what if

Jovano Caesar; membiarkan singgah barang sebentar. Mendengar, memberikan penawar kemudian menahan agar tidak berpencar.

Nathalie Galenia; dengan seribu luka dan problematika, mencoba mereda dari segala perkara. Hingga pada akhirnya bermuara di suatu samudera.


Kumpulan pohon rindang, dedaunan berwarna hijau nan asri menjadi pemandangan indah pagi hari. Nathalie masih bermalas-malasan di atas ranjang besar sembari menikmati udara tanpa polusi. Wanita itu sudah sepenuhnya sadar namun netranya terpejam.

Aroma wangi kopi yang menjalar pada indera penciumannya membuat senyuman timbul dan merekah. Tetapi tempatnya beradu kasih lebih nyaman dari segalanya, sampai-sampai ia tak mau beranjak barang sedetikpun.

Suara langkah kaki samar dan hampir tak terdengar, aroma kopi yang semakin jelas menyeruak mengusik indera. Nathalie membuka matanya perlahan saat sentuhan lembut jemari lelaki itu mengusapnya.

“Bangun sayang, aku bikin kopi.” Nada rendah lelaki itu berdentum menggetarkan hatinya. Nathalie merubah posisinya bersamaan dengan satu kecupan singkat nan lembut pada keningnya.

Jovan tidak pernah gagal membuatnya jatuh cinta, membuat dirinya enggan berjarak barang semenit-pun. Senyumnya, aroma wangi tubuhnya, sentuhannya bahkan suara yang keluar dari bibirnya bak sebuah candu. Lelaki bertubuh tinggi dan gagah itu menjadi penawar luka, pengobat segala nestapa.

“Maaf ya, aku sengaja buka pintu di balkon biar kamu bangun pagi. View-nya bagus banget tau Nath. Nggak salah kan aku pilih villa-nya?” Ujarnya. Tangannya masih betah mengusap paha sang puan.

“Kenapa kamu pinter banget? Pinter ngebuat aku jadi nggak mau jauh-jauh dari kamu.” “Kamu ngajakin aku ke tempat dimana bisa healing dan disini aku benar-benar bisa buang semua beban dan masalah.” Tutur wanita itu, senyumnya terbit dan merekah. Melihat Nathalie bangun dari tidurnya dengan raut wajah yang berbinar saja sudah membuat Jovan merasa berhasil menciptakan satu titik kebahagiaan.

Nathalie merubah posisinya, hendak bersandar pada headboard tetapi tiba-tiba saja ia mengernyitkan dahi sembari memegangi pinggangnya.

“Sakit? Semalam aku terlalu keras ya? Coba sini..” Lelaki itu mengangkat tubuh Nathalie kemudian mendekapnya dalam pangkuan. Tangannya sibuk mengusap pinggang wanitanya yang merasa kesakitan.

Jemari milik Jovan benar-benar sangat ajaib, usapan, pijatan lembut itu perlahan menyembuhkan rasa sakit dan nyeri di pinggangnya. Tangan kanan lelaki itu sibuk mengusap paha sang puan beberapa kali kemudian mengecup basah pada lehernya. Nathalie terhenyak, dengan reflek yang sangat cepat ia menahan tangan itu kemudian berjinjit hendak keluar dari kungkungan sang pujaan. Namun gagal, Jovan lebih sigap menahan tubuh Nathalie agar tidak lepas dari tangannya. Dua pasang netra itu saling bertatapan sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

“Jovan, ih! Jangan ganggu.” Ucapnya sedikit panik. Wanita itu sangat peka terhadap rangsangan, ia tidak mau kecolongan sepagi ini.

“Aku nggak ganggu Nath, cuma mau usap-usap yang pegel tadi sebelah mana?” Jovan terkekeh melihat wajah Nathalie yang memerah.

“Tapi kamu usapnya sambil godain aku. Nggak mau! Turunin aku Jov!” Ujarnya, Nathalie masih berusaha melepaskan dekapan lelaki itu namun berkali-kali gagal.

“Sssttt... Diem dulu. Bentar, aku mau ngomong sesuatu.” Ucap Jovan membuat sang puan diam dan tidak melawan. Nathalie menatap lekat wajah lelaki yang telah berhasil menyembuhkan lukanya.

“Nath, sejauh ini kamu udah berhasil. Tapi mungkin kamu selalu merasa gagal. Itu salah Nath.. Kamu tau? Kamu udah kerja sama aku, punya penghasilan yang cukup. Kamu punya banyak teman dan lingkungan yang baik, kamu cantik. Kamu pernah gagal dalam percintaan tapi ada aku yang menyembuhkan lukamu. Putus cinta, gagal menikah itu bukan jadi satu alasan kamu terus-terusan terpuruk.”

“Sekarang aku tanya, masih ada yang kurang? Apa yang belum bisa kamu capai sampai titik ini?” Kalimat demi kalimat yang di ucapkan lelaki itu membuat Nathalie menjadi lemah. Ia mengingat kembali rentetan luka yang perlahan sembuh ketika Jovan mencoba masuk ke dalam hidupnya. Bibir wanita itu seakan membeku, lidahnya cukup kelu hingga sangat sulit untuk menjawab pertanyaan lelaki itu. Hanya sekumpulan bulir air mata yang sudah mengambang pada kelopak mata dan sebentar lagi akan tumpah membasahi wajah sendu-nya.

“Nath, dada kamu sesak ya? Sakit kalau ingat masalah itu? Nangis aja Nath.. Nangis aja sekarang, sepuasmu.” Ucap Jovan dan benar-benar membuat wanita itu menumpahkan semua air mata yang tertahan. Dengan sigap jari-jari Jovan mengusap pipinya, lalu dua tangannya menangkup wajah Nathalie. Mendaratkan satu ciuman yang lembut dan hangat di bibir ranum wanita itu, menyalurkan rasa nyaman dan tenang pada Nathalie.

“Nath, jangan khawatir, aku udah siapin ini.” Ucap Jovan sembari mengambil sesuatu dari kantong celana dan memberikannya pada Nathalie. Kotak kecil berwarna biru tua yang besarnya cukup di genggaman. Nathalie membukanya perlahan, bukannya tersenyum tetapi tangisnya semakin pecah. Satu cincin bertahtakan berlian bertengger indah di dalam kotak berwarna biru itu.

Jovan tak tinggal diam, ia merangkul tubuh wanita yang sejak tadi berada di pangkuannya, mengusap lembut punggungnya berkali-kali. Nathalie merasa sangat nyaman dan hangat ketika tubuhnya di rengkuh penuh kasih.

“Aku akan bawa kamu ke Altar secepatnya Nath.” Wanita itu kemudian bergerak keluar dari pelukan. Dua netra saling bertemu dan mengunci satu sama lain.

Will you marry me?” Ucap Jovan penuh harap, raut wajahnya terlihat lebih serius.

Nathalie seperti kehilangan suaranya, nafasnya tiba-tiba saja tercekat ketika hendak menjawab “iya”. Senyum dan tangis wanita itu bercampur menjadi satu. Ia menutupi sebagian wajahnya dengan dua tangannya sembari mengangguk, tanda meng-iya-kan permintaan Jovan. Lelaki itu tersenyum puas, ia mengusap air mata yang sedari tadi bercucuran di wajah Nathalie. Kemudian tangannya merapikan rambut yang sedikit berantakan, menyelipkan beberapa helai di belakang telinga. Sekali lagi, ciuman lembut nan hangat itu mendarat tepat pada bibir Nathalie. Ciuman yang berangsur lama, menyalurkan kasih dan sayang.

Percayalah bahwa kebahagiaan itu ada. Ketika merasa sakit dan berada di titik terendah, seseorang akan datang membawa kebahagiaan membalut semua duka dan lara. Nathalie telah menemukan muara yang semestinya dan Jovan berhasil membawa hati yang di rengkuh penuh asa.


What If. Moment for Jovan and Nathalie. Written by @deorphic

Give me a feedback and all questions, drop on my; CC: https://curiouscat.me/deorphic TL: https://tellonym.me/deorphic