Mencair

Meeting yang berlangsung selama 2 jam lebih itu membuat Kala tidak fokus. Mood-nya tidak menentu, ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada tubuhnya. Berkali-kali wanita itu melirik ke arah Jovan namun lelaki itu masih fokus pada presentasi. Kala ingin sekali meninggalkan ruang meeting karena ia merasa posisi duduknya sudah tidak nyaman dan punggung mulai nyeri. Lima belas menit setelahnya meeting-pun berakhir tepat pada jam makan siang.

Satu per satu orang-orang yang berada di ruangan itu keluar. Sedangkan Kala masih duduk di tempatnya sembari memainkan ponsel. Hingga tersisa beberapa orang saja yang masih berada di dalam ruangan, tak lama Jovan menghampiri dirinya.

“Ayo balik ke ruanganku.” Pinta Jovan, tangannya menepuk bahu wanita itu, Kala mengangguk dan berdiri dari tempatnya. Wanita itu sedikit terhuyung, tubuhnya tiba-tiba saja melemas dan perutnya terasa nyeri. Kala sempat mengusap perutnya beberapa kali, ia berpikir mungkin sebentar lagi ia hendak datang bulan. Jovan berada di belakangnya tiba-tiba melepas jas dan melingkarkan pada pinggang Kala. Wanita itu sontak kaget, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jovan dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Kamu lagi dapet ya? Tembus Kal.” Ucap Jovan lirih.

“Hah? Serius??? Pantesan perutku nyeri, pinggang sakit. Aku pikir karena kelamaan duduk. Jov, tapi nanti jas kamu kotor.” Ujarnya. Kala hendak melepas jas yang melingkar di pinggangnya. Namun tangan Jovan lebih cepat menahannya.

“Gak papa. Pakai aja, dari pada di liatin banyak orang.” Ucap lelaki itu. Tanpa basa basi satu tangan Jovan melingkar pada pinggang sang puan. Entah dorongan dari mana, lelaki itu tiba-tiba peduli terhadap Kala.

“Hari pertama ya?” Tanya-nya lagi, kemudian di jawab dengan anggukan oleh Kala.

“Jov, aku gak bawa baju ganti, gak bawa pembalut. Kalau udah tembus gini, aku ijin pulang aja ya? Hasil meeting aku rekap besok pagi. Gimana?” Pinta Kala pada Jovan. Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Kala, ia terus berjalan lurus menuntun langkah ke duanya menuju ruang CEO. Setelah sampai di sana, Kala hanya bisa berdiri saja. Ia tidak berani duduk di sofa karena takut darah yang keluar akan mengotori jas dan sofa tersebut. Wanita itu hanya memandangi Jovan yang tengah mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya kemudian kembali menghampiri dirinya.

“Ayo pulang.” Ucap Jovan tiba-tiba. Wanita itu hanya mengikuti semua instruksi yang diberikan Jovan. Wajah Kala mulai pucat dan tubuhnya lemas, yang ia pikiran saat itu hanyalah merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping. Karena posisi tersebut lebih nyaman ketika ia sedang mengalami cramps period di hari pertama.

Jovan dan Kala pergi meninggalkan ruangan itu. Koridor di lantai empat cukup lengang, para penghuninya tengah makan siang hanya terlihat beberapa OB yang keluar-masuk ruang meeting guna membersihkan ruangan tersebut. Setelah memasuki lift Kala membungkukkan tubuhnya sembari memegangi perut yang terasa nyeri. Tangan Jovan tergerak mengusap punggung wanita itu tetapi Kala seakan tidak peduli, rasa nyeri pada perutnya membuatnya kesusahan untuk berdiri tegap.

Ting... Pintu lift terbuka setelah mengantarkan mereka ke lobi.

“Masih kuat jalan?” Tanya Jovan, wanita itu mengangguk sembari menatap Jovan dan tersenyum. Raut wajah Kala benar-benar terlihat pucat. Keduanya berjalan beriringan membelah orang-orang yang tengah bergerombol di lobi. Pada jam makan siang, lobi akan lebih ramai dari biasanya. Para karyawan keluar-masuk untuk keperluan makan siang dan ada juga beberapa yang duduk santai di lobi sebelum mereka kembali bekerja.

Beberapa orang yang belum hafal dengan wajah Kala, sedari tadi tengah memperhatikan wanita itu. Kala seketika menjadi pusat perhatian saat berjalan beriringan dengan Jovan dan menggunakan jas milik sang penguasa perusahaan yang di lingkaran pada pinggangnya. Namun Kala tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang tengah memperhatikannya. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan tidur.

Setibanya di mobil, Kala mencari posisi agar duduknya terasa nyaman kemudian memasang seat belt.Ia memejamkan kedua matanya sembari memegangi perut yang terasa sangat nyeri. Hari pertama menstruasi memang sangat menyiksa bagi Kala, bahkan hari ini ia tidak membawa pembalut dan celana dalam cadangan membuat dirinya kelabakan. Mau tidak mau ia harus pulang sebelum pekerjaannya selesai. Jovan menyalahkan mesin pada mobilnya dan bersiap meninggalkan area parkir. Namun sebelum menginjak pedal gas, ia sempat melirik Kala yang berada di sebelahnya. Melihat posisi duduknya terlihat kurang nyaman, tiba-tiba saja Jovan tergerak membenarkan posisinya. Lelaki itu menurunkan sandaran pada seat-nya, tangannya melingkar di atas perut Kala ketika menekan tombol power seat control untuk mengatur sandaran jok ke arah belakang. Sontak Kala kaget dan membuka matanya, wanita itu hampir saja jantungan karena Jovan tepat berada di atasnya ketika sedang mengatur sandarannya.

Sorry Kal.. Kaget ya?” Ucapnya sembari tersenyum pada wanita itu. Raut wajah Kala berubah menjadi merah padam, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Ngagetin aja..” Ucap Kala, lirih.

“Dah, merem lagi.” Balas Jovan singkat. Lelaki itu kemudian mengendarai mobilnya pelan. Baru saja meninggalkan area kantor sejarak 100 meter, mobilnya berhenti di depan sebuah apotek. Ketika Jovan turun dari mobil dan menutup pintu, Kala mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Jovan masuk ke sebuah apotek. Tak lama setelahnya lelaki itu masuk ke indomaret yang berada di sebelah apotek. Sama sekali tidak terpikir oleh Kala bahwa Jovan ke apotek untuk membeli menstrual pads dan ke indomaret membeli pembalut.

“Beli apa Jov? Kamu sakit?” Tanya Kala ketika Jovan kembali masuk ke dalam mobil sembari menenteng kantong plastik berwarna putih.

“Kamu yang sakit.” Jawab Jovan sembari meletakkan kantong plastik di pangkuan Kala. Wanita itu di buatnya tidak karuan karena perlakuan Jovan tidak seperti biasanya. Hari ini sikap Jovan berbanding terbalik dengan hari kemarin saat keduanya bertemu untuk yang pertama kali.

“Makasih Jovan..”

“Sama-sama.”

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang. Setelah beberapa saat baru saja Kala menyadari bahwa jalan yang mereka lewati berlawanan arah dengan jalan pulang ke rumah Adel. Wanita itu menoleh ke arah lelaki yang tengah fokus pada kemudinya. Jovan masih tetap tenang, seakan tidak mempedulikan Kala yang sedang menatapnya.

“Jov, ini bukan jalan ke arah rumah Adel kan?” Tanya-nya penasaran.

“Bukan.” Jawab Jovan singkat.

“Loh, kita mau kemana? Aku gak bisa lama-lama kayak gini Jovan..” Ucap Kala sedikit merengek dan panik.

“Sabar, bentar lagi sampai.” Jawab Jovan singkat. Tidak perlu lama, sekitar lima menit setelahnya ia sampai pada area apartemen yang cukup besar dan mewah. Mobil yang di kemudikan Jovan melaju pelan memasuki area basement dan memarkirkan tak jauh dari pintu masuk menuju lift.

“Ayo turun.” Ajak Jovan.

“Jov, kita dimana?”

“Apartemen yang kemarin aku ceritain ke kamu.” Jelas Jovan sembari membuka pintu mobil dan hendak turun.

“Tapi Jov—,”

“Turun dulu, nanti aku jelasin. Bisa jalan gak? Mau aku gendong apa pakai kursi roda?” Ucap Jovan sedikit ketus.

“Nggak dua-duanya!” Jawaban Kala tidak kalah ketus. Kalimat yang di lontarkan Jovan sempat menyulut emosinya. Kala reflek membanting pintu ketika ia turun dari mobil kemudian mengekor di belakang langkah Jovan.

Setibanya di unit apartemen milik Jovan, Kala hanya berdiri tanpa bergerak kemanapun. Ia merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera membersihkan diri. Wanita itu menatap Jovan yang berjalan ke arah kamar utama yang cukup besar dan tak berapa lama Jovan keluar dari sana sembari menenteng satu paperbag kemudian ia berikan pada Kala.

“Mandi dulu sana, pakai kamar tamu. Handuk udah ada di dalam.” Perintah Jovan.

“Makasih ya Jov.” Ucap Kala kemudian ia melenggang pergi menuju kamar tamu yang di tunjuk oleh Jovan. Lelaki itu masih berdiri sembari memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana. Ia menatap lamat sosok wanita yang tengah berjalan meninggalkannya. Jovan tersenyum tipis sebelum akhirnya ia duduk di sofa ruang tengah dan memainkan ponselnya.

Sekitar dua puluh menit setelahnya Kala keluar dari kamar tamu menggunakan pakaian yang di berikan Jovan. Baju tidur berbahan satin berwarna peach yang sangat cocok di kenakan oleh Kala. Raut wajah wanita itu sedikit malu ketika menghampiri Jovan di ruang tengah.

“Kenapa baju tidur Jov? Tapi makasih ada baju buat ganti.” Ucapnya, wanita itu duduk di sebelah Jovan.

“Ya kan abis ini kamu tidur kan? Udah pakai menstrual pads-nya?” Tanya lelaki itu sembari menatap lekat netra sang puan.

“Udah.” Jawab Kala singkat.

“Lima belas menit lagi ada orang kesini nganterin makan siang. Kamu belum makan kan? Aku mau balik kantor dulu, ada klien yang nungguin. Kamu istirahat aja, abis makan terus tidur. Nanti kabari aku kalau ada apa-apa.” Ucap Jovan panjang lebar hingga membuat wanita di sebelahnya terdiam. Kala hanya mengangguk beberapa kali sembari menatap wajah Jovan. Lelaki itu-pun berjalan ke arah pintu keluar, hendak pergi meninggalkan unit apartemen miliknya.

“Jovan..”

“Hmm..” Lelaki itu menoleh ke arah Kala yang berada di belakangnya.

“Makasih ya.” Ucap Kala sembari tersenyum pada Jovan. Lelaki itu hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan unit apartemennya.