jovan ketika liang vagina milik Kala mengetat, tubuh wanita itupun mulai mengejang tanda pelepasannya hampir sampai. Lantas Jovan menaikkan kedua kaki Kala agar bertumpu pada bahunya, dua tangan Jovan bertumpu pada kasur guna menahan berat tubuhnya dan lelaki itu dapat menghujam tanpa ampun milik Kala.

“Ayo sayang, aku juga mau keluar” “Ouh.. Fuck! Argghh..” Jovan menggeram seiring cairan spermanya menyembur memenuhi rahim Kala, pun wanita itu menyambut pelepasan hampir bersamaan dengan Jovan.

“Ahhhh... Jov—vannn...”

Desahannya nyaring terdengar ketika Kala menjemput pelepasannya, tubuh Kala menggelinjang hebat seiring tubuhnya melengkung dan remasan pada lengan Jovan.

Jovan tak henti-hentinya mengecup kening Kala, mengusap puncak kepala sang kekasih guna menyalurkan rasa sayang serta menenangkan wanita itu.

“Thank you, baby.” “I love you, Kala.”

Satu kecupan mesra mendarat di bibir Kala.

“I love you more, Jovan.” Balas Kala dengan mengulas senyum manis di tengah nafas yang tersengal, ia mengayunkan telapak tangannya guna menunjukkan cincin yang tersemat di jari manisnya adalah salah satu alasan ia merasa bahagia malam itu. Kemudian Jovan mencium punggung tangan dan kening Kala.

“Sayang, nggak usah mandi ya? Aku bersihin dulu.” Ucap Jovan beranjak dari tempat tidur, mengambil beberapa lembar tisu yang berada di atas nakas kemudian membersihkan batang penisnya yang berlumuran cairan kenikmatan, pun milik Kala ia bersihkan dengan telaten.

Lelaki itu membuang tisu bekas pakai ke dalam tempat sampah dan kembali menuju ranjang besar miliknya. Ia merebahkan tubuhnya di sebelah Kala, memeluk wanita itu sembari menarik selimut tebal guna menutupi tubuh keduanya dari udara dingin yang keluar dari pendingin ruangan.

Kala melandaskan kepalanya di lengan kokoh Jovan dan memejamkan matanya, sedangkan lelaki itu memeluknya sembari mengecup puncak kepala si puan.

“Good night, baby. Have a nice dream.” Ucap Jovan sebelum keduanya sama-sama menjemput mimpi.